Midnight In Wonderland

Ketika aku terbangun dan menemukan sebuah negeri penuh impian

Pengharapan dan pernyataan  

Saat menelan suatu kenyataan tentang keajaiban

Yang selalu menjarah di relung pertengahan malam

Bersiaplah…

new

.

.

.

            “-dan aku berharap jalan hidupku tidak begini.”

Lalu yang kuketahui lagi tentang percakapan bodoh ini adalah tak akan menemukan titik terang yang tepat. Tak ada jalan keluar, tak ada harapan, tak ada ujung yang terpancar. Semua bagaikan papan busur anak panah yang sulit untuk ku terjang.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Romance, AU, Fantasy

Alice McKenna, Marcus Cho (Kyuhyun)

Minho (Cameo)

PG

            Berpuluh-puluh kenyataan ‘seandainya’ yang menggerus batinku perlahan mulai menggurat. Terasa sesak dan penuh. Seolah hatiku membeludak dan bercampur dengan liquor yang memabukkan namun memberi kepuasan di waktu bersamaan. Dan aku tetap tak mengerti.

Aku mencoba tersenyum. Menangkis kegeraman dalam kebimbangan. Namun tetap berusaha kontras agar terlihat dinamis. Walaupun pada akhirnya akan ada pihak ‘menangis’ dan ‘ditangisi’.

“Apa kau tahu tentang Alice Kingsleigh?” Dengan segala kehormatan tingkah lakunya yang mulai menyimpang. Aku bertanya dengan nada berusaha lembut. Dan berharap dia tidak akan mengadukan diriku karena berusaha memotong perkataannya tentang kehidupan-yang-tak-sejalan miliknya.

Pemuda didepanku berdehem. Kuharap dia berhitung dan memperhitungkan kesalahan dalam tiap acap kalimat miliknya. “Itu.. kau?”

Terjawab dan kembali bertanya. Dia mengatakan sesuatu yang membuatku menahan napas. Ia tak mengerti dan tak akan pernah mengerti maksud pertanyaanku. “Bukan. Maksudku, Alice dalam film Alice In Wonderland. Menurutmu bagaimana dengan sikapnya?”

Aku menyesap pelan frappuchinoku yang mulai mendingin. Mengernyit sejenak. Rasa hambar mulai terhantar bersamaan dengan ludahku yang kutelan kuat-kuat. Demi Tuhan. Aku tak akan benar-benar minum kopi lagi.

Ternyata benar, sesuatu yang telah terlanjur terabaikan tak akan menghasilkan gradasi yang tepat. Dan aku berpikir, lidah dan perasaanku tak kontras. Aku tak bisa menemukan jalanku, seperti aku yang tak akan bisa meminum frappuchino lebih dari dua teguk. Yang berarti, aku tidak akan pernah bisa meminum kopi.

“Sikapnya manis tapi kekanakan. Dia gila! Tak ada di dunia ini ulat bulu biru.  Burung dodo atau kelinci yang memakai rompi.” Pria itu terkekeh. Seakan menyinggung segalanya. Termasuk aku. Entah kenapa perkataannya telak menohok relung syaraf motorikku. Terdiam menatap kepulan dari mesin penjerit berbahan dasar besi yang nyaris berkarat. Dan satu hal yang kutemukan untuk perjamuan hari ini. Lagi-lagi tak ada yang cocok.

“Huh? Lalu untuk apa kau menyanggupi untuk bertemu denganku Minho? Kau tahu? Akan menyesal kau nantinya jika bersanding denganku.” Terbersit perasaan emosi terlampau tinggi dari jejeran nada kalimat yang kuucapkan. Namun, semua itu seolah mengaduk egoku untuk segera menyudahi perbincangan tak berujung ini. Apa yang salah denganku? Perjodohan lagi?!

Minho mendongak. Ia tampak bimbang. Jelas sekali dari lekukan alisnya yang semula berliuk indah kini menukik elang. Menghasut diriku untuk menanam segera inti perbincangan kali pertama dan kuyakin kali terakhir ini.

“Well,” Aku mendorong pelan cangkirku. Bersebelahan dengan porselen putih miliknya. Aku tak mengerti. Tak akan pernah mengerti kenapa semua pria selalu memesan Americano. Mereka melakukan kamuflase atau hanya ingin kembali mendongkrak diri dihadapan orang lain agar terlihat bersahaja. Entahlah. “Alice dan aku. Kami sama. Tak ada yang berbeda dari diri kami. Kau tahu kenapa namaku Alice? Jika kau ingin mengetahui cerita versi panjangnya, kuyakin sebentar lagi orangtuamu akan benar-benar membatalkan status quo menggelikan antara kita.”

Tertawa pelan sebagai epilog dari ceritaku. Dia pasti tak akan benar-benar mengerti tentang maksudku. Dia benar. Alice Kingsleigh memang bersikap bodoh, kekanakan dan menyebalkan. Namun, ia tak mengetahui inti dari putaran kurang lebih dua jam dari film itu. Gadis yang nyaris menikah –well, kami sama. Menemukan sebuah lubang kelinci dan dimulailah petualangan, berkelana mencari suatu keadilan untuk memusnahkan sebuah titik terburuk dari dunia mimpi dan akhirnya kembali untuk segalanya.

Bermaksud untuk menyadarkan pria di hadapanku ini kembali menyongsong masa depan. Namun, mungkin bukan untuk bersamaku, melainkan dengan seseorang yang akan benar-benar mencintainya setulus hati seperti kisah cinta Romeo dan Juliet, bukan seonggok drama Beast and Beauty yang sangat buruk di awal percintaan mereka.

Minho mendesis, tahap awal untuk mengacau. Ia mulai menyesap Americano. Jelas sekali dia bukan peminum kopi senior. Terlihat dari rautnya yang menegang setelah memasukkan cairan pekat itu kedalam kerongkongannya.

“Oh, kalau begitu, berarti kau hanya pembual? Bersama dengan mimpi-mimpimu yang hanya bisa menjadi angan. Cih, menyedihkan.”

