Begin Of The Mission Chapter 5

(Jihyun vs Kim Hani)

Semuanya tak akan lebih baik jika tak diungkap secara terinterupsi.

Suatu pernyataan yang tiba-tiba terkuak menjadi langkah menuju satu keajaiban.

.

.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment 

Spy, Action, Romance  

Park Jihyun, Cho Kyuhyun

PG-16 

.

.

BOTM ART By Cho

            Hampir satu jam aku berguling-guling diatas ranjang. Oke ini memang berlebihan. Tetapi memang sejak kepulanganku pukul 6 pagi tadi, sampai sekarang aku masih belum bisa tidur lagi. Karena hari ini aku memutuskan untuk membolos sekolah. Bukankah ini keren? Hari pertama musim dingin yang tak kunjung selesai aku meringkuk bodoh di rumah. Untunglah Dad tidak ada.

Kuputuskan untuk turun daripada dikamar, matahari yang tak tampak membuat duniaku membeku. Ini gila. Sangat dingin kau tahu? Cardigan Mary Jane dan Muffler yang membungkus tubuhku tak mengurangi dinginnya pagi ini. Pagi? Apakah pagi ini juga tak ada burung berkicau? Atau mungkin pengganti burung adalah lintah penghisap daging? Oh itu sangat manis.

Langkahku sungguh pelan, seakan sandal keroro-ku menempel di pelapis karpet tangga. Dingin pagi ini sungguh luar biasa.

Meniti tangga dengan cepat juga tak masalah, tak akan mengganggu. Toh, suara gesekan sandal akan teredam karpet pelapis tangga.

Terlihat dari sini, pintu dapur baru saja bergerak. Pertanda ada yang memasuki. Mungkin Song ahjumma. Memang seharusnya begitu bukan?

Aku mendorong dua buah pintu dapur dengan pelan, seolah memang pagi ini aku menggunakan sesuatu dengan frekuensi lambat yang memalukan.

“Kyuhyun?” gumamku. Sangat hebat, pagi-pagi sedingin ini sudah bertemu dengan pengacau berkelas. Sungguh hidupku memang tragis.

Ia menoleh saat mendengar derap langkahku yang memang kusengaja agak dihentak-hentakkan. Dia tersenyum. Aku tidak bohong. Kenapa dia? Apakah otaknya juga ikut membeku?

Aku menarik kursi dan duduk di depannya yang sedang menyesap secangkir minuman hangat, atau panas? Karena asapnya mengepul.

Dia mendongak. Memandangku. “Hei, selamat pagi. Aku dengar dari Ahjumma. Kau hari ini ingin membolos?” tanyanya.

Bingung. Dia kenapa? Tak biasanya dia seramah ini? Yeah, walau aku tidak mengerti semua tentangnya secara detail. Setidaknya aku tahu sifatnya yang menonjol. Dia aneh, manja, menyebalkan, dingin dan playboy.

“Izin. Aku izin, bukan membolos.“ ralatku. Ia mengedikkan bahu lalu kembali menyesap minumannya tanpa memperdulikan aku lagi.

Aku mengedarkan pandanganku. ”Ahjumma kemana Kyu?”

Dia meletakkan cangkir putihnya dengan pelan. Tanpa suara. Berbeda sekali denganku yang selalu asal-asalan.

”Pagi-pagi sekali dia berbelanja.” jawabnya. Aku mengangguk. Lalu diam.

Hah membosankan, tak ada yang menarik sejak kedatangannya. Aku meletakkan kepalaku dimeja. Jika Dad tahu, Ia pasti akan memotong aliran sirkulasi darah ditangannya sendiri. Kau tahu maksudku? Ia akan mengepalkan telapaknya hingga membiru.

”Mau ini?” aku mendongak. Dia menunjuk cangkirnya dengan dagunya yang lancip. Aku menegakkan dudukku dan melirik sedikit isi cangkirnya.

“Kopi dipagi hari sangat menyenangkan.” katanya. Kyuhyun menyipitkan matanya yang hitam kelabu itu.

Aku memutar bola mataku. Berpikir lemah. ”Kau bisa membuat Frappuchino? Dad biasanya membuatkanku di musim dingin seperti ini.”

