Vetrucia Mansion

Selalu menjadi Misteri

Lengkapi malam dengan selusur jeritan

Sebuah mimpi yang tak pernah menjadi indah

___________________________________

chochangevilkyu present  

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM.Ent Inc.   

Horror, Mystery  

Kangin, Eunhyuk, Donghae 

PG-15 

Halo halo, ini fic yang pernah buat contest memperingati abang Youngwoon yang tampan, tapi disini Cho ubah beberapa kata-katanya

Haapy reading^^

___________________________________

            Angin berhembus kencang. Menerbangkan segala macam sesuatu yang singgah dijalanan kota. Bayangan-bayangan debu terhisap di dalam dinding jalan, lampu jalanan bergoyang kecil, dan tiang-tiang reklame berdecit memuakkan.

Jalanan sepi mencekam bagai tak berpenghuni. Tentu saja, lebih memilih meringkuk diselimut dan menghangatkan diri didepan perapian daripada keluar hanya untuk menyapa malam.

Suara pekikan kucing di tong sampah semakin membuat malam ini bagai berada di ambang neraka. Tak jarang, jalanan sepi dan remang-remang menggelap bayang bagaikan angan yang gila.

Tak membuat seseorang yang melangkah di jalanan remang itu gentar untuk mencapai tujuan. Dihangatkannya tubuh ringkih itu dengan tangan telanjang. Tak memakai satupun alat penghangat membuat ia perlahan-lahan membeku di dinginnya malam.

Kendati berhenti melangkah, orang itu tetap melangkah pasti menuju tujuan, entah dimana tujuan orang tersebut.

Samar-samar terlihat rumah tua sebesar mansion berkukung di sepanjang jalan sepi bertema gloomy.

Jalan setapak yang terlihat lengang merengkuh angin menjadi suhu sedingin es. Angin berhembus tak beraturan menerbangkan apa saja.

Ia melangkah gontai menuju mansion itu. Sayap kanan dan kiri bangunan tampak rapuh dan tua, bangunan itu tampak membayang dan merefleksi di gundukan tanah yang menyengat akibat terguyur air hujan yang sedikit deras.

Kilat tiba-tiba meluruh, dilanjutkan dengan petir yang menggelegar memekak telinga. Orang itu tak menggubris. Hanya berjalan tanpa memandang ke depan. Menunduk. Merunduk dagu bagai kehilangan segenggam nyawa.

Ia memasuki mansion tua itu. Entahlah apa yang ia pikirkan. Atau isi otaknya yang benar-benar sebuah misteri.

Bau apak dan pengap menguap saat tangan ringkihnya membuka dua pintu berwarna kusam yang didepannya bertengger bel tengkorak perak yang sedikit menguning dan berkarat.

Ruangan itu tampak gelap, sepi dan menyeramkan. Namun, sepertinya orang itu tak terlalu mempermasalahkan.

Satu langkah, dua langkah pasti ia mulai menapaki lantai kayu. Sepatunya yang basah meninggalkan jejak besar di atas tebalnya debu.

Tepat saat langkah besarnya sampai di ujung bawah tangga. Kilat menyambar disusul bunyi pekikan guntur. Membuat sedikit demi sedikit wajah orang itu terlihat.

Menyeramkan. Berdarah.

Ia menapaki tangga melengkung yang dilapisi karpet merah pekat dan tak sedikit debu yang menempel itu dengan pelan. Decitan memualkan menggema. Membuat suara seperti jeritan dalam perut bumi.

Tepat saat di tengah tangga. Petir kembali menggelegar di luar mansion. Titik hujan merembes masuk lewat celah jendela yang tertutup korden usang yang berterbangan. Membuat aroma hujan dan debu menjadi satu.

Tiba-tiba orang itu menangkap pandangan sesuatu yang meluncur cepat melewati serambi atas tangga lalu menjalar menembus dinding. Hingga lenyap tak berbekas.

Ia tersentak lalu kembali mundur. Berbalik dan berlari menuruni tangga. Suara langkah kakinya bagai suara tentara perang yang berbondong untuk menyerang. Memualkan sekaligus menghangus masa.

