Thir13een Parfume Volume 5

Percaya atau tidak.

Setiap benda itu mempunyai sesuatu yang bersemayam.

13 Parfum pembawa keajaiban.

Membawamu ke tempat yang tak kau duga.

Tetapi jika kau melanggar pantangan, ada konsekuensi tersendiri.

.

.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Romance, Fantasy

Kangin, Kibum, Park Jihyun

PG-15

Art Chevelleanne

Inspired by @heenimk “Creepy K12S”

.

.

thir13teen-parfume-chochangevilkyu

“Jadi bagaimana Nona Park Jihyun? Akankah Anda menyanggupi syarat-syarat yang di ajukan untuk bekerja di perusahaan ini?”

Jihyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Berusaha mengenyahkan perasaan yang baru saja di lakoninya. Kehilangan seseorang yang di sayanginya. Keluarga barunya.

“Nona Park Jihyun?”

Jihyun mendongak, melihat pria asing yang ada didepannya, membuat pikirannya kembali bercabang. “Ya?”

Pria itu berdehem, mungkin berusaha meredakan sedikit amarahnya karena gadis didepannya ini sungguh sama sekali tidak peka. “Begini Nona, kriteria orang yang melamar pekerjaan disini harus orang yang benar-benar berdedikasi pada pekerjaannya. Tekun, ulet dan bisa mempertanggungjawabkan semuanya.” ulangnya kembali. Dengan nada yang lebih ditekan-tekankan perlahan.

Gadis itu menautkan alis bingung. Keningnya bahkan telah nampak guratan samar. ‘Apakah aku ini orang yang sedang melamar pekerjaan?’ batinnya.

Jihyun menegapkan duduknya, berdehem pelan, lalu berkata, ”Ya Sajangnim. Saya sanggup dengan persyaratan yang Anda ajukan. Lalu apakah Saya diterima?” tanya Jihyun formal. Berusaha meredam sedikit malu karena kemungkinan besar wajah bingungnya tadi membuat pria didepannya kesal -pasti.

”Menurut dari CV yang Anda berikan. Anda sudah masuk dalam kriteria yang telah dipatenkan perusahaan kami. Jadi, selamat bergabung di perusahaan ini.” Pria itu mencondongkan sedikit tubuhnya lalu mengulurkan tangan. Bermaksud menjabat tangan Jihyun.

”Ya, terimakasih Sajangnim.”

***

            ”Ini tempat kerja Anda.”

Kini, Jihyun telah sampai di tempat kerja barunya. Ruangan besar yang di isi bilik-bilik lumayan lebar. Dengan sekat-sekat untuk membatasi tiap ruangan kerja. Minimalis tetapi modern dan tampak mewah.

Jihyun menunduk dalam. ”Terimakasih Sajangnim. Saya akan bekerja keras.” ujar Jihyun semangat. Yang disambut senyuman kecil dari bibir pria itu.

”Baiklah, Saya harus kembali dulu Nona Jihyun-ssi.”

Setelah pria itu pergi, Jihyun dengan segera duduk di tempat kerjanya. Tempat kerja Jihyun terdapat sebuah PC plasma yang berukuran sedang, vas bunga dengan bunga plastik, lalu alat-alat tulis kantor dan sejenisnya.

Tiba-tiba ia merasakan tangannya menyentuh sesuatu saat dirinya tengah mengacak isi tas tangannya. Perlahan ia mengeluarkan benda itu yang ternyata parfume.

”Clive Christian’s No. 1 dengan wadah kristal dan berlian seberat 33 karat yang terdapat pada leher botol. Aroma ylang-ylang yang hanya tumbuh di Madagaskar. Ini adalah aroma Orris. Sungguh wangi.” gumamnya lalu perlahan menyemprotkan sedikit demi sedikit ke tubuhnya. Setelah itu memasukkannya kembali kedalam tas.

”Hai. Halo!” pekik suara asing tiba-tiba. Membuat Jihyun sedikit tersentak dari duduknya. Ia mendongak, mendapati kepala seorang gadis yang menyembul di atas sekat.

”Astaga kau mengagetkanku.” gerutu Jihyun kesal, namun disambut kekehan kecil dari gadis itu.

Gadis asing itu tak lagi terlihat dari atas sekat. Ia berjalan mendekati meja Jihyun lalu mengulurkan tangannya. ”Perkenalkan karyawan baru. Namaku Han Hyera, kau siapa?” tanya gadis itu.

