Thir13een Parfume Volume 3

Percaya atau tidak.

Setiap benda itu mempunyai sesuatu yang bersemayam.

13 Parfum pembawa keajaiban.

Membawamu ke tempat yang tak kau duga.

Tetapi jika kau melanggar pantangan, ada konsekuensi tersendiri.

.

.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM. Entertainment

Romance, AU, Fantasy

Eunhyuk, Sungmin, Park Jihyun

PG-15

Art Chevelleanne

Inspired by @heenimk “Creepy K12S”

.

.

thir13teen-parfume-chochangevilkyu

            “Hei gadis tanpa nama, bangun!”

Saat ini mereka berdua telah sampai di kediaman Hyukjae. Sebuah mansion besar dengan taman yang luas, rumah kaca di samping kanan, dan pagar menjulang tinggi perak metalik yang hanya bisa dibuka dengan remote otomatis yang saat ini masih tertutup rapat. Seolah mansion itu sepi tanpa penghuni.

“Gadis aneh!” panggil Hyukjae lagi, kali ini dengan nada yang sedikit meninggi.

“Eung.” Hanya erangan kecil yang keluar dari bibir mungil Jihyun.

Hyukjae menoleh sedikit, lalu berdecak. “Aish, bisa-bisanya ada orang yang bisa tidur disaat seperti ini.”

Pemuda itu sesaat terhenyak saat melihat wajah polos Jihyun yang menempel di bahunya. Memeluk erat pinggangnya. Wajah tanpa polesan make-up berlebihan, dan pipi yang nyaris berwarna ranum alami. Membuat Hyukjae terkekeh kecil. “Yeppeo.” gumamnya pelan, sangat pelan.

Seketika Hyukjae merutukki pikirannya. Ia memukul-mukul kepalanya dengan helm yang berada di tangannya. “Aish, otakku mulai rusak.“

Sejurus kemudian, ide cemerlang tiba-tiba menyeruak di dalam pikiran Hyukjae, pemuda itu mempunyai suatu pemikiran dengan bagaimana cara untuk membangunkan Jihyun.

Berdehem sejenak. Mengatur suara. “YAK BANGUN GADIS TANPA NAMA YANG ANEH!” serunya keras-keras. Membuat Jihyun tiba-tiba berjengit kaget lalu terjatuh dari jok motor.

“Awww, sakit. Yak! Kau tidak sopan. Bisakah jangan berteriak seperti itu hah?!” gerutu Jihyun kesal sambil mengusap-usap pantatnya yang sakit karena terbentur aspal. Tak lupa kerucutan bibir dan umpatan kejam ia tujukan pada pemuda itu.

Hyukjae memutar bola matanya kesal. Mendahului Jihyun masuk mansion. Tak memperdulikan teriakan dan makian dari Jihyun.

“Astaga, apakah ini masa lalu Eunhyuk atau… masa depan?”

***

            Jihyun sedikit terperangah, binar-binar almond-nya membentang di saat dirinya telah memasuki kawasan dalam mansion Hyukjae. Rumah yang empat kali lipat ah mungkin sepuluh kali lipat besarnya dari rumah miliknya. Benar-benar orang kaya, begitu pikirnya.

“Hei gadis aneh.”

Jihyun menoleh, lalu memiringkan kepalanya. “Hei! Aku punya nama Hyukjae-ssi. Namaku Park Jihyun.”

Pemuda itu mengibaskan tangannya. Tak peduli. Lalu melenggang pergi menaiki satu persatu tangga. Tangga di mansion Hyukjae terdapat dua sisi, melengkung di sisi kanan dan kiri, tetapi tujuannya tetap satu pertemuan. Berliku, meliuk. Satu kata, sangat mewah dengan karpet pelapis tangga berwarna red soft. Hyukjae menaiki tangga bagian kiri, tetapi saat dirasa gadis itu tak berada dibelakangnya, ia segera menoleh.

Ia berdecak sebal. Jihyun tengah melihat mansionnya dengan tatapan seperti ingin melahapnya. Dasar kampungan. Pikir Hyukjae sinis.

”Gadis aneh, kau ingin di situ atau ikut aku hah?!” tanyanya kesal. Dengan wajah yang benar-benar dingin.

”A-ah, iya. Tunggu sebentar Hyukjae-ssi.” Buru-buru Jihyun menaiki tangga dan berdiri dibelakang Hyukjae.

Setelah sampai di atas. Keterkejutan Jihyun semakin kentara. Pasalnya, saat ini dirinya bagaikan seorang putri. Disambut oleh banyak sekali pelayan-pelayan cantik dengan maid yang sempurna. Mereka serempak menunduk hormat saat Hyukjae dengan angkuhnya melewati mereka.

”Appa dan Umma apa pulang?” tanya Hyukjae acuh tak acuh kepada pria yang sepertinya usianya hampir separuh abad. Mungkin ketua pelayan, pikir Jihyun.

Pria itu mendongak. ”Maaf Tuan Hyukjae. Tuan Lee dan Nyonya Lee satu jam yang lalu memang sudah pulang. Tetapi, mereka telah berangkat kembali ke Bangkok.” jawabnya.

Hyukjae mengangguk lalu kembali melangkah kedepan. Menuju kamarnya.