Kyuhyun tersenyum lalu menggeser kursinya dan melangkah menuju pantry. Aku rasa anak itu sedang tak sehat. Pertama, dia tersenyum, TERSENYUM! Dia tampan, oke sepertinya aku benar-benar maniak dengan senyumnya. Menurutmu apakah terlalu dini memasukkan dia ke rumah sakit jiwa? Kedua, dia mau membuatkanku kopi. Aku curiga! Pilihan pertama. Dia bosan denganku dan akan membunuhku. Kedua, Tuhan terlalu baik hingga Kyuhyun di ubahnya hanya dalam waktu satu hari satu malam. Entahlah, aku pusing dengan tingkahnya.

Kyuhyun berjalan ke arahku dan menyodorkan cangkir keroro padaku.

Aku mengangkat alis.

”Seleramu itu buruk. Tentu saja tak sulit menemukan cangkirmu.” katanya. Seolah-olah dia mengerti dan berhak dengan semua penuturan bahasa tubuhku.

“Oh grasias.”

Kami duduk dengan hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Kyuhyun lebih memilih membaca Vogue. Entah sejak kapan anak itu menyukai Vogue. Aku mengangkat cangkirku dan melirik sejenak isinya. Oke ini bersih, waspada itu perlu. Mungkin saja anak itu benar-benar menaruh racun didalamnya. Aku juga bingung, anak manja seperti dia bisa membuat kopi. Kuakui, itu keren.

“Tenang saja, aku tidak akan mencampurkan racun di cangkirmu. Dan hati-hati, itu panas.” katanya tiba-tiba.

Aku memutar bola mataku jengah. Entah sudah berapa kali aku memutar bola mataku. ”Bayi juga tahu jika ini panas Kyu.” sinisku. Kyuhyun menatapku sekilas lalu kembali menekuni dunianya.

Sesapan demi sesapan kurasakan seperti perlahan menuju tenggorokanku. Seolah kopi ini juga mengerti jika si peminumnya ingin merasakan relaks sejenak. Kasus kemarin sungguh membuat kepalaku pusing, aku juga masih bingung tentang maksud note itu. Apa orang yang akan meledakkan itu Sinterclaus? Yang benar saja, jika itu terjadi, aku akan menyuruh keponakan-keponakan kecilku untuk tak lagi mempercayai Santa. Yesung pun juga tampak sudah menyerah, padahal dia sendiri yang bersemangat menuntaskan kasus ini. Dan Jino, entahlah. Sejak dia mengirim pesan tentang penyadap kemarin. Ia belum mengabariku lagi.

”Kau tampak kacau.”

Aku mendongak. Meletakkan cangkir. ”Yah, bisa kau lihat bukan? Memang inilah aku. Selalu tampak kacau dan bodoh.” aku tersenyum hambar.

Kyuhyun menatapku iba. Tatapan yang paling kubenci.

”Bukan, maksudku dirimu. Lihat! Rambutmu berantakan, dan bajumu. Kau masih memakai baju kemarin. Lalu aku rasa kau punya..” dia menunjuk bawah matanya lalu memutar-mutarkan jari telunjuknya.

Aku melotot padanya. ”Benarkah? Apakah aku mempunyai mata panda?” tanyaku setengah berteriak tidak sopan.

Kyuhyun mengangguk lalu menyesap kopinya sambil memandangku.

Dia meletakkan cangkirnya lalu menjulurkan tangannya dan menyentuh bawah mataku lembut. Rasanya menyenangkan.

”Kau tampak aneh, sebaiknya kau tidur lagi.” nasehatnya setelah melepaskan jarinya yang menyentuh bawah mataku.

Aku mengedikkan bahu. Sebenarnya memang dia benar. Tetapi, aku tidak bisa melakukan itu. Kasus berat harus ditangani lebih detail. Tak ada waktu untuk bermalas-malasan, ini menyangkut nyawa.

”Apakah kasusmu sudah selesai?” tanyanya memecah lamunanku. Kyuhyun menyenderkan tubuhnya di kursi lalu menyilangkan lengannya sambil menatapku. Entah itu tatapan apa.

