Thir13een Parfume Volume 6

Percaya atau tidak.

Setiap benda itu mempunyai sesuatu yang bersemayam.

13 Parfum pembawa keajaiban.

Membawamu ke tempat yang tak kau duga.

Tetapi jika kau melanggar pantangan, ada konsekuensi tersendiri.

.

.

thir13teen-parfume-chochangevilkyu

Cuaca tampak cukup cerah, membuat semangat beberapa orang semakin terukir. Namun, berbeda dengan gadis manis bernama Park Jihyun. Ia menggerutu. Menyumpah. Dan mengumpat sepanjang jalan. ”Aku salah! Sial, kenapa kesan pertama selalu menipu!”

Ingin mengetahui alasannya? Cukup simple, pasaran, namun aneh. Pemuda bernama Kibum. Target selanjutnya. Dalam dunia keartisan terkenal dengan keramah tamahan. Senyuman memikat dan tingkah baiknya. Namun, apa yang terjadi? Masa lalu seorang Kibum sangat menyedihkan (hei itu kata Jihyun. Jangan protes padaku) sekali. Kalian tahu kenapa?

.

.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Romance, Fantasy

Kibum, Kyuhyun, Park Jihyun

PG-15

Art Chevelleanne

Inspired by @heenimk “Creepy K12S”

.

.

            Fakta pertama. Kibum pendiam. Bukankah jika ditilik-tilik pertemuan hari pertama itu sangat aneh? Kibum yang ramah, baik dan manis harus menghilang. Seperti hologram salah tempat atau televisi bersemut.

Kedua, Kibum itu dikenal dengan ICE PRINCE! Ingat hari pertemuan dimana Jihyun tersungkur dan Kibum menolongnya lalu tersenyum hangat? Tidak! Jihyun berpikir jika hari itu bukanlah Kibum. Yang asli adalah sekarang. Galak, dingin dan pendiam.

Jihyun menggerutu. Menampilkan proyektor ilusi diotaknya. Mengembalikan kenangan pertemuan manis dengan Kibum. ”Mungkinkah yang dulu itu bukan Kibum? Jangan-jangan itu hantu! Well, itu tak masuk akal. Aish, pokoknya aku benci kau Kibum!!”

***

            ”Yak Park Jihyun! Aish sudah ku bilang jangan kejar dia lagi. Bukankah dia sudah menolakmu?”

Jihyun mendengus keras saat teman barunya –lagi yang bernama Han Jaein. Jihyun berfikir. Apakah dia itu sangat berjodoh dengan Jaein. Di dimensi kedua (baca bagian Yesung) dia di sangkut pautkan dengan Jaein. Dan sekarang. Lagi. Astaga.

”Jaein-ah, aku harus.” bisik Jihyun gusar. Saat ini mereka berdua sedang mengintip Kibum dari balik rak buku bagian ketiga. Di sela-sela buku tentang ’Sistem Reproduksi’.

Kibum sedang serius membaca. Mengenakan kacamata. Oke, kadar ketampanannya meningkat!

Jaein menggeser pijakannya. Menemukan tempat agak menjauh dari Jihyun. Ia berpikir ’jangan pernah percaya pada teman lama yang bertemu kembali. Itu mengerikan.’

Jihyun melirik sebentar. Mengambil sebuah buku dengan asal dan berjalan ke arah Kibum. Bermaksud menyapanya.

”Hei, apa yang kau lakukan Park Jihyun?!” Jaein setengah berteriak. Karena beberapa menit yang lalu, mereka baru saja kena marah penjaga perpustakaan karena berisik. Untuk Jihyun. Sebagai murid baru, dia telah menduduki rating sebagai mahasiswi terberisik bulan ini. Entahlah, siapa orang yang membuat predikat itu.

Bukannya berbalik ke arah Jaein. Jihyun malah berjalan pelan menuju Kibum yang sedang serius membaca.

”Halo Kibum-ssi.”

Tetap tak bergeming. Tidak melirik ataupun membalas sapaan.

’Sabar Park Jihyun. Ini demi pelukan’ pikirnya.

Jihyun melatih senyumnya lalu meremas buku yang ia bawa. ”Bolehkah aku duduk disini?”

Kali ini Kibum yang sedikit terusik mendongak. Mengedip tiga kali. ”Terserah.” Kembali fokus.

Gadis itu tersenyum dalam hati. Mungkin tak sepenuhnya dia menyebalkan.

