Thir13een Parfume Volume 1

Percaya atau tidak.

Setiap benda itu mempunyai sesuatu yang bersemayam.

13 Parfum pembawa keajaiban.

Membawamu ke tempat yang tak kau duga.

Tetapi jika kau melanggar pantangan, ada konsekuensi tersendiri.

***

            “Ji… Bisakah kau cepat?”

Gadis itu memberengut kesal. Jiwanya serasa menghilang dari raganya disaat dirinya akan –harus- berpisah dengan acara ‘Perfume Exhibition’.

“Park Jihyun!” seru seseorang. Pria itu mendesis gemas lalu mencubit pipi gadis itu lumayan keras –sangat keras.

.

.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM. Entertainment

Romance, AU, Fantasy

Leeteuk, Yesung, Park Jihyun

PG-15

Art Chevelleanne

Inspired by @heenimk “Creepy K12S”

.

.

 thir13teen-parfume-chochangevilkyu

            “Aaaa Oppa.” rajuk Jihyun manja. Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Jihyun tak habis pikir, bagaimana bisa dirinya meninggalkan acara pameran langka, sedangkan sedari tadi matanya tak berhenti menatap mascot JAR Parfums’ Bolt of Lightning di pintu depan pusat pertokoan.

Pria itu memijit pelipisnya gusar. Tangan kanannya yang sedari tadi membawa kantong plastik besar, ia tumpukan di sebelahnya. “Sampai kapan kau akan berdiri disini? Memang kau punya uang untuk membeli parfume itu?”

Bibir Jihyun mengerucut kecil. Lalu dengan cepat, ia segera melangkahkan kaki untuk keluar dari pusat pertokoan paling terkenal di Myeongdong.

Pria itu yang ternyata kakak lelaki Jihyun, berlari mensejajari langkah adik kesayangannya yang dilihatnya tengah merajuk manja. ”Jangan seperti itu Ji, nanti Oppa akan membelikanmu parfume itu. Tapi sekarang, kita harus pulang dulu ya. Bagaimana?”

Otomatis Jihyun menghentikan langkahnya saat sang Oppa memberi penawaran yang menggiurkan. Jihyun menatap pria disampingnya dengan tajam. Menyodorkan jari kelingking, ”Janji?”

Daigo tersenyum. Mengaitkan jarinya dengan kelingking adiknya, ”Of course, my lady young.”

***

            Hampir pukul satu dini hari Jihyun masih meringkuk di ranjang empuknya. Sesekali dia menghitung kancing. Lalu beralih ke sesuatu didepannya untuk memastikan bahwa koleksi parfume –miliknya- andalannya masih utuh di kaca tembus pandang didepannya. Ia melakukan itu tiap sebelum tidur.

“Aish, bagaimana ini? Koleksi parfume-ku masih bisa dihitung.” gerutu Jihyun kesal seraya beranjak dari ranjangnya menuju ke meja rias.

Mengamati katalog gratis dari lemparan pengedar iklan di toko.

“Clive Christian’s Imperial, DKNY Golden Delicious, Clive Christian’s No. 1, Caron’s Poivre, Chanel’s Chanel No. 5, Baccarats’s Les Larmes Sacrees de Thebes, Ralph Lauren Perfume Notorious, Annick Goutal Perfume EAU Dhadrien, Annick Goutal’s Eau d’Hadrien, Hernes’ 24 Faubourg, Shalini Parfums’ Shalini, Jean Patou’s Joy, JAR Parfums’ Bolt of Lightning.” gumam Jihyun sembari membaca tulisan dan gambar yang tercetak jelas didepannya.

”Akkkhh aku bisa gila! Parfume pengisi eksistensitas paling terkenal di dunia dibandrol harga pasaran. Umma, ini kesempatan langka~” Gadis itu kembali merajuk. Sesekali mengacak rambutnya kesal dan akhirnya menenggelamkan diri diatas meja rias.

Memang nyata. Parfume terkenal, termahal didunia. Dengan berani menurunkan harga di kalangan Sosialita. Bahkan didalam mimpi terliar sekalipun. Tidak ada yang pernah berani mengimitasi khayalan itu. Tetapi, kali ini. Hanya tiga hari. Mascot dunia itu mengabari Seoul dengan racikan ternama. Bukankah itu kesempatan bagus untuk para gadis Sosialita ber-branded? Termasuk Jihyun. Jadi secara harfiah. Tingkah hiperbola-nya saat ini bukankah wajar?

Jihyun melangkah gontai menuju lemari berkaca kristal –imitasi- pelindung koleksi parfume-nya. Mengamati satu persatu dengan cermat. Dengan satu gelengan kepala. Dia mulai sesenggukan kembali. Memikirkan jika parfume di Exhibition telah berpindah tangan kepada Ahjumma-Ahjumma kalangan elit.

