Love My Life (Part 6)

 

Apa yang akan kau lakukan jika aku meninggalkanmu tanpa sebab?

Bagaimana jika aku bukanlah orang baik-baik seperti yang kau pikirkan?

Putaran roda kehidupan menjulur menahan bebanku.

Kau tahu, seharusnya tak sepenuhnya hatimu kau tujukan padaku.

Seharusnya kau tahu, jika cintaku ini bersifat sementara, tak abadi.

Namun, jika aku berkehendak, apa yang harus ku lakukan?

Jika takdir berkata lain, apa yang bisa ku perbuat?

Selusur itu bagai undak-undakan perasaanku.

Kau tahu, kau harusnya tahu.

                Tampaknya ia terlihat kesal. Keningnya mengerut gusar. Di pandanginya bvlgari blue mewahnya lekat-lekat. Sesekali ia menahan napas, merapatkan jaket.

“Huh, jika beberapa detik lagi ia tak kesini. Aku benar-benar pergi.”

Angin bercampur salju ringan tampak berhembus pelan. Melewati tengkuknya yang tak terselimuti muffler. Semua yang tampak dari pandangannya hanya putih. Sejauh ini masih terlihat sabar, namun mungkin beberapa detik lagi kesabarannya akan menguap.

“Donghae-ssi maaf, tadi aku terjebak macet.”

Pemuda itu tak bergeming. Seseorang pernah berkata padanya untuk selalu sabar menghadapi kecaman hidup. Termasuk untuk gadis di depannya ini. Keningnya berkerut. Siapa nama gadisnya kali ini?

”Astaga, bahkan sepertinya akan turun salju.” gumam gadis itu pelan sambil menengadahkan tangannya kelangit.

Donghae mendongak, bola-bola putih itu berjatuhan di atas kulit wajahnya. Ia tak merasa dingin, justru panas yang malah menjalari tubuhnya.

”Hae, bagaimana? Apa kita akan jalan–jalan?”

Pemuda itu menatap gadis berbagi-macam-gaya di depannya dengan lekat. Ia menggeleng. ”Aku sedang malas, kau pulang saja. Tak usah banyak berharap padaku.”

Lantas, ia berdiri menunggu. Sekali lagi menatap seorang gadis yang masih menatapnya dengan ekspresi berkecamuk. Mungkin gadis itu benar-benar ingin segera mengenyahkan pemuda di depannya sesegera mungkin.

”Cih, beraninya datang terlambat. Kencan buta bodoh!”

Berjalan pelan sembari mengeratkan jaket agar sedikit memberi kehangatan pada tubuh, menggosok-gosok telapak tangan bertelanjang dan menghembus napas berulang kali sudah ia lakukan. Namun, otaknya tetap tak satu tujuan.

Ia muak, kenapa hidupnya harus seperti ini. Bertemu, berpisah dan kembali bertemu. Bukankah ia seperti berada di neraka?

Sekarang taman ini benar–benar sepi. Rasanya seperti benar-benar menertawakan seseorang yang baru saja lelah menjalani hidup. Jika saja ia bisa mengembalikan beberapa tahun yang lalu dan memutar waktu, tentu saja ia sudah akan melakukannya dari dulu.

Pikirannya mengembara. Melempar insting kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat ia tertawa, tertawa bahagia bersama saudara-saudaranya. Ketika ia tersenyum, tak ada kegetiran ataupun tipu daya. Yang ada hanya kasih sayang tak ada batas.

Donghae menunduk, menatap jejak sepatunya yang tercetak di atas serasah salju. Sesekali terdiam, mengintip sebentar kebelakang. Memastikan apakah hidupnya akan terus di hantui orang-orang yang mengharapkannya. Ah tidak, itu harapan yang sangat munafik sekali.

Tiba-tiba langkahnya terhenti pada hitungan ke lima puluh. Mendadak kakinya terasa kebas. Buram memberat mulai membayang. Matanya menyipit, tangannya terkepal. Berusaha keras untuk menahan berat tubuhnya yang mulai limbung.

Muson berhembus, saat ini ia benar-benar terjatuh. Bukanlah limbung seperti tadi. Tubuhnya mendadak kaku tepat di bangku bawah pohon beranting. ”Kenapa kepalaku pusing ya.”

Tubuhnya mati rasa. Ia mencoba melebarkan kelopak matanya yang memberat. Namun, hanyalah deru memburu dan angin yang beradu.

Sekali lagi, ia benar-benar ingin mati daripada terpekur karena terlalu menyayangkan kondisinya saat ini.

