Trapped In Home First Series (Date?)

Mereka bukan sekedar keluarga untukku

Mereka ditakdirkan untuk melindungiku

Mereka separuh jiwaku yang kusayangi

.

.

chochangevilkyu-1

            Art by Cafe Poster Art

Ayah tidak menyayangiku lagi!

Tak mengerti keadaan saat ini? Begitulah yang kumaksudkan. Maksudku, bagaimana bisa rumahku yang sebesar mansion gedung putih sepi penghuni? Biasanya kedua orang itu selalu ribut mengenai hal tak penting. Membuat kepalaku berdenyut bagai orang berjiwa autis.

Baiklah, itu tak masalah. Jadi, kesimpulannya adalah aku sendirian dirumah? Oh ini adalah mukjizat Tuhan paling berharga bagiku. Akhirnya aku bisa keluar juga dari gudang besar ini.

Baru saja aku akan membuka sepasang pintu kembar, suara menggelegar mengejutkanku. Nyaris membuatku terpelanting ketika pintu itu terbuka dari luar. Dan sosoknya!

“DEMI TUHAN AYAH! APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Kau tahu? Inilah yang membuatku ingin rasanya segera pergi jauh dari dunia yang mulai setengah rusak, setengah gila, setengah tak waras dan akhirnya menjadi penuh dengan orang macam Ayahku! Dia berdiri dihadapanku dengan pakaiannya yang uh-oh bahkan aku tidak bisa menjelaskannya sendiri.

Ayah nyengir tidak jelas. Bibirnya yang kering tertarik hingga gusinya yang merah kusam itu tampak melewati katupan giginya. “Bagaimana penampilanku hari ini Sweetheart? Apa aku tampan?”

Dan ingin sekali diriku berlari dari sini. Izin ke kamar mandi selama beberapa jam dan tertawa sampai mati disana. Ayah-pikir-dia-tampan-karena-pakaian-barunya. Celana cutbrai bernuansa Huh Gak jaman bocah kecil. Ayah! Yang benar saja! Kenapa tak sekalian dia menyemir alisnya yang berliuk-liuk itu dan memakai minyak wijen untuk dahinya agar mengkilap?

Aku tersenyum terpaksa. Perutku rasanya sudah menggumpal ingin mengeluarkan seluruh sarapan tadi pagi yang baru beberapa kutelan. Mengacungkan jempol lalu melirik sekilas kepala Ayah. Hampir lupa jika Ayah sangat tinggi jadi aku berjinjit seperti maniak agar dapat melihat dengan jelas rambut Ayah yang err.

Seperti mengetahui makna lirik-melirik tatapanku. Ayah mengusap-usap rambutnya yang dibelah tengah. Aku harap dia tidak terkonaminasi drama ekspor berwujud anak tak keren yang selalu memakai pelapis margarine untuk rambutnya.

Dia menciumi jari telunjuknya. “Keren ‘kan? Aku memakai gel rambut dengan merk terkenal di dunia! Walaupun tadi sample itu sudah pudar tulisannya. Yeah, katakanlah aku beruntung.”

Bodoh. Idiot! Ingin sekali aku berteriak seperti itu pada Ayah. Dia bilang sample? Merk yang sudah pudar? Rasanya kantung mataku juga menjerit ingin memuntahkan air bermili-mili banyaknya.

Tarik napas Ji. Oke, jangan pedulikan Ayah dan tetaplah tersenyum miris. Walaupun aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari rambutnya yang sekaku pohon sikmaor di samping rumah. “Hehe iya. Ayah tampan sekali. Oh, seperti anak muda yang ingin berkencan saja. Memang Ayah mau kemana?” tanyaku penasaran. Biasanya dia melakukan hal aneh pasti ada maunya yang jelas irasional itu.

“A-aku? T-tentu saja menemui klien untuk membicarakan bisnis baru. Kau tahu ‘kan jika aku ini orang yang tampan dan selalu bisa mengajak kerjasama dengan klien dengan mudah? Katakanlah jika kau beruntung mempunyai Ayah setampan aku. Seharusnya kau pantasnya memanggilku Oppa. Ah itu keren, bagaimana jika kau mencoba memanggilku Oppa saja mulai sekarang? Sepertinya aku sangat pantas sekali. Dan ah- Sweetheart! Kau mau kemana? Ya!”