”Huwaa, jangan sampai itu terjadi!” Jihyun bagaikan orang yang kehilangan kewarasan dengan rambut yang tak rapi –acak-acakan- dan wajah yang kusut.

Gadis itu kembali ke ranjang Queen Size-nya lalu menenggelamkan wajahnya dibantal Soft Blue bergambar Nemo miliknya. Berdoa dengan berharap menguntungkannya sendiri. ”Ya Tuhan, jika memang parfume itu bukan jodohku. Jauhkanlah dia dari orang yang akan membelinya. Tetapi jika memang jodohku, dekatkanlah. Tapi… tapi jika memang ada yang membelinya. Tolong buat parfume itu pecah atau hilang. Amin.” lirih Jihyun lalu menutup mata.

***

            Jihyun melangkahkan kakinya dengan malas menuju kelas. Sapaan yang biasanya ia tunjukkan pada orang-orang, harus larut pada hari ini. Ia tak menggubris panggilan ramah teman-temannya –tak satu pun.

”Ji-ya.” teriak seseorang dari belakang. Jihyun menoleh sebentar. Lalu kembali pada kesibukannya. Melangkah dengan kepala yang ditundukkan.

Gadis itu menghampiri Jihyun yang terlihat berbeda dari biasanya. Dia menunduk kecil untuk melihat wajah temannya. Namun na’as, hanya rambut panjang bagai hantu yang dilihatnya.

”Kau kenapa?” tanyanya. Jihyun tetap bergeming. ”Ah, pasti parfume itu y-” Gadis itu menghentikan ucapannya. Mendelik seram saat tiba-tiba Jihyun mendongak dan menatapnya tajam. Ia memperagakan penguncian mulut lalu membuang kunci imitasi itu.

Hyera terdiam saat Jihyun melangkah mendahuluinya terlebih dahulu. Dia menghela napas tak percaya, lalu berkata, ”Hah, hanya parfume yang dapat membuat dia kembali.” gumamnya. Lalu kembali melangkah menuju kelas.

***

            Di kelas pun Jihyun tetap bergeming. Hanya menyenderkan kepalanya diatas meja dengan tumpuan lengan. Memang ini benar-benar bencana baginya. Pasalnya, hari ini, adalah hari terakhir Exhibition. Tetapi sial berlebihan, Oppa-nya ternyata pergi pagi-pagi sekali ke Busan. Itu artinya, dia tak mendapat jatah janji yang dijanjikan Oppa-nya.

Hyera-pun telah lelah membujuk Jihyun. Gadis itu bahkan seperti berbicara dengan patung. Karena Jihyun yang tak merespon satu kalimat-pun dari Hyera.

Hyera melangkah ke belakang saat dirasa teman-temannya memanggil dirinya.

”Jihyun kenapa?” tanya sang ketua kelas seraya berbisik. Takut kalau-kalau Jihyun mendengar.

Hyera mengibaskan tangannya. Lelaki itu mendekat, ”Dia sedih.”

Chanyeol –sang ketua- terkesiap sejenak. Berlebihan memang. Tetapi itu wajar. Jihyun memang terkenal sebagai gadis manis, periang, sabar dan selalu ceria. Jadi, sangat wajar jika Chanyeol bertingkah.

”A-a… memang kenapa?” tanya Chanyeol penasaran. Dan itu membuat semua orang satu kelas berbondong untuk menguping pembicaraan mereka.

Hyera memutar bola matanya. Jengah. Satu kelas tukang bergosip. ”Kalian tahu Perfume Exhibition bukan?” tanya Hyera. Mereka serempak mengangguk. ”Karena itu masalahnya. Dia kehilangan kesempatan untuk membelinya.” imbuhnya pelan.

”APA?!” Entah karena memang direncanakan atau tidak. Seisi kelas berteriak bersama. Membuat mereka dengan serempak menempelkan jari telunjuk di ujung bibir.

”Hei, bisakah kalian jangan berisik!” seru Jihyun dari bangkunya. Mereka semua saling menatap satu sama lain lalu akhirnya kembali ke tempat duduk masing-masing –karena takut melihat wajah Jihyun yang menyeramkan.

***

            Nyaris teman-teman satu kelasnya berusaha menghibur Jihyun. Bahkan Luhan yang terkenal cerewet itu menyerah karena tak ada respon yang memuaskan untuknya –tak merespon tepatnya.

Bahkan tingkah konyol BaekYeol juga tak membuat Jihyun terhibur. Padahal satu kelas semua tertawa –walau itu tak ada yang lucu. Namun, gagal.

Drrrtt.. Drrtt

Getaran ponsel Jihyun membuat acara sedihnya terganggu. Dengan sedikit erangan kecil dan ringisan malas. Dia segera membuka flip ponselnya.

