Begin Of The Mission Chapter 2

(Benda terselubung)

Semuanya tak akan lebih baik jika tak diungkap secara terinterupsi.

Suatu pernyataan yang tiba-tiba terkuak menjadi langkah menuju satu keajaiban.

.

.

chochangevilkyu present

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM.Ent Inc.

Spy, Action, Romance  

Park Jihyun, Cho Kyuhyun

PG-16

.

.

Jongwoon menyodorkanku laptopnya lalu memasangkan headphone padaku. Sedetik kemudian aku hampir saja membanting laptopnya jika dia tidak menatapku tajam. Benarkah apa yang kulihat ini?

 BIG SECRET

The next target

Taebaksan Snow Festival  

.

.

            Praktis aku membulatkan mataku dan menatap Jongwoon tajam, wajahnya terlihat lebih parah dariku, wajah yang terlihat gusar, rambut berantakan, dan satu lagi, air muka Jongwoon sekarang lebih panik, biasanya dia akan terlihat santai, tapi sekarang bahkan aku tak bisa memprediksikannya lebih lanjut.

“O.. Oppa bagaimana kau bisa mendapatkan informasi ini?” tanyaku. Berusaha menyembunyikan nada khawatir, tapi justru suaraku terdengar sangat parau, serak dan menyedihkan. Otakku sekarang benar–benar dalam keadaan hyperdrive.

”Aku memasang elektroda pada seseorang, dia adalah salah satu musuh yang memata–matai perusahaan,” jawabnya mulai terdengar tenang.

Aku mengernyit sejenak, ragu–ragu aku ingin membuka mulut, tapi ternyata dengan gesit Jongwoon menjawab pertanyaan yang sekelebat ingin ku tanyakan.

”Aku menemukannya saat dia bersembunyi di perusahaan, disebelah ujung bilik dibawah tangga lantai delapan, dengan cepat kuhajar wajahnya lalu menyeretnya ke mobil untuk dan mengintrogasinya dirumah, tapi dia tetap bungkam, sempat aku memikirkan bahwa dia orang yang sangat setia, walau anak buahku menghajarnya, tapi dia tetap setia bungkam. Jadi aku memutuskan mereka supaya menghajarnya hingga tak sadarkan diri, lalu aku membedah otaknya dan memasang elektroda disana. Kesimpulannya adalah, aku mengendalikan segala perilakunya, bahkan aku membuat dia menjebol password perusahaanya lalu memberiku informasi tentang siapa dalang dibalik ancaman selama ini.” jawabnya dengan panjang, lebar, cepat dan sulit kumengerti.

Aku sempat membayangkan saat dia berkata ’membedah otak’ , Demi Tuhan, aku ingin meminta ijin pergi kekamar mandi dan muntah disana. Dengan berbekal kecerdasan mengeja kata atau menganalisis ucapan, aku sedikit menangkap kata–katanya yang ’menjebol password perusahaanya lalu memberiku informasi tentang siapa dalang dibalik ancaman selama ini.’

Aku kembali membuka gulungan pikiranku yang sempat tertutup, maksudnya semua ini pernah dilakukan perusahaan mereka, jadi kasus ini adalah sudah sekian kalinya? Apakah begitu maksud Jongwon?

”Oppa, apa maksudmu, perusahaan mereka sering melakukan kegiatan seperti itu? Seperti memata–matai perusahaan lain? Lantas keuntungan apa yang mereka dapat?” tanyaku akhirnya, daripada aku berhipotesis sendiri, lebih baik aku mengungkapkan isi otakku ’kan?

Untuk sesaat, tatapan mata Jongwoon terlihat sangat mengintimidasiku. ”Yeah, mereka pernah melakukan ini, tapi hanya ancaman, setiap hari mereka mengirim sejenis file berisi rangkaian deretan bahasa aneh yang sampai saat ini masih menjadi misteri-” Jongwoon terlihat menghela nafas lelah sesaat lalu mulai melanjutkan kata–katanya sambil memandang langit–langit kamarku.

”-tapi tak kusangka mereka akan berbuat sejauh ini, dan kali ini kasusnya adalah seseorang yang membawa bom bunuh diri disana, saat festival itu berlangsung dan keuntungannya adalah perusahaan itu akan meraup gumpalan uang haram dari pihak diatas mereka, bos asli mereka.”

