Baseball in Love (Part 6)

.

.

chochangevilkyu   

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM.Ent Inc.

Romance, Sport, Friendship   

Park Jihyun, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin

Teen 

By CHo

.

.

            Keningnya tergurat perempatan garis-garis. Matanya fokus di satu tujuan. Sedangkan tangannya bergerak gelisah. Maju dan mundur tak beraturan.

Beberapa kali ia menghela napas, harus di bilang berapa kali-pun ia tak akan bisa unggul. Walau otaknya berkapasitas tinggi, namun otak sebelah kanannya sangat miris.

Seseorang datang mengganggu. Wajahnya terlihat sebal, sedangkan kepalan tangannya di gunakan untuk menumpu dagu.

”Yak yak! Jalankan kudamu. Lindungi benteng, dan majukan pionmu! Dasar bodoh.”

Pria itu mendelik seram. ”Yak, apa kau bilang?! Kau bahkan tidak melihat papan caturnya!”

Gadis itu hanya menyengir menahan malu. ”Hehe. Habisnya hanya itu dari permainan catur yang kutahu Kyu.”

Pria paruh baya di depan Kyuhyun hanya mengulum senyuman penuh arti. ”Haish, sudahlah. Kenapa kalian ini selalu bertengkar. Ingatlah semua drama di televisi. Cinta di mulai dengan pertengkaran seperti ini.”

“Appa!”

Jihyun merengek manja, bibirnya mengerucut tidak suka. Ia paling benci jika harus di sangkut pautkan tentang cinta. Toh, dia juga masih terlalu muda untuk mengerti hal seperti itu.

“Skakmat!”

Serempak, Jihyun dan Ayahnya menoleh kompak. Mereka menatap Kyuhyun yang tertawa-tawa bahagia. Jihyun menatap papan catur. Ratu Kyuhyun memakan Raja Ayahnya.

“Yak Kyu! Kau curang, tadi aku melihat Ratumu masih di belakang, lalu menteri-mu nyaris dimakan kuda Appa. Yak! Kau memindahkannya ya!” seru Jihyun tak terima. Walaupun ia tak begitu cerdas dengan catur, namun pengetahuannya tentang permainan itu sudah mendarah daging.

Ayah Jihyun menatap Kyuhyun tajam, matanya yang bulat itu menyipit. Sedangkan yang menjadi objek target hanya tersenyum-senyum aneh lalu menggaruk-garuk kepala.

Kyuhyun terkekeh lalu menunjukkan v sign kedua jarinya. “Y-yak. Jangan menatapku seperti itu. H-habisnya kalian juga sedang sibuk seperti itu.” Kyuhyun membela diri.

Sedetik kemudian, Park Jungsoo sudah tertawa-tawa aneh, ia memegangi perutnya. ”A-astaga, kau masih sama seperti dulu Kyu. Bahkan, tak berubah sekalipun.”

Ya, setelah pertemuannya dengan Jihyun. Kyuhyun memutuskan untuk kembali ke Bambies Club. Saat ia kembali, semua orang sudah berhambur memeluknya. Seolah-olah ia sudah lama sekali ditunggu untuk kembali.

”P-paman.”

***

            ”Ayo hari ini kita pergi Ji.”

Jihyun cemberut, ia tahu betul kebiasaan sahabatnya. Mengajaknya pergi hanya kamuflase. Yang terjadi sebenarnya adalah Hyera ingin sekali menghabiskan waktunya berjam-jam di salon dan membenahi penampilannya.

”Tidak mau! Aku harus ke Club. Paman menyuruhku melatih mereka lagi.”

Bahu Hyera terkulai lemas. Ia sudah menduga itu jawaban yang akan Jihyun lontarkan. Walau sebenarnya, ia ingin sedikit menampik kenyataan itu.

”Yak, kau masa seperti itu. Kita ’kan baru saja menyelesaikan tugas tentang film itu. Harusnya sekarang kita ke Mall. Shopping, ke salon, berbelanja kosmetik yang banyak dan..”

Lanjutan kalimat Hyera hanya Jihyun anggap sebagai angin lalu. Dua hari sebelumnya, tugas tentang membuat film pendek telah mereka selesaikan. Jihyun mendapat nilai A+ dan juga mendapatkan beberapa hadiah dari dosen Jung. Sempurna.

”Park Jihyun! Kau tidak mendengarkanku lagi ya?!”

Tepat saat Hyera berteriak kesal, Sungmin muncul dengan senyuman manisnya. Ia menenteng tas besar. Nyaris memenuhi bahunya.

Ia tersenyum dan menunduk sopan. ”Halo gadis-gadis. Apa kabar kalian?” tanyanya. Hyera melongo, matanya tak beralih dari tatapan hangat seorang Lee Sungmin. Hyera sudah mengenal Sungmin, namun tetap saja, saat bertatapan dengan manik matanya langsung, membuatnya membeku di tempat.

”H-halo Oppa.” sapa Hyera tergagap. Bibirnya sudah menggumam-gumam penuh sensasi. Membuat Jihyun menahan mulas.

Sungmin tersenyum lalu melirik Jihyun yang menatapnya hangat. Selanjutnya yang terjadi adalah tangan Sungmin sudah menarik lengan Jihyun.

”Hyera-ah. Aku pinjam sahabatmu dulu ya. Kami pamit.”

Setelah berpamitan pada Hyera yang mengangguk semangat. Dengan lembut, Sungmin menggegam tangan Jihyun. Gadis itu membulatkan mata sambil mengikuti langkah Sungmin yang teratur.

”Oppa. Kita mau kemana?”

Sungmin hanya diam, ia menoleh sebentar lalu tersenyum misterius sebagai jawabannya.

”Oppa~” Jihyun merengek, ia nyaris menghentak tangan Sungmin namun urung saat pemuda itu menariknya lebih dekat agar berjalan bersisihan.

”Hust! Jangan jauh-jauh dariku. Nanti kau tersesat.”

Kemudian, selanjutnya yang terjadi adalah Jihyun marah-marah manja tidak jelas. ”Oppa!”

***

            ”Kyu.”

Kyuhyun mendongak, ia tersenyum kecil lalu mengedikkan dagu ke depan. Menyuruh orang itu untuk duduk di depannya.

”Hyung, restoranmu semakin keren saja.” kata Kyuhyun. Ia mengedarkan pandangannya meneliti. Sedangkan yang di ajak bicara hanya melirik sinis dan menahan amarah.

”Yak! Yak! Tak usah banyak bicara padaku! Dasar brengsek kau Kyu!” teriak Yesung garang. Ia menyenderkan punggungnya di kursi lalu melipat tangannya kesal.

Pemuda bernama Kyuhyun itu bukannya marah, malahan tertawa renyah. Ia memandang seseorang di depannya dengan pandangan evil. “Kau tak berubah juga Hyung, kau merindukanku ya?“

Yesung mencibir senyuman munafik Kyuhyun yang entah kenapa membuatnya sedikit senang. Jadi.. jadi ini semua bukan mimpi belaka. Terlalu nyata. Dan sangat hebat. Semuanya.. semua akan kembali seperti semula.

“Kau tahu? Bahkan selama tiga tahun ini aku, susah sekali untuk-“ Yesung menghela napas lelah sekaligus lega. “-membuat semua orang percaya pada kata-kataku Kyu.“

Kyuhyun mengangkat cangkirnya lalu perlahan menyesap hangatnya Frappuchino. Ia tak berusaha memotong kalimat Yesung. Karena, ia yakin, setelah kepulangannya, ada yang harus di jelaskan dan menjelaskan.

Yesung menatapnya hangat, tidak sinis ataupun marah seperti tadi.

“Nah, sekarang jelaskan padaku kenapa kau menyuruhku berbohong selama tiga tahun ini hah?! Kau tahu! Itu sangat sulit sekali bodoh!“

Tatapan Yesung yang hangat kini menjadi garang kembali. Sia-sia saja Kyuhyun membatin jika Hyung satunya ini sangat baik dan mudah sekali menyelesaikan masalah. Namun, itu hanya kiasan belaka.

Kyuhyun menghela napas. ”Hyung, aku..” Kyuhyun menunduk, ia menatap sepatunya yang mengkilat lalu tersenyum. Teringat saat susahnya membeli sepatu itu. Karena, Jihyun yang selalu saja protes saat di toko. Masalah model-lah, masalah seni dan terakhir, katanya seorang pitcher harus selalu keren. Benar-benar.

Ia mendongak lalu tersenyum kecut. “Kau tak tahu masalah yang sebenarnya kuhadapi Hyung. Sebenarnya ini bukan tentang apa dan kenapa. Hanya..” Tiba-tiba tangannya mengepal kuat. Lidahnya seolah kelu. Orang itu.. orang itu tiba-tiba saja bisa memasuki syaraf terkecil di otaknya.

Membuatnya kalah. Kalah telak jika tak sengaja mengingat kembali kejadian tersebut. Kejadian yang benar-benar membuatnya ingin membunuh orang itu sekarang juga.

Beberapa saat kemudian, ia terdiam, tak ingin melanjutkan perkatannya, karena semua ini terlalu semu untuknya. Ini harus segera di enyahkan, Kyuhyun tak mau kejadian masa lalu kembali merebak memasuki impuls di otaknya.

“Maaf Hyung, aku belum bisa menjelaskan semuanya. Mungkin nanti, waktu yang akan menjawab dengan detail sampai bahkan potongan terkecil sekalipun terendus sang waktu.”

***

            “Hiks.. hiks Oppa.”

Gadis itu menangis tersedu-sedu. Sapu tangan putih itu bahkan seolah-olah bisa diperas karena banyaknya kapasitas air yang di redamnya.

”Jihyun. Uljima.” Sungmin panik. Ia tak bisa berbuat apa-apa sejak setengah jam yang lalu setelah mereka berdua pergi dari tempat itu. Hanya berusaha menenangkan. Namun, gadis itu tetap saja menangis. Bahkan lebih keras.

Tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya membuat Sungmin malu. Taman yang terlalu ramai membuat mereka seakan menjadi pusat perhatian.

Jihyun yang menangis seperti itu. Dan Sungmin yang terlalu panik bahkan sampai-sampai kelewat cemas. Membuat orang-orang berpikir jika Sungmin adalah kekasih yang jahat.

Sungmin menatap Jihyun dengan cemas lagi. Ia menepuk-nepuk bahu Jihyun menguatkan. ”Sstt.. Uljima Hyunnie-ya. Astaga, lihatlah. Kita jadi pusat perhatian.”

Jihyun mendongak lalu menatap sekitarnya. Bukannya diam tetapi tangisnya makin menjadi-jadi. ”Hiks. Oppa, tapi, tapi ini huwaaaa. Jahat. Dia jahat Oppa!”

Helaan napas untuk meredam kesabaran sudah di lakukan Sungmin. Ia tak menyangka, bagaimana gadis yang begitu galak dan ambisius seperti Jihyun dapat bersedih seperti ini.

”Tapi itu ’kan hanya akting Hyunnie.”

Gadis itu setengah berteriak parau. ”Tapi Oppa! Kenapa pria itu meninggalkan gadis baik seperti Eonnie tadi! Harusnya dia tahu jika Eonnie itu mencintai dia. Bahkan aku juga benci sutradaranya! Kenapa film-nya harus sad ending Oppa?! Kenapa?!”

Itulah yang sejak tadi membuat Jihyun menangis tersedu-sedu, bahkan sejak setengah jam yang lalu setelah film itu habis, Jihyun masih saja menangis. Menyalahkan pria yang jadi pemain film. Menyalahkan sutradara. Sampai-sampai menyalahkan orang-orang yang menentang hubungan di dalam film itu.

”Iya, iya. Pria itu memang jahat. Semoga gadis tadi mendapat cinta yang lebih pantas ya. Nah, sekarang jangan menangis lagi. Ayo kita beli es krim.”

Sungmin berusaha membujuk gadis itu. Ia sudah amat sangat bersalah dengan tatapan orang-orang di sana. Terlebih saat gadis itu berteriak. Membuat ia, mau tak mau menjadi objek utama di taman ini.

Seketika tangis Jihyun terhenti, ia menatap Sungmin dengan pandangan polosnya. Lalu tiba-tiba tersenyum lebar. Mirip anak-anak.

Jihyun berdiri menunggu. “Ayo Oppa! Kita beli es krim!” seru Jihyun antusias. Ia menarik lengan Sungmin lalu menggoyang-goyangkannya manja. Seolah, tidak ada yang terjadi dari tadi.

Pemuda itu membulatkan mata tak percaya, namun beberapa detik selanjutnya sudah terkekeh pelan. Ia tak menyangka, menenangkan gadis seperti Jihyun hanya membutuhkan dua kalimat pendek.

Jika ia tahu, mungkin sudah sedari tadi pemuda itu menawarkan eskrim padanya.

Sungmin mengacak puncak kepala Jihyun lalu merengkuh telapak tangan gadis itu lembut. “Baiklah. Ayo kita pergi!”

***

            Tak!

Tak!

Tak!

“Yak yak yak. Cho Kyuhyun. Berhenti dulu. Kau membuatku kewalahan mengambil bola ini!”

Kyuhyun berbalik lalu menyunggingkan senyuman yang sulit untuk di definisikan. Antara kejam dan.. mengerikan?

Donghae yang melihat itu hanya bisa menelan ludah susah. Kenapa? Ludah itu hanya berupa air, tapi kenapa saat ini sukar sekali untuk di telan? Batin Donghae.

Pemuda itu berjalan menuju mesin pelempar bola. Dengan senyum miringnya ia menekan tombol berwarna merah itu menjadi mode ‘fast’. Kyuhyun lalu kembali ke tempatnya dan bersiap kembali dengan posisinya.

Ia menangkis bola-bola itu dengan mulusnya. Dan kini malah mengarahkan kepada Donghae. Donghae membulatkan matanya lalu dengan reflek melempar bola-bola yang habis di pungutinya.

Donghae berlari mengelilingi lapangan sambil berteriak. Sedangkan Kyuhyun malah tertawa-tawa penuh kemenangan melihat Hyung-nya yang satu ini kesulitan.

Setelah bola dalam mesin itu habis, Kyuhyun terduduk. Bat miliknya ia jatuhkan di samping tubuhnya. Ia mendongak lalu menatap langit biru yang cerah dengan senyuman.

”YA! Kyuhyun sialan! Badanku sakit semua tahu!” jerit Donghae. Ia berlari menuju Kyuhyun sambil mengelus-elus tangannya bergantian.

Kyuhyun hanya berdecih tanpa minat. Ia lalu merogoh ponselnya dan hendak menelepon seseorang. Rasanya ada yang kurang saat ia tak mendengar suara gadis itu. Gadis yang entah sejak kapan sudah menjadi topik nomor satu di otaknya.

”Kau berniat menelepon Jihyun?” tanya Donghae. Ia merebahkan diri di atas hamparan rumput yang lembut itu lalu menopang kepalanya dengan lengan. ”Tapi kusarankan ya. Jangan menelpon dia dulu. Jihyun sedang berkencan.”

Ucapan frontal Donghae membuat Kyuhyun menatapnya bingung sekaligus terdiam. Ponsel yang sudah menampakkan nomor Jihyun dan tombol berwarna hijau yang ada di layar itu seketika meredup.

Kyuhyun tak sengaja mematikan ponselnya kala ia tanpa sadar meremas ponsel itu.

Donghae yang tak kunjung mendapat respon itu mengalihkan pandangannya dari awan menuju Kyuhyun. ”Kau.. cemburu Kyu?”

Mata bulat Kyuhyun seketika melotot tak percaya. Ia berekspresi ’jangan-sok-tahu-bodoh’ pada Donghae. Sebenarnya iya, tapi tak ada di dalam kamusnya ia harus jujur. Memang, sejak kapan seorang Cho Kyuhyun jujur?

Kekehan dari Donghae membuat Kyuhyun mengernyit bingung. Terlihat pemuda itu berdiri, ia menepuk pundak Kyuhyun menyemangati. ”Kyu. Kau tahu? Kau bukan pembohong yang baik. Jika kau tidak bertindak cepat, gadis itu bisa saja di rebut orang lain. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini.”

Dan perkataan Donghae, membuat otak Kyuhyun berpikir rumit. Terlalu rumit.

’Benarkah?’

***

            Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Seseorang berusaha mengendap-endap memasuki sebuah rumah di kawasan elit perumahan yang cukup luas ini.

Ia melepas sepatunya lalu berjinjit masuk kedalam rumah. Lampu rumah masih menyala terang. Ruang tengah dan ruang televisi sudah sepi. Gadis itu menghela napas lega, lalu kembali berjingkat menaiki tangga.

Namun, saat kakinya akan beranjak menuju anak tangga pertama, deheman seseorang membuatnya berhenti. Jantungnya tiba-tiba berdegup cepat tak karuan. Ia cemas sekaligus takut.

Derak kaki orang itu semakin mendekati objek target –Jihyun. Jihyun mendekap sepatunya saat langkah itu tak terdengar lagi.

Orang itu menyentuh bahu Jihyun lalu membaliknya. Belum sempat menetralkan kadar jantungnya. Ia sudah mati-matian menutup mata rapat-rapat. Takut jika Ayahnya akan memarahi dirinya habis-habisan.

”Park Jihyun.”

”Eh?”

Gadis itu membuka mata pelan-pelan. Saat kedua almond-nya sudah terbuka sempurna. Ia menghela napas lega berlebihan.

”Aish Cho Kyuhyun. Kau membuatku kaget.” ujar Jihyun sambil terkekeh lalu menyentuh pundak Kyuhyun sok akrab dan menepuk-nepuknya.

Kyuhyun menatap tangan Jihyun yang berada di pundaknya lalu kembali melayangkan tatapan menuntut pada Jihyun. ”Jelaskan padaku. Kau dari mana?!”

Nada Kyuhyun terkesan dingin. Ia menatap Jihyun tajam. Tawa Jihyun seketika berhenti. Ia memiringkan kepalanya bingung. ”Kyu, kenapa suaramu dingin begitu padaku?”

Bukannya menjawab, Kyuhyun malah mencengkram bahu Jihyun. Membuat gadis itu tak sengaja menjatuhkan sepatunya. ”Jawab aku Park Jihyun! Kau tahu ini jam berapa hah?!”

Jihyun melihat Kyuhyun dengan pandangan tak tahu apa-apa. ”Kyu, kau ini kenapa huh?! Aku hanya bermain bersama Sungmin Oppa!” jawab Jihyun lantang.

Gadis itu mati-matian menahan air mata. Ia nyaris menumpahkan tangis saat Kyuhyun semakin mencengkram bahunya kasar.

”Cih,” Kyuhyun berdecih sinis. ”Dan kau tahu? Sedari tadi Paman mencarimu. Ia mengira putri satu-satunya masih kuliah. Ternyata, dia bahkan pergi dengan seorang pria tidak jelas sampai malam begini!”

Jihyun berteriak tidak suka. Ia melayangkan tatapan tajam pada Kyuhyun. ”Namanya Sungmin Oppa! Dia baik! Dan jangan pernah membicarakan dia seperti itu. Dia bukan orang lain, dia temanku!”

”Teman?! Jika begitu, dia pasti bisa tahu diri Park Jihyun!” Kyuhyun menaikkan lagi nada suaranya.

Tangis Jihyun pecah. ”Cho Kyuhyun. Kau tahu ’kan! Aku benci dibentak! Kenapa kau marah-marah padaku!”

Pemuda itu terkesiap. Ia melepas cengkramannya lalu mundur satu langkah. ”Ji.. maafkan aku.”

Jihyun memandangnya ketus. ”Kau jahat! Aku benci padamu Kyu. Aku.. aku kira kau temanku yang baik.” Ucap Jihyun. Suaranya mulai melemah. Gadis itu menekan dadanya. Terasa sakit.

“Ji..” Kyuhyun hendak menahan gadis itu. Namun, tidak jadi saat dia kembali menatap air mata yang merebak di pelupuk mata Jihyun dan mengalir menuju pipinya. Ia telah.. membuat gadis yang ia cintai ketakutan padanya.

”Kyu, kau membuatku takut.”

Kyuhyun menunduk. Ia merasa bersalah. Ia hanya terlalu mengkhawatirkan gadis itu. Tetapi, kenapa malah dirinya sendiri yang jadi pusat permasalahan.

Saat Jihyun akan menaiki tangga, dengan cepat Kyuhyun menahan lengan gadis itu lalu menariknya dalam pelukan.

Ia hanya terlalu merasa bersalah.

“Maaf..” Suara Kyuhyun tercekat parau. ”Maafkan aku Ji. Maafkan aku. Aku mohon jangan takut padaku.”

Isakan gadis itu sedikit mereda, ia membalas pelukan Kyuhyun lalu menenggelamkan wajahnya di bahu bidang Kyuhyun. ”Jangan.. jangan membuatku takut lagi Kyu. Kau menyeramkan jika marah. Maafkan aku jika aku membuatmu marah.”

Lihat Kyuhyun? Bahkan gadis itu dengan mudahnya memaafkanmu. Ia tak mengungkit masalah tadi. Dan dia malah meminta maaf padamu. Gadis itu terlalu baik.

Kyuhyun tersenyum, ia mengeratkan pelukannya. Mengusap rambut gadis itu lalu mengendus aroma cendana dan kismis merah dari tubuh Jihyun. Berusaha memasukkan aroma itu ke dalam list terindah di dalam otaknya.

”Ya, maafkan aku Ji. Aku terlalu-” Kyuhyun terdiam sebentar, sayang padamu dan mencintaimu. Tak ingin orang lain yang berada di sampingmu, hanya aku.. aku seorang.

Cho Kyuhyun, kenapa kau sangat pengecut. Kenapa kau memilih membatin dalam hati? Kenapa?

”-peduli padamu.”

***

            ”YA! Lee Hyukjae. Fokuslah! Jangan melamun terus!”

Eunhyuk yang mendapat teguran dari sang Manager hanya bisa menghela napas kesal. Terang saja, sedari tadi dirinya memang selalu kena dampratan dari Park Jihyun.

Bukan hanya dirinya, namun semuanya. Bahkan Kyuhyun yang notabenenya tak melakukan kesalahan padanya juga terkena semburan gadis itu.

Sepertinya Manager mereka sedang dalam mood yang buruk.

Jihyun duduk di bangku dengan kesal. Buku yang selalu di bawanya ia jatuhkan dengan kasar di sebelahnya. Ia terlalu lelah hari ini.

Pasalnya, hari pertandingan akan segera di laksanakan, dan Kim Samchon terus-terusan mendorongnya untuk melatih mereka dengan serius. Tanpa memperdulikan keletihan Jihyun.

Akhir-akhir ia merasakan tubuhnya terlalu cepat lelah. Tugas yang menumpuk dan beban pikiran terus menerus mendatanginya. Seolah-olah mencoba mempermainkannya. Terlebih kemarin, ia yang tak mengerti apa-apa, terkena marah oleh Kyuhyun.

Isotonik bervitamin melayang di depannya. Ada tangan yang menjulur menawarkannya minuman.

Perlahan Jihyun mendongak, ia tersenyum saat melihat orang tersebut.

”Nona Manager hari ini sepertinya sedang mengalami hal buruk.”

Jihyun mengambil isotonik itu lalu membuka dan meminumnya dengan rakus.

”Yak, yak pelan-pelan Hyunnie.” tegur Yesung. Ia memandang Jihyun dengan tatapan tak percaya.

Gadis itu mengelap mulutnya lalu menatap Yesung dengan pandangan sayu. ”Oppa. Apa aku ini bukan Manager yang baik?” tanya Jihyun pelan.

Almondnya beralih memandang pemainnya yang sedang tertawa-tawa di lapangan. Tanpa sadar, ia tersenyum saat melihat tingkah konyol Eunhyuk dan Donghae yang sedang berebutan handuk.

Yesung tersenyum lalu mengacak rambut Jihyun lembut. ”Sepertinya aku berhutang satu cerita padamu Hyunnie.”

”Eh?”

Sebelum Jihyun sempat protes, Yesung dengan gesit menariknya. Ia nyaris saja terhuyung, namun dengan cepat ia menegakkan pijakannya dan melirik was-was jari-jari tangannya yang diremas Yesung.

”Yak! Kim Jongwoon. Kau mau membawaku kemana?!”

Pria itu berhenti mendadak, membuat kepala Jihyun bertabrakan dengan punggung Yesung di depannya.

Yesung berbalik lalu tersenyum misterius.

“Sesuatu yang akan mengubah pandanganmu.“

TBC

Author’s Note

Annyeong! Mianhae, Cho ngaret banget buat lanjutin ff ini. Maaf yang udah lama nunggu *ih sapa juga yang nunggu *killed T.T

Mungkin nyaris 3 bulan aku belum lanjutin ff ini. Dan akhirnya jeng jeng. Cho buat chapter ini.

I’am sorry if this chapter make you borred or this fic very weird T.T

Soalnya hampir lupa dengan cerita ini *plak jadi baru akhir-akhir ini fokus sama yang ini. Padahal ff yang lain juga terbengkalai *Eh curhat u,u

Sekali lagi, terimakasih yang udah baca ya, aku seneng banget lo ada yang mau baca ff aneh aku ini 😀

Tunggu selanjutnya ya, mungkin bakal ada konflik yang lain kkk~

Thankseuuuu:3

 

Iklan

46 responses to “Baseball in Love (Part 6)

  1. Klw konfliknya br muncul sekarang,berarti masih jauh dari end dong,?bukannya lebih enak klw ad yang dibikin end jd sedikit berkurang,, apa gak bingung mau lanjut yg mana karna bnyak yang di pending..?

  2. Sist, aku jg sempat lupa sama crita.a.. Apalagi d awal ada yg main catur #lirik kyu
    wkwk
    tp mulai pham bgtu baca paragraf” slanjut.a.. Cukup aneh mnurutku #plak,
    aku g pham sama sesuatu yg d smbunyikan kyu itu, apa masalah sbenar.a c? #tanya ke yesung oppa #mana gw tw! Tanya author.a noh!:-|
    LOL

    next sist. Kami smua menunggu 🙂 fighting!

    • hehe halo dear, ketemu lagi sama commentmu! seneng banget deh kalo liat commentmu yang panjangnya se…. -_- wkwk
      iya nih emang aneh juga menurutku 😮
      cie mau tahu? aku aja juga gatau *iniapa T.T
      tanya deh sama abang hyuk… *hening
      terimakasih udah mau baca ya, ganyangka banyak yang nunggu :’)

      • Hehe #nyengir. Gumawo sist. Aku jg seneng bisa membaca ff karyamu d sini.. 🙂

        lah qo tanya abang hyuk? #sbenar.a siapa author.a? LOL

        cheonma B-)

  3. wedeeeeew
    Kyu ah gak asik
    org yg susah jujur tu gtu lah hahaha

    errrr konfliknya mmng blm ada dri part2 awal
    yeah d tggu konfliknya(?) hahaha

    EunHae
    dimana2 ada EunHae lalalala
    aku senang wkwkwk
    KyuEunHae always DAEBAK
    hahaha

    eeeh apa tuh yg bkal ngerubah pandangan
    pandangan terhadap apa ??
    lalala d tggu aja deh next nya kkkk

    • iya, mana ada evil jujur *digetok sparkyu -_-
      abisnya cho juga bingung mau kasih di bagian mana konfliknya, jadi maaf jika gak sesuai yang di inginkan ya dear *nunduk2 bungkuk(?)
      wkwk, tapi menurutku kerenan KyuHyuk moment, apalagi hyuk sering ngalah wkwk
      terimakasih sudah mau baca dan selamat datang ya^^

  4. Hoho cie yang cemburu ??(??? ??). Lho, jihyun takut dibentak? Dia phobia? :/
    Cara nulis eonni yang dulu sama sekarang keliatan beda deh ^^ biasanya aku baca ff yang baru baru pas baca yg lama berasa beda penulis : p tapi makin lama makin bagus alur cerita sama penjabaran kata katanya ^^
    Daebakk!/

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s