Jihyun yang bingung dengan keadaan ini, hanya berusaha mengikuti Hyukjae. Tetapi sebelum itu, ia menunduk kecil kepada semua pelayan, tak lupa dengan senyuman simpul yang manis.

***

            Jam di dinding cream itu menunjuk angka 8 malam. Tetapi pemilik kamar bernuansa tenang menghanyutkan itu masih duduk terdiam di depan meja rias. Dengan sebuah cermin besar dengan bingkai yang dikelilingi lampu-lampu berwarna warni didepannya.

”Haah, benar-benar berbeda sekali dengan kepribadian Eunhyuk Super Junior. Jika ini masa depannya, aku berharap tak akan pernah ada. Benar-benar mengerikan.” gumamnya bergidik. Lalu menyisir rambut panjangnya yang sedikit basah. Karena baru saja selesai mandi.

Kruyuk.

Jihyun sedikit meringis saat perutnya terasa memberontak. Lapar.

Ia perlahan melangkah ke luar dari kamar. Tak lupa menutup pintu kamarnya dengan pelan, meminimalisir suara decitan engsel.

”Dapur… dapur dimana ya?” Jihyun menuruni anak tangga dengan gesit. Sekalian mengedarkan pandangannya di sekeliling tempat ini. Sangat besar, batinnya.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring, seperti alat-alat dapur yang saling beradu. Jihyun mengikuti arah datangnya suara itu. Dan akhirnya menemukan dua buah pintu dorong yang jika dibuka tidak akan bisa saling menempel, yang ia yakini menuju dapur.

”Ah permisi.”

Orang itu menoleh, lalu mengembangkan senyuman. Senyum seorang ke ibu-an, dengan guratan halus di sekitar sudut matanya. Menandakan sudah berapa lama ia menyambangi kehidupan ini.

”Ada apa Nona? Nona belum tidur?” tanya Ahjumma itu dengan nada yang halus. Menenangkan.

Katupan gula-gula manis ilusi yang tertabur tiba-tiba menyeruak di bibir Jihyun. Menandakan sang empunya sedang tersenyum manis. ”Ah Ahjumma, jangan panggil Nona. Panggil saja Jihyun. Itulah namaku.”

Ahjumma itu terlihat kikuk. Namun akhirnya mengangguk setuju.

”Ahjumma, bisakah Ahjumma membuatkan Jihyun makanan? Jihyun lapar.” tanya Jihyun. Dengan nada yang menjurus ke rengekan. Ahjumma itu terkekeh sejenak, lalu akhirnya mengangguk. Dan bersiap mengenakan apron.

Keadaan sangat hening, hanya suara makanan yang dimasak beradu dengan spatula. Terdengar sangat berimprovisasi.

Jihyun sejujurnya tak suka dengan keheningan. Tetapi jika ia mengajak Ahjumma berbincang, ia takut jika konsentrasi Ahjumma itu buyar. Jadi ia lebih memilih merunduk dagu yang di sangga kedua lengannya. Lalu memainkan telunjuknya di meja tersebut.

”No- ah maksud saya Jihyun-ah, ini bulgogi untuk Anda.” Ahjumma itu telah berada didepan Jihyun dan menaruh sepiring bulgogi lengkap dengan secangkir coklat hangat mengepul di depannya.

Jihyun segera mendongak. ”Terimakasih Ahjumma.” ucapnya seraya mengulum senyuman manis, sebelum akhirnya mengambil pisau dan garpu disamping piring itu.

Ahjumma itu tersenyum, lalu segera beranjak dari tempatnya. Namun, sebuah kalimat dari Jihyun yang tidak akan bisa makan jika sendirian. Membuat Ahjumma itu kembali duduk. Sebenarnya, bukan masalah. Hanya saja Ahjumma itu merasa tidak pantas duduk bersama gadis Tuan mudanya.

”Suapan terakhir.” ucapnya nyaris berdendang. Membuat sang Ahjumma terkekeh kecil.

Setelah selesai menghabiskan bulgogi yang enak dari Ahjumma, Jihyun segera menyesap coklat hangat miliknya. Dan terakhir, mengelap bibirnya dengan punggung tangan.

”Nak Jihyun benar-benar berbeda dengan gadis yang sering Tuan muda bawa ya. Nak Jihyun lebih manis dan baik.” celetuk Ahjumma itu tiba-tiba.

Jihyun menautkan alisnya.

Tiba-tiba saja Ahjumma itu menepuk bibirnya. Merasa bersalah. ”Ah maaf, bukan seperti itu maksud Saya.” ujarnya sedikit tergagap. Lalu menunduk berulang kali.

”Ah Ahjumma, tidak perlu seperti itu. Sejujurnya Jihyun bukanlah gadis Hyukjae-ssi. Jihyun adalah korbannya,” ujarnya pelan. Ahjumma itu terlihat mengerutkan alisnya bingung. ”M-maksud Jihyun, Hyukjae-ssi tadi menabrak Jihyun. Lalu dia akhirnya membawa Jihyun kemari Ahjumma.” ralatnya cepat sebelum Ahjumma itu salah tangkap mengenai penjelasannya barusan. Ahjumma itu mengangguk-angguk mengerti.