Aku tertawa sinis. ”Kyu, apa yang kau harapkan hah? Apakah kau berpikir kasus itu adalah penanaman modal usaha yang akan dikorupsi? Atau mungkin perusahaan yang akan bangkrut lalu aku mendapat mandat untuk membangunnya kembali? Lucu sekali.”

Kyuhyun tertawa mencurigakan lalu memajukan tubuhnya agak condong ke arahku. ”Kau lucu sekali. Memangnya ada yang akan mengenakan jasamu untuk hal seperti itu? Ingat. Bahkan kau masih berumur 17 tahun Ji. Jangan bercanda.” jawabnya tak kalah sinis. Kyuhyun bahkan hampir mengeluarkan air mata karena terpingkal. Apakah ada yang lucu?

”Ya ya ya, aku tahu kau sudah tua dengan umur 20 tahun tapi bertampang 18 tahun. Aku tak percaya jika harus mengatakan ini padamu. Tapi..” aku memajukan tubuhku lalu tersenyum miring. “Kau adalah akal sehat dari sebuah mimpi buruk Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun menghentikan tawanya lalu mendesah pelan. “Baiklah, aku tahu jika kau sedang melakukan misi yang..” Kyuhyun mengangkat dua jarinya kanan dan kiri seperti membuat tanda kutip. Aku mengangguk membenarkan.

“Sekarang, coba pikirkan hal-hal yang menyenangkan. Seperti misalnya sesuatu yang mustahil dan aneh.”

Aku rasa Kyuhyun berusaha menghiburku. Yah walau aneh, tapi mungkin aku bisa sedikit mengenyahkan pikiran tentang kasus itu.

”Hei Kyu. Dad pernah bilang padaku tentang hal yang yah mustahil tak mustahil didunia ini sebelum kami sarapan pagi.“ kataku. Dia mengangkat tangannya lalu meletakkan di atas meja dan memandangku.

Aku berdehem, “Dulu waktu kecil saat gigiku pertama kali tanggal. Dad bilang, aku harus meletakkan gigiku itu di kantung kecil lalu disembunyikan dibawah bantal. Karena peri gigi akan mengambil gigiku lalu menukar dengan yang bagus di gusiku nanti. Lalu Dad juga pernah bercerita jika naga itu ada. Em ini ya, jika aku membuat boneka salju layaknya orang. Dia akan bergerak dimasuki arwah. Menurutmu apakah itu benar?“ tanyaku polos.

Tiba-tiba saja Kyuhyun tertawa keras sekali, sungguh. Sampai-sampai aku menutup telingaku. Ada yang lucu?

Kyuhyun mengelap air mata disudut matanya lalu menatapku sambil sesekali masih tertawa. Aku mendengus.

”Ji-ya, kau pikir kau hidup dijaman apa hah? Benarkah ada hal seperti itu. Coba aku tebak. Kau pasti juga berharap bantal marsmallow, telinga kelinci kayu manis dan roller blade berlapis coklat itu juga ada ’kan?”

Aku membuka mulutku sedikit. Hanya sedikit. ”B-bagaimana kau tahu? Hei, itu rahasiaku! Apa Dad yang memberitahumu?” tanyaku kesal. Hei, bukankah harapan itu boleh ku katakan kan? Ya walau memang tak wajar.

”Wah aku tak menyangka jika tebakanku benar. Bukan Ayahmu. Tapi..” Kyuhyun memperagakan tangannya membentuk kotak lalu menatapku sambil menaik turunkan alis.

Sepintas aku berpikir. Berpikir keras seperti maniak selai ikan.

”Yak Kyu. Kau membaca buku diaryku!”

Bersamaan dengan teriakanku, Kyuhyun langsung berlari menuju keluar dapur. Mungkin dia tahu jika aku akan membunuhnya.

Sudah kubilang. Kyuhyun itu memang benar-benar si bodoh otak udang. Perkiraanku tentang Like Father Like Son akan kucabut, akan segera ku enyahkan. Kasusnya memang bukan Like Father Like Son. Dia iblis neraka. Neraka paling bawah dengan selancar angin yang tak biasa.