Tuhan. Kumohon sadarkanlah Ayahku sekarang juga!

***

            Cuaca malam ini cukup dingin. Sudah beberapa jam yang lalu Ayah-pergi-dengan-klien. Dalam tanda petik, aku tidak tahu sebodoh apa orang yang akan di ajak kerjasama dengan Ayah. Padahal aku yakin orang itu akan sakit lambung saat itu juga setelah melihat penampilan Ayah.

Ayahku super protektif. Oke, itu bagus ‘kan? Banyak sekali di abad sekarang anak yang ditinggal kedua orangtuanya karena masalah mereka dan tentunya berdampak pada keluarga itu sendiri. Ayah bukan tipe orang seperti itu. Dia pernah berkata padaku tentang hal-berhubungan-ayah-anak. Ia menyebutnya curhatan cinta. Menggelikan.

Dia berkata, menyalahkan sampai memprotes segala aspek tentang keluarga yang seperti itu. Bercerai berai tanpa memperdulikan nasib pribadi seseorang. Ia bahkan mengajariku tentang hal-hal terperinci seperti jangan pernah menjadikan dirimu tameng, kendati kau merasa sedih namun kau mengatakan ‘aku baik-baik saja’. Dan Ayah tak pernah suka jika aku berbohong tentang perasaanku.

Aku menyayangi Ayah. Intinya seperti itu. Ayah adalah single parent yang paling hebat menurutku. Walaupun tak lebih dari seorang pasien yang kabur dari rumah pengasingan. Ayah tak pernah mengenalkanku pada seorang wanita. Itu cukup mengharukan. Berarti dia masih menyayangi Ibu.

Ibu meninggalkan kami ketika aku masih berusia lima tahun. Ayah bilang Ibu sakit parah. Pembuluh otaknya pecah ketika kecelakaan dahulu. Ia melindungiku dari tamparan kuat besi pembatas jalan. Dan kata Paman, Ayah sampai tidak makan, minum bahkan mengurung diri di kamar selama delapan hari.

Bayangkan Ayahku yang super dramatis menjadi maniak dalam ruangan sempit!

Apa yang bisa dilakukan bocah ingusan lima tahun disaat seperti itu? Tentu saja aku hanya diam. Menghabiskan waktu beberapa hari bersama Paman Yoochun. Paman yang selalu mengakui tampan dimanapun. Dan jangan lupa, dia selalu terobsesi menyuruhku memanggilnya Oppa jika di hadapan wanita-wanita cantik! Lihat ‘kan, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Atau mungkin di bawah pohon itu ada sungai yang berarus deras hingga apel itu hanyut dan hilang didalam sana. Oke, dan aku tidak  mengerti akan hal itu.

Ibu seorang wanita cantik. Ayah bercerita ketika Ibu selalu tersenyum ramah kepada orang lain. Ia mempunyai lesung yang manis seperti milik Ayah. Kata Ayah, wajahku mirip Ibu. Bahkan terkadang jika aku sedang berbicara serius dengan Ayah, ia akan mengatakan tak ada yang berbeda dari kami.

Mengenang hal tak enak seperti ini, membuat syaraf motorikku bergerak tak beraturan. Sampai-sampai nyaris membuat Dolphino menangis karena kutendang.

Sempat terpikirkan aku ingin memakan makanan sampah di seberang jalan besar sana. Namun niatku tertunda ketika mendapati pesan dari Paman. Tumben sekali dia mengirimi pesan.

Gadis kecil, aku punya kejutan untukmu. Segeralah kemari.

            Received : Yoochun Oppa Super Cute

Pikirkanlah lagi jika kau berhalusinasi tentang pengirim itu. Dan kau salah besar jika aku menulis hal tabu seperti itu. Dipersingkat saja, Paman membelikanku ponsel dan dengan tangan super mulusnya (dia selalu melakukan perawatan tubuh setiap minggu) menulis hal memuakkan di ponselku. Dia bilang akan menerorku jika mengganti tulisan itu. Tentunya aku tak percaya.

