Begin Of The Mission Chapter 1

Chapter 1

(Pesan kematian)

Semuanya tak akan lebih baik jika tak diungkap secara terinterupsi

Suatu pernyataan yang tiba-tiba terkuak menjadi langkah menuju satu keajaiban

___________________________________

chochangevilkyu present

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM.Ent Inc.

Spy, Action, Romance   

Park Jihyun, Cho Kyuhyun

PG-16 

gh

___________________________________

Subject           : Oh, aku akan berakhir di neraka

Dari                : Jihyun.Park@krseattle.com

Kepada           : Hyera.Han@krpddt.co.id

Tanggal          : 8 desember 2012, 20:12

            Ra-ya, hidupku akan berakhir! Di rumah-ku ada hantu, ah tidak, dewa kematian!

            Ra-ya.. Ra-ya, aku akan bercerita sesuatu. Kau pernah kuceritakan tentang bocah tengik dewa kematian itu ’kan? Well, kau sahabat sejatiku, jadi kau akan mendengar segala penderitaanku ’kan? Bukankah begitu? Ingat ’kan sebelum liburan musim dingin aku menemanimu tak makan selama istirahat pertama disekolah karena kau tak membawa bekal?

            Dia kembali! Kuakui dia tampan, wajahnya bersinar, kau harus melihatnya, aku jamin kau akan pingsan, tapi sayang sekali aku sangat membencinya, dia tetap saja bocah tengik.

            Sudahlah tak usah dibahas, bagaimana liburanmu? Kau enak sekali liburan ke Mexico, sementara aku meringkuk dengan katalog punah minggu lalu! Hei jangan lupa oleh–olehmu, jangan belikan topi aneh yang namanya apa? Zombreo atau apalah yang seperti tahun lalu! Sesekali high hells model Kate Middleton William. Segeralah kembali ke Korea Ra-ya.

Big Hug Kiss

Park Jihyun~

            Kumatikan laptop kesayanganku. Memandangi langit–langit dikamar bukan hal buruk -yah setidaknya untuk saat ini-. Aku merindukan Dad, dia sedang bertugas ke Busan beberapa hari yang lalu. Rumah ku terlalu besar, well ini sebenarnya tidak buruk, hanya saja mungkin yang terburuk, bahkan diminggu–minggu pertama aku tinggal disini, dapur saja aku masih belum bisa menemukannya. Sebodoh itukah aku? Astaga.

Liburan musim dingin kali ini aku hanya meringkuk dikamar dengan bermacam–macam spekulasi di otakku. Tidak mungkin ’kan aku menghabiskan waktu dengan bermain bersama pelayan, pasti akan menyusahkan –akulah yang menyusahkan.

Mungkin ini hari sialku, beberapa menit lagi bocah tengik itu akan datang, dan sudah dipastikan liburan ini akan menjadi semakin kelam, untunglah tiga hari lagi sudah masuk musim sekolah. Yah setidaknya aku tak perlu membuang waktu untuk sekedar menjadi bawahan Kyuhyun –dalam arti menuruti segala titahnya-.

Tok.. tok.. tok

”Nona, Tuan Kyuhyun sudah datang.”

Aku beringsut mengalihkan pandanganku dari langit – langit menuju pintu kamar. Hah sudah saatnya pergi ke ujung jurang kematian. ”Baik Ahjumma, tunggu sebentar.”

Sekilas aku merapikan diri didepan cermin, sekedar formalitas, jangan kalian pikir aku ingin bermuka dua didepannya ya, aku tidak serendah itu.

Aku melangkah pelan menuruni tangga di rumah-ku, sudah ada Kyuhyun dan kedua orangtuanya? Dasar bocah tengik yang manja.

”Annyeong Hyun-ah.” sapa Nyonya Cho –ibu Kyuhyun padaku, dengan seulas senyum yang tulus.

”Ne, annyeong Ahjumma.” jawabku sambil membungkukkan badan. Kenapa firasatku tak enak ya? Koper besar, keluarga lengkap, apa jangan–jangan..

”Wah kau semakin cantik saja.” puji Tuan Cho ayah Kyuhyun. Aku tersenyum.