Jihyun duduk disamping Kibum. Pura-pura membaca. Faktanya. Ia hanya membolak balik buku itu tanpa ekspresi. Namun dibalik semua itu, ekor matanya melirik ke arah Kibum.

”Kau ingin menikah ya?”

Suara Kibum yang datar dan dingin menyentak Jihyun. Jihyun diam sejenak. Memikirkan maksud Kibum. ”Apa maksudmu?”

”Atau kau ingin melakukannya dengan seseorang?”

Jihyun semakin mengernyit. Jujur, otak standar gadis itu tak dapat mencerna perkataan datar Kibum.

Kibum melepas kacamata. Menutup buku. Menghadap Jihyun. ”Aku tak menyangka kau gadis seperti itu.”

”Heh apa maksudmu?!” Jihyun berteriak. Tak sadar jika ibu penjaga perpustakaan mengumpat di ujung sana. ”Melakukan apa? Menikah apa? Gadis ap-”

Mata almond Jihyun yang lebar semakin melebar saat tangan Kibum bergerak membalik buku didepan Jihyun menjadi tertutup. Jelas sekali tulisan itu menyapu pikiran Jihyun.

”KAMASUTRA?!”

***

            ”Haha! Park Jihyun. Kau.. haha bagaimana bisa kau ini bertingkah seperti itu? Boleh saja hanya menyapa. Tapi, itu. Haha benar-benar tidak keren! Aish itu sungguh memalukan.”

Jaein tertawa puas. Membuat orang-orang yang berada dikelas mengalihkan tatapannya menuju Jaein.

Jihyun mendengus. Menutup wajah dan membungkam mulut. Merunduk dagu. ”Jaein jangan membuatku semakin malu. Aku juga tak tahu kenapa buku seperti itu ada disana!”

”Kau lucu sekali. Tak kusangka orang sepertimu melakukan hal itu. Jika aku jadi kau, mungkin aku sudah mati diselokan nanti sore.”

Jihyun mendongak lalu mengerucutkan bibir manja. ”A-ah jangan bicara lagi. Aku malu.”

Jaein menatap Jihyun iba. ”Baiklah baiklah. Tapi bagaimana jika kau bertemu lagi dengannya? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan berhenti menguntitnya?”

”Tidak! Aku akan tetap mengejar Kibum.”

Ya, tentu saja begitu. Jika dia berhenti. Lantas bagaimana dengan misinya?

”Astaga, kau benar-benar menyukainya ya? Baiklah, semangat ya! Tapi, jika itu terjadi lagi. Aku adalah orang pertama yang tertawa.”

Jihyun mengedip cepat. Pipinya bersemu. Lalu berteriak, ”YAK HAN JAEIN!”

***

            Seorang gadis bersungut kesal sambil merapikan buku. Ia menatap sekelilingnya. ”Hah, sialan! Ini gara-gara kejadian tadi, Ahjumma penjaga perpustakaan memberi hadiah seperti ini. Menyebalkan!”

Gadis itu Park Jihyun. Di sore hari yang harusnya menyesap hangatnya frappuchino malah terkukung bersama dengan seonggok buku berserakan di rak perpustakaan. Hukuman karena berteriak berulang-ulang di tempat keramat itu.

Jihyun melangkah dari satu rak menuju rak lainnya. Sesekali memakai tangga sorong untuk meletakkan buku yang tinggi.

”Aduh, ini terlalu tinggi.”

Tanpa sadar, karena beban yang tak seimbang. Pijakan yang mulai goyah dan peletakan kaki yang salah membuat tangga itu bergerak perlahan. Jihyun masih belum menyadarinya.

Pada saat gadis itu menyeka keringat setelah meletakkan buku setebal ensiklopedia di rak paling atas. Tangga itu berderit.

”Yak, astaga, astaga.”

Karena terlalu banyak kegoyahan. Tangga itu terhuyung kebelakang. Menabrak rak belakangnya. Membuat satu persatu buku berjatuhan ke belakang.

BRUK

”Awww.”

Ringisan. Terdengar suara ringisan yang bertolak belakang. Jihyun mengedip. Mengerjap. Pantatnya yang langsung berdebam dengan lantai membuat ia merasakan panas. Namun bukan itu masalahnya. Jihyun mendengar ringisan lain dari arah belakangnya.

Jihyun menelan salivanya susah. Mengabaikan sakit di pantatnya dan berdiri cepat. ’Itu apa? Apa hantu?’ pikirnya. Itu masuk akal. Sore hari yang sepi di remangnya cahaya perpustakaan. Berpikiran aneh-aneh.

