Thir13een Parfume Volume 2

Percaya atau tidak.

Setiap benda itu mempunyai sesuatu yang bersemayam.

13 Parfum pembawa keajaiban.

Membawamu ke tempat yang tak kau duga.

Tetapi jika kau melanggar pantangan, ada konsekuensi tersendiri.

***

            Tampak seorang gadis yang tengah berkutat dengan buku setebal diktat psikologi. Wajahnya memancarkan aura keseriusan. Dengan kacamata hitam berbingkai bening bertengger di hidungnya.

            Sekilas terdengar samar-samar derap langkah menuju ke arahnya. Gadis itu merasa, tetapi ia lebih memilih untuk fokus ke bacaan ringannya –itu menurutnya.

.

.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM. Entertainment

Romance, Comedy (a little bit), AU, Fantasy

Yesung, Eunhyuk, Park Jihyun

PG-15

Art Chevelleanne

Inspired by @heenimk “Creepy K12S”

.

.

thir13teen-parfume-chochangevilkyu

            “Ehem.”

            Ia mendongak. Mengerutkan kening.

            “Ya?” tanya gadis itu bingung. Lalu melepas kacamata bacanya dan menaruh di atas buku yang telah ia tutup.

            ”Boleh aku duduk disini?” Unsur penuturan suara berat itu terdengar kikuk saat meminta ijin basa-basi sekilas. Dengan –masih- ragu, Jihyun mengiyakan permintaan pemuda itu.

            Jihyun melempar senyum sekilas. Sekedar untuk membuat lelaki tinggi putih berbalut seragam yang –ehem- sedikit kuno, yang mengisahkan era 80-an, dengan seragam ketat dan bercelana cutbrai yang sedikit lebar dan berkacamata tebal itu disadari keberadaannya. Dan akhirnya Jihyun kembali menggeluti dunianya. Membaca.

            Pemuda itu berdehem kecil. ”Apa kau baik-baik saja Jihyun?” tanyanya kaku.

            Jihyun beralih. Menatap pemuda itu intens. Ia berpikir, apakah pemuda itu mengenalnya? Atau memang dalam keadaan nyata. Jihyun dimensi ini mengenalnya?

            “Maaf. Apakah aku mengenalmu?” tanya Jihyun pelan. Sontak raut wajah lelaki itu tampak kecewa. ”A-a maaf maksudku namamu, ya namamu siapa?” dengan cepat Jihyun membenahi kalimatnya saat dirasa ucapannya sedikit membuat raut wajah pemuda itu berubah.

            Buru-buru lelaki itu mengibaskan kedua tangannya, ”Ahtidakmaksudkutidakapaapakautidaksalah.” jawabnya dengan cepat. Bahkan Jihyun sedikit kesulitan karena frekuensi kecepatan bicara orang itu di luar nalar.

            Jihyun memiringkan kepalanya, ”Ah maaf, kau bicara apa?” tanya Jihyun bingung. Pemuda itu sedikit menyengir saat merasa bahwa ucapannya tadi sungguh kekanakan. Hanya karena gugup.

            ”Em, tidak. Kita tidak saling mengenal sebelumnya. A-aku… kelasku berada di sebelah kelasmu. A-ah aku harus pergi. Senang berbicara denganmu, dan semoga kau cepat sembuh. Selamat tinggal.” pamit pemuda itu dengan tergesa-gesa. Meninggalkan ribuan pertanyaan yang berkelebatan di otak Jihyun.   

“Aneh.”

***

            Siang ini begitu panas, pun saat berada dikelas. Bukan hanya satu dua murid yang merasa gerah ataupun panas. Nyaris semua berada dalam ambang kejengahan. Bosan dengan pelajaran terakhir yang memutar otak dengan ekstra. Mau tak mau membuat mereka semua semakin tak bergairah.

            Jihyun melengos kala Mr. Kim menerangkan tentang penghapalan rumus-rumus tan, sinus, cosinus dan tetek bengek lainnya menjadi sebuah tabel yang mudah. Hello? Demi kalkulus, tidak ada pelajaran matematika dari Mr. Kim yang dapat tergaet di otak Jihyun yang begitu minim saat berhadapan dengan pelajaran matematika.

            Sesaat kemudian, dia menjulurkan lengan. Berpura-pura mati lebih baik daripada mendengar bagaimana caranya Enstein itu meninggal. Oke, katakan jika dia sudah gila.

            Ketika imajinasinya mendengar nada suara yang begitu lembut di telinganya, ia harus kembali tersentak kaget. Pasalnya, sebuah remasan kertas yang jelek tahu-tahu sudah berada di ujung sepatunya. Jihyun mengalihkan pandangannya lalu menengok kanan-kiri. Bermaksud mencari pelaku.