Ji.. Maafkan Oppa ya. Oppa tak bisa mengantarmu ke acara nanti. Tetapi Oppa tidak akan berbohong tentang ’membelikanmu parfume’. Uangnya Oppa titipkan ke Mommy. Selamat bersenang-senang ^^

Received : Daigo jelek.

Spontan Jihyun terkesiap. Dengan bodohnya dia berdiri lalu berteriak, ”Aaaaa terimakasih Oppa-ku yang tampan.” serunya kuat-kuat. Lalu saat dia tersadar. Dengan segera ia melihat sekelilingnya. Teman-temannya melihatnya terperangah. Termasuk guru yang terkenal killer didepan kelas.

’A-a mati aku.’

***

            ”Hahahaha Jihyun Jihyun.”

Kali ini, giliran Hyera yang tak dapat menyembunyikan ekspresi tololnya dengan tertawa begitu keras. Bahkan sejak 15 menit yang lalu tawanya juga tak kunjung mereda.

Jihyun mendengus keras sekali. Bahkan sangat keras. Membuat ia sendiri merutukki kesialan beruntun hari ini. ”Hentikan tawamu!”

Hyera mengelap sudut matanya yang berair. Melihat ekspresi Jihyun saat ini, membuat ia mau tak mau harus bertoleransi sebagai sahabat –dengan terpaksa- yang baik.

”Sudahlah, sekarang kerjakan hukumanmu saja lady young. Katanya ingin segera ke Exhibition. Sebelum Ahjumma kawasan elit memborong parfume-mu.” goda Hyera sembari merapikan seragamnya yang sedikit kusut.

Jihyun mau tak mau juga mengiyakan pernyataan Hyera. Lalu kembali membersihkan kelas seorang diri. Karena faktanya, Hyera hanya duduk manis sambil sibuk mengamati pekerjaan Jihyun.

***

High Harriet at Myeongdong

Tampak keramaian dari luar. Ya, benar saja. Beratus –bahkan beribu antrian tertata tidak rapi sampai mencuat di luar gedung. Tak heran, banyak sekali orang-orang yang memadati area pusat pertokoan terbesar di Myeongdong. Terlebih, karena hari ini adalah acara terakhir ’Parfume Exhibition’.

”Astaga, ramai sekali.” pekik Hyera kesal. Tentu saja, karena gadis itu saat ini tengah berada di ujung belakang antrian yang panjang. Sedangkan Jihyun? Gadis itu kini tengah berusaha masuk kedalam antrian sesak para Ahjumma. Beruntung, gadis itu memiliki postur tubuh yang langsing.

”Ji! Ji-ya.” teriak Hyera. Sambil sesekali berusaha menggapai ujung kerah Jihyun. Alhasil, dia selalu kena dampratan Ahjumma-Ahjumma galak.

”Anak kecil! Mengantrilah!” seru seorang Ahjumma yang tak terima perlakuan Jihyun karena berusaha mendorong-dorong antrian. Jihyun menoleh, lalu menjulurkan lidahnya dan berlari dengan cepat melewati Ahjumma-Ahjumma yang –masih- berteriak padanya.

***

            “Hhh.. hhhh.” Jihyun terengah-engah sesaat setelah berlari masuk kedalam kerumunan Ahjumma-Ahjumma mengerikan itu –menurutnya.

“Nona, nona. Aku ingin membeli 13 parfume itu.” Jihyun menyentuh kaca etalase itu dengan binaran mata yang kentara saat melihat parfume yang beruntungnya tersisa satu tiap merk’nya.

”Tunggu sebentar ya Nona.” ucap pegawai toko itu ramah. Jihyun mengangguk cepat.

Beberapa menit kemudian, pegawai toko itu membawa sebuah kotak besar dengan berbagai merk parfume yang dibeli Jihyun. Dengan segera, Jihyun mengulurkan tangannya. Namun, sebelum fakta itu terjadi. Ada sebuah tangan lain yang dengan gesit mengambilnya setelah sebelumnya memberikan uang kepada penjaga toko itu. Lalu ia dengan cepat berlari. Jihyun yang masih bingung dengan kejadian ini lalu tersadar oleh goyangan tangan sang pegawai.

”Tidak!! Yak Ahjumma kembali!” pekik Jihyun keras-keras. Mengejar Ahjumma yang notabenenya orang yang berteriak di antrian tadi.

Linangan air mata tiba-tiba berjatuhan dari wajah manis Jihyun. Tanpa memperdulikan tatapan aneh orang-orang, ia dengan segera mempercepat laju larinya saat dirasa Ahjumma tadi sudah masuk –akan- ke dalam mobilnya.