Aku berpikir, kenapa kedua orangtuanya sangat baik, tapi berbeda dengan anaknya yang menyebalkan itu ya? Sepertinya aku harus menampik quotes orang yang mematenkan kalimat like father like son, pada tragedi keluarga Kyuhyun, bocah itu mungkin saat lahir otaknya terorganisir bahan kimia pabrik, jadi tidak mirip ayahnya tapi mirip berandal sial.

”Ah gamsahamnida.” jawabku semanis mungkin.

Sesaat aku melihat Kyuhyun mendengus kearahku. Iya, aku sadar jika orang kaya itu berkwalitas dan pasti memang tak suka berbasa–basi seperti dia. Jika ayah dan ibunya tidak disini, sudah kupastikan akan kulempar dia dengan asbak kristal keluaran Seattle-Washington terbaru yang dibawa Dad dari rumah kami yang dulu. Tetapi lebih baik jangan, nanti Dad bisa mencabut credit card-ku.

Aksi lemparan sinis mautku dipecah dengan kedatangan pelayan yang membawa berbagai macam jenis makanan didepan kami, hei kenapa kudapan Chocolate Ball-ku dibawa?!

Tak diduga, ibu Kyuhyun duduk disebelahku dan memeluk lenganku. ”Hyun-ah, Ahjumma dan Ahjussi harus kembali ke Jepang, menangani cabang perusahaan yang akan bekerja sama dengan pihak Singapore, jadi selama kami pergi, Kyuhyun akan tinggal disini, hanya satu bulan Hyun-ah, Ahjumma juga sudah bilang pada Ayahmu, Ayahmu menitipkan kamu pada Kyuhyun, dan untuk masalah tutor itu, Kyuhyun akan menanganinya.”

Deg! Ternyata hipotesis yang kupikirkan tak salah, dia akan tinggal disini! Dan itu adalah masalah besar! Otakku bercabang, memikirkan nasibku dirumah sendiri –tak sepenuhnya sendiri dengan pria tengik itu, apa dia takut dirumah sendiri? Kenapa harus tinggal di rumah-ku sih? Tak masalah dengan rumah, karena rumah ini terbilang cukup besar, ah terlalu besar malah, tapi jika ada dia, bukankah akan mempersempit rumah-ku? Cabang di otakku menjadi bertambah satu seiring deretan kalimat yang diucapkan Ahjumma padaku.

”Jangan biarkan dia membawa gadis masuk rumah. Dia hobi memasukkan gadis dirumah, hati–hati.” bisik ibu Kyuhyun disebelahku.

Aku nyaris berteriak dan mencekik bocah sialan itu, tapi sebagai gadis bertata krama dan mempunyai predikat gadis manner, aku mencoba mengulas senyum, senyum miris.

Keluarga macam apa sih ini? Seolah bahwa sifat itu adalah mutlak, dan sepertinya ibu Kyuhyun juga tak terlalu mempermasalahkan. Kepalaku berdenyut–denyut, mati– matian kutahan agar tak menyeret pria itu keluar.

”Nah, kami sekarang harus ke bandara, pesawat akan take off dua jam lagi, kami pergi dulu ya.”

Ibu dan Ayah Kyuhyun memelukku dan Kyuhyun bergantian, tak lupa dia mencium kening Kyuhyun, terlihat jelas bahwa Kyuhyun risih dan merasa malu, hah sudah kubilang ’kan dia anak manja. Sekilas Nyonya Cho melirikku dan mengedipkan kedua matanya cepat kepadaku –hei aku tidak bohong soal kedipan beberapa detik itu! Mereka keluarga aneh.

Setelah daun pintu yang lebar itu tertutup, kini menyisakan aku dan Kyuhyun dibaliknya, sesaat dia melirikku. ”Apa lihat–lihat?” ketusku.

Kurebahkan pantatku di sofa, masih sempat menghela nafas karena Chocolate Ball-ku aman, untung saja mereka tidak memakannya.

”YAK!”

”Apa?”

Sial, dia mengambil kudapanku, orang macam apa sih dia? Tidak sopan, menyebalkan, bitch!

“Kamarku dimana Ji?” tanyanya sambil mengunyah coklat lalu beralih memandangku.

Aku mengernyitkan hidung.

“Kau memanggilku apa?”

“Kenapa? Itu ’kan nama kecilmu.” jawabnya enteng. Rasanya ingin kujejalkan sesuatu kemulutnya.