”Pantas saja Tuan muda tidak membawa Jihyun ke kamarnya.” gumam Ahjumma itu lirih, tetapi masih bisa tertangkap pendengaran Jihyun. Jihyun hanya mengedik acuh.

”Ahjumma, bisakah Ahjumma bercerita tentang sifat Hyukjae-ssi. Kenapa ia bisa begitu galak dan,” Jihyun mengibaskan tangannya. Mengisyaratkan Ahjumma itu mendekat. ”kenapa sepertinya saat mendengar kata Umma dan Appa, wajahnya langsung berubah menjadi geram? Apa mereka tidak akur?” tanya Jihyun berbisik.

Ahjumma itu terlihat gelisah. Menimang apakah akan menceritakan yang sebenarnya atau tidak.

”Ahjumma?”

Ahjumma itu mendongak. Melihat wajah Jihyun yang begitu polos membuat ia tertegun sejenak. Tidak tega. Lalu akhirnya mengangguk mengiyakan. ”Ah ya, sebenarnya Tuan muda adalah anak yang baik. Saya mengetahui sifatnya sejak kecil. Bahkan jika di umpamakan, saya ini seperti Ibu kedua bagi Tuan muda,”

”Dulu Tuan muda sangat ceria, baik dan manis. Berbeda dengan sekarang, yang sering membawa gadis-gadis tidak jelas pulang, terkadang pulang dengan keadaan mabuk. Lalu balapan liar. Sesungguhnya saya sangat menyayangkan itu,”

”Tetapi, jika ditilik-tilik, semua ini karena Tuan dan Nyonya Lee yang sudah tak memperhatikan Tuan muda. Saat Tuan muda beranjak dewasa, mereka memang sangat sibuk. Dan semakin sibuk saat cabang-cabang perusahaan Lee itu bertambah banyak. Membuat Tuan muda serasa di abaikan. Namun, sesungguhnya, pasti didalam lubuk hati terdalam Tuan muda, dia masih mempunyai hati yang baik.” ujar Ahjumma itu panjang lebar.

Jihyun setengah tertegun saat mendengar cerita dari Ahjumma. Ternyata memang seperti di dalam drama-drama, orang kaya yang minim akan kasih sayang, pikir Jihyun.

Sesaat kemudian, Ahjumma itu membulatkan matanya. Lalu sedikit memukuli kepalanya, sesekali menepuk bibirnya. Bibir yang telah lancang menceritakan kisah keluarga ini.

”Ah bibir ini memang selalu tidak bisa di rem. Maafkan saya Jihyun-ah, Ahjumma memang bodoh.” rutuk Ahjumma itu.

Jihyun terkekeh pelan, lalu berkata, ”Tidak apa-apa Ahjumma. Tidak perlu seperti itu. Tenang saja, Jihyun ini bisa tutup mulut kok.” candanya. Membuat mereka tergelak bersama.

”Ehem.”

Serentak kedua orang yang sedang tertawa itu menoleh ke sumber suara. Seorang Hyukjae dengan pakaian rumah yang kasual. Terlihat semakin tampan dan ehem manly.

”Ah Jihyun-ah, Ahjumma harus pergi dulu. Permisi.” Ahjumma itu menunduk berpamitan. Setelah sebelumnya saat melewati Hyukjae ia menunduk dalam.

Perlahan Hyukjae melangkah mendekati Jihyun. Lalu duduk didepan Jihyun, diseberang meja.

Jihyun berpura-pura membuang muka. Mengingat insiden jatuhnya ia dari jok membuat gadis itu sedikit kesal dengan Hyukjae.

”Ehem.”

”…”

”Ehem.”

”…”

”Ehemmm! Gadis aneh!” teriak Hyukjae. Geram, karena gadis itu tak merespon panggilannya.

Jihyun mendengus. ”Apa?! Kau sakit tenggorokan?“ tanya Jihyun skeptis.

Hyukjae tergelak sinis. “Jangan bercanda. Orang sepertiku tak mungkin mendapat penyakit rendahan seperti itu.” ujar Hyukjae sombong.

Gadis itu mendongak. Menatap Hyukjae malas. “Eung Hyukjae-ssi.”

Hyukjae mengangkat alis.

“Aku tidak suka jika ada orang yang berlagak sok kenal padaku.”

Jihyun mengernyit. “Maksudmu?”

Hyukjae memutar bola matanya cepat. ”Dengan cara memanggilmu itu. Kau seperti sudah mengenalku sejak lama saja. Nadamu sudah menyebalkan sekali.”

Jihyun membulatkan matanya. Mengepalkan tangannya yang berada di atas meja. Jika saja pemuda ini bukan Eunhyuk dan tak menolongnya. Sudah pasti sedari tadi ia meninju anak lelaki ini hingga mati.

Jadi, gadis itu berusaha mengulum senyum dan menangkan hatinya. “Baiklah, baiklah Tuan Hyukjae-ssi. Ah, saya mengerti.” Jihyun berkata dengan nada terhentak-hentak kesal. Diselingi senyuman aneh.

“Ada yang ingin ku tanyakan padamu.” lanjutnya ragu. Ia menautkan jari-jari telunjuknya. Mengisyaratkan gusar yang berlebihan.