Gadis itu menautkan alis. Memberi semangat untuk dirinya sendiri.

Ia memutuskan untuk berjalan. Sangat perlahan. Bahkan suara gesekan sepatunya tak terdengar.

Berbalik ke rak ke dua. Menghirup napas dalam-dalam sambil mengintip.

”Kyaaaa Ki uhuk uhuk,”

Berteriak memekik sambil menghirup napas. Alhasil, nafasnya sesak kemasukan kadar udara yang berlebihan.

Seorang pemuda yang sedang duduk sambil meringis dan mengusap kepalanya itu menoleh saat mendengar teriakan Park Jihyun.

Jihyun melebarkan matanya saat Kibum berdiri dan menghampirinya. Menatapnya tajam. ”Jangan mengikutiku lagi! Dan jauh-jauh dariku. Kau benar-benar pembawa sial.” ujarnya tajam. Datar dan menyeramkan. Berjalan melewati Jihyun yang pada saat sampai disampingnya sengaja membenturkan bahunya pada Jihyun. Sukses membuat Jihyun meringis.

Jihyun berbalik. ”Yak kau jangan salah sangka seperti itu! Memangnya kau siapa? Kau pikir aku manusia serendah itu? Walau aku menyukaimu, tapi aku bukan penguntit seperti yang kau bayangkan. Membentak orang dan berteriak dia pembawa sial. Itu menyakitkan!” teriak Jihyun. Dua titik bening meluncur bebas melewati pipinya. Dadanya sesak.

Kibum menyeringai. Berbalik menghadap Jihyun. Berjarak lima meter. ”Lalu, apa yang dilakukan seorang gadis di perpustakaan seperti ini? Tak mungkin gadis manja sepertimu berniat membaca buku. Oh, atau kau ingin menemuiku untuk mengajakku melakukan itu?”

Jihyun merunduk saat mendengar kalimat terakhir Kibum. Memalukan sekaligus membuat jantungnya bertalu-talu. Berdetak tak teratur. Kakinya gemetar. ”T-tidak, a-aku tidak seperti itu.” katanya tergugup. Masih menunduk tak berani mendongak.

Langkah teratur Kibum mendekat. Ia mencondongan tubuhnya. Berbisik lirih. ”Jangan menjadi penguntit. Aku tidak suka. Aku membencinya.” Diakhiri dengan tiupan pelan. Membuat Jihyun meremang seketika.

”Aku bukan penguntit! Sudah kubilang ’kan aku bukan penguntit!!” Jihyun berteriak. Terdengar manja. Namun, dia tidak peduli.

”Apa buktinya anak manja?” tanya Kibum dengan suara datarnya. Membuat emosi Jihyun kembali mengendal. Memupuk menjadi tahap terakhir pengendalian diri.

”Ibu penjaga perpus menyuruhku merapikan buku! Dan jangan panggil aku anak manja!”

Kibum diam. Jihyun diam. Sepi menyelimuti. ”Aku tak percaya.”

Kibum bermaksud untuk berbalik meninggalkan Jihyun. Namun urung saat satu kalimat pelan meluncur dari mulut Jihyun yang tak bisa dikontrol.

”Kibum! Ayo berkencan!”

***

            ”Oh bodoh, bodoh! Apa yang kulakukan? Apa yang terjadi nanti? Aish Park Jihyun, kau memang bodoh.” Jihyun menggerutu sambil memukul-mukul kepalanya. Suasana yang sepi membuat ia bebas untuk melakukan apapun.

Jihyun memang bodoh, mulutnya yang kecil tapi selalu meluncurkan kalimat tak terduga itu membuat ia benar-benar menyesali perbuatannya. Kendati mengurungkan niat, namun yang terjadi malah menyampaikan niat.

.

.

”Kibum! Ayo berkencan!”

Jihyun mengerjapkan bulu matanya tiga kali lalu membekap mulutnya. Ia benar-benar tersudut, jadi tak sadar apa yang baru saja ia katakan. Oh terkutuklah kau Park Jihyun.

Derap langkah Kibum yang semula menjauh, kini kembali mendekat ke arah Jihyun. Gadis itu mati-matian menahan degup jantungnya yang berpacu dengan aliran keringat yang mengalir dari pelipisnya.

”Kencan? Kau mengajakku berkencan?” Nada suara Kibum terdengar datar meremehkan. “How dare you.”

