Rain

Nama               : ChochangEvilKyu

Title                 : Rain

Tag                  :

Lee Donghae

Genre              : Family, Friendship, Sad

Rating             : All Age

Length             : Oneshoot

Disclamer        : This is my story, begin from tittle, plot, and ending, I’am sorry if ugly, leave comment after read please, gamsae ^^

Summary

Aku sadar

Aku tidak sempurna

Gadis kecil itu mengajarkanku sebuah elegansi

Gadis kecil yang memberikanku sebuah efektual didalam hatiku

***

            Gemericik air menyusup kedalam indra pendengaranku, ribuan tetesan dari langit mulai berjatuhan menjatuhi bumi, menutupi apa saja yang terampas oleh mataku.

Kutengadahkan kepalaku kelangit sore hari, langit terlihat gelap, sangat gelap. Bahkan ini baru saja pukul 16.00 KST.

Kuhela nafasku ringan, memeluk tubuhku yang mulai menggigil, kulihat banyak orang yang melakukan hal yang sama denganku, halte yang mulanya sepi, sekarang terjamah oleh orang – orang yang berusaha menghindari amukan langit. Kenapa mereka takut air ? Padahal sehari – hari mereka menggunakannya.

Disudut mataku terlihat seorang anak kecil yang bermain dengan sisa air yang membentuk sebuah bendungan kecil, melompat dengan bahagia sambil membawa sebuah payung berwarna putih, seakan tidak takut jika dress kecilnya basah. Gadis kecil itu tertawa, tertawa dengan manisnya. Tak terasa bibirku ikut melengkung ke atas mengikuti birama senandungan gadis kecil itu.

“Oppa.. oppa” Gadis kecil itu menghampiriku, menarik kaus yang kupakai. Dia tersenyum tiga jari, menampakkan gigi putih dan rapinya.

”Ne ?” Aku menyamakan tinggi badanku dengan dirinya, menyentuh rambutnya yang basah dan mengelusnya.

”Kenapa oppa tersenyum padaku daritadi ? Apa oppa menyukaiku ?” Gadis kecil itu bertanya padaku sambil memiringkan kepalanya, wajahnya sangat lucu, seperti boneka.

”Aish kau ini, oppa hanya bingung, kenapa ada gadis kecil manis yang bermain hujan – hujanan seperti ini ?” Aku membenahi anak rambut gadis kecil ini yang menjuntai menutupi sebelah matanya. ”Kalau orang tuamu mencarimu bagaimana ?” lanjutku sambil tersenyum.

”Ini memang pekerjaanku oppa” jawabnya sambil melompat – lompat gembira. Pekerjaan ? Apa maksudnya ?

”Maksudmu apa sayang ?” tanyaku penasaran.

”Hujan memberiku sebuah berkah oppa, hujan memberiku hidup, aku bekerja untuk sebuah hujan, mendidikasikan diri untuk mengaggumi ciptaan-Nya” Gadis kecil itu tersenyum sambil memutar – mutar payung putihnya. Aku mengernyit bingung. ”Aku menyewakan payung oppa, jadi jika hujan, saat itulah berkah untukku datang” lanjutnya sambil menutup payungnya.

Ya Tuhan, gadis kecil seperti ini telah bekerja, bahkan pekerjaan ini terasa tak lazim untuk gadis seusianya, tubuh kecil yang terlihat ringkih tetapi mempunyai semangat yang tinggi. Kulihat dia melompat kecil disebuah kubangan air, tertawa sambil memutar payungnya keatas. Entah sejak kapan air mataku menetes, hatiku terasa sakit, tetapi dilain sudut, hatiku juga merasa hangat, gadis ini membuatku tersenyum dan menangis.

Aku menghampirinya dan mengusap pipinya yang basah terkena embun sisa air hujan. ”Siapa namamu gadis kecil ?”

”Aku Seomi oppa, namaku Kim Seomi” ujar gadis kecil itu sambil tersenyum. ”Oppa, kau menangis ?”

Dia menyeka bekas air mata yang masih menempel di pipiku, gadis kecil ini menyekanya dengan lembut sambil menenangkanku, sungguh, kata – katanya seperti bukan gadis kecil. Dia terlalu lucu dan tentu saja baik, aku ingin sekali menjadikan gadis kecil ini dongsaengku.

”Nah, oppa sudah tampan, jangan menangis lagi ya” Seomi tersenyum manis sambil memelukku, menepuk bahuku seolah aku adalah orang yang patut dikasihani, aku tersenyum sambil mengelus rambut panjangnya.