”Ahjumma! Kembali. Itu parfume-ku! Yak Ahjumma.”

Tanpa terasa. Mobil mewah itu telah keluar dari kawasan Myeongdong. Meninggalkan Jihyun yang terduduk di trotoar jalanan. Isakan demi isakan membuat ia tampak rapuh. Berlebihan memang. Tetapi untuk ukuran pengoleksi parfume, bukankah itu hal yang sangat menyedihkan?

”Nona.” Tepukan kecil membuat ia mendongak. Lalu mengerutkan kening.

“Ya?” tanyanya heran.

Ahjumma itu nampak ramah. Tersenyum kecil. Dan membantu Jihyun untuk berdiri, “Kau baik-baik saja?”

Jihyun menggeleng lemah. Diusapnya sisa air mata yang sesekali masih menganak sungai di pipinya. “A-aku tidak baik-baik saja Ahjumma. Ahjumma menyebalkan itu membawa parfume limited edition milikku.” Dan lagi. Jihyun kembali terisak kecil.

“Maksudmu parfume yang seperti ini?” Tiba-tiba saja Ahjumma itu mengeluarkan sebuah kotak yang lumayan besar berwarna ungu dengan aksen glitter yang mewah. Membukanya. Dan itu sukses membuat Jihyun terperangah.

“B-bagaimana Ahjumma mendapat ini? B-bukankah parfume ini seharusnya sudah habis? T-tapi…” Jihyun menatap kotak dan Ahjumma itu bergantian. Menggaruk kepala. Mengisyaratkan bingung yang berlebihan.

Ahjumma itu tersenyum, lalu mengulurkan kotak itu kepada Jihyun. ”Ini boleh untukmu Nona eung…”

”Jihyun… Park Jihyun.” jawab Jihyun cepat.

Ahjumma itu mengangguk kecil. ”Ini untuk Nona Jihyun. Nona boleh memilikinya, asal-” Ahjumma itu menggantungkan kalimatnya.

Membisikkan kata-perkata di telinga kanan Jihyun.

Dan sukses membuat senyum Jihyun meredup.

***

            Mata almond gadis itu terlihat fokus pada satu titik. Terkadang melirik-lirik kecil. Lalu mengintip pelan kotak didepannya. Dipersingkat, ia tak berani menyadari fakta nyata saat ini.

Gadis itu akhirnya membuka kotak besar itu setelah sebelumnya menepuk pelan pipinya. Menghitung dengan cermat. Walau dalam keadaan sungguh normal, jantung gadis itu serasa ingin ditarik dari dalam rongganya. ”Clive Christian’s Imperial, DKNY Golden Delicious, Clive Christian’s No. 1, Caron’s Poivre, Chanel’s Chanel No. 5, Baccarats’s Les Larmes Sacrees de Thebes, Ralph Lauren Perfume Notorious, Annick Goutal Perfume EAU Dhadrien, Annick Goutal’s Eau d’Hadrien, Hernes’ 24 Faubourg, Shalini Parfums’ Shalini, Jean Patou’s Joy, JAR Parfums’ Bolt of Lightning.” gumamnya pelan. Menirukan ucapan manequin mascot JAR Parfums’ Bolt of Lightning.

“Aaaa… aku benar-benar tidak bermimpi. Kyaaa.” serunya girang. Lalu meloncat diatas ranjang empuknya sambil memeluk erat boneka Nemo kesayangannya.

Jihyun. Tentu saja dia akan bertingkah konyol. Setelah sebelumnya ia mendapati dirinya menangisi kebodohannya dengan bertindak anarkis terhadap Ahjumma. Lalu berteriak dijalan. Dan terakhir, ia mendapat parfume ber-branded impiannya. Tetapi saat dia memikirkan kembali ucapan Ahjumma tadi, ia selalu mencoba menguak maksudnya. Dalam artian, mencoba menembus pikiran Ahjumma tadi. Tetapi, ternyata otak pintarnya tak dirancang untuk memikirkan sesuatu yang tak masuk akal.

”Aku akan mencobanya.” gumamnya nyaris berdendang.

Clive Christian’s Imperial hanya ada 10 didunia. Botol murni Kristal Baccarat dengan Mahkota yang diberikan oleh Ratu Victoria. Dengan berlian putih seberat 5 karat. Dilapisi emas murni 18 karat.” ucapnya beruntun layaknya sponsor di toko. Lalu akhirnya menyemprotkan sedikit demi sedikit ke tubuhnya. Wangi yang khas.

Jihyun perlahan-lahan mengendus wangi tubuhnya. Dia bangga akan hal itu. Alasan pertama, akhirnya mendapat parfume. Alasan kedua, karena wangi yang khas dari parfume tersebut.

