Lost in Time Track Two

Waktu itu hanya sekedar penunjuk jam, menit dan detik.

Waktu itu tak begitu berguna jika kau menyia-nyiakannya.

Lalu, jika waktu berhenti, apa yang akan kau lakukan?

Bagaimana kau bertanggung jawab jika waktu itu berhenti karena dirimu?

Keseimbangan bumi mulai goyah, dan satu-satunya cara agar menghentikan itu adalah dengan… 

***

Terkadang, keseimbangan semesta adalah salah satu jalan untuk melanjutkan kehidupan. Namun di balik semua itu, ada kalanya kau hidup berpacu dengan waktu, tantangan dan penemuan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam duniaku, sebuah waktu adalah tempat untuk meretas diri sendiri.

lost-in-time-by-chochangevilkyu

.

.

.

Jin Ah terbangun di pagi buta. Udara di sekitar kamarnya terasa dingin namun lembab. Khas Disaster. Saat matanya menyusuri daerah sudut-sudut kamarnya, ia kembali meringis, otaknya seakan membeku tersiram makanan alien. Kemarin, setelah ia menyadari Eunhyuk benar-benar ke arah Utara -menara jam, dengan tekat dan modal kesendirian, ia mengikuti langkah lebar Eunhyuk, oh betapa bodohnya dia.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Fantasy, Friendship, Adventure

Kim Jin Ah, Eunhyuk

PG-15

Inspired by The Clockwork Tower : Lost in Time

Art by Miss Fishy Jazz

            Namun apa yang terjadi? Ia malah kembali terjerat rumput tinggi tanah perkuburan saat akan berusaha melewati kubangan (padahal jalan memutar masih ada!) dan bodohnya lagi, ia tak sendiri, ada Alex di belakangnya (pemuda itu penghuni kamar 717 yang atapnya berjamur parah). Entahlah, apakah ini akan dimaksud dengan polos atau bodoh, dengan wajah yang selalu cemas seakan ada sebuah lubang di antara celana jeans-nya itu, dia bertanya dengan sangat lugu. ”Kau sedang apa disini? Ingin bermain? Kau tidak takut gelap?” Dan Jin Ah sungguh mengutuk diri bisa mengenal orang seperti dia.

Hari ini adalah hari Kamis. Tiap hari Kamis Disaster selalu mengadakan doa bersama lalu di lanjutkan pemilihan ekstrakurikuler (setiap minggu ekstrakurikuler selalu berganti). Jin Ah sempat memikirkan apakah ia akan benar-benar mengikuti kegiatan itu ataukah meratap diri mengikuti Stefany melakukan pekerjaan mingguan. Jadi dia lebih memutuskan untuk mengambil handuk dan berjalan tanpa semangat menuju pintu kamar mandi. Sejujurnya jika lebih memilih untuk bekerja mengamplas dinding Disaster atau mandi, dia akan lebih melakukan hal pertama, tentu saja. Air di Disaster benar-benar sangat dingin membekukan. Bertolak belakang dengan cuaca yang panas. Dan kabarnya (info dari Stefany yang akuratnya terjamin 90%), air ini akan ditampung di ceruk dekat gereja lalu disalurkan kembali ke plafon-plafon yang berada di sini.

***

            Jin Ah berjalan tergesa-gesa, disampingnya Stefany melakukan hal sama (berlari dengan kaki terangkat satu). Mereka lupa satu hal, Disaster mengadakan misa pagi pukul 05.30. Dan sekarang sudah pukul 06.00. Membuktikan betapa sempurnanya ranjang pingit di Disaster.

Mereka melewati lorong berbeda dari biasanya. Jika ditinjau dari pandangan Jin Ah, gadis itu sangat merasa asing dan juga terhenyak dalam hitungan detik perlombaan waktu. Sedangkan Stefany hanya berjalan setapak dermawan tanpa menghiraukan lorong yang mereka lewati kali ini.

