Lost In Time Track One

Waktu itu hanya sekedar penunjuk jam, menit dan detik.

Waktu itu tak begitu berguna jika kau menyia-nyiakannya.

Lalu, jika waktu berhenti, apa yang akan kau lakukan?

Bagaimana kau bertanggung jawab jika waktu itu berhenti karena dirimu?

Keseimbangan bumi mulai goyah, dan satu-satunya cara agar menghentikan itu adalah dengan… 

***

Terkadang, keseimbangan semesta adalah salah satu jalan untuk melanjutkan kehidupan. Namun di balik semua itu, ada kalanya kau hidup berpacu dengan waktu, tantangan dan penemuan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam duniaku, sebuah waktu adalah tempat untuk meretas diri sendiri.

lost-in-time-by-chochangevilkyu

.

.

.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Yang ia ingat hanyalah seorang gadis berbaju merah terang dengan bibir yang berwarna hitam. Ia memanggilnya gadis kampungan.

Gadis kampungan itu menyalak marah, beberapa jam yang lalu saat ia tak sengaja mengusik tidurnya di perpustakaan. Mana ia tahu jika perpustakaan itu dibuatnya untuk tidur. Memang, sejak kapan perpustakaan menjadi alih tempat untuk melakukan hal yang tak penting itu.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Fantasy, Friendship, Adventure

Kim Jin Ah, Eunhyuk

PG-15

Art by Miss Fishy Jazz

            Ketika ia sedang makan siang di kafetaria –disekolah barunya- yang sangat membosankan, dalam artian harfiah (ia benci sendiri, ia benci menjadi murid baru yang tidak tahu apa-apa seperti orang bodoh).

Jin Ah berusaha membaur, setelah kejadian yang benar-benar menguras otaknya. Ia ingin sekali membenamkan dirinya di remahan bekas makanan burung dara di rumah pohonnya, kau-tahu-maksudku. Ia dengan senyuman bersinarnya mencoba melambai ke segala arah, mencoba mencari beberapa kepala yang mungkin menjulang, yang ia yakini beberapa teman di kelasnya, walaupun tak begitu kenal, yang terpenting sekarang adalah ia tak mau memakan makanannya sendiri di tengah hiruk pikuk kerumunan anak-anak Disaster School –Jin Ah sempat merasa linglung, apakah ini pantas disebut nama sekolah?- yang bertindik di hidung dan membuatnya harus menahan sekelebat pertanyaan dari otaknya.

Kalian tahu? Membosankan, sendiri, dan polos. Adalah target utama untuk menjadi bahan penggencetan disana. Dan ia tak mau itu terjadi.

Jadi Jin Ah, dengan senyuman bersinarnya, berusaha membaur.

Seseorang menepuk pundak Jin Ah. Ia tersenyum lebar, mengingatkan Jin Ah pada tokoh utama Betty (Si membosankan berkawat gigi) di telenovela yang sering di tonton adiknya. Jin Ah pura-pura menyengir manis. ”Hai.”

Gadis bertubuh kecil itu mengedip cepat. Ia menarik tangan Jin Ah menuju tempat pengambilan nampan plastik. ”Kau murid baru?”

Mulut Jin Ah seolah akan membuka cepat, namun urung saat seseorang di belakang antriannya mendorong tubuhnya. Nyaris terhuyung, kepalanya bahkan akan siap masuk ke dalam makanan-bergelembung-berwarna-hijau. Makanan alien!

”Oh!” seru seseorang. Ternyata ia adalah gadis-kampungan-perpustakaan! ”Kau mau membuat masalah denganku?” hardik gadis kampungan saat Jin Ah melotot ke arahnya. Jin Ah bahkan bersumpah, saat ini pasti seluruh orang benar-benar mengamatinya. Mengingatkan bahwa saat ini adalah jam istirahat!

Dengan berani gadis bertubuh kecil itu menjulur satu langkah kedepan. Pelan-pelan, bahkan terlampau pelit. Jin Ah nyaris saja bertepuk tangan jika ia tak benar-benar ingin menjadi target penggencetan murid baru.

”Kau yang mencari masalah gadis perak,” Gadis kecil berseru. Skor saat ini 1-0 di pihak gadis kecil. Ia meletakkan nampannya untuk di serahkan ke hadapan Jin Ah. ”cih, kau benar-benar tak bisa membaca dirimu sendiri. Dasar jalang.”