Jihyun mengangkat alis. Han Hyera? Kenapa namanya mirip dengan sahabat cerewetku?

“Hei!”

Jihyun gelagapan. Lalu dengan cepat mengulurkan tangannya. “Namaku Park Jihyun. Senang berkenalan denganmu Hyera-ssi.”

Hyera mengibaskan tangannya. “Jangan panggil aku seperti itu. Cukup Hyera atau Hyera-ah saja. Bukankah terdengar lebih menyenangkan?”

Jihyun terkekeh sejenak melihat ekspresi Hyera yang benar-benar mirip anak kecil. Matanya berbinar-binar. Tak jauh beda dengan Hyera abad 21.

“Baiklah Hyera-ah. Mari kita menjadi partner yang hebat.”

***

            Langkah kakinya perlahan membawa gadis itu kedalam toko bunga. Entah bagaimana caranya ia mengetahui toko itu. Melalui insting mungkin.

Kling

Sang pemilik toko menoleh ke sumber suara. Lonceng berbunyi menandakan ada orang yang datang menjamah toko bunganya.

“Ada yang bisa saya bantu Nona?” tanya pemilik toko itu ramah.

Gadis itu. Park Jihyun. Mengulas senyum manis lalu menggeleng pelan. “Eung Ahjumma. Bisakah Ahjumma merekomendasikan tanaman yang tepat untuk digunakan didalam ruangan?”

Ahjumma itu nampak berpikir lalu tiba-tiba mengulas senyum lebar. “Sebentar Nona. Tentu saja ada.”

Jihyun mengangguk mengiyakan lalu berjalan pelan melihat koleksi bunga yang ada di toko itu. Kebanyakan adalah bunga romantis. Kenyataan yang membuat Jihyun sedikit mual.

“Nona, ini.” Tiba-tiba suara dari arah lain menyentaknya. Membuat Jihyun melangkah kembali ke arah Ahjumma tadi.

Ternyata tanaman yang dimaksudkan Ahjumma adalah Dieffenbachia. Tanaman indoor berdaun lebar dan corak hijau kuning yang memiliki spesies asli berwarna hijau dengan bercak putih.

“Cantik.” Tanpa sadar Jihyun bergumam lirih. Lalu perlahan tangannya serasa tergerak ingin menyentuh tanaman kerdil itu. Namun, tangan lain yang ternyata adalah tangan Ahjumma itu menahannya.

”Nona, hati-hati. Getahnya menimbulkan efek yang sedikit pekat. Yaitu menyebabkan gatal.” ujar Ahjumma itu seraya melepas tangannya dari Jihyun.

”Eh? Lalu kenapa Ahjumma memberikan Jihyun ini?” tanya Jihyun polos.

”Karena tanaman ini, menurut Ahjumma adalah tanaman paling indah. Selain karena corak cantik ini. Siapapun yang melihatnya akan merasa tenang.” jelas Ahjumma itu. Seraya mengamati tanaman penyejuk tersebut.

Jihyun bergumam. ”Memang benar, indah.”

Kling

Suara nyaring lonceng yang beradu dengan pintu terbuka membuat serempak mereka berdua menoleh ke pintu depan. Tampak seorang pria berkacamata, dengan jas hitam, kemeja putih minus dasi dibaliknya dan celana panjang yang senada. Tak lupa sepatu mengkilat. Mengungkapkan jati diri dari pemiliknya. Kehidupan orang di kalangan berada.

Langkah pelannya membuat pria itu bak model catwalk yang berjalan di atas red carpet. Sedikit terpaan matahari sore membuat wajahnya bersinar karena terpantul cahaya. Menyebabkan Jihyun sedikit menelan ludahnya. Kagum.

”Nak Kim Youngwoon.” pekik Ahjumma itu. Apakah mereka saling mengenal? Batin Jihyun.

”Haha Ahjumma bogoshippo.”

Tampak basa-basi membosankan keduanya membuat Jihyun sedikit kesal. Sebabnya, ia saat ini serasa di abaikan dan tak di anggap.

“Nah, Youngwoon-ah. Ingin membeli bunga apa hari ini?” tanya Ahjumma itu ramah.

Pria yang dipanggil Youngwoon itu melihat-lihat sejenak. Dan akhirnya terpaku pada tanaman yang berada tepat didepan Jihyun.

“Ini Ahjumma. Sungguh bagus. Apakah ini Dieffenbachia?” tanyanya. Ahjumma itu mengangguk semangat.

“Ya, tapi tanaman itu sudah ingin dibeli Nona ini.” terang Ahjumma itu lalu menunjuk Jihyun yang masih dalam posisi berdiri. Youngwoon menoleh sejenak pada gadis itu. Jihyun tersenyum penuh kemenangan sebentar saat dirasa pria itu memandangnya dari balik kacamata hitamnya tersebut.

“Apakah gadis ini sudah membayarnya?” tanya pria itu penasaran. Ahjumma menggeleng pelan. Membuat sudut demi sudut dibibir Youngwoon terangkat.

“Baiklah, ini saya beli Ahjumma.” Ujar pria itu lalu menyodorkan beberapa lembar uang kertas pada Ahjumma tersebut. Lalu melangkah keluar dari toko dengan santainya.

Jihyun tertegun. Kejadian ini mirip sekali saat dirinya ingin membeli parfume dan akhirnya parfume tersebut berpindah tangan pada Ahjumma menyebalkan itu. Apakah terulang lagi?

Tanpa pikir panjang, gadis itu segera berlari keluar dari toko tanpa memperdulikan teriakan dari Ahjumma pemilik toko.

“Sial, dimana orang menyebalkan itu sih?!” rutuk Jihyun kesal.

Pandangannya terlihat menelisik. Mencoba mencari orang tinggi besar di kerumunan sore ini. Matanya tampak jeli mencermati satu persatu orang yang berlalu lalang. Hingga akhirnya mata almond gadis itu tertumbuk pada pria yang akan masuk kedalam mobil. Ck jangan lagi.

”Tuan perebut bunga.. yak Tuan!!!”

Mobil itu telah berjalan pelan, meninggalkan Jihyun yang masih berusaha berlari. Tanpa sadar, gadis itu menambah frekuensi larinya. Demi sedikit ambisi kewarasan, Jihyun yakin kecepatan larinya saat ini akan membuat Chanyeol pelari paling cepat disekolah akan bergulung tikar. Hingga kini dirinya telah sampai didepan mobil itu dan merentangkan tangannya lebar-lebar.

Decitan memualkan dari ban mobil yang beradu dengan aspal membuat Jihyun sedikit meringis.

Pria berkacamata itu keluar. Dengan sebelumnya membanting pintu mobil keras-keras. ”Yak kau ingin mati Nona?” pekik pria itu kesal.

Jihyun mengibaskan tangannya lalu berkacak pinggang. ”Kembalikan Dieffenbachia milikku. Kau mengambilnya dengan paksa!” ketus Jihyun skeptis.

Pria itu tampak memutar bola matanya –menurut prediksi Jihyun- kesal. Lalu mencondongkan wajahnya ke wajah Jihyun. Yang membuat kepala Jihyun sedikit mundur.

”Aku sudah membayar, jadi itu milikku! Dan lagi, aku tidak ada niat mengalah pada gadis aneh sepertimu.”

Setelah mengucapkan itu, Youngwoon masuk kedalam mobil. Meninggalkan Jihyun yang masih berusaha menetralkan degupan tak berirama di jantungnya (lagi).

”Aku kenapa? Kenapa perasaanku aneh? Ah tidak! Aku harus fokus pada misiku! Dasar Mr. Perebut tanaman sialan!”

***

            Jihyun saat ini tengah fokus pada PC plasma didepannya. Terkadang guratan samar terukir di keningnya. Menandakan sang pemilik sedang sibuk dengan pekerjaannya.

Terdengar grusak grusuk suara kaki kursi beroda berdecit pelan. Menampakkan seorang gadis yang terduduk, muncul mendadak dengan setelah sebelumnya memundurkan kursi, lalu menatap Jihyun dari balik sekat triplek berukir.

”Psst.. psst Ji-ya.”

”Hm.” jawab Jihyun bergumam.

”Hei hei.” panggil suara itu lagi seraya berbisik.

“Hm.“ gumam Jihyun lagi. Mata gadis itu tak sedikitpun beranjak dari PC miliknya.

“Yak Park Jihyun!“ teriak suara itu. Kini lebih keras. Membuat Hyera mau tak mau menjadi pusat perhatian karyawan-karyawan yang lain.

Jihyun menoleh. Memasang tampang garang. “Aish kau ini kenapa sih? Cerewet sekali!“ gerutu Jihyun kesal.

Gadis itu –Hyera hanya tersenyum aneh lalu menggaruk lengannya, mungkin merasa bersalah. “Habisnya kau ini diam saja sih. Eh, eh. Kau tahu tidak-“

“Tidak.“ potong Jihyun cepat. Hyera mendecakkan lidah kesal.

“Hei hei, dengarkan aku dulu! Jangan potong perkataanku!“ perintah Hyera kesal. Jihyun menegapkan duduknya lalu memiringkan kursi kerjanya berhadapan dengan Hyera yang masih duduk manis dari biliknya.

Hyera berdehem. ”Anak pemilik dari perusahaan ini akan datang besok,” Hyera menggeser kursi kerjanya lebih mendekat ke arah Jihyun. ”Aku dengar-dengar dari karyawan lain. Dia itu masih lajang dan tampan.” bisik Hyera. Benar-benar mirip Ahjumma tukang bergosip.

Jihyun mengangkat alis.

”Lantas?”

Kini Hyera sungguh kesal dengan Jihyun. Menurut Hyera, Jihyun itu sungguh berbeda. Gadis yang tak peka dengan keadaan.

”Ish, kau ini bodoh atau idiot sih? Tentu saja ini kesempatan besar untuk menggaet bos besar.” jelas Hyera kesal.

Jihyun memutar bola matanya jengah lalu mengibaskan tangan kanannya. ”Aku tidak butuh seperti itu. Sudahlah, aku ingin kembali bekerja.” ujar Jihyun acuh. Lalu kembali menggeser kursi berodanya agar kembali seperti semula.

”Ck menyebalkan.” decak Hyera.

***

            Hari ini, tepatnya pagi ini. Putra dari seorang pengusaha terbesar di tempat perusahaan Jihyun bekerja akan datang. Masing-masing karyawan telah berjejer rapi di pintu otomatis lantai dua. Tepatnya pintu masuk menuju ruangan pribadi bos besar itu.

Bahkan banyak sekali karyawan perempuan tampil berbeda hari ini. Ada yang rambutnya dipotong, digerai, dan bahkan ada salah satu karyawan perempuan berdandan sangat nyentrik. Termasuk Hyera, gadis itu lebih bersinar hari ini.

Jihyun yang berdiri disamping Hyera, menyenggol lengannya. “Apa?” tanya Hyera berbisik.

Jihyun menggelengkan kepalanya lalu menatap Hyera dari ujung kaki sampai ujung rambut dan kembali lagi melihat wajah Hyera. Berdecak kesal. “Kau ini mau bekerja atau menjadi mascot pameran kosmetik huh?”

Hyera malah tersenyum lebar. Ia bangga akan itu, berarti hari ini dirinya sukses dengan misi perombakan besar-besaran. Gadis itu lebih memilih merapikan ujung rambutnya yang ikal dengan jari-jarinya. Jihyun hanya menggumam pelan melihat partner sekaligus teman genitnya itu.

“Hei Sajangnim sudah datang.” ujar seorang karyawan setengah berteriak.

Mereka semua berdehem sekilas, masih ada juga yang merapikan dandanan atau pakaian. Benar-benar.

Beberapa detik kemudian, seorang pria tampan bergesture gagah masuk kedalam pintu kaca yang otomatis terbuka itu. Pria tersebut sungguh tampan dengan balutan jas elit khas pekerja kantoran. Tak ada yang berani mendongak, terlebih Jihyun. Gadis manis itu juga tak mau ambil resiko untuk mendongak. Lebih memilih merunduk dagu.

Derap langkah teratur tiba-tiba terdengar mengerikan di telinga Jihyun. Gadis itu merasakan aura tak mengenakkan menghampiri dirinya. Benar saja, ternyata pria itu berhenti dihadapan Jihyun.

’Aish mati aku’ batin Jihyun.

”Hei Nona aneh.” panggil orang itu. Jihyun mengernyit, merasa suara itu tak asing baginya. Sangat familiar.

Perlahan Jihyun mendongak. Dan akhirnya mata almond-nya membulat seketika saat melihat pria yang lebih tinggi dihadapannya itu. Dia adalah Kangin!

”Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau lupa denganku?” tanya pria itu lagi. Jihyun memiringkan sedikit lehernya. Berpikir keras. Tentu saja Jihyun tahu. Bukankah dia itu Kangin Super Junior? Tapi kenapa pria itu mengenalnya? Dan tampaknya suara itu tak asing.

Kembali. Jihyun mencoba membuka satu persatu folder lusuh didalam otaknya.

.

.

”Tuan perebut bunga.. yak Tuan!!!”

”Yak kau ingin mati Nona?”

”Kembalikan Dieffenbachia milikku. Kau mengambilnya dengan paksa!”

”Aku sudah membayar, jadi itu milikku! Dan lagi, aku tidak ada niat mengalah pada gadis aneh sepertimu.”

.

.

            Tiba-tiba saja Jihyun mendongak kembali. Menyuguhkan ekspresi ’benarkah-itu-kau?’ pada pria yang ternyata atasannya ini.

”Mr. Perebut tanaman?!” pekik Jihyun. Membuat pria didepannya ini tersenyum remeh. Dan lagi, semua karyawan memandang mereka berdua. Seolah mereka adalah pusat kehidupan.

”Wah itu julukanku? Sangat mempesona.” ujar pria itu dengan nada yang dibuat-buat kagum. Membuat nyali Jihyun seketika menciut.

Kim Youngwoon adalah Kangin. Dan Kangin adalah atasannya. Dan atasannya adalah target selanjutnya.

Masa lalu atau masa depan? Yang jelas ini sungguh mengerikan.

***

            Setelah kejadian memalukan tersebut. Jihyun kerap sekali di panggil Youngwoon untuk menghadapnya. Sekedar basa basi. Yang paling sering yaitu, Youngwoon menyuruh Jihyun mengantar kopi untuknya. Memangnya Jihyun itu pelayan?

”Jihyun-ah, kau dipanggil Sajangnim.”

Jihyun mendongak, melihat wajah teman kerjanya. Mengangguk sebentar lalu mendengus kesal. ”Mau apa lagi sih dia?”

Saat ini Jihyun telah sampai di depan ruang kerja Youngwoon. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Memang sudah kebiasannya.

Tampak kursi putar Youngwoon memunggunginya. Menandai seorang penghuninya sedang melihat pemandangan ramainya jalanan Seoul dari jendela.

”Sajangnim memanggil Saya?” tanya Jihyun. Kursi pria itu bergerak otomatis, memperlihatkan wajah tampan Youngwoon yang menatapnya intens.

Jihyun menatap Youngwoon malas. Tipe karyawan kurang ajar.

Saat mulut Youngwoon tampak ingin terbuka, dengan segera Jihyun menyelanya. ”Jika ingin kopi, akan segera Saya ambilkan. Tidak usah menyuruh pun, Saya akan mengantarnya.”

Youngwoon berdecak sebal. Berdiri dan melangkah pelan menuju arah Jihyun. Ia sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jihyun.

”Aku sedang tidak butuh kopi. Tapi,” Youngwoon sengaja menggantungkan ucapannya. Sedikit pikiran kotor beterbangan di benak Jihyun.

Pria itu mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik. Seketika membuat mata Jihyun membulat lebar.

***

            ”Kau bilang ini kencan hah? Menyebalkan sekali, harusnya aku tidak usah mengiyakan ucapanmu tadi Youngwoon-ssi.“ desis Jihyun kesal. Memang, jika di kategorikan dalam perumusan berkencan. Ini tak masuk dalam list tersebut. Karena, saat ini mereka sedang berkebun di dalam rumah kaca pribadi milik keluarga Youngwoon.

Ya, Kim Youngwoon mengajak seorang Park Jihyun untuk berkencan, dengan embel-embel, jika menolak akan di pecat dari pekerjaannya.

Pria itu terkekeh melihat Jihyun yang kesal. Menurutnya, gadis itu sangat lucu dengan berbagai ekspresi.

”Yak jangan tertawa, apanya yang lucu?” teriak gadis itu kesal.

”Hei hei, ini termasuk kencan Nona Park. Dan hei, kenapa kau memanggil namaku tanpa embel-embel apapun hah?!” tanya Youngwoon berpura-pura marah.

Jihyun yang sedang berjongkok itu mendongak. ”Bukan urusanmu. Lagipula ini bukan di kawasan kantor. Kau ini tetap menyebalkan seperti biasanya.”

Youngwoon tergelak sesaat. Namun akhirnya ikut berjongkok membantu Jihyun memberi pupuk untuk Aglaonema Pink Panther kesayangannya.

”Kau tahu,” ucap Youngwoon tiba-tiba. Membuat Jihyun menoleh ke arahnya. Tertarik akan kelanjutan ucapan tersebut. ”Aglaonema ini adalah tanaman paling terkenal dan langka di dunia. Banyak sekali kolektor tanaman hias yang ingin sekali membeli tanamanku ini. Aku tetap menolak walau mereka membayar jutaan won sekalipun-” Youngwoon menghela nafas sesaat.

”Memangnya kenapa?” tanya Jihyun. Gadis itu ternyata sangat tertarik dengan cerita Youngwoon. Youngwoon menoleh lalu tersenyum lemah. Ekspresi pertama yang membuat Jihyun sedikit terkesiap. Biasanya pria itu selalu memberikan tatapan tajam, dingin atau sombong. Tapi sekarang, sungguh mengejutkan.

”Mendiang Umma mencari tanaman ini sampai keliling Seoul. Beliau berusaha mati-matian mencari ini demi aku. Waktu itu, aku sedang sakit. Dan tiba-tiba saja aku ingin sekali Aglaonema Pink Panther. Saat itu juga, beliau langsung menyambar kunci mobil dan berkeliling Seoul untuk mencarinya.”

Keheningan pun melengkapi suasana disitu. Setelah menceritakan tentang asal muasal tanaman itu, entah kenapa hati Youngwoon lebih terasa ringan. Lalu tiba-tiba saja keheningan tersebut dipecahkan oleh isakan lirih dari mulut Jihyun. Youngwoon yang mendengar itu, sontak menoleh. ”Kenapa menangis?” tanya Youngwoon khawatir.

Jihyun mendongak lalu buru-buru mengusap matanya. ”T-tidak, hanya saja, Ibumu sangat hebat. Aku tak menyangka dia akan melakukan itu.” ujarnya tersendat-sendat di sela isakan tangisnya yang tak kunjung mereda.

Youngwoon tersenyum simpul lalu berdiri dan meninggalkan Jihyun. Membuat Jihyun sedikit mengerutkan kening.

”Ini untukmu.” Pria itu datang dan mengulurkan pot kecil berwarna hitam. Jihyun masih belum bisa menebak isinya karena ia masih dalam posisi jongkok. Lalu sepersekian detik kemudian setelah tangisnya mereda. Ia berdiri dan melihat pot itu.

”Dieffenbachia?” tanya Jihyun bingung. Pria itu terkekeh sejenak lalu menarik kedua telapak tangan Jihyun dan meletakkan pot kecil itu di atas tangannya.

”Kau tahu? Kau ini mirip Dieffenbachia.“ terangnya tiba-tiba. Kerutan di dahi Jihyun semakin terlihat saat pria itu membandingkan Jihyun dengan tanaman.

“Aku tak mengerti.“

Youngwoon berdesis sebentar, menatap Jihyun intens lalu menyentuh bahunya lembut. “Tanaman ini sungguh indah, banyak sekali orang-orang yang terpana akan kecantikan dari luarnya. Namun, tak semua yang tampak dari luar itu baik. Tanaman ini juga bisa melawan dan memberontak dengan getahnya,“

“Jadi, jika ada orang yang berusaha menyentuhnya atau mungkin ingin berniat buruk. Dia dengan brutal akan melawannya. Seperti dirimu. Kau cantik, banyak orang yang mengagumimu. Namun, sifatmu itu tenang tetapi menghanyutkan. Yah, setali tiga uang.“ ujar Youngwoon panjang lebar sambil terkekeh.

Wajah Jihyun terasa memanas, ia menutupi itu dengan memukul pelan dada Youngwoon setelah sebelumnya meletakkan pot kecil tersebut di rak sampingnya.

Mengetahui itu, Youngwoon jadi tersenyum lebar lalu menarik Jihyun kedalam pelukannya. ”Hyun-ah, mungkin selama ini aku sering membuatmu kesal. Namun, semata-mata karena aku menyukaimu sejak pandangan pertama. Kau cantik dan manis. Apalagi sifat beranimu itu membuatku jadi penasaran padamu. Jadi, jika aku menyuruhmu untuk mengantar kopi, itu hanya kamuflase.”

Jihyun mendongak. Menatap Youngwoon kesal. Pipinya bahkan telah menggembung. “Kau menyebalkan Kim Youngwoon.” desisnya kesal. Lalu menenggelamkan diri di dada bidang Youngwoon. Perasaannya sungguh hangat.

“Saranghae Hyun-ah.” ucap Youngwoon berbisik di telinga Jihyun lalu mengeratkan pelukan mereka.

Jihyun mengangguk lemah dipelukan Youngwoon. ‘Mianhae Youngwoonnie. Mianhae Kangin.’

Youngwoon melepas pelukan mereka lalu mencium kening Jihyun lembut. Bahkan sangat lembut. Seolah Jihyun adalah benda yang mudah rapuh.

Setelah Youngwoon melepas tautan bibirnya dari kening Jihyun. Ia tersenyum. Membuat Jihyun mau tak mau membalasnya dengan senyuman lemah.

Perlahan tangan Jihyun yang saat ini tengah menangkup pipi chubby Youngwoon tiba-tiba terlihat samar. Isakan lirih seketika menguar dari balik bibir mungilnya. Dimulai dari tangan, lalu merambat ke lengan dan terakhir tubuhnya menipis. Lalu memudar pelan dengan frekuensi lambat. Seperti menggoda Jihyun untuk lebih tersiksa.

“Nado.. nado.”

Lalu, menghilang dan lenyap.

***

            BRUK

“Aish sakit. Kenapa sih selalu di mulai dengan jatuh!”

Gadis itu meringis pelan saat dirinya merasakan hantaman kuat di bahu kirinya. Membuat ia mau tak mau harus jatuh tersungkur di lantai.

”Nan gwenchana?”

Jihyun mendongak saat dirinya melihat tangan yang terulur ke arahnya. Tangan yang tampak halus. Mungkin akan jauh lebih halus jika disentuh.

”Hei?”

Buru-buru Jihyun menggelengkan kepalanya dan menerima uluran tangan tersebut. Gadis itu cepat-cepat menunduk berulang kali untuk meminta maaf.

”Hei jangan seperti itu, tadi salahku. Nan gwenchana?” tanya suara itu lagi, yang terdengar berat namun sarat akan kelembutan.

”Ah nan gwen-” Bibir Jihyun membulat sebentar. Di ikuti mata, lalu sistem syaraf di tubuhnya seperti membeku. Menyadari siapa orang di depannya.

”Kibum?!” pekik Jihyun setengah berteriak.

Pemuda itu menggaruk kepalanya bingung. Astaga, itu bahkan berkali lipat lebih tampan dari senyum killernya.

”Bagaimana bisa kau tahu namaku?” tanyanya bingung. Wajahnya benar-benar manis.

Kesadaran Jihyun kembali pulih saat pemuda itu menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Jihyun.

”A-a, tidak tidak. Ah maksudku, itu.. kau.. Eung wajahmu mirip wajah Oppaku. Namanya juga Kibum. Jadi apakah namamu juga Kibum?” tanya Jihyun tergagap. Membuat pemuda itu terkekeh kecil merasa jika tingkah gadis di hadapannya sungguh lucu.

“Wah kebetulan sekali. Perkenalkan, namaku Kibum. Mungkinkah aku ini kembaran Oppamu?” guraunya. Jihyun sedikit salah tingkah dibuatnya.

”Hehe mungkin saja. Ah, perkenalkan. Namaku Park Jihyun. Kau bisa memanggilku Jihyun.” terang gadis itu sambil mengulurkan tangannya.

Kibum kembali tersenyum. ”Ah, apa kau murid baru? Sepertinya aku baru melihatmu di kampus ini?”

Jihyun mengangkat alis. Lalu mengedarkan pandangannya pada tempat asing yang ia pijak kali ini. Koridor besar yang ujungnya entah berhenti dimana. Dengan cat tembok berwarna hijau tosca menenangkan. Apakah ini fakultas?

”Jihyun-ssi?”

Jihyun kembali menghadap wajah Kibum. Mati-matian gadis itu untuk tidak menjadi fangirl yang berteriak histeris saat ini. ”A-ah ya Kibum-ssi. Kalau begitu aku mencari kelas dulu ya. Senang bertemu denganmu.” pamit Jihyun lalu mengulas senyum sekilas.

Ia berbalik lalu berjalan pelan kedepan. Tak peduli dia akan tersesat atau tidak. Yang terpenting saat ini, Jihyun harus berusaha meredam degupan jantungnya. Ditambah lagi, mungkin wajah semerah kepiting rebus terlukis di pipinya. Benar-benar memalukan.

”Jihyun tunggu!” Gadis itu berbalik saat dirasa ada seseorang memanggil namanya. Kibum?

”Ya Kibum-ssi?”

Pemuda itu merogoh kantung celananya lalu mengulurkan sesuatu pada Jihyun. ”Ini. Waktu tadi kau terjatuh, tak sengaja aku menginjak parfume ini. Aku rasa ini milikmu bukan?” tanya Kibum seraya mengulum senyum manisnya (lagi).

Jihyun memiringkan kepalanya lalu dengan pelan mengambil parfume itu dari telapak tangan Kibum.

DKNY Golden Delicious. Parfum dengan botol yang dilapisi 14 karat emas kuning dan putih original. Di hiasi sekitar 2700 berlian putih seberat 15,17 karat. 183 buah safir kuning keemasan seberat 2,28 karat dan 14 karat emas putih yang dibuat dari hiasan berbentuk langit Manhattan. Berlian 2,43 karat tanpa cela yang berbentuk kenari menghias tutup botol itu, berdampingan dengan logo DKNY Golden Delicious berbentuk oval. Aroma yang manis dan khas.

”Sempurna.”

TBC

Iklan

24 responses to “Thir13een Parfume Volume 5

  1. aaaa nyesek banget si jihyun pasti T.T
    aku baca chapter kanginn senyum2 sendiri,, bayangin pas adegan di rumah kaca >///<
    keren yuu,, aku tunggu yang part kibum lo yaaa 😀

  2. oh tidaaaaaak
    ahahahaha
    udah brapa mmber nih
    aku gak ngitung #duak
    ahahahaha

    ah selalu
    aku selalu penasaran dgn part KYU
    semoga untuk KYU lbh panjang kkkk

    keep writinh thor
    and dtggu next partnya

    eoh semoga FD nya mau di buka dan FF bisa d post kkkk

  3. oh tidaaaaaak
    ahahahaha
    udah brapa mmber nih
    aku gak ngitung #duak
    ahahahaha

    ah selalu
    aku selalu penasaran dgn part KYU
    semoga untuk KYU lbh panjang kkkk

    keep writinh thor
    and dtggu next partnya

    eoh semoga FD nya mau di buka dan FF bisa d post kkkk

    AMIN

    • haha, sama
      aku juga lupa udah berapa member wkwk -_-
      hehe, part kyu udah ada, tapi ya itu masalahnya T.T *nangisdipelukankyuhyun *dikecupdonghae(?)
      eh thankseu dear, semoga saja FD-nya cepet beres, baru minta di servisin temen *ehcurcol #ditabokbolakbalik *kebanyakantag -_-
      thankseu for read:3

  4. abis baca marathon dr part 1-5. daebak jg ide ceritanya.. 😀

    apakah krn terbatas satu member satu part? ada bbrp bagian yg menurutku agak kecepetan alurnya. mm, misalnya pengakuan love at first sight yg mendadak di cerita eunhyuk sama kangin ini. but overall, keren loh.. masalah yg dihadapi jihyun dan member itu lumayan beragam, and gak mulu ttg percintaan org dewasa.

    nice thor..
    *lanjut baca part selanjutnya. haha..*

    • hai kak Fia /mendadakkenal -_-

      Em gimana ya, aku emang buat gitu. Setengah2. Jadi maap ya kalo menurutnya dikit 🙂

      Bener, aku juga males kalo buat romance muluk, kubuat fams, horor dan persahabatan. Jadi kompleks

      Sip, silahkan baca kak 😀

  5. seriously? arggh! gereget pas dipeluk jadi ilang terus. apa lagi pas sma hyukjae dipart sblmnya… penjelasan tentang parfumnya menditail~ jadi penasaran wanginya gimana, next thor, good job^^

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s