Dinding-dinding tempat lorong bagian sayap Selatan sangat rapat, disangga dengan berbagai macam kayu lapuk. Bangunannya nampak seperti tempat bernaung musisi pemakaman pengantar mayat daripada diperuntukkan pengejaan Olmec. Jika kau benar-benar buta arah, kau pasti akan tersesat untuk melewati arah lorong ini. Tanda di sini seakan dibuat khusus untuk pengecohan murid. Jin Ah terpekur, dia sama sekali tak tahu jika Olmec di pakai di sekolah Disaster. Kemungkinan terbesar adalah ia harus mencoba membuka salah satu buku katalog berjamur di kamarnya.

”Ini adalah lambang Amerika kuno percampuran huruf Disaster.” Stefany menjelaskan. Ia mengangkat sebelah tangan, masih berlari. Benang di baju hangatnya tertarik saat ia melongok ke arah lengan di dekat pangkal siku.

Jin Ah menoleh. Menatap jengah tangan Stefany yang masih berputar-putar memelintir benang lalu menggigitnya agar terlepas. Mungkin Jin Ah saat ini sudah benar-benar kebal dengan gaya bersikap Stefany.

Ohhuh! Cepat sedikit young lady. Kau akan di penggal jika masih berusaha keras menelanjangi dinding ini dengan mata lasermu itu!” seru Stefany kesal. Mulutnya terbuka tertutup menghapalkan lagu-lagu misa dan sebagian doa agar terhindar dari hukuman norak Disaster.

Jin Ah mengeluarkan kertas contekan dari kerah baju berjubah kusut dengan tergesa-gesa. Pelarian ini cukup membuatnya mengingat adegan Harry Potter menantang nyawa mencari Hocrux mahkota Ravenclaw saat di dalam ruang kebutuhan. Oh, yang benar saja. Oke, cukup masuk akal.

Sempat terjadi adegan tumbangnya Stefany saat melewati beberapa kerikil runcing, namun dengan lincah dan cekatan dia mendongak lalu melompat penuh gaya. Entahlah, apa yang saat ini ada dipikiran Jin Ah melihat adegan seperti itu.

Heh,” Jin Ah mendadak kusut, matanya menyipit, tangannya digunakan untuk menarik kembali bekas sisa benang yang terjuntai dari lengan baju hangat Stefany. ”Ini-apakah-benar-gereja?

Stefany mendengus lalu menarik telunjuk Jin Ah dan membiarkan tangannya menuntun jari telunjuk Jin Ah untuk membuat tanda-tanda berbahaya jika ia kembali membuka suara. ”Ugh, ternyata kau orang yang waras. Baguslah. Ayo masuk!”

Gereja Disaster cukup menakutkan. Dinding bagian luarnya sudah terlihat termakan usia. Bahkan pintunya yang tertutup, berbau apak –seperti kain yang kau tumpuk di lemari dan kau campur dengan loyang bekas pai selama berpuluh-puluh minggu. Gagang pintu terasa licin, seperti selalu di minyaki dengan oli, namun berbau menyengat. Bagian kiri gereja sudah roboh. Di hancurkan mesin besar beberapa minggu yang lalu. Bukan maksud ingin mencibir, tetapi gereja ini benar-benar mirip tempat setelah tertebas angin muson yang cukup besar.

Setelah mereka berdua melewati tempat pemasukan yang tak lazim. Kini Jin Ah mati-matian untuk menahan diri tidak berteriak dan berlarian mengelilingi Guffy Goofer saat melihat Stefany mencelupkan jari-jarinya nyaris semua di tempat air suci. Bukan apa-apa, namun air itu tidak berwarna jernih, melainkan coklat kehijau-hijauan, terpantul sinar mentari yang perlahan naik membuatnya membias. Jin Ah menjenjangkan lehernya, berharap sekalian menemukan ikan pari disana.  Lumut dan jamur menghadang di tempat baskom perak air suci. Cukupkah itu jika digunakan untuk alasan kenapa Jin Ah berjinjit jijik?

Tubuh mereka yang kecil dengan gesit memasuki barisan bawah kursi-kursi. Nyaris bunuh diri, dengan cepat Stefany menarik Jin Ah saat gadis itu benar-benar akan kabur dari tempat ini. Akhirnya beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di bangku ke tiga dari belakang. Tentunya masih melirik-lirik. Untunglah semua orang sedang mengatup dan menggerak-gerakkan mulut kaku. Cukup yakin, kebanyakan dari mereka sudah masuk alam mimpi mereka kembali.