Tapi orang tidak waras series dua itu benar-benar melakukannya! Dia memasuki kamarku tengah malam lalu menggendongku dan melemparku di dalam kolam depan rumah kaca! Tak hanya itu, dia bahkan membekapku sampai aku kehabisan napas seperti ikan cupang! Sial!

Cukup dengan kelakuan autis kedua orang aneh itu. Walau begitu aku tetap menyayangi mereka. Ayah dan Paman.

.

.

.

.

.

            Detikan jam mengarah pada angka dua belas dan terus bergulir cepat. Jarum lancip paling panjang itu menunjuk ke arah sepuluh. Sekarang pukul delapan malam kurang beberapa menit. Dan pasti Ayah tak segan membunuhku jika mengetahui aku keluar pada malam hari seperti ini.

Paman mempunyai kafe yang cukup besar. Selalu ramai pada malam hari atau sepanjang minggu. Menyediakan beberapa cupcakes, muffin dan cake. Dengan struktur intern yang membuat berpasang-pasang mata akan kagum dibuatnya. Apalagi dengan penjaga kasir yang katanya orang paling tampan sedunia itu.

Aku baru saja akan berteriak, meluapkan kebiasaanku disini jika saja seseorang yang sudah berniat menghancurkan rencanaku ini tidak berdiri dibelakangku dan dengan seenak cupcakes-nya membekapku lagi!

Otomatis aku melakukan hal yang selalu di pertontonkan di drama-drama. Namun sialnya gusi dan gigiku nyeri sekali. Ternyata dia sudah mengantisipasinya dengan memakai sarung tinju untuk kickboxing! Sial.

“Diam atau aku tak akan menjadikanmu gadis kecilku lagi dan menendangmu dari jajaran orang yang dikenal Park Yoochun.”

That’s so good. More better. Itu adalah ide terbaik sepanjang sejarah dramatis keluarga Park. Namun sayangnya, kata-kata itu hanya ada berkeliaran bebas di kepalaku sementara tubuhku sudah digiring melewati konter, memutar jalan masuk dari dapur –beberapa pegawai mengabaikanku dan berpura-pura sibuk- lalu berbelok menuju ruangan Paman.

Aku berteriak histeris sesaat setelah dia melepas tangannya yang terlalu halus itu lalu mencekik lehernya. Tak peduli jeritan drama kolosal yang ditampilkannya. Namun benar-benar sesaat, karena dia mengantisipasi dengan mengeluarkan sebuah kotak besar berwarna biru dengan aksen glitter yang mewah.

Mengangkat alis sejenak.

Paman berkata sekaligus menjelaskan untuk apa kali ini dia memberiku hadiah yang sempat membuatku shock setelah sebelumnya memang kotak ini sengaja tak diberi tutup agar aku benar-benar melihatnya dan takjub. Well, tak sepenuhnya salah.

Paman Yoochun menjawab pertanyaan sekaligus pernyataan yang belum sempat terlontar. Sudah kubilang ‘kan jika keturunan keluarga Park semuanya sudah aneh sejak lahir. Mereka seperti diberi jalan tersendiri untuk mengeluarkan segala ‘kejutan’ yang benar-benar membuat siapapun akan terlonjak. Ingin mati saat itu juga. Seperti diriku saat ini.

“Apa?!” Aku memekik kurang ajar. Andai saja saat ini ludahku terdapat asam senyawa dan membuatnya mati. Yakin sekali jika dia sudah meleleh saat itu juga. Namun Paman benar-benar luar biasa cerdik.

“Aduh, kau ini keponakan yang tidak manis sekali. Seharusnya kau itu senang. Dari sekian banyak orang di muka bumi ini. Kaulah yang kupilih untuk menemani diriku kencan untuk bertemu wanita err… impianku.” Tanggapan Paman sudah masuk duluan kedalam kepalaku sebelum dia mengucapkannya. Kali ini siapa lagi? Beberapa minggu yang lalu Paman sempat mengikuti kencan buta dari temannya.

Paman Xiaowen berkata dia mempunyai kenalan seorang wanita Guangzhou yang cantik. Tipe Paman Yoochun sekali. Namun na’asnya adalah. Oh, bagaimana cara menceritakannya ya? Aduh itu memalukan sekali. Aku nyaris mati terbahak saat itu juga.