            Ia membungkuk saat Mr. Kim ijin keluar untuk ke kamar mandi –dia punya masalah pencernaan cukup buruk- dan menemukan sebuah tulisan besar dengan efek tinta bocor yang melubangi beberapa kertas. Satu poin bertambah bagaimana Jihyun bisa menilai itu jenis kertas murahan.

GADIS ANEH DENGAN HIDUNG YANG MEMBESAR KETIKA MARAH!

            Katakan, alasan apa lagi yang akan kalian gunakan untuk mencegah Jihyun memukul hidung pemuda itu? Gadis itu meremas kertas tersebut lalu melempar asal melewati jendela –tanpa tahu jika ada seorang murid yang menggerutu karena sebongkah es krim menjadi sebongkah kertas jelek-. 

            Bukan tanpa maksud Jihyun melakukan itu. Well, dia sadar, hanya pemuda si-biang-onar yang akan melakukan hal kekanakan seperti ini. Dan hari ini dia juga cukup tahu panggilan khusus dari Jongwoon –si hidung besar. Jinjja! Ini benar-benar penghinaan yang kasar dan Jongwoon bisa saja memperbesar kepalanya ketika melihat Jihyun yang berdiri seraya menuju bangkunya.

            Jongwoon seketika berhenti tertawa. Ia tersenyum sinis lalu memasang wajah super polos yang membuat perut Jihyun ingin memuntahkan bekal makan siangnya tadi. ”Kau.”

            ”Aku?” Jongwoon menunjuk hidungnya dengan tampang idiot terendah. Membuat Jihyun kembali naik pitam. ”Maaf, aku tak berbicara dengan manusia yang mempunyai hidung besar.”

            Dan ini adalah langkah awal untuk Jongwoon menemui ajalnya ketika kepalan tinju gadis itu memberi memar yang cukup besar di sekitar kelopak matanya. Tak ada suara, tentu saja. Maksudnya, siapa sih orang yang akan menginterupsi hal seperti itu ketika tahu seorang gadis seperti Jihyun telah berada di ambang antara manusia dan monster?

            Jihyun meringis. Ia baru tahu jika memukul orang akan berdampak pada tangannya. Well, ini pertama kalinya Jihyun melakukan hal seperti itu. Ia hanya berusaha meniru adegan action di film Red Eye atau Mission Impossible supaya terlihat keren. Dan dia menyesal.

            ”Bagus, sekarang siapa yang lebih besar dari hidungku? Oh jangan lupakan ini.”

            Sekali lagi gadis itu meringis setelah meninju hidung Jongwoon. Ia terkekeh dalam hati, ternyata ada orang yang mempunyai hidung lebih besar darinya. Dan ia bangga. Lagipula hidung Jihyun membesar hanya jika marah. Oke, itu aib girl.

            Namun hal yang membuatnya berbangga hati itu lenyap sesaat ketika mendengar suara seriosa Mr. Kim menggema. Begitu keras dan kuat.

            ”KIM JONGWOON DAN PARK JIHYUN. DETENSI SAAT INI JUGA!”

.

.

.

.

.

            ”Apa sih? Jauh-jauh sana. Aku alergi dekat-dekat denganmu.”

            ”What? Kau pikir kau siapa. Hei bahkan kau itu dan ya, kau mengabaikan perkataan si tampan Jongwoon.”

            Dan blablabla. Suara Jongwoon yang ternyata lebih berisik dari lebah sekalipun membuat Jihyun mengerang. Ia mencoba mengabaikan perkataan Jongwoon dan lebih sibuk memilih mengamplas patung yang menjadi daya tarik sekolah ini.

            Bahkan hal ini tak pernah terpikir oleh gadis itu. Oh ayolah, siapa sih yang ingin mendapat hukuman membersihkan tanaman menjamur bernama lumut dari sebuah patung yang tingginya hampir lima meter? Untunglah mereka hanya membersihkan bagian kaki patung. Dan Jihyun meminta maaf pada kaki patung tersebut.

            Atau hal yang mengenai perdebatan mereka kembali terulang. Dan jujur saja, gadis itu sudah muak berada di sisi Jongwoon yang bisa dibilang hanya memerintah daripada ikut bertoleransi.

            Dan disinilah seorang Jongwoon mulai menjadi mandor. ”Nah, disitu. Oke. Lalu disana, oh jangan lupakan bagian jempolnya.” Atau mungkin kalimat ini. ”Eh, kukunya belum mengkilap, kau harus membuatnya seperti kuku-ku.” Oh, jangan lupakan bagian ini juga. ”YA! Kau mengamplas atau meludahi kaki patung sih? Pekerjaanmu hancur sekali.”