Pada saat tangannya akan menyentuh gagang pintu. Pintu itu mengayun terbuka dan tertutup tak beraturan. Hingga membuat engselnya yang rapuh rusak seketika. Hujan deras menyiram tubuhnya.

Sesaat setelah itu, bunyi lengkingan dari belakang membuat ia tersentak. Ia tak berani berbalik. Namun, neuronnya berkata demikian.

Setelah menghitung dengan aba-aba batin. Ia berbalik pelan. Tepat saat itu juga jubah berwarna hitam kelam gelap melayang didepannya. Tak ada rupa atau apapun, hanya jubah yang melayang-layang. Orang itu tak dapat melihat dengan benar karena fakta yang terjadi, semua gelap dan tenang. Seolah hujan juga ikut membeku karena merasakan faktor aura yang berbeda.

Tiba-tiba petir dan kilat datang bersama. Membuat sinar merembes dalam mansion. Ia tercekat. Bayangan kelam itu berwajah. Wajahnya kusam, matanya menyala-nyala berwarna hitam sepenuhnya. Jubah itu melayang mendekat. Bersamaan dengan bau anyir yang menyengat. Disusul jeritan melengking.

Sepersekian detik. Hujan telah berhenti, aroma tanah yang membaur bersama hujan tercium menyegarkan.

Terdengar tenang, bahkan hembusan angin terdengar seperti simphoni. Dan terakhir, entah apa yang terjadi setelah lengkingan suara, semua terlalu tenang. Vetrucia Mansion kembali memakan korban.

______________________________________________________________________

SHRIEKING MYSTERY

COMEBACK AGAIN IN VETRUCIA MANSION

            “Oh shit!”

Seorang pemuda mengumpat pelan setelah matanya menyusuri sebuah artikel besar yang menjadi kepala berita pagi ini di Seoul Times Newspaper. Ia menutup koran dengan kasar lalu melipat, meremas dan melemparnya ke tong sampah berjarak dua meter darinya.

“Oh lihat betapa kusamnya seseorang pagi ini.” kata seorang pemuda yang tiba-tiba muncul. Ia mengenakan kaus kotak-kotak, dengan wajah yang berkerut. Ia melirik tong sampah sebentar lalu melempar diri di sofa beludru disamping pemuda pertama.

“Aku masih tak percaya jika Vetrucia Mansion sudah berminggu-minggu menduduki peringkat kepala utama berita di Seoul Times.”

“Calm down Kangin, we only university students who are too intelligent.” ujar pemuda berkaus kotak-kotak berusaha menenangkan. Ia mengedip-ngedip cepat lalu menguap. Udara pagi membuatnya mengantuk.

Kangin mengernyit, “So, what connection Kim Heechul?”

Heechul menoleh, lalu memasang raut masam. “I know what do you think, don’t experimenting.” katanya. Heechul berdiri menunggu. Melangkah sekali. Dan kembali berbalik. “Hitung mundur Kangin.”

Kangin tahu benar apa maksud dari ‘hitung mundur’ yang di ucapkan Heechul. Setelah Heechul melangkah keluar melewati pintu besi berkarat –yang sebelumnya memamerkan jari tengahnya pada Kangin-, pintu besi yang belum tertutup sempurna itu kembali terbuka. Muncul seorang pemuda dengan baju hangat musim dingin kebesaran. Kerahnya bergoyang.

Ia tergopoh-gopoh berlari, lalu menarik meja perak yang menimbulkan bunyi berderit layaknya jeruji besi penjara bawah tanah yang dikupas, dan menempatkannya persis didepan Kangin. Ia merogoh tas besarnya dan menggelar beberapa kertas yang menguning, sebagian berjamur dan rapuh dimakan rayap. Sepertinya itu guntingan beberapa koran yang disatukan.

“Read this!” kata pemuda berbaju hangat. Ia menunjuk kertas-kertas itu dengan gaya yang berlebihan.

Tanpa banyak bicara. Kangin menggeser salah satu potongan kertas berjamur yang telah direkatkan dengan selotip, telapaknya mengangkat kertas itu perlahan –jika mengetahui fakta kertas serapuh itu- dan membacanya dengan seksama.