”Apa?”

Jihyun menarik napas panjang-panjang. Berharap dapat menghilangkan kegusaran dalam dirinya. ”Eung… K-kenapa kau tidak menjadi pemuda seperti dulu lagi. Maksudku, bukankah kau dulu orang yang baik dan periang? Lalu kenapa kau berubah menjadi seperti sekarang ini?” tanya Jihyun lirih. Dengan satu tarikan napas.

Sebenarnya bukan ingin memupuk keingintahuan atau sekedarnya sok tahu. Ia hanya berusaha perlahan memasuki dunia milik Hyukjae yang menurutnya –setelah mendengar cerita Ahjumma- terlalu menakutkan. Namun sesungguhnya gadis itu tahu hal remeh temeh seperti ini hanya sekedar pelampiasan emosi semata yang belum terwujud. Dengan orangtua yang tak pernah bisa meluangkan sedikit waktu, pasti setidaknya membuat tingkah menyimpang Hyukjae kian menjadi-jadi. Dan Jihyun hanya ingin membantunya.

Entah ini perasaan Jihyun atau mungkin halusinasi, raut wajah Hyukjae berubah. Wajahnya memerah sampai ke telinga belakang. Dia punya dua opsi. Opsi pertama, mungkinkah Hyukjae malu karena masa lalunya terbongkar. Atau opsi kedua, dia marah karena Jihyun menyentaknya masuk kedalam bayangan kelamnya.

BRAK

Tiba-tiba Hyukjae menggebrak meja makan. Membuat meja kayu berplitur itu sedikit goyah. Jihyun yakin, saat ini mungkin opsi kedua yang lebih mendominasi kriteria. Karena, tidak mungkin penggebrakan meja itu disebabkan karena malu. Mustahil.

Hyukjae berputar. Berjalan pelan menuju Jihyun. Saat telah sampai didepannya, ia segera meremas erat bahu Jihyun. Menghadapkan ke arahnya. Sukses membuat Jihyun meringis lirih.

Serasa wajah pucat Jihyun menjalar di kedua pipi ranumnya yang telah berubah warna menjadi putih.

Hyukjae mencondongkan tubuhnya. Menghentikan diri sampai ditelinga Jihyun. Lalu berbisik, ”Kau bukan siapa-siapa ku dan kau tidak akan pernah tau mengenai diriku. Jadi jangan pernah bertindak sok tahu. Apalagi jika tentang keluargaku dan masa laluku.” bisik Hyukjae pelan, nyaris tanpa suara. Namun, sangat pekat dengan ketajaman. Layaknya aura pembunuh.

Jihyun menelan ludah susah. Seakan ada gumpalan rambut yang menyebabkan tenggorokannya tercekat.

Hyukjae tersenyum miring. Menakutkan di mata Jihyun. Lalu, melangkah meninggalkan gadis itu yang masih berusaha mengontrol nafasnya.

”S-sungguh m-menyeramkan.”

***

            Hari Sabtu kelabu. Seperti malam-malam sebelumnya. Bukan masalah jika gadis itu tengah berada di rumah saat ini. Ia bisa menghabiskan waktunya dengan Oppa-nya atau sekedar bermain dengan sahabatnya. Atau bisa juga salah satu pemuda dikelasnya yang sempat ditaksir.

“Aduh, apa yang kau pikirkan bodoh. Aish jinjja. Tidak mungkin Kevin yang tampan dan keren mau berjalan dan berkencan bersama Jihyun. Uh, mustahil.”

Merutukki diri sendiri membuatnya semakin terasa kesepian. Ingin keluar tapi tidak tahu tempatnya saat ini. Ingin mengobrol dengan penghuni mansion ini takut mengganggu. Kebanyakan maid dan pelayan-pelayan itu akan dibebas tugaskan pada malam minggu. Em pilihan terakhir jatuh pada seorang Lee Hyukjae. Oh, yang benar saja. Cukup bodoh pikirannya bisa jauh sekali menyimpang dengan keadaannya saat ini.

Jihyun lebih memilih berjalan mengitari kawasan mansion luas Hyukjae ketimbang berkutat dengan pemikirannya yang begitu aneh. Ia menjelajahi tempat demi tempat hingga hampir menyambangi semuanya.

Saat Jihyun melewati taman belakang. Ia melihat rumah kaca di sebelah Timur masih menyala terang. Di rundung rasa penasaran, akhirnya gadis itu berjalan perlahan melewati jalan setapak dengan kerikil kecil berserakan yang diatur sedemikian rupa lalu akhirnya sampai di depan pintu rumah kaca.

Gadis itu membuka pintu perlahan. Memasukkan sedikit kepalanya di celah yang terbuka hingga sedikit menyembul kedalam.

“Uh, tak ada orang tapi kenapa lampunya hidup? Dasar orang kaya. Mentang-mentang uangnya banyak, boros listrik sesukanya!” Jihyun menggerutu, menyalahkan semua penghuni mansion Hyukjae.

Daripada pusing memikirkan hal itu,  Jihyun memilih untuk berjalan-jalan sejenak mengamati keadaan rumah kaca. Tempat ini begitu lebar, bahkan beberapa sudut diberi sekat untuk berbagai macam tanaman. Bunga yang begitu langka ataupun beberapa hewan seperti burung-burung.