Dalam keadaan yang normal, mungkin aku akan menertawakan ucapan Jongwoon tentang bom bunuh diri, apakah orang seperti itu benar–benar ada dan kurang kerjaan? Tetapi untuk saat ini, aku benar–benar diliputi rasa gusar, aku membayangkan jika nyawa orang–orang tak bersalah akan tumbang disana, sedikit bergidik saat melihat hamparan mayat–mayat dan tetesan darah diatas salju yang lebat atau yang lebih parah potongan mayat yang menggelempar diatas licinnya salju yang membeku untuk area ice skatting.

”Oppa, itu seminggu lagi.” ucapku terdengar pasrah.

”Hm,” gumamnya datar. Aku tahu Jongwoon pasti lebih frustasi akan hal ini.

”Lalu..” aku berhenti sejenak. Berdehem kecil. ”Apa perusahaan mengetahuinya?” tanyaku.

Dia menggeleng. Oh yang benar saja.

Sejenak aku kembali memikirkan sesuatu, ayolah dimana Park Jihyun yang pintar itu? Taebaksan Snow Festival kali ini diadakan di Gwangjin-gu, lalu disekitar situ terdapat Sheraton Grande Walkerhill, bukankah ini terdengar janggal, jika benar–benar orang itu menyimpan bom ditubuhnya, dia tak mungkin langsung berdiri di tengah–tengah keramaian, pasti banyak orang yang akan curiga dengan gerak gerik orang itu. Sedikit kupastikan jika orang itu mau tak mau bukankah harus menyelidiki dulu seluk beluk tempat itu? Jika begitu berarti..

Drrrttt.. Drrtttt…

Aku mengalihkan tatapanku dari jendela kamar menuju ponselku, terdapat sebaris kalimat dari orang yang tak asing bagiku. Aku tersenyum.

Hyunnie-ya, Oppa sudah pulang dari Inggris, datanglah kerumah, Hyera juga sudah pulang, kupastikan jika kau tak datang, aku tak akan memberikan oleh–olehku.

Received : Jino Oppa

            Sesaat setelah membaca pesan dari Jino, tiba–tiba aku mendapat ide –entah apa ini karena pesan Jino- dan melonjak senang. Kulihat Jongwoon sedikit tersentak kaget karena ulahku, aku hanya menunjukkan v sign lalu mencoba membrowsing di internet.

Aku membrowsing tentang Sheraton Grande Walkerhill, hotel berkwalitas bintang lima di Gwangjin-gu. Hm ada bar, bilik bersambung, bilik permainan, gelanggang tenis, bilik kecergasan, kafe, ruang persidangan, kolam dalam, kolam luar, elevator, meja 24 jam, meja lawatan, mesin ais, padang golf, restoran, sauna, tempat letak kereta valet, tempat letak kereta berbumbung.

”Ck, kita ini sedang mempunyai masalah, kenapa kau malah mencari hotel huh?” decak Jongwoon yang membuatku beralih menatapnya tajam. Tak kupedulikan sungutannya, aku tetap mencari seluk beluk hotel itu.

Informasi yang terdapat di internet hanya menampilkan fasilitas di penginapan itu, aku harus mencari lebih terperinci tentang hotel itu. Entahlah, ini memang hanya analisis sementaraku atau memang penyortiran didalam otakku benar, bahwa aku yakin orang itu pasti akan datang sehari sebelum festival berlangsung, dan satu–satunya tempat untuk memikirkan cara mengelabuhi pengunjung festival adalah dia harus menyiapkan segala sesuatunya dan satu–satunya tempat yang dekat adalah disitu adalah hotel tersebut. Demi sedikit kewarasan, aku frustasi memikirkan ini, bagaimana cara mengetahui orang itu.

Aku menatap Jongwoon sejenak, dia terlihat sibuk dengan laptopnya, aku sedikit terkekeh melihat raut wajahnya yang serius tersebut, seperti raut wajah Jino waktu kesal karena aku mengambil artefak kecil yang ia ambil di Mesir dengan cara ilegal.