___________________________________

 “Arsitek Randerson membangun sebuah mansion terbesar di salah kota di Korea Selatan.”

___________________________________

 “Dikabarkan bahwa pembangunan Vetrucia Mansion sempat dinyatakan gagal beberapa kali.”

___________________________________

 “Arsitek kaya Randerson bersama istrinya meninggal secara tak wajar pada saat pembangunan Vetrucia Mansion. Tak ada satupun yang mengetahui sebab tersebut. Hanya jasad mereka ditemukan di kamar utama yang setengah jadi oleh salah satu pekerjanya.”

THE OWNER VETRUCIA MANSION DIE HORRIBLY

            Pemuda berbaju hangat dengan kerah yang sudah dibenarkan menatap Kangin lamat-lamat. Ia berharap pemuda itu mengatakan sesuatu, atau yang lebih ia inginkan adalah sesuatu yang benar-benar membuatnya tak sia-sia menembus kerumunan parade musim dingin di daerah Gangnam-gu.

“Eunhyuk, apa semua ini berhubungan dengan berita selama ini? Aku rasa ini terlalu kekanakan.” kata Kangin. Ia mendengus lalu melempar kertas kuning berjamur itu asal. Membuat selotip yang terekat sebagian terlepas.

Seseorang yang dipanggil Eunhyuk itu mengerang, mengumpulkan kertas-kertas itu asal lalu meremasnya menjadi sebuah gumpalan bola dan menjejalkan kedalam tasnya. “Tentu saja! Apa kau tidak baca itu Kim Youngwoon? Mansion itu berhantu! Hantu yang selama ini membunuh siapa saja! Harusnya kau tahu itu!”

Kangin memijit dagunya lalu merosot. Duduk diatas karpet sutra Seattle. ”Ceritakan semua yang kau tahu Hyuk.”

Eunhyuk tersenyum. Membuat gusinya tampak bersinar. Walau faktanya beberapa benda berwarna hijau masih menempel disela-sela giginya. ”Kemarin setelah pulang dari universitas. Aku bersama Heechul pergi ke perpustakaan kota. Kami mencoba mencari berita-berita tentang Vetrucia Mansion,”

”Tetapi yang kutemukan hanya berita utama saja yang menampilkan tentang kematian Randerson dan istrinya. Dan pembangunan itu belum benar-benar selesai,”

”Cerita tentang kematian mereka yang –katanya- mengerikan itu belum terungkap. Aku yakin masih ada jejak-jejak misteri yang tersembunyi di mansion tua itu.”

Eunhyuk terdiam sebentar. Ia memutar jam tangan bvlgari-nya lalu memandangi gumpalan bola kertas yang berserakan. ”Saat aku dan Heechul mencari dibagian surat kabar tua, berjamur dan kuno. Kami menemukan ini, cerita tentang riwayat hidup, kenapa bangunan itu tak pernah diselesaikan ada disana. Namun, semua itu tak spesifik.”

”Intinya, mansion itu berhantu! Hantu Randerson dan istrinya!” ujar Eunhyuk dengan nada antusias yang tinggi. Ia beberapa kali menarik napas karena bau potongan kertas-kertas berjamur itu membuatnya mual.

Kangin nampak sangsi. Alisnya berkerut-kerut. ”Kita harus membuktikannya Hyuk.”

Eunhyuk melotot lalu memukul tangan Kangin. ”Tidak! Heechul benar, kau gila! Tadi dia bilang padaku tentang edisi-penyelamatan-takdir. Apakah maksudnya ini? Aku tak mau! Sudah kubilang ’kan, jika permainan tentang detektif itu sudah selesai. Aku tidak mau ikut pokoknya.” sahut Eunhyuk tak terima. Lalu menjilat giginya karena sedikit merasakan ganjalan tak menyenangkan.

”Oh benarkah? Berarti undangan dinner candle light dari Ahjung kubatalkan saja ya.” ujar Kangin dengan nada dibuat-buat kecewa. Ahjung adalah adiknya dan kekasih dari Eunhyuk, dan Kangin tahu apa kelemahan dari Eunhyuk. Jika-Ahjung-marah-besar.