Berkali-kali Jihyun menggigit bibir ditengah kegiatan menunduknya. Dengan ragu-ragu ia mendongak. Memberanikan diri berhadapan langsung dengan manik Kibum.

Jihyun meremas tengkuknya gusar. “A-ah itu.. aku.. eung.. Ya, aku ingin mengajakmu berkencan Kibum-ssi,” katanya. Lalu kembali menunduk dan memainkan tautan jemarinya. “Bisakah?”

Terdengar suara kekehan Kibum. Jihyun mengernyit.

“Bukan masalah serius. Tapi, jika ada syaratnya, apa kau sanggup?” tanya Kibum. Menatap Jihyun yang terlihat gamang. “Mudah saja, kau hanya harus mengikuti perintahku.”

Mata Jihyun membulat. Diikuti bibirnya. “Oh! Astaga.”

.

.

            “Hei, sedang risau karena cinta?” Suara Jaein menyentaknya. Sedikit membuat posisi Jihyun tergeser karena kaget. ”Oh!”

Jaein menatap Jihyun risih. Seakan gadis itu adalah bakteri yang wajib dibasmi. ”Astaga Nona Park, apa kau tidak mempunyai cermin?” tanyanya aneh. Lalu memutar-mutar bahu Jihyun. ”Tampangmu, astaga. Aku tidak bisa mendeskripsikannya.”

”Aku sedang kacau. Kacau dan kacau-” Jihyun meracau lalu menjulurkan lengannya di atas meja kayu Holly berplitur yang hanya ada khusus di perpustakaan. Berpura-pura mati. ”-aku akan mati.”

”Apa? Siapa yang mati? Kau? Kenapa? Hei, bahkan kau belum mentraktirku. Mana bisa mati begitu saja!“ ujar Jaein seraya mengikuti Jihyun. Berpura-pura mati.

Jihyun mendengus lalu duduk tegap. Disusul Jaein. “Kau tahu? Aku kemarin mengajak Kibum berkencan. Oh kau tahu betapa malunya aku. Entahlah, mau dikemanakan tubuhku ini,“ kata Jihyun. Memberi pandangan sebal pada Jaein. Menumpahkan segala kerisauannya. “Menurutmu aku gila?“

“Tentu! Sangat bahkan! Oh, kau hebat sekali Nona Park. Lalu bagaimana tanggapannya?”

Jihyun mencibir. ”Aku harus menuruti perintahnya,” Nadanya terdengar putus asa. ”Ah, maksudku, aku ini sekarang pembantu Kibum! Dia memang kurang ajar. Bodohnya aku.”

Bulu mata Jaein mengedip cepat. Seperti menggoda. Namun, itu caranya menyampaikan segala keterkejutannya. ”Ajalmu sudah dekat Nona Park!”

***

            Sudah seminggu ini Jihyun dan Kibum ’resmi’ berkencan. Oh, atau harus dideskripsikan sebagai hari yang naas? Menurut Jihyun, mereka bukan berkencan. Mana ada berkencan tetapi Kibum menyuruh Jihyun yang menentukan tempatnya, menyetir mobilnya lalu membayarkan semuanya. Sungguh, itu seperti pembantu.

”Kibum! Ini bukan berkencan, kau memperlakukanku seperti pembantu!” protes Jihyun. Mereka berdua sedang menaiki beberapa tangga menuju Namsan Tower.

”Kau yang meminta. Bukan aku ’kan?” jawab Kibum enteng sambil menampilkan seringaiannya. Yang sekejap sukses membuat nafas gadis itu tercekat. Bahkan saat seperti ini, ketampanannya tiada tara.

Jihyun menggerutu lalu menghentak-hentakkan sepatu converse-nya saat melangkahi beberapa tangga. Bahkan, gadis itu tak sadar jika ia melangkahkan kaki dua tangga sekaligus.

Sebenarnya, rasa iba sedikit menggerogoti hati Kibum. Namun, cepat-cepat ditepisnya perasaan itu. Ia hanya ingin mengetes seberapa besar usaha gadis itu untuk menaklukkan hatinya. Dan itu –mungkin sedikit- sukses.

”Hei, hei. Jangan terburu-buru. Nanti kau terpleset Jihyun,” katanya memperingatkan. Kibum terkekeh lalu melangkah ditempat yang sama dengan Jihyun, hingga gadis itu merasakan telapaknya menghangat. Seorang Kibum menggenggamnya. ”Oh, aku mendengar detak jantung yang aneh. Milik siapa ini?”

