Begin Of The Mission Chapter 3

(Kecurigaan Pertama)

Semuanya tak akan lebih baik jika tak diungkap secara terinterupsi.

Suatu pernyataan yang tiba-tiba terkuak menjadi langkah menuju satu keajaiban.

.

.

chochangevilkyu present

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM.Ent Inc.

Spy, Action, Romance  

Park Jihyun, Cho Kyuhyun

PG-16

.

.

gh

            “Kyu, hari ini aku tidak bisa mengikuti pembelajaran darimu.”

Dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyuapkan nasi. Menatapku heran.

Seolah-olah aku tahu apa arti tatapannya, aku berujar, ”Aku ada urusan.” jawabku cepat. Tuhan pasti mengerti jika aku berbohong demi kebaikan.

Kyuhyun mengedikkan bahunya lalu lebih memperdulikan makanannya daripada mendengar perkataan yang akan kulontarkan.

Ingat Park Jihyun, kasus Kyuhyun bukanlah Like Father Like Son.

”Memang apa urusanmu?” tanyanya tiba–tiba.

Aku meletakkan sumpitku lalu menatapnya. ”Urusan perempuan, mau ikut?” candaku.

Kyuhyun menautkan alisnya malas.

”Kyu, tumben gadismu tidak datang?” tanyaku. Kyuhyun tampak memutar bola matanya lalu kembali sibuk dengan PSP? Sejak kapan ada PSP disitu?

”Dia bukan gadisku.” jawabnya datar.

Aku meringis prihatin.

Well, itu juga bukan urusanku.

”Dia.. yang sebenarnya mengikutiku.”

Kini terlihat wajah Kyuhyun seperti orang frustasi, bukan.. bukan karena kalah dalam permainannya, dia terlihat lelah. Yah setidaknya bakat psikologi-ku berguna sedikit. Setidaknya aku belajar di Washington membuahkan hasil. Sebagai pembaca raut muka, dan aura.

Aku diam. Membiarkannya berbicara.

”Sejujurnya.. Aku malas membawa gadis kerumah,” dia masih tetap fokus pada PSP’nya tetapi mulutnya tetap mengeluarkan perkataan yang mungkinkah selama ini dipendamnya?

Kyuhyun meletakkan PSP’nya, mensedekapkan kedua tangannya diatas meja dengan manis lalu menatapku sendu. ”Aku.. hanya tidak mau menjadi pewaris perusahaan ayah di Amerika, aku juga sebenarnya bingung kenapa ayah memaksaku. Padahal sejujurnya aku malas, aku hanya ingin Ayah membenciku karena aku sering membawa gadis yang berbeda–beda setiap hari.”

Oh sungguh, jika dalam keadaan tidak kelam seperti ini, aku akan menjerit tolol. Dia membawa gadis berbeda–beda setiap hari? Astaga. Usianya baru 20 tahun.

“Aku ingin Ayah mengurungkan niatnya untuk berhenti memaksaku. Atau biarkan saja Ahra Noona yang menggantikanku, tapi ayah tidak mengizinkannya karena dia perempuan,” Kyuhyun tersenyum miris. “Memang apa salahnya jika perempuan? Ayah tak pernah mengerti diriku. Dia egois.” wajahnya tampak frustasi.

Kyuhyun.

Yang sekarang didepanku.

Bukanlah bocah pendek ingusan yang tolol.

Tetapi, seorang pria rapuh. Aku tak menyangka ternyata dia berubah karena Ayahnya. Mungkin aku akan mencabut pemikiranku yang Like Father Like Son. Mungkin yang benar Like Father Different Son. Mungkin. Atau Ayah yang kejam yang selalu memaksa anaknya. Tetapi jika nampak dari luar, Ayah Kyu orang yang baik. Atau dia sedang mengarang cerita?

“Aku terlihat memalukan pasti.” ujarnya sambil tersenyum miris. Berusaha bercanda tetapi tampak bodoh. Perpaduan orang frustasi dan senyuman munafik.

Aku mengangguk polos.

Dia mengusap wajahnya seperti orang tak waras. Aku terkekeh geli.

”Kau tertawa.” katanya.

Aku mengangkat sebelah alisku. Lalu tersenyum padanya.

”Lalu?”

”Tidak, hanya saja, kau terlihat seperti sepuluh tahun yang lalu.” Dia tersenyum. Kini senyumnya terlihat tulus.

”Kau juga, tapi.. sekarang kau lebih mirip orang idiot.” candaku. Kyuhyun memutar bola matanya lalu kembali menatapku.

”Remasan platina?” tanyanya.

Apa mengerutkan kening. Mengerutkan hidung. Berpikir keras.

Ah sialan, ”Hilang.” jawabku malas. Aku tahu benar apa maksud bocah aneh ini.

”Kalau..” dia menggantungkan ucapannya lalu beranjak berdiri dan menghampiriku. ”Ini?” dia menyentuh bibirnya lalu tertawa geli.

”Maksudmu?” aku mengerutkan kening.

”Begini.”

Aku mematung, Ya Tuhan.

Dengan cepat dia berlari menaiki tangga lalu masuk kedalam kamarnya. Aku membeku.

Kyuhyun.

Dia sudah dewasa.

Dia menciumku?

Menciumku?

APA?

”Yak Kyuhyun sialan!” jeritku kesal. Dia mencuri ciuman dipipiku. Sialan! Aaaa kenapa denganku? Tidak, aku tak mungkin menyukainya. Sial!

***

14:00 KST

            Oh memang benar. Cermin itu tidak bisa berbohong, buktinya diriku tampak elegan dengan dress selutut berwarna biru simple ini. Aku manis ternyata. Sungguh, jika Jongwoon melihatku seperti ini pasti dia akan mencibirku, dia memang terlalu gengsi jika menyebut aku cantik. Astaga, aku jadi ingin ke toilet untuk tertawa.

“Jiji.”

Aku memutar badanku. Hanya satu prediksiku. Pasti bocah sial itu. Hanya dia satu-satunya yang memanggilku dengan panggilan menggelikan. Kenapa dia suka sekali masuk kamar orang sembarangan sih? Aku berpura–pura tak peduli lalu mempersiapkan tas dan kertas–kertas untuk observasi –hei ingat kan kalau aku sekarang murid Shinwa.

“Kau mau kemana?”

Aku menoleh sejenak lalu mengedikkan bahu acuh.

Kyuhyun mendengus (dengusannya keras sekali, sungguh).

“Aku bosan.”

Aku berhenti melakukan kegiatanku lalu mengangkat alis.

“La.. lu?” tanyaku.

Dia mengangkat tangan lalu dengan tidak sopannya duduk di ranjangku, ck, sia–sia aku membersihkannya.

“Aku ikut denganmu.” pintanya.

Aku menghela nafas gusar, “Tidak boleh Kyu, aku ada rencana bersama temanku.”

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya.

Maaf Kyu, aku hanya tak mau membahayakanmu, jika ini menyangkut dirimu, entah kenapa aku tidak ingin mengambil resiko sedikit-pun, aku takut jika sesuatu yang tak menyenangkan terjadi padamu, apalagi.. jika itu karena ulahku. Maafkan aku Kyu.

Aku menepuk bahunya pelan. “Aku pergi dulu, jaga dirimu. Jika perlu apa–apa, minta saja pada Song ahjumma.. dan satu lagi, jangan membawa gadis kerumah, apalagi masuk kamar. Sebenarnya itu bukan urusanku, tapi ini rumah-ku.. Jadi jangan berulah.” titahku. Aku berjalan keluar pintu kamar.

Sepi. Tak ada sahutan.

Eh ada yang aneh sepertinya.

Aku membalikkan badanku. Ya, benar saja. Bocah itu sekarang mengacak–ngacak sprei ranjangku dan bergulingan di atasnya. Astaga, berapa sih umurnya.

”Cho Kyuhyun! Apa yang kau lakukan huh?!” sungutku kesal.

Dia menatapku dengan wajah yang memelas, wajahnya sungguh sangat minta ditampar.

”Aku ikut,” rengeknya. ”Atau..” dia menggantungkan kalimatnya.

Aku menautkan alis.

Bocah sial itu kembali mengacak ranjangku dan sekarang dia membuka lemariku dan mengacak–ngacaknya dengan brutal! ”Kyuhyun-ssi!!! Itu privasi.”

Aku menyeretnya keluar dan menendang tulang keringnya. Dia mengerang lalu mengumpat sebal. “Kyu, aku harus pergi, kau di rumah saja.”

”Aku mohon, ijinkan aku ikut, aku janji tidak akan berulah.”

Kyuhyun berlutut didepanku lalu menyilangkan tangan didepan dada dan menatapku dengan wajah rengekkan memuakkan tersebut.

Baiklah, aku menyerah.

”Janji?” tanyaku memastikan.

Dengan cepat dia mengangguk, aku mengiyakan lalu dia tertawa sumringah.

Astaga.

***

            ”Kau membawa siapa Hyunnie?” tanya Jino.

Sekarang aku, ah maksudku kami semua telah berkumpul dirumah Jino, kami sedang membahas strategi yang kuat untuk melancarkan aksi kami. Tapi, kami juga masih menunggu Hyera yang berkutat didalam kamar mandi. Jongwoon? Dia bilang sudah berada di hotel.

Aku memutar bola mata malas.

Kyuhyun yang duduk disebelahku kali ini kembali menjadi Kyuhyun yang datar, dingin dan berkelas –dia yang menyebutkan begitu. “Kyu.” senggolku pada lengannya.

Kyuhyun memiringkan kepalanya. Aku mengedikkan dagu ke arah Jino. Dia mengangguk –entah dia mengangguk karena apa.

“Cho Kyuhyun.” ujarnya singkat.

Kujamin seribu persen, dalam hati, Jino pasti ingin sekali menguliti bocah itu, lebih parahnya, mungkin dia akan melempar Stonehenge pada Kyuhyun. Dan keyakinanku meningkat drastis, alasan kedua pasti yang lebih memenuhi untuk aspek utama dalam pemikirannya, jika memang Jino melakukan itu.. Taruhan! Pasti Kyuhyun akan kalah. Astaga jangan sampai aku mati karena menahan tawa Ya Tuhan.

”Kau pasti orang yang kerap sekali diceritakan oleh Hyera. Dia setiap hari mengoceh ingin bertemu denganmu.” sinis Jino.

Ya Tuhan, boleh aku tertawa sekarang?

Kyuhyun mengangkat bahu santai lalu lebih memilih memandangi interior rumah yang bergaya khas Eropa bersanding dengan gaya khas Mesir –yang kuyakini ini pasti ulah dari Jino. Ku akui, rumah Hyera memang keren, kesan mewah dan klasik sangat beradu, seperti membawa ke era suku maya bertengger dengan lighting yang ditata sempurna berkesan modern, manis, mewah.

”Maaf, aku terlam-”

Aku mendongak, melihat wajah Hyera yang bertampak bodoh, dia mengerjapkan mata tak percaya, apa mungkin..

Sebelum aku menuntaskan pemikiranku, Hyera dengan sadis menarikku dengan paksa lalu duduk disebelah Kyuhyun. Sudah kukira, maniak seperti Hyera cocok dengan si dungu Kyuhyun.

Aku lebih tak menggubris mereka, bahkan sekarang wajah Jino terlihat kesal. Jino memang seperti Jongwoon, gengsinya selangit. Dia memang sangat sayang pada adiknya, tapi dia jarang menunjukkannya, mungkin keluarga ini juga bisa dibilang keluarga aneh part 2 –setelah keluarga Kyuhyun yang pasti.

Mati–matian kutahan tawaku agar tak meledak sekarang, oh ayolah ini moment unik. Kyuhyun merasa risih dengan Hyera dan sekarang dia bahkan terlihat uring–uringan. Cocok sekali mereka.

”Oppa,” aku menepuk bahu Jino keras. Dia menoleh, ”Sudahlah, jangan cemburu.” kekehku geli.

Dia mencibir lalu menatapku, ”Lebih baik sekarang ke kamarku, kita menyiapkan alat–alatnya.”

Aku mengangguk pasti.

Kami melangkah beriringan menuju kamar Jino, tetapi sebelum menaiki tangga, aku berbalik dan menatap Kyuhyun yang sepertinya meminta bantuanku.

Aku mengedipkan mataku. ”Hwaiting.” lirihku kecil sembari menahan tawa. Dia mendengus pasrah.

***

            ”Kau membawa apa saja?”

”Tentu saja lengkap.” jawabku bangga.

Kurogoh tas selempangku dan mengeluarkan alat mata–mataku. Yang utama adalah Code in compact, ID Card, DVR Glasses, dan Pen Spy.

Aku tersenyum lebar.