Pst! Kenapa kita harus melewati halang rintang yang membuat punggungku patah huh!” Jin Ah masih setia mengumpat kecil. Sedangkan Stefany hanya menyengir meminta di remukkan. Namun dengan segera Stefany memanjangkan tangannya lalu menarik tengkuk Jin Ah. Gadis itu sempat melotot dengan pikiran-yang-melewat-batas.

Ternyata Stefany hanya mendorong Jin Ah agar menunduk saat mengetahui kepala sekolah mereka itu berkeliling. Memberikan contoh buruk, dia memang tak begitu peduli dengan misa ini. Kepala sekolah Disaster itu benar-benar tak memberi panutan yang baik.

Stefany sudah asyik memejamkan mata. Saat Jin Ah melirik, menyipit. Ternyata suara dengkuran halus dan gerakan tak nyaman Stefany membuatnya yakin jika ia sudah benar-benar terpengaruh angin-dari-hancurnya-sayap-gereja-yang-ambruk.

Ia menunduk, memainkan tangan di atas pangkuannya. Memikirkan kejadian aneh akhir-akhir ini. Tak begitu membuatnya pusing, namun jiwa bebas yang terkukung itu seakan benar-benar mencurigai sikap-sikap aneh orang-orang disini. Kenapa sikap mereka seakan terisolasi dan ada apa dengan larangan keluar-masuk jam menara jika memang tak ada hukuman atau sistem penting untuk kesana. Ah dan satu lagi, hantu menara jam?!

Sesaat pikiran Jin Ah kembali berkecamuk. Dia juga bingung, apakah pening yang melanda tiba-tiba memang berpengaruh dengan kakinya? Ia merasakan ketegangan di sekujur tulang kakinya. Belum sempat menunduk lebih dalam, sesuatu –tepatnya sebuah tangan, mencengkeram pergelangan kakinya dengan erat. Jin Ah nyaris berteriak jika saja seseorang di belakangnya tidak menepuk pundaknya cukup kuat. Takut-takut, Jin Ah menoleh.

”Maaf,” Seorang pemuda hanya tersenyum malu-malu. Sedangkan gadis di sebelahnya sudah menarik tangan Jin Ah dengan rusuh lalu menggoyang-goyangkannya. ”Dia memang seperti itu. Hobi barunya menyentuh kaki-kaki cantik gadis yang manis.”

Gadis berambut bob itu menoleh kejam ke arah pemuda pirang. Mereka seolah menjahit mata mereka masing-masing dengan kata-kata penebus dosa telepati, menghiraukan Jin Ah yang sudah menatap mereka bingung. Ingin menginterupsi takut mengganggu, tetapi tangannya benar-benar sakit.

”Jika tak berniat berdoa tak usah kesini.” Tiba-tiba terdengar suara halus berbariton. Jin Ah yang pendengarannya terbilang sangat baik, menjenjangkan leher perlahan ke arah suara tersebut. Langkah pertama yang salah, urat lehernya tertarik, menimbulkan suara memualkan yang membuat seseorang-berbariton menoleh.

   Aqua Tourquise itu membulat sempurna. Ia tak menyangka jika pemuda berkaus aneh itu menduduki bangku di sebelahnya. Kali ini pemuda itu tak memakai kaus aneh-aneh. Hanya switter berbahan woll dengan aroma kopi susu yang cukup manis.

Berbeda dengan Jin Ah, justru Olive Green Dark itu menyipit curiga. Mengamati wajah Jin Ah, menyisir ke arah lehernya. Memikirkan kenapa bunyi itu senyaring ini. Dan pandangannya berhenti ke arah kedua lengan Jin Ah yang masih di cengkram gadis bermata Black Dark yang menyalak sempurna. Mereka-yang-masih-membicarakan-hobi-baru-pemuda-aneh.

”Tolong aku,” Jin Ah berbisik pelan. Wajahnya masih pucat, antara menahan sakit dan menahan pegal. Kepalanya berputar aneh menatap Eunhyuk, pastur, lengannya dan Stefany. Terlalu kompleks. ”tanganku menjerit minta diselamatkan.”