Tunggu! Jino bukankah bisa? Selain sejarahwan terkenal, dia kan hacker yang hebat. Aku juga bingung, darimana dia mendapat ilmu itu (tapi menurutku mungkin dia belajar secara ilegal seperti kebiasaannya).

Dan sudah dipastikan dia bisa membantu masalahku karena kujamin dia bisa membuat lajur peta sendiri untuk membobol penginapan itu dengan caranya. Ya kali ini aku harus membujuknya. Baboya kenapa itu tak terpikirkan olehku!

”Oppa-ya, temani aku kerumah Hyera ya.” pintaku sambil mengeluarkan aegyo terampuhku yang tak akan pernah bisa ditolak olehnya –aku yakin. Itu sudah dijamin. Aku tidak merajuk.

”Aish kau ini, baiklah tapi cepat ya, Oppa harus mengurus masalah ini dulu.” tawarnya padaku.

”Trust me.” aku menunjukkan dua V sign lalu tersenyum lebar. Tapi tenang saja, senyumanku pasti belum bisa mengungguli senyuman munafik Kim Hani –jangan sampai.

***

            ”Oppa, kau tidak mau masuk?” tanyaku. Mobil Jongwoon telah berhenti didepan gerbang rumah Hyera. Tadi Hyera sudah mengirim pesan padaku agar masuk saja, jadi aku tidak akan terlihat seperti pencuri yang mengendap–ngendap masuk kerumah orang tanpa ijin ’kan? Lagipula aku yakin disini banyak terpasang kamera.

”Iya sebentar, kau masuklah dulu.” jawabnya cepat seraya masih bergumul dengan laptopnya dan sibuk berurusan dengan klien-nya -mungkin. Aku mengangguk cepat dan turun dari mobil lalu beranjak masuk kerumah dan melesat kelantai dua, kamar Hyera.

”Hyunnie-ya bogoshipo.”

Aku mendengus.

Mematung didaun pintunya seperti orang idiot yang manis dan mencoba melepas paksa pelukan yang erat –sangat erat malah, dari Hyera, cara yang tepat untuk mengakhiri hidup seorang Park Jihyun.

”Oh ya, kau berhutang padaku untuk mengenalkan Cho Kyuhyun padaku Hyun.” jeritnya tertahan setelah aku membungkam mulut besarnya, kuberi dia tatapan tajamku seolah-olah menampilkan kata ’diam kau, atau pilih mati sekarang’ . Hyera dengan cepat mengangguk seperti tupai lalu menatapku berharap.

”Kapan–kapan saja, dia sedang kencan,” jawabku datar dan disambut tatapan kecewa darinya. ”Kenapa? Cemburu?” desakku saat melihat perubahan air mukanya.

”Annio! Tapi pokoknya kau harus mengenalkannya padaku besok, otte?” dia menatapku sekaligus mendesakku agar memenuhi permintaannya, dengan malas aku mengangguk lalu kembali menatapnya tajam.

”Mana oleh–olehku?” tuntutku cepat seraya menjatuhkan diriku diranjang Queen Size-nya yang berwarna abu–abu kelabu.

”Tadaaaa.”

Aku baru saja akan menampilkan ekspresi sumringah saat mengandai–andai apa itu oleh–oleh yang dibawanya, aku berfikir hells baru atau tas atau sneaker atau baju dengan branded ternama. Tapi dengan cepat pula gambaran–gambaran barang mewah yang sempat mengambang di otakku harus tertelan seperti hologram salah tempat atau televisi plasma yang tiba–tiba bersemut. Karena apa? Dia memberiku arloji. Ku tegaskan sekali lagi! Dia hanya membelikanku ’A-R-L-O-J-I’ . Anak ini benar–benar membuatku ingin segera mencekiknya.

Belum sempat aku mengkonfrontir dirinya dengan segala umpatanku, dia sudah memotong ucapan yang akan kulontarkan dengan suara salesnya, seolah dia tahu jika aku akan memprotesnya.

”Arloji serbaguna, namanya adalah Video Camera Analog Watch yang dapat merekam gambar video sekaligus suaranya. Kameranya terletak di antara angka 1 dan 2 yang ada dibagian dalam dan untuk merekamnya, kau harus menekan tombol yang ini. Cocok sekali dengan image-mu sebagai mata–mata terselubung ’kan?” jelasnya layaknya seorang sales yang menawarkan jasa dan menaik turunkan alisnya seperti seorang professor kehilangan hidung. Hyera memang mengetahui segalanya tentangku, sudah kuberitahu ’kan?