Wajah Eunhyuk berubah pias. Ia mengambil pisau lipat Swiss Army dari kantungnya dan meletakkan diatas meja. ”Aku bersumpah jika Ahjung marah, pisau ini akan ku tukar dengan pisau roti berkarat. Oh kau membuat hidupku hancur Kim Youngwoon.”

Kangin terkekeh geli lalu mengangguk-angguk seperti keledai. Ia berdiri lalu menyisir rambut auburn-nya dengan jemari tangannya. ”Aku rasa rambutku sudah mulai panjang. Persiapan nanti malam. Aku harus pergi Hyuk,” katanya. Kangin berjalan ke arah pintu berkarat. Sebelum itu, ia menoleh pada Eunhyuk. ”Hyuk, adikku tak ingin dinner dengan orang yang belum mandi pagi.”

Eunhyuk yang sedang sibuk berkaca di pisau lipat Swiss Army-nya itu lalu mengerang dan berteriak. Ia menunjukkan kedua jari tengahnya pada Kangin yang sedang tertawa sambil menekan password pintu.

______________________________________________________________________

”Kangin!”

Pemuda itu menoleh saat suara berbasis alto terdengar memanggilnya. Seorang gadis manis berlari kecil memanggilnya. Rambutnya yang berwarna merah pekat itu tampak seperti api yang melambai.

”Oh, hai Jen. Apa kabar?” tanya Kangin enggan. Ia menatap gadis dengan mata berwarna blue tosca itu dengan pandangan ragu-ragu.

Gadis itu terkekeh. ”Ah baik. Kau kenapa Kangin? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Oh  ya, aku dengar, kau, Heechul dan Eunhyuk akan mengunjungi bangunan tua itu ya?”

Kangin mengangguk pelan. Matanya tak sengaja menatap nail art gadis itu yang berwarna merah pekat. Sangat serasi dengan tas selempang berbranded yang mengalung di lengannya. Dan tentu saja rambut miliknya

”Apa kau tak takut?” Nada suara gadis itu terdengar sangsi. Ia mengusap rambutnya. Berusaha membuat Kangin takjub. Namun, fakta yang menengarai pribadi Kangin, ia menganggap rambut itu adalah sesuatu-yang-berhubungan-dengan-bola-api.

Kangin tampak pura-pura berpikir. ”Memangnya kenapa?” tanyanya. Ia memandang si gadis bola api dengan malas. ”Bukan urusanmu ’kan?”

Si gadis bola api nampak terkejut. Tapi ia pura-pura santai dan memandang nail art-nya dengan bangga. ”Eung, iya. Hanya ingin tahu.”

”Ah maaf Jen, aku harus pergi menjemput Ahjung.” Kangin mereka adegan dengan memandang jam tangannya gusar, seolah-olah ia benar-benar terdesak.

Gadis bola api memandang dengan wajah kesal. ”Oke oke, silahkan.”

Kangin tersenyum terpaksa lalu meninggalkan gadis bola api yang sedang merengut itu dengan wajah yang lega. ”Huh, untunglah.”

______________________________________________________________________

            Malam hari, dikediaman rumah Kangin tampak ramai. Ia bersama dengan dua orang sahabatnya yang antusias –tak sepenuhnya antusias- sedang menyiapkan beberapa barang yang akan dibawa nanti malam.

”Apa kau punya senter? Kurasa senterku akan mati.” tanya Heechul. Pemuda itu memukul-mukulkan senter ke telapaknya lalu mencoba kembali. Senter itu berkedip-kedip.

Eunhyuk yang melihat itu-pun, lalu menghampirinya. ”Ini, aku bawakan senter dan baterai cadangan. Kalau-kalau nanti dibutuhkan.”

”Oh terimakasih,” kata Heechul. Ia mengambil baterai besar itu lalu memasukkannya kedalam tabung senter tadi. Dan mencobanya. ”Bagus, cahayanya terang. Mungkin jika kita benar-benar beruntung, hantu-pun takut.”

Kangin terkekeh saat melihat perubahan raut wajah Eunhyuk yang terlihat ketakutan. Ia menggosok telapak tangannya lalu mengambil beberapa kudapan.

”Oppa!”