Seseorang yang di jodohkan Paman Xiaowen adalah wanita separuh abad lebih sepertiga. Entahlah apa maksudnya Paman bicara begitu. Dia memang cantik. Tapi sayangnya. Ampun, aku bisa gila! Wanita itu mempunyai suara yang menggelegar. Laki-laki sekali! Bayangkan saja perawakan anggun duduk di kursi restoran sambil mengangkat sebelah kakinya yang berbulu lebat dan mencabuti bulu hidung sembarangan! Dan itu membuat Paman pingsan saat itu juga dan yang lebih menggemparkan, ia tak mau makan selama tiga hari, (uh harusnya saat itu aku tak mengantarkan makanan ke kamar Paman). Andaikan aku disana, mungkin aku adalah orang numero uno yang menertawakannya tanpa jeda.

Sesungguhnya Paman masih belum tahu jika kejadian saat Paman meraung-raung meminta perlindunganku saat itu, aku sempat merekamnya kedalam tape recorder. Itu bisa menjadi kartu AS bagiku!

Tentu saja aku menolak keras! Apa dia kira aku bisa dijual dengan dress Ralph Lauren? Walaupun itu sungguh menggiurkan. Demi Tuhan, Paman sudah gila!

“Ayolah,” Paman masih merengek. Kini ditambah keadaan yang lebih drama sekali. Jika kau pikir Paman akan mencium kakiku, kau salah besar! Dia mempunyai gengsi setinggi langit. Mana mungkin ia melakukan hal tersebut padaku. “Gadis kecilku yang manis. Keponakanku paling seksi dan mempunyai kaki yang indah serta mata kelinci yang lucu. Bantu aku, kumohon.”

Apa? Itu menggelikan Paman. Mata kelinci? Dia pikir aku peliharaannya. Sebenarnya kasihan juga, bagaimana jika dia mendapat wanita aneh lagi? Lebih parahnya, bagaimana jika wanita itu hasil cosplay?! Itu pasti lebih lucu!

Memutar bola mata sejenak. Berdehem sekilas hingga Paman menatapku dengan berbinar-binar. Ugh, matanya yang mulai ber-kitty eyes. Aku tidak bisa menolaknya jika ekspresi Paman seperti itu!

Jadi aku menyetujui penawarannya. Namun tentu saja aku membuat beberapa permintaan. Ini menguntungkan banyak pada pihakku. Dan poin pertama yang penting adalah aku tak ingin jika dia menyuruhku memanggilnya  Oppa. Mati saja jika dia menyuruhku berbicara seperti itu didepan wanitanya (Paman sempat meracau saat aku memandang galak, tegas, dan tak terbantahkan pada syarat utama itu). Lalu uang saku tambahan. Dan tentu saja Ayah tidak boleh tahu.

Pria itu menggaruk hidung dan alis bersamaan, lalu berkata dengan nada lucu yang terdengar pasrah sekali, “Baik, baik. Umm semua itu hanya untung pada pihakmu saja.”

“Mau tidak hah?”

“Eeee, tentu saja keponakanku yang cantik. Jangan lupa besok dandan yang manis untuk bertemu dengan calon istriku ya.”

Dan untuk beberapa saat, aku benar-benar mual.

.

.

.

.

.

            Hebat sekali. Ternyata dibalik kepelitan super Paman selama ini, dia menyimpan banyak kejutan! Kukira walaupun dia punya banyak uang dan yang kutahu selalu kikir bila memberikannya kepadaku, ia akan benar-benar melakukan kencan buta di kedai Yojin Ahjumma. Ternyata dia memblokade meja kursi di sudut restoran besar dengan pemandangan malam yang sangat indah.

Ia tersenyum. Sengaja memberikan segala pesonanya agar aku takluk seperti ibu-ibu tetangga yang suka sekali dengan Paman karena ketampanannya itu. Namun tentu saja aku berbeda. Diriku hanya melirik tak suka lalu Paman Yoochun benar-benar diam. Ia merengut sambil tetap berkaca di layar ponselnya. Astaga.

Penantian Paman –tepatnya kami telah sampai puncaknya. Seorang wanita yang menurut hipotesaku seumuran dengan Paman berjalan mendekati kami. Setelah sebelumnya ia sempat belum percaya jika ia akan berakhir dengan seorang pria yang terobsesi pada abs-nya sendiri.