Kembali beradu dengan pemikiranku. Ia berkata dengan kalimat panjang bernada sengau. Seolah ingin membuat indikasi kembali emosi yang sudah menggumpal di dalam diriku. Entah kenapa tiba-tiba semua sistem kerja seluruh tubuhku membeku.

“Kau tahu, status quo menggelikan itu ada di pihakmu. Kau pikir aku akan setuju dengan perjodohan seperti ini?” Dia berkata lagi setelah jeda beberapa detik. Kini lebih menyalahkan semuanya kepadaku. Membuang dan membalikkan keadaan hingga dirinya bisa menguasaiku di atas angin. Terlihat jelas dari pandangannya yang licik.

Pikirannya sangat rumit. Mungkin, jika aku seorang ESPER, entahlah apa aku bisa menembus segala syaraf  yang mulai menanak dengki di otaknya. Minho benar-benar bukan orang yang baik.

“Jelas sudah jika itu memang milikku. Lalu kenapa kau masih berada disini. Katakan saja batalkan semua ini. Yang terbaik dari segalanya.” Mencoba menerjangnya. Dia pikir karena ia seorang pria bisa mengatakan semua yang benar-benar ada dipikirannya. Saat ini kedudukan mulai seimbang.

Aku berdiri, meletakkan beberapa lembar uang lalu melangkah perlahan. Menegang bersamaan dengan langkah kakiku yang sudah tak bertapak disini. Aku tak mengerti, apa salahnya dengan mimpi? Apa itu terlalu buruk untuk kujadikan sebagai pondasi di dalam diriku? Lalu soal status quo itu. Dia pikir aku benar-benar ingin berada di pihak itu?

Ataukah, Minho benar dan aku akan selalu terjebak dalam angan gila bergerilya di dalam tubuhku?

***

Lembayung senja mulai bermuara. Memayungi rintikan berarak. Menghantarkan kemelut temaram kembali ke peraduannya. Nyanyian bayu seakan mulai berpadu menjadi suatu harmonisasi yang manis. Tak terelakkan jika lengkungan sabit terefleksi memantul di kaca berpercik.

Aku berjalan pelan. Mengitari cekungan rendah beralaskan halusnya rumput. Ceruk itu mulai mengalirkan sesuatu. Sehalus aliran air yang bergemericik dan memuntahkan titik-titik dingin yang mulai menyentuh kulitku.

Pikiranku bercabang, di satu sisi aku memikirkan apa jadinya jika perempuan itu mengetahui aku menolak seorang pemuda lagi dan malah justru memalukan diriku sendiri. Namun, aku tak menyesal. Sungguh. Dan cabangku bertambah satu lagi di saat nada sengau itu kembali terputar bagai pemikiran di luar kepalaku. Minho tak mengatakan aku gila. Tetapi, semua perkataannya terarah dan menitik beratkan kesimpulan tersebut.

Jadi, apakah dia benar dan aku salah? Apa aku mulai terjebak pemikiran gila tentang Alice, dan aku sudah diperdaya gadis itu? Seolah benar-benar nama yang melekat di dalam diriku ditularkan oleh gadis berambut auburn tersebut.

Mimpiku tidak seperti Alice. Aku hanya percaya dengan kata-katanya tentang kenyataan. Bukan mempercayai bagian bodohnya yang mengatakan tentang naga itu akan kukalahkan. Benar. Dan aku gila.

Langkahku mengayun perlahan, rasanya aku tak percaya jika bualan dalam diriku mengantar dalam kenyataan, hingga tak sadar kakiku sudah menapak di halaman depan rumah.

Menghela napas barang sebentar sebelum memasuki kembali tempat tinggal yang sudah lebih dari 20 tahun ini kusinggahi. Seharusnya menjadi pernyataan benar tentang ’rumahku istanaku’. Namun tidak dengan diriku. Menganggap semua itu hanya ungkapan konyol.

”Menolak dan mempermalukan. Memang benar itulah hidupmu. Tak pernah berubah.”

Benar, baru saja aku sudah akan bergelut kembali dengan otakku untuk menyalurkan segala penyangkalan. Perkataan itu sudah ditebas lebih dahulu oleh perempuan tersebut. Ternyata dia sudah berdiri di balik pintu ketika aku akan berusaha menaiki tangga yang nampaknya akan menjadi jalan terpanjang dalam sejarah hidupku jika saja semua ini tak terjadi. Mustahil.

Mendesah lelah. Lebih baik kulalui hidupku bersama pria workaholic itu daripada mendapati diriku hidup dibalik kenyataan pahit yang menjarahku selama beberapa tahun ini. Mungkin selamanya.

”Maaf. Dia yang memulai.”

”Apa?! Bahkan kau sudah mengatakan itu berulang kali. Mungkin aku bisa menghitung jika takaran kehidupanmu itu berada ditanganku. Kau benar-benar mulai mengacaukan sistem kerja keluarga ini. Lalu apalagi sekarang?! Membuat malu keluarga ini?! Kau itu memang penerus asli pria brengsek itu.”

Aku tersenyum. Menarik satu sudut bibirku. Namun, tak ingin menarik sudut yang lain. Aku memang munafik. ”Sudah? Apa kau masih punya tenaga untuk berbicara lagi? Sekarang kau mau mengatakan apa? Kau mau mencaciku? Seperti kau mencaci Ayah yang menurutmu brengsek itu?! Silahkan! Bahkan aku tak khawatir jika kau mengusirku. Biarkan aku menjadi gelandangan diluar sana daripada harus bersamamu. Dasar munafik.”

Puas. Rasa puas itu mengisi rongga dadaku yang mengempis ketika melihatnya membulatkan mata. Seharusnya aku sudah mengatakan ini sejak pertama kali melihatnya di altar bersama Ayah. Bahkan dia lebih munafik daripada Ayah. Seorang istri dengan satu anak yang hanya bisa mengais harta orang lain.