Aku beranjak dari dudukku, dia melihatku sekilas lalu mengangkat sebelah alisnya. ”Baiklah, cepat ikuti aku.”

Kenapa rasanya sepi?

Aku menoleh, ternyata dia masih duduk manis di sofa cream beludruku.

Aku menatapnya malas.

Dia mengedikkan bahu. “Koperku tidak mini,” katanya sambil sedikit melirik dua buah koper besarnya. “dan aku tak mau membuat tanganku kram.” Aku mendengus keras. Benar–benar keras hingga menurutku itu terdengar menjijikkan.

“Baiklah Tuan Cho Kyuhyun.”

Dia tertawa sumbang.

Rasanya malas sekali berada satu atap bersamanya, seperti bencana, Dad benar–benar bagus memilih ’teman’ yang ’menyenangkan’ untuk menemani liburan. Lebih baik jika aku disuruh memilih, aku akan menyetujui ajakan Jino Oppa –Oppa Hyera melakukan riset melihat naskah kuno berhias di Inggris, menyesal juga karena tidak bisa ikut liburan di Inggris bersamanya, setidaknya walau membosankan, aku tak akan kesepian, daripada bersama bocah tengik ini.

”Ini kamarmu Kyu.” ucapku saat telah sampai didepan kamarnya. Oh dan aku tidak bodoh soal kamar ini, tak mungkin aku memberi tumpangan VVIP dirumah-ku, kuharap dia tidak membunuhku setelah melihat isi kamar ini.

Kyuhyun memasuki kamarnya dan melihat–lihat sejenak, gayanya seperti Pangeran William saja, ah tidak, Pangeran William tidak playboy dan menyebalkan.

”Aku tak begitu suka kamar ini, aku ingin kamar disebelah kamarmu saja, kata Ayahmu aku harus tidur disana.” ujarnya enteng dengan tatapan datar.

WHAT? Disebelah kamarku? Bunuh saja aku!

“Yak, tidak boleh! Memangnya kau.. yak!”

Pria sialan itu dengan gampangnya masuk kesebelah kamarku dan menguncinya dari dalam, entah sejak kapan dia bisa sampai disana, sial! Aku bisa gila jika seperti ini. Selama ini aku bisa bertahan dengan katalog–katalog kuno berjamur itu, tapi tidak sekarang, dia benar–benar membuatku muak!

“Yak, bocah tengik! Buka pintunya! Aku belum selesai bicara.” sungutku seraya menggedor–nggedor pintunya.

”Hei aku bukan bocah, kau yang bocah, bahkan umurmu tiga tahun dibawahku dan pergilah siapkan bukumu, aku akan mengajarimu nanti.” teriaknya dari dalam.

Hei, sebenarnya siapa yang punya rumah hah? Kenapa bocah itu berlagak seperti raja! ”Kau brengsek Kyu.” desisku sambil menendang pintu.

”Ah terimakasih.” jawabnya dari dalam dengan nada dibuat–buat. Sial.

______________________________________________________________________

            Saat ini aku sendiri –ah, maksudku bersama Kyuhyun sedang belajar bersama, tidak! Ini bukan dikategorikan belajar bersama. Dia hanya memainkan PSP barunya yang katanya limited edition yang hanya ada lima didunia, jelas–jelas aku tak bertanya, kesanku padanya berubah, ternyata dia cerewet dan sok.

”Hei apa kau sudah selesai?”

Aku mendongak. Menatapnya tajam. Dia mengangkat bahu lalu seolah tak menganggapku. Yang benar saja permulaan pertemuan dia memberiku 100 soal, benar–benar kurang ajar.

”Kyu-”

”Panggil aku Oppa.” potongnya cepat.

”Tidak mau! Memang kau siapa huh?” balasku sengit.

Dia kembali pada peraduannya, menjadi bocah datar yang pura–pura sibuk, well sebenarnya bukan urusanku juga sih, tapi dia sangat menyebalkan, kuberitahu ya, dia sok sekali, duduk dengan kaki disilangkan, sesekali mengerang dan berteriak, lalu melirikku sejenak dan kembali pada kesibukannya. Demi Tuhan, lebih baik aku pergi dari rumah-ku saja.