”Oppa, Seomi harus pulang dulu, Seomi harus mengumpulkan uang untuk memberi hadiah untuk umma, annyeong oppa” Gadis kecil ini melambaikan tangan kecilnya kepadaku, dia berjalan sambil melompat gembira, seolah beban hidupnya tak memberatkannya.

Aku beringsut berdiri, aku melihat gadis kecil itu sudah menghilang dari pandanganku. Aku berdoa semoga gadis kecil itu tetap bahagia seperti ini, tetap mendapatkan kasih sayang dari keluarganya.

Aku berjalan pelan sambil memasukkan kedua tanganku disaku jaketku, menghirup aroma embun air hujan yang menguar disekitarku. Hari ini aku mendapat pelajaran, bahwa hidup ini akan terasa menyenangkan bila kau menjalankannya dengan hati yang gembira dan ikhlas.

***

            Sudah seminggu ini aku bermain dengan gadis kecil berumur tujuh tahun itu, setelah pulang kuliah, aku menyempatkan diri berada di halte untuk menunggunya. Gadis kecil yang membuatku bersemangat dalam menjalani hidup, gadis kecil yang menyuplai kekuatan dalam diriku, penerapan sikapnya sungguh seperti orang dewasa, terkadang aku menceritakan kisah kehidupanku padanya, aku tau itu aneh, pasti banyak orang yang menganggapku gila, curhat dengan gadis kecil ingusan. Tetapi gadis kecil ini berbeda, dia sangat kuat dan hebat, bahkan sekarang aku telah menganggapnya dongsaengku, dan dia tidak keberatan.

”Oppa.. oppa”

Kudengar suara gadis kecil itu dari jauh, dia melambai – lambai sambil berlari, menandakan tugasnya telah selesai, hujan telah reda, berarti gadis kecil itu telah menyelesaikan pekerjaannya.

”Aigoo Mi-ya, wajah dan rambutmu basah, sini oppa keringkan”

Aku tersenyum kepadanya, dia membalas dengan cengiran khas anak kecil, lesung pipitnya membuat raut wajahnya semakin lucu. Aku mengambil handuk kecil yang selalu kupakai untuk mengusap wajah dan rambut gadis kecil ini ketika basah oleh air hujan. Kuusap pelan rambutnya lalu turun kewajah mungilnya, gadis kecil ini mengerjap – ngerjap sambil bercerita bahwa hari ini yang menyewa payungnya sangat banyak. Aku ikut tersenyum untuk kebahagiannya, ah dia memang dongsaeng kecilku.

”Nah sudah selesai, sekarang oppa akan mentraktirmu makan, bagaimana ? Mi-ya mau ?” Tanyaku padanya sambil memasukkan handuk kecilku kembali kedalam tasku. Dia menganggukkan kepala dengan gembira, menandakan bahwa dongsaeng kecilku sangat lapar, aku tertawa, kuacak rambutnya dan mulai menggandeng tangan kecilnya.

Disepanjang jalan, gadis kecil ini bercerita terus tentang kehidupannya, tentang uang yang selama ini dia tabung untuk ibunya, dongsaeng kecilku ingin memberi sebuket bunga tulip untuk ibunya. Saat kutawari untuk membelikannya, dia menggeleng, menandakan dia tak mau, gadis kecil ini ingin membeli dengan uangnya sendiri, bahkan aku sempat terperangah dengan kata – katanya. Sungguh, ini semakin mirip dengan cerminanku masa kecil, tetapi berbeda, masa kecilku sangat manja dan sering menyusahkan kedua orang tuaku, tetapi dongsaeng kecilku sangat hebat, berfikir dewasa dan selalu berinisiatif dengan segala pemikirannya.

***

            ”Oppa.. Seomi ingin makan ini”

Seomi menunjuk dengan telunjuk kecilnya sambil membolak balik menu didepannya, meja yang tinggi membuat gadis kecil ini harus mendongak menatap menu yang berada dimeja, karena hanya dagunya saja yang mencapai tinggi meja ini. Sesekali dia berdecak kecil karena kesusahan mencapai meja.

”Aigo~ Mi-ya kesusahan duduk ? Sini duduk sama oppa” kataku menawari. Dongsaeng kecilku langsung beringsut berdiri dan memutari meja lalu duduk dipangkuanku. Aigo lucu sekali wajahnya.

”Gomawo oppa” ujarnya sambil mendongak menatapku, aku tersenyum dan menganggukkan kepala.

Aku memesan pesanan kami, terlihat banyak orang – orang yang memperhatikan kami, ada yang berkata kami pasangan appa dan anak yang manis, ada yang bilang juga kami kompak. Aku tersenyum dalam hati, bahkan jika anakku nanti seperti gadis kecil yang duduk dipangkuanku, aku tak akan menolak, sungguh, aku sangat setuju.

”Ini pesanan anda Tuan”

”Ne, gamsahamnida” ujarku sambil tersenyum kepada pelayan yang mengantar pesanan kami.

”Mi-ya mau makan sendiri, atau oppa suapin ?”

“Seomi mau makan sendiri oppa, Seomi kan anak pintar”

Aku terkekeh kecil sambil mengacak rambutnya pelan. Dia beringsut menjahuiku dan duduk sendiri dikursi sampingku dan menaruh mangkuknya dikursi, lalu gadis kecil ini duduk bersila di lantai. Dia tersenyum padaku, aku kembali melempar senyumku padanya, dasar anak kecil.

***

            Akhir – akhir ini aku sibuk dengan kuliahku, setumpuk makalah yang perlu kuurus dan kegiatan OSIS yang sulit untuk diabaikan.

Aku mengerang pelan, meluruskan kakiku sambil bersandar pada kursi empuk yang kududuki.

”Hae-ya, bagaimana dengan konsep yang ini, apa perlu diubah kembali ?” Eunhyuk temanku menghampiriku sembari memperlihatkan proposal untuk acara OSIS minggu depan.

”Anni Hyuk-ah, ini sudah bagus, tetapi lebih baik kau mencari sponsor untuk bagian ini. Aku rasa jika ada tambahan sponsor, acara kita akan berjalan baik”

Aku tersenyum yakin, kulihat dia juga mensetujui ideku lalu melenggang pergi menuju tempat duduknya.

”Ya, aku rasa rapat kali ini cukup sampai disini, selamat sore”

Aku berdiri dan mendorong kecil kursiku, menyediakan tempat untuk aku berjalan pergi, aku merentangkan tangan diudara untuk menetralkan aliran darahku untuk menghilangkan sedikit lelah yang bersarang dalam tubuhku. Kulangkahkan kakiku dengan santai menuju koridor kampus yang menuju gerbang keluar.

Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengan dongsaeng kecilku, ah aku merindukannya.

Aku berjalan santai menuju halte, seminggu ini pula di Seoul tidak hujan, aku rasa ini sudah berganti musim, bagaimana nasib dongsaeng kecilku, aku khawatir sekali.

***

            Sudah dua jam aku menunggu dongsaengku, tetapi dia tidak kunjung kesini, apa dia sedang sibuk ya ? Ah tapi apa, sungguh aku merindukannya.

Aku menendang kerikil kecil dijalan yang kulewati, ya, aku dalam perjalanan pulang. Kutatap langit yang sedikit cerah, biasanya aku menyukai langit berwarna jingga seperti ini, tetapi entah kenapa aku malah khawatir, takut gadis kecilku bersedih.

Entah apa yang membuatku beringsut menuju taman, aku duduk disalah satu kursi panjang yang berada disini, menghirup aroma bunga disekitarku dan mengumpulkan oksigen sebanyak – banyaknya.

Saat aku sedang memejamkan mataku, kudengar isakan lirih yang berada disekitarku, kubuka mataku dan mencari sumber suara yang merayap kedalam indra pendengaranku.

”Mi-ya !” pekikku setelah melihat gadis kecil ini menangis disalah satu sudut bangku taman. Kuhampiri dia yang sedang menyeka paksa air matanya. Dongsaeng kecilku tersenyum, ini bukan senyum tulus, ini senyuman paksa. Kuelus rambutnya dan menariknya kedalam pelukanku.

”Mi-ya waeyo ? Kau adalah masalah ?”

Gadis kecil ini menggeleng dalam pelukanku, dia menarik diri lalu mencoba tersenyum.

“Oppa.. Seomi boleh bercerita ?” Setelah aku mengangguk pasti, dia menggosok hidungnya yang memerah.

”Jujur saja oppa, Seomi lelah, Seomi tidak kuat dengan ini semua, appa Seomi jahat oppa, dia selalu memukuli Seomi jika Seomi pulang tanpa membawa uang, appa selalu mencubit Seomi” Gadis kecil itu berbicara sambil sesenggukan, aku menanti jeda yang ia lakukan, sungguh aku ingin marah pada appanya, tetapi aku ingin dia dulu, menanti dongsaeng kecilku bercerita.

“Tadi.. tadi appa merampas uang yang Seomi kumpulkan untuk membeli bunga buat umma, bahkan appa menampar Seomi, sekarang umma kasihan harus menunggu lama oppa”

Sakit.. hatiku sakit mendengar dongsaeng kecilku diperlakukan seperti itu oleh appanya, ingin sekali kupatahkan hidung appa gadis kecil ini, apa begitu cara mendidik anak dengan baik ? Aku memejamkan mata, menghalau air mata yang mengakibatku penghlihatanku buram. Gagal. Aku tidak bisa, air mata ini sukses mengalir dari mataku. Kupeluk dia erat, ingin sekali kulindungi dongsaeng kecilku dari segalanya.

”Uljima Mi-ya, oppa akan membelikan bunga untuk ummamu ne ? Kali ini biarkan oppa menolongmu” kataku tersendat – sendat. Gadis kecil ini mengerjapkan matanya lalu tersenyum lebar. Dia menyeka air mataku dan mengucapkan terimakasih berkali – kali.

”Oppa.. oppa adalah oppa Seomi yang terbaik. Oppa akan Seomi kenalkan pada umma” Kata Seomi kecil-ku sambil tersenyum lebar, seakan dia lupa akan kisah sedihnya yang dialami selama ini.

Aku berdiri, mengulurkan tanganku dan tersenyum lebar.

”Kajja, kita beli bunga”

***

Sedari tadi senyum tak pernah surut dari gadis kecil berwajah lucu disampingku, gadis kecil ini menggandeng tanganku sambil mengayun – ayunkannya. Sesekali dia melompat kecil sambil menghirup buket bunga yang didekapnya. Aku ikut terkekeh kecil melihat kepolosan anak kecil ini.

Entah kenapa perasaanku mulai tak enak, jalan yang kita lewati semakin menanjak, ah jangan berfikiran negatif dulu Lee Donghae.

Seomi masih saja tersenyum sambil bersenandung kecil, tetapi aku ? Aku takut, takut yang kufikirkan akan terjadi.

Gadis kecil ini menggandengku menuju bukit yang lumayan tinggi, kami berjalan dengan pelan, sesekali dongsaeng kecilku melihat raut wajahku.

Kuseret langkah ini menuju pemandangan didepanku, jejeran rumah masa depan yang tampak asri mengucapkan selamat datang pada kami, langkah kakiku yang semula cepat, kini aku pelankan. Nisan – nisan yang berjejeran rapi menyambut kami. Gadis kecil ini, dia sudah kehilangan umma. Aku menangis untuk kesekian kalinya saat melihat dia berlari kecil menuju peristirahatan sang umma dan menaruh buket bunga itu.

”Annyeong umma, hari ini Seomi mengabulkan permintaan umma, Seomi membawa bunga kesukaan umma. Oh ya ini Donghae oppa. Oppa sangat baik umma, dia oppaku sekarang. Bagaimana kabar umma ? Aku merindukan umma”

Gadis kecil memeluk nisan sang umma, mengelus ujung tulisan yang tertera di ukiran nisan tersebut.

Reast In Peace

Kim Chaery

Born   : 20 April 1966

Death  : 10 Januari 2009

Aku menangis, ya air mataku tak dapat kutahan lagi, kubiarkan angin mengeringkan air mataku, yang kuinginkan adalah ingin membuat gadis kecil ini tersenyum selalu, hanya untuk mengingatkan bahwa didunia ini masih ada yang menyayanginya. Gadis kecil ini bagai ekstasi bagiku, jika dia menjauh, aku akan terluka, aku ingin dongsaeng kecilku tetap bahagia. Selamanya.

Huft, haha endingnya aneh ya -_-

Oke, ditunggu kritik dan sarannya ya 😀

Iklan

10 responses to “Rain

  1. Sedih pas bacany… Feelny jg dpt…

    Kasian Hyemi, msh kecil udh di srh krj, nnyt umma ny Hyemi udh meninggal lgi… Q pkr msh hdp…

    Nice story… ^^

  2. annyeong eonni aku readers yg baru coment.

    epep disini keren keren, epepnya selalu menarik hehehe suka bgt 😀 🙂

    eonni sekali” Yesung donk hehehe *banyak maunya*

    semangat ya eonni

    • serius chan rin-ah? 😀
      terimakasih lo yaaa *peyukkk kkk~
      welkom juga yaaa, semoga dapet wangsit(?) abis dari sini wks
      yesung? ada ff tentang dia, walo ga jadi cast utama sih
      -_-
      makasih sayang 😀

  3. anyeong aku reader baru 🙂
    asti imnida line 97
    terharu aku bacanya thor. Itu seomi bener2 strong girl. . .

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s