Lalu, sampai kapan hidupku akan berwarna seperti dulu? Lebih baik mengatakan jika aku baik-baik saja kepada orang lain daripada aku harus merasa sedikit bersalah seperti ini. Tuhan, maafkan aku.

***

            ”Ayah, bintang itu terbuat dari apa?”

”Tentu saja beribu kebaikan dari orang yang kita sayangi.”

”Jadi, Ibu juga berada di salah satu keluarga bintang?”

”Of course little young lady. Mommy have place most a shinee.”

Bohong. Bintang terbuat dari kumpulan helium dan hidrogen. Lalu kenapa Ayah berbohong padaku? Apa benar semua kenangan yang ku lalui selama ini hanya akan meluruh bersamaan dengan usiaku yang semakin tak menentu? Lalu selama ini aku hidup dengan berbagai spekulasi fantasy? Aku memang sudah gila.

Aku memilih untuk tidak mengkhawatirkan masalah ini. Meminum xanax adalah hal yang lebih baik daripada terjebak dengan angan yang semakin gila. Dan berharap aku bisa kembali menemukan akal sehatku yang terlindap selama ini.

Selamat malam Ayah, Ibu. I love you.

.

.

.

.

.

            ”Alice. Alice.”

Apa yang terjadi? Mungkin baru sepuluh menit Alice berbaring menghadap permukaan langit-langit. Kini dirinya harus terusik dengan suara halus bernada sarat penuh keterpaksaan tersebut. Mungkin perempuan gila dirumahnya itu benar-benar akan membunuh Alice jika ia mengatakan hal itu sekali lagi.

Tunggu. Sejak kapan suaranya menjadi halus? Mungkinkah dia mulai berhalusinasi?

Gadis berambut raven itu berbalik. Merentangkan tangan tinggi-tinggi lalu berhadapan arah dengan jendela kamar berkaca transparan tanpa korden. Masih dengan memejamkan mata. Merasakan angin lembut membelai wajah orientalnya. Tak pernah sekalipun Alice merasakan kehangatan seperti ini. Mungkin jika di kait katakan dengan kejadian terdahulu, dia masih bisa memaklumi hal itu.

”Sampai kapan kau mau tidur? Aku masih mempunyai jadwal yang ketat. Wake up Alice.”

Tersentak. Tiba-tiba saja Alice mendengar suara yang memungkinkan pendengarannya sudah mulai tak berfungsi. Tak mungkin jika saat ini dia mulai mendengar samar-samar suara seorang laki-laki. Ayolah, kamarnya berada di lantai atas dan sangat tinggi. Mustahil jika ada seseorang yang berusaha menerobos masuk. Lagipula, dia tinggal di kompleks paling damai dan sepi.

Beberapa detik selanjutnya, Alice mulai bisa mengontrol pikirannya yang rumit. Dia menggerakkan pelan tubuhnya. Kini ia mulai bisa mendengar nada thats music scoring yang menentramkan jiwa mengalun pelan memasuki tiap-tiap syaraf terinti tubuhnya. Kian lama kian hangat melingkupi keseluruhan raga Alice.

Dirinya sudah kembali ingin berbalik lagi jika saja ia tak merasakan kejanggalan di bawah punggungnya. Suara-suara seperti percikan dan gilasan saling beradu merubah segalanya dari Mozart menjadi semacam musik underground dengan kadar kenetralan rendah.

”Astaga Alice!”

BRUK

Alice memekik. Entah bagaimana caranya dia sudah bisa terbangun dengan nyeri yang menghantam kepalanya. Dan tiba-tiba saja gadis itu sudah mencium harum rempah-rempah.

Huh?

Ekspresi pertama yang ditunjukkan gadis itu adalah mematung. Terlalu irasional untuk di jabarkan. Bukit membentang bebas, seolah tak ada batas antar jarak. Tanaman langka beraroma citrus blend berpadu lemon sisilia. Itu masih bisa di tolerir. Namun jika ia mencium aroma ylang-ylang, apakah itu masih masuk akal? That’s in Madagaskar!

”Huh, kau memperlambat cara kerjaku saja. Berdiri dan segera ikut denganku.”

Ini rumit. Ini mimpi. Ini tidak nyata! Benar Alice, pikirkan hal yang membuatmu bahagia dan segera hantamkan kepalamu di atas bantal kesayanganmu dan berharap ini hanya bunga mimpi. Wake up and hurry go to your faculty.

Bukan tanpa maksud Alice mengerjap-ngerjapkan amethysnya. Alih-alih berdiri, ia malah terpaku dengan biji bola mata hazel yang kini sudah berhadapan dengannya. Menyengit tajam. Menusuk namun keindahannya itu menghipnotis gadis beraroma Ralph Lauren Notorious tersebut.

Pemuda itu menarik sudut bibirnya ke atas. Memperlihatkan senyuman berkuasa di atas segalanya. Mengingatkan Alice pada satu orang terkhusus. “Alice McKenna. Gadis berusia 20 tahun yang selalu mengeluh tentang kehidupannya. Mempunyai jalan pikiran yang selalu… berfantasy?” Sesaat anak lelaki itu memandang remeh. Benar-benar bukan ekspresi yang baik. “Berbakat menghancurkan masa depan dan tak pernah jauh dari segalanya yang berbau… fantasy?” Lagi-lagi Alice mendapatkan tatapan yang sama. Sehingga gadis itu ingin sekali memulai pertengkaran dan memukul hidung pemuda didepannya. Sungguh.

“Uh-oh. Tak ada yang berbeda dari kesimpulanku sebelumnya.” Pikiran Alice seketika buyar saat laki-laki di depannya mengatakan hal fiktif tentang dirinya. Maksudnya manusia itu apakah… aku?

“Ya, itu kau Alice. Gadis yang selalu bermimpi dan menolak banyak lelaki hanya karena pikiran kalian tak sepadan,” Dan sekali lagi. Alice akan berusaha mengosongkan pikirannya. Pemuda ini bukan manusia sembarangan dan tentu sa-, “-ja akan benar-benar memukul hidungku untuk yang kedua kalinya.”