Baru saja Eunhyuk akan mencoba menjulurkan lengannya. Deheman super spontan membuyarkan beberapa pikiran anak-anak Disaster. Termasuk mereka-bangku-nomor-3-dari-belakang. Kepala sekolah itu mengerutkan hidungnya. Matanya yang besar berwarna nyaris tembaga itu menusuk ke arah barisan kedua dari belakang.

Kesempatan ini dimanfaatkan Jin Ah untuk menarik lengannya. Benar-benar anak khas Disaster. Deheman begitu saja membuat seisi ruangan berhenti berdoa. Dan Jin Ah membayangkan tiga tahun yang akan ia lewati lagi disekolah ini nanti akan seperti apa.

***

            Pagi ini berbeda. Begitu panas dan terlalu buruk. Waktu menunjukkan pukul sembilan namun seakan matahari sudah bertamasya di atas kepala.

Beberapa anak Disaster sudah bersiap-siap setelah melakukan misa. Setelah berdoa-dengan-wajah-tanpa-dosa mereka kembali memasuki asrama dan melakukan packing sana sini. Masih merasa ambigu dengan tanpa maksud untuk mengetahui kegiatan mereka. Jin Ah dengan wajah polos mengamati mereka semua.

”Kau tidak menyiapkan apa-apa?” Stefany bertanya. Matanya masih terpaku pada apel yang di potongnya menjadi tumpukan kecil kotak-kotak. Cara makan yang aneh.

Jin Ah menggeleng, matanya masih tertumbuk pada orang-orang yang berlarian kesana kemari. Disaat itu juga otaknya kembali berjalan dengan baik. Dia bertanya, ”Kenapa mereka berlarian? Bukankah harusnya mereka ada di ruang sana?” Jin Ah menunjuk gedung olahraga dengan ragu-ragu. Bahkan ia benar-benar tak ingin mengatakan kalimat itu, jadi dia hanya menunjuk rancu. Berharap Stefany cukup pintar untuk mengerti.

Stefany memakan satu kotak kecil apel. Dia menumpuk seperti domino. Tak peduli dengan tatapan Jin Ah yang mengarah padanya. ”Umm, tapi mereka melakukan itu hanya untuk menyembunyikan semua logam yang berada di tubuh mereka. Pengajar disini akan membunuh mereka jika mendapati satu gram logam sekalipun dan sebagainya.”

Oh. Jin Ah mengangguk sok mengerti. Matanya berhenti di salah satu bangku panjang dibawah pohon Sikamor. Ada sekumpulan anak-anak populer disana. Tentunya Eunhyuk juga ada disana. Mereka terlihat sangat santai.

”Mereka tak pernah melakukan hal seperti kita. Entahlah kenapa mereka selalu mendapat fasilitas yang sangat spektakuler dan juga dibebaskan semua hal-hal berhubungan dengan pemeriksaan kebugaran jasmani. Jangan salahkan. Tapi, aku agak sangsi dengan staff-staff disini. Uh, aku yakin mereka menyogok dengan berkoper-koper dollar.”

Jin Ah mengerti tentang hal itu. Sedikit banyak mengharapkan hal itu terjadi padanya. Namun dia hanya gadis baru yang terlambat masuk sekolah dan hanya mengimpikan kekuasaan-pembebasan-pemeriksaan-kebugaran-jasmani seperti saat ini.

Suara dari mulut Stefany agaknya membuat Jin Ah kembali sadar. Ia menahan emosi agar tak meninju Stefany saat ini juga. Kehancuran potongan apel dalam mulut Stefany membuat Jin Ah ingin sekali menggertak gadis setengah tak waras itu.

Ia memalingkan wajah. Kesalahan besar karena saat itu juga mata hijau Eunhyuk menabraknya. Dalam artian metafora. Anak laki-laki itu memandangnya dengan tatapan uh-luar-biasa-keren. Alisnya berliuk. Dan Jin Ah bersumpah melihat seringai pemuda itu.

Lututnya gemetar. Hampir jatuh dan mempermalukan diri. Ia memegangi bahu Stefany agar terlihat seolah masih berdiri dengan jelas.