Bahkan dia sudah tahu jika aku ini adalah mata–mata terselubung di perusahaan Dad, pernah pertama kali aku mengatakan jika aku berhasil membobol lemari brangkas Dad pada waktu aku kelas satu Senior High School –yang artinya aku baru saja kembali dari Washington- dan tentunya diberi password, gadis itu bukannya marah melainkan mengguncang bahuku dan berkata, ’Kau ini keturunan ayahmu, kau hebat dan pasti akan lebih hebat lagi jika kau membobol soal ujian untuk tes kita minggu depan’ dan dengan satu kali sungutan, satu kali makian dan satu kali gerakan, aku menjitak kepalanya yang telah terforsir pikiran gila itu.

Aku mengangkat alis.

Naluri penasaranku muncul, aku mengambil arloji itu dan memasangkannya di pergelangan tanganku, warna hitam metalik dengan angka digital yang berkedip–kedip lalu tanggal dan hari yang berada diatas dan dibawah angka waktu dan postur sempurna jam persegi itu menambah kesan glamour yang nampak. Kutekan tombol bagian kiri atas dan ajaibnya layar arloji itu menunjukkan bagian dinding kamar Hyera bagian barat yang artinya adalah merekam situasi kamar ini.

Dengan menahan diri agar tak menampilkan wajah yang bodoh dan tampak tolol –sepertinya, aku membuka mulutku terkesiap, ditempat Dad, spy watch, dan hebatnya aku adalah orang yang pertama kali mempunyainya. Satu pertanyaanku, darimana gadis itu mendapatkannya? Apa dia mengambil secara ilegal mirip dengan sifat kakaknya yang seperti itu?

Nyaris aku berteriak senang saat ini, tetapi aku lebih memilih memasukkan wajahku di sereal Cornflakes-ku daripada harus mengakuinya pada Hyera. “Kau..” tunjukku didepan wajahnya. “Darimana mendapatkan benda seperti ini?”

Hyera mendengus sesaat lalu menurunkan telunjukku dan memutar bola matanya, aku yakin gadis itu pasti berpikir aku gengsi untuk mengakuinya –sejujurnya, iya. “Tenang saja, aku bukan Jino Oppa yang dengan seenak kantongnya mengambil sesuatu secara ilegal dan menyembunyikannya dibalik kantung celana boxer-nya. Aku membelinya di pasar gelap,”

Aku hampir saja melemparnya dengan frame photo di nakasnya jika dia tak melotot tajam padaku. “Yeah, ternyata itu pasar gelap yang menjual barang–barang antik, aku mendapatkannya disana, dengan harga miring tentunya. Aku juga tidak mau membelikanmu sesuatu yang mahal.” lanjutnya enteng. Menghempaskan tubuhnya lalu menatapku polos.

Demi boxer Jino, saat aku mendengar ’harga miring’ ingin sekali kujejalkan arloji ini ke mulutnya, dia membelikanku arloji murahan. Ya Tuhan jangan biarkan kau buat gadis ini hidup dengan tenang.

Aku mereguk udara dalam–dalam, berusaha berpikir jernih dan tak mempermasalahkan tentang arloji ini yang sebenarnya adalah masalah. ”Hah, baiklah Ra-ya, terimakasih sudah membelikanku arloji di ’pasar gelap’ dengan ’harga miring’ ”ucapku dengan penekanan nada dibeberapa kata.

Dia mengibaskan tangannya. ”Tak masalah.. dan sama–sama.” jawabnya dengan wajah tanpa dosa.

”Jino Oppa dimana?” tanyaku saat dia mulai menata pakaian–pakaiannya.

”Sedang mandi,” jawabnya acuh. ”Dia sangat merindukanmu Hyun, aku rasa Oppa lebih menyayangimu daripada aku.” lanjutnya dengan nada yang dibuat kecewa. Ironis sekali, bahkan saat berakting seperti itu, dia tak dapat menguasainya dengan baik. Ck.

”Hyunnie-ya!!”