Namun, anehnya. Saat ia menatap tubuhnya dicermin. Tiba-tiba tubuhnya menipis. Lalu perlahan memudar. Spontan, membuat Jihyun berteriak. Tetapi, fakta yang terjadi, suaranya teredam oleh cahaya berpeluhkan ketajaman yang amat sangat. Dan akhirnya ia perlahan mulai menghilang. Meninggalkan kabut tipis.

***

            ”Yak Park Jihyun! Bisakah kau diam?!” teriak suara asing yang terforsir sedikit berat.

Suara itu menyentaknya kembali ke alam sadar. Membuka perlahan mata almond-nya. Dia terperanjat saat itu juga.

“Leeteuk?” gumamnya bingung.

“Astaga, adik kurang ajar. Sudah kubilang bukan, jangan bergerak dulu. Kau ini membuat lukisanku gagal.” sungut lelaki itu kesal.

Jihyun mengerjapkan matanya, masih belum bisa menyiasati fakta bahwa saat ini ia dihadapkan dengan salah satu personil boyband ternama di Korea.

”K-kau Leeteuk Super Junior?” tanya Jihyun tak percaya. Dengan mulut yang membulat. Tak bisa terkatup.

Lelaki itu mengernyit bingung. Hanya sepersekian detik. Lalu sesudahnya mencubit pipi Jihyun. ”Kau ini kenapa Ji? Super Junior? Apa itu? Apa kau sakit huh?” tanya pria itu –Leeteuk beruntun. Yang hanya di tanggapi gelengan heran Jihyun.

”T-tapi k-kenapa aku bisa ada disini? Lalu kenapa aku bisa bersamamu? Tadi kau bilang aku adikmu? Bukankah kau seharusnya menjalankan Wamil? Apa kau sudah pulang? Lalu apa ini nyata?” Jihyun bertanya runtut. Seakan masih belum ingin menyudahi kebenaran saat ini. Tentu saja.

Pria itu menggeleng gemas. Menggaruk tengkuknya bingung. “Yak kau ini kenapa? Baiklah, akan kujawab satu persatu pertanyaanmu. Pertama, kau memang tinggal disini. Kedua, karena aku ini Oppa-mu. Ketiga, Wamil masih lama. Terakhir. Ini nyata lady young. Ah, satu lagi. Aku ini Park Jungsoo. Bukan Leeteuk dan bukan anggota Super Junior. Jangan bercanda Hyunnie-ya.” jawab Jungsoo panjang lebar. Hingga membuat Jihyun masih belum mempercayainya.

”A-aku bukan adikmu. Tadi aku dikamar. Mencoba parfume baru. Tetapi kenapa aku bisa berada disini?” Dengan –masih- setengah sadar menyadari keberadaannya saat ini.

“Yak Park Jihyun! Kau ini mau menjadi adik durhaka huh?! Sini aku sadarkan terlebih dahulu.” Lalu dengan cekatan. Jungsoo mencubit lengan Jihyun beruntun hingga membuat Jihyun memekik kesakitan.

“YA! Oppa. Hentikan. Yak sakit Oppa.”

Jungsoo menghentikan aksi cubitannya. Setelahnya menatap Jihyun gusar. ”Sudah kubilang bukan. Kau ini adik kesayanganku. Apakah kau ingin membuat Oppa tampanmu ini sedih eoh?”

Jihyun masih mengernyit. Bahkan kerutan halus didahinya semakin bertambah saat kata-kata itu dengan lancar meluncur dari mulut pria didepannya. Mungkin di sebagian sisi, Jihyun juga merasa beruntung dapat bertemu dengan idola terkenal di dunia saat ini.

”T-tidak, aku juga sayang Oppa.” ujar Jihyun sedikit tergagap.

Dengan cepat, Jungsoo segera memeluk erat adik kesayangannya itu. Adik yang hanya akan ada satu. Dan selamanya satu didunia ini. Setelah semua keluarganya pindah ke Paris, hanya Jihyun seorang yang dapat menemaninya hidup didunia ini. Dilain sisi juga, Jihyun merasakan pelukan hangat seorang Jungsoo yang terasa sangat menyenangkan. Pelukan hangat yang dianggapnya Oppa.

”Aku juga menyayangimu Jinnie-ya.” kata Jungsoo. Itu adalah perkataan terakhir sebelum Jihyun melihat tangan –miliknya yang mengusap punggung Jungsoo lama-lama menipis. Lalu memudar. Dan menghilang bagai debu terbawa angin.

***

            ”Akkkhh.”

Jihyun sedikit meringis saat dirinya tiba-tiba merasakan kepalanya pening dan telapak tangannya terasa panas karena tergores semen padat.

”Hyunnie-ya. Kau tidak apa-apa?” tanya seorang gadis. Yang dirasa sebaya dengannya.