Heh,” Stefany mengelak cepat. Wajahnya seperti orang tua. ”kau gemetar. Apa kau sedang melakukan pemanasan pemeriksaan fisik?”

Jin Ah menggerutu. Ia benci jika ada yang melihatnya gugup. Karena jika ia gugup pasti urat-uratnya terlihat. Ia jadi seperti mirip nenek-nenek tua yang otoriter. Dan ia benci.

Seseorang menghampiri Stefany. Oh si jalang –ups. Ah serius! Dia menghampiri Stefany sambil menenteng pakaian renang super longgar. Ada beberapa tembelan sana-sini. Dan –oh, Jin Ah bersumpah melihat si jalang menggunting pakaian berbau kamper itu menjadi sebuah bikini. Benar-benar bikini!

”Stey, hari ini jadwalku untuk memangkas rumput gila berlendir disana-” Gadis itu membuat tingkah menyebalkan, gayanya sok elegan dengan mata yang dikedip-kedipkan rusuh kemana-mana. ”ambil bagianku ya, tunggu nanti malam aku akan ke kamarmu.”

Dan Jin Ah tidak akan ambil pusing jika gadis jalang itu memelototinya. Oh, bisakah dia lebih manis lagi? Kurasa tidak. Otaknya sudah terbalik beberapa derajat. Bahkan ia yakin gadis itu adalah jelmaan iblis Disaster.

Satu lagi fakta. Gadis itu bernama Butty. Uh siapa sih orangtua kolot yang memberi nama anaknya seperti itu? Hah, itu tidak sebanding ketika anak-anak memanggilnya Bott –pantat! Terlihat manis katanya!

Kembali lagi dalam masalah tadi. Stefany menyeret Jin Ah ke Utara. Gadis itu diam saja, masih menutupi telinga rapat-rapat agar tak mendengar suara gadis jalang –Jin Ah lebih suka memanggilnya begini- yang berkumpul dengan kumpulan anak-anak populer, bergaya sok keren. Seolah sudah mengerti pembicaraan mereka. Tertawa lebar tanpa sebab.

.

.

.

.

.

.

            Jin Ah termangu. Terjebak di antara pikiran yang kompleks.

Ia berjinjit. Berpikir apakah akan masuk atau tidak. Sudah beberapa menit berlalu dan ia tetap berdiri bodoh di depan pintu ruang basket.

Eunhyuk disana. Melakukan strecthing dan ia sangat beruntung mendapatkan ekstrakurikuler menari. Jin Ah mengintip di kaca transparan oval yang menempel di depan pintu. Menampilkan beberapa orang yang berada disana.

Ruang olahraga Disaster lebih parah daripada bangunan kuno gudang pojok sekalipun. Semua orang berkumpul menjadi satu, berbagi kebisingan dan membuat otakmu seakan pecah. Sangat cerdas orang yang dapat bertahan selama satu menit disana.

Entah apa yang dipikirkan Jin Ah. Jelas sekali dia sudah tercoret dalam daftar orang-orang yang di dalam, tentu saja dalam arti sadar diri yang sepenuhnya tak kasat mata. Orang-orang yang menggunakan tempat ini begitu berbeda kalangan. Kau tidak akan mengira matamu akan silau. Sungguh.

Jin Ah sudah menyiapkan beberapa percakapan kuno abad Masehi. Masih menganggap hal itu adalah keberuntungan yang tinggi. Well, salahkan pada keluarganya yang hidup di pertengahan jaman norak. Yang selalu melihat langsung naskah kuno berhias.

Jin Ah tidak tau persis kapan dirinya mulai terpesona dengan aura yang dikeluarkan Eunhyuk. Anak laki-laki itu mempunyai semacam sesuatu yang membuatnya begitu mengenalnya. Secara harfiah sebagai laki-laki populer Disaster. Dan tentunya menguping di malam hari mengendap keluar kamar hanya untuk mendengar dengkuran Eunhyuk. Salahkan dengan aura kuat pemuda itu. Dan itu dosa besar. Ah tidak, hanya seperempat.