“Park Yoochun?”

Paman tersenyum sumringah. Gusinya yang terlihat bersinar itu agaknya meninggikan sedikit harga dirinya untuk malam ini. Paman berbasa-basi sejenak dengan wanita itu. Hingga aku tahu, jika inilah nasibku yang sesungguhnya. Hanya menjadi pemanis agar tak ada pihak yang lain. Paman percaya jika dua orang berkencan. Pihak ketiga adalah iblis. Jadi sekarang, dia menganggapku seperti iblis yang terlihat? Begitu?

Perempuan itu cantik. Namanya Anna. Sebelumnya ia juga sempat terkecoh denganku. Dia mengira aku adalah wanita simpanan Paman (Dia mengatakan hal ini dengan penekanan penuh sindiran dan melirik dadaku dengan lamat-lamat! Ia juga bertanya berapa ukuran braku?!). Ih! Dia benar-benar membuatku kesal sepanjang percakapan pembuka itu. Namun setelah Paman menjelaskan tentangku (Ia nyaris memberitahu Anna jika aku adiknya. Namun aku memukul kepalanya dan tak segan membeberkan kartu AS yang kumiliki) yang hanya-seorang-keponakan. Untunglah tak berlanjut. Aku tak mau disebut gadis jalang.

“Benarkah?” Anna tersenyum setelah aku bertanya terkejut. Dia tak keberatan jika aku memanggilnya Ahjumma. Wanita itu bahkan memberikan aku sebuah gelang sebagai tanda perkenalan. Kali ini aku setuju jika Paman berhubungan dengan Anna. Dengan beberapa pertimbangan serupa (termasuk pembicaraan ukuran dada).

Untuk beberapa waktu, aku membiarkan mereka berbincang. Dengan pura-pura berkata jika kantung kemihku nyaris penuh dan pergi secara ikhlas (Paman juga terlihat sumringah) lalu menuju beberapa langkah kearah Tenggara. Kamar kecil.

Pandangan Paman masih terlihat memuja kala aku meneruskan langkah tak jadiku untuk menuju meja makan mereka. Aku yakin Paman tak peduli apakah aku ada atau tidak. Jadi aku berbelok kearah pintu keluar dan melangkah menuju mobil untuk menunggu kencan anak muda ala mereka.

“Haha, begitulah.”

“Bagaimana jika aku mampir kerumahmu kapan-kapan? Boleh? Rasanya ingin sekali jika aku melihat rumahmu. Pasti indah sekali.”

“Umm, bagaimana ya. Ah baiklah. Kapan-kapan saja ya Nayoung.”

Rasanya pendengaranku akhir-akhir ini sedikit kehilangan fungsinya. Mungkin gara-gara teriakan Paman yang maha dahsyat itu, atau memang aku mendengar suara Ayah?

Kuputuskan untuk keluar dari Land Cruiser Paman. Melangkahkan kedua kaki menuju sumber suara. Menguntit sepasang manusia yang tampak mesra. Aduh, kenapa aku seperti Paman ya sekarang?

Pasangan berisik itu berjalan melalui area parkir. Sesaat, aku sempat bingung dengan plat nomor yang tampak tak asing bagi kedua penglihatanku. Atau memang mataku mulai buram akibat karma karena sering melihat abs Paman?

Wanita itu tersenyum ketika pria tersebut membukakan pintu penumpang dengan romantis. Perasaanku mulai tak enak.

Dan apa yang kutakutkan sepertinya terjadi. Plat nomor, suara, baju dan rambut berminyak itu milik… Ayah?

.

.

.

.

.

            Sore temaram nyaris berganti keadaan. Agaknya sedikit gelap. Beberapa hari ini aku mengurung diri di kamar. Setelah bersekolah, olahraga sepanjang hari dan makan, aku langsung masuk kamar dan tak ingin keluar sejengkalpun.

Kejadian waktu itu masih terbayang-bayang di benakku. Jujur saja, ternyata aku masih belum dapat mengiklaskan Ayah untuk wanita lain. Setelah malam itu, aku tidak lagi berbincang sama sekali dengan Ayah. Bahkan tak pernah bertatap muka lagi. Aku benar-benar benci Ayah.