Ia membantu Jihyun berdiri. ”Astaga, kau kan sudah kubilang. Jangan melamun ketika jam olahraga. Jadinya bola itu mengenaimu ’kan?!”

Jihyun mengerjap-ngerjap. Sedikit mengendus tubuhnya. Aroma wangi taman segar di pagi hari pada musim panas yang begitu kuat. Berbahan dasar kismis merah. Cabang rumput yang dipotong. Bunga dahlia yang tengah mekar. Ah ini JAR Parfums’ Bolt of Lightning.

”Leeteuk Oppa?” gumam Jihyun nyaris berbisik. Tentu saja gadis itu bingung. Karena konotasi sebelumnya yang entah itu nyata atau tidak. Dirinya tadi tengah berpelukan dengan leader Super Junior yang mengaku sebagai Oppa-nya. Lalu sekarang, berada di tengah lapangan olahraga?

”Yak Park Jihyun sadarlah!” kembali. Gadis disebelahnya itu mengguncang kasar bahu Jihyun. Yang membuat ia sukses meringis.

”Kau… siapa?” tanya Jihyun heran. Mungkin dia memang benar-benar bingung. Karena sedari tadi dirinya berada ditempat-tempat yang aneh. Lalu akhir kata, dia berada di kerumunan orang yang menatapnya iba.

”Hyun! Apakah kau benar-benar amnesia karena terkena lemparan bola? Ini salah Kim jongwoon! Kau… tunggu sebentar disini. Dan kalian, jaga sahabatku!” desis gadis itu setelah sebelumnya menepuk-nepuk pipi Jihyun pelan.

”Jihyun, apa kau tidak apa-apa?” Satu persatu dari mereka menatap Jihyun prihatin. Terkadang mereka mengusap kepala Jihyun pelan. Lalu kembali meraba-raba tubuh Jihyun yang barangkali terluka.

”Minggir! Minggir.” seru seseorang yang memaksa masuk kedalam kerumunan yang mengerubungi Jihyun. Gadis itu –yang mengaku-ngaku sahabat Jihyun- menggiring seorang pemuda yang katanya adalah pelaku dari kasus kejadian lemparan bola ini.

”Yesung?” gumam Jihyun lirih.

”Yak kau, cepat meminta maaf pada Jihyun. Kau ini benar-benar tukang bikin masalah ya. Tidak sopan!” pekik gadis itu kesal. Terkadang diselingi gertakan atau hentakan kaki.

Pemuda itu memandang Jihyun datar. Lalu berkata, ”Maaf,” ujarnya. ”Bukan salahku jika bola itu memantul kemana. Eh akhirnya mengenaimu. Jadi, itu bukan sepenuhnya salahku.” imbuhnya dengan ekspresi yang benar-benar datar.

Keheranan Jihyun berubah menjadi geraman kesal dalam hati. Bisa-bisanya lelaki itu meminta maaf dengan cara seperti itu. Model meminta maaf dengan cara seperti itu hanya akan membuat siapapun yang mendengarnya bertambah kesal.

“Yak, kau ini sungguh tidak sopan! Jadi kau bilang ini salahku huh? Jelas-jelas ini salahmu! Memangnya kau buta? Tidak bisa melempar bola? Atau memang kau ini amatiran?“ sergah Jihyun ketus. Saat ini, di sekeliling mereka bagai manequin yang melihat pertarungan sengit antar kedua kubu. Tak ada satupun yang memberanikan diri untuk memisahkan. Hanya dapat menelan ludah susah.

Lelaki itu memutar bola matanya kesal. Lalu dengan cepat, segera ia berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari lapangan. Tetapi, sebelum itu, ”Kau gadis yang sangat menyebalkan.” teriaknya sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Jihyun.

***

            ”Hyunnie-ya, kau sudah baikan?”

Saat ini Jihyun telah aman didalam UKS. Sebenarnya Jihyun ingin sekali membalas sapaan ramah itu. Namun, faktanya. Ia tidak mengetahui nama gadis itu.

”Eung, aku baik-baik saja…” Jihyun memberhentikan ucapannya lalu menggaruk kepalanya merasa kikuk.

”Astaga, apa kau benar-benar amnesia? Aku Han Jaein. Hanya satu lemparan bola, lantas kau melupakan sahabat sejak kecilmu ini eoh?” tanya gadis itu sinis. Yang dibalas kekehen kecil Jihyun. Jihyun berfikir, walau gadis ini mengucapkan dengan nada sinis. Tetapi, asalnya memang gadis itu sungguh baik. Buktinya, dengan keprihatinannya saat ini. Mirip dengan Han Hyera sahabatnya, begitu pikirnya.

”Maaf Jaein-ah. Eh, aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Jihyun. Jaein mengangguk semangat.