Buru-buru Jihyun berdehem saat Kibum yang secara tidak langsung menyindirnya. ”Ah, jangan bercanda.” ujarnya sambil terkekeh aneh.

Setelah kata yang terucap itu, secara reflek genggaman tangan Kibum mengerat. ”Sudahlah, cepat gadis manja!”

Dan kata-kata itu sukses membuat Jihyun menyesal dengan pemikirannya. ’Huh, sialan!’

***

            ”Woah!!”

Suara teriakan Jihyun teredam oleh angin malam yang menggeleser hangat melewati wajahnya. Membuat terpaan halus yang menenangkan.

”Jangan berteriak! Kau memalukan.” cibir Kibum. Ia tak habis pikir, memang ada seseorang yang sampai sebegitu anehnya melihat pemandangan kota Seoul?

Jihyun berbalik. Reflek tersenyum simpul. ”Ah, hari ini kau sangat baik. Terimakasih Kibummie.”

Kibum pura-pura mencibir. Namun, didalam hati, entah kenapa, senyuman itu membuatnya tenang. Bukan maksud untuk menolak kenyataan hatinya. Tetapi, otaknya yang berpikir untuk mengelak terlebih dahulu.

Jihyun menaiki satu besi baja melintang di teralis pagar pembatas. Merentangkan tangan sambil menghirup udara malam Seoul yang hangat. ”Woah! Aku seperti di film Titanic!” serunya.

Sedangkan Kibum, dia duduk was-was di kursi yang memang di sediakan disana. Memikirkan sedikit saja kecerobohan gadis itu akan terulang. Ia sudah dipastikan akan meninggalkan nama saja.

Pemuda itu melangkah menuju Jihyun yang masih bersikap berlebihan lalu menggenggam pinggul ramping Jihyun dan menggendongnya turun. ”Aku tak peduli kau mati. Tapi, jangan menyusahkan orang untuk mengurus mayatmu disini.” kata Kibum datar dan terkesan dingin. Lalu meninggalkan Jihyun yang masih membulatkan mulut.

Suara degupan itu sangat terasa. Bahkan, gadis itu menekan dadanya lekat. Irama jantungnya yang keras membuat peluhnya berekresi keluar. Ia menekan dengan dua tangan, untuk menetralisir suara yang mungkin berpotensi membuat pengunjung lain terusik. Berlebihan memang, namun, itulah yang ingin dilakukannya.

”Jangan mencintainya. Jangan mencintainya Park Jihyun.”

***

            ”Hari ini aku yang akan traktir. Anggaplah hari ini kencan yang sesungguhnya.”

Jihyun mendongak. Lalu mengangkat alis. Hari ini aneh, semakin aneh saat si Ice Prince berubah menjadi baik. Apa hari ini April Mop?

”Oh kau baik sekali Tuan Kim,” ujar Jihyun antusias lalu mengedipkan bulu matanya. ”Apa kau sedang sakit? Atau karena ini memang nuansa restoran Namsan yang membuatmu berubah? Atau kau-”

”Jangan bicara lagi, atau kau yang membayar nanti!” ketus Kibum. Menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi lalu menatap jendela kaca yang menghadap langsung dengan ribuan gembok.

”Eh? Baiklah. Maaf.”

Suasana tak sepenuhnya hening. Sesungguhnya Jihyun ingin berbicara dengan Kibum. Namun urung, karena ia takut Kibum berbubah menjadi pemarah, dingin dan menyebalkan lagi. Cukup tahu karena mukjizat tak datang dua kali.

Makanan datang, membuat mereka berdua serempak menoleh pada sumber suara. Entah bagaimana, seorang Kibum mengetahui makanan dan minuman favorit Jihyun. Karena, gadis itu tak memberitahunya, bahkan sebelum memesan, ia tak tahu makanan apa yang akan tersaji.

***

            Setelah makanan yang tersaji itu habis sempurna. Jihyun merengek pada Kibum untuk membeli gembok dan menulis sesuatu disana. Bagi Kibum, itu benar-benar menyebalkan karena tak mungkin seorang Kibum menulis hal konyol seperti itu.

”Ayolah Kibummie. Sekali saja, aku akan membeli gembok sendiri. Bagaimana?” tawar Jihyun. Menatap Kibum dengan pandangan rengekan yang justru membuat Kibum menahan tawa sekaligus mual pada waktu yang bersamaan.

”Kau membuatku mual! Hentikan tatapanmu itu.”