Hearth pain more painful than the body simple blown muson

***

            ”Aish.. Ra-ya tidak ada, aku jadi susah, harus berbelanja sendiri.”

Seseorang menggerutu kecil setelah keluar dari supermarket di ujung jalan lengang ini, di layangkan dengan seksama tatapan almond-nya pada sekitar jalan tersebut. Bagaimana bisa salju turun pada saat yang seperti ini. Salju turun di saat yang buruk dan tidak tepat. Telak mengenai ujung hatinya yang mendadak kusut.

Payung biru itu mulai menyusuri jalan menuju tempat tinggalnya. Ah mungkin sekedar apartemen milik temannya. Dieratkannya hoodie greyscale itu untuk menghalau dinginnya salju yang menusuk tulang. Sesekali napas lembut yang berhembus mengeluarkan uap putih yang menandakan bahwa udara kali ini nyaris menuju The Downside.

”Sedikit lagi aku sampai.”

Ia bersenandung kecil sambil memejamkan mata sejenak, merasakan kesejukan salju, tak terlalu buruk juga. Jihyun membuka mata dan tersenyum bagai anak kecil. Dadanya berdesir ketika tiba-tiba saja otaknya meneriakkan satu nama yang ia mulai rindukan. Taemin. Taemin. Taemin. Mungkin otak gadis itu mulai mengkerut akibat iklim yang makin buruk.

Tiba–tiba langkah panjangnya terhenti. Takjub. Ah bukan, bukan takjub. Seketika matanya membulat. Ingin berteriak namun urung karena itu sama saja menyia-nyiakan waktu.

Melihat sesuatu yang meringkuk di ujung sana. Otaknya mulai panik.

”Astaga!”

Jihyun memekik keras, terlihat ada seorang pemuda yang agak terbalut lebatnya salju. Di dekatinya. Perlahan ia membalikkan tubuh ringkihnya. Jihyun terkesiap.

Cepat-cepat ia bekerja aktif. Sekolahnya tak mengajarkan tentang penanganan hal-hal seperti ini. Namun berbeda, Ibunya yang baik selalu mengajarkan pertolongan pertama pada seseorang yang mungkin sedang meregang nyawa detik ini juga.

Gadis itu menyentuh bawah hidungnya. Napasnya berhembus lega. Ternyata Tuhan masih sayang padanya.

Jihyun melingkarkan tangannya kebahu pemuda itu. Perlahan ia mensejajarkan langkah mereka dengan sedikit menyeretnya, sesekali terhuyung ke samping karena perbandingan berat tubuh mereka.

’Tiing’

            Eskalator berhenti dilantai tujuh. Dipencetnya beberapa digit password apartemen bernomor 1025 ini, lampu yang menyala otomatis menyambut mereka.

Perlahan di tuntunnya pemuda itu berbaring dikamar Jihyun. Lantas jaket tebalnya perlahan ia buka dan dengan sesegera mungkin mengeringkannya di mesin cuci.

”Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin aku harus menggantikan dia baju.” Jihyun panik dan menjambak rambut sedikit frustasi.

Akhirnya egonya sedikit mengalah. Ia mengambil setangkup selimut. Menyelimuti dengan pelan agar tak mengusik ketenangan pemuda itu.

Perlahan tubuhnya yang mulai dingin terduduk di samping ranjangnya. Di susurinya lekuk wajah pemuda itu dengan selusur jari bayangan.

”Astaga, pemuda tampan. Apa yang kau lakukan di luar sana dengan cuaca sedingin ini huh?”

Jihyun urung untuk mengganggu lebih dekat. Ia tersenyum lalu meninggalkan pemuda itu sebentar. Mungkin untuk membuat sesuatu agar pemuda itu merasa lebih hangat kembali.

***

            Lantunan suara berdenging terngiang di telinga Eunhyuk. Pemuda itu tak menghiraukan. Ia berjalan lurus tanpa memandang di sekelilingnya.

Remang. Aroma menyengat dan jengah.

Seks. Penghamburan. Kesendirian. Takdir.

”Lihat, siapa yang datang di hari baik seperti ini.”

Eunhyuk tak menggubris. Ia menghempaskan diri di bangku tinggi di meja bar. Tatapannya bergerak liar menyapu penghuni lama club. Penghuni yang semakin lama semakin bertambah.

Seseorang menepuk pundak Eunhyuk. ”Kau ingin menyewa gadis hari ini?”

”Tidak,” Eunhyuk berbicara singkat tanpa harus menoleh. Tatapannya hanya tertuju pada gelas liquor sebesar kepalan ibu jarinya. Ia memainkan jemarinya di bibir gelas yang belum sempat tersentuh. ”Apa hari ini dia datang?”

Jinhyo mengernyit. Namun beberapa detik selanjutnya ia menyeringai lebar. ”Maksudmu wanitamu? Sudah kubilang dia tak akan pernah datang Hyuk.”

Tahu. Pemuda itu tahu jika seberapa besar nyalinya di adu di tempat ini. Tetap saja, tetap saja gadis yang selama ini memenuhi pikirannya tak akan pernah kembali.

Walaupun ia mati-matian menyangkal bahwa saat ini takdir berkata lain. Namun tidak. Saat ini takdir sedang berusaha bermain-main dengan Eunhyuk.

Dan Eunhyuk, ia yang akan berusaha mengambil alih permainan takdir tersebut.

”Carikan aku gadis sekarang!”

Fate will never disappear

It comes into its own

***

            Matahari membumbung tinggi menyapa dunia. Berusaha bercicit merdua mengembara langit.

Ia mengerang pelan. Rasanya kepala itu benar-benar berdenyut hebat. Tubuhnya berkeringat menahan pekikan lembut.

”Apa kau baik-baik saja?”

Suara merdu berusaha menyambutnya. Ia tergugu di tempat. Matanya bergerak waspada mengamati keadaan tempat yang ia pijak saat ini. Dan akhirnya, tatapan itu berhenti. Terpaku pada seseorang yang sedang menatapnya dengan lembut.

Mengingatkan ia pada gadis itu.

”Kau.. siapa?”

Dua kalimat wajar itu menghambur pelan. Donghae mengernyit, menahan sakit dan menahan tampang bodohnya.

Jihyun tersenyum, tak sia-sia ia menjaga Donghae semalaman. Untung saja pagi-pagi sekali ia sudah terbangun dan menyiapkan beberapa makanan penambah energi.

”Kau pingsan. Aku menemukanmu di taman eung..”

”Donghae. Lee Donghae.”

Jihyun mengangguk. ”Aku menemukanmu di taman dengan keadaanmu yang nyaris membeku Donghae-ssi.” tutur Jihyun pelan. Ia tak ingin berbicara dengan nada kasar saat melihat Donghae.

Walau sejujurnya Jihyun ingin sekali memaki pemuda yang seenaknya mengganggu tidurnya. Ah tidak, ia bahkan tidak tidur semalaman. Untung hari ini adalah hari Minggu. Hari libur panjang penuh pikiran.

Pemuda itu mengangkat tangannya. Sekilas ia tersenyum. Perlahan tangan lemah itu tersampir di kepalanya. Donghae berusaha menahan lagi denyutan hebat tersebut.

”Astaga, kau tidak apa-apa? Sebentar Donghae-ssi. Aku akan mengambilkan obat untukmu. Kau makan saja bubur ini. Tunggu.”

Jihyun gelagapan panik. Ia berlari keluar menuju dapur. Entahlah. Jihyun juga tak tahu tempat penyimpanan obat-obatan di apartemen Hyera. Yang ia pikirkan saat ini hanya keselamatan seseorang yang bahkan sangat asing baginya.

Tanpa sadar, Donghae mengulum senyum manis. ”Ia mirip denganmu. Bolehkah?”

The game of fate is begins

***

            ”Ckck, bagaimana bisa kau pulang dengan keadaan seperti ini Hyuk? Jika Appa pulang. Aku bersumpah, dia pasti akan membunuhmu.”

Yesung mengomel tanpa henti. Walaupun hatinya terasa iba, namun otaknya tak mengijinkan untuk melakukan hal itu. Selama perjalanan pulang, Yesung selalu saja melontarkan kalimat-kalimat berbasis nasehat.

Walapun ia tahu, jika Eunhyuk tak akan sepenuhnya sadar dengan apa yang ia bicarakan.

Perlahan, di rebahkannya tubuh besar itu di ranjang. Yesung berdecak. Ia nyaris membunuh Eunhyuk saat ini juga. Karena baru saja, pemuda itu memuntahi baju kesayangannya.

Satu-satunya peninggalan Ibunya yang masih tersisa.

Fokusnya teralih saat ia merasakan ponselnya yang bergetar kecil. Senyuman malas ia tunjukkan ketika nama itu bergerak-gerak muncul di virtual layarnya.

”Halo?” Yesung menyapa dengan suara sarkatisnya. Tak peduli jika orang di seberang sana mengumpat penuh emosi.

”Kudengar Eunhyuk, dia-”

”YA! Makanya kau cepat pulang. Eunhyuk mati.” potong Yesung cepat. Dia terlampau kesal.

”Tapi aku harus ikut balapan itu. Beberapa menit lagi setelah test drive selesai. Aku harus stand by Hyung.”

Yesung diam sebentar. Ia tahu benar jika satu-satunya orang yang bisa mengatakan balapan adalah sepatuh dari nyawanya hanya orang tak waras seperti dia. Adiknya.

”Ck, lupakan balapan tak penting itu.” sergah Yesung. Tegas dan tak terbantahkan.

”Tak bisa. Pokoknya tunggu aku! Donghae sudah pulang?”

”Donghae?” Yesung melirik meja buffet sebentar, sebelum akhirnya kembali berbicara, ”Dia juga belum pulang.”

”Oke, tunggu aku saja. Dan jangan cerewet. Ah ya, bilang pada Hyukjae, ada gadisnya yang mencarinya di sini.”

”Hm, oke. YA! Awas saja kau bawa gadis tidak jelas. Iya cerewet!”

Yesung mengakhiri panggilan itu dengan decihan malas. Di saat-saat seperti ini, seharusnya sebagai orang tertua dan kakak yang baik, pemuda itu sudah bisa menghandle semua apa yang akan terjadi.

Dan ia sudah menebak apa yang akan terjadi di kehidupannya.

Namun, ternyata ia sudah gagal dahulu sebelum memulai semuanya. Yang harusnya tuntas tanpa halangan.

Harusnya ia mendengar kata-kata itu dulu. Harusnya ia tak pernah mengabaikan panggilan lembut itu. Harusnya.. terlalu banyak kata harusnya yang sukar di ungkap. Yesung bukanlah manusia serba akal yang bisa melakukan apapun tanpa hambatan.

Ia hanya seorang Kim Jongwoon dari keluarga ini. Kim Jongwoon anak baik-baik yang rela menggadaikan apapun. Segalanya.

”Eomma, apa yang harus ku lakukan?”

***

            Donghae tersenyum, ini kali pertamanya ia tersenyum begitu tulus. Tak terasa, pertemuan beberapa jam membuat ia bisa sebentar saja melupakan beban di hatinya.

”Kau mau masuk?”

Jihyun beralih fokus. Mencoba mengabaikan pemandangan di depannya dan kembali menatap pemuda yang sedang tersenyum begitu manis padanya.

”Em tidak. Hari ini aku terlalu sibuk Oppa.”

Donghae tergelak. Ia tak menyangka, pertemuan pertama mereka akan sehangat ini. Hatinya ikut tersenyum kala gadis itu menggenggam tangannya dan memberikan beberapa kata penyemangat untuknya.

”Cepat sembuh. Nanti kita bermain lagi.” ujar Jihyun pelan. Matanya berbinar-binar senang. Seolah menemukan teman bermain sehidup sematinya.

Ketika Donghae akan kembali membalas perkataan Jihyun. Suara memekak mengejutkan mereka. Seseorang baru saja datang dengan Harley Davidson. Dan Donghae sudah bisa menebak siapakah orang itu.

Baru saja mulut gadis itu akan terbuka, ia sudah di kejutkan lagi dengan pemandangan ini. Yang harusnya ia tak mungkin lagi menemuinya. Walaupun perbandingan itu kecil sekali.

”Kyu.. hyun?”

Destiny game just begins

Who is going to try to start it?

***

            ”Paman.. mungkin ini sudah keterlaluan.”

Pria paruh baya itu tak menggubris. Justru, tangannya sudah bergerak. Mengangkat gelas cokctail dan mengendusnya perlahan.

”Jinki.. tak ada yang terlalu. Biarkan dia memilih.”

Jinki terdiam, kali ini ia berusaha mengangguk. Walaupun hatinya enggan berkontraksi dengan tubuhnya.

Di amatinya gambar visual di layar yang bergerak di depannya. Tangannya terkepal menahan amarah. Tubuhnya sudah panas. Bergejolak menahan tensi yang siap meninggi kapan saja.

Kenapa?! Kenapa satu-satunya gadis yang amat di cintainya bisa terjebak dengan orang-orang yang bahkan sangat asing untuknya? Jinki menarik napas. Perlahan tangannya bergerak. Reflek mengendurkan dasi yang mencekik lehernya.

”Jinki-ya, aku tahu.. aku tahu kau sangat menyayangi putriku. Tapi, maaf. Bukan kau takdirnya. Mereka.. mereka takdir putri kecilku.”

Persetan dengan takdir. Persetan dengan itu semua! Ingin sekali kata-kata yang sudah membelit lidahnya itu terucap lancar di ujung bibir. Namun, itu hanya angan. Faktanya, ia hanya bisa mendesah lemah, tak berani lagi membangkang, pula sekedar berbicara.

Kini yang bisa Jinki lakukan hanyalah diam. Bukan diam tanpa melakukan apapun. Tetapi diam berpikir cerdas. Bahkan mungkin pria tua di depannya tak akan mungkin menduga apa yang akan di lakukannya nanti.

Seseorang datang tergopoh-gopoh. Menggagalkan niat Jinki yang sudah memberontak minta di lepas.

”Tuan, Nona Park. Dia sudah..”

”Aku tahu,” potong pria itu dengan cepat. Ia tersenyum misterius penuh berbagai spekulasi. ”Jihyun putriku akan menemukan takdirnya. Cepat atau.. lembat.”

***

            Keheningan berpuluh detik itu tetap saja terbenam. Menciptakan aliran tak menentu pada jiwa masing-masing orang. Semua tetap sama. Satu tujuan. Bungkam tanpa minat untuk memulai perkataan pertama.

Jihyun menghela napas. Bagaimana bisa? Apakah ini takdir? Takdir yang mementingkan ego publik daripada kesenjangan pribadi?

”Apa.. yang terjadi?”

Suara itu berkumandang. Jihyun yang kali pertama berbicara. Ia melayangkan tatapan menuntut pada tiga orang pemuda. Minus satu orang yang masih berkelana dalam angannya.

“Kau.. putra Park Jungsoo?”

Jihyun mendongak. Menyipit kala orang yang bertanya padanya tiba-tiba mengalihkan fokus ke arah lain. Membuat gadis itu mendengus pelan. Ia paling benci dengan orang yang berbicara padanya namun tidak menatapnya.

“Ya,” jawab Jihyun ragu-ragu. Bukan karena terkuak dengan rahasia yang mungkin memang harus terungkap ini. Namun, terlebih karena pemuda di depannya mengenali dirinya. “Apa yang terjadi?”

Jihyun mengulang pertanyaan. Kali ini semua orang di dalam sana memandangnya lekat. Seolah ingin berusaha menelanjangi kejujuran gadis itu. Jihyun hanya bisa bungkam. Ia menunduk, mengusahakan agar pertanyaan aneh di dalam otaknya tak tersalurkan melalui mulutnya itu.

”Ini sudah takdir.”

TBC

chochangevilkyu’s Note

            What? What? What happen?! What going’s on?! *killed

            I know you’re confused, I know also if  this ff is different genre from before. For some reason my brain was like to play games first with this ff. wkwkwk *skipskip ><

            And I’m sorry if this ff very looooooooong time since I publish, my mind is in turmoil -_-

            Why I change this genre from calm and normal to be tense and bizarre? Sudah ku bilang kan, aku juga tidak tahu. Idenya mengalir begitu saja bagai air mancur T.T

            Jadi maaf jika pendek. Plis, jangan ada yang protes tentang pendeknya ff ini u,u

            Oke, let’s show how the next this ff, terus? Atau berhenti? Wkwk

Sumpah ya, aku juga bingung banget gimana ngadepin ini ff. Udah deh, penting di baca kkk. Salam LOVE! Dari chochangevilkyu.

 

 

 

Iklan

11 responses to “Love My Life (Part 6)

  1. iya emang pendek, tapi kerenn kok 😀
    aku suka sama part ini,, sekarang bahasa penulisan ayu baguuus bangeet, bakat deh nulis kayak gini,, apalagi pas gambarin si ikan amis playboy errr -_-33
    nahlooo,,permainan takdir apalagi ini?? kok kau always make me curious wksss,, oke lanjutannya ditunngguu

  2. I’am sorry dear, but thank youu :*
    hehe really? glad to read this, tapi tulisanku masih acak-acakan, belum rapi dan very weird *ofcourse
    -_-
    ayayay abang ikan very playboy, but good looking wkwk
    game of fate? hm maybe I little play wifth this ff *iniapa wkwkwk
    ditunggu ya dear 😀

  3. astagaaaaa
    aku bgung –”
    jgan2 jihyun mau dijodohkan dgn mrka ber4 ???
    hah mana mgkin

    tapi aku maunya jihyun ama kyuhyun kkkkk

    haaaaaaaaa aku errr chingu
    jgan lama2 post nya ya

    • sama, aku juga
      mending baca before dulu dah, tapi kayaknya udah ganyambung sama yg part 1-5, tapi masih nyambung kayaknya, entahlah *jambakshindong(?)
      iya, tunggu aja dear 😀

  4. agak kurang ngeh sama part yg ini eonn, agak kurang nyambung, tapi bagus kok, ga sabar nunggu lanjutannya 🙂 hwaiting

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s