Mereka bertiga serempak menoleh. Memandang gadis berusia belasan tahun yang terbalut switer tebal dan menggendong backpack besar. ”Aku ikut kalian.”

Sepertinya hanya Eunhyuk yang pertama kali sadar. Ia berjalan menghampiri gadis itu. ”Kim Ahjung. Apa yang kubilang tentang ini. Jangan ikut Ahjungie.”

Gadis itu mencebikkan bibir. ”Pokoknya aku ikut! Aku tak mau dirumah sendiri,” ia merengek manja. Lalu menoleh pada Kangin. ”Oppa, bukankah kau bilang aku boleh menentukan liburanku sendiri? Jadi aku ikut kalian ke mansion itu.”

Heechul meremas bahu Kangin. ”Sudahlah, ijinkan saja. Lagipula, sekuat apapun kita melarangnya. Gadis itu pasti akan tetap merengek.”

Kangin menghela nafas. ”Asal nanti kau berada di mobil terus, dan kami bertiga masuk kesana, aku mengijinkannu,” katanya. Tampak mulut Ahjung akan terbuka, ia akan protes. Namun ternyata, Kangin yang hafal tabiat adiknya langsung menyela. ”Iya, atau tidak sama sekali.”

Ahjung meremas gendongan tasnya. ”Baik, baiklah Oppa.”

Eunhyuk yang berada disamping Ahjung langsung menggenggam tangannya yang bebas. ”Nah, itu baru kekasihku tersayang.” Ia mengedip-ngedip manja. Membuat perut Ahjung seketika bergolak hebat. Ia menahannya dengan raut wajah pura-pura terkekeh.

______________________________________________________________________

            Pukul 08:00 p.m KST mereka berangkat menggunakan jeep. Eunhyuk sempat protes karena udara dingin, ditambah atap jeep tak ditutup oleh Kangin. Alasannya adalah ’supaya kita bisa menikmati udara malam Seoul’ membuat Eunhyuk murka dan merajuk beberapa kali.

Heechul yang melihat Eunhyuk hanya mencibir. Ia sibuk berpegangan pada besi melintang di jeep. Sedangkan Eunhyuk sudah rusuh meremas-remas besi atap jeep.

Ahjung yang duduk didepan memutar kepalanya. ”Oppa, jangan merajuk seperti itu. Oh kau ini seperti bayi saja.” cibirnya. Eunhyuk langsung manyun dan diam.

”Hei, hei sudahlah, udaranya juga tidak terlalu dingin.” kata Kangin. Ia fokus menyentir. Jalanan sedikit licin karena sehabis diguyur hujan lebat. Sesekali mereka terlompat karena jalanan yang terjal. Maklum, mansion itu terletak di sudut kota yang jalanannya perlu digubah.

”Hei Kangin, apa menurutmu mansion itu benar-benar berhantu?” tanya Heechul. Ia sedang menggigit beberapa kudapan. ”Entahlah, tapi jika itu benar-benar nyata pasti akan seru.” kata Kangin antusias.

Eunhyuk protes, ”Seru apa? Seram itu iya!” ia memukul-mukul bahu Kangin lalu menambahkan. “Jika aku mati disana, kau yang pertama kali akan kubunuh!”

”Akan kulempar mayatmu Hyuk,” Kangin terkekeh. Heechul dan Ahjung ikut tertawa. ”Sudahlah, tak usah parno begitu. Tak akan ada apa-apa. Ok.”

Jeep telah sampai didepan bangunan tua yang remang-remang. Nyaris gelap, karena hanya disorot lampu jalanan.

”Woh ini Vetrucia Mansion?” tanya Heechul. Ia melompat turun lalu bertolak pinggang. Kagum.

Kangin mengangguk lalu berkata, ”Tentu!” ia berdecak kagum. ”Keren sekali ya bangunan ini. Padahal jika bangunan ini masih bisa digunakan, pasti harganya jutaan won.”

Ahjung dan Eunhyuk mengangguk setuju. ”Tinggal dipoles saja.”

”Hyuk, nyalakan sentermu,” kata Kangin. ”Kau juga Heechul.” tambahnya.

”Iya, tunggu sebentar.” Eunhyuk mengotak-ngatik senter lalu menyorot ke wajah Heechul.