Ayah tidak sayang padaku lagi. Otomatis dia juga sudah mulai tidak mencintai Ibu lagi. Aku kira Ayah masih selalu ingat padanya terus sepanjang hidupnya. Namun apa? Dia sudah ingin berpindah haluan untuk mencintai wanita lain.

Pria itu sempat mengajakku bicara. Namun aku hanya mendengus seperti banteng liar lalu berjalan menghentak menuju kamar. Tak peduli teriakan Ayah (itu pertama kalinya Ayah membentakku) dan rasanya sakit. Ayah tak benar-benar sayang padaku.

Paman Yoochun juga bingung. Selain karena aku tak ingin bicara padanya. Ia mengira karena persoalan wanita simpanan dan jalang itu aku pergi dari restoran dan marah padanya. Salah satunya mungkin. Tapi aku tak suka dengan cara bicara Paman dan Ayah yang menuntut. Seolah aku pihak yang menyakiti.

Malam ini seperti biasanya. Aku tak menemukan Ayah dirumah. Ia pergi lagi. Dan aku yakin wanita setengah sinting itu yang mengajak Ayahku yang polos keluar dari rumah. Paman? Mungkin dia akan berusaha meniduri Anna.

Mencoba tak peduli. Aku melangkah enggan menuruni beberapa anak tangga peresap gema. Perutku lapar, dan gengsiku kalah jika menyangkut soal perut dan beberapa hal tentang diriku.

Aku menemukan sandwich tuna dan sekotak kopi beku di dalam lemari pendingin. Namun setelah memakan beberapa gigit aku mulai bosan. Pikiranku ternyata lebih menang dalam perdebatan tentang hati daripada kerongkonganku. Aku masih memikirkan Ayah.

Jadi kuputuskan untuk mengintip sebentar ke kamar Ayah. Dari dulu Ayah tak pernah mengijinkan aku memasuki wilayah teritorial pribadinya.

Celah pintu terlihat dari sudut pandangku. Tumben ia tak menutup dengan rapat. Padahal dia selalu bilang jika rumah ini banyak tikus dan segalanya harus tertutup rapat.

Aku tak mendapat dosa. Semoga dosaku di ampuni. Itulah doaku sebelum mengintip kedalam kamar Ayah. Namun ternyata aku salah. Aku tak jadi diberi dosa, setidaknya sampai saat ini ketika aku mendapati punggung Ayah yang berhadapan dengan… eksemplar besar foto Ibu?

Suara Ayah terdengar serak. Ia menangis sementara tatapannya tertuju kearah dinding yang terbingkai keramik bergambar Ibu dengan tokoh kartunnya. Apa Ayah yang membuat itu?

“Chaerin. Aku tidak tahu kenapa putri kita akhir-akhir ini sangat sensitif. Dia menjauhiku. Mengurung diri dikamar dan tak ingin melakukan curhatan cinta denganku. Anakku sepertinya tak menyukaiku lagi. Tapi, tapi. Aku rindu dengannya. Rindu saat dia meminta pendapatku tentang segala hal terutama dengan seluruh bra yang sehat untuknya,”

Bodoh! Bagaimana bisa Ayah menggagalkan tangisanku dalam sekejap? Sekarang aku benar-benar ingin tertawa. Ayah aneh. Aku mengusap mataku. Menggosok dengan kencang. Biarlah memerah, agar Ayah melihatku habis menangis dan memberiku uang saku tambahan!

Ayah berbicara lagi. Kali ini aku mendengar permintaan tulus dari bibirnya yang setipis bibir sulaman yang seksi. Sungguhkan Ayah yang mengatakan hal itu?

“Aku sangat mencintai putri kita Chaerin. Masih ingatkah saat dia masih bayi dan ia selalu bergantung padaku? Selalu memelukku ketika menangis. Bahkan dia sempat mengabaikanmu Chae. Putri kita sekarang sudah remaja dan cantik. Dan aku baru tahu beberapa hari ini. Ia menjauhiku karena Nayoung. Gadis kecil kita salah paham sayang. Dia…”

Tak sempat berbicara lagi. Ayah bungkam seribu bahasa Korea untuk beberapa lama ketika dengan cepat aku berlari tak sampai menginjak detik ketiga dan memeluk Ayah dengan erat. Mengunci punggung Ayah dan menyenderkan kepalaku yang pening ke hangatnya piyama rajut Ayah.