Alice memekik pelan. Anehnya terdengar keras dan bergema. “Stop. I swear really kill you if one time you read my mind again! And now. Tell me where I’am? And who are you? Are you human or… like ghost? Right me?”

Bukan jawaban yang didapat Alice, hanya sebuah dengusan halus. Lelaki ini seperti memainkan pikiran gadis itu yang kompleks. Anehnya, suara itu terdengar seperti simphoni untuk Alice. Oh c’mon. She’s going crazy.

”Journey to Wonderland. Ah, no. I think Midnight In Wonderland. Welcome to our world. You will begin in our trip. And I’ve to be your guide until end. Marcus Cho from one of your dream when you little child. Remember?”

Mungkin Minho benar, Alice sudah termakan imajinasinya sendiri. Sebelum dia sempat membiarkan Marcus berbicara lagi. Gadis itu sudah menyela dengan kata-perkataannya yang menyimpang, ”Aku sudah gila. Minho benar. Tolong bisakah kau mencubitku? Atau kau bisa melemparku kembali ke ranjangku yang hangat? Kumohon, aku ingin bangun.”

Kali ini kesabaran Marcus sudah berada di ambang antara keseriusan dan kelengangan. Hingga akhirnya ia menarik gadis itu berdiri dan menuntunnya. Atau lebih tepatnya menyeretnya untuk menyusuri tempat itu.

”Aku sudah gila bertemu gadis sepertimu.”

***

            Dibawah naungan kapas-kapas halus, dengan bulatan memenuhi kelopak berarak, mereka berdiri. Terdiam manis beralaskan halusnya rumput yang mulai menunjukkan gradasi tersebut. Rumput-rumput itu tak seperti yang kalian bayangkan. Melainkan persis seperti mimpi Alice.

Mereka bernyanyi. Dengan cara bergesekan satu sama lain membentuk suatu nada. Alunan rendah berkontras. Merayap pelan, seolah menggelitiki kaki-kaki kecil milik Alice yang tak beralas. Oh betapa indahnya jika kau melihat hal ini dengan mata kepalamu sendiri.

”Apakah ini… ini tempat-”

Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya. Marcus sudah menyelanya terlebih dahulu, ”Padang mimpi bertabur simphoni. Kau sendiri yang menciptakan. Remember?”

Alice menoleh. Memandang Marcus penuh kebencian. Tentu saja didasari hal-hal yang tidak serius. Lagipula gadis itu juga sedikit merasakan ketidak asingan dengan pemuda tersebut. Kendati laki-laki itu mengatakan ia berasal dari salah satu mimpinya.

Mendesis bernada mencela. Alice bisa mendengar itu tergelincir dari bibir Marcus. ”Apa? Kenapa seperti itu? Apa kau tahu betapa bahagianya aku saat menciptakan padang ini?”

Marcus terdiam. Ia dapat menyimpulkan jika Alice masih akan melanjutkan kata demi kata yang sempat terlintas di benaknya. ”Aku masih ingat ketika suatu pagi Ayah membangunkanku. Aku dapat mencium aroma susu hangat dan harumnya pai apel buatan Ibu. Mereka dengan senangnya menyambutku dan memelukku. Pagi itu ulang tahunku, dan aku tak menyangka mereka memberiku hadiah yang benar-benar kuinginkan,” Alice terkikik tak berkonsentrasi. Ia mendongak, berusaha menyembunyikan fakta bahwa butiran kristal itu mulai menguap, namun ia bukan gadis lemah, setidaknya dia tak akan menangis, atau mencoba menangis disebelah pemuda yang masih sedikit asing untuknya. ”Dua anjing kecil kembar bermata bulat dan kaki-kaki mungil mereka yang manis. Ekor lucu yang bergoyang ketika berlari, dan hangatnya bulu-bulu mereka jika sudah kudekap.”

Mereka terdiam. Hanya terdengar nyanyian pelan dari rumput halus dibawah mereka. Marcus bukanlah orang yang mampu untuk berbicara manis pada saat seperti ini. Ia bukanlah pemuda dengan gesture menenangkan dan akan memeluk seorang gadis yang menangis di sebelahnya. Ia hanya ditakdirkan untuk menjadi salah satu penghuni dunia mimpi yang sulit untuk mengendalikan tingkahnya.

Jadi dia hanya menatap Alice dari ekor matanya. Sesekali menghela napas layaknya orang yang penuh dengan segudang masalah.

Karena merasa suasana mulai tak enak. Alice angkat bicara, ”Kau lihat bintang itu Marcus?”

Anak laki-laki itu mendongak. Memandangi bintang yang bergerak-gerak. Mengelilingi bulan, layaknya berputar pada porosnya. Berkelip-kelip menambah suasana tentram padang rumput ini. Berdehem sebagai jawaban.

Bubuk-bubuk ilusi itu berkelip takjub. Alice tersenyum. Sudut-sudut matanya mulai mengeluarkan butiran titik-titik kecil yang menguap. Membasahi tulang pipinya yang tirus. Meluruh. Menitik dan tertangkap oleh rumput yang bernyanyi-nyanyi. ”Mereka sepertinya sangat senang ya. Memiliki keluarga dan berkumpul. Itu indah.”

”Jadi, kau menyalahkan mereka? Kedua orangtuamu?” tanya Marcus. Ia kini sudah duduk. Merasakan nyamannya dari gelitikan rumput-rumput itu. Pertama kalinya ia berbicara dengan nada lembut pada seseorang. Tentu saja selain penghuni tempat ini.

Gadis itu ikut mendudukkan diri. Menggurat telunjuk di langit, memindahkan bintang-bintang. Dan ajaibnya, mereka benar-benar berpindah dari tempatnya semula. Sungguh menakjubkan. Benarkah ini masih didalam mimpinya?

”Em, tidak. Atau mungkin iya. Lalu, bagaimana menurutmu aku harus bersikap?”