Kangin berbalik ke arah Ahjung. “Kau disini saja oke, jika kami butuh bantuan. Aku akan menghubungimu,” kata Kangin pada Ahjung. Gadis itu mengangguk. ”dan jaga ponselmu tetap hidup.” katanya menambahkan.

Mereka bertiga mulai memasuki pagar mansion. Pilar-pilar penopang teras terlihat sangat besar dari tempat mereka berdiri. Namun, sebelum mereka masuk, suara berbondong menyetak mereka.

”Hei apa yang kalian lakukan?!”

Seorang pemuda bertubuh tinggi dan kurus memanggil mereka. Tatapannya sangat tajam, membuat Eunhyuk menelan ludah gusar. Dan seseorang lagi muncul dari balik punggung pemuda tinggi. Ia lebih pendek namun tubuhnya atletis, dan satu lagi muncul seseorang yang mengayun-ayunkan senter.

Kangin berdehem lalu melirik mereka satu persatu. ”Kami akan masuk, kalian kenapa ada disini?” tanyanya. Pemuda yang mengayun-ayun senter menyorotkan cahaya pada mereka bertiga.

”Benarkah? Kami juga. Jadi, apakah kalian juga ingin membuktikan?” tanya pemuda pendek. Mereka saling melirik satu sama lain sebelum akhirnya mengangguk bersama.

”Oh ya kenalkan. Namaku Kyuhyun,” si pemuda tinggi berbicara, lalu menyikut pemuda pendek. ”Dan ini Donghae, yang itu Ryeowook.”

Heechul yang kali ini angkat bicara. Ia menjabat tangan mereka dan mengenalkan Kangin, juga Eunhyuk.

”Baiklah, sebaiknya kita masuk. Aku tak mau berada disini terus. Disini sangat dingin.” ujar Ryeowook, lalu mengarahkan senter ke pilar paling besar yang tertutup sedikit kabut.

Mereka berenam melangkah bersama. Eunhyuk sudah rusuh menyalakan senter, mengarahkan kemana-mana, membuat Heechul menoyor kepalanya karena senternya membuat silau.

Kangin dan Eunhyuk berada dibarisan pertama. Mereka menyalakan senter dan menyorot pintu kayu rapuh yang engselnya sudah rusak. Disana terdapat bel tengkorak perak. Persis seperti rumah berhantu yang menyimpan banyak misteri.

Angin menyusup masuk saat pintu dibuka dan berbunyi seperti jeritan dalam kubur. Membuat beberapa kain yang menutupi beberapa barang terbang-terbang.

Ryeowook dan Donghae berjalan bersebelahan. Menyorot segala sesuatu. Dinding yang disorot tampak jelas rapuh, jamur dimana-mana, retak, dan kertas pelapis dinding yang bergambar mawar nyaris menguning.

Kangin menyorot ke tangga yang melengkung, terlihat jelas dari sini debu menumpuk, Eunhyuk berjalan sambil melihat langkahnya, jejak sepatunya tertinggal saat melewati tumpukan debu.

“Oh aku penasaran dengan apa yang ada diatas.” kata Kangin berbisik. Entahlah, kenapa dia melakukan itu, walau berbicara-pun suaranya akan menggema. Kyuhyun tampak setuju, ia berbalik dan menyorot wajah orang yang berada dibelakangnya. Heechul nampak biasa saja, wajah Eunhyuk pucat dan Ryeowook juga Donghae juga sedikit pucat.

Kyuhyun dan Kangin bergumam bersama, ”Sayang ya, tak ada cermin. Pasti akan seru melihat wajah kalian bertiga.”

Mereka bertiga tampak akan protes sebelum akhirnya suara berdebum keras dari atas terdengar memekak. Lalu disusul bunyi seperti piring yang pecah.

”Oh apa itu?” Kangin menyipit. ”Lebih baik kita naik keatas.”

Donghae dan Eunhyuk nampak sangsi. Namun mereka lebih memilih mengangguk daripada berterus terang akan ketakutan mereka yang memalukan. Ini hanya rongsokan tua, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitulah pikiran yang melintas di otak mereka.