Ayah menggumam. Memanggil namaku.

“Ayah… maafkan aku. Maafkan aku Ayah. Aku sayang Ayah.”

Ternyata menangis adalah hal yang cukup lumrah disaat kita harus terdesak dalam hal berbau drama seperti ini. Aku tidak bohong ketika berkata lafal protagonis dalam film tersebut. Jadi selama ini Ayah tersiksa karenaku? Kenapa aku tak menyadarinya?

Ayah berbalik lalu memelukku erat. Ia mengusap kepalaku seperti anak kucing. Mengingatkanku akan masa bayi kecil berliur yang pernah ku lakoni. Ayah berbicara lagi dan berkata jika dia menyesal pernah berbohong padaku beberapa minggu yang lalu.

Berkencan adalah tujuannya terdahulu hanya saat bersama Ibu. Namun Ayah bukannya ingin mengambil kesempatan itu. Dia hanya menemani Nayoung. Mengatakan jika Nayoung adalah istri dari rekan kerja Ayah.

Ternyata Ayah sangat sayang padaku.

“Maaf Ji. Jangan marah padaku lagi. Aku tersiksa dengan keadaan seperti ini. Beberapa hari ini aku sulit tidur dan makan. Walaupun aku masih bisa makan saat dikantor dan aww… jangan memukulku. Biarkan aku menyelesaikan kata-kataku dulu anak kurang ajar.”

Aku berteriak. Ayah benar-benar tak peka dengan keadaan. Mengacaukan daftar tangisan yang pernah tercatat di otakku. Oke, anggap hari ini aku tak pernah menangis. Ia kembali memelukku dan mengucapkan daftar penghapalan kata-kata romantisnya ini.

“Iya. Aku juga minta maaf Ayah. Aku kira kau tidak mencintai Ibu lagi. Habisnya wanita itu mirip wanita jalang dan aduh… Ayah jangan menjitakku!”

Lalu kami tertawa. Ayah sudah tak marah padaku lagi. Dan aku sudah tahu jika selamanya Ayah menyayangiku. Ia juga berkata jika setiap malam selalu menangis jika melihat foto Ibu. Nyaris percaya sata itu juga. Namun semua kepercayaanku sirna begitu saja ketika dia berkata dengan sangat jujurnya jika itu hanya air mata ketika menguap! Sialan.

Aku merasa Ayah ingin berceloteh tidak penting kembali seiring dengan tatapannya padaku, namun hanya sepersekian detik itu juga suaranya menguap digantikan suara menggelegar penuh bencana dan emosi tak berkesudahan.

Dan suara itu adalah…

“ASTAGA! BAGAIMANA BISA ANNA ITU SUDAH PUNYA ANAK?! HAH INI TIDAK MASUK AKAL! HYUNG! GADIS PENDEK! KEMANA KALIAN?!”

Sudah kuputuskan, aku benar-benar ingin keluar dari strata berbelit keluarga ini.

END

chochangevilkyu’s note

Halo, all of you yang menantikan segala utang epep aku. Wkwk (sok banget)

Kali ini aku hadir dengan series yang super panjang. Entah kenapa tiap liat tingkah Yoochun dan Leeteuk itu jadi pingin buat tentang mereka. Aku pernah liat funny videonya DBSK dan Super Junior. Dan paling gabisa berhenti ngakak ketika melihat pertengkaran konyol antara DBSK dan Suju tapi si bang Yoochun malah masang muka datar dan tetep nglanjutin makan padahal semua udah perang dingin(?) Aduh mukanya itu lo hebring banget wkwk.

Okelah, kapan-kapan bikin series lainnya tentang keluarga aneh ini lagi ya. Daaaaaaaa…

From wanita simpanan Yoochun

Iklan

12 responses to “Trapped In Home First Series (Date?)

  1. Ping-balik: Trapped In Home First Series (Date?) | Super Junior fanfiction house·

  2. Wkwkwkkwkw suka banget ff ini hahaha sumpah yoochunnya ngakak banget, leeteuknya juga kocak walaupun agak ‘sesuatu’-_- lanjut series lanjutnya:DD

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s