            Mungkin gadis itu juga mempunyai batas tersendiri. ”YA! Dasar kepala besar. Tangan kecil yang sama seperti kakung dan lubang hidung yang besar! Kau kira kau siapa?! Hah, cukup. Ini giliranmu.”

             Sebenarnya Jongwoon tak begitu mempermasalahkan hal ini, namun ketika gadis itu membicarakan hal tentang kepala, lubang dan tangan. Ia mulai naik pitam. Tensinya naik turun tak karuan. Mungkin di kepalanya sebentar lagi akan mengeluarkan uap kabut seperti di pemakaman.

            ”K-kau,” Jongwoon tersendat-sendat. Seperti nyaris menangis. Dan Jihyun adalah orang pertama yang akan memasukkan foto jelek Jongwoon ke akun photo bucket-nya. ”Mengatakan tentang kepala? Lalu kau bilang lubang hidung? Tangan?! Hah kau bilang hal yang paling sensitif?!”

            Jihyun mengibaskan tangannya lalu menaiki sebuah undakan kecil untuk menggapai betis patung itu. Ia tak memperdulikan Jongwoon yang meraung-raung seperti bayi walau kenyataannya dia adalah member Super Junior paling tua saat ini.

            Adalah hal yang cukup wajar ketika seorang gadis seperti Jihyun menaiki sebuah undakan yang cukup tinggi. Namun tidak dengan seorang Kim Jongwoon yang tiba-tiba terdiam tatkala melihat pemandangan yang cukup merusak matanya ini. Tetapi dia menikmatinya!

            ’Astaga, aku tak menyangka pahanya seksi sekali. Aduh itu hotpansnya sangat cocok. Eh mulus sekali kakinya. Ah, lebih baik jika dia hanya memakai celana dalam saja ya.’

            Dan tibalah saat seorang Kim Jongwoon dengan khayalannya:

            ”Oppa~” seru Jihyun dengan gerakan lari slow motion. Jongwoon menyisir poninya lalu menelengkan kepala dengan gaya super eksotis. Jihyun terpesona. Dia hampir pingsan mendapati Jongwoon yang tersenyum mesum ke arahnya.

            Namun tiba-tiba ada angin yang begitu kencang. Menerbangkan segala sesuatunya. Dan kali ini Jongwoon terperangah. Mulutnya terbuka beberapa meter. Rahangnya seakan jatuh ketika melihat rok Jihyun yang terbang-terbang dan tangan gadis itu yang berusaha menutupi roknya. Mata Jongwoon tak berhenti berkedip kala rok gadis itu lebih tersingkap dan menunjukkan hal yang tak baik untuk kesehatan pemuda itu. Celana dalam berwarna merah.

            ”Merah…”

            PLETAK!

            ”YA!”

            Jihyun mengernyit. Ia bisa melihat ekspresi Jongwoon yang seolah kelabakan. Namun ia tak bisa menutupi kecurigaannya kala melihat mata Jongwoon yang menyisir dirinya dengan pandangan aneh.

            Apalagi ketika mendapati hidung Jongwoon yang mimisan deras.

            Sekali lagi Jihyun menjitak kuat kepala besar pemuda itu lalu melemparkan amplas ke wajahnya. ”Eh dasar hentai. Kau pasti memikirkan hal yang kurang ajar ’kan? Dasar bodoh. Lihat, mimisanmu banyak sekali. Ckckck.” komentar gadis itu tak habis pikir lalu meninggalkan Jongwoon yang masih melamun.

            ”Heh,” Jongwoon baru sadar jika dia sekarang sudah sendirian. Dan ia merutuk ketika pikirannya mulai kotor. ”Apa yang kupikirkan! Aish, tapi dia benar-benar seksi. Eh, bodoh!”

            Jongwoon memukul kepalanya. Berharap otaknya segera berjalan dengan benar. ”Tapi,” Rasa-rasanya pemuda itu masih berspekulasi dengan pemikirannya yang rumit. Bahkan ia membuka mulutnya lebar-lebar, tanpa tahu saat ini semua orang telah keluar dan pulang kerumah masing-masing. Tentu saja heran melihat pemuda dingin berkelakuan absurd tersebut. ”Merah.”

                                                                     ***

            “Aish hujan lagi.” gumam Jihyun kesal. Faktanya, ia saat ini sedang terperangkap di halte bus. Sedikit merutukki kebodohannya karena tidak mengiyakan tawaran Jaein untuk mengantar kerumahnya.

            Hembusan angin muson sedikit membuat Jihyun menggigil. Perlahan di eratkannya coat yang berguna untuk melindungi seragam dibaliknya. Berguna juga untuk menghangatkan.