Saat ini otakku sedang bergelut dengan soal sialan ini, bukan, bukan karena sulit –mungkin itu juga salah satu faktornya, tapi bocah tengik itu sedari tadi memandangku intens, meninggalkan pekerjaannya lalu menatapku. Kujatuhkan pandanganku padanya lalu mengangkat sebelah alis.

”Kau.. sepertinya memang pintar.” ucapnya tiba–tiba.

Aku tersenyum bangga.

”Lalu,” ucapku ragu–ragu. Dia menatapku heran. Aku mengangkat tangan kananku lalu menunjuk wajahnya. ”bisakah kau berhenti menjadi tutor pura–puraku?”

Dia menyeringai.

Perasaanku tak enak.

”Tidak.”

Bahuku terkulai lemas.

Aku kembali mengerjakan soal jadi–jadianku. Kenapa orang seperti dia harus hidup? Tuhan begitu baik. Orang kaya, pintar, tampan, tinggi dan wajahnya bersinar harus menyandang gelar sombong. Sedangkan diluar sana banyak –mungkin orang seperti dia tetapi baik. Yah, kan sudah kubilang dia berandal sial yang otaknya terforsir bahan kimia pabrik.

”Kau berubah,” ucapnya tiba-tiba.

Aku mengangkat bahu.

”Dulu kau manis, banyak bicara dan-” aku menatapnya bingung. ”-yeah, sekarang kau berbeda, lebih galak, mungkin faktor kesepian atau-”

”Diam kau Kyuhyun!” sentakku sambil tetap fokus ke soal didepanku.

”Setelah Ibumu meninggal kau berubah, aku tak yakin ini saling berhubungan atau tidak, tapi aku tahu kau masih dibayangi masa lalu, tentang Ibumu, semuanya. Kau tidak bisa seperti ini, kuberitahu ya, landasan kepercayaan datang dari hatimu, jika kau seperti ini terus, bagaimana dengan ayahmu? Kau tidak kasihan padanya, oh atau mungkin kau-”

Aku meremas bolpoin erat yang mungkin saja membuat buku–buku jariku memutih dan tanganku serasa kebas, melemparkannya pada daun pintu yang berjarak 5 meter didepanku, aku menatapnya benci, dia sudah berani menyulut emosiku, tahu apa dia tentang aku, berani sekali membicarakan Mom dihadapanku, sial kenapa mataku memanas seperti ini.

Aku beranjak dari dudukku lalu berbalik menuju ke arah tangga, tak kuhiraukan teriakannya yang memuakkan tersebut, tapi satu kalimat yang membuatku mematung ditempat.

”Jika kau ingin kembali seperti dulu, berubahlah, jangan tutup dirimu, aku tahu selama ini kau menutup dirimu pada orang–orang, mulailah dari diri sendiri, diperlukan koordinasi yang tetap dari dasar untuk berubah, bukalah topengmu selama ini, jangan berpura–pura menjadi orang lain.”

Aku mengambil nafas dalam–dalam lalu menghembuskannya dengan kasar dan berbalik padanya yang terlihat tersenyum sinis yang bangga. ”Kau tak tahu apapun tentang diriku.” ucapku datar.

”Aku tahu, sangat tahu.”

Aku diam, menghentakkan kakiku kelantai sekali. Dua kali. Tiga kali. Aku tidak merajuk! Lalu tetap berjalan membelakanginya. Berusaha meminimalisir langkahku supaya tak terdengar kasar. Faktanya memang begitu.

”Kau bukan Park Jihyun yang kukenal.” teriaknya.

Tuhan yang baik, aku berharap dapat berpura–pura tuli saat ini.

”Aku ingin melihatmu wajahmu seperti saat aku mencuri ciuman pertamamu.”

Cukup!

”Awww.”

Tuhan memang baik, buktinya lemparan sandalku tepat mengenai wajah bersinarnya yang kini meredup. Rasakan.

Kembali aku melangkah ke tangga, memikirkan ucapan demi ucapan Kyuhyun yang sebenarnya tak ada yang salah, semuanya benar, dia benar, aku memang berubah, bahkan terkadang aku tak mengenali diriku akhir–akhir ini, yang mengerti segalanya tentangku hanya Hyera, dan sekali lagi aku mengiyakan segala pernyataan Kyuhyun.