”T-tadi itu siapa? Apakah namanya Yesung?”

”Yesung? Maksudmu orang yang membuat tangan dan kepalamu sakit tadi? Oh ayolah. Kau ini benar-benar amnesia sungguhan ya?”

Jihyun mengedikkan bahu. Lalu menyengir seadanya.

”Baiklah, sebentar sebentar. Akan kuluruskan. Dia itu kapten basket sekolah kita. Sekelas dengan kita, dan ia adalah orang dingin yang menyebalkan. Tetapi anehnya, dia sangat mempunyai banyak fans. Dan satu lagi, namanya Kim Jongwoon.” Jaein nyaris berteriak saat menjelaskan hal itu pada Jihyun. Membuat Jihyun kembali berkutat dengan pikirannya.

”Lalu? Apa dia, ehem. Membenciku? Dari tatapannya terlihat begitu tadi.”

Jaein menghela napas kesal. “Bukan membenci lagi, kalian ini benar-benar musuh bebuyutan. Kalian itu tak pernah akur selama ini.” jawab Jaein dengan berteriak (hampir dan lagi).

Jihyun nyaris meringis saat mendengar kata demi kata dari mulut Jaein. Bagaimana bisa ia dan Yesung Super Junior menjadi musuh? Tetapi Jaein bilang. Namanya adalah Jongwoon. Bukan Yesung.

”Ah aku harus kekelas sebentar Hyunnie-ya. Aku akan mengambil tas-mu. Cepat baikan ya. Tunggu dan jangan keluyuran.” pamit Jaein mengancam yang disambut anggukan dan senyuman manis dari Jihyun.

Dengan segera, Jihyun menegapkan duduknya agar menyender di kepala ranjang. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Bertemu artis impian tetapi kenapa menjadi aneh? Pertama, Leeteuk mengaku Oppa. Lalu Yesung yang notabenenya musuh bebuyutan. Apa yang terjadi sebenarnya?

”Jihyun.”

Jihyun mendongak kecil lalu mengerutkan alis. ”A-ahjumma?”

Ahjumma itu tersenyum simpul. Lalu duduk dipinggir ranjang Jihyun. ”Ahjumma yakin kau ingin bertanya tentang semua ini bukan?” tanya Ahjumma. Jihyun mengangguk cepat.

”Bukankah Ahjumma pernah bilang bahwa parfume ini bukanlah parfume biasa? Parfume ini akan mengabulkan segala jenis permintaanmu Jihyun. Dan impianmu itu bukankah ingin bertemu dengan member Super Junior?”

Jihyun kembali memutar bola matanya. Kali ini dengan frekuensi cepat. Sehingga sepersekian menit kemudian, ia mengingat sesuatu. Sebelum tidur, ia akan berdoa supaya koleksi parfume-nya bertambah, dan satu lagi. Ia ingin sekali bertemu dengan semua member Super Junior. Tetapi, kenapa dalam situasi seperti ini?

”Y-ya Ahjumma. Tetapi kenapa seperti ini? Maksudku ini sungguh tidak masuk akal. Seharusnya aku langsung bisa bertemu dengan mereka bukan? Tetapi kenapa berbeda dimensi? Maksudku dengan mereka sebelum menjadi artis?” tanya Jihyun beruntun. Hingga bahkan gadis itu tak sadar bahwa pertanyaan-nya terdengar berulang, monoton, dan klise. Jujur, gadis itu masih merasa tak percaya. Sungguh tak masuk akal.

Ahjumma itu tersenyum (lagi). ”Karena parfume itu mengandung efek yang berbanding terbalik. Mengisahkan seseorang di masa lalu dan masa depan.” jawabnya.

Jihyun mengerutkan kening. Bahkan giginya terasa bergemeletuk samar. ”M-maksud Ahjumma. Jadi apakah aku ini mengalami syndrome cenayang? Lalu akan bertemu mereka sewaktu masih menjadi manusia biasa yang belum terkenal? Atau mungkin aku bisa mengetahui masa depan mereka?” Suaranya terdengar ragu-ragu.

Ahjumma itu tergelak pelan. Mungkin ia merasa ucapan gadis itu mulai menjurus kedalam aspek kemustahilan. ”Ya, begitulah. Tetapi soal cenayang, kau tidak mengalami syndrome itu, nak,” Ahjumma itu berhenti sekilas. Melemparkan senyum tulus dan dibalas senyuman ragu dari Jihyun. ”dan kau harus bertemu 13 orang. Sesuai jumlah parfume. Dan lagi, kau tidak bisa berhenti disalah satu dimensi.”

Jihyun mengangkat alis.