“Oh, bunga Larkspur! Wah, ternyata lebih indah aslinya ketimbang yang berada di internet.”

Mungkin Jihyun sudah menetapkan, ini adalah tempat yang akan ia ingat selalu selama hidupnya. Atau mungkin nanti tempat ini akan selalu ia datangi jika saja pemiliknya sedang tidak ada.

Ah ngomong-ngomong soal pemilik. Beberapa hari ini ia tak melihat Hyukjae. Kemana perginya lelaki sombong itu? Seperti lepas dari tanggung jawab saja!

Saat gadis itu akan kembali melangkah. Ia menemukan fakta lain yang menakjubkan di tempat ini. Gadis itu bisa melihat bulan dan banyak bintang di atap kaca tersebut. Ah, satu poin penting lagi yang tak terlupakan.

Jihyun melangkah kedepan. Bermaksud untuk duduk di bangku panjang di situ. Namun, ia mengurungkan niatnya ketika melihat sesuatu yang bergerak-gerak dan bergoyang di dekat tanaman rimbun. Mulai was-was, akhirnya gadis itu mencoba mendekat dan menendangnya sekuat tenaga.

“YA!”

Gadis itu terkesiap. Ternyata tadi adalah pantat Hyukjae yang menyembul dari balik semak-semak.

Hyukjae meringis seraya berdiri angkuh. Ia menatap Jihyun dengan pandangan tak bersahabat. Jihyun yakin, anak laki-laki ini benar-benar kesal padanya. Menambah satu hal lagi daftar kebencian milik Hyukjae.

“Kau! Apa yang kau lakukan disini hah?! Kau pikir ini tempatmu?! Sana keluar!”

Tak mengindahkan omongan Hyukjae. Jihyun malah melangkah semakin dekat dan akhirnya duduk di bangku panjang tadi. Ternyata dia sudah mulai kebal dengan teriakan Hyukjae.

“Kenapa duduk disitu? Dasar bodoh. Celanamu pasti banyak debu dan kotoran burung.”

“Tak apa-apa. Aku bisa mencuci.”

“Tapi bangku itu sudah berkarat. Kau bisa kena tetanus!” Kali ini Hyukjae berkata dengan nada berlebihan. Benar-benar kekeh sekali.

“Biar saja, masih banyak rumah sakit yang menampungku.”

“Didekat kakimu banyak tanaman berduri. Nanti kau tertusuk.”

“Aku bisa mengobatinya.”

Hyukjae menggerutu. Tak mudah baginya menggoyahkan keteguhan seorang Park Jihyun. Jadi, lelaki itu hanya diam lalu ikut duduk disamping Jihyun dengan wajah yang tertekuk. Kesal, marah, bercampur jadi satu.

Bahkan keadaan begitu hening kali ini. Jihyun lebih memilih mengamati bintang yang begitu banyak daripada kembali berbicara namun malah mempersulit akar permasalahannya dengan Hyukjae lagi.

Sudah cukup dengan kata-kata pemuda itu yang menyakitkan. Sejujurnya Jihyun bukanlah gadis penakut, ia justru berani jika harus berkelahi dengan Hyukjae. Namun, ia mengurungkan niat tersebut, takut-takut ia malah di usir dari sini dan tak akan mendapatkan pelukan dari Hyukjae.

Pelukan? Hah, benar-benar menyusahkan.

Gadis itu melirik Hyukjae dengan ekor matanya. Sekedar memastikan bahwa pemuda itu tak membuat rencana buruk untuknya. Itu bisa jadi. Namun setelah dilihatnya Hyukjae ikut melakukan hal yang sama, ia menghela napas lega, ternyata pemuda itu tak sepenuhnya menyebalkan.

“Ngomong-ngomong, apa semua ini milikmu?” tanya Jihyun. Membuka alur perbincangan dengan Hyukjae. Semoga saja pemuda itu akan menjawab pertanyaannya. Selagi mereka hanya berdua disini.

Pemuda itu tak menjawab, ia hanya diam dan tak memperdulikan kehadiran Hyukjae. Namun saat salah satu burung kecil menghampirinya, lantas ekspresinya benar-benar berubah 180 derajat. Berbeda dengan yang tadi.

Gadis itu bisa merasakan perubahan raut wajah Hyukjae yang kentara. Tanpa sadar ia mengulum senyum. Ternyata es tak selamanya akan berbentuk padat. Ada saatnya mereka akan mencair dengan sendirinya.

“Lucu sekali. Aku boleh menyentuhnya?” tanya Jihyun riang. Mengamati burung kecil yang bertengger di jari telunjuk Hyukjae.

“Tidak boleh.” jawabnya ketus tanpa melirik sedikitpun.

Jihyun tak menyerah. Lantas ia mencoba kembali. “Sebentar saja Hyuk. Masa kau begitu pelit?”

“Memang.”

“Kalau aku mengelusnya, boleh?”

“Dia tak suka dengan orang asing yang cerewet dan sok ingin tahu.”

Jihyun mengerutkan bibirnya. Oh ayolah, demi Tuhan, adakah orang yang begitu sok dan gengsi seperti Hyukjae?! Hanya mengedepankan ego dirinya. Dan membuat Jihyun menahan untuk tak mengerahkan tenaganya seperti saat bertemu Jongwoon.