Bibir Jihyun mengerucut kecil. Sikap yang ia tunjukkan jika benar-benar kesal. ”Baiklah, terserah kau saja. Pokoknya aku mau membeli gembok dan menulis.”

Langkah Jihyun tergesa menuju penjual gembok. Ia tak menyadari bahwa Kibum sungguh menahan tawa. Apa ia benar-benar anak kecil? Berapa umurnya? Pikir Kibum.

Kibum sedikit berlari menuju Jihyun yang langkahnya mulai melemah. Mungkin lelah. Segera, pemuda itu kembali menggenggam tangan Jihyun yang bertelanjang tanpa sarung tangan.

Gadis itu tersentak saat merasa telapaknya hangat –kembali- karena perlakuan Kibum yang mengejutkan. Ah, sepertinya hari ini Kibum terlalu aneh, tetapi, aku suka.

***

            ”Cepat Kibummie, kau tulis sesuatu! Jangan dilihat terus. Memangnya, gembok itu akan menghilang karena tatapanmu?!” Jihyun menggerutu sambil meremas asal gembok berwarna biru yang berada di tangannya.

Kibum menatap datar Jihyun lalu memukul pelan kepala gadis itu. ”Terserah aku. Memangnya ada hubungannya denganmu jika aku tidak menulis. Toh, ini juga uangku.”

Jihyun melotot semenit. ”Kau merusak poniku. Aish menyebalkan.”

Gadis itu berjalan agak menjauh dari Kibum. Bahkan, dari jarak seperti ini aroma DKNY Golden Delicious milik Kibum yang sama dengan aroma Jihyun masih tercium dari hidung mancungnya.

”Hei, kau kenapa disana?” teriak Kibum. Ia terlihat kesal.

Jihyun menoleh, sedikit menyipit karena jarak pandangnya terlalu jauh. ”Oh, tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin kau mencontek tulisanku.” Jihyun setengah berteriak lalu mulai mengeluarkan bolpoin dan menulis sesuatu digemboknya.

”Dasar childish.” gumam Kibum. Sejak tadi, pemuda itu sudah memikirkan apa yang akan ditulis. Namun, mengurungkan niat karena takut gadis itu menganggapnya percaya akan hal tabu seperti itu. Tetapi, apa salahnya mencoba?

Dari arah Jihyun. Gadis itu terlihat sedang berpikir sambil mengetukkan bolpoinnya tidak sabaran pada meja bundar yang ia gunakan untuk menulis. ”Aish, apa yang harus kutulis ya?”

Seketika matanya membulat dan senyumnya merekah saat tiba-tiba sekelebat ilusi optik mengalir di otaknya. ”Aha, aku tahu.”

If it my destiny, I want to like this forever

But, if this can’t go on, I want to get a warm hug from Kibum

-Park Jihyun-

            “Woah ini memalukan. Astaga, apa yang kutulis.”

Jihyun buru-buru memutar kunci itu dengan cepat lalu berlari kecil ke arah ribuan gembok yang tergantung cantik ditempatnya. Bersamaan dengan itu pula Kibum menggantungkan gemboknya disamping gembok Jihyun.

Serentak mereka menoleh, lalu tertawa bersama. Seolah mengisyaratkan untuk membuang kunci itu setelah menghitung dengan kompak.

“Tak kusangka kau juga menulis itu,” Jihyun mencibir pelan sambil memalingkan wajahnya ke arah ribuan kunci dibawah sana. “Tapi itu sangat seru ‘kan?”

Jihyun tak berharap Kibum menjawabnya. Karena ia yakin pasti pemuda itu akan menjawab dengan sinis dan menyebalkan. Namun, perasaan itu menguap karena detik berikutnya wajah Jihyun sudah berhadapan dengan wajah tampan Kibum.

“E-eh? A-apa yang kau lakukan?” Pertanyaan Jihyun terdengar aneh karena suara gadis itu seakan tercekat karena menghilang. Pemuda itu bukannya menjawab malah tersenyum. Sangat manis! Seperti pertemuan pertama mereka.

”Apa yang kau tulis?” tanya Kibum penasaran. Dalam keadaan yang normal dan tidak terdesak seperti ini, mungkin Jihyun akan menertawakan raut wajah Kibum. Tetapi, entah untuk kali ini, bibir, lidah dan seluruh organ vitalnya tak bereaksi sesuai otaknya.