Kangin memimpin didepan. Lalu disusul Kyuhyun yang menjulurkan badan, bersebelahan dengan Kangin. Tangannya sibuk memegang senter dan menyorot. Tapi mereka tak mau bersusah payah berpegangan tangga. Karena sudah dipastikan debu akan membuat lengket.

Debu yang menumpuk ditangga membuat karpet yang sempat diinjak menjadi agak bersih. Kaki-kaki mereka melangkah pelan, karena jika dilihat, undak-undakan itu sedikit rapuh, terkadang terdengar suara kayu yang akan jatuh.

Serambi atas terlihat lengang. Jaring laba-laba disudut-sudut kain terbubuh jelas. Membuat siapa saja tak akan betah berlama-lama disana.

Mereka berenam meluncur melewati lorong-lorong, terkadang langit-langit yang terlalu rendah, membuat mereka serempak berjalan menunduk.

Saat sudah sampai diatas, Eunhyuk menyorot bilik kamar, tiba-tiba saja bayangan gelap berjubah meluncur didepan mereka. Secepat kedipan mata, bayangan itu langsung menghilang.

”Oh, a.. pa itu tadi?” gumam Eunhyuk. Mereka semua menelan ludah susah. Tak ada yang berani berkomentar, sedangkan mungkin saja otak mereka isinya hampir sama. Cerita yang menjadi kepala berita busuk itu benar-benar nyata.

”S-sebaiknya kita turun saja, perasaanku tak enak.” kata Kangin. Yang entah kenapa disusul anggukan bersama.

Donghae memimpin, Ryeowook menyusul dibelakangnya. Lalu Eunhyuk dan Heechul. Sedangkan Kangin dan Kyuhyun bersisihan dibelakang. Senter nampak bergoyang-goyang, menyorot apapun. Karena mereka saat ini sedang berpacu dengan nyawa, berlari melesat turun, apapun yang terjadi.

Pada saat itu pula, senter Kangin tak sengaja menyorot patung besar disudut ruangan, dekat perapian. Ia sempat mengerjap, disana terlihat seorang wanita memakai pakaian berkebangsaan Cina, sedang menatapnya menyeringai. Wajahnya berdarah-darah, tepatnya dimata. Kangin pura-pura tak peduli lalu mengencangkan laju larinya, menembus kerumunan di depan.

Saat tangan mereka hampir menyentuh pintu depan. Pintu itu bergoyang-goyang, jelas sekali padahal tak ada angin. Nyali mereka menciut. Terutama Kangin, yang entah kenapa menjadi paranoid setelah melihat bayangan wanita yang entah itu benar atau tidak.

“Aku takut,” gumam Eunhyuk dan Donghae, senter mereka menyorot pintu yang bergoyang. Tak hanya mereka berdua, semua juga merasakan hal yang sama.

Kangin sibuk merogoh kantungnya. Meraba ponsel yang entah kenapa tiba-tiba tak ada. Jelas sekali tadi ia mengantongi disana.

”Lebih baik kita lari pada hitungan ketiga,” usul Kyuhyun. Kangin sempat gusar, ini adalah cara kuno yang hanya beberapa persen akan berhasil. ”Baiklah, dengarkan aku. Aku akan menghitung.” Kyuhyun menaikkan jari-jarinya lalu mulai berhitung, bahkan napas Kangin yang memburu terdengar pias.

”Tiga,” Tepat pada hitungan ketiga, pintu tertutup kedalam, senter mati dan terasa getaran dilantai kayu tersebut. Mereka terlonjak kaget. Bahkan suara isak yang entah dari siapa terdengar bergemuruh. Tangan Heechul terasa dingin, entah siapa yang meremasnya, karena itu sedikit sakit.

Tiba-tiba setelah berguncang beberapa saat, senter kembali menyala, mereka saling pandang. Apakah ada yang hilang atau mungkin bertambah. Mereka sedikit bernapas lega karena mereka tetap utuh.

Lalu terdengar jeritan, ternyata itu jeritan Donghae. Ia menuding-nuding didepannya. Serempak mereka berpikir kilat. Apa yang menyebabkan ia begitu. Tiba-tiba saja hawa dingin menusuk.

