Begin Of The Mission Chapter 4

(Catatan Misteri)

Semuanya tak akan lebih baik jika tak diungkap secara terinterupsi.

Suatu pernyataan yang tiba-tiba terkuak menjadi langkah menuju satu keajaiban.

.

.

chochangevilkyu present

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM.Ent Inc.

Spy, Action, Romance  

Park Jihyun, Cho Kyuhyun

PG-16

.

.

gh

            “Aish kau ini kenapa sedari tadi diam saja, biasanya kau sangat cerewet berlebihan.”

Suara Jongwoon menyentakku dari lamunan sesaat. Aku menoleh padanya yang sepertinya terlihat geram melihat tingkahku. ”Tidak, aku baik–baik saja Oppa.” jawabku singkat.

Entah kenapa saat ini kepalaku pusing sekali, mungkin nanti aku harus banyak–banyak makan aspirin (jika Dad mengetahuinya, mungkin dia akan menyeretku untuk melihat tempat pekerja Koroner yang mistis sebagai hukumannya).

Mengingat paman dan sepatu boot-nya membuat otakku dipenuhi hipotesis yang belum pasti. Apakah mungkin paman itu ada kaitannya dengan bom bunuh diri ini? Tetapi aku belum memastikan tentang itu, mungkin hanya perasaanku atau mungkin..

”Lihat ini Hyunnie,” Jongwoon mengguncang bahuku agak keras dan itu membuatku sukses meringis.

”Inilah data–data pengunjung selama seminggu ini. Setelah memasang Spyware dan Carerr IQ-“

“Apa?!” potongku cepat sebelum dia berhasil menyelesaikan kalimatnya. ”Kau memasang Carerr IQ disana? Hah,” aku tersenyum sinis. “yang benar saja Oppa!”

Jongwoon mengernyitkan keningnya lalu menatapku dengan wajah yang membentuk raut muka seolah mengatakan memang-ada-masalah?

Aku menarik nafas dalam–dalam lalu menghembuskannya dan menarik nafas lagi lalu menghembuskannya kasar. Aku rasa ini bukan cara yang tepat untuk menenangkan diri, buku itu berbohong. Mungkin kali ini aku harus mencuri diktat psikologi milik Dad.

Jongwoon terbahak karena ulahku. ”Oh c’mon, I’am a professional men, impossible they know about that, also, I have to tap yesterday.” ujarnya singkat. Aku menghela nafas lega. Baiklah, mungkin buku itu tidak sepenuhnya berbohong.

”Kali ini jangan kau biarkan kepercayaanku kepadamu menjadi samar karena kau berulah aneh lagi Oppa.” sinisku terdengar bijak.

Jongwoon mengangkat tangan. ”Of course lady young,”

Aku melihat data–data itu dengan seksama. Seminggu ini banyak sekali turis asing yang masuk kemari, jika seperti ini, kemungkinan aku menemukannya hanya berpusat pada ketinggian presentasi 0,25 persen.

“Ini susah sekali Oppa.” keluhku.

Dia mengangguk mengiyakan.

”Mungkin butuh waktu ekstra untuk menemukan pelakunya Hyun.” keluhnya balik diikuti desahan malas darinya.

”Eh bukankah kau besok sudah masuk sekolah?” tanyanya tiba–tiba yang membuatku tersadar bahwa dia memang benar. Mungkin kemarin–kemarin aku ingin liburan kali ini cepat berakhir, tapi sekarang aku sungguh butuh waktu.

Aku menghela nafas gusar sesaat, ”Aku akan meminta tolong pada Ra-ya agar dibuatkan surat izin.” jawabku akhirnya. Yeah, mungkin ini pemikiran yang tepat.

”Ayahmu pasti akan marah.”

Aku berdecak kesal, mendengus malas dan mendesah bodoh. Kenapa juga orang ini harus mengingatkannya huh. Aku jadi ingin menenggelamkan orang ini kedalam pemandian air panas dipusat markas Jepang.

Well, jika mulutmu bisa tertutup barang sedikit saja, mungkin itu akan menjadi rahasia pribadi yang aman.” sindirku keras agar dia mendengar kalimatku.

Dia menatapku setengah menit, lalu berkata, ”Aku aman.” Tanpa berkata apapun, dia memperagakan penguncian mulut lalu setelahnya membuang kunci ilusi itu ke tempat sampah disamping meja rias.

Aku tersenyum puas.

***

            Mendesah malas seperti orang idiot. Berdiri dibarisan paling belakang dengan kertas dan pen digenggamanku lalu mendengarkan khotbah berirama dari Manager hotel. Benar–benar krisis kehidupanku telah dimulai. Ingin sekali aku berteriak–teriak kesetanan seperti melihat penampakan horor didepanku dan berlari disepanjang koridor ini untuk mengucapkan saat ini aku sungguh mual mendengarnya berbicara.

“Kau bosan?” bisik seseorang disampingku –yang tak kuketahui namanya. Tapi aku rasa dia teman dekat Sungmin. Aku mengangguk malas.

”Kabur?” tanyanya.

Aku melotot semenit, ”Kau gila?”

Dia mengedikkan bahu santai lalu terkekeh, ”Aku Jonghyun.” katanya sambil mengulurkan tangan.

Setidaknya dia bisa mengalihkan diriku sejenak dari khotbah bodoh itu. ”Park Jihyun.”

Dia tersenyum.

”Bagaimana tawaranku tadi?” tanyanya pelan, nyaris berbisik –ah bukan berbisik, tapi meracau.

Aku mengangkat alis. Mengibaskan tangan.

Well, tidak buruk.”

Kami berdua mengendap endap dengan berjalan mundur, lalu dengan gesit berlari menuju elevator dan menuju lantai 34 –atap hotel.

”Hei, kau siapanya Sungmin?” tanyanya memecah keheningan.

Aku terdiam sesaat, ”Aku? Adiknya Oppa. Yeah walau bukan satu rahim tetapi dia menganggapku begitu.” jawabku. Dia hanya ber ’oh’ sejenak lalu lebih memilih memandang langit–langit elevator yang juga membuatku mengikuti kegiatannya. Aneh. Biasanya hotel bintang lima seperti ini, di elevator terpasang CCTV. Saat kemarin aku masuk, tidak begitu memperhatikan. Tetapi kenapa tidak ada? Ah bukan urusanku.

Tiing..

”Ayo keluar Jihyun-ssi.”

”Ah iya.”

Kami kini telah berada diatap hotel ini, terlihat jelas kedipan lampu dibawah sana menggoda kami untuk berusaha membujuk supaya bermain dengan lampu–lampu itu. Tetapi, bagiku itu tidak menarik, karena jika tempat itu akan meledak apakah dia masih berusaha memamerkan kerlap–kerlipnya. Dasar bodoh.

”Jihyun-ssi.. Kau tahu tidak, tadi aku menemukan sesuatu yang aneh.” katanya pelan.

Aku menoleh lalu mengangkat sebelah alis.

”Apa?” tanyaku.

Dia merogoh sakunya lalu memberikanku sebuah benda kecil. Aku menelitinya sekilas lalu membolak baliknya. Tak ada petunjuk apapun.

Aku mendongak. Menatap Jonghyun sekilas. Dia terlihat gamang.

Tiba–tiba saja benda itu berpotensi mengeluarkan dengungan yang membuat pengang lalu lampu merah berkedip–kedip muncul mendadak dan membuatku menjatuhkannya lalu beralih menutup telingaku.

”Astaga, apa itu?” pekik Jonghyun disebelahku yang juga menutup telingannya.

Benda itu?

Mirip dengan benda yang pernah kulihat di perusahaan Dad dua tahun silam. Saat itu Dad memamerkannya sebagai percobaan eksklusif, bedanya benda itu tak mengeluarkan suara apapun. Ah jangan–jangan.

”Jonghyun-ssi! Menunduk!” perintahku padanya. Dia menatapku bingung tetapi dengan cepat dia melakukannya.

Dalam kebimbangan diantara logika dan perasaanku, akhirnya dengan sedikit mendesis sejenak, kulempar benda itu kedepan pagar pembatas hingga membentur pohon lalu jatuh bebas kebawah. Aku menunduk dan melindungi kepalaku.

DUAR

Debuman tak begitu keras terdengar mengudara dari telingaku, jeritan orang–orang dibawah sana membahana dari atas sini. Sekilas aku berdiri dan melongok kebawah. Tumpukan salju yang berada dibawah seketika berlubang dan membuat jalan yang ditutupi salju itu retak.

Aku menghela nafas lega. Untunglah itu hanya bom kecil. Berpotensi meledakkan sesuatu hanya seperkian persen. Tidak membahayakan namun jika berada pada jarak dekat seperti itu akan membuat telinga tuli selama beberapa menit. Untunglah itu bukan seperti yang kuprediksikan.

”Jihyun-ssi? Kau tidak apa–apa?” tanya Jonghyun yang entah sejak kapan berada didepanku lalu memegang seluruh badanku. Mungkin mengecek kondisiku.

Aku tergelak sesaat, ”Tentu saja tidak apa–apa, apa kau terluka?” tanyaku cemas. Well mungkin saja dia menyentuh bagian onderdil yang tajam –mungkin dari bom kecil itu.

Dia terlihat shock tetapi akhirnya mengangguk.

Kuperhatikan sejenak wajah Jonghyun, wajahnya gugup dan cemas. Entah kenapa perasaanku tak enak. Naluriku berkata jika dia menyembunyikan sesuatu. Sel–sel diotakku sepertinya juga meneriakkan sebuah konspirasi, seakan neuronku juga ikut memikirkan sebuah seusatu yang licik?

”Jonghyun-ssi menemukan itu dimana?” tanyaku. Bolehkan aku sedikit mencurigainya? Bagaimana dia bisa mendapatkan itu lalu menunjukkannya padaku.

”Eungg.. entahlah, aku lupa. Tapi aku menemukan itu tadi di pintu masuk ujung sana.” jelasnya sambil menunjuk pintu yang berjarak kurang lebih 200 meter dari kami.

Aku mengernyit, ”Bagaimana kau bisa melihatnya? Itu terlalu kecil.” tanyaku penasaran. Berusaha mengintimidasinya.

“Aku tidak sengaja menendangnya.” jawabnya sedikit gugup.

Entahlah, tapi wajahnya tidak menunjukkan kesungguhan dalam penjelasannya. Aku masih bisa melihat raut wajahnya menyembunyikan sesuatu. Walau aku tidak tahu apa yang disembunyikan, tetapi jelas aku membaca perubahan wajahnya.

Kukatakan, dia berbohong. Dad dulu pernah mengajariku cara menebak orang yang berbohong atau tidak, aku tidak bodoh. Dan guru psikologiku di Seattle juga pernah mengajarkan cara mendeteksi kebohongan. Dan sekarang kutegaskan, Jonghyun berbohong.

***

            ”Hei kalian kemana saja? Kalian baik – baik saja? Apa tadi kalian mendengar ledakan di luar? Mengerikan.” tanya Sungmin mendramatisir keadaan.

”Maaf Oppa, tadi kami tersesat.” jawabku lalu menyenggol pelan lengan Jonghyun disampingku.

”A.. Ah iya, maaf Ming-ah.” kata Jonghyun.

Sungmin menatap kami bergantian, mungkin berusaha mencari kebohongan dari wajah kami. ”Baiklah, untunglah kalian tidak apa–apa.” ujarnya mengakhiri acara penatapan tajam pada kami berdua.

”Pagi–pagi sekali kita akan pulang, jadi kalian beristirahatlah.” titah Sungmin. Kami mengangguk bersama.