***

            “Bagaimana Dad tahu?” aku menggigit bawah bibirku. Berusaha meredam suara teriakan refleks yang mungkin akan menggema.

“Daddy dengar dari Song Ahjumma. Apakah lady young Daddy ini sedang sakit?” tanyanya di ujung telpon sana. Aku menghela nafas. Mungkin tak selamanya Dad itu menyebalkan.

Aku berdehem. Berusaha membuat suara yang serak. “Aku kedingingan Dad, lalu aku terkena flu. Jadi maaf, aku di hari pertama tidak masuk sekolah.“ ujarku refleks bersin pura-pura untuk mendukung aksi flu-yang-tidak-biasa.

Terdengar suara samar-samar Dad berbicara dengan orang. Hah selalu saja seperti itu. Tak pernah sekalipun membuat acara telpon itu tenang antara Dad dan putrinya.

”Ah maaf lady young. Tadi ada masalah sedikit.” katanya. Daddy, kau sungguh tidak bisa berbohong dengan baik.

”Kalau begitu, segera minum obat. And don’t bizarre acting that makes you get into trouble my lady young. I love you. See you honey.”

Pip..

“I love you too Dad.” gumamku lirih sambil menatap layar ponselku yang berembun.

Hah, bahkan Dad tak membiarkan aku menjawabnya. Dad terlalu sibuk, berbeda dengan yang dulu. Aku rindu dengan Dad yang dulu, selalu menemaniku bermain, belajar bahkan menyanyikan lagu sebelum tidur.

Drrttt.. drrttt..

Aku menatap ponsel yang masih kugenggam. Disana tertera deretan nama yang tak asing bagiku. Mungkin dia bisa membuat diriku sedikit rileks.

”Halo.” sapaku. Terdengar suara bersemut disana. Aku yakin orang ini sedang mencari sinyal.

”Hei Hyun-ah, bagaimana kabarmu dirumah?” tanyanya dari ujung telpon. Aku tersenyum. Setidaknya Hyera membuat perasaanku sedikit tenang.

Aku beranjak dari tempat tidur lalu menuju balkon diluar. Menghirup udara panjang-panjang. Sengaja menawar udara agar berpihak padaku.

”Hyunnie-ya, kau tidak apa-apa?” aku sedikit tersentak. Bodohnya, sampai aku melupakan Hyera.

”Tidak, ah maksudku. Aku tidak baik-baik saja.” jawabku lemah. Terlalu lemah hingga aku tak bisa mendengar suaraku sendiri.

Terdengar suara helaan napas. Aku yakin, anak itu akan bertanya panjang lebar.

”Sepertinya kau benar-benar kacau. Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah kasus itu atau yang lain? Atau mungkin Kyuhyun?” tanyanya beruntun dengan nada akhir yang sedikit menggoda.

Aku mendengus, ”Hei, kau ini bodoh atau tolol? Aku memang sedang tak enak diri. Ya, termasuk kasus itu. Namun, Kyuhyun tak ikut andil. Eh, sedikit mungkin.” jawabku sambil menempelkan telunjuk dan ibu jari pertanda membuat praktek di akhir kalimat. Bodohnya aku, menyadari jika Hyera tak mungkin bisa melihatku.

”Wah aku rasa kau sedang mengalami syndrom delima.”

What the? Bicara apa lagi anak ini?

“Kau ini bicara apa? Sudah jangan bercanda. Bagaimana hari pertamamu? Apakah kau sudah pulang?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan sambil sedikit melongok kedalam dan melirik penunjuk waktu yang menempel di dinding kamarku.

”Ck, kau ini bisa saja mengalihkan pembicaraan orang. Sudah pulang dari tadi. Karena hari pertama. Jadi bebas Hyunnie-ya. Eh Hyun, apa kau sedang sibuk?”

Dengan cepat aku menjawab. ”Sibuk? Berharaplah begitu.” ujarku sinis.

”Serius Hyunnie-ya. Aku ingin mengajakmu keluar. Aku sedang malas dirumah. Bagaimana jika nanti aku akan menjemputmu?”