A whole new world

Don’t you dare close your eyes

A hundred thousands things to see

Hold your breath, it gets better

I’m like a shooting star

I’ve come so far

I can’t go back to where I used to be

______________________________________________________________________

            Pagi yang buruk. Sarapan dengan keheningan, hanya ada dua orang yang memenuhi meja makan super besar ini, yeah Kyuhyun menggantikan Dad untuk mengisi kekosongan meja makan ini, sebenarnya saat bangun pagi tadi, aku sudah melupakan tentang kejadian semalam, tetapi saat dia duduk di kursi Dad, kutegaskan sekali lagi, dia duduk dikursi Daddy! Aku benar–benar kesal!

”Morning Jiji-ya, tidurmu nyenyak?” tanyanya. Mengelap mulut dengan serbet. Perlahan dan runtut. Kuakui, itu keren.

Aku menatapnya datar. Kembali menyantap makananku, maaf aku sedang malas berbasa–basi.

Dia menatapku masih dengan wajah poker face. Seolah-olah semalam tak terjadi apa-apa

Namun, saat aku hendak menyendokkan nasi kemulutku, Song Ahjumma berjalan tergesa menuju kearah kita, maksudku kearah Kyuhyun, aku mengernyit sejenak, tak biasanya Ahjumma tergesa–gesa seperti itu.

”Tuan Kyuhyun, anda dicari seseorang.” ucap Song Ahjumma setelah mengatur nafasnya yang terengah-engah.

Aku balik menatap Kyuhyun, dia seperti orang yang bingung merangkap bodoh. Tetapi itu hanya sepersekian detik. Setelah itu Ia mengangguk dan pergi. Mengikuti Song Ahjumma.

Aneh, bagaimana bisa ada temannya yang kemari? Apa ia memberitahu rumah-ku pada temannya atau bagaimana? Tapi tidak mungkin, Kyuhyun baru kesini semalam, ah tapi tidak menampik kenyataan bila Kyuhyun menelepon orang itu untuk datang kemari ’kan? Perasaanku sepertinya tak enak.

Detik berikutnya aku mengendap–ngendap seperti pencuri, hei ini bahkan rumah-ku, bukankah ini hal yang tak lazim jika aku mengendap–endap di rumah-ku sendiri, dasar Jihyun bodoh.

______________________________________________________________________

            ”Ini silahkan diminum.” ucapku dengan nada yang kubuat manis, sangat manis malah, hingga aku hampir muntah. Jujur saja, ini kali pertama aku mengantar minuman untuk tamu, jika dipikir–pikir apa karena ini rumah-ku jadi aku yang harus mengantar minum? Ah tidak, aku memang sengaja, segala kecurigaan yang bermain–main di otakku, membuat tubuhku ikut terforsir untuk melakukan sesuatu. Kau-tahu-perasaan-wanita-yang-peka.

Bukan.. bukan karena dia membawa wanita –mungkin itu salah satunya. Masih terekam jelas perkataan Cho Ahjumma saat semalam dia mewanti–wanti dengan wanita yang akan dibawanya. Well, baru semalam Ahjumma menasehatinya agar mengurangi sedikit saja hobinya, eh dengan seenak kepalanya dia membawa wanita kedalam rumah.

Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi sepertinya orang yang bertemu dengan Kyuhyun itu sedikit mencurigakan, bukan, bukan karena dandanan atau sejenisnya, dia cantik, tapi dari modelnya terlihat bukan orang yang baik–baik atau ini memang hanya perasaanku saja.

”Kau Park Jihyun? Perkenalkan aku Kim Hani, yeojachingu Kyuhyun.” katanya. Alunan suaranya seperti seseorang yang pamer. Menjabat tanganku lalu tersenyum lebar sekali. Sebenarnya aku berniat mengatakan padanya jika lipstiknya menempel di gigi bagian atas miliknya. Namun, aku enggan. Biar saja dia berjalan dengan lipstik yang menyangkut di gigi. Aku membalasnya dengan senyuman sekilas.

”Ah kami pergi jalan–jalan dulu ya, ayo Kyu.” ajaknya. Menggandeng tangan Kyuhyun yang kiranya sudah pasrah.

“Kalian tidak minum dulu?” tanyaku dengan nada yang kubuat wajar.