Kibum tersenyum lagi, lalu beberapa saat kemudian ia telah merengkuh hangat wajah Jihyun. ”Bolehkan aku mengatakan sesuatu padamu?”

Gadis itu tidak menjawab, melainkan hanya anggukan ragu yang terkuak. Membuat Kibum gemas setengah mati.

”Maafkan aku, selama ini aku sudah berbuat menyebalkan padamu. Kau pantas membenciku. Tapi, aku melakukan itu hanya untuk satu sebab dan kenyataan,”

”Aku takut jatuh cinta. Aku takut hal yang berhubungan dengan cinta, kasih dan apapun itu. Termasuk dengan gadis. Aku tak membencimu. Namun, aku berusaha membencimu, tapi kenapa aku tidak bisa?”

”Saat pertemuan pertama itu, aku sungguh lupa diri hingga berhenti sejenak untuk meluapkan rasa canggung dan dinginku. Entah kenapa aku malah terpesona dengan sifatmu yang childish. Apakah aku bodoh?” Kibum terkekeh renyah. Sedangkan Jihyun, entahlah. Ia hanya bisa berpikir tapi tak satupun pikirannya benar-benar membuat ia tergerak. Ia bagai patung yang membeku di tengah hangatnya musim semi.

”Kau mengingatkanku pada gadis manisku yang telah lama tiada. Sifat kalian sungguh mirip,” Raut wajah Jihyun seketika berubah. Entah apa yang ia pikirkan. ”Oh, bukan. Aku tak menyamakanmu dengannya. Kalian berbeda. Ia hanya kenangan dan kau masa depanku.” Kibum bersuara cepat untuk meralat perkataannya yang agak goyah.

”Jadi, bagaimana?”

Pipi ranum Jihyun yang terengkuh oleh dekapan hangat tangan Kibum semakin merona saat pemuda itu kembali berkata dengan wajah manis. Lidahnya kelu, tak tahu harus menjawab apa.

”Hei.”

Kibum menggoyang-goyangkan pipi Jihyun. ”Eh? Maksudmu apa Kibummie?”

Dengan polosnya Jihyun bertanya. Membuat lelaki itu semakin gemas. Bukan karena gemas dengan wajahnya itu. Namun, tingkahnya yang benar-benar polos membuatnya kesal setengah mati.

”Saranghae.”

Ucapan itu sukses membuat mata almond Jihyun membulat sempurna. Ditambah perutnya seakan bergolak. Tergelitik dan rasanya ingin kembali memuntahkan menu makan malamnya.

“Bicaralah! Kau membuatku malu. Baru kali ini aku berbicara panjang seperti itu Jihyunnie!”

Jihyun terdiam. Namun, detik berikutnya ia melayangkan telapaknya untuk menyentuh telapak hangat Kibum yang merengkuh pipinya. Perlahan ia mengangguk, pelan dan teratur.

Perasaan hangat menyusup di hati Kibum saat gadis itu samar menganggukkan kepalanya. Tanpa sadar, tangan kekarnya merengkuh Jihyun dalam dekapan hangat bahunya.

Berulang kali Kibum tersenyum dibalik tubuh Jihyun.

”Oh, kenapa doaku cepat sekali terkabul.” gumam Jihyun pelan sekali yang sudah dipastikan Kibum akan mendengarnya.

”Memang apa doamu? Jangan-jangan kau menulis namaku di gembok tadi ya?” goda Kibum yang semakin erat memeluknya.

Jihyun menggeleng. Namun, ia segera mengangguk. ”Iya, aku ingin sekali di peluk olehmu.” jawab Jihyun pelan. Ia malu. ”Lalu, apa yang kau tulis tadi?”

Kibum terkekeh pelan. ”Memang kau ingin tahu?“ Jihyun mengangguk cepat.

“Hei itu rahasia Nona Kim.”

Jihyun buru-buru melepas pelukannya dan menatap Kibum sebal. Memang ada yang lebih bagus dari pandangan ini. Namun, Jihyun hanya bisa melakukan ini. Karena memang tak ada lagi kebimbangan di otaknya. ”Nona Kim? YA! sejak kapan?”

Bukannya menjawab pertanyaan Jihyun. Pemuda itu kembali merengkuh Jihyun dan berbisik lirih. Bisikan pelan dan sarat akan ketulusan. Namun, entah kenapa membuat tubuh Jihyun menegang dan bergetar tak beraturan.

I want to make you my future, my old age and the other times

That no one can separate us

            Kalimat indah bermajas tersebut kembali menaungi hati Jihyun. Resah dan gelisah bercampur. Perlahan apa yang ia takutkan terjadi.