Marcus tidak menjawab. Perkataan selanjutnya adalah harus menggunakan pikiran yang tinggi untuk menerjemahkannya. Bahkan, gadis itu ternyata tak mengerti maksud dari pemuda disampingnya.

”Untuk bintang, mereka memiliki waktu sendiri. Begitupun dengan manusia. Ada masanya dimana kalian hanya bisa menyalahkan sifat diri sendiri tanpa peduli perasaan orang lain.”

Alice sempat menahan napas ketika Marcus mengatakan hal itu tanpa mengalihkan pandangannya. Tanpa jeda dan terlampau lancar tak ada halangan. Benar-benar berbeda dengan sifatnya yang tadi.

Pemuda itu mendengus merasa tersinggung ketika tiba-tiba saja Alice tertawa pelan. Cekikikan, lalu tergelak sambil menutupi mulutnya. ”Aduh. Aku tak menyangka kau orang yang bijak. Kenapa aku bisa menciptakan orang sepertimu, sih?”

”Hei. Diamlah. Dasar cerewet. Cepat, kita harus segera pergi ke tempat selanjutnya.” Marcus berdiri menunggu. Berkacak dan mengalihkan arah saat gadis itu menatapnya dengan pandangan penuh arti. Seraya tersenyum begitu manis.

”Marcus. Memang aku pernah memimpikanmu ya? Kenapa aku lupa?” tanya Alice sewaktu mereka mulai melangkah ke Barat. Memasuki sebuah pagar tanaman rambat yang berbunga warna-warni. Dan disambut berbagai macam binatang aneh namun sangat lucu.

Marcus berdecak. ”Entahlah, seharusnya memang begitu. Buktinya aku ada didalam sini. Jadi, dipersingkat saja, aku masuk dalam list mimpimu. Beruntungnya aku terlahir tampan.”

Tak heran jika Alice tiba-tiba saja benar-benar ingin mencekik pemuda itu. Tampan memang. Dan Alice tak munafik. Namun, gadis itu tak menyukai sisi negatif seorang Marcus Cho. Suka tebar pesona.

”Ampun. Kau memang gadis mengerikan.” keluh Marcus terkekeh. Menjulurkan tubuh kedepan. Menangkap berbagai macam hewan kecil yang terbang-terbang.

Dan selanjutnya Alice sudah tenggelam dalam percakapan konyol dengan anak laki-laki yang mengakui dirinya tampan disela-sela percakapan mereka. Alice adalah tipe orang yang cepat beradaptasi dengan orang baru. Dan Marcus adalah orang yang bisa membawa suasana menjadi begitu hangat.

Walaupun mereka berdua sering beradu pendapat ketika melangkah dari satu tempat ke tempat lainnya. Marcus yang selalu ingin benar, namun Alice yang juga berteriak memberi nama tempatnya itu sendiri karena ini berasal dari mimpinya.

Satu kesimpulan yang terlintas di benak Alice. Kini ia tahu kenapa dirinya tidak dapat meminum kopi. Karena ini bukan tentang ketenaran dalam peradaban atau pergaulan. Melainkan sejatinya sifat manusia itu sendiri.

Alice gadis yang jujur dan selalu berkata ’tidak’ jika apa yang tak disukainya tersaji di hadapannya. Namun ia bukanlah gadis yang bisa mengatakan apa adanya didepan orang asing. Termasuk saat mereka –Minho dan Alice- bertemu. Tentang kopi, tentang Americano. Jadi, ini adalah tentang kejujuran aura didalam tubuh masing-masing. Begitulah kata Marcus.

Kini mereka memasuki wilayah yang agak gelap. Penerangan disekitarnya benar-benar minim. Hewan-hewan yang memiliki beribu cahaya tak begitu nampak. Sangat berbeda dengan tempat semula mereka yang terang dan penuh bintang tadi. Tempat ini agak menakutkan.

”Marcus…” Alice meremas erat lengan baju Marcus yang menjuntai. Ia benar-benar membenci keadaan seperti ini. Suara gadis itu bagai bisikan. Entah kenapa dia melakukan hal itu. Instingnya mengatakan tempat ini lebih memberikan efek kuat yang menghantam seluruh tubuhnya.

Tulangnya mulai melemas.

Marcus mengerti. Sebenarnya dia agak risih ketika merasakan lengannya yang terasa mulai kebas. Namun ia membiarkan telapak tangan gadis itu memeluk erat lengannya. Sedikit perasaan senang yang aneh membuncah, menyentuh hatinya.

Sebuah kenyataan ketika mereka –Alice- dapat menghela napas dengan lega. Merunduk angkuh kala melewati sebuah batang menjulur tinggi yang menggantung sebagai rintangan terakhir.

Peran Alice cukup masuk akal ketika dia memikirkan betapa rumitnya akar-akar permasalahan yang mulai membeber pelan melewati jantung-jantung di kepalanya. Seakan memberikan gadis itu pernyataan cukup sadis saat pemandangan itu kembali terlihat.

Bukan kembali. Namun, di ingatkan akan masa lalu yang kompleks. Terjarah bersama kegelapan yang menaungi detak-detak hancurnya hubungan itu terdahulu. Alice tidak mengerti kenapa Marcus mengajaknya untuk melihat hal-hal seperti ini.

”Apa… kau masih ingat dengan hal ini?” Marcus bertanya pelan. Seolah mengerti jawaban atas terdiamnya gadis raven itu. Tentu saja, bahkan ia sudah dapat menerjemahkan arti pandangan kelabu itu untuknya.

Tenggorokan Alice seakan mulai rusak. Sudah tak mengetahui fungsi nyata untuk apa tenggorokan itu bersarang didalam selusur lehernya. Seolah memainkan suara-suara yang dimiliki Alice. Bahkan ia tak mengerti sejak kapan tubuhnya mulai melemas ingin menjerit meminta alasan yang rasional.

Seluruh tubuh Alice mulai memanas. Ia sudah tak begitu menangkap sengau suara Marcus yang meniti untuk menjabarkan kembali pemandangan itu untuknya. Yang ia lakukan hanyalah berjalan selangkah demi selangkah. Terlampau irit dan seakan sombong.