Aku membalikkan badanku dan melihat sosok Jino yang berlari kearahku dan ehem dalam keadaan topless dan bahkan handuk yang melilit tubuhnya masih terpampang jelas.

Seratus persen yakin, pasti orang ini selesai mandi langsung berlari kekamar Hyera. Jino memelukku erat sekali, astaga kenapa kedua kakak beradik ini gemar sekali membuatku mati cepat dengan modus kehabisan nafas.

Tak elit sekali jika di surat kabar besok ada berita ’Park Jihyun putra seorang pengusaha terkenal Park Jungsoo mati kehabisan nafas karena dipeluk kakak beradik yang gila peluk.’

”Oppa-ya, bi.. bisakah kau me.. melepaskan pe.. pelukanmu, aa.. aku tidak bi..sa ber.. nafas.” ucapku terbata–bata.

Terasa buru–buru Jino melepaskan pelukannya dan menatapku iba. ”Yak, aku ’kan merindukanmu.”

”Hyunnie.”

Aku melongok, Jino berbalik, dan Hyera sumringah saat melihat Jongwoon telah hinggap didepan pintu. Sedetik kemudian mereka berdua menghambur kepelukan Jongwoon. Sungguh, keadaan Jongwoon terlihat tragis. Dihimpit dua kakak beradik yang tinggi menjulang. Aku hanya tertawa keras yang membuat Jongwoon melotot ke arahku. Sungguh.

”Dengarkan aku.” ujarku menghentikan rengekan manja kedua kakak beradik itu pada Jongwoon lalu serempak beralih menatapku heran.

Aku ragu–ragu sejenak sebelum mengatur suaraku supaya terdengar normal. Serentak mereka bertiga mengelilingiku lalu duduk melingkar dihadapanku. ”Tadi, Jongwoon oppa mendapatkan pesan dari seseorang,” sekilas aku menatap Jongwoon yang mengangguk, yang berarti menyuruhku untuk melanjutkan perkataanku.

”Pesannya adalah Taebaksan Snow Festival adalah target selanjutnya, kata Jongwoon Oppa, di hari itu festival tersebut akan ada kasus bom bunuh diri. Dan itu menurutku juga masih belum bisa dipastikan benar atau tidak. Tapi aku berpikir, jika memang target akan meledakkan pada saat hari itu, bukankah tak menutup kemungkinan jika kenyataannya dia pasti tak akan langsung berdiri di tengah–tengah manusia ’kan? Pasti dia akan memilih tempat yang belum terjangkau ramainya-”

”Bisakah kau mengatakan itu pada orang normal? Maksudku bahasa untuk orang normal. Aku tak mengerti.“ potong Hyera yang membuatku mendengus kesal. Jino langsung melempar death glare-nya yang menyebabkan dia diam seketika.

Aku mengangkat bahu.

”Jadi, aku rasa jika ini memang benar, dia pasti akan mencari seluk beluk tempat festival itu, aku yakin sekali, jika memang dia berniat begitu, sudah dipastikan dia pasti akan menelusuri tempat itu, dan itu tak mungkin dilakukan hanya sehari, aku yakin sehari sebelumnya dia pasti sudah berada disana. Dan jika hipotesaku benar, dia bukanlah orang Korea, aku yakin dia orang luar. Biasanya kasus pencucian otak marak dengan orang bagian luar, dan jarang bagian dalam terlibat seperti itu,”

”Intinya, pasti orang itu akan menginap ’kan? Dan satu–satunya penginapan yang ada di Gwangjin-gu adalah Sheraton Grande Walkerhill. Hotel bintang 5.” ujarku mengakhiri pidato singkatku.

Mereka terlihat terperangah, bahkan Jongwoon yang terlihat selalu santai kini membuka mulutnya lebar sekali.

”Hei,” sentakku cepat.

Aku mencibir dalam hati.

”Ah, kau pintar sekali Hyun,” puji Jongwoon. ”tapi bagaimana jika itu masih belum pasti, atau bisa saja ’kan dia menginap di tempat rekannya.”

Aku memutar otakku, benar juga kata Jongwoon, tetapi tak mungkin orang seperti itu repot–repot untuk tinggal dirumah rekannya, aku yakin semakin dekat waktu yang ditentukan, akan semakin cepat dia bertindak. Jadi pasti dia akan menginap di hotel itu, aku yakin.