Hyukjae berdehem. “Gadis mengerikan. Pasti otakmu penuh dengan berbagai macam ancaman untukku. Wajahmu sudah mewakilkan hal buruk seperti itu.”

“Apa?” Gadis itu melirik tak suka. Ingin rasanya memainkan beberapa macam ilmunya untuk menghadapi anak lelaki ini. “Kau benar, rasanya aku ingin mencincangmu dan menaruhmu di binatu lalu ku keringkan dan kujual!”

“Dasar gila. Otakmu memang parah.”

Lalu kemudian hening kembali. Jihyun tak menyangka seorang Lee Hyukjae akan menanggapi perktaannya. Maksudnya, oh dia berkata dengan nada ringan, kendati wajahnya masih begitu dingin. Namun, ekspresinya mencair, meleleh hangat, membuat hati Jihyun sedikit tenang. Setidaknya di setiap misi, ia bisa membuat semua laki-laki berubah menjadi anak rumahan yang polos lagi.

Mungkin sulit untuk hal ini, tetapi tak menutup kemungkinan seorang Lee Hyukjae kembali menjadi pribadi yang hangat. Ngomong-ngomong soal ini, Jihyun ingin sekali bertanya sesuatu.

“Hei Hyukjae. Aku boleh bertanya tidak?”

“Boleh.”

Jihyun lalu menoleh cepat. Memiringkan kepalanya bingung. “Eyh, tumben sekali kau tidak marah-marah?”

Ia mendengar pemuda itu menghela napas. “Jika aku bilang tidak, kau juga pasti akan tetap memaksa.”

Lalu percakapan mulai bergulir, merambah memasuki detak-detak pikiran masing-masing. Dengan beberapa sisi egois yang masih dipertahankan pada kedua pihak dan tentunya ego diri sendiri yang masih tampak membuat pembicaraan mereka semakin berwarna.

Hanya saja, tak ada sejengkalpun kalimat yang tak mengundang sarkasme dari bibir mereka. Selalu saja ingin mencetuskan hal yang benar dari pihak pribadi.

Dan kini Jihyun tahu sebab Hyukjae seperti ini. Jika boleh jujur, Hyukjae adalah anak laki-laki yang baik.

***

            Ranjang besar, tempat nyaman dan aroma lavender membuat sang penghuni terbuai mimpi panjang. Buktinya, matahari yang telah menyapa dibalik kaca tebal berukirkan Ahn Shunamun tak membuat pemilik kamar terusik barang sedikitpun.

”Hyukjae-ssi, irronna palli!!”

Pemuda itu mengerang sebentar. Lalu kembali menekuni alam mimpinya.

”Aish Ahjumma benar, orang ini sungguh seperti kerbau. Susah sekali dibangunkan.“ rutuk suara itu. Jihyun.

“Hyukjae-ssi, bangun. Apa kau ingin tidur terus hah?!”

Hyukjae yang merasa terusik, lalu mendongak sedikit. Mendapati gadis yang kini telah bertolak pinggang. Dengan wajah yang memerah menahan amarah.

”Ck, pergilah!” usir Hyukjae. Dan kini malah berpindah posisi menjadi memunggungi Jihyun.

Jihyun mengumpat dalam hati, lalu berjalan ke seberang ranjang. Menyiapkan bantal untuk memukul Hyukjae.

”Terima ini, terima ini!!” gadis itu memukul Hyukjae keras-keras dengan bantal yang dibawanya. Sesekali terdengar umpatan dari Hyukjae, dan pemuda itu hanya bisa melindungi kepalanya dari amukan Jihyun.

“YA! Cepat bangun, bukankah kata Ahjumma kau harus sekolah hah?!“

Hyukjae makin merapatkan selimutnya dan melindungi kepalanya dari amukan gadis itu. Menurutnya semua gadis itu pasti selalu bertindak manis jika dihadapannya. Namun ternyata beberapa hari ini setelah mengenal Jihyun, opsi tersebut telak menghilang dari pemikirannya. Jihyun bukanlah seorang gadis, tetapi sejenis monster yang mirip orang. Begitu galak, cerewet dan menyebalkan.

“Aduh, berhenti memukuliku dengan bantal gadis monster! Aish jinjja!“

Bukannya berhenti, Jihyun malah makin semangat memukul Hyukjae dengan bantal hingga gadis itu sekarang merasa di atas angin.

“Kuhitung sampai tiga, kalau tidak bangun aku akan-“

Ucapan Jihyun seketika berhenti saat tiba-tiba dirinya telah berada disamping Hyukjae. Lelaki itu menarik lengan Jihyun hingga kini posisi gadis itu menghadap wajah Hyukjae yang tengah memejamkan mata.

Sedikit kehilangan akal karena pemandangan tersebut. Jihyun perlahan sedikit demi sedikit menyentuh bulu mata lentik Hyukjae.

”Wah aku tidak menyangka kau punya bulu mata sebagus ini.” gumam Jihyun. Gadis itu kembali menyentuh wajah Hyukjae, dan kini jari lentiknya bermain di alis tebal Hyukjae.