            Ponsel yang menganggur digunakannya untuk menemani kesunyian, ah tidak. Masih ada suara hujaman rintik hujan di atap halte dan suara mobil yang menghantam kubangan air yang menimbulkan gemericik ringan.

            Jihyun mendongak, menengadahkan tangannya untuk menampung gemuruh hujan yang serasa menggelitik ditangannya. Ia tersenyum kecil.

            ”Memalukan.”

            Suara itu sedikit membuat Jihyun terperanjat kaget. Ia menoleh pelan kesamping. Tampak seorang pemuda yang tak asing baginya, lelaki menyebalkan tak tahu aturan dan minim tata krama. Kim Jongwoon.

            ”Berisik, bukan urusanmu. Toh, ini juga diriku.“ ketus Jihyun. Gadis itu lebih memilih menegapkan duduknya dan bergeser kekiri. Jauh-jauh dari Jongwoon.

            Pemuda itu menoleh. Memamerkan seringai kecil. Lalu kembali terfokus kedepan. Mengamati gertakan khayalak hujan. Namun ketika pikirannya kembali ke kejadian tadi, tiba-tiba saja ia merasa gugup. Apalagi sekarang mereka hanya berdua!

            Hening. Hanya satu kalimat itu yang dapat mendeskripsikan keadaan saat ini. Mungkin hanyalah hujan yang menjadi saksi kebisuan dua orang itu. Bahkan entah apa masalahnya, kendaraan lalu lalang seolah menghilang. Seakan mereka ingin menyisakan kedua orang itu untuk sendiri, di tengah hujan deras. Bukankah itu romantis?

            Jihyun menggigit bibir bawahnya. Misi yang harus dijalaninya kembali menyeruak masuk kecelah-celah didalam tiap sel otaknya. Memerintahkan untuk segera menyelesaikan misi kedua. Mendapat pelukan Yesung, tetapi bahkan fakta yang terjadi, berbicara saja mereka memakai urat leher yang tinggi. Mungkinkah dapat berpelukan?

            ”Em Jongwoon.” Menyerah. Gadis itu menyerah untuk terkukung dalam keheningan. Mencoba sedikit berinteraksi. Hingga mungkin akhirnya dapat berbaikan dengan lelaki tersebut. Hanya itu saja sudah membuat hatinya sedikit tenang.

            ”Jongwoon-ah.” panggil Jihyun lagi. Gadis itu tak menoleh ataupun melihat ke arah Jongwoon saat memanggilnya. Pandangannya tetap fokus kedepan. Sedangkan, mulutnya tetap menggumam kecil. Berusaha mencairkan kebekuan suasana.

            Lalu dengan pelan, seolah menampilkan gerakan slow motion. Jihyun mencoba sedikit melirik Jongwoon dari ekor matanya. Namun na’as, yang terlihat hanya pemuda itu sedang memejamkan matanya sembari menyender, dan yang lebih membuat Jihyun sedikit dongkol. Ternyata yang menengarai adalah headseat yang menggantung ditelinganya.

            ”Aish pantas saja.” decak Jihyun kesal. Gadis itu perlahan mengurangi jarak diantara mereka. Hingga akhirnya hanya tersisa jarak 60cm.

            Jihyun terhenyak sesaat. Melihat wajah Jongwoon yang damai. Sangat berbeda 180 derajat saat menampilkan ekspresi dingin dan mesum (tadi) yang kentara. Dan saat ini, ia dengan segera mengenyahkan hipotesis bahwa pemuda itu buruk, dalam kasus saat ini, Jongwoon tak sepenuhnya buruk. Bahkan saat ini bisa dibilang jika pemuda ini sangatlah manis. Hampir sama dengan wajahnya saat telah menjadi salah satu personil boyband terkenal. Jadi, inilah masa lalu seorang Yesung, begitu pikirnya.

            “Sudah selesai melihat wajah tampanku?”

Jihyun sedikit berjengit saat suara itu tiba-tiba menyeruak dibibir tipis Jongwoon. Dengan segera, gadis itu berpura-pura membenahi penampilannya lalu memandang jalanan lurus-lurus.

”A-aku tidak memandangmu! Jangan terlalu percaya diri begitu.” ketus Jihyun setengah berteriak. Walau suaranya malah terdengar seperti orang yang ketahuan melakukan tindak pidana kejahatan.

Tanpa diketahui Jihyun, Jongwoon sedikit terkekeh melihat wajah Jihyun yang telah berubah warna karena merasa salah tingkah. Pemuda itu berpikir bahwa benar, Jihyun tak sepenuhnya menyebalkan. Mungkin karena mereka terlalu sering beradu mulut. Jadi akhirnya mengetahui pribadi masing-masing.