“Ah maaf Jihyun-ssi, kami harus pergi dulu, tapi kapan–kapan aku akan mampir kesini dan minum minuman buatanmu.” jawab Hani dengan nada samar yang dibuat-buat kecewa.

Oh ayolah, aku berharap jika datang hari itu, aku tidak ada disini, atau setidaknya aku akan memberikan racun keminumannya. Atau aku mungkin akan membakar rumah-ku sendiri? Entahlah.

”Ah tunggu.” aku mencegat mereka untuk kembali melangkah.

Dengan perlahan, aku melangkah mendekati Kyuhyun dan merapikan kerah kemejanya, dari sudut mataku kulihat Kyuhyun membulatkan matanya kaget, bukan hanya Kyuhyun, tetapi perempuan itu.

”Ah maaf, sedikit berantakan tadi.” ucapku saat melihat mereka berdua kompak menatapku bingung dengan kedua matanya yang membelalak bagai keracunan butty.

”Baiklah terimakasih, mungkin aku hari ini pulang malam, jadi kurasa kita masih punya waktu untuk belajar besok ’kan?” tanya Kyuhyun.

Aku mengibaskan tanganku, “Tentu.” Lalu mengangguk mengiyakan. Mengedikkan kepalaku pada Kyuhyun yang berarti mengisyaratkan agar segera pergi menyusul yeojachingunya yang berdiri dipintu. Entahlah, aku tidak tahu ini perasaanku atau apa. Tapi perempuan itu sedari tadi menatapku sinis.

Setelah mereka pergi, buru–buru aku berlari kekamarku dan membuka laptopku. Mengenakan headphone lalu mengencangkan volume up, yeah tadi aku memasang alat penyadap suara dikerah Kyuhyun, aku masih curiga dengan perempuan tadi, dibalik tatapannya yang manis, didalam matanya menyimpan segumpal kebencian saat menatapku tadi, lalu jika ini pertemuan pertama kami, lantas kenapa wajahnya menunjukkan kebencian padaku? Bahkan itu terlihat tak lazim ’kan? Apa dia mengira aku ada hubungan spesial dengan Kyuhyun? Yang benar saja. Bahkan jika dia tadi mengatakan itu, mungkin aku akan ijin kekamar, membenamkan wajahku dibantal, lalu tertawa geli selama sepuluh menit.

”Kyunnie, kita mau kemana?” hm sepertinya itu suara Hani, cih manja sekali, menjijikkan.

”Ke apartemenmu honey.”

Oh demi kewarasan, jika aku melihat bocah tengik itu berbicara seperti ini dihadapanku, sudah kupastikan aku benar–benar akan melempar asbak kesayangan Dad ke wajah tampannya!

Sejauh ini, pembicaraan mereka masih normal, apa mungkin hanya perasaanku saja atau memang aku kehilangan kewarasanku sejenak.

Tiit.. Tiit.. Tiit..

Subject           : Ini Gawat! 

Dari                : No.Name@korean.com

Kepada           : Jihyun.Park@krseattle.com

            Hyunnie-ya, ini masalah serius, aku akan kerumahmu sekarang.

Jongwoon

            Aku nyaris melancarkan umpatan padanya jika aku tak benar–benar fokus pada deretan kalimat yang sepertinya sungguh mendesak. Jongwoon sepupuku yang notabenenya adalah orang yang selama ini membantuku membobol intisari perusahaan Dad, yeah dia bekerja sebagai tangan kanan Daddy, dia adalah ahli teknologi merangkap sejarahwan dan mengerti tentang hal–hal mengenai kau-tahu-itu dan sejenisnya.

Tetapi bukan ini masalahnya, Jongwoon bukan orang yang mudah panik, dia orang yang tenang dan terkadang misterius, jika masalahnya tak terlalu penting dia akan berusaha mencari jalan keluarnya sendiri, tetapi saat ini dia mengirimku email dan satu lagi, emailnya terkunci dan rahasia, nyaris aku terlonjak saat memikirkan sesuatu hal yang aneh nantinya.

Saat aku memikirkan kemungkinan–kemungkinan terburuk dan nyaris saja melupakan tugas utamaku untuk menguping pembicaraan Hani dan Kyuhyun, pintu kamarku diketok dengan rusuh, bahkan sebelum aku menyuruhnya masuk, orang yang kutunggu sudah berlari masuk kekamarku.