Jadi ia memutuskan untuk membuka kenop pintu dan masuk. Berbohong sedikit pada pengajar disana berkata ada urusan dengan salah satu murid. Ah, itu cerdas. Tapi ingatkan padanya pada bagian ’ia-gadis-norak-yang-memasuki-hall-neraka’.

Tidak ada yang memandangnya. Nilai plus pertama yang baik. Siapa sih yang akan repot-repot untuk menatap gadis kecil yang buta akan navigasi sekolahnya sendiri? Tentunya tidak. Terimakasih.

Anak laki-laki itu ajaib, begitu berkilauan di antara semuanya. Membuka lebar kaki-kakinya yang panjang dan berguling kedepan. Berakhir dengan tepukan tangan. Nilai sempurna untuk rolling yang memuaskan. Tak ada ceramah, dan Jin Ah yakin guru itu salah satu perawan tua yang mengharapkan otot-otot besar yang menggiurkan seperti milik Eunhyuk. Tahu maksudku? Wanita penjilat Disaster. Ups itu kasar, maksudku, guru wanita yang menyukai muridnya sendiri. Itu kata yang lebih baik.

Tapi akhirnya Jin Ah menyesal sendiri. Ada Bott disana. Si gadis jalang. Butty adalah Bott. Dobel ’t’ dan ditulis dengan satu huruf T yang besar. Menggelikan sekali. Gadis itu menempel di lengan Eunhyuk. Seperti salah satu benang switter hangat Stefany yang menjuntai. Jin Ah memperkirakan seperti itu. Cukup jahat.

Jadi, Jin Ah tak memperdulikan. Itu masih dalam tahap mencoba. Nyatanya cukup sulit jika objek yang di kehendaki malah menjadi objek yang sangat dihindari. Jin Ah memutar haluan. Menaiki bench dan naik satu persatu undakan. Mencari tempat aman untuk mengintai. Di depan? Itu buruk. Di atas? Hah, ingin bunuh diri? Di pertengahan? Baiklah, sampaikan salam pada Bunda Maria jika itu sangat baik dan terimakasih.

Eunhyuk tampak bersinar di antara orang-orang yang berbleching keringat. Anak laki-laki itu sedikit risih, pandangannya mengabur dan seperti ingin segera dimakamkan dengan damai. Kenapa Bott tidak peka sih? Apa dia tebal muka, wajah berganda dan tak punya urat malu? Tiba-tiba saja Jin Ah merasa panas dan kesal. Ada keringat disepanjang pahanya. Mengingat seragamnya seperti pemandu sorak kehabisan benang.

Namun itu tak lebih baik dan tak disangka pada saat wajah Jin Ah bagai Centaurus. Eunhyuk menoleh. Pemuda itu menatapnya gamang. Padahal jelas Jin Ah sudah mendapat tempat paling strategis di bangku-bangku panjang berwarna emas copper. Sesak terasa menggamit dadanya. Ia benar-benar seperti anak yang kehilangan induknya. Perumpaan buruk.

Anak laki-laki itu tampaknya mengerti. Ia tersenyum tipis. Menyadari hal tersebut, kupu-kupu malang dalam perut Jin Ah berkepak bersama. Ada rasa bahagia dan meletup yang ia rasakan. Namun tak bertahan lama ketika pemuda itu membungkam mulut lalu perlahan mengangkat tangan. Jin Ah mengira Eunhyuk mengajaknya kencan atau sekedar melambai menyapa kawan, tetapi nyatanya… pemuda itu memberikan salam jari tengahnya lalu melenggang acuh dan santai. Seolah hal itu adalah lumrah dan astaga ada warna biru bergaris menyala disepanjang lengan Jin Ah. Ia marah dan tidak suka akan hal itu.

Jin Ah terlanjur kesal.

***

            Pemuda itu tak menyadari jika sedari tadi sosoknya diikuti seorang gadis yang masih setia membututinya. Jin Ah benar-benar tak menyerah dan ingin melakukan sesuatu untuk membalas perbuatan Eunhyuk.

Mereka melewati lapangan baseball dan disaat itu langkah Jin Ah dibuat mengambang. Ada bisikan jika ia tak boleh mengacaukan peradaban kembali.