Saat mengatakan itu, gadis kampungan berdandan norak tersebut mengerang pelan. Ia menoleh, seakan mengutuk dirinya (dipermalukan adalah hal yang paling rawan di Disaster).

”Awas kau Stey!” Gadis kampungan itu melotot, matanya bahkan hampir keluar jika ia tak segera mengalihkan pandangannya ke arah Jin Ah. Jin Ah bersumpah, bukan hanya sekali dia akan bertemu dengan gadis kampungan itu lagi. Berisap-siaplah menderita di Disaster. Begitu pandangan gadis kampungan.

Semua murid-murid langsung menggumam kecewa. Bahkan itu lebih dari sekedar gumaman. Kenyataannya sangat berbeda, mereka nyaris berteriak.

”Sudahlah, tak usah kau urusi dia. Dia memang begitu. Gadis jalang yang menyebalkan,” ia berkata. Jin Ah mengangguk setuju dengan ucapan terakhir gadis kecil. ”Oh ya, perkenalkan, namaku Stefany, kau bisa memanggilku Stef. Ah ya, hanya satu huruf  n.”

Jin Ah tersenyum aneh, setidaknya ia tak akan sendiri di hari pertamanya di Disaster. Ia juga tak ingin itu terjadi. Bahkan jika teringat korban pembully-an yang sangat terkenal di sekolah ini.

Ia juga tak mengerti, kenapa Ibunya harus memindahkan dia di sekolah aneh di ujung kota seperti ini? Padahal kehidupan bahagianya di Seoul sudah tenang, namun kenapa juga ia harus merasakan panasnya atap Disaster?!

Jin Ah menunduk, mengulurkan tangan. ”Kau bisa memanggilku Jin Ah, eung.. Stef.”

Stefany tertawa, mengedip-ngedip lalu mendorong pelan bahu Jin Ah ke arah counter.

“Kusarankan, jangan memilih makanan hijau itu.” Stefany berbisik. Terlambat. Wanita yang berdiri di balik counter sudah menumpahkan makanan yang menurut Jin Ah menjijikkan itu ke mangkuk nampannya. Wanita itu bahkan memicing tajam saat melihat ekspresi Jin Ah yang seakan-akan nyaris muntah di kantung bajunya.

Setelah berterimakasih sekilas, mereka berdua mencari tempat duduk. Sudah hal wajar jika tempat ini sangat penuh. Banyak dari murid Disaster yang memang sangat menggemari kantin ini. Ya, karena hanya kantin ini yang paling layak di sebut dengan kantin sekolah. Tentu saja terlampau normal, bangunan ini masih kokoh –setidaknya dari sudut pandang tertentu- dan tak dikerubuti tanaman menjamur bernama lumut.

Kafetaria Disaster terletak di sayap kanan gedung besar ini. Terdapat beberapa bangku panjang yang di susun seperti akan memasuki labirin –jika kau melihat banyaknya murid yang lebih memilih duduk bergerombol tepat di tengah-tengah. Meja di sana terlihat mengkilat, seolah meja itu selalu di lumuri minyak wijen.

Jin Ah dan Stefany duduk di bagian sebelah kiri pojok, untuk menghindari melewati labirin manusia. Jin Ah sempat merasakan beberapa orang yang menatapnya aneh, mungkin karena dia adalah satu-satunya orang Asia disana.

Stefany membuka percakapan sambil merobek kertas minyak di burgernya dengan kasar. ”Kau harus hati-hati. Jangan sampai jadi mainan baru disini,” katanya. Nadanya terdengar bercanda, tapi tatapannya tajam menusuk. ”kau juga harus tahu beberapa peraturan di sini. Ah dan gadis perak tadi. Lebih baik jangan dekat-dekat dengannya.”

Jin Ah mengerang, ia menatap jijik makanan alien di depannya, mengangkatnya dengan sendok. Tanpa tahu jika itu membuat bukan hanya dirinya saja yang merasa jijik.

Ergh, hentikan Jinnie,” ia mengerucutkan bibir sambil menyantap burger ham-nya. Walaupun ia berkata seperti itu, tetapi tetap saja makanan itu di lahapnya dengan cepat. Seakan dikejar-kejar waktu. ”kau membuatku mual.”

Ck, kau bahkan tak peduli.” tegas Jin Ah. Dengan nada bercanda tentunya. Hingga mereka tergelak bersama.

Mayones milik Stefany mengalir, tegak lurus menuju dagunya. Jin Ah yang melihatnya hanya memutar bola mata. Mencoba menghindar. Ia bahkan tak ada napsu lagi hanya sekedar berbicara. Gadis di depannya sangat tak peka sekali.