Jino menautkan alis, aku jadi ikut menautkan alis.

”Kenapa Oppa?” tanyaku bingung.

Dia membuang nafasnya kasar, sampai terasa di wajahku (aku tidak bercanda, untung saja wangi).

”Kau, mau mengintai atau berdandan?” tanyanya, yang bahkan pertanyaan pertamaku belum dibalasnya. Dia mengangkat code in compact’ku.

Aku tertawa kecil, lalu tertawa sedang, dan sekarang aku tertawa keras sembari berguling di atas ranjangnya.

Aku menyeka air mataku lalu menjelaskannya, ”Oppa, ini kamera, lihat.”

Code in compact adalah kamera yang berbentuk tempat bedak, dan dibalik saput untuk berdandan, ada sebuah layar sentuh berbentuk tombol untuk mengambil gambar radius 15 meter. Aku menunjukkan caranya padanya, dia menganga tolol. Astaga, dia memang bodoh.

Dia terkekeh geli meminta maaf, ”Hebat, aku rasa image terselubungmu sangat berkembang.” sinisnya. Aku tertawa.

Jino kembali memeriksa semua perlengkapanku. Oh iya, semua barang–barang ini bukanlah barang biasa berbasis ’murahan’. Aku mengambil ini dari perusahaan Dad –tentu saja diam-diam.

Dalam ID Card yang kubawa tersebut mengandung sinar laser tak kasat mata, gunanya, untuk mengecek barang – barang yang tak lazim jika nanti aku menemukan keanehan didalam hotel –mungkin saja kan, lagipula ID Card itu dapat berubah–ubah sesuai kemauanku, jika aku menghendakki seorang murid Universitas, dengan cepat card itu akan berubah –tentu saja diberi password. DVR Glasess itu adalah kacamata berwarna hitam gelap (selain untuk mata–mata juga keren untuk liburan) –semoga Dad tak menyadari aku mengambil kacamata kesayangannya.

Kacamata itu bisa menembus target, maksudku mungkin jika target membawa sesuatu didalam tasnya, dan hebatnya lagi, aku bisa menemukan –mungkin ada chip atau sebagainya tertanam didalam tubuh seseorang –oke, aku memang hebat. Pen spy? Rahasia.

”Bagus, semua beres.” katanya. Aku tersenyum.

Saat ini, aku sedang menunggu kabar dari Sungmin –Sunbae yang kutipu itu, jika akan berangkat. Dia bilang akan menjemputku, ah baiknya.

“Hyunnie, lihat apa yang kupunya.”

Jino merogoh laci meja kerjanya lalu menunjukkan benda itu padaku.

Aku mengernyit.

”Permen karet?” tanyaku bingung.

Dia mengangguk bangga, dengan gesit aku mengambilnya, pas sekali karena aku sedang ini permen karet.

”Yak jangan dimakan!” ketusnya. Dia mengambilnya dan menyembunyikan dibelakang tubuhnya.

”Yak kenapa?” tanyaku kesal.

Dia menggeleng, ”Memang kau lupa pembelajaran di program pelatihan nomor 239?” dia menatapku intens.

Kuputar otakku, nomor 239? Ah aku ingat, ‘jangan menerima sesuatu dari orang asing’ tapi.. Jino ’kan bukan orang asing.

Seolah dia mengerti pikiranku, dia menjawab pertanyaanku –sejujurnya aku belum bertanya. ”Ini permen karet pembuat pingsan selama sehari, efeknya cukup keras, setelah pingsan dia akan melupakan kejadian yang dialaminya dua puluh empat jam sebelumnya,” dia menggantungkan kalimatnya. ”dan permen karet yang bulat ini, adalah gas air mata berwarna biru. Yah cocok jika akan melarikan diri, tapi hati-hati, gas ini beracun.” Jino berkata dengan nada yang dibuat–buat rendah supaya terdengar mistis. Oh ayolah, mistis? Yang benar saja.

Aku menganga takjub, sepertinya bakat ilegalnya benar–benar semakin hebat. Darimana dia bisa mendapatkan seperti ini? Aku yakin dia pasti membuat lab’nya hancur karena membuat bahan–bahan ilegal itu.

”Boleh untukku?” tanyaku.

Jino memutar bola matanya, aku yakin antara memberikan padaku atau tidak (dalam kejadian sebelumnya, aku pernah tidak sengaja meledakkan tanaman kesayangannya dengan mouse in ball –karya terbarunya yang langsung kurusak, karena aku salah melempari target) jadi mungkin inilah yang membuat dia bimbang –aku yakin.

”Aku janji tidak akan berulah.” aku memamerkan v sign. –yah setidaknya untuk sekarang, entah nanti kedepannya aku tak berjanji.

Dia mengangguk mengiyakan. Syukurlah.

Drrttt.. Drrt.. Drrtt

Aku melongok kebawah pada ponselku yang saat ini berada diatas meja, dari Sungmin.

Hyunnie-ya, oppa tidak bisa menjemputmu, maaf. Karena Oppa harus registrasi dahulu, kau bisa berangkat sendiri ’kan?

Received : Sungmin Oppa

Aku tersenyum, lebih baik begini daripada tak diijinkan ikut.

Ya Oppa, gomawo sudah membolehkanku. Balasku cepat.

”Oppa, saatnya beraksi.”

***

            Sheraton Grande Walkerhill telah berdiri kokoh dihadapan kami. Kini aku, Jino, Hyera dan Kyuhyun –satu-satunya orang yang memaksa ikut, telah sampai ditujuan. Aku melepas seatbelt-ku lalu menatap mereka satu persatu.

”Jino Oppa, kau tahu apa yang harus kau lakukan ’kan?” tanyaku.

Dia mengangguk.

Lalu, aku menghadap kedua biang rusuh, menghela nafas berat sebentar, ”Ra-ya, jaga Kyuhyun-”

”Yak.” protes Kyuhyun.

Aku mengangkat alis tak suka.

“Dan kau Kyu, jangan berulah,” potongku cepat sebelum dia meneriakkan protes yang berlebihan. “Oh ya, awas kau memberitahu Dad, aku tak segan membunuhmu.” lanjutku serius. Tiba–tiba saja mereka semua memandangku ngeri. Aku mencibir bangga.

Kyuhyun sekarang telah mengetahui tentang pekerjaanku –mata-mata terselubung, tak lain dan tak bukan, si mulut besar Hyera yang membongkarnya –dia bilang faktor tak kesengajaan, cih.

Aku membuka pintu mobil dan menunduk sejenak. ”Hati–hati ya.”

“Kau juga Hyunnie.” nasehat Jino. Aku mengangguk.

***

            Melangkahkan kaki kedalam Sheraton mungkin adalah hal yang menyenangkan bagi semua orang, siapa yang tak bangga memasuki hotel berkwalitas bintang lima dengan fasilitas dunia, hotel yang terkenal dengan lapangan golf luas dengan kendy yang diimpor langsung dari luar negeri seperti ini, tetapi tidak denganku. Aku khawatir. Sungguh.

“Hyunnie.” panggil seseorang dari depan meja resepsionis.

Aku tersenyum.

“Maaf Oppa, aku terlambat.” sesalku.

”Tidak, kau tidak terlambat. Nah tunggu sebentar ya, aku akan memesankan kamar untukmu.” jawabnya. Dengan cepat aku menahan lengannya.

Sungmin menatapku heran.

“Ah, tidak usah Oppa, tadi temanku bilang, dia menginap disalah satu kamar ini, jadi aku akan tidur dengannya.” ujarku dengan suara yang sarat akan keyakinan.

Tentu saja begitu, Jongwoon mengirim email –karena jika menggunakan ponsel akan memudahkan pelacakan (hanya mengantisipasi saja) untuk segera kekamarnya, karena sepertinya tindakan gilanya berhasil.

Kami bertukar pandang sejenak, tak ada kata–kata yang terlontar dari mulutnya, lalu sedetik kemudian, dia mengangguk.

“Baiklah, tapi tidak apa–apa ‘kan? Aku tak enak padamu.” ujarnya sedikit bimbang.

Sungmin memang begitu, dia sudah menganggapku sebagai adiknya, jadi sudah tak asing lagi jika dia mengkhawatrikanku, oh iya, dia adalah putra dari rekan bisnis Dad –beruntungnya dia tak mengetahui pekerjaan Dad sesungguhnya. Kami berkenalan secara tidak sengaja saat aku menduduki bangku Junior High School, karena dia dulu memang tinggal di Seattle. Lalu saat kami pindah, keluarganya-pun juga pindah karena kata Ayahnya supaya memperdekat jalur bisnisnya. Well, aku masih tak mengerti urusan orang dewasa.