”Baiklah, aku kekamar dulu ya, annyeong Ming-ah, Jihyun-ssi.” pamit Jonghyun dan disambut lambaian tangan Sungmin. Aku memilih diam.

”Hyunnie, kau besok pagi–pagi akan kuantar pulang. Bukankah kau besok sekolah?” tanya Sungmin setelah bayangan Jonghyun telah samar terlihat.

Aku mengangguk cepat lalu berpura–pura menguap. Jika sedang berdua seperti ini, dia pasti akan bertanya macam–macam. Jadi, lebih baik aku berkilah dengan alasan mengantuk dan ingin segera kembali kekamar.

”Astaga, kau sepertinya sudah mengantuk. Kalau begitu kembalilah. Aku juga akan kekamar. Mimpi indah.” ujarnya setelah mengacak rambutku lalu berlalu menuju elevator.

Setelah memastikan elevator tertutup, aku segera berlari keluar. Ingin melihat tempat kejadian pendaratan bom kecil tadi. Ternyata sudah banyak orang yang disini, bahkan yellow line sudah melintang membujur di sekitar retakan akibat bom tadi.

Aku memutar mataku cepat, mencari mobil polisi ataupun mungkin Ambullance –karena menurutku pasti ada. Ah baguslah, memang ada. Tetapi anehnya Ambullance itu tidak kosong, terdapat seorang gadis yang duduk ketakutan di ujung pintu belakang Ambullance. Jangan–jangan dia saksi mata? Yang ketakutan?

Dengan langkah teratur aku mendekatinya, terlihat jejak–jejak sepatuku tenggelam dibalik salju. Perlahan aku menepuk bahunya. Dan itu membuatnya menjerit ketakutan. Tetapi, saat aku menunjukkan kartu tanda pengenalku yaitu seorang Psikolog –tentunya ID Card yang bisa berubah, dia menatapku sejenak lalu diam. Untunglah suara teriakannya teredam sirine Ambullance.

Dan keberuntungan juga sepertinya memihakku. Karena penjaga Ambullance sedang berbincang dengan polisi, jika teriakannya terdengar oleh orang–orang, sudah dipastikan aku akan mendapatkan kecaman penjara karena membuat seseorang ketakutan seperti ini.

”Maaf Nona, apa kau baik – baik saja?” tanyaku cemas –oke, bakat aktingku benar-benar hebat.

Dia menggeleng hebat lalu menatapku intens –masih terlihat ketakutan. ”A.. apa benar kau Psikolog?” tanyanya memastikan.

Aku tersenyum sebentar lalu mengangguk, “Percayalah padaku Nona.”

”Wajahmu seperti masih gadis SMA.“ ujarnya.

Nyaris saja aku membulatkan mataku, tetapi kutahan mati–matian, jika dia mengetahui aku berumur 17 tahun, dia pasti akan membunuhku karena tertangkap basah berbohong. ”Mungkin aku memang terlalu manis Nona.” Astaga, ingin sekali aku ijin kemana saja terserah untuk muntah sesaat. Sejak kapan kenarsisan Jino menular padaku?

Dia lebih memilih tak memperdulikannya lalu menundukkan kepalanya. Baguslah.

”Nona, maukah kau menceritakan padaku seperti apa tadi bomnya?” tanyaku. Semoga dia mau berbicara.

Dia menatapku getir, aku menelan ludah susah.

”A.. aku..” dia menggantungkan kalimatnya. ”Tadi saat aku ingin melangkahkan kaki keluar, tiba–tiba saja bau menyengat tercium olehku. Lalu aku melihat gumpalan asap samar putih ditempat kejadian itu. Lalu meledak dan itu membuat telingaku tuli beberapa menit.” lanjutnya dengan nada yang tersirat sangat ketakutan. Sesaat aku menjadi pendengar pasif untuknya.

Hah, perinciannya seperti yang kuduga, tetapi anehnya harusnya bom itu tak mengeluarkan asap, apa mungkin itu asap beracun? Tidak mungkin, dia bilang setelah mencium aromanya, dia tidak kenapa–kenapa. Mungkin itu hanya asap biasa. Untuk membuat keadaan lebih dramatis.

”Baiklah Nona, aku harap kau cepat baikan. Mungkin kau bisa menyeduh madu hangat supaya lebih baik. Jangan terlalu dipikirkan Nona.” pamitku setelah sebelumnya memberikan bungkusan minuman serbuk madu untuknya.

Aku berbalik lalu melangkahkan kakiku ingin segera masuk kehotel untuk istirahat, tetapi sebelum jauh melangkah, seseorang memanggilku. Aku menoleh. Nona itu.

”Nona, aku rasa sebelum benda itu meledak, aku melihat sesuatu meloncat keluar dari benda itu. Entahlah, tetapi berwarna putih kalau tidak salah.”

Perkataannya sukses membuatku mengernyit hebat.

***

            Dengan tergesa–gesa aku berlari menuju tempat kejadian itu lalu merangsek masuk kedalam yellow line setelah sebelumnya mendorong seorang polisi karena dia berusaha mencegahku masuk kesana.

”Nona, jangan disitu! Kau menghancurkan TKP!“ teriak seseorang dari belakang. Aku beringsut berdiri lalu menyerahkan ID Card-ku.

Machiru Rokumeikan

Detectif Shibukawa

            Dia membulatkan matanya.

Aku mengangkat alis.

“Kau dari Jepang Nona?“ tanyanya tak percaya.

“Ya Chief, aku mendapat laporan jika disini terkena serangan bom. Cih, aku kira penting. Ternyata hanya seperti ini.” ujarku sengit (jika Dad tahu, pasti dia akan membunuhku) Sungguh, aku berusaha menahan gugup dengan bicara tak sopan seperti itu pada Chief terkenal di Seoul. Astaga, semoga kau tak dipenjarakan Park Jihyun.

Dia menunduk beberapa kali sembari menggumamkan permintaan maaf setelah sebelumnya dia memarahiku. Syukurlah kau sangat beruntung Park Jihyun.

”Maaf Nona, si.. silahkan dilanjutkan. Se.. semoga mendapat petunjuk yang tepat.” ucapnya tergagap. Astaga bolehkan aku tertawa sekarang?

”Akan saya usahakan.” ujarku singkat.

Tanganku meraba–raba struktur salju disini. Selain faktor dingin dan kata Nona tadi bahwa benda itu kecil juga karena benda yang meloncat itu berwarna putih alhasil sangat sulit untuk menemukannya. Beberapa kali juga aku berusaha mengenyampingkan fakta bahwa salju semakin tuurn dengan lebat.

Drrtt.. Drrttt.. Drrttt

Aku menghentikan tugasku sejenak lalu beralih pada ponsel di coat-ku yang bergetar. Dari Jino. Semoga saja penting.

Hyunnie, apa kau baik–baik saja? Tadi aku juga mendengar bahwa ada insiden bom kecil dari televisi. Dan sekarang kau masuk televisi! Apa yang kau cari? Apa disana banyak reporter? Kau hebat bisa masuk ke yellow line. Apa yang kau cari disana?

Received : Jino oppa

            Mati–matian kutahan umpatanku agar tak membunuh dirinya saat ini juga. Disituasi seperti ini dia bilang bahwa aku sangat hebat bisa masuk televisi dan bisa menembus yellow line? Yang benar saja, dia pikir ini keren? Faktanya, sekarang jantungku berdegup kencang, karena takut jika penyamaranku terbongkar, takut Dad melihat berita (ini lebih parah) dan takut jika benda itu tak kunjung kutemukan.

Saat aku ingin memasukkan ponselku kembali, getaran pelan kembali mengalun. Hah. Ini pasti orang menyebalkan itu lagi.

Hyunnie, aku baru saja menangkap sinyal bahwa disekitar tempat kejadian terdapat kamera penyadap. Cepatlah kau temukan! Mungkin 100 meter di sekitarmu, karena sinyal itu kuat sekali berkedip didaerah rawan tersebut.

Received : Jino Oppa

            Kamera penyadap? Ini gawat.

Segera aku berdiri dari garis lintang yellow line lalu keluar dan berjalan menunduk dengan maksud mencari benda itu. Ini tidaklah mudah kau tahu.

”Ah apa ini?” gumam seseorang.

Aku mendongak mendapati seorang namja yang berjongkok lalu mengambil sesuatu. Sepertinya itu kamera penyadapnya.

“Tuan itu milikku.” ucapku menyela.

Dia menatapku dan benda itu bergantian lalu menyerahkannya padaku, ”Hati–hati jika menaruh bros-mu Nona, itu terlalu bagus untuk kau hilangkan.” ujarnya sembari tersenyum kecil.

Aku balas tersenyum lalu berpamitan.

Aku harus berusaha keras keluar dari kerumunan dengan cara mengendap–endap. Masih dengan mempertimbangkan kemungkinan jika aku melewati sebelah Barat, pasti polisi akan bertanya–tanya padaku. Dan itu bukanlah ide yang bagus. Tetapi jika aku melewati arah Timur sepertinya akan aman. Semoga aku beruntung.

Setelah mencapai keberuntungan beruntunku, akhirnya aku sampai di elevator. Setelah memastikan elevator sepi, aku mengambilnya dari sakuku lalu mengangkatnya tinggi–tinggi (keuntungan tak ada CCTV) menerawang dan membolak baliknya. Memang benar, bentuknya seperti bross.

Tetapi alat ini lebih spesifik, dengan tombol kecil disudut timur, dan beberapa tombol disisi berlawanan. Semoga alat ini belum rusak karena ledakan tadi, atau yang lebih parah, semoga alat ini masih bisa berfungsi memutar kembali document didalamnya. Aku yakin ini adalah peringatan pertama. Atau jangan–jangan mereka mengetahui siapa aku?

***

            ”Bagaimana Oppa?”

Saat ini aku dan Jongwoon bergulat dengan laptop masing–masing. Kau tahu? Laptop Jongwoon berbeda dari sebelumnya –katanya untuk melindungi dari penyadapan.

Dia berdehem kecil lalu menatapku, ”Eroscope round’mu kau bawa?” tanyanya.

Aku mengangguk lalu merogoh tas kecilku, berharap benda itu masih ada. Itu adalah sebuah magnet untuk menarik chip.

”Ini.”

Aku lebih memilih mengamatinya dan meninggalkan laptopku. Terlihat jelas bahwa benda itu susah sekali untuk dibongkar. Kata Jongwoon, didalam situ ada chip memory untuk penyimpanan hasilnya. Dia bilang kamera itu sudah rusak, tetapi tak menutup kemungkinan jika didalamnya masih aman. Karena tembaga logam yang melindunginya sangatlah kuat.

”Ah berhasil.” pekiknya senang dan lega –mungkin.

Jongwoon memasukkan chip memory itu kedalam sambungan inter yang melekat pada laptopnya lalu mencoba membukanya.

”Ini ada passwordnya.” keluhnya.

Password?

”Biarkan sang ahli beraksi.” ujarku cepat. Dia mendengus.

Biasanya password tergantung dengan kespesifikan sebuah benda. Dengan pembelajaran dari Jino tentang ’perhatikanlah benda itu secara menyeluruh. Jangan pandang sebelah mata’ aku mencoba membongkarnya.

FAILED

            ”Shit.”

”Cih, kau juga tidak bisa.” cibir Jongwoon. Sialan! Jika tidak dalam keadaan darurat, aku pasti akan membalasnya.

Park Jihyun, kau harus bisa. Aku kembali bergulat dengan laptop didepanku. Gunakan logika, perasaan dan ke kooperatif’an otak pasti kau bisa. Ayo Jihyun! Terkadang pembelajaran Self-talk terhadap diri sendiri itu juga penting.

            SUCCEED

            “Yes.“

Aku menoleh pada Jongwoon lalu menatapnya sombong. “Siapa jagoannya?“ cibirku.

Setelah perdebatan kecil kami, kami kembali fokus pada satu tujuan. Isi dari chip tersebut.

”Hanya foto.” ucap kami bersamaan lalu tertunduk lesu.

Hah, percuma saja, foto ini hanya menampilkan gambar hotel dari sudut pandang depan, kiri, kanan, belakang dan depan. Tak ada petunjuk yang terpirinci. Selain foto, hanya note yang judulnya sangat bermajas didalam chip memory itu.

”Hyun, foto ini terlihat aneh.” ucap Jongwoon tiba – tiba.

Aku mengangkat alis.

”Lalu?” tanyaku bingung.

Dia berdecak lirih lalu memukul pelan kepalaku, ”Jangan bodoh, ini aneh. Foto ini hanya menampakkan bagian atap saja dari sudut masing–masing angle, bukankah aneh? Jika memang dia berniat menelisik seluruh hotel ini, pasti dia akan mengambil gambar dari sudut pandang semuanya.”

Aku memutar bola mataku. Dia benar juga, lalu note.

“Oppa, bukalah note itu.”

Tumbuh berkembang didalam hatimu

Menyulut sebatang dupa India

Si cantik penghias Natal 

Kaus kaki Sinterclaus

Lonceng gereja

            Kami berpandangan selama tiga menit tanpa bersuara, otak kami lebih memilih berspekulasi masing–masing tanpa bersuara. Apa arti kata–kata itu? Ini semakin aneh. Ah apa jangan–jangan dia ingin membuat teka–teki untuk kematiannya. Atau mungkin ini petunjuk kemungkinan tempat bersemayamnya orang yang akan melakukan bom bunuh diri itu?

TBC

.

.

The next…

”Kau bisa membuat Frappuchino? Dad biasanya membuatkanku di musim dingin seperti ini.”

”Yah, bisa kau lihat bukan? Memang inilah aku. Selalu tampak kacau dan bodoh.” aku tersenyum hambar.

“Maaf Cho Kyuhyun, aku sudah tak tahan lagi dengan pengekanganmu ini.”

Kim Hani, sebenarnya kau siapa?

 

Iklan

9 responses to “Begin Of The Mission Chapter 4

  1. Sist.. Pesan rahasia itu? Aneh deh? Mungkinkah tempat pletakan bom? Dan aku bingung, apa yg meloncat dr bom aneh nguing” itu? Putih? Penyadap yg d tmukan jihyun td? Apa bukan? Confused -_- ah aku rasa benda putih n bros pnyadap itu berbeda. Ya kan? #kepo

    so, ada 2 orang mencurigakan? Jonghyun shinee dan OB hotel? Mana ada orang pke spatu boot d dlem bangunan? Emang banjir gtu? 😐 aneh. Bener” mencurigakan. Dan jonghyun, ju2r aj napa? Susah amat? Gerak gerik.a mencurigakan. So siapa ini yg mw jd pelaku bom? Masih remang” sist.. Bingung.. Wkwkwk tp aku suka 😉

    bom kecil itu? Apa maksud dr plaku.a? Kalo dia mw bkin bom yg lbih bsar hruz.a dia ga bkin khebohan dlu ga? Klu udah ada insiden bom kek gtu, pasti jd bnyak polisi yg berjaga g? Heran!

    Ah kau hebat sist.. Laaanjuut! Fighting!

    • Aduh gimana ya jelasinnya. Aku bingung sama pertanyaan supermu sayang /dor

      Yah bisa begitu juga haha. Yakan ada sepatu boot untuk pekerja, bisa aja kan u,u
      ember Jongie mencurigakan. Iya masih abu-abu kan? Ditunggu tamatnya aja /saoloh

      Itu seperti pengalih, yah semacem gitu deh

      Thanks dear 😀

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s