”Tidak, aku yakin.” jawabku mantap.

Aku mengalihkan tatapan mataku pada Jino. Dia terlihat kaget lalu berpura–pura melihat langit–langit kamar.

Aku yakin, orang itu tahu jalan pikiranku.

”Oppa, kau tidak ingin berpakaian?” tanyaku saat melihat dia berpura–pura menjadi tolol. Sepersekian detik kemudian dia membulatkan matanya lalu berlari dan menjerit seperti perempuan kekamarnya. Kami bertiga tertawa melihatnya. Dasar bodoh.

***

            ”Oppa, ayolah.” rengekku.

Saat ini aku sedang bersikeras membujuk Jino untuk membantuku, dan dengan tegasnya dia menolakku, katanya dia sedang tak mau ikut andil dalam tugasku kali ini. Ia tak mau berurusan dengan masalah seperti ini lagi.

”Oppa, apa kau tega membiarkan orang–orang tak bersalah mati?”

Jino menatapku sekilas lalu masuk kedalam lab-in-room miliknya. Aku mengikutinya yang sedang memutar–mutar globe, dia terlihat enggan, benar–benar enggan.

”Hyunnie-ya, kenapa tidak meminta bantuan Jongwoon?” tanyanya lalu beralih menatapku intens.

Aku mengangkat sebelah alisku.

”Kau tahu ’kan jika Jongwoon oppa salah satu dari tangan kanan Dad? Aku tak yakin jika dia masih aman.” dia menatapku tak mengerti.

Astaga sejarahwan terkenal nomor satu di Korea saat ini bertampang bodoh dan memalukan. Dalam keadaan yang normal mungkin aku akan menertawakan tampang tololnya itu. Ingin sekali ku abadikan. Ah lupakan. Aku berdecak keras. ”Maksudku, aku tak yakin jika dia benar–benar real savety, aku berpikir pasti ada juga yang bertugas mengamatinya, yang lebih parahnya mungkin dia juga disadap. Bukankah itu bisa terjadi?” dia mengangguk –entah apa arti anggukannya. Aku tersenyum.

”Kali ini, perusahaan tak tahu tentang ini, tugas ini akan ku emban bersama Jongwoon Oppa,” Jino membulatkan matanya lalu kembali menatapku seolah matanya mengatakan ’apa kau gila?’ . ”Yeah, aku tak mau perusahaan terbebani, saat ini Dad sedang mengurus tugas yang lebih penting, jadi aku tak bisa menambah kadar kestres-an Dad, lagipula Dad sedang ke Busan.” jawabku akhirnya.

Dia bersandar di kursi kerjanya lalu mengucapkan kata yang membuatku ingin terlonjak senang. ”Baiklah, aku akan membantumu, apa yang bisa kubantu?”

Nyaris aku berteriak padanya dan memeluknya erat, tetapi aku harus berpura–pura menjadi gadis sopan yang bertata krama. ”Mudah, hanya memasang Spyware di PC reservasi hotel itu lalu menembus jaringan dalam di Sheraton Grande Walkerhill sampai ke seluk beluk hotel tersebut. Well, aku yakin ada tempat rahasia disalah satu hotel itu yang pasti aku yakin akan ditelusuri oleh mereka. Dan,” aku menggantungkan kalimatku. ”-pasang alat pelacak disetiap sudut hotel.”

Dia tertawa aneh. ”Itu mudah, memang, tapi apa kau gila? Hotel itu memiliki seribu CCTV dan yang kutahu keamanan disana ketat.” sanggahnya cepat.

”Itu sudah kupikirkan, tadi aku sudah mencari di internet,” aku berhenti sejenak. Menawar kadar oksigen. Lalu menatapnya. Dia mengeluarkan wajah penasaran yang terlihat bodoh. ”Bahwa besok, Shinwa University akan ada observasi. Dan rencanaku adalah akan menyamar menjadi murid Universitas.”

Dia menatapku tak percaya. Aku mengangkat tangan. ”Kenapa?”

”Bagaimana jika ketahuan bukan dari murid Universitas itu?” tanyanya.