Aku memutar bola mataku. Sebenarnya aku ingin, tetapi bukankah hari ini aku harus belajar bersama Kyuhyun? Aish lebih baik aku nanti mengendap-endap saja. ”Ah baiklah, tapi nanti jika kau sudah didepan rumahku hubungi aku ya. Jika Kyuhyun tahu, dia pasti tak akan memperbolehkanku keluar. Kau tahu ’kan, evaluasi pembelajaran neraka darinya.”

Hyera terkekeh di ujung sana.

”Baiklah, sampai nanti miss lady young.”

Pip..

“Maaf Cho Kyuhyun, aku sudah tak tahan lagi dengan pengekanganmu ini.”

***

            Memakai coat berwarna coklat muda, topi yang berwarna biru. Tak lupa sepatu boot pendek berwarna senada dengan topiku. Lalu dress bunga-bunga yang tertutupi coat, tas hitam keren dan legging kelabu.

Setelah mendapat pesan dari Hyera yang sudah berada di depan pagar rumah agak ke depan. Aku mulai melancarkan aksiku.

Membuka pintu dengan perlahan lalu menutupnya perlahan membuat sedikit tubuhku bergetar. Aku takut dia dengar suara decitan pintuku. Kau tahu ’kan jika kamarku bersebelahan dengannya. Aku hanya berdoa semoga dia masih di fakultas. Tetapi, aku rasa itu tak mungkin.

Aman. Setelah sampai di tangga, aku segera menuruninya dengan langkah pelan. Sebenarnya aku sedikit keki. Karena semua yang kulakukan terlalu lambat menurutku. Demi perjuangan keluar.

Sesampainya di bawah tangga, aku segera berlari ke rak dekat pintu depan. Rak yang menyimpan remote otomatis pembuka gerbang rumah.

”Aish, dimana sih remote nya?” aku berdecak berulang kali. Sesekali berjinjit, mungkin saja letak remote nya sudah diubah.

”Mencari ini?”

Reflek tanganku yang sedang meraba rak terhenti begitu mendengar suara seseorang. Itu adalah suara Cho Kyuhyun. Matilah aku.

Aku berbalik pelan. ”Ah iya. Bagaimana kau bisa tahu? Wah hebat sekali. Oh ya, kau sudah pulang dari kuliah ya? Cepat sekali.” kataku sambil tertawa aneh.

Kyuhyun berjalan beberapa langkah ke arahku hingga membuatku sedikit mendongak. Sudah kubilang ’kan dia itu sekarang tinggi.

”Mau kemana?” tanyanya seduktif. Aku menjilat bibir atasku. Astaga, bagaimana ini?

Aku melirik rak sebentar lalu kembali mendongak padanya. ”A-aku.. em itu hanya i-ingin.. itu-”

”Kyuhyunnie!!”

Aku menoleh. Di ambang pintu sana terdapat gadis aneh tempo hari. Dia Kim Hani? Bagaimana bisa masuk kesini? Bukankah gerbang rumah hanya bisa terbuka dengan remote? Lalu jika memang begitu, cara satu-satunya yang masuk akal adalah dia bisa membuka gerbang itu jika punya kuncinya.

Terlihat Kyuhyun memutar bola matanya malas saat Hani merangkul lengan Kyhuyun manja. Gadis itu benar-benar maniak.

“Apa yang kau lakukan disini Hani?” tanya Kyuhyun sambil berusaha mengangkat lengan yang Hani rangkul.

Hani tertawa manja lalu mencium pipi Kyuhyun. Bolehkan aku muntah sekarang?

“Aku rindu padamu chagi.”

Kesempatan emas, saat Kyuhyun sedang berusaha melepas jerat dari Hani, segera aku merampas remote dari tangannya.

Aku tersenyum bangga saat dia memelototiku. “Terimakasih Kyu. Kau baik sekali.” kataku manis. Sedikit melirik Hani, gadis itu berdecak kesal. Rasakan itu.

Aku berbalik ke arah pintu. Namun sebelum sempat membuka pintu, suara Kyuhyun membuatku berhenti sejenak.

”Ingat, nanti malam kau harus belajar!”

Aku menoleh sedikit lalu mengkerutkan alis. Memangnya dia siapa?