Lalu dengan rusuhnya membuka tas besarnya dan mengeluarkan laptop lalu sejenis pemancar remote yang besarnya dirancang sebesar ibu jari orang dewasa yang kutahu berfungsi untuk mengendalikan, mengontrol pikiran, perilaku dan emosional objek target setelah alat elektroda ditempatkan kedalam otak orang yang menjadi target, masalahnya adalah, bagaimana cara memasukkan chip kecil kedalam otak target? Dan dia menempatkan semua alat–alat itu diatas ranjangku.

”Oppa tenanglah, jangan tergesa–gesa seperti ini.” nasehatku memperingatkannya.

”Tidak, ini gawat.” jawabnya nyaris berteriak dan memasang sejenis wireless ketelinganya.

Aku menghampirinya yang sedang bergelut dengan laptopnya, tal ayal sesekali dia mengerang dan sesekali mengacak rambutnya. Jika keadaannya seperti ini, aku lebih memilih diam dan menatapnya.

”Lihat ini Hyunnie-ya!”

Jongwoon menyodorkanku laptopnya lalu memasangkan headphone padaku. Sedetik kemudian aku hampir saja membanting laptopnya jika dia tidak menatapku tajam. Benarkah apa yang kulihat ini?

BIG SECRET

The next target

Taebaksan Snow Festival  

 

TBC

 ___________________________________

The next..

”Aku memasang elektroda pada seseorang, dia adalah salah satu musuh yang memata–matai perusahaan,”

”Oppa, apa maksudmu, perusahaan mereka sering melakukan kegiatan seperti itu? Seperti memata–matai perusahaan lain? Lantas keuntungan apa yang mereka dapat?”

”Oh ya, kau berhutang padaku untuk mengenalkan Cho Kyuhyun padaku Hyun.”

”Oppa, kau tidak ingin berpakaian?”

             ”Kau tahu ’kan jika Jongwoon Oppa salah satu dari tangan kanan Dad? Aku tak yakin jika dia masih aman..”

cooltext846166519

 

Iklan

14 responses to “Begin Of The Mission Chapter 1

  1. Eonie!! Luph yuh.. Wkwk, ah aku suka,sangat suka dgn ff ini. Aigoo magnae evil itu slalu saja menyebalkan skaliguz menggemazkan! Jiah, crita.a ini orang tajir smua yah? Temen.a Liburan k mexico, jihyun.a punya rumah besar yg bahkan cari dpur aj bingung. Omo! Dan apa itu? Knpa kta” d next part.a mengundang piktorku? Omo! Ngapain k apartement eon? Aneh, jangan”.. #stop

    aigoo, kim jong woon muncul! Mizteriuz? Stuju aku! Itu yg buat aku suka. Wkwk, ah paz! Eonie bkin krakter yesung oppa paz bgt.. Dia ahli kompt? Hacker jg ya? Mata”? Gila keren abiz, sesuai sma pnampilan.a yg suka hitam” itu, eh skarang rambut.a kuning yah #kurang suka aku 😐

    masih pnasaran sama kepanikan yesung oppa! Ada ap sbenar.a? Ap ada hubungan.a sama ayah.a jihyun(nama.a bner g c)?
    Sama perubhan jihyun jg. Baca part 2.a ah.. Ppappai eon.
    #bow with bighead oppa 😀

    • I Lupyutuuu muaahhh *asyikk
      iya magnae cakep *kedip2 uhuk
      iya tajir, orang cho juga bingung kenapa mereka kaya banget ya, anak gedongan sekali *nangis di jamban T.T
      iya jongwoon itu jadi hacker, keren ya, cho juga ganyangka. Jongwoon : Eh apa ngomongin gue hah?! Cho : *ngambang T.T *abaikan
      ayo lanjut yaaaa, thankseuu 😀

  2. Wow! Kereen
    Aku suka banget sama kata kata yg digunain. Bener bener enak. Kyuhyun sebenernya perhatian banget sama jihyun, sampe ciuman pertama yg dulu masih diinget.
    Eh, ada masalah apa? Jongwoon kenapa?

  3. eo? apa ini? hyunnie agent rahasia? atau apa… *clueless.-. eh btw, saya new reader hehe annyeonghaseyoo~

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s