Hehe maaf, aku memang begitu jika makan,” tegur Stefany. Ia terkekeh tak bersalah. Matanya bergerak pelan. Seolah menelanjangi wajah Jin Ah. ”Ah, kau dari Asia? Wajahmu berbeda sekali. Aku suka itu. Terlihat cantik.”

Pipi Jin Ah serasa panas saat Stefany secara tidak langsung memujinya. Walaupun ada embel-embel gadis Asia. Toh, itu tetap sama saja.

Mata Jin Ah bergerak liar, ia berusaha mengingat-ingat letak barisan tempat duduk disini. Ia juga tak mau jika akan berusaha menerobos kumpulan labirin manusia. Mungkin jika ia beruntung, ia akan kembali kesini dan duduk tepat di tempat ini. Mengingat pemandangan dari jendela arah sini sangat indah. Terkecuali taman belakang gedung ini yang terlihat agak kumuh. Rumputnya tinggi, alang-alang yang di hinggapi burung kecil. Entah apa namanya.

Saat pandangannya terjulur ke arah labirin manusia. Matanya tak sengaja menatap seorang pemuda. Bukan karena apa, tapi wajahnya. Ia orang Asia. Setidaknya Jin Ah merasa otaknya terisi karena dirinya tak sekedar sendirian –orang aneh- disini.

Pemuda itu mengenakan jeans Levis. Bajunya berkerah tinggi, seolah bersiap mencekiknya jika ia berniat bergerak barang sedikit saja. Ia terlihat paling mencolok dari yang lainnya. Mengenakan kaus bertuliskan ’Wanna Play?’ setidaknya itu membuat otak gadis itu harus kembali terasah. Apa maksudnya?

Coret bagian itu. Gadis itu ternyata sudah tahu apa maksudnya. Pemuda itu tampak tertawa, namun seakan tak peduli apa yang di tertawakan. Ia duduk, di apit anak lelaki bertubuh gempal dan lelaki yang mengenakan jaket berpaku tajam di bahunya. Membayangkan jika paku itu menghunus hidung bertindik si gadis kampungan.

Jin Ah mengernyit. Pemuda itu terlihat begitu tampan dari arah pandangnya. Matahari bahkan menjeplak hangat mengenai pipinya. Terkadang ia menyipitkan mata karena silau. Tanpa sadar Jin Ah tersenyum tipis.

Ketika baru saja ia akan kembali meneliti pemuda itu. Ternyata dugaannya salah, pemuda itu melesat cepat menghentikan tawanya dan memandang tajam ke arah mata Jin Ah. Pandangan mereka bertemu.

Napas Jin Ah tercekat, seolah pemuda itu adalah cenayang yang tanpa kasat mata mencekik lehernya dengan tatapan mata itu. Entah kenapa ia merasa tatapan itu begitu menakutkan, rapuh, dan hangat. Berbagai macam perasaan dalam satu kesimpulan.

Tatapan mereka terputus saat Stefany mendorong pundak Jin Ah dengan telunjuknya. ”Ayo. Kau bahkan harus ku antar berkeliling dulu. Jangan lupakan tour pertama kita sayangku.”

Dengan sedikit paksaan, pantat Jin Ah yang serasa menempel di bangku sedikit tak nyaman itu terangkat. Mengutuk seberapa bodohnya ia bisa terpesona dengan tatapan itu.

Gadis itu bahkan sempat menoleh sebentar ke arah labirin manusia. Memastikan jika pemuda tadi masih berada di sana. Namun, bibirnya meruncing kecil saat menyadari pemuda tadi sudah tak melihatnya. Sedikit kecewa tentunya. Seolah tak sudi melihatnya lagi.

Hei, jika kau melamun lagi, kupastikan, kau akan tersandung rum- ah!”

Jin Ah jatuh terjerembab. Mengutuk kenapa dirinya bisa teringat dengan kejadian tadi. Terutama pemuda menyeramkan berkaus aneh dan tatapannya. Bahkan ia merasa bodoh. Bagaimana bisa ia jatuh di arena rumput seluas lapangan terbang ini?

Stefany mendengus iba, mengejek, tatapan meremehkan. ”Sudah ku bilang ’kan. Kau itu hobi sekali melamun. Apa yang kau pikirkan? Kau merusak tour kita.”