Aku mengulum senyum sejenak lalu menepuk bahunya. ”Tentu saja Oppa, aku ’kan gadis hebat.” candaku. Dia tergelak lalu mengusap rambutku lembut.

”Kalau begitu aku harus mengantar mereka kekamar dulu ya,” Sungmin menunjuk teman–temannya yang akan mengikuti observasi –mereka adalah orang yang benar-benar melakukan observasi. Mereka melambai padaku dan kusambut senyuman sekilas. ”Dan, nanti jika sudah selesai menyimpan barang-barangmu, kembali ke lobi ya, karena kami akan melakukannya setengah jam lagi.” katanya.

Kali ini aku tertawa kecil melihat wajahnya yang agak serius. ”Siap Oppa.”

Sambil melangkahkan kaki menuju kamar 666 –kata Jongwoon itu angka keberuntungannya. Dasar aneh. Aku mengedarkan pandanganku pada bangunan langit–langit di hotel ini, sungguh mewah dan elegan, dilangit-langitnya terdapat hiasan gambar cupid –malaikat cinta- yang saling memeluk dan juga terdapat pohon natal di sudut–sudut tembok, bahkan sebelum masuk, dipintu otomatis terdapat dua pohon natal yang besar sekali.

Ah memang natal akan datang, cepat sekali ya. Andai ini masih di Seattle mungkin aku akan duduk tenang didepan perapian sambil menyesap frapuchino buatan Dad –karena ini musim salju-, jadi pasti menyenangkan. Tetapi itu berbeda dengan sekarang, Dad sibuk sekali sekarang, bahkan biasanya kami sebulan sekali melakukan liburan tapi kini jarang. Aku juga rindu melakukan Thanksgiving dan bermalam Hallowen bersama Aunty Emily –aunty ku di Washington dan sepupuku Charlie, Liana, Samantha dan Ronald.

Biasanya jika akan menyambut natal begini, Aunty akan membuatkanku puding natal yang dihiasi salju –benar-benar salju. Ah jika mengingat hal seperti ini aku jadi merasa benar-benar menjadi seorang gadis yang kesepian.

”Aww.” rintihku.

Karena sedari tadi aku tak fokus dengan jalan didepanku, aku terpaksa jatuh –ah tidak, aku menabrak orang, dengan bodohnya aku bisa jatuh. Astaga jangan sampai kekonyolanku terekam CCTV.

“Nona, kau tidak apa–apa?”

Aku menatap kaki orang yang didepanku.

Sepatunya?

Aku mendongak. Seorang pria setengah baya mengulurkan tangannya padaku, wajah yang sangat berpotensi menjadi seorang Ayah yang baik –menurutku.

“Nona?”

“Ah ye,” aku menerima uluran tangannya lalu berdiri dan membungkukkan badanku sejenak. “Mianhe paman, aku tidak sengaja.” sesalku.

Dia tersenyum, aku jadi teringat pada Dad.

“Tidak apa–apa Nona, maafkan aku, mungkin karena aku petugas kebersihan yang baru jadi aku tidak bisa memperhitungkan kadar ketebalan air untuk mengepel lantai ini.” sesalnya diiringi candaan kecil, suaranya benar–benar memancarkan ketulusan.

Mau tak mau aku tersenyum sesaat, “Tidak usah khawatir paman, ah aku harus kekamar dulu paman. Semoga pekerjaanmu lancar.”

Paman itu tersenyum. Sebelum aku melangkah pergi, dia menatapku sejenak, matanya seperti sarat akan kerinduan yang dalam pada seseorang. “Kau mengingatkanku pada putriku Nona.” ucapnya. Paman itu terlihat sedih tetapi dilain sisi wajahnya memancarkan sinar ketulusan tersendiri.

“Kalau begitu, anggaplah aku putrimu sebelum aku kembali kekamarku paman.” candaku. Dia tertawa renyah.

Aku memandang arlojiku lalu menyadari diriku sudah sepuluh menit disini, lalu aku berpamitan pada paman –yang tak kuketahui namanya dan tak lupa mengulas senyum ramah. Baru beberapa langkah saat aku ingin menuju ke elevator, suara paman itu terdengar memanggilku.

“Senang bertemu denganmu Nona, dan maafkan aku.”

Aku mengernyit.

Apa maksudnya?

Lalu setelah elevator berdenting terbuka, aku mengamati paman itu sekali lagi sebelum aku memasuki elevator, dia tersenyum tulus dan melambaikan tangannya padaku.

Aneh.

Didalam elevator yang hanya ada aku sendiri, perasaanku merasa tak enak. Paman itu berbicara seperti akan mengucapkan sebuah perpisahan. ‘Senang bertemu denganmu Nona, dan maafkan aku’ , kembali aku berkutat dengan otakku yang kini dalam keadaan hyperdrive. Kosong.

Tunggu! Aku baru menyadarinya. Sepatu.

Paman tadi mengenakan sepatu boot, bukankah itu tak lazim? Seorang petugas kebersihan memakai sepatu boot? Bukankah itu aneh? Sebenarnya tidak bisa juga dibilang aneh, tetapi itu adalah sepatu boot untuk berkebun. Tak mungkin sepatu seperti itu digunakan untuk petugas kebersihan.

.

.

Maafkan aku, mungkin karena aku petugas kebersihan yang baru jadi aku tidak bisa memperhitungkan kadar ketebalan air untuk mengepel lantai ini.

.

.

            Petugas kebersihan baru? Sepatu boot?

‘Maafkan aku’

            Ucapan permohonan maaf? Baru pertama kali bertemu tetapi akhir kata mengucapkan permintaan maaf yang terdengar menyesal? Aku yakin itu bukan permintaan maaf karena aku terjatuh. Tetapi seperti penyesalan yang sangat–sangat dalam.

.

.

            Tapi tak mungkin orang seperti itu repot–repot untuk tinggal dirumah rekannya, aku yakin semakin dekat waktu yang ditentukan, akan semakin cepat dia bertindak.

.

.

            Astaga, apa jangan-jangan paman itu adalah..

TBC

.

.

The next…

”Inilah data–data pengunjung selama seminggu ini. Setelah memasang Spyware dan Carerr IQ-“

”Bagaimana tawaranku tadi?” tanyanya pelan, nyaris berbisik –ah bukan berbisik, tapi meracau.

Dalam kebimbangan diantara logika dan perasaanku, akhirnya dengan sedikit mendesis sejenak, kulempar benda itu kedepan pagar pembatas hingga membentur pohon lalu jatuh bebas kebawah. Aku menunduk dan melindungi kepalaku.

Iklan

8 responses to “Begin Of The Mission Chapter 3

  1. Uwaaa lama sekali br d post,, part ini kurang.. waw.. Efeknya kurang dapat, misalny waktu kyuhyun tau profesi ji hyun cm di jelaskan kalau kyuhyun dah tau, tidak di ceritakan reaksinya seperti apa.. Jadi terasa ceritanya buru2..
    Semoga part selanjutnya lebih baik . Semoga gak tersinggung dng koment’q

  2. ah iya, maaf, soalnya modem baru ada pulsa *curhat
    soalnya pas kecil, kyu udah deket bgt sama ji, jadi dia jg udah tahu sedikit demi sedikit kerjaan gadis itu
    cho sadar juga kok, feelnya emang kurang 😀
    gwenchana, terimakasih sekali masukannya ya dear^^

  3. Omo! Sistaaa!! Ah, aku tw ini tgl 20. N aku telat ngecek wp.a sista ini yg mengakibatkan aku ktinggalan ff.. Aigoo dunia nyataku sdang menyita waktuku. Kekeke. 😀

    partg 3 bikin penasaran. Ok aku mw lanjut part 4.a. Papai sist.
    Ah cham! Kata orang tak knal mka tak sayang. Pdahal aku sudah memperkenalkan driku sist, but i think u don’t read it. So, I will introduce my self again n I hope u read this. 🙂

    annyeonghaseo.. Han Eunhye imnida. My real name is anisah.. Mannaseo. Bangapseumnida sist! 😉

  4. Jihyun sebenernya suka sama Kyu nggak sih? Kok rela rela aja gitu Kyu sama Hyera. Tapi dia ngelindungi Kyuhyun banget. Kyu kalo merajuk lucu banget deh.
    Eh, paman itu mencurigakan. Aku baca lanjutannya yaa

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s