Dihadapannya sudah berdiri tegak sebuah bangunan megah. Atap tinggi, harum lakspur dan aroma sereal yang baru saja dituangkan dalam mangkuk serta celotehan gembira penuh kebahagiaan.

Ia ingat, pemandangan ini sudah lama tak disaksikannya. Terakhir mungkin ketika Ibunya sudah tiada. Dan kini ia melihatnya kembali. Sebuah keluarga utuh. Dengan Ayah, Ibu dan seorang gadis kecil manis dengan mulut yang penuh guratan susu hangat.

Dirinya.

Entah sejak kapan Alice mulai tertawa penuh emosi. Namun kali ini tatapannya penuh berbagai macam sarat keterpurukan penuh kepedihan. Seakan menatap sebuah film berujung kebahagiaan. Berbeda dengan kisah hidupnya kini yang mulai merembet menuju lahan kematian tak berbatas.

”Ini,” Marcus terduduk pelan ketika melihat Alice yang sudah mengeluarkan segala macam batas emosinya yang terpendam selama ini. Iba dan sedikit terharu. ”kenangan yang selama ini kau simpan baik-baik. Kau tak pernah berusaha menguak sedikit dari kenangan ini hingga mungkin kau sudah melupakannya. Tetapi satu hal yang harus kau tahu. Kenangan adalah mimpi yang telah terwujud, dan angan adalah mimpi yang harus di abadikan dalam hati, lalu di ciptakan suatu hari nanti. Kau harus percaya Alice.”

Sesungguhnya, ini adalah kata yang ingin sekali didengar gadis berparas tinggi tersebut sejak dulu. Sejak kenangan itu mulai menghilang perlahan dari otaknya. Lalu akhirnya ini adalah batas seorang Alice McKenna yang tak pernah didengar, selalu dihiraukan, bahkan suara tarikan napasnya, tak ada seorang pun yang akan peduli.

Alice perlahan mendongak. Biji amethysnya penuh air. Bergumul menjadi satu. Berbagai pikiran seolah ia tuangkan bersamaan dengan melubernya kenangan itu. ”Kau…” Suara Alice seakan tercekat. Masuk akal juga bertindak berlebihan jika ia menyimpulkan suaranya sudah benar-benar menghilang. ”T-terimakasih Marcus.”

Perkataan itu seolah melambangkan makna akan keterkejutan pribadi milik Marcus. Entah sejak kapan tatapan itu menuntutnya untuk lebih. Ia tidak tahu persis alasan apa yang masuk akal untuk menyimpulkan suara bergemuruh dalam organ terdalam tubuhnya itu pertanda sebagai apa. Yang anak laki-laki itu mengerti adalah, hal ini justru terasa menyenangkan. Ada apa dengan dirinya? Seorang Marcus Cho yang tiba-tiba saja merasakan sesuatu aneh yang tepat menanak masuk. Menyalurkan segala kelegaan kedalam hal ini.

Jantungnya.

***

             ”Hei Marcus. Seriuslah. Kau ini menyebalkan sekali.”

”Aduh, jangan bergerak kumohon. Ini sulit sekali keluar. Terlalu kecil.”

”YA! Sakit, sakit, sakit! Cepat! Kasihan. Aku tidak tahan melihatnya terus.”

Marcus mendelik. Akhirnya beberapa saat kemudian, hal yang menjadi perdebatan mereka sudah terselesaikan. Hewan mungil bertubuh lembut dan berbulu halus itu sudah keluar dari sebuah lubang. Terjepit antara beberapa serpih kayu dan lubang didalam terowongan kecil.

Alice tersenyum polos, kemudian mengambil alih kelinci yang berada digendongan Marcus dengan cepat. Seolah-olah jika Marcus yang menyentuhnya beberapa lama lagi, kelinci itu akan benar-benar terluka.

Lelaki itu tanpa sadar menyunggingkan senyuman remeh temeh samar. Ia bersyukur gadis asuhannya itu sudah mulai melupakan kesedihan penuh emosi yang baru dilakoninya. Ini lebih sekedar makna terindah dari Tuhan untuknya.

”Lalu kenapa tadi kau berteriak kesakitan hah?!” seloroh Marcus tanpa sebab. Ia kembali menjadi pribadi yang dingin dan penuh keseriusan. Matanya berlipat dingin. Keningnya tergerus beberapa persimpangan. Terlihat jelas dia berpikir sambil menahan egonya tinggi-tinggi.

Gadis itu masih bertahan dengan kesenangannya. Ia tersenyum lebih ceria ketika mendapati kelinci itu yang masih betah berada didalam gendongannya yang penuh kehangatan. Seolah hewan manis nan lembut itu benar-benar merasakan sensasi menyenangkan dalam dekapan itu.

Tak berlangsung lama. Lengkungan itu masih tergurat namun kali ini sedikit meluntur. ”Karena kelinci sakit. Dan aku merasakan sakit. Aku suka kelinci.” jawab Alice dengan wajahnya yang penuh kepolosan. Kali ini dia benar-benar terlihat seperti anak kecil.

Marcus mendengus. Menutupi kenyataan dan fakta jika perasaan bergemuruh itu kembali merasuki didalam tubuhnya. Jantungnya terlampau histeris ketika memompa darah. Tiba-tiba saja ia mengangkat tangan kanannya lalu menekan dadanya kuat-kuat.

”-manis sekali.”

”-bawa pulang?”

”-mirip matamu.”

Ia bahkan tak begitu peduli sejak kapan suara melengking Alice berceloteh penuh ceria hingga ia hanya dapat menangkap beberapa kata yang diucapkan oleh Alice. Ia terlalu sibuk mencerna kenyataan aneh yang tiba-tiba saja menyentuh kesadaran alam liarnya.

”Marcus! Aduh, kau tidak mendengarkanku ya? Kau ini menyebalkan -eh, kau tidak apa-apa? Apa kau sakit jantung? Marcus? Marcus?”