”Jangan suka mencari kesempatan gadis bodoh,” Tiba-tiba suara itu menyadarkan Jihyun kembali ke alam nyata. Pemuda itu bergumam masih dengan keadaan mata yang tertutup. Ia lalu melanjutkan perkatannya, ”Memang sampai hitungan ketiga jika aku tidak bangun, kau mau apakan aku huh?”

Perlahan Hyukjae membuka mata. Menemukan mata almond yang terlihat bening. Sedikit mengacaukan sistem syaraf di otaknya. Entah apa yang dipikirkan orang itu, ia menyentuh pipi Jihyun dengan lembut, lalu menjalar ke hidung mancungnya, dahinya. Dan terakhir berhenti di bibir mungil gadis itu.

”H-Hyukjae-ssi a-” Namun, pemuda itu dengan segera membungkam bibir Jihyun dengan jari telunjuknya.

”Maafkan aku, beberapa hari yang lalu aku sudah keterlaluan padamu. Kau gadis yang baik.” ujar Hyukjae disela-sela kebisuan yang merangkap kamar ini. Bagi Jihyun, ini adalah kalimat yang paling panjang dan sopan yang pernah di ucapkan Hyukjae. Tanpa embel-embel bodoh.

Tiba-tiba wajah Jihyun memerah, membuat Hyukjae terkekeh kecil. ”Wajahmu memerah Jihyun.”

Jihyun menenggelamkan wajahnya di bantal Hyukjae, berusaha meredam detak jantungnya yang berdegup saat ini. Menyembunyikan alunan suara tak berirama yang mungkin saja dapat terdengar oleh Hyukjae.

”Ini pertama kalinya kau memanggil namaku.” ucap Jihyun pelan. Terdengar samar-samar. Karena gadis itu berbicara dengan posisi menelungkup dan wajah yang disembunyikan di bantal. Namun, tentu saja Hyukjae masih mendengarnya.

Hyukjae menarik tengkuk Jihyun. Membuat gadis itu berhadapan kembali dengan wajah polos Hyukjae di pagi hari. Tampan dan bersinar.

”Aku tidak tahu, apakah aku gila. Tetapi, sepertinya aku menyukaimu,”

”Aku a-”

”Baru kali ini jantungku serasa berdetak tak teratur saat melihat seorang gadis. Biasanya aku tidak pernah merasakan perasaan ini,”

”Hyukjae aku-”

”Jadi apakah kau mau menjadi gadisku?”

”Hyuk-”

”Kau harus-” ucapan Hyukjae terpotong saat tiba-tiba tangan mungil gadis itu membekap mulutnya. Wajah Jihyun terlihat kesal.

”Yak bisakah kau membiarkan aku berbicara dulu? Kau ini sungguh menyebalkan Lee Hyukjae-ssi.” gerutu Jihyun kesal. Sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Hyukjae terkekeh geli.

Jihyun berdehem sejenak, posisinya saat ini membuat dirinya sungguh tak bisa bernapas sempurna. ”A-aku juga menyukaimu. Sebenarnya, saat pertama kali kau menolongku, didalam pikiranku kau itu orang yang baik. Namun, sepertinya itu terlalu samar karena tertutupi tingkah menyebalkanmu itu. Tapi sepertinya aku tidak-”

Hyukjae menyentuh bibir Jihyun dengan ibu jarinya. Mengisyaratkan Jihyun untuk diam. ”Aku tidak ingin mendengar alasanmu. Dan aku juga tidak menerima penolakan. Kau harus menjadi gadisku, mulai saat ini dan seterusnya. Masa kini dan masa depan. Saranghae Park Jihyun.”

Entah untuk alasan apa pemuda itu memulainya, perlahan Hyukjae menghilangkan jarak diantara mereka. Membuat dada Jihyun semakin berdetak tak karuan. Membuat sang empunya salah tingkah. Hyukjae sengaja menarik pinggang Jihyun semakin dekat dengannya, lalu menggoda Jihyun dengan hembusan napasnya. Sedikit demi sedikit Jihyun telah berada sangat dekat dengannya. Lalu dengan tangan yang menganggur, Hyukjae menarik tengkuk Jihyun dan itu sukses membuat bibir mereka menempel sempurna. Jihyun tak bisa memberontak. Entah apa yang ada dipikirannya. Kedua manusia itu memejamkan mata menikmati lenguhan lirih dari bibir masing-masing.

Kecapan bibir yang bertalu menambah semarak hampaan kamar ini. Mulanya menempel, tetapi lama kelamaan bibir Hyukjae semakin liar menggeluti bibir mungil Jihyun hingga tanpa sadar membuat Hyukjae memeluk tubuh Jihyun.

Pikiran pemuda itu kembali bercabang menjadi satu utuh. Entah kenapa perasaannya saat ini begitu membuncah. Ia tak pernah sekalipun akan menduga jika gadis aneh yang sempat diselamatkannya dulu perlahan telah memasuki pikiran Hyukjae. Gadis yang mengaku mengenal dirinya sebagai salah satu member group idola. Dan ia bersyukur jika saat ini dirinya di anugrahi begitu banyak keajaiban dari gadis ini. Park Jihyun.

