Begin of The Mission Chapter 6

(Jihyun beraksi)

Semuanya tak akan lebih baik jika tak diungkap secara terinterupsi.

Suatu pernyataan yang tiba-tiba terkuak menjadi langkah menuju satu keajaiban.

.

.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Spy, Action, Romance

Park Jihyun, Cho Kyuhyun

PG-16

.

.

BOTM ART By Cho

            Sebelum aku menamatkan diri untuk melangkah lebih jauh mendekati gerbang. Aku menoleh sebentar ke pintu depan rumahku. Oke, sudah tertutup dan aman. Memangnya apa yang kuharapkan? Pintu itu mengangkat diri lalu memakai sandal jepit dan berlari mengitari taman?

Kusentuh gerbang hitamku ini lamat-lamat, mengamati dengan detail. Memang tak ada yang aneh. Tetapi, gembokku tidak ada dan gerbang ini tertutup rapat-rapat. Mustahil jika Hani masuk dengan mengangkat dressnya lalu memanjat gerbangku.

Mencoba dengan pilihan pertama. Mendorongnya. Apakah ini memang menempel atau memang tak bisa dibuka. Jadi, pilihan pertama salah! Sepertinya aku terlalu bodoh. Gerbang dengan tinggi hampir enam meter yang beratnya tak akan bisa kudeskripsikan, kucoba membukanya dengan mendorong. Dua tangan kecil versus dua gerbang raksasa. Jelas itu salah!

Kedua. Aku mengambil remote dari tasku lalu menghirup udara dalam jangkauan yang besar. Menekan tombol merah besar ditengah lalu voila. Gerbang ini terbuka. Aku tercengang dengan wajah bodoh merangkap malu. Untunglah tidak ada yang melihat.

Jadi, kesimpulannya adalah. Pertama, Hani berbohong. Kedua, Hani itu sudah gila karena mungkin saja dia memanjat betulan. Ketiga, Hani memang punya tenaga super besar dengan kekuatan Iron Man. Atau yang ke empat, dia punya suatu rahasia untuk membuka gerbangku.

Saat ini aku masih berdiri tolol di dalam. Menatap gerbang yang membuka ke arah luar dengan seksama. Seolah-olah aku baru saja melihat gerbang fantasi yang dapat membuka sendiri.

”Hei Hyunnie-ya.”

Aku menoleh. Disana terlihat Hyera dengan wajah amarah yang meletup-letup sedang bersandar di kap mobil tapi melirik sedikit ke arahku.

”Eh?”

Entah bagaimana caranya, dan sejak kapan Hyera sudah ada didepanku, melipat tangan dan membawa sebuah tas yang sudah pasti akan dilayangkan ke arahku.

”Yak kau ini kenapa? Ayo cepat!”

Tangan Hyera menarik tanganku dengan erat. Sedikit perih memang. Tapi aku membiarkannya saja. Masih berkelebatan pemikiranku tentang cara-bagaimana-Kim Hani-masuk-rumahku.

***

            ”Hei kau kenapa? Daritadi diam saja.”

Aku menoleh sebentar pada Hyera yang sedang mengamati jalan didepannya tanpa sedikit pun melirik ke arahku.

”Entahlah. Hanya saja ini aneh.” ujarku. Kembali memandangi jalanan Seoul yang sedikit bersalju tanpa gairah. Aku meniup kaca jendela hingga berembun lalu melukis sesuatu yang abstrak disana.

”Apa maksudmu?” tanyanya.

Aku menghela nafas lalu bersandar nyaman di jok. Melihat gerakan teratur di kaca depan mobil yang bergerak berlawanan arah.

”Hani. Dia bisa masuk rumahku.”

Terdengar suara tawa tertahan dari Hyera. Aku menoleh lalu melihatnya lekat-lekat. ”Why? Ada yang lucu?” tanyaku tak biasa. Aku kesal.

Dia mengangguk. Memukul-mukul stir seperti orang tak waras. Lalu menghentikan mobil tepat di traffic light.

