Don’t Go (ficlet)

 

Title                 : Don’t Go

Author             : ChochangEvilKyu

Main Cast

Park Nara

Lee Donghae

Genre              : Romance, sad

Length             : Ficlet

Author talk      : Annyeong readersdeul, kali ini author buat ficlet, ini hasil pemikiran otak(?) author, now happy reading^^

Aku tidak tahu sesungguhnya yang terjadi pada diriku

Hidupku hampa tanpamu

Terkadang aku berfikir kenapa hidup ini tidak adil ?

Orang yang kucintai telah meninggalkanku

Aku ingin menangis, sungguh ingin sekali

Tetapi entah kenapa butiran air mataku mengering

Seiring waktu yang berjalan, aku mulai sadar

Aku tidak dibutuhkan

***

Seorang gadis tersenyum pahit melihat pemandangan didepannya, kristal bening meluncur mulus dari kedua sudut matanya, dia menundukkan kepalanya, menekuk wajah cantiknya, tangannya yang memegang bunga terkepal erat, meremas buket bunga lily putih lalu perlahan genggaman tangannya mulai mengendur. Suara isakannya teredam oleh suara hiruk pikuk kebahagiaan didepannya, gadis itu membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi meninggalkan gereja bernuansa putih gading tersebut, tetapi saat berada diambang pintu, lengan kirinya digenggam seseorang. “Nara-ya, chankhaman”

Gadis bernama Park Nara itu tertegun sebentar lalu mulai menghela nafas pendek dan membalikkan tubuhnya. “Ne, Donghae-ssi ?”

“Donghae-ssi ? Demi Tuhan jangan panggil aku seperti itu, kau menganggapku orang asing ?” Pria bernama Lee Donghae itu menatap gadis didepannya dengan wajah yang sendu.

“Aku harap begitu, dan aku lebih berharap lagi kalau takdir tidak mempertemukan kita” Park Nara tersenyum sinis demi menahan gejolak aneh yang melanda tubuhnya, ingin sekali gadis itu menangis lalu memeluk erat pria didepannya, tetapi itu mustahil.

“Nara-ya mianhe, sebenarnya oppa-“

“Oppa, nuguseyo ?” Seorang gadis cantik dengan balutan longdress putih gading yang sangat balance dengan jas pria itu –Lee Donghae, dengan tiara kristal yang bertengger sempurna dikepalanya menghampiri mereka.

“Em, dia-“

“Ah mianhe, aku harus pergi, chukkae untuk pernikahan kalian berdua, semoga kalian bahagia selamanya” Nara memotong perkataan Donghae dan menunduk kecil lalu mengulas senyum bahagia palsunya dan melenggang pergi meninggalkan pasangan bahagia tersebut.

Donghae hanya menghela nafas pelan, sesak. Hatinya sesak melihat gadis yang dicintainya pergi meninggalkannya, ya Lee Donghae sangat mencintai Nara, gadis yang selama ini mengisi relung hatinya, gadis yang selalu berada di sela – sela hembusan nafasnya, di molekul oksigennya, dipikirannya. Mata bulat Donghae melihat gadis itu perlahan hilang dari sudut matanya, sepasang indra penglihatannya perlahan meneteskan air mata, matanya mengabur seiring air mata itu memenuhi pelupuk matanya.

“Oppa gwenchana ? Ayo kita masuk, para tamu telah menunggu kita”

Donghae hanya mengangguk dan tersenyum kecut, dia mulai memasuki gereja kembali dan tak lupa menengok ke pintu tersebut, kalau – kalau gadisnya datang lagi, tetapi itu tidak mungkin, Tuhan telah mengabulkan doa Park Nara untuk tidak mempertemukan mereka.

***

            Seorang gadis sedang menatap langit malam, cuaca dingin tidak membuat gadis itu menggigil, hanya dengan melihat langit, hati gadis itu akan tenang, dia tidak peduli kalau tubuhnya membeku diselimuti dinginnya malam ini. “Cih, pas sekali sedang tidak ada bintang”

2 Juli 2011

“Oppa, kenapa hari ini tidak ada bintang ?” Tanya seorang gadis cantik dengan seulas senyum simpulnya.

“Oppa rasa bintang dilangit sedang malu” ujar pria itu tersenyum.