Kesadaran itu kembali terkumpul ketika jeratan tangan kecil Alice merangkum hangat pipinya. Tiba-tiba saja ia mengalihkan tatapannya yang semula menurun –menyusuri lembah- menjadi terangkat. Tatapan itu seolah terlihat berkuasa.

Memandang lipatan mata Marcus. Menguasai matanya dan kini ia harus dihadapkan kenyataan jika kelabu tembaga itu benar-benar menghipnotisnya. Perlahan mengajaknya memasuki dunia yang hanya mereka sendiri mencoba merasukinya.

Marcus tak menyadari jika tangannya sudah berpindah alih. Terangkat, mengusap wajah manis itu dengan lembut. Mempertahankan eksistensi di dalam tubuhnya yang mulai beranjak gusar.

”M-Marcus…”

”Ah,” Kesadaran itu kembali terkumpul. Membentuk bendungan ilusi yang tiba-tiba saja terisi sepenuhnya. ”Eh, jauh-jauh dariku. Kau jelek sekali tahu.”

Berdehem penuh keegoisan. Ada apa dengan Marcus? Kenapa ia benar-benar terbawa alam sadarnya yang mulai meliar. Ia tak mengerti sejak kapan tatapan itu membuatnya harus menelan kenyataan berkali-kali tentang makna detakan tak berirama miliknya. Ia sungguh tak mengerti.

Alice berkedip-kedip. Bulu matanya yang lentik terbawa angin lembut ketika salah satu patahannya terbang mengelilingi tempat itu dan jatuh bersamaan dengan gugurnya daun-daun berwarna-warni di tempat tersebut.

Menjelaskan maksud tatapan itu, membuatnya harus berdehem berkali-kali untuk menghanyutkan perasaan yang mulai aneh. Dan Alice benci hal itu. Tidak mungkin jika ia benar-benar mencintai seseorang yang bahkan hanya ada dalam imajinasinya saja. Dasar dari hasil menyelami mimpinya yang aneh.

Sebenarnya apa yang terjadi? Sulitkah jika membuat suatu pernyataan yang akurat tanpa celah? Terkadang manusia dan kenyataan adalah hal sulit yang saling bertolak belakang. Dan mereka berdua tidak mengetahui hal itu.

Marcus dan Alice adalah dua pribadi yang berbeda. Dengan pemikiran yang tentunya bertapa tanpa batas dan kembali menjadi polos dalam hal tertentu. Mereka tentu saja dapat menerjemahkan arti dari tatapan dan perasaan yang janggal tersebut.

Atau… tidak?

”Em. Marcus. Bolehkan aku bertanya?” tanya Alice. Mengikis keadaan sebentar yang nyatanya ketika tatapan itu kembali beradu, salah satunya harus mengalihkan pandangan kedua bola matanya. ”Itu, kenapa kau bisa berada disini? Dan… menemukanku? Lalu bagaimana kau bisa membawaku ke tempat seperti ini?”

Marcus tiba-tiba saja menatapnya sendu. Sedih. Penuh pemikiran tetapi tetap mengedepankan tatapan arogannya. ”Kau serius melupakanku?”

Kini Alice yang benar-benar bertindak aneh. Entahlah. Dia tak pernah mengingat mimpinya satu persatu. Bahkan ia terkadang kesulitan untuk menghapal beberapa barang di dalam kamarnya.

”Uh, maaf Marcus,” Nada suara Alice penuh penyesalan. Seakan menyuarakan ketulusan yang tak kasat mata. Lalu dia kembali menambahkan cepat-cepat ketika tatapan Marcus berubah lagi, ”Em maksudku, aku mungkin pernah memimpikanmu. Tapi, kau tahu ’kan, aku begitu lemah dalam hal mengingat.”

Walaupun Marcus berusaha mengerti entah kenapa ada perasaan aneh mengukung sekujur tubuhnya. Tersiksa. Berpeluh dan sedikit sakit. Namun ia kembali menjadi seseorang yang bercover dingin. ”Kau memang jelek dan pikun. Dasar bodoh.” timpal Marcus dengan tawa renyah bernada aneh.

Keheningan mungkin sudah sejak beberapa detik yang lalu melingkupi tempat akhir perjalanan mereka. Marcus sebenarnya tahu, tetapi hatinya seperti tak ingin berkata hal itu. Mengingat fakta jika Alice adalah manusia yang pada waktunya harus kembali, membuatnya tak nyaman. Dan Marcus tidak suka hal itu.

”Akhir-akhir ini hukum perwalian benar-benar mulai melemah ya.”

Alice menoleh, seketika itu pula angin hangat menerpa tempat naungan mereka. Membuatnya bisa menatap wajah Marcus yang mulai meluruh dan tersenyum lembut penuh arti. Dan ia… tampan.

”Ah,” Alice berdehem. Dia segera membuat pikirannya kembali kompleks sebelum Marcus bisa mendengar jeritan didalam benaknya itu. ”Apa maksudmu?”

”Sebenarnya kau tidak terabaikan. Kau terlihat namun keberadaanmu seakan mulai terkikis oleh berbagai fakta. Perempuan itu, sangat menyayangimu. Ia peduli dan melihatmu. Jika ia mau, dia akan menatap matamu penuh kasih sayang. Dan mendengar suaramu kala tertidur di atas ranjang empuk dan hangat. Memelukmu penuh kebahagiaan.”

Tak perlu berpikir dua kali untuk Alice menerjemahkan berbagai kalimat dari Marcus. Tentang dirinya dan keluarganya. Tetapi sepertinya Marcus perlu membenahi beberapa kalimat, sedikit ralat tentang ’peduli’, ’menyayangi’. Mungkin itu salah besar.

”Tidak. Ia sayang padamu Alice.” timpal Marcus tiba-tiba. Mengorek berbagai kata di dalam kepala Alice ketika mereka saling bertatapan.

”Kuberitahu sesuatu Alice. Janganlah percaya pada dunia. Yang terpenting percayalah pada dirimu sendiri, dan pasti yang lain akan berjalan sesuai harapan.”