”Hei.” panggil Jongwoon pelan. Jihyun tetap bergeming. Pura-pura tak mendengar.

”Hei Park Jihyun!” kali ini suara Jongwoon sedikit meninggi. Tetapi percuma, Jihyun tak peduli.

Dengan gerakan kilat. Jongwoon segera menarik lengan Jihyun. Hingga terdengar ringisan lirih dari bibir Jihyun. ”Yak, kau i-”

Ucapan Jihyun terhenti seketika saat wajah Jongwoon berjarak, ah mungkin ini sudah tak berjarak. Mereka berdua sama-sama terdiam di posisi masing-masing. Tak ada yang ingin menyudahi acara tatap-menatap itu, bahkan gadis itu merasa bahwa oksigen di sekitarnya terasa menipis. Hanya terasa hembusan napas teratur yang berasal dari hidung Jongwoon yang sedikit demi sedikit menerpanya. Mengharuskan ia untuk menghirupnya. Begitupun dengan Jongwoon, entah kenapa, pemuda itu merasakan dadanya bergemuruh hebat, perutnya serasa tergelitik oleh lebah. Perpaduan antara lebah Italia dan listrik ber-volt rendah saat matanya menemukan pasangan almond yang indah. Seolah menghipnotisnya untuk masuk kedalam inti terdalamnya.

”J-Jongwoon.”

Lirihan kecil dari bibir Jihyun membuat Jongwoon tersadar seketika. Merutuki kebodohannya karena bisa-bisanya terperangkap dalam pandangan itu. Tak berbeda dengan Jongwoon, gadis itu kini tengah menetralkan kadar jantungnya. Tak mau mengambil resiko untuk membuat dirinya ditengarai perasaan yang aneh.

”Eung, Jihyun.” panggil Jongwoon lirih. Nyaris berbisik. Jihyun menoleh, saat itu juga entah kenapa wajahnya terasa panas. Taruhan. Semburat merah pasti telah menjalar di kedua pipinya.

”Y-ya?”

Jongwoon berdehem kecil. Berusaha membersihkan tenggorokannya yang terasa –sedikit tercekat. ”A-aku ingin meminta maaf. Mungkin selama ini aku selalu membuatmu kesal.”

Bodoh! Baru kali ini seorang Jongwoon berbicara tersendat seperti itu pada seseorang. Benar-benar bukan gayanya.

Jihyun tersenyum simpul. Fakta nyata yang membuat jantung Jongwoon kembali memberontak untuk keluar.

Jihyun mengibaskan tangannya. ”Tak masalah. Dan aku juga minta maaf padamu. Mungkin aku juga menyebalkan, tapi baiklah, anggap kita satu sama.” ucap Jihyun diiringi kekehan kecil dari mulutnya.

Pemuda itu sedikit tenang, tersenyum simpul. Ternyata gadis itu memang baik.

”Jihyun, bolehkan aku berbicara sesuatu?” Segera Jihyun mengangguk.

”Sejujurnya,” Jongwoon menggantungkan kalimatnya. Jihyun memiringkan kepalanya bingung. ”A-aku… aku menyukaimu. Dari dulu aku sudah menyukaimu. Ah tidak, aku mencintaimu. Hanya saja, aku terlalu takut dengan perasaanku. Mungkin memang hanya ada satu caranya aku bisa berdekatan denganmu, menjadi rivalmu sampai saat ini. Namun, sejujurnya. Aku sangat mencintaimu Jihyunnie.”

Jongwoon menatap Jihyun intens namun lembut. Sedangkan Jihyun, berusaha mencari kebohongan atau mungkin gurauan dari Jongwoon. Mungkin seperti biasanya. Tetapi saat ini, hanyalah kejujuran yang menjadi saksi bisu pernyataan Jongwoon. Membuat gula-gula ilusi tertabur di lengkungan bibir Jihyun. Hingga katupan bibirnya tertarik ke setiap sudut. Menimbulkan guratan manis dari raut wajahnya.

”Entahlah Jongwoon, aku tidak tahu bagaimana perasaanku. Tetapi jantungku serasa meletup kecil saat melihat tatapanmu. Apakah aku juga menyukaimu?” ungkap Jihyun polos. Membeberkan pertanyaan yang sekejap membuat kekehan kecil lolos dari mulut Jongwoon.

Dengan tak sabar, pemuda itu segera menarik Jihyun. Menenggelamkan wajahnya di hangatnya dada Jongwoon. Memeluk erat Jihyun.

”Itu artinya kau mencintaiku Hyun.” ujar Jongwoon berbisik tepat ditelinga Jihyun. Membuat sedikit jengitan kaget darinya. Diselingi senyum kecil dari wajahnya, Jihyun mengangguk. Lalu membenamkan wajah merah ranumnya di dekapan hangat lengan Jongwoon.