Jin Ah berdiri, menepuk tangannya. Membersihkan serasah tanah yang menempel di sana. Sebagian tempat disini rumputnya agak gundul. Tersapu tanah merah, seperti tanah perkuburan.

Di lihatnya, Stefany tengah merajuk. Jin Ah tergelak. Tak sedikitpun merasa bersalah. ”Sorry Stef,” kata Jin Ah penuh pesona. Berusaha membuat aegyo Asia. Terbukti, Stefany langsung menatapnya lagi, tak membuang muka. ”Ayo kita lanjutkan tour kita.”

Lengan Jin Ah langsung di tarik Stefany. Gadis kecil itu ternyata mempunyai tangan yang sedikit kasar. Untuk ukuran orang Barat, bukankah itu tak wajar? Jin Ah berusaha menahan bibir dan lidahnya agar tak bertanya. Tak ingin membuat kadar tensi Stefany naik turun.

”Maaf ya, memang begini. Karena aku selalu mendapat pekerjaan serabutan,” ujar Stefany tiba-tiba. Mereka berhenti di depan menara cukup besar. Mirip mercusuar. Besar sekali. Jin Ah memandang Stefany penuh arti, menanyakan maksud. ”Aku tahu, kau merasakan tak nyaman ’kan? Tanganku memang kasar untuk ukuran gadis. Namun, itu karena pengaruh tempat ini.”

Stefany menunjuk menara itu dengan gaya bossy. Jin Ah baru menyadari jika itu adalah menara jam. Tepatnya jam besar. Seharusnya untuk ukuran menara sebesar ini, bisa terlihat dari lantai paling tinggi kafetaria. Tetapi kenapa menara ini tak terlihat sedikitpun?

Jin Ah kembali teringat dengan perkataan Stefany. Ia tersenyum canggung meminta maaf. “Maaf Stef, aku tak bermaksud begitu,” Jin Ah memutar otaknya, mencoba mencari kata yang pas untuk memulai obrolan ringan. “Ah, maksudmu tadi, menara ini-“

“Hukuman norak di sekolah norak.” sambar Stefany cepat. Stefany mengikir kuku dengan giginya. Jin Ah bersumpah, ibunya akan mengurungnya di basement jika melakukan hal itu di depannya.

“Maksudku, siapapun pengacau dan apapun yang di perbuat, selama itu melanggar aturan ketat dan sempit Disaster, mereka akan segera di pekerjakan disini semalaman untuk membersihkan onderdil dari jam raksasa. Harus mengelap, harus memberi oli. Kau tahu? Itu sungguh tidak keren,”

“Jika kau beruntung, kau akan mendengar semua gadis yang menjerit di malam hari ketika saat hukuman itu merantai mereka.”

Stefany bercerita sambil tertawa penuh misteri. Gadis itu meludahkan potongan kuku dari mulutnya sambil menyengir pada Jin Ah.

Jin Ah bertanya pelan. Terlihat bodoh di mata Stefany. “Menjerit? Kau juga?”

“Aku?” Nada Stefany terdengar jahat. Ia mengangkat alis dan menarik sudut bibirnya mengerikan. “Aku tak pernah masuk, aku hanya membersihkan rumput liar di sekitar sini. Ilalang tumbuh cepat. Pekerjaan setiap minggu.”

“Tiap minggu?”

Hm, aku memang selalu memangkas habis rumput di sini. Dan aku akan mendapat beberapa dollar dari kepala sekolah sialan itu. Kau tahu? Cukup adil.”

Jin Ah mengernyit. Stefany benar, hidup di sekolah mengerikan macam Disaster harus bisa bertahan hidup. Seolah di makan dan memakan. Yang terkuat yang akan memenangkan ini semua. Termasuk mencoba mengakali diri untuk terjun langsung mencari pengganjal perut yang layak. Mengingat betapa tak bersahabatnya makanan disini.

Gadis itu masih tak mengerti, ia berusaha bertanya lagi. Namun, dengan cepat Stefany menyambar obrolannya. ”Dengar-dengar, tempat ini berhantu. Banyak dari anak-anak yang mengatakan seperti itu. Mereka yang pernah masuk ke sini berbicara seperti itu. Tentang hantu di sini, apalah. Sangat membual.”

”Hantu?” Bukannya takut, jiwa terdalam Jin Ah merasa tertantang. Ia bahkan nyaris masuk ke pagar berkarat itu jika saja lengannya tak di tahan Stefany. Ia menoleh dan memasang wajah bingung terbodohnya.

”Cukup mereka yang menjerit dan membuatku pusing. Ayo kita kembali. Sebentar lagi kelas Biologi akan di mulai. Dan aku tak mau jika kita terlambat dan Mrs. Jenny menyuruh kita membedah kepala kodok di depan ruang sidang. Itu cukup untuk membuatmu menjadi topik bulanan di Disaster.”

Sekali lagi. Tanpa perlawanan dan tanpa pemberontakan. Stefany menarik lengan Jin Ah. Mengakibatkan gadis yang di tariknya nyaris terantuk ujung besi berkarat jika Stefany tak merangkul bahunya secepat intensitas cahaya.

Jin Ah menurut bagai anak ayam. Namun, ekor matanya masih mencuri-curi pandang pada menara jam tersebut. Ia berandai-andai apa yang ada di dalam sana. Ingin sekali menepis lengan kekar gadis kecil di sampingnya dan berlari kesana.

Menara jam raksasa. Target Jin Ah kali ini.

***

            Jin Ah berlari kecil melewati lorong yang sedikit kumuh. Dindingnya terembes air akibat hujan tadi. Tumben daerah kumuh ini hujan. Bagus juga. Setidaknya masih tercium aroma tanah. Lebih baik dan cukup baik berada di luar daripada di dalam bangunan kumuh ini. Namun, adakah orang yang susah payah untuk keluar dengan kilat yang masih menyambar-nyambar?

Stefany benar, koridor asrama di Disaster cukup busuk. Dan ia juga harus ingat tentang tetesan air di internit.

Atap itu terlihat berjamur kasar, noda air menjalar di sepanjang atap. Pipa di atas sana terlihat mengerikan. Ini tak seperti koridor. Malahan terlihat seperti atap kabin kapal yang busuk dan berkarat, nyaris menguning.

Langkah kakinya sedikit pelan saat melewati beberapa kamar. Ia tak mau menjadi korban teriakan orang-orang yang mencibirnya berminggu-minggu karena langkah dermawannya mengganggu murid lain.

Tetesan air membasahi rambutnya. Sedikit terlihat kusam dan kusut. Ia merutuk, padahal baru saja ia mencuci rambutnya dengan shampo bermerk terakhir yang saat ini berada di rumah. Betapa bodohnya dirinya tak membawa shampo karena terlalu tergesa. Pasti di sini, tak akan ada shampo bermerk. Oh itu masih beruntung, bagaimana jika shampo itu di gunakan untuk bersama?

Jin Ah bergidik membayangkan itu semua terjadi padanya.

Tepat pada kamar nomor 715 ia berhenti. Mencoba menebak bagaimana isi dalam kamarnya adalah hal yang cukup menarik. Kopernya sudah sampai sekitar tiga jam yang lalu dan kepala sekolah itu sendiri yang memasukkannya.

Ketika otaknya berputar-putar liar mencoba mengingat perkataan Stefany yang mengatakan betapa mengerikannya semua hal yang ada di Disaster –mungkin termasuk kamarnya sendiri- suara decitan sedikit memualkan terdengar. Seolah-olah yang membuka pintu itu adalah orang jahat ilegal.

”Tidak masuk?”

Suara berat itu memusnahkan pikiran Jin Ah tentang orang-ilegal-penghuni-Disaster. Takut-takut ia berbalik dan menemukan orang ilegal itu membawa handgun, ah terlalu dramatis, bagaimana jika orang itu malah membawa ketapel busur lancip. Bukankah benda seperti itu bisa saja terselubung masuk ke dalam kantong ’kan?

”Apa kau tak menemukan kamarmu?” tanya suara itu lagi. Kali ini seperti terdengar kesal dan terkesan terburu-buru. Tapi tetap datar, seperti suara orang terinjak kucing di atas pemakaman.

Perlahan Jin Ah menoleh. Ia sudah akan membalas perkataan orang ilegal rekaannya itu ketika mendapati pemuda tinggi, kira-kira lebih tinggi beberapa centi darinya. Berdiri menunggu jawaban dan menatap ke dalam kelopak mata Jin Ah tajam. Menusuk dan menyakitkan.

Mata Jin Ah membulat. Pemuda berkaus Polo itu menatapnya tajam, tetapi terlihat bingung. Ia adalah pemuda tadi, salah satu orang populer. Jelas sekali, karena ia berada di daftar orang-orang labirin manusia.

Ah,” Jin Ah mendesah lembut. Ia menjilat bibir atasnya. Merasa gugup. “Maaf, aku hanya sedang menebak-nebak isi kamarku.”

Apa? Apa yang kau katakan Jin Ah? Apa yang menguasaimu? Kenapa bicaramu begitu formal dan menjijikkan? Apa yang akan dia pikirkan terhadapmu? Menebak-nebak isi kamar? Yang benar saja!

Pemuda itu menatap lekat Jin Ah, sedikit membuat gadis itu risih. Tiba-tiba ia tergelak, hilang sudah catatan mengerikan yang melekat di diri pemuda itu. Setidaknya itu catatan khayalan dalam benak Jin Ah.

”Kau lucu sekali,” ujarnya. Ia tertawa seakan sudah lama sekali tak mengetahui apa itu makna dari tertawa. Tawanya menenangkan sekaligus menyeramkan. Terlampau berisik dan memekak. ”Perkenalkan, namaku Lee Hyukjae, kau bisa memanggilku Eunhyuk.”

Mata Eunhyuk bersinar menyenangkan. Kesan menyeramkan hilang sudah. Mata kelabu itu indah sekali untuk di pandang. Terlihat menenangkan. Seolah menyerap ke dalam lubang matanya dan kembali memantul. Tak ada sesuatu yang penting yang bisa di baca dari kelopak kelabu itu.

Jin Ah tersenyum aneh, tangannya bergerak gelisah. Apakah ia akan menyambut uluran itu atau tidak? Mengingat sebelumnya pemuda itu menatapnya bagai ingin memangsanya. Demi Tuhan, Jin Ah seperti orang bodoh. Dan Eunhyuk lebih bodoh karena tangannya yang terulur penuh ketidaksabaran.

Eunhyuk berdehem, mengingatkan jika tangannya masih terulur merasa pegal. Dan detik itu pula mata Jin Ah beralih, menyambut tangan Eunhyuk yang terasa dingin. Fakta aneh, karena Disaster selalu panas.

“Jika kau membutuhkan sesuatu, tanyakan padaku. Kita tetangga.. asrama?”

Meringis. Gadis itu meringis saat mendengar kata bimbang dan setengah defensif dari bibir penuh Eunhyuk. Seperti tidak rela saat mengucapkannya.

”Baiklah,” Jin Ah tersenyum semanis mungkin. Tak berusaha menjilat. ”Teman asrama?”

Tawa Eunhyuk kembali meledak. Kali ini sedikit cekikik pelan. Tak mengganggu. ”Tentu saja.”

Ketika merasa selesai basa-basi canggung itu. Eunhyuk langsung melangkah pergi ke Selatan koridor. Pelan-pelan sambil melambai.

Jin Ah menghembuskan napas yang rasanya tercekat itu. Ia mengingat senyum manis Eunhyuk barusan. Membandingkan dengan seringai tajam tadi saat di kafetaria. Benar berbeda, seolah mereka mempunyai dua kepribadian bertolak belakang.

Daripada mengkhayalkan hal tidak penting itu. Jin Ah segera merogoh kunci kamarnya. Ia melihat pintu kamarnya sebentar. Terkesan rapuh, namun di balik semua itu, kayu yang mengukir pintu itu sangat kuat. Mencerminkan siapa sosok di balik pintu ini. Jin Ah tersenyum kecut, ia tak merasa kuat ataupun tegar. Gugup dan kegetiran yang mendominasi.

Tanpa basa-basi lagi. Ia segera memasukkan anak kunci yang sedikit berkarat itu ke selopnya. Kenapa semua yang berada di sini serba berkarat? Itu memang masalah utama yang mengganjal dalam benak Jin Ah sedari tadi.

Pintu berdecit. Kali ini tak memualkan, ia membuka sangat halus. Seolah sudah memprediksikannya dengan tepat dan akurat jika engsel miliknya juga berkarat.

Aroma pengharum murahan menusuk indra penciumannya. Ia mengira, aroma ini pasti menjamur di seluruh penghuni asrama. Sama dan datar. Tak berfekuensi sedikitpun.

Kamar Jin Ah lumayan lebar, untunglah terlihat normal. Ia tak perlu bertemu labirin di kamarnya. Atau kotak dupa di sudut kamarnya. Mengingat betapa misteriusnya sekolah ini.

Ranjang single bed sempit, hanya cukup di huni sekitar dua orang, itu saja jika tubuhnya sekira-kira dirinya. Jendela besar memenuhi bagian sayap kanan kamarnya. Jendela itu cukup berdebu, tapi terlihat kokoh. Ada ventilasi kecil di atas jendela, berbentuk bulat.