Saat dirasa oksigennya mulai menipis. Pemuda itu melepas tautan bibir mereka, membuat dia bisa melihat wajah merah Jihyun. Terkekeh sejenak.

”Saranghae Nae Jihyunnie.” ucapnya lalu memeluk erat Jihyun. Menenggelamkan wajah Jihyun di dada bidangnya.

Nafas Jihyun terasa sesak, karena dirinya saat ini tengah terisak tanpa suara. Memikirkan bahwa dirinya sangat ingin selamanya berada di sisi Hyukjae. Namun, itu mustahil.

’Maaf Hyukjae-ah, nado saranghae,’

Lalu perlahan, tangannya yang sedang memeluk punggung Hyukjae terasa kebas. Tepatnya sudah tak bisa merasakan punggung Hyukjae. Lama kelamaan seluruh tubuhnya juga menipis. Tetapi sebelum itu, Jihyun memberanikan diri mendongak lalu mencium kelopak mata Hyukjae yang terpejam. Tersenyum miris ala kadarnya. Dan terakhir, ia menghilang tanpa jejak.

***

            Jihyun mendapati dirinya berada di kursi taman. Dengan banyak orang-orang yang berlalu lalang didepannya.

Jihyun menyentuh bibirnya. “Bahkan ini masih terasa. Hangat. Maafkan aku Hyukjae-ah.” gumamnya lirih. Berusaha tak membuat sungai kecil lagi di pipinya. Ia menggeleng pelan, mengenyahkan pikiran tentang Hyukjae. Yang ia harapkan adalah segera menyelesaikan misinya.

Entah apa yang terjadi, dirinya saat ini tengah mencium aroma Chanel’s Chanel No. 5 dari tubuhnya. Aroma yang khas, membuat siapapun yang merasakannya akan menjadi tenang.

Tiba-tiba gadis itu terkesiap, lalu melihat sekelilingnya. ”Hah, lalu saat ini aku harus bertemu personil siapa lagi? Sebelum-sebelumnya, mereka yang tiba-tiba menghampiriku. Tetapi saat ini, hanya ada aku sendiri.” ujarnya kaget. Saat telah menyadari keadaan yang sesungguhnya.

Jihyun tiba-tiba saja sesenggukan. Menyadari fakta nyata saat ini. Apakah ia akan selamanya terjebak disini? Atau memang sudah takdir jika ia akan mati?

”Huwaa andwae! Aku ingin pulang!” pekiknya keras-keras. Membuat banyak berpasang-pasang mata menatapnya aneh. Mungkin berpikir jika ada gadis gila dengan penampilan yang berantakan berkeliaran di taman.

”Aaaa an-” Kalimatnya seketika terhenti di saat dirinya merasakan sesuatu menutupi wajahnya. Tepatnya brosur yang terbang ke arah wajahnya.

”Aish benar-benar. Siapa sih yang melempar brosur seperti ini.” ketusnya. Lalu menarik kertas itu dan membolak baliknya.

Matanya terfokus pada iklan tersebut. Perlahan menyusuri tulisan rapi yang tercetak di selebaran itu. Namun, sepersekian detik kemudian, matanya membulat lebar. Terperanjat membaca iklan dari brosur tersebut.

Di cari

Pengasuh Anak untuk putra kami Lee Sungmin

Syarat :

Baik hati, ramah, dan dapat bekerja dengan baik.

Hubungi : 0272 xxx

            ”Apa?! Baby Sitter? Untuk Lee Sungmin?!”

 

TBC

Iklan

15 responses to “Thir13een Parfume Volume 3

  1. Wkwkwk. Ngakak baca paragraf terakhir.. Baby sitter.a sungmin oppa? Aigo. Yg bnar saja sist! Wkwk. Jadi dsni minnie jd anak kcil gtu? #kepo

    adegan kasur.a so sweet, jd inget BBF sist. Tp bguz ini. Ada kisseu.a, envy deh #plak

    ah iya, jika melanggar pantangan ada konsekuensi.a y? Gmna klu jihyun terjebak dlm pesona seorang cho kyuhyun n dia g mw plg? Abiz dr td bagian jihyun enak mulu, dpt ungkapan cinta dr sungie ama hyukie.. Tp te2p aj g kblez nado.. Huaa. Miriz skali.. 😐

    ah sist. Takut kmu g bca prkenalanku lg. Jd aku ulang ya. Wkwk

    annyeonghaseo.. Han Eunhye imnida.. My real name is anisah. Mannaseo.. Bangapseumnida.. 🙂

    jadi siapa nama aslimu sist?

    • hehe iya, ming jadi bebi unyuuuuu ><
      awas lo, entar iri deh wkwk
      hm gimana ya, entar deh, soalnya bagian kyu udah selesai, takutnya kalo di rubah nanti jadi berubah draft-nya dear
      iya anisa, aku udah baca kok perkenalanmu hehe, amaaf belum sempet bales yg pertama u,u
      namaku ayu dear^^

  2. Aaaa saya demen banget sama part ini kkk xD maaf ya baru komen hehehe 😀 hyukjae aaaaa aku mau dicium juga mumumu *nyodorin bibir* no comment buat hyuk disini xD aku mau melayang ke part selanjutnya ya xD ketemu si kecil sungmin u.u

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s