”Saranghae Park Jihyun.”

Kali ini perasaan keduanya benar-benar terasa hangat. Mengalahkan dinginnya muson di sekitar mereka. Bahkan jika dilihat-lihat, wajah mereka berdua terlihat sangat merah merona. Tidak kontras dengan perasaan mereka saat ini, hangat dan tenang.

Berakhir. Setelah itu Jihyun merasa dirinya kembali menipis. Tangan yang ia gunakan untuk memeluk Jongwoon sudah terasa kebas, hingga menimbulkan efek yang kentara. Seperti arwah yang tak bisa menyentuh apapun.

Jangan lagi. Kumohon, aku ingin lebih lama bersama Yesung. Batinnya. Tak terasa air matanya menetes, menyisakan perasaan sakit dan kehilangan yang menyesakkan teramat sangat.

Dan terakhir, ia memudar sedikit demi sedikit. Dengan di iringi tetesan terakhir hujan di sore itu, Jihyun pun menghilang.

***

            Tiin..Tiinn!!

            Tangisan dan isakan kecil masih terdengar samar di temaram malam ini. Seorang gadis dengan wajah kusut tampak berdiri ditengah jalan yang nampak lengang.

            ”Jongwoon! Kau jahat, bahkan aku belum membalas perkataanmu.” lirihnya kecil. Berusaha meredam isakan kecilnya. Namun, gagal. Yang ada, malah rengekan kecil di iringi gertakan kesal.

            ”Nado… nado saranghae Yesungie. Tidak, nado saranghae Kim Jongwoon.”

            Tiin..Tiin!!

            “Apakah ini hanya ilusiku atau memang sedari tadi ada suara klakson dibelakang ya?” gumam Jihyun masih di iringi sesenggukan kecil. Yang lebih tepatnya, pertanyaan yang ia lontarkan untuk dirinya sendiri.

            Tiin.. Tiin!!

            Jihyun berbalik.

            “Yak, kau… Kyaaaaaaaa.”

            Jeritan Jihyun menambah semarak kelamnya malam yang begitu kental. Seketika itu pula decitan memualkan antara ban dan aspal yang bergesek membuat simfoni yang buruk, tercipta dengan mulusnya.

            “Aish, sakit.”

            Pengendara motor itu dengan segera menaikkan helm-nya dan buru-buru turun dari motor. Berjalan tergesa menuju korbannya.

            ”Hei bodoh, kau tidak apa-apa?” tanya orang itu ketus. Terkesan acuh tak acuh.  

            Jihyun mengumpat kecil. Lalu sesudahnya mendongak untuk melihat wajah orang yang telah menabraknya. ”Yak apa kau bu-”

            Orang yang ternyata pemuda itu memiringkan kepalanya bingung. Jihyun mengerjapkan mata tak percaya.

            ”Hei?” Pemuda itu menggoyangkan telapak tangannya didepan wajah Jihyun.

            ”Eunhyuk?!” pekik Jihyun tak percaya. Ia menepuk-nepuk pipinya dan kembali mengerjap-ngerjapkan matanya. Membuat pemuda itu mau tak mau jadi merasa kesal karena ulahnya.

            Jihyun yang masih bingung dengan keadaan, lalu mencoba mengendus tubuhnya saat ini. Aroma ini adalah Annick Goutal Perfume EAU Dhadrien. Tepatnya wangi Citrus yang menenangkan. Ah, sudah terduga pasti akan terjadi hal aneh lagi.

            ”Hei bodoh! Makanya, kalau jalan itu lihat-lihat.” tandasnya lagi tanpa merasa bersalah.

            ”Eoh?”

            ”Kau tahu tidak. Ini itu tempat khusus balapan. Jika tadi aku tak mengerem, kau pasti sudah mati! Bodoh!” Pemuda tersebut kembali berkata dengan nada kesal dan dingin. Jauh dari kata iba sedikitpun. Sesungguhnya ia sedikit tidak suka karena gadis didepannya saat ini, tengah melihatnya dengan pandangan aneh. Layaknya memandangnya bagaikan menatap Albert Enstein yang hidup kembali.

            Dengan cepat Jihyun mengangguk. Tetapi saat telah menyadari kebodohannya, ia lalu menggeleng cepat. ”YA! apa kau bilang? Dasar menyebalkan. Kau ini harusnya melihat jalan! Kau pikir ini jalanan milik nenekmu?” ketus Jihyun.