Tetesan mata pertama menyusup keluar dari mata almond-nya. Kali ini Jihyun tak lagi memudar dengan cepat. Dirinya masih bisa melihat wajah Kibum yang menatapnya. Entah kenapa Kibum masih bisa melihatnya. Dan terakhir, setelah Kibum menyentuh pelan bibir Jihyun dan mengusapnya. Jihyun mulai menipis, dengan lambat dan lambat. Hingga detik ke lima, dia menghilang tanpa bekas. Memindahkan ke dimensi lain yang siap ia tempuh.

***

            DOR DOR

Suara desingan memekak bagai badai yang bersemayam di teriknya langit. Namun, ini bukan desingan biasa. Melainkan, desingan peluru yang bersiap menembus kulit ari sampai kedalamnya yang berpotensi menghilangkan nyawa dalam sekali tebasan yang terjadi.

Apa yang terjadi sangat cepat dan tak masuk akal. Meregang nyawa ditempat seperti ini hanya dilakukan oleh orang gila yang benar-benar tak waras yang melakukan itu. Termasuk salah satu gadis yang entah bagaimana ceritanya telah melihat pembunuhan berdarah didepannya.

Ia membekap mulutnya. Ingin berteriak namun itu adalah tindakan paling gila yang malah akan memepercepat lajur kematiannya.

Gadis itu perlahan mundur dari lorong gelap yang hanya samar terlihat karena hanya luruhan rembulan yang meneranginya. Bahkan parfum yang entah apa merk-nya, tak sengaja ia remas dengan kuat.

Namun, sepertinya nasib baik tak berpihak padanya. Kaki jenjangnya tak sengaja menubruk tong sampah. Oh, matilah dia.

”Siapa disana?!”

Suara teriakan asing tersebut bagai cambuk kematian yang ditorehkan tepat kejantung gadis itu. Kakinya membeku tak bisa bergerak.

Gadis itu terduduk di aspal yang dingin. Udara disekitarnya tiba-tiba berubah menjadi sedingin es. Kehangatan yang baru saja menjalar di tubuhnya seketika menghilang berganti dengan kabut dan uap yang tebal merengkuh tulangnya.

”Siapa disana?!”

Derap dan suara itu semakin mendekatinya. Samar-samar ia melihat bayang-bayang gelap di tembok didepannya. Bayangan orang tinggi yang menghampirinya. Sungguh, gadis itu benar-benar membeku, tergores angin dan mematung asa.

Ia menunduk, menunduk dan memejamkan mata. Takut jika benar-benar tempat ini yang akan menjadi peristirahatan terakhirnya.

’Oh Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?’

Sepintas sepatu hitam mengkilat muncul tiba-tiba didepannya, ia tak berani mendongak karena takut jika ia mendongak akan melihat pistol yang mengacung di diepannya dan membelah otaknya.

”Kau melihatnya?” tanya seseorang itu. Suaranya terdengar menyeramkan. Gadis itu menggeleng hebat dan kembali menautkan telapaknya yang terasa dingin karena menggenggam kristal kaca tempat parfum miliknya.

”Cih! Aku pastikan kau tak akan bisa melihat ini lagi.”

TBC

Iklan

12 responses to “Thir13een Parfume Volume 6

  1. lanjut thorr~ jangan lama2 ya…
    kasian bgt, dari awal smpe skrg, kcuali leeteuk, suka smua sama jihyun. Aku mikir, ntar masa depannya jihyun sma siapa ya? XD

  2. Aaaaaa chingu
    i miss u
    how long this ff out eoh ckckck
    kkkkk

    Akhirnyaaa
    akhirnyaaaa
    scene Kyu

    kyaaaaa ppalli ppalli
    aku uda gak sabar nunggu scene mereka berdua

    kkkkk

    dan oh bagaimana kisah mereka
    ckckck
    akankah penuh dengan pertengkaran abstrak kkkk

    chingu ppalli post
    jangan lama2 ok

  3. ahh.. suka banget deh part ini..
    mang ngenese, kcuali teuki, semuanya pada suka ma jihyun..
    yah siapa yah tuh yg nembak, abang evil kah?

  4. Ah, aku menemukan id ku lg. Wkwk, do u remember me, sist? 😀
    ok, itu siapa? Seorang pmbunuh dgn wajah SJ kah? Tp siapa? Kyu? Wkwk, lanjut ah~

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s