Tepat beberapa meter dari mereka, jubah terbang itu mendekat. Kakinya melayang-layang, ia menunduk, tak menampakkan wajah seperti biasanya. Sesaat kemudian, jubah hitam legam itu mendongak. Wajahnya penuh luka, kaca-kaca tertanam diwajahnya. Matanya hitam seperti lingkaran setan.

Sesaat kemudian ia menyeringai, menghampiri mereka berenam. Bertujuh dengan wanita yang tiba-tiba muncul dibelakangnya. Wanita yang dilihat Kangin.

Tangannya terangkat, tangan yang hanya sebatas siku. Ia mengacungkan kapak besar, melayangkan pada jantung Kangin. Menusuknya perlahan hingga darahnya bercucuran.

”Kalian akan mati.”

Terakhir, jeritan itu kembali menggema. Disusul pekikan dari dalam Vetrucia Mansion.

ENDcooltext846166519

Iklan

8 responses to “Vetrucia Mansion

  1. Wow! Chingu! Ah ani, aku panggil eonni aja boleh kan? Hehe.
    Nisa imnida.. Bangapseumnida eonni.

    Ah gara” bloody marry d sujuff aku jd kesni, sp tw ada lanjutan.a. Wkwk, tp ternyta g ada. Hehe.
    Tak apalah, aku jd nemu ktikan tangan eoni yg lain deh.. 😀

    duh, eonie kya.a suka bgt ya sama yg berbau menantang. Sama dong. #g tanya
    kya.a aku bkal sering buka wp punya eonie ini deh, coz ff.a berbau magic,spy,horor,adventure, fantasy. Ah, aku bgt, tp aku mentok klu hruz buat ff horor, mrinding sndri soal.a wkwk.
    #cukup, kembali

    Mansion berhantu? Omo! Yg benar aj.. Wkwk, #plak
    crita.a menyeramkan eoni, tp lebih menyeramkan bloody marry.
    Yak eonie! Aku g terima pacarku d bilang pendek! Kekeke..
    Eonni jhat neh.. 😐
    ketawa ktika kangin mrasa ktakutan krna hantu yg dia pkir tdk ada itu, aigoo, sifat sok brani.a ilang waktu hantu.a muncul. Tidak keren sama skali. Wkwk #d gampar fans.a kangin

    eoni suka bgt deh bkin crita gantung! Knpa g skalian d gantung aja tuh main cast.a? #plak just kid, 😀

    itu gmna tuh nasib ke-6 namja penakut yg sok brani? Matikah? Hidupkah?
    Truz itu adik.a kangin nurut amat eon, g tkut ap oppa sama pacar.a mati? Ntar sndrian gmna? Aigoo, truz ngapain itu kyu,dong,wook ikutan? Kurang krjaan deh. Juwet deh aku>,<

    aigoo mian eon, aku kepo neh.. 😐

    tp bner eon c bkin crita gntung, bkin pnasaran, dan aku suka itu. Ah kya.a aku bkal suka ktikan tangan eon stelah Kyuna territory d tu2p sama hyena eon. Sedih bgt ;-(

    eonie! Fighting! Keep typing! 🙂
    arigatou #bow 😉

  2. hehe terimakasih ya 😀
    haha, kalo cho kebalik, semua ff pasti nanti nyasarnya ke horor T.T
    pendek tapi tampan gitu lo *manyun u,u
    iya, ini predebut(?) ff wkwk
    apa? di gantung? jahat ih T____T
    nasibnya ya seperti itu, kasian ya haha
    hoho iya, kangin sok sekali *plak
    iya, cho juga sedih, eon Yuli kenapa ya? kok di tutup? *curhatjuga T.T
    okesip, thanks 😀

  3. Karena penasaran sama authornya, aku mampir kesini deh..
    Dan search fanfict yg horror..
    Fanfict ini keren banget!
    Serasa nonton film horror..
    Olahraga jantung pula hehe:D
    Daebak banget deh pokoknya!!

  4. Seruuuu, , kalo di baca malem” enak kali ya?, ,
    Yah, , mati nih pada?, padahal blum tau itu setan betulan ato nggak. .
    Trus, itu nasibnya Ahjung gimana, mati juga kah?

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s