”Hani itu siapa? Dan kenapa kau berpikir jika masuk-rumahmu-itu-sungguh-aneh.” Hyera memiringkan kepalanya. Lalu mengedip bodoh.

Kubuka mulutku untuk berkata ya, tapi tangan Hyera dengan cepat menforsir gigi mobil lalu mengegas dengan ya.. seperti orang terkena epilepsi. Hingga berdampak kepalaku hampir tergores dashboard. Menakjubkan.

”Kau gila!” pekikku.

”Ah terimakasih.” katanya. Dan terus mengoceh betapa bagusnya mall baru yang akan dibuka didaerah Myeongdong. Terus terang, aku mulai muak dengan Hyera dan mall-nya.

Intinya, aku benar-benar bertahan semobil dengan Hyera yang maniak belanja tapi tak tahu model pakaian Prada, Gucci dan lain-lain. Itu tidak keren.

***

”Kenapa berhenti?” tanyaku sewaktu kami berhenti tepat di depan toko kain jelek. Ya, memang begitu faktanya. ”Apa mobilmu rusak? Mesinmu mogok?”

”Tidak.” kata Hyera lalu menatap toko itu.

Aku memicingkan mata. ”Jangan bilang ini mall barumu?” tanyaku seduktif.

Hyera menatapku dengan wajah seolah-olah berkata wah kau sungguh-sungguh tidak sabar ya. Membuatku mengerang.

”Kita harus turun dan berjalan lima blok dari sini. Aku rasa disini tempat strategis untuk parkir. Bukankah ini keren?”

Keren? Bahkan selera Jino menurutku lebih keren daripada adiknya. Jujur, ini mengerikan.

Hyera turun mendahuluiku. Ia merentangkan tangan seolah-olah baru saja menempuh perjalanan 24 jam. Hello? Kau pikir kita habis kemana? Liburan? Jetlag? Bermain selancar angin di Tahiti?

”Hei turun cepat. Aku tidak mau ketinggalan diskon besar-besaran.”

Hyera mengetuk jendela sampingku sambil berteriak berlebihan. Astaga, biarkan aku mati saja, please?

Aku membuka pintu dengan lambat. Menutupnya dengan manis. Ups-, manis? Karena bukan aku yang menutupnya. Hyera yang menutup. Seakan-akan dia tahu jika moodku menurun, down, sampai drastis. Dia tak akan mengizinkanku menyentuh barang-barangnya. Kau-tahu-maksudku.

Kami berjalan beriringan. Aku malu. Sungguh! Daritadi Hyera terus saja mengoceh dan bersiul. Meremas tanganku dan aku mencoba mengabaikannya walau sesekali dia benar-benar memotong aliran sirkulasi darah di kelima jariku.

***

            “Ayo masuk!” katanya. Tersenyum lebar ke arahku lalu meninggalkanku. Sekali lagi, MENINGGALKANKU!

“Ya tuhan, kenapa aku bisa mengenal orang seperti dia?”

Pemandangan pertama yang tertangkap dari indra penglihatanku adalah ratusan –ah mungkin ribuan orang yang benar-benar gila belanja bagian ’70% ALL SALE’ Huh! Lucu sekali! Aku ingin tertawa sekarang! Haha bolehkah?

Aku memasuki mall dengan pandangan menelisik. Bolehkah kukatakan? Ini lebih hancur dari remah-remah makanan Jerry (anjingku yang sudah mati) sehabis makan. Suara berisik orang-orang yang dimana-mana, satu sudut, tiap sudut, berbagai sudut.

Well, bagiku ini tak lebih bagus daripada cuci gudang sekalipun. Barang-barang yang terkena emblem diskon ini adalah bahan yang tak layak pakai. Dan akan berakhir menjadi sapu tangan penggosok kutu anjing.

”Kemari.. kemarilah. Disini ada produk Chanel, Prada, Gucci, Givency, Burberry, DKNY dan lain-lain.” seru seorang ahjussi paruh baya, setengah baya, hampir tua. Di salah satu stand yang kurang lebih dua meter dariku. Hah? Serius?!

Beberapa Ahjumma yang menenteng beberapa kantong –aku yakin, disetiap tangan menyangking 5 kantong- besar di kedua tangan mereka tampak antusias lalu mulai mengobrak-abrik pakaian-pakaian merk terkenal –katanya itu.

”Woah lihat, apa aku tampak cantik? Ini bagus sekali.”

Cantik? Yang benar saja! Ahjumma yang hampir berkepala empat genit sekali dengan gaya sok elegan. Saling memuji satu sama lain. Mereka terkekeh cekikikan yang membuatku menahan mulas.

”Tentu saja. Lihat, ini keluaran terbaru Marios Schwab.”

Ahjussi penjaga stand tampak bersemangat mempertontonkan barangnya. Marios Schwab? Tapi, itu berbeda dengan koleksiku. Jangan-jangan.

Aku menghampiri stand itu. Tampak mereka tertawa bersama saling pandang memandang. Aku mengerutkan hidung, tampak berpikir.

”Ahjussi, apa itu benar merk Internasional?” tanyaku. Berpaling ke arah kerumunan Ahjumma tadi yang tiba-tiba berhenti cekikikan.

”Hah? Apa kau bilang nona? T-tentu saja. Asli ini. Asli.” sangkalnya. Dia mengetukkan telunjuknya di atas kepalan tangannya. Terlihat gugup. Itu lucu.

Aku mengangkat alis.

”Benarkah? Tapi setahuku merk ini..” aku tersenyum sebentar ke Ahjumma genit tadi lalu meminjam pakaiannya. ”Ini bukanlah Marios Schwab. Ini terlalu tipis dan ah,”

Ahjussi menjerit saat tak sengaja melihat pakaian yang ku elus robek –tak sengaja.

”Ahjussi, kau penipu.” ujarku. Mendekap erat tasku. Jika nanti dia ingin meminta bayaran, aku tinggal memukulkan tas ini ke kepala botaknya agar otaknya lurus kembali.

Lalu tanpa diduga, kumpulan Ahjumma genit tadi berteriak dan memukul Ahjussi dengan tas mereka (kau tahu, kantong belanjaan tadi sungguh berguna) hingga Ahjussi berlari, menjerit memalukan.

”Huh, begitu banyak penipuan hingga seperti itu.”

***

            Menikmati orang yang lalu lalang didepanku membuat kepalaku sedikit pusing. Begitu banyak orang. Aku benci.

Hyera bodoh menyuruhku menunggu 15 menit. Aku benci menunggu. Seumur-umur aku belum pernah menunggu, itu menyebalkan kau tahu?

Bruuukk..

”Ah.”

Seorang lelaki tiba-tiba tersungkur dihadapanku. Ia meringis saat tak sengaja lututnya menggores lantai. ”Apa kau baik-baik saja?” tanyaku, lalu membantunya berdiri.

”Eh?” wajahnya tampak cemas dan aneh. ”Ya, terimakasih.”

Dia tampak bergumam. Aku bersumpah mendengar kata-kata aneh dari mulutnya. Apa dia sedang melakukan self talk?

Pria itu menoleh sebentar padaku. Mungkin baru sadar jika ada aku disampingnya yang memandangnya dengan pandangan heran, bertanya-tanya dan tampak maniak. ”Maaf, apa kau tidak apa-apa?”

Aku mengedip dua kali dengan cepat. ”Eh? Tentu.”

”Baiklah, aku harus pergi dulu. Terimakasih.” pamitnya, lalu berbalik dan menggosok telinga dengan menjijikkan. Aku menyipit. Ah!

”Hei.”

Hyera datang dengan sumringah sambil menenteng banyak kantong. ”Apa?” tanyaku.

Hyera menatapku, ”Tenang saja, aku sudah membelikanmu pakaian. Ayo kita makan dulu!”

Diam. Aku tetap diam. Ini salah! Aku harus bertindak.

            Too : Jongwoon Oppa

            Kau tahu, aku rasa kasus ini semakin dekat. Hubungi aku setelah menerima pesanku Oppa.

***

            ”Kau tahu, pakaian yang kubeli adalah bla bla bla..”

Lanjutan dari kalimat Hyera terdengar aneh di telingaku. Aku hanya bisa melihat mulutnya yang bergerak-gerak tak jelas sesekali tertawa. Aku masih berpikiran tentang pria tadi. Dia..

Drrtt.. drrttt..

”Dan hei!”

Aku meletakkan telunjuk di depan bibir. Menyuruhnya diam.

”Halo.”

”Apa? Kenapa? Kau melihat sesuatu?” tanyanya beruntun dari ujung telpon sana.

Aku mendelik, ”Kau harus tahu ini. Aku tadi melihat orang aneh yang memakai sesuatu yang aneh sekali ditelinganya. Bukankah aneh?”

Yesung terkekeh bodoh. ”Kau pikir sesuatu yang aneh hanya untuk melihat telinga orang? Apa kau tidak pernah melihat piercing? Mungkin saja..”

Klik..

Segera aku memutus sambungan telepon saat melihat seseorang. Dia! Terlihat cemas dan memandang gelisah ke segala arah. Ia celingukan disudut food court sambil sesekali menyeruput minumannya.

”Ah Ra-ya, sebentar. Aku ingin pindah kesana. Rasanya agak menyenangkan sepertinya.” kataku. Mengangkat gelas lalu melambaikannya pada Hyera. Agaknya ini terlalu berlebihan. Tapi, tidak. Ini mekanisme defensif masa remaja.

Meja pojok agak tertutup membuatku sedikit bisa menghela nafas. Setidaknya aku tidak akan terlalu mencurigakan dengan predikat penguntit kelas kakap.

Kupasang mataku lamat-lamat. Semoga tidak ada yang mencurigai. Baiklah tinggal menunggu sesuatu.

Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Terlihat dari sini Hyera menatapku bingung. Kubalas dengan senyuman simpul.

Pria itu tampak lebih cemas dari sebelumnya, bahkan Ia mengetukkan telunjuk di meja. Seperti gugup. Sering ku alami.

Tiba-tiba saja Ia mengalihkan tatapannya pada pria yang baru saja datang. Oh sial! Dia membelakangiku. Aku tidak bisa melihatnya. Baiklah.

            Too : Hyera

            Ra-ya, bisakah kau kesini?

”Ada apa?” aku mendongak. Cepat sekali dia.

Aku mengibaskan tanganku menyuruhnya duduk. Membisikkan sesuatu. ”Bisakah kau pura-pura menjatuhkan minumanmu disana?” tanyaku pelan-pelan.

Hyera membulatkan mata tidak setuju lalu mengumpat pelan. Ya ya ya, aku mendengarnya bodoh.

”Aku akan mengajakmu diving minggu depan. Bagaimana?”

Hyera menyipitkan mata memandangku. ”Kau serius?” aku mengangguk.

”Baiklah, tapi janji ya. Memang kenap-”

”Jangan bicara lagi, pakai ini dan segera kesana. Aku tak punya waktu untuk menjelaskan Han Hyera sayangku.”

Hyera mendengus seperti kuda lalu beringsut berdiri dan menjalankan rencananya. Hyera, kali ini kau harus membantuku.

***

            Tampak dari sini Hyera berjalan sok anggun di sudut. Sesekali berbalik melirikku. Aku mengedipkan mata cepat memberi kode agar berjuang.

Minuman didepanku hanya kuaduk-aduk tanpa gairah. Melirik kecil Hyera yang sepertinya beberapa detik lagi akan menjalankan misinya.

Satu..

Hyera berjalan membawa minuman sambil mengotak-atik ponsel.

Dua..

Dia mulai mendekat pada pria itu.

Tiga..

Brukk.. Pyar..

“Ah.”

Aku berdiri saat suara pecahan gelas itu terjadi. Hyera berlebihan. Aku ‘kan sudah menyuruhnya hati-hati, eh kenapa malah dipecahkan. Dasar!

Seluruh pengunjung menatap Hyera kahawatir. Dua pria itu yang menjadi korban (karena sepatu kerennya basah) meringis sebal. Tapi setelahnya membantu Hyera.

Kulihat dari sini mereka seperti terlibat suatu percakapan. Terlihat dari gelagat Hyera yang tertawa-tawa mencurigakan.

Kemudian Hyera berjalan kemari sambil menunduk ke semua pengunjung –syukurlah dia benar-benar peka meminta maaf. Menghampiri mejaku.

“Otte? Kau membuatku malu ish!”

Ia mendengus lalu menduduki kursi didepanku dengan keras. Suara berdebam terdengar.

Aku terkekeh, “Maaf, tapi kau keren!” pujiku. Dia tersenyum bangga.

”Ini,” Hyera menyodorkanku spy watch milikku. ”Memangnya kenapa kau menyuruhku seperti itu?” tanyanya. Menyeruput milk shike sedikit demi sedikit. Menimbulkan suara menjijikkan. Dia melepas sedotannya lalu mendelik padaku. ”Jangan bilang orang itu targetmu?”

Aku terkekeh pelan. Menutupi mulutku. Cekikikan kecil. Lalu terbahak namun bisa kukontrol. ”Ra-ya? Kau pikir pria tua seperti itu akan ku jadikan target. Jangan bercanda.”

Hyera memukul tanganku. ”Bukan itu maksudku bodoh! Maksudku itu memangnya dia orang jahat? Pembunuh bayaran? Pembunuh misterius? Koruptor? Psikopat? Maniak? Pam-” aku melempar mulutnya dengan tisu. Sebelum semua profesi dia jabarkan.

”Aish menyebalkan.”

***

            ”Astaga?! Kim Jonghyun?!”

Aku mengatupkan mulutku rapat-rapat. Mataku. Lalu meremas tangan Jino dan Jongwoon disampingku.

Tangan Jongwoon terasa bergerak-gerak mencari kebebasan. ”Yak Park Jihyun! Kau memotong aliran sirkulasi darahku.”

Jino meringis. ”Hyunnie-ya lepaskan. Sakit!”

Keadaannya sungguh diluar kendali. Baru saja aku mem plug-in hasil rekaman spy watch milikku ke laptop. Bergerak-gerak. Memunculkan gambar yang jelas namun bersemut. Pria misterius yang jatuh bertemu dengan Jonghyun?! Ini aneh. Semakin aneh dan aneh saat Jongwoon dan Jino menatapku kompak. Bingung.

”Kau kenapa? Lalu jelaskan padaku kenapa kau menyuruh Hyera berpura-pura menjatuhkan gelas dan merekam dua orang aneh ini?”

Jongwoon memborbardirku dengan pertanyaannya. Membuat Jino mengangguk dua kali lalu mengerjap tiga kali.

Aku menarik napas panjang-panjang. ”Aish Kim Jongwoon. Bukankah kau sudah ku kirimi pesan tentang orang yang memakai walktalk suara ditelinga? Ini orang itu!” aku menunjuk pada pria asing tadi. ”Dan dia adalah Jonghyun, teman Sungmin Oppa.” telunjukku beralih. Menggurat ke wajah Jonghyun.

”Masuk akal. Tapi, aku masih sangsi. Memang kita bisa menyimpulkan langsung jika mereka pelakunya nanti?”

”Tentu saja kita harus hati-hati. Jangan kau pikir kita ini bodoh dan tidak profesional. Aku masih sayang nyawa!”

”Kau benar, aku juga enggan mengira-ngira. Kita harus menemukan lebih banyak bukti. Coba putar videonya lagi Oppa.”

Video diputar. Durasi sekitar tiga menit bergerak pelan. Dengan adegan pertama view yang bergerak-gerak –aku yakin, karena Hyera lebih fokus bermain ponsel- tak beraturan. Pada menit pertama mulailah adegan tumbangnya Hyera. Dia terjatuh dengan sebagian minuman yang menciprat ke sepatu pria asing dan Jonghyun. Pecahan gelas berserakan. Namun, tak mengenai mereka.

Pada menit ke dua lebih lima belas detik. Mereka terlihat tertawa.-tawa. Wajah Jonghyun terlihat sedikit –itulah yang membuatku mengenalinya. Lalu pelayan datang di menit ke 3. Membuat semuanya selesai.

“Apa ada yang aneh lagi?” tanya Jino. Jongwoon menatapku dan Jino bergantian. Lalu menggeleng.

Aku menatap video yang telah berhenti itu lamat-lamat. Adegan terakhir dengan gambar jatuh miring. Tangan seorang pelayan menjulur membersihkan pecahan kaca. Tepat dibawah sepatu pria asing.

”Eh Oppa, bisakah kau men-zoom sepatu pria asing?”

Tangan Jino tergerak lincah memijat mouse. Menggiring kursor ke bagian 01:25.

Sepatunya terlihat basah. Tidak ada yang aneh.

”Eh kenapa sepatu orang ini tidak basah?” Jongwoon menunjuk ujung sepatu Jonghyun. ”Memangnya kenapa Oppa? Apakah itu masalah?” tanyaku.

Praktis. Aku dan Jino menatap Jongwoon bingung. Membuat dia semakin bingung. ”Aish kalian ini bodoh ya? Lihat ini baik-baik. Gelas jatuh dan pecah. Otomatis air itu menciprat ke segala arah. Lihat bagian ini. Air menggenang di sepatu pria asing, lalu menjulur kekanan. Berarti harusnya sepatu Jonghyun basah. Jarak kaki mereka hanya beberapa centi. Bukankah ini aneh? Sepatu Jonghyun kering sekali. Jika memang reflek, tidak mungkin sampai sekering itu. Pasti ada sedikit basahan di sepatunya. Lagipula, sepatu Jonghyun berbahan seperti kain.”

Aku menatap Jongwoon dan Jino bergantian. Jongwoon menatapku sambil mengangkat alis. Jino menatap Jongwoon. Mereka berdua menatapku. Kami sama-sama saling menatap.

”Hei Jongwoon-ah, bolehkah aku menikahi otakmu?”

Jongwoon terkekeh bangga saat melihat wajah Jino yang menatapnya berbinar. ”Tentu saja tidak boleh.” Jongwoon menggosok telinganya yang berwarna merah padam. Itu menjijikkan.

Ku akui. Jongwoon memang terlalu pintar. Kepala besar menyimpan segudang pikiran. Bahkan dia sampai sedetail itu. Aku rasa sebentar lagi akan ada perang antara Jongwoon dan Jino. Memperebutkan siapakah yang paling pintar dan tampan.

Aku menggosok daguku. Mengernyitkan hidung. Lalu menepuk kepala Jino pelan. Menatap layar datar di depanku yang sedang memutar video. ”Lalu bagaimana sepatu Jong- hei! Oppa bisakah kau mundur sebentar?”

Jino menatapku curiga. Menyipit. Jongwoon mengangguk lalu menggerakkan kursor.

Video berputar. Kembali menampilkan bagian sepatu pria asing. Aku memasang kedua bola mataku lekat-lekat. Jino hendak bertanya. Namun, segera kusumpal mulutnya dengan tisu.

Menit ke 01:27 terlihat aneh. Berjarak dua detik dari insiden pecahnya gelas. Sesuatu bergerak cepat melesat ke bawah meja. Aku melotot. Membuka mulutku lebar. ”Astaga! Jonghyun menendang sesuatu!” pekikku.

Mereka terlihat panik. Lalu ikut melihat video lekat-lekat. Kuberitahu, dengan jarak dua detik apa yang bisa kau lakukan? Kalau aku? Mungkin benar-benar akan basah. Tapi berbeda dengan Jonghyun. Kakinya melesak cepat masuk kedalam bawah meja menendang sebuah benda datar, kecil. Sekecil remote? Remote?

”Remote?” gumam kami bersama-sama.

”Jonghyun menendang remote? Kebawah meja? Kenapa bisa ada remote? Mungkin itu yang menyebabkan sepatu Jonghyun aman.”

Jino benar. Aku berpikir tiga kali lebih cepat. Analisis pertamaku. Pasti sebelum Hyera menjatuhkan gelas, dia sudah mendekati meja tersebut hingga mungkin saja remote itu terhuyung lalu jatuh. Atau yang kedua, remote itu ada didalam sepatu pria asing.

Jadi, saat kejadian itu. Reflek kaki pria asing bergerak membuat remote yang berada didalam sepatunya meloncat. Hingga mampir ke dekat sepatu Jonghyun. Menamparnya pelan. Mungkin dia tak sengaja menginjak lalu menendangnya. Tapi, mungkin Jonghyun merasa kakinya menyenggol benda itu lalu menendangnya cepat.

Kesimpulan, entah bagaimana remote itu berada disana. Namun, satu yang ku perkirakan. Remote itu adalah sesuatu yang benar-benar berharga. Dan terakhir. Untuk apa dia membawa remote? Bukankah itu tak masuk akal.

”Oppa, aku tahu kau mengerti itu remote apa. Jadi, sekarang beritahu aku pelan-pelan. Jangan terlalu cepat. Apakah itu benar-benar remote untuk.. semoga bukan.”

Aku menyentuh lengan Jongwoon. Aku tahu dia mengerti hal ini. Terutama Jino. Mereka kompak saling menelan saliva. Terlihat jakunnya yang bergerak turun lalu naik lagi. Perlahan satu kalimat yang meluncur dari suara berat mereka membuat diriku seakan terhempas ke dalam tebing jurang yang curam. Membuatku hilang fokus. Hilang pikiran. Menghilangkan segala kenangan indah sesaatku.

”..Itu remote peledak bom jarak jauh.”

TBC

Iklan

14 responses to “Begin of The Mission Chapter 6

  1. Ahhh keren bnget ceritanya,,tbc nya pas bnget,,jdi bkin pnsaran,,ditunggu lanjutannya jgn lma2 ya cho,,daebak deh,,eh iyh fanfic OD part 8.a blom ad ya??

  2. OMG sist.. Teka teki bgt, curiga BGT kalo jonghyun pelakunya, -__-

    tp masih samar ini.. #penasarantingkatdewa
    Udah ada lanjutan.a, tp qo d protek ya? 😦

  3. Sebelumnya aku mau mnta maaf autor cho chapter 1-4 aku gk ngasih komen,,oh iyh aku mnta sandi yng part 7 dong,,kirimin k’fb aku ya mrs.cho,,pliss 😉
    atau aku mnta nma fb.a mrs.cho aja,,

  4. maaf baru komen skrg.hee..hee.. nemu blog mu baru bbrpa hari yg lalu, g sengaja nemu thir13een parfum. to the point aja ^^ emmmm leh g mnta PW begin of mission?? he..he..
    ini email ku esheepptii@gmail.com
    dtggu.. b(^_^)d

  5. iiihhh… ngapain sih ngebom2 gituh… kurang krjaan banget… kan msih banyak krjaan bisa di lakukan slain ngebom…hiish…
    eumm… moga aja kasus ini cpat slese… biar jihyun bsa langsung nikah ma bang evil ituh #plaak..
    oh ya cho eon… q minta pass chapter 7 ya… ini email q » dearizkita@yahoo.com….

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s