Alice masih terdiam. Tak berani memasuki celah kalimat yang diucapkan Marcus.

”Semua mimpi itu nyata, kau hanya butuh kerja keras untuk mewujudkannya. Tidak mudah, namun itu mungkin.”

Kini Marcus tersenyum, memamerkan senyuman tertulus yang ia punya. Menatap Alice yang masih menatapnya penuh takjub. Itu terlihat manis. ”Bukankah semua pemimpi harus bermimpi?”

Marcus terkekeh, sedangkan Alice masih terlihat bingung. ”B-benarkah? Apa itu tidak aneh? A-apa aku bisa mewujudkannya?” Alice bertanya riang. Penuh antusias.

”Tentu saja. Kau bisa mewujudkan mimpimu di bumi.”

Tiba-tiba saja kening Alice mengerut. Terlihat penuh. ”B-bumi? Maksudmu, aku tidak bermimpi? Apa aku sedang berada di planet lain?”

”Heh,” Marcus mendengus remeh. ”Hello. You in your dream now little girl. Dan sekarang waktunya kau harus kembali.”

Kalimat itu terasa berjalan lambat memasuki syaraf-syaraf di seluruh tubuh Alice. Perlahan demi perlahan ia mulai mengerti. Ia akan kembali. Dan itu benar-benar mengganggunya. Entah kenapa raganya tak ingin beranjak sejengkalpun dari tempat ini. Terlebih tiba-tiba saja ia sudah merasa Marcus adalah orang yang sangat baik walaupun kata-katanya selalu penuh emosi.

Alice bisa merasakan ketika lengan itu melindunginya. Memenjarakan kehangatan untuknya. Dan kini Alice mulai merasa ketergantungan.

”Alice… kumohon, jangan berpikiran seperti itu. A-aku tidak bisa. Kita berbeda.”

Marcus tahu kalimatnya barusan pasti membuat gadis dihadapannya benar-benar akan terpuruk. Dan ia akan lebih merasakan dampaknya jika gadis itu mengeluarkan setitik air bening yang sia-sia untuknya.

Gadis itu tersenyum lemah. Ia juga tak mengerti kenapa ada perasaan seperti itu. Namun, ia juga bingung ketika ia tak mengeluarkan air matanya sedikitpun. Bahkan ia tak merasakan air itu bergumul dipelupuknya. Seolah Alice mengiklaskan diri. Karena teringat satu kalimat Marcus.

Marcus berdehem. ”Alice, s-sejak tadi aku ingin mengetahui satu hal. Bolehkah aku melakukannya?”

”Melakukan ap-”

Terlindap. Tertelan. Membeku. Alice merasakan semua perasaan itu ketika sebuah material lembut, hangat menyentuh bibirnya pelan. Marcus mengecupnya perlahan.

Gadis itu bahkan merasakan hal aneh didalam jantungnya. Menggelitik penuh misteri dan mencemooh pelan di dalam tubuhnya. Seolah ada beberapa tangan-tangan manusia yang merasuki, menggerayangi jantungnya yang berdetak tak beraturan.

Entah sejak kapan hazel itu tertutup. Marcus seolah tak mengindahkan teriakan di dalam otaknya. Yang ia tahu, kini perasaan membuncah itu menyeruak, merebak, mengeluarkan detak-detak jarum yang menusuk. Namun itu rasanya hangat dan nyaman.

Tangan Marcus perlahan terangkat. Menggelitik, tersengat pelan ketika tangannya mulai berusaha menarik tengkuk Alice. Menekannya egois. Dan mengecup bibir tipis Alice lebih dalam. Menyalurkan perasaan aneh yang baru diketahuinya.

Tersenyum dikala penggabungan material itu, Alice menyapukan telapaknya lembut pada pipi hangat Marcus. Mungkin jika ia sudah kembali nanti, ia akan selalu mengingat ini. Mengingat hal menyenangkan di tengah malam.

”But, we can choose for wake up in midnight. And comeback to make a dream.”

Dan perkataan halus Marcus disela tautan itu membawa kembali Alice kedalam mimpi indahnya yang tiada akhir namun berbatas.

Fantasy adalah fantasy. Akan selamanya seperti itu walau kau ingin mengubahnya seperti apapun. Dan ketika kau mencoba kembali untuk tersenyum, ingatlah, tak semua orang membencimu karena sebuah mimpi.

Mimpi adalah sebuah awal menjadi pribadi luar biasa. Impian yang belum terwujud dan akan terwujud jika kau berusaha keras untuk menggapainya. Menyentuhnya dengan kedua tanganmu dan menggenggamnya penuh keegoisan.

Dan ketika kau membuka mata, mengetahui sebuah kenyataan sukar atas pernyataan yang kau buat sendiri, kau hanya bisa tersenyum. Berusaha tersenyum dan membiarkan alur hidupmu berjalan sesuai dengan takdir.

Midnight in Wonderland.

Mengajarkan kita cara meraih mimpi.

Menuliskan kenyataan jika mimpi bukanlah hal tabu untuk membatasi angan kita.

Menerbangkan segala fiktif bercampur aduk selama ini.

Mengikis rasa rendah diri dan beralih menjadi seorang manusia yang terkuat dan selalu mengandalkan keteduhan diri sendiri.

Mencerna betapa misterinya pertanyaan yang selalu membuat kita kembali terkukung dengan kemelut perkataan itu. Apa arti dari sebuah cerita didalam mimpi?

Dan jawabannya adalah.

Bukankah semua pemimpi harus bermimpi?

The End

chochangevilkyu’s Note

Inspired : The Sharkboy and Larva Girl, Alice In Wonderland and other genre fairytale^^

Iklan

5 responses to “Midnight In Wonderland

  1. Wow.. Kereeeeen.
    Sayang banget kalo cuma sekali ketemu. Tapi kata marcus kita bisa mbikin mimpi jadi kenyataan dengan usaha. Alice harus usaha buat nemuin Marcus. Ahaha suka suka

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s