            Pemuda itu mengernyit. Lalu dengan cepat pula wajahnya juga terlihat bertambah kesal. ”Yak, kau ini tidak sopan. Sudah kubilang kau yang bodoh. Tetapi kenapa kau berteriak begitu? Dasar gadis menyebalkan.” papar pemuda itu geram. Lalu berjalan meninggalkan Jihyun yang masih menjerit-jerit kesal.

            ”Yak Eunhyuk-ssi! Jangan tinggalkan aku. YA!”

            Gadis itu masih berteriak-teriak ditengah jalan. Mengabaikan fakta bahwa dirinya saat ini masih terduduk di tengah jalan yang sepi. Minim cahaya.

            Di lain sisi, pemuda tersebut masih melihat gadis aneh itu dari kaca spion motornya. Sekelebat pikiran-pikiran aneh menyeruak didalam otaknya. Dengan celetukan kecil, ”Aish menyusahkan.” Ia lalu memutar kembali mesin motornya dan berbalik ke arah Jihyun yang masih menggerutu kesal.

            Jihyun yang menyadari adanya cahaya dari lampu yang diketahui dari motor lelaki menyebalkan tadi, dengan segera gadis itu berpura-pura marah. Memunggungi arah datangnya motor Sport tersebut.

            ”Hei bodoh, kau ingin disini atau berdiri dan ku antar kerumahmu?”

            Pertanyaan itu sukses membuat Jihyun mendongak. Melihat wajah pemuda didepannya yang terlihat acuh tak acuh. Rumah?

            Jihyun lalu meraba-raba pakaiannya. Mungkin saja menemukan identitas dirinya. Tetapi nihil, hanya dress berwarna peach yang melekat di tubuhnya. Dan tak lupa high hells berwarna senada mewarnai kakinya. Mungkinkah jika Jihyun dimensi ini sehabis pulang dari pesta? Tetapi harusnya ada dompet atau ponsel. Dipersingkat saja, Jihyun saat ini menjadi gelandangan tanpa identitas.

            ”Aku tidak tahu rumahku.” gumam Jihyun lirih. Yang pasti masih bisa didengar oleh pemuda didepannya.

            ”Hah?!” pekik lelaki itu keras –bahkan terlalu keras. Hingga sedikit menggema di telinga Jihyun.

            Jihyun menunduk kecil. Kembali mendongak. ”Bisakah kau membantuku berdiri dulu?”

            Pemuda yang terkontaminasi virus kebingungan Jihyun itu dengan segera menarik tangan Jihyun hingga ringisan lirih dari gadis itu menyadarkannya dari lamunan sesaat.

            ”Eunhyuk?”

            ”Hm? Kau memanggilku?” tanyanya bingung. Jihyun mengangguk berulang kali.

            ”Namaku Lee Hyukjae. Bukan Eunhyuk, jadi jangan sok tahu.” ketusnya. Dia berpikir, adakah gadis yang benar-benar sok mengerti seperti gadis didepannya ini. Tanpa mengetahui seluk beluk dirinya. Diakuinya, gadis itu cantik, sungguh cantik malahan. Tetapi itu malah membuat Hyukjae sedikit ilfiel karena ke –sok tahu’an- gadis itu.

            ”Terserah kau saja Eun ah maksudku Hyukjae-ssi. Tetapi bisakah kau membantuku?”

            Hyukjae mengangguk samar. ”Apa?” nadanya masih terdengar kesal.

            Jihyun berdehem. ”Eung, bisakah kau memelukku?” tanya Jihyun ragu. Seketika itu pula mata Hyukjae membulat lebar.

            ”YA! apa kau gila? Dasar gadis tak punya malu!”

            Memang Hyukjae adalah pria yang ehem nakal. Dalam artian, dirinya sering bermain perempuan, pulang terkadang dalam keadaan mabuk, balapan liar. Yah tipe seorang bitch. Tetapi dalam keadaan ini, dirinya masih bisa berpikir jernih. Hyukjae hanya berkencan dengan gadis yang selevel. Di garis bawahi –perempuan berkelas tinggi-, bukan perempuan yang ditemukan dijalan dengan pakaian yang terlihat compang camping. Walau itu hanya sebuah pelukan, tetapi itu berpengaruh dalam kwalitasnya, yaitu citranya akan menurun dikalangan eksistensitas publik dengan hanya memeluk gadis yang bahkan tak diketahui namanya tersebut.

            ”Ayolah aku mohon, supaya aku bisa segera menyelesaikan misiku.” pinta Jihyun memelas.

            ”Yak kau ini kenapa hah? Sudahlah, aku ingin pulang. Pergilah!”

            Namun, sebelum Hyukjae melangkah pergi. Jihyun dengan segera menahan lengan Hyukjae. Hyukjae menoleh.