Tetapi itu semua sepertinya sia-sia ketika Eunhyuk spontan berbalik tanpa berhenti. Menemukan Jin Ah yang memandangnya dengan polos lalu beberapa detik selanjutnya dua keping bola mata gadis itu membulat. Reflek yang terlambat.

Tanpa berkata. Ia memincingkan kedua matanya yang mengkilat. Sesuatu di balik kedua matanya memberitahukan bahwa Jin Ah sudah keterlaluan. Eunhyuk mempunyai pribadi yang tegas tanpa perlu mengucapkan hal menurutnya tak penting seperti itu. Jadi, Jin Ah tersenyum tanpa arti lalu berbalik. Menunggu Eunhyuk untuk berjalan kembali. Jangan panggil namanya jika gadis itu akan benar-benar menurut.

Dan benar saja, beberapa waktu berlalu dan Jin Ah mulai mengendus hawa hangat di antara reruntuhan bangunan Disaster. Ia melihat kancing bahunya yang berkilauan. Memantulkan keadaan di belakangnya. Eunhyuk sudah tak ada.

Anak laki-laki itu sudah tak terlihat. Namun hanya orang bodoh yang tidak mengetahui kepergiannya jika saja masih tertera jejak-jejak sepatunya yang baru. Meninggalkan sebuah pemikiran di syaraf abu-abunya jika Eunhyuk tak jauh dari tempatnya kini.

Gadis itu terus berjalan. Sambil sesekali mengecek hal tabu yang mungkin terlarang. Atau mungkin ia sudah mulai melewati batas garis Disaster. Siapa tahu.

Beberapa detik berlalu. Detikan di pergelangannya mengalun bagaikan rakitan bom rendahan yang di buat orang awam. Sesekali terdengar camar yang turun, terkadang melewati atas kepalanya saat burung itu terbang rendah. Dan akhirnya ia menemukan pemuda itu berhenti di depan jam menara. Seperti melakukan tradisi pengakuan dosa, hanya saja bukan di depan altar.

Namun sesaat Eunhyuk tak benar-benar menyadari jika sesuatu seperti itu akan terjadi. Hanya Jin Ah yang mengetahui hal tersebut dan dia bergegas berlari. Ada sebuah kepingan logam tebal yang jatuh di sisi jaket berkilat Eunhyuk. Benda yang sama seperti di atas sana. Mungkin berbeda ukuran dan nama. Jam saku dengan dentingan yang aneh. Jarum itu bergerak bersama menunjuk gambar yang nyaris tak ada bedanya di tiap pergerakan. Jam yang aneh.

Sosoknya menghilang. Jin Ah seketika panik di saat Eunhyuk memutar arah dan melesat cepat bagai menembus dinding menara jam.

Degup jantungnya sangat berpacu. Ia membiarkan kakinya melangkah melalui jalanan berkerikil yang pipih. Melewati celah berpagar dan menyusuri undakan pintu masuk menara jam sambil menggenggam erat jam saku tersebut.

Ada sekeping tumpukan berkarat di pintu menara. Ia tidak pernah mengetahui hal tersebut, namun di pastikan itu adalah beberapa cara untuk masuk kedalam. Kepingan pertama berbentuk bintang dan bulan.

Beberapa detik kemudian dia ingin menjerit ketika melihat bayangan hitam melewati sudut pintu menara. Bayangan itu berkejaran dan nyaris menabrak Jin Ah. Serendah mungkin menyusupkan tubuh dalam celah dekat lonceng di saat bayangan itu menembus pintu. Perasaannya semakin tak enak. Kendati itu mungkin hanya awangannya saja.

Jin Ah hampir putus asa, namun di saat kepingan itu berderak pelan, ia seketika meloncat berdiri. Melihat tatanan bulan dan bintang yang menyusun sendiri. Ada sebuah tata surya yang berkebalikan dan rotasi galaksi yang menyala di pintu. Mengeluarkan desisan mirip meriam yang bersumbu pendek.

Celah pintu terbuka. Dan Jin Ah tak akan mengabaikan kesempatan ini untuk menembus derak engsel berkarat. Menemