Thir13een Parfume Volume 4

Percaya atau tidak.

Setiap benda itu mempunyai sesuatu yang bersemayam.

13 Parfum pembawa keajaiban.

Membawamu ke tempat yang tak kau duga.

Tetapi jika kau melanggar pantangan, ada konsekuensi tersendiri.

.

.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM. Entertainment

Family, AU, Fantasy

Sungmin, Shindong, Park Jihyun

PG-15

Art Chevelleanne

Inspired by @heenimk “Creepy K12S”

.

.

thir13teen-parfume-chochangevilkyu

            “J-jadi, ini masa lalu Lee Sungmin? Heh? Jadi, aku bisa melihat wajah imutnya saat kecil? Kyaaaa.”

Gadis itu saat ini tengah berteriak senang di tengah padatnya taman. Tak memperdulikan gumaman atau cibiran orang-orang yang melewatinya.

”Ah, ponsel. Aku harus menghubunginya.”

Jihyun merogoh kantung kemejanya, lalu beralih ke celana jeans yang ia kenakan.

“Ah ini dia. Em nomornya..” gumamnya sambil mengetik nomor itu dalam ponselnya. Lalu meletakkan di telinga kanannya.

Berdehem sejenak.

“…”

“Ya, halo. Eung apakah ini kediaman keluarga Lee?” tanya Jihyun ragu-ragu.

“…”

“Ah, Saya ingin melamar pekerjaan menjadi baby sitter-nya Lee Sungmin putra Anda.”

“…”

“B-benarkah? Bisa?”

”…”

”Ah ya. Pasti Saya nanti kesana. Maaf, jika boleh tahu alamatnya dimana?” sembari gadis itu mencatat alamat tersebut di ponselnya.

”Baiklah, terimakasih Nyonya.”

Click

Wajah Jihyun saat ini tengah berbinar binar bahagia. Terlebih karena, ia akan bertemu Sungmin. Salah satu pria terimut di dunia. Begitu menurutnya.

”Semangat Park Jihyun!”

***

            ”Astaga rumah ini besar sekali.”

Jihyun telah sampai di kediaman tempat tinggal Sungmin. Dirinya kembali terperangah saat melihat bangunan besar didepannya. Setelah melihat mansion besar Hyukjae, kini ia harus dihadapkan dengan rumah besar milik orangtua Sungmin.

Click

Jihyun memencet tombol intercom. Menunggu sang empunya rumah menjawab panggilannya.

”Ya?” tanya seseorang dibalik interkom dalam.

Jihyun menunduk. ”Ah Saya orang yang menelepon tadi. Ingin melamar pekerjaan menjadi baby sitter.”

”Ah ye. Tunggu sebentar Nona.”

“Ya, Nyonya.”

Cklek

Tampak seorang wanita paruh baya dengan dress glamour bertahtakan ukiran bunga-bunga yang memenuhi dress itu. Jika boleh menyimpulkan, pasti wanita itu akan pergi arisan. Semacam Ahjumma yang sibuk.

“Nona Park Jihyun?”

Jihyun mendongak, lalu menunduk kecil. “Ya Nyonya Lee.”

Ahjumma itu tersenyum simpul lalu menyentuh bahu Jihyun lembut. “Tidak perlu terlalu formal. Panggil Saya Ahjumma saja ya?”

Jihyun tersenyum sedikit. Menunjukkan kegugupan yang kentara. “Ya Ahjumma.”

”Ah jika begitu. Mari masuk dulu, akan Ahjumma tunjukkan kamar putra Ahjumma.” ucap Ahjumma itu lalu mempersilahkan Jihyun masuk.

Kembali. Gadis itu terperangah kagum saat melihat rumah ini. Aksen Victorian sangat mendominasi ruangan ini. Terlihat mewah beradu klasik. Layaknya rumah bergaya di film-film yang sering ia tonton.

”Nah ini kamar Sungmin, silahkan masuk Jihyun. Ahjumma harus pergi dulu. Jaga malaikat Ahjumma baik-baik ya. Ah dan satu lagi, Sungmin itu terlalu hiperaktif. Jadi, hati-hati jika bermain dengan malaikat kecil Ahjumma ya.” ujar Ahjumma itu pelan. Lalu tersenyum misteri. Menimbulkan jejak-jejak pikiran yang aneh di otak Jihyun.

Setelah Ahjumma itu pergi. Jihyun dengan pelan membuka pintu yang bertuliskan ’Lee Sungmin Kyeopta’ di pintunya. Decitan pelan membuat suasana terdengar menyeramkan. Padahal, sebelumnya Jihyun sangat menanti-nanti saat ini. Tetapi, atas pernyataan Ahjumma tadi, membuat sedikit demi sedikit pikiran ganjil beterbangan di otaknya.

”Halo Lee Sung-”

Sekejap, ucapan Jihyun terhenti saat tiba-tiba sebuah bola karet meluncur bebas ke wajahnya. Membuat lenguhan lirih dari bibirnya.

”Yak Ahjumma siapa?” tanya suara cempreng itu.

Jihyun mengerjapkan matanya, membuat ia bisa melihat dengan jelas bagaimana suasana kamar yang di dominasi warna pink ini. Sangat berantakan, mainan berserakan dimana-mana, bahkan ada baju yang menggantung di jendela. Benar-benar tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

”YA!”

Jihyun menunduk, melihat Sungmin kecil berada dibawahnya, dengan memegang sebuah pesawat-pesawatan. Gadis itu merosot, mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Sungmin.

’Astaga sangat imut,’ jeritnya dalam hati.

”Noona ini baby sitter barumu Sungmin-ah, astaga kau sangat manis.” ujarnya girang. Mengelus lembut pipi chubby Sungmin.

Sungmin mendengus, lalu menyentak tangan Jihyun. ”Kan Sungmin sudah bilang. Sungmin tidak butuh Ahjumma baby sittel. Sungguh menyusahkan.” gerutunya kesal. Lalu berbalik dan menuju playstation-nya.

”Memang wajahku seperti Ahjumma?” gumam Jihyun. Gadis itu mendengus sebentar. Lalu menarik napas. Berusaha menetralkan kekesalan yang telah menumpuk di ubun-ubunnya. Ia berpikir, memang benar, Sungmin sungguh nakal. Berbeda dengan di dimensi Jihyun.

”Sungmin sayang. Jangan begitu ya, Noona ’kan hanya ingin menjadi teman Sungmin.” ujarnya lalu duduk di sebelah Sungmin yang sedang sibuk dengan mainannya. Tanpa menggubris ucapan Jihyun.

Tiba-tiba Sungmin berteriak, membuat Jihyun berjengit. ”Yak ini gala-gala Ahjumma. Aku kalah ’kan!” pekiknya kesal lalu menatap Jihyun garang.

Jihyun mendesah pelan. ”Sungmin-ah, panggil Noona ya, jangan panggil Ahjumma. Dan satu lagi, ini juga bukan salah Noona. Sungmin saja yang mungkin kalah.” katanya bijak.

”Shilleo! Ahjumma jelek. Pelgilah sana. Sungmin tidak membutuhkan Ahjumma.”

Sungmin kecil mendorong-dorong Jihyun keluar dari kamar. Saat telah sampai didepan pintu, bocah kecil itu menjulurkan lidahnya dan membanting pintu dengan cukup kuat. Hingga, nyaris wajah Jihyun terantuk pintu jika saja gadis itu tidak mundur.

”Yak dasar setan kecil! Menyebalkan!” teriak Jihyun.

***

            Sudah seminggu Jihyun berada di rumah keluarga Lee. Tentu saja menjadi baby sitter Sungmin. Dalam seminggu itu, dirinya juga tak pernah absen dari kejahilan anak setan tersebut. Mulai dari mencoret-coret wajahnya saat Jihyun sedang tidur, menjadikan dirinya kuda-kudaan. Lalu yang lebih parahnya, memasukkan kecoak di gelas minumannya. Benar-benar setan kecil kurang ajar yang ’sungguh amat sangat hiperaktif.’

”Hah, lelah sekali. Kenapa sih Ahjumma itu harus membuat Sungmin kecil. Kenapa tidak Sungmin saat sudah besar. Benar-benar menyusahkan.” gerutu Jihyun. Gadis itu menguap beberapa kali, lalu merentangkan tangannya, hingga terdengar tulang-tulang berbunyi. Menandakan kelelahan yang amat sangat.

Saat ini Sungmin kecil sedang tidur. Setelah sebelumnya Jihyun membujuk Sungmin mati-matian, bahkan gadis itu rela menjadi jalanan untuk mobil-mobilan Sungmin.

Perlahan mata Jihyun mulai meredup. Sangat mengantuk, hingga tanpa sadar membuat ia terlelap di pinggir ranjang Sungmin.

Saat dirasa Jihyun sudah tak bergerak. Sungmin kecil terbangun, dengan menimbulkan gerak yang perlahan-lahan. Bocah kecil itu ternyata hanya berpura-pura tidur.

Sungmin menggoyangkan telapak tangannya di wajah Jihyun. Mengecek apakah baby sitter-nya benar-benar tertidur atau tidak. Setelah dirasa Jihyun benar-benar tidak terusik, dengan segera Sungmin menuruni ranjang itu lalu bermain dengan mobil-mobilannya. Agak jauh dari tempat Jihyun.

”Hah membosankan. Ahjumma tidak selu, lalu Sungmin halus belmain dengan siapa?” gumamnya kecil. Lalu mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamarnya. Ia berpikir, karena Jihyun itu bekerja disini, kamarnya tidak kotor lagi. Malah sangat bersih. Berbeda dengan pertama kali Jihyun menginjakkan kaki kedalam kamar ini yang sungguh sangat kotor.

Sungmin kecil mendengus sebal. Terasa sepi karena Ahjumma-nya tidak menemani dirinya bermain. Perlahan, ia mendekat ke arah Jihyun. Melihat wajah polos Jihyun membuat Sungmin sedikit membulatkan matanya.

“Ahju- ah maksud Sungmin, Noona noemu yeppeo.“ gumamnya pelan. Sungmin terkekeh halus. Melihat wajah baby sitter-nya yang seperti itu, membuat ia sedikit merasa bersalah. Pasalnya, Sungmin telah membuat Jihyun lelah dengan tingkahnya selama ini. Membuat guratan samar terlukis di keningnya. Mungkin itu disebabkan pusing yang menyerang Jihyun di saat Sungmin selalu membuatnya kesal.

“Noona, maafkan Sungmin. Sungmin janji akan menjadi anak baik. Sungmin sayang Noona.”

Setelah itu, Sungmin mengambil setangkup selimut pink lalu di telungkupkan ke tubuh Jihyun. Berusaha membuat Jihyun hangat.

”Jaljjayo Noona yeppeo.” ucapnya pelan lalu mencium pipi Jihyun. Kembali ke ranjangnya lalu memejamkan mata dan tidur.

***

            ”Ahjumma! Illona palli! Sungmin lapal.”

Sungmin kecil menggoyang-goyangkan tubuh Jihyun yang tertidur di samping ranjang. Bocah kecil itu terbangun saat dirasa perutnya memberontak kuat.

”Ahjumma~” rengeknya. Sungmin semakin rusuh menggoyang-goyangkan tubuh Jihyun. Namun, saat tangan mungilnya tak sengaja menyentuh pipi Jihyun, dirinya sedikit terkesiap.

Sungmin menyentuh pipinya, lalu membandingkan dengan pipi Jihyun. Bocah kecil itu kaget saat dirasa suhu tubuh Jihyun panas.

”Ahjumma, Ahjumma sakit? Ahjumma~”

Lenguhan kecil menguar dari bibir tipis Jihyun. Gadis manis itu terperanjat saat menemukan Sungmin di atas ranjang dengan linangan air mata.

”Sungminnie, kenapa menangis? Uljima.” Jihyun menepuk-nepuk lengan Sungmin. Meredakan tangisan anak itu. Walau rasanya, kepala itu terasa pusing dan berdenyut hebat.

”Noona panas. Apa kalena Sungmin?” tanyanya polos. Membuat senyum simpul tersirat di wajah Jihyun. Selebihnya, karena Sungmin kecil itu akhirnya memanggil dirinya dengan Noona.

”Tidak, Noona baik-baik saja. Tetapi, sepertinya Noona sakit karena tertidur di lantai.” jawab Jihyun pelan disertai usapan lembut di kepala Sungmin.

Tiba-tiba Sungmin kecil menarik-narik lengan Jihyun. Mengisyaratkan supaya gadis itu untuk naik. ”Noona, Noona tidul disini ya, Sungmin bilang sama Umma dulu. Sungmin mau minta obat. Noona tidul disini.”

Segera, Sungmin berlari ke luar kamar. Mencari Ibunya untuk meminta obat.

Tubuh Jihyun yang lemah, hanya bisa menuruti keinginan Sungmin. Gadis itu memandang nanar bayangan Sungmin yang telah menghilang.

”Bocah kecil itu tidak sepenuhnya menyebalkan.”

***

            Jihyun telah tertidur setelah makan dan minum obat. Ibu Sungmin mengompres dahi Jihyun dengan telaten. Sedangkan Sungmin, ia lebih memilih duduk di sofa di sudut kamarnya.

Setelah Ibu Sungmin selesai, ia berjalan menghampiri putranya yang diam. ”Sayang, kenapa diam? Tenang saja, Noona akan baik-baik saja. Jangan khawatir.” Ibu Sungmin memeluk erat putranya. Baru kali ini Sungmin bertingkah seperti ini. Seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Terakhir, Sungmin diam seperti ini saat anak itu kehilangan mainan kesayangannya.

Ibu Sungmin merasa senang saat merasa malaikat kecilnya ini telah berubah menjadi anak yang penurut. Sebelum-sebelumnya, anak itu tak pernah sepenurut ini jika berhadapan dengan orang lain.

”Umma, Sungmin ingin sendili. Umma bisa kelual?” tanya bocah cadel itu. Bukan maksud ingin mengusir. Hanya menenangkan diri.

Wanita paruh baya itu mengangguk setelah sebelumnya mengusap pelan kepala Sungmin.

Pandangan Sungmin hanya tertuju satu arah. Bukan memikirkan karena ranjang kesayangannya itu dihuni orang lain. Karena dirinya saat ini merasa bersalah. Bersalah pada Noona-nya.

Sungmin kecil beranjak dari sofa lalu menaiki ranjang. Mengambil handuk kecil yang berada di kening Jihyun lalu memasukkannya ke baskom dan memerasnya.  Mengganti dengan air yang baru. Menempelkan ke dahi Jihyun.

”Noona, Noona cepat sembuh. Sungmin sayang Noona. Noona jangan sakit. Kalau Noona sakit, Sungmin belmain sama siapa?” Tiba-tiba air mata Sungmin mengalir dari pelupuknya menuju pipi chubby miliknya setelah sebelumnya dia mencium pipi Jihyun. Ia berinisiatif untuk membantu penyembuhan Jihyun. Namun, tidak mengetahui caranya.

Tiba-tiba sekelebatan ide mengambang di otaknya. Sungmin kecil tidur disamping Jihyun. Mengaitkan lengannya pada pinggang ramping Jihyun lalu membenamkan wajahnya di leher Jihyun. Memeluk erat Jihyun.

”Semoga Noona cepat sembuh. Sungmin sayang Noona.”

Lalu Sungmin menutup mata. Dan tanpa Jihyun sadari, dirinya kini telah menipis. Memudar dengan perlahan-lahan. Dan akhirnya menghilang.

***

            ”Sayang, irrona palli, apakah kau tidak ingin ikut tamasya hari ini?”

Seorang wanita paruh baya mengguncang pelan tubuh Jihyun. Membuat Jihyun sedikit mengerang.

”Eung ya Ahjumma?”

PLETAK

”YA! sakit.”

Wanita itu bergumam gemas. Bisa-bisanya putri semata wayangnya menganggap dirinya seorang Ahjumma.

“Dasar anak nakal. Aku ini Ummamu. Cepat bangun, Appa akan mengajak kita piknik Jihyunnie.“

Jihyun mengerjap-ngerjap. Kini dirinya bingung dengan keadaan ini. Semula, ia sedang dalam keadaan sakit dan samar-samar mendengar suara tangisan Sungmin. Namun, saat terbangun. Kenapa nuansa kamar ini berubah menjadi warna abu-abu muda?

“Ah Umma. Sungmin dimana?“ tanya Jihyun. Saat ini dirinya sudah sepenuhnya terbangun.

Wanita itu memutar bola matanya lalu mencubit gemas pipi Jihyun. ”Sungmin siapa? Aish, sebaiknya kau segera mandi dan cuci otakmu yang aneh. Umma dan Appa tunggu diluar.” katanya. Meninggalkan Jihyun yang masih dalam fase keheranan.

”Umma? Appa? Lalu saat ini aku akan bertemu dengan siapa?” gumamnya. Lebih tepatnya, bertanya pada diri sendiri.

Lalu saat mengedarkan pandangannya. Ia tak sengaja menemukan sebuah botol kecil di atas meja riasnya. Sedikit bercahaya karena terpantul sinar matahari pagi.

Ia beranjak dari ranjang lalu mengambil benda itu. Yang ternyata Hernes’ 24 Faubourg. Dengan aroma klasik yang begitu kuat.

Jihyun mengendus tubuhnya. Aromanya persis dengan aroma parfume yang saat ini tengah di pegangnya.

”Jangan-jangan, Appaku adalah salah satu member Super Junior?!”

***

            Saat ini Jihyun tengah berdiri di depan cermin sebesar dirinya. Mengenakan dress soft blue menambah kesan manis dan feminim baginya.

”Kira-kira sekarang giliran siapa ya?” gumam gadis itu seraya meletakkan jari telunjuknya ke dagu. Lebih tepatnya kebiasaan saat berpikir.

Tok. Tok.

Jihyun berbalik, lalu membuka pintu. ”Y-”

Gadis manis itu terkesiap, matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka. Mengekspresikan pandangan tak wajar.

”Sayang, kenapa nak? Apa Appa terlalu tampan?” tanya pria paruh baya itu lalu terkekeh pelan.

Jihyun menggeleng cepat-cepat. ”A-appa?”

Pria itu mencubit gemas pipi Jihyun. ”Ish, Appa tahu Appa ini tampan. Tapi, sekarang lebih baik kita segera turun. Appa tunggu dibawah sayang.”

Jihyun masih menggeleng, lalu dilanjutkan dengan anggukan beruntun. Menepuk pipi dan mencubit pelan lengannya.

”Shindong Super Junior? Sangat tampan! Tubuhnya sungguh berotot. Ia adalah Appaku? Jadi ini masa depan Shindong?!”

***

            Rumah yang Jihyun tempati saat ini tidak begitu besar. Namun, sarat akan kehangatan. Mempunyai kedua orang tua yang akur. Sungguh keluarga idaman semua orang.

”Sayang, kenapa diam saja? Biasanya Jihyun paling semangat jika kita piknik bersama?” celetuk Jihyun Umma tiba-tiba.

”Ya?”

Jihyun Umma tergelak sesaat setelah melihat wajah polos Jihyun dari kaca spion ditengah-tengah yang tepat berada di atasnya.

”Lebih baik Jihyun tidur dulu, nanti Umma bangunkan jika sudah sampai. Sepertinya kamu masih lelah sayang.”

Jihyun mengangguk pelan. Lalu lebih memilih melihat pemandangan di luar mobil. Hari ini cerah, sangat pas melakukan liburan seperti ini. Tiba-tiba Jihyun teringat Mommy dan Daddy’nya dirumah. Bagaimana kabar mereka? Apa mereka baik-baik saja? Apakah mereka kelimpungan mencari Jihyun? Dan Daigo Oppa, bagaimana nasib orang itu?

***

            Awan cerah, tanpa katupan gelap yang terlukis. Membuat taman yang mereka singgahi terlihat sedikit ramai dengan banyak keluarga yang juga menghabiskan waktu di Minggu yang sangat cerah ini.

”Umma, tikarnya mana?” tanya Jihyun. Gadis itu kini tengah tenggelam di dalam kebahagiaan keluarga barunya.

Jihyun Umma menunjuk barang itu dengan dagunya. Maklum, saat ini dirinya tengah menyiapkan beberapa makanan.

”Appa, bantu Jihyun membuka tikar. Ish ini susah sekali.” decak Jihyun kesal. Karena sedari tadi dirinya tak bisa membuka tikar. Malah, tangan mungilnya yang terperangkap didalam tikar.

Shindong Appa terkekeh sejenak. Lalu mengusap kepala Jihyun sayang, ”Dasar princess Appa yang manja.” celetuknya. Membuat hati Jihyun terasa menghangat. Gadis itu jadi teringat belaian Daddy’nya yang entah terakhir sejak kapan.

Mereka berdua menggelar tikar dengan di iringi candaan. Sesekali Jihyun menggoda Shindong Appa dengan menarik sudut tikarnya. Membuat Appanya mendengus sebal.

***

            Mereka bertiga terlihat seperti keluarga yang bahagia. Ah, bukan seperti. Tetapi memang keluarga yang bahagia. Menikmati keadaan sore hari, saat matahari ingin kembali ke peraduannya.

”Jihyun senang?” tanya Shindong Appa. Jihyun menoleh lalu mengangguk semangat. Ia menumpukan kepalanya di pundak Shindong Appa. Dan sebelah tangannya memeluk erat lengan Jihyun Umma.

”Umma, Appa. Jihyun sayang pada kalian. Sangat sayang.” ucapnya tiba-tiba memecah keheningan. Serempak mereka berdua menoleh. Lalu bersama mengecup puncak kepala gadis itu.

Senyuman tak pernah pudar dari bibir mungil Jihyun. Seolah, hari ini ia bisa sejenak melupakan misinya. Rasanya ingin selamanya bersama keluarga ini. Sungguh hangat dan menyenangkan.

”Ah mataharinya akan tenggelam.” pekik Shindong Appa. Membuat Jihyun Umma dan Jihyun serempak melihat langit.

”Ayo kita hitung detik-detik terakhir matahari itu akan bersembunyi!” celetuk Jihyun Umma nyaris berdendang. Membuat mereka bertiga mau tak mau tergelak bahagia.

”Lima.”

”Appa, Umma, bisakah kalian memelukku?” tanya Jihyun disela-sela penghitungan tenggelamnya matahari. Tanpa disuruh-pun mereka pasti mau melakukannya.

”Empat.”

Jihyun Umma memeluk Jihyun terlebih dahulu, wanita paruh baya itu mengusap rambut Jihyun dengan lembut. Shindong Appa terlihat tersenyum simpul. Menyaksikan kehangatan keluarga yang ia miliki. Bahkan ia berpikir, akan menggadaikan apapun, asal satu keluarga tetap bersama selamanya.

”Tiga.”

Kini, giliran Shindong Appa yang memeluk Jihyun. Menenggelamkan wajah manis gadis itu ke dadanya. Sama seperti Jihyun Umma, Shindong Appa juga mengusap sayang rambut Jihyun. Tipe ayah yang sangat baik.

”Dua.”

Saat ini, mereka berdua memeluk Jihyun. Memposisikan putri kesayangan mereka ditengah-tengah. Sedangkan gadis itu, berusaha menahan desakan yang akan keluar dari pelupuk matanya.

”Satu.”

Jihyun memejamkan mata. Dirinya mencoba bersiap akan merasakan lagi kehilangan yang sungguh di bencinya.

”Appa dan Umma sayang Jihyunnie.”

Setelah kalimat manis yang keluar dari mulut Shindong Appa. Jihyun merasakan kembali dirinya serasa ringan. Tubuhnya bagaikan kapas. Dan dengan kerjapan mata terakhir yang akhirnya membuat air mata itu menetes, Jihyun akhirnya perlahan memudar. Menimbulkan efek yang menghantam dadanya. Sakit.

Terakhir, menghilang. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari sore. Temaram yang mengantar Jihyun untuk menghilang dari tempat itu tanpa jejak.

TBC

Iklan

16 responses to “Thir13een Parfume Volume 4

  1. Hoho, sungmin kecil, neomu kyeopta! Aigo.. Shindong memang pas jd seorang ayah. Siapa slanjutnya? NEXT sist! Ppalliii!!! 😀 #maksa #plak #brisik #diam LOL

    • itu ming-nya manggil noona pasti lucu yaaa *aaa berasa noona -_-
      tenang aja, ff ini udah hampir selesai kok, tinggal 2 orang, jadi cuma tinggal nge-post *curhatdehcurhat u,u
      salam kenal juga rini, terimakasih udah baca ya dan mampir, semoga dapet petuah(?) abis dari sini kkk

  2. aahh.. ming kyeopta sangat..
    pengen cubit2 pipinya..
    emang shindong klo jadi appa, pasti penyayang banget deh..
    ah mw punya appa kayak shindong..

  3. omo~ ternyata next partnya disini^^ aku baca di sjff2010 ~~ bagus thor~~ aku ga sabar nunggu buat kyuhyun~ pembagian ceritanya cocok buat masing2 tokoh~ next next 🙂

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s