            ”Kalau begitu, ijinkan aku bersamamu. A-aku tidak tahu rumahku. A-aku tersesat.” Jihyun menggigit bibir bawahnya penuh harap. Semoga Eunhyuk mau menampungku dirumahnya, begitu pikirnya. Jihyun memasang wajah memelas. Secuil perasaan iba sedikit menyeruak didalam hati Hyukjae. Jika ia meninggalkan gadis itu disini, entah apa yang akan terjadi. Tetapi jika tinggal dirumahnya. Apakah orang tuanya akan menyetujuinya. Ah jika itu tidak masalah, karena orang tuanya tak pernah pulang. Dan lagi, apakah mereka juga peduli pada Hyukjae? Apakah orang tuanya juga akan memikirkan nasib anaknya? Bertemu saja jarang apalagi di kategorikan peduli dengan Hyukjae. Itu adalah mustahil yang amat sangat. Hyukjae memang sering membawa gadis-gadis berkelas kerumah. Dalam kasus itu berbeda, Hyukjae mengenal gadis-gadis itu. Sedangkan ini? Nama saja tidak tahu.

            ”Kumohon, hanya sampai jika aku kembali menemukan rumahku.” kali ini Jihyun mengeluarkan kitty eyes andalannya jika tengah merajuk pada Oppa-nya.

            Dimulai dengan helaan napas berat. Pemuda itu mengangguk kecil.

            Tanpa sadar, karena reflek. Jihyun segera memeluk erat Hyukaje. ”Aaaa terimakasih Hyukjae-ssi.”

            Hyukjae tetap bergeming. Ingin rasanya dirinya membalas pelukan tersebut. Tetapi entah kenapa tangannya serasa kaku. Dan akhirnya lebih memilih diam disamping tubuhnya. Dan lagi, Hyukjae masih berusaha menetralkan jantungnya yang serasa menghantam rongganya. Seperti menanak dengki di otaknya, sehingga meluruh dengan sekelebatan pikiran memualkan disana.

            ’Tidak Lee Hyukjae, dia bukan tipemu. Dan jangan berpikir macam-macam.’ pikirnya.

TBC

chochangevilkyu’s note

Aduh, absurd banget. Kenapa aku buat Yesung jadi mesum. Yah mungkin sesuai kepalanya(?). Oke, demi langit, bumi dan sailormoon(?) aku ingin mengucapkan Hello, all of you yang masih betah baca ff aku. Tunggulah deh kelanjutannya. Hahaha (ketawa unyu imut-imut) -_-

Oke, cukup cuap-cuap aneh aku. Ofc, jangan lupa saksikan(?) part Hyukjae! 😀

Si cantik dari goa gorong-gorong(?)

 

Iklan

25 responses to “Thir13een Parfume Volume 2

  1. Jiah.. Wkwkwk.. Sist jongwoon itu milikku! #d gampar wkwkwk

    nado saranghae oppa! Omo. So sweet meski sdkit abstrak tp so sweet. Buahahaha #skip

    yah, jihyunie ktemu namja yadong d jalan. Aigo. Wkwk.. Untung puppy eyes.a berhasil. Coba kalo g.. Ga bisa plg tuh jihyun #pletak 😀

    Lanjut ke part3.. Cling!

  2. cieiceeee,, hyukhyuk
    aish, suka banget yu ff ini keren banget
    haha,, penasaran sama next-nya,, ke chap lanjut ya^^

  3. saeng, ak ubalik lagi, lama gak kesini 😀
    eh udah ada part ini,,
    heh itu si jihyun enak banget!! aahh iri ><

  4. mampir ke sini setelah baca part 1 di sujuff. akhirnya nemu blog ff magic.

    salam kenal..
    *lanjut baca part selanjutnya. haha.. *

  5. anyonge~ aku reader baru di sini ^^
    evi agata imnida~
    sebetulnya aku udah beberapa baca ff eonni di sjff, tp baru tau kalo yang buat eonni 😀 mian,
    aku suka banget ama ff yang temanya fantasy, and seneng juga, akhirnya nemu blog yang isinya banyak ff fantasy nya ^^
    salam kenal eonn ^^ *capcus ke part selanjutnya*

  6. wakakakak, napa yeppa jadi mesum gitu sih XP
    seperti biasa bagus ffnya..
    aku langsung capcus dr sjff bt baca lanjutannya..

  7. Misi k3…
    Kira2 jihyun ntar t’sesat d dunia kyu g? Sp th dy bnr2 jth dlm pesona kyu, scr kyu cowok paling sulit d taklukn, gengsiny setinggi langit,palagi suruh peluk2, q rasa misi paling susah pas ktm kyu, paling mdh siwon, scr dy sk skinship ha…

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s