Aku mengibaskan tangan. ”Tak masalah,” jawabku. Lalu mengalihkan pandanganku pada Hani. ”Oh ya ngomong-ngomong, bagaimana kau tadi membuka gerbang Hani? Gerbangku hanya bisa dibuka dengan remote. Atau memang tak dikunci?” tanyaku padanya. Melirik Kyuhyun sebentar yang terlihat juga sama bingungnya denganku. Menuntut jawaban.

”Ah tadi tidak dikunci.” jawabnya. Hani menatapku sumringah, tetapi dia berbohong. Aku yakin, dari bola mata birunya –yang aku yakin softlens- dia tak menatapku benar-benar. Bayanganku dimatanya tidak ada, yang ada bayangan atas bibirku. Hani mengalihkan tatapannya!

Aku mengerjapkan bulu mataku lalu mengangkat alis.

”Benarkah? Jika memang begitu, berarti aku tak butuh remote ini ya?” aku berusaha mengintimidasinya. Tapi terlihat Hani begitu santai. Seolah dia benar-benar ahli dalam urusan bohong-berbohong.

Hani mengangkat bahu lalu menatapku dari atas sampai bawah. Benar-benar membuatku risih.

”Ah apakah kau ingin pergi? Hati-hati ya, diluar dingin.” katanya sambil mengulas senyum lebar yang menurutku pura-pura.

Alisku bertaut. Aneh. Kenapa dia berusaha mengalihkan pembicaraan?

Aku sedikit melirik Kyuhyun, dia juga melirikku. Kami sama-sama melirik. Bukan itu masalahnya, tetapi wajah kami pasti benar-benar menyiratkan kebingungan yang teramat sangat. Kim Hani, sebenarnya kau siapa?

TBC

.

.

The next..

”Hah? Apa kau bilang nona? T-tentu saja. Asli ini. Asli.”

            Too : Jongwoon Oppa

            Kau tahu, aku rasa kasus ini semakin dekat. Hubungi aku setelah menerima pesanku Oppa.

            ”Ra-ya? Kau pikir pria tua seperti itu akan ku jadikan target. Jangan bercanda.”

            ”Jonghyun menendang remote? Kebawah meja? Kenapa bisa ada remote?”

 

 

Iklan

23 responses to “Begin Of The Mission Chapter 5

  1. author chooooooo, aku kambeeek *yeah wkwk..
    akhirnya bisa juga kesini,, lagi sibuk biasaa -_-3
    aku baca ini err,, keren banget yuuu, apalagi bahasanya itu looo,, simplee tapi novel :p
    nah lo,, gimana noh mereka berdua??? si epil enak bgt di rebutin asdfghjkl!!!
    nextt ditungguuuu yuuu 😀

    • halo dear *bighugss{}
      heh sok sibuk weee :p kkk
      terimakasih lo ya hehe
      bahasa novel? ngarang -_-
      mereka berdua emang gitu, kalo ketemu bawannya pen adu urat, otot wkwk
      iyanoh, si epil emang deh ngeselin tp ganteng T.T
      okesip siap:3

    • siap sayang 😀
      hani keep secret, just waiting next chapie, tapi hani masih lamaaaaaa banget terungkapnya dia itu sapa hehe *okemodus -_-
      WHAT THE KYU(?) senyumnya polos? err mati nih mati kkk
      thankseu for reading dear 😀

    • wah, tebakan yang bagus dear 😀
      keep still your opinion for used the next chapter dear wkwk *modusss
      em, be patient dear, maybe next ‘just little’ KyuHyun moment, cause I wanna focus wifth conflict, but I promise, they are still in next chapter 😀
      thankseuu:3

  2. Annyeong eoni.. Im back.. 😀 ah aku bru bisa mampir kesini bgtu buka wpmu ini bingung krna dsuguhi ff bnyak bgt, blum kbca smua, ini aja aku bru nglanjut, aku mw ngebut baca neh sist, tp qo ada yg d proteksiya?
    Truz pw.a gmna? U,U

    cukup, see u in part 6 ^^

  3. Akhirnya ketemu juga nih FF aku nyariin tpi gk ketemu,,dan karna lupa judulnya,,keren ceritanya bkin pnasaran,,lanjutkan

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s