Ruangan ini tak berbentuk persegi panjang. Tapi seperti hurup M. Yang tiap sudutnya di beri Dandelion. Siapa orang yang kurang kerjaan menaruh Dandelion di sana. Apa mereka tak tahu, jika bunga itu tertiup angin akan menimbulkan flu berkepanjangan?

Lupakan itu. Jin Ah mengedarkan pandangannya ke sudut kiri. Pintu yang cukup lebar, sepertinya kamar mandi. Semoga saja normal dan tak aneh.

Lemari pakaian besar dan di sebelahnya ada meja yang belum tentu bisa di katakan meja, karena meja itu penuh dengan berbagai silabus mengerikan, katalog kuno dan beberapa brosur iklan sekolah ini. Tak penting sekali.

Satu hal yang ada di pikiran Jin Ah. Orang yang menata kamar ini benar-benar sangat ketinggalan jaman sekali dan tak mengerti aturan tata cara penyesuaian cahaya. Jin Ah yakin, kamarnya akan selalu gelap jika lampu kusut di atas sana tidak di nyalakan.

Ia menghela napas. Pandangannya terlempar ke sesuatu di atas ranjang. Kopernya sudah teronggok pasrah di atas sana. Menunggu minta di buka. Memberontak dalam diam. Tapi ia tak begitu memperdulikan.

Jin Ah berjalan tanpa semangat menuju jendela lebarnya. Di hempaskannya tirai norak berwarna merah menyala itu. Tak kontras sekali dengan cat dinding nyaris terkelupas sana sini di dalam kamarnya.

Matanya yang semula meredup tanpa gairah. Kini terbuka lebar penuh semangat. Menara itu! Menara jam misterius itu tepat berada di depannya. Ah, tidak sepenuhnya di depan, hanya terlihat penunjuk waktu besar dan jarum yang hanya berpindah selama lima menit sekali. Terlihat sangat indah. Jika saja tak ada kabut abu-abu yang menyelubunginya. Pasti pesona itu sudah menggurat batin Jin Ah.

Sedikit kecewa, namun di alihkannya perasaan itu. Ia membuang pandang ke arah tempat sekitar Disaster. Dari sini terlihat lapangan baseball Disaster, olahraga yang menurutnya cukup normal. Ia tak habis pikir jika olahraga di sini akan berbeda, mungkin saja saling melempar makanan alien dan mereka semua langsung masuk dalam kungkungan hukuman dalam menara jam. Namun, itu hanya batas khayalan tertinggi seorang Kim Jin Ah saja.

Gedung Disaster sebenarnya sangat besar. Seperti lounge dalam sekolah. Hanya saja, mereka kurang merawat gedung ini. Sayap gedung Disaster bagian kiri bahkan nyaris tak terlihat dari sini.

Dia sempat terkecoh dengan gedung itu. Ia kira di sana adalah tempat orang-orang menjalani pengakuan dosanya, atau ruangan untuk bunuh diri. Jika saja ia teringat semua orang di sini nyaris gila.

Tapi ternyata, sayap kiri gedung Disaster adalah tempat untuk menyimpan barang-barang kuno. Cukup adil jika di lihat, lebih baik di gunakan seperti itu daripada di biarkan terbengkalai dan di huni iblis licik seperti gadis kampungan tadi. Ugh, membayangkan gadis kampungan itu terjebak disana membuat tawa Jin Ah bergumam pelan.

Gadis itu menghembuskan napas lalu menatap bawah, ia baru sadar jika jendela ini jaraknya sangat jauh dengan dasar tanah. Ia bergidik membayangkan tulangnya yang berceceran rontok jika niat sekali jatuh dari sini.

Loh Eunhyuk?” Mata Jin Ah yang sedikit lebar itu menyipit. Ia melihat sosok tegap dan keren, serta tinggi milik Eunhyuk dari arah sini. Cukup mencolok karena pemuda itu mengenakan jaket kulit yang mengkilat.

Pemuda itu berjalan pelan, sangat kecil terlihat dari arah pandang Jin Ah. Namun, bukan itu yang di pikirkan Jin Ah.

Eunhyuk berjalan pasti menuju ke arah Utara. Utara adalah menara jam. Dan benar saja, beberapa detik selanjutnya Eunhyuk sudah tak terlihat. Sosoknya yang tegas teredup pohon-pohon besar yang sengaja mereka tanam di sana untuk mencegah erosi. Itu kuno sekali.