”Maksudku. Kau tidak boleh sampai menghentikan niatmu untuk menyambangi ke 13 orang itu. Mungkin suatu saat kau bisa saja menaruh hati pada seseorang. Sebenarnya itu bukan masalah. Tetapi masalah yang sesungguhnya, jika kau benar-benar memutuskan untuk tinggal disana.” ujar Ahjumma itu sedikit tegas diakhir kata.

”K-kenapa Ahjumma?”

”Karena kau akan selamanya terjebak disana. Lebih parahnya, akan mati. Dan di dimensi nyatamu. Kau sudah menjadi jasad.” jawab Ahjumma itu terdengar mistis. Serasa ada gumpalan kerikil di sekujur tenggorokan Jihyun. Tercekat. Pikirannya tentang Ahjumma yang bersifat tulus itu tak semuanya benar. Ada kalanya Ahjumma itu sungguh licik.

”I-itu menyeramkan Ahjumma,” papar Jihyun dengan wajah yang sudah terlihat pucat. ”Lalu, aku juga ingin bertanya. Kenapa aku bisa memudar. Maksudku, tadi setelah berpelukan dengan Leeteuk, tubuhku menipis Ahjumma.”

Ahjumma itu berdehem kecil. Menatap Jihyun dengan intens. ”Karena tugasmu sudah selesai.”

Jihyun mengangkat sebelah alis. ”Jadi, jika sudah berpelukan, aku akan kembali?” tanyanya.

”Ya, tetapi ingat. Yang memeluk harus mereka. Tak berpengaruh jika kau yang memeluknya. Dan kau harus menyelesaikan ke 13 misimu. Ini baru dua, maksudku hampir dua. Dan kau harus memeluk ke 13 orang itu.” jawab Ahjumma itu seraya mengusap lembut telapak tangan Jihyun. Dan ajaib, telapak tangannya sudah normal. Luka itu sudah menutup bagai sihir. Lalu entah hanya ilusi atau nyata, Ahjumma itu menghilang tanpa bekas.

Jihyun tercengang. Di lain sisi merasa beruntung. Tetapi dilain sisi lagi merasa gelisah. Berpelukan? Dengan Yesung? Yang notabenenya pemuda galak? Astaga.

TBC

chochangevilkyu’s note

I’am comeback with new ff project! And then, ini semua ke inspirasi sama ff @heenimk K12S yang main EXO. So, thankyou so much^^. But, isi ceritanya berbeda sama punya dia. Dia dengan ciuman hot-nya *plak. Dan aku dengan pelukan kkk. Of course my plot different from her ff. Tapi sayangnya dia nggak nglanjutin ff-nya yang kece itu because most a popular trouble yaitu Plagiator. Padahal unyu >< *mendadakfangirling. Ah semoga Eonni *sokkenal segera nglanjutin ff super kece itu ya, aku fansmu lo wkwk. Dan semoga plagiator itu segera sadar! *dihnyindirbanget.

Oke, thankyou, hope all of you like this my ff. LOVE chochangevilkyu

Iklan

27 responses to “Thir13een Parfume Volume 1

  1. Wkwkwk.. Aneh bin ajaib sist.. Aku mw dong. Beli.a d mna ya? Eh salah. Nemuin ajumma yg td itu dmna y?

    Wktu bca doa.a jihyun. Ngakat jeh. Doa apa itu? Hanya menguntungkan diri.a seorang. #plak

    hua.. Ada member EXO dsni.. Ah, hug u sist.. :-*
    ada baek-han. Huaa.. Mau dong jd jihyun skelaz ama member EXO. #plak

    aku tw aku tlat bca ini. Jd aku mw ngelaju ampe part-3. Let’s go!! See u sist!

    • haha iya aneh bin ajaib dear
      mau? noh, cari ajadeh si ahjumaa -_-
      wkwk iya, doa aneh ya, dasar si jihyun kampret *plak
      hehe, habisnya yang aku tahu mereka cerewet -_-v
      oke dear^^

  2. ini kerennn bebbb ^^bb ,pantes hiatus dari twitter,lo bakat nulis ternyata kirain lo bakatnya ngejek gue doang *digampar*

  3. Welehh~
    Aku baru baca sekarang…
    Padahal aku udah lama bgt liat ff ini tapi bru sempet buka blog authornya… Maaf lho ini… aku reader baru… baru baca… ^___^

    Pas pertama baca aku rada-rada gak ngerti.. tapi makin ksini ngerti sih… (Udah d ceritain tmen sih sblumnya. hehee)

    Daily Prophetnya bagus bgt… (Kkkk~)

    DAEBAK INI MAH DAYA KHAYALNYA… Neomu joha…

  4. kereeeeen XD
    ini ceritanya mau banget di dunia nyata kk~
    oh iya annyeong aku new readers disini, mau ijin baca yaaaap author-nim:))
    ghamsahamnida~

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s