Aku berdecak kesal, ”Tak mungkin ketahuan, aku mengenal Sunbae disana, dia bilang aku boleh ikut.” ucapku bangga.

”Alasanmu?”

Orang ini cerewet sekali sih. “Ingin mengetahui cara pembelajaran disana, alasanku karena nanti jika aku lulus, akan masuk kesana. Bagaimana? Aku keren ‘kan?”

Aku menaik turunkan alisku.

Dia mencibirku malas.

“Lalu bagaimana dengan kami? Jangan – jangan-”

”Yap, kau masuk dengan cara ilegal seperti biasanya Oppa, haha.” potongku cepat.

Dia mendengus kesal tapi akhirnya mengangguk. Aku tahu jika dia sejujurnya pasti juga senang. Cih gengsinya selangit.

”Hm..” gumamnya lalu beranjak mendekati jendela disudut timur dan kembali menatapku. ”Aku rasa kita dapat bekerjasama dengan baik.”

Untuk menyamarkan kegilaanku yang meningkat drastis, segera aku menghampirinya dan memeluknya erat, masa bodoh dengan image dinginku. Aku benar–benar berterimakasih padanya kali ini. Yeah hanya kali ini, kumohon jangan berpikir aku maniak.

”Yak kau memelukku terlalu erat Hyun, lepaskan.”

Aku melepaskan pelukanku dan meringis sebal.

”Kurasa aku tahu kenapa kau selalu menolak pelukanku? Ternyata benar, rasanya sesak jika dipeluk erat.” Jino mendengus lalu tertawa kecil.

TBC

.

.

The next…

”Sejujurnya.. Aku malas membawa gadis kerumah,”

            ”Cho Kyuhyun! Apa yang kau lakukan huh?!”

            Kujamin seribu persen, dalam hati, Jino pasti ingin sekali menguliti bocah itu, lebih parahnya, mungkin dia akan melempar Stonehenge pada Kyuhyun.

            Dia terkekeh geli meminta maaf, ”Hebat, aku rasa image terselubungmu sangat berkembang,” sinisnya.

            “Kalau begitu, anggaplah aku putrimu sebelum aku kembali kekamarku paman.”

Iklan

15 responses to “Begin Of The Mission Chapter 2

  1. Ok, part 2 ini kereenn bgt!
    Dan ternyta piktor itu hanya miliku, astaghfirullah.. Babo yeoja!
    Ok, jadi jihyun jd anak.a leeteuk oppa. Tua amat yak tuh ajusshi? #plak

    dan jadi, prusahaan ayah.a itu jg ada unsur mata” gtu ya eon? Wow! Jam tangan serba guna, wkwk, beli d pasar glap dgn harga miring. Ya ampun hemat ap pelit c itu hyera? Aigo jino oppa hacker? Ah, muka innoncent.a itu bisa jd hacker? Kekeke.
    Yah, tambah seru, jihyun bilang dy g mw jd muka dua, tp kya.a klakuan.a itu bnar2 muka dua, jd inget haruno sakura. Wkwk. Ah, iya image orang kaya yah? Wkwk.

    Eonnie, knpa ga langsung d post smua.a? Udah sampe part 7? Jauh amat yak? G niat d posting d sjff eon?

    Cukup. Aku menanti part 3.a eon. 🙂
    d posting ya? Ya? Ya? #brisik

    fighting eon! Aku kdu manggil eon siapa neh?
    😀 keep typing!
    #bow with octopus dance ala yesung oppa

  2. Ih kamu yadong(?) muahahhaa *killed
    yes, and Leeteuk Oppa haraboji now *plak
    ho’o, itu terselubung dear 😀
    iya, hyera mah pelit banget, tapi samaan kayak cho, cho juga jika jadi hyera bakalan kayak gitu *ohcurhat
    iyes, muka itu terlalu menipu dear muahahaha *slapped
    hah? Sama sakura? Wkwk, mungkin jihyun terinspiriasi dari dia khukhukhu
    iya orang kaya, rumahnya aja gedongan *ihbahasanyacho u,u
    pasti part 3 di publish kok 😀
    iya kapan2 dulu dear, biar selesai dulu hehe
    you can call me sista wkwk, cause i dont like called eon T.T
    oke thanks for read dear 😀

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s