Pikiran-pikiran aneh mulai berkelebatan di benak Jin Ah. Membayangkan dan mengkhayalkan apa yang sedang Eunhyuk lakukan di sana.

”Eunhyuk?” gumam Jin Ah terlampau berbisik. ”Ke menara jam?”

TBC

Iklan

34 responses to “Lost In Time Track One

  1. sumpah,, bahasa mrs cho yang ini dewa banget!! berasa baca novel
    apalagi penggambaran kata2nya yg santai, kaya novel terjemahan sumpah!!
    ide dapet darimana seh?? bahasanya sekeren itu?? wkwk
    menara jam di game clocktower?? ah aku tahu yuu,, itu game susah T.T
    okelah,, lanjutannya ditunggu

    • bahasa dewa? errr -_-
      aku rasa enggak T.T
      ini biasa aja kok cik, aku cuma belajar-belajar dari novel, tapi sumpah ini biasa aja lo
      eh tapi makasih kkk
      bener, aku juga kesel, susah minta ampun u,u
      okesip thanks yaa 😀

    • halo dear, welcome yaaaa 😀 *chuuuu:* *ihgenit -_-
      heh? apa? novel? eyh masih jauh dalam taraf internasional(?) *plisganyambung u,u
      maksudnya taraf novel gitu, masih flat banget *ofcourse!
      but, thankseuuu, glad see your opinion 😀

  2. woh,, keren banget sumpah! aku baru pertama kali baca ff yang kaya gini 😀
    salam kenal ya.. aku hana 2000 line

    • namaste Handear(?) 😀
      welcome yaaa~
      hope you like another ff kukuku
      really? haha plis jangan buat aku besar kepala #okeudahmulaibesarkepala *kebanyakan tag -_- *abaikan T.T
      thankseu for read and come^^

  3. halo thor, aku reader baru^^
    tia imnida, aku panggil kamu saeng ya, soalnya aku 95 hehe
    suka banget sama ff disini, bahasanya dewa semua haha

    • annyeong eonnie, welcome yaaa 😀
      hope you like another ff wkwk *modusss
      really? haha tapi akunya juga masih belajar, bahasanya menurutku biasa aja, jangan bikin GR deh *iniudahtanda-tanda -_-
      thankseuu tia eon 😀

  4. tatapannya hyukjae err -_-
    jadi bisa bayangin tempatnya, apalagi si gadis kampung aokaok
    ah ardina imnida 90 line >< *tuaa

  5. iseng baca karena tumben main castnya eunhyuk si master yadong bias temen aku, eeh ternyata FFNYA KEREN BANGET, THOR! DAEBAK! 😀
    kata-katanya kaya di novel vampire diaries gitu, baca ff ini berasa baca novel lho thor!
    penggunaan bahasanya bagus jadi bisa bayangin disaster dan menara jam itu. eunhyuk ngapain ya ke sana? *kepo*
    pokoknya ff ini kece banget deh lanjutannya selalu aku tunggu! 😉
    btw, follow back wp aku yang Infected by Happy Virus ya. gomawo 🙂

    • welcome yaaa 😀
      kamu yg punya unpredictable future kan? hehe aku ngefans bgt sama ff itu wkwk~
      heh apa? serius bahasa vampires diaries? haha itu terlalu tinggi *matidehmati
      -_-
      but, I glad to read your comment, thanks for comment my plot, maybe little confused right? hihi
      ah ya, entar kalo on PC ya, thankyouu^^

      • annyeong 😀
        iya hehe. ahaha thanks a lot for reading my fanfiction. that means a lot to me ^^
        i like your fanfic too!
        serius, soalnya sering baca novel kaya gitu sih aku hehehe jadi ga aneh lagi.
        okay, i’m also glad to visit your wordpress and read this fanfic, sorry i can’t read more your fanfiction because i had to focus on exam.
        nope, it’s allright because i used to read translated novels.
        yap, your welcomee 😉
        suka kyu ya? sparkyu? kalau iya SAMAAAA! 😀

  6. Ping-balik: Lost In Time Track Three | ♥ Magical Story ♥·

  7. Wow. . . .
    Fantastic Baby*Big Bang mode on
    kata”nya itu lho, , daebak lah. . .
    Next chapter dtnggu!!!

  8. nihh cerita misterius amat,,kyak skolah.a bkin penasaran,,keren,,mrs cho ad aja ide buat bkin cerita kyak gini,daebak

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s