“Kenapa oppa ? Bintang bisa malu eoh ?” Tanya gadis cantik itu sembari mengernyitkan dahinya. Bingung.

“Karena ada seorang gadis cantik yang melihatnya, makanya mereka malu” jawab pria itu seraya memandang langit gelap.

”Nugu ?”

“Tentu saja kamu my baby bunny” Pria itu Lee Donghae mencubit pelan hidung mancung sang kekasih. Park Nara.

“Aish oppa kau membuatku malu” Nara menutup kedua matanya dengan sebelah tangannya, semburat merah muncul menghiasi pipinya yang merah ranum.

“Aigo~ noemu kyeopta” Donghae tersenyum manis dan mencubit gemas pipi Nara.

“Ah oppa, appo” Nara mengerucutkan bibir mungilnya dan pura – pura kesal.

Donghae tertawa melihat kekasihnya yang cantik, pipi putih gadis itu semakin merah karena merasa malu, Donghae tersenyum, dalam hati dia berdoa kepada Tuhan agar semuanya tetap seperti ini, melihat Nara tertawa, melihat semburat merah pipinya dan melihat senyum malaikatnya. Tiba – tiba mereka berhenti tertawa, tatapan mereka terkunci satu sama lain, tangan Donghae menggegam lembut ruas  – ruas jari Nara, perlahan Donghae memperdekat jarak diantara mereka, jantung Nara berdegup cepat, darahnya berdesir hebat, gadis itu merasa sirkulasi darah diotaknya semakin menipis seiring hembusan nafas Donghae mengenai wajahnya. Hangat. Hanya itu yang terasa diantara pasangan kekasih tersebut. Donghae memiringkan kepalanya dan menutup matanya, Nara yang tahu apa yang akan terjadi hanya bisa menutup mata pelan. Donghae menempelkan bibirnya pada kekasihnya, hanya menempel, lalu Donghae mulai melumat lembut bibir gadis didepannya, merasakan bibir cherry kekasihnya, Nara hanya bisa membalas perlakuan kekasihnya.

Keduanya lalu terkikik pelan setelah mengakhiri ciuman singkat mereka, menghirup pelan oksigen disekitarnya dan saling melempar senyum bahagia. “Oppa, kajja kita pulang, ini sudah malam” Lalu mereka mulai melangkah pulang dengan hati yang bahagia.

***

28 Juli 2011

“Chagiya, mianhe” Donghae hanya bisa menunduk lesu menahan desakan bulir air matanya, dia tidak tega mengatakan ini pada Nara.

“Oppa gwenchana, aku sudah tahu oppa, aku tahu dari dulu ahjhuma tidak menginginkanku, dia sangat membenciku, seharusnya aku sadar kastaku selama ini, aku orang dari kalangan biasa yang tidak pantas bersanding denganmu oppa” Nara menggigit bibir bawahnya, menahan suaranya agar tidak terdengar parau, hatinya sakit mendengar Donghae dijodohkan, tetapi gadis itu hanya bisa diam, ingin sekali dia menjadi seseorang yang egois, mempertahankan Donghae disisinya, berada dipelukannya, bersandar pada bahu pria yang sangat dicintainya itu, tetapi gadis itu hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar dirinya bisa rela, hanya beberapa persen saja agar hatinya bisa berkata rela dia sudah bersyukur, tetapi gejolak dalam tubuhnya tidak mengindahkan doanya.

“Chagiya, aku.. aku bisa berkata pada umma kalau aku hanya ingin menikah denganmu, membangun keluarga bersamamu dan menjadikan kau pertama dan terakhir dalam sisa hidupku nanti” Suara parau Donghae menghiasi suasana canggung sore itu.

“Itu hanya khayalan oppa, sampai kapanpun aku tak bisa bersanding denganmu ataupun menjangkau hatimu, mungkin ini yang terakhir kalinya kita bertemu, annyeong oppa, aku bahagia bisa menjalin hubungan denganmu, aku harap kau bahagia”

Nara berlari menembus dinginnya sore itu, bulir air matanya menetes dengan sempurna, hatinya sakit mendengar pernyataan Donghae, bagai terhempaskan di jurang yang curam dan tertancap sebuah batu runcing raksasa. Mulai saat itu Nara bersumpah akan melupakan Donghae, walau secuil hatinya memberontak, tetapi disudut hatinya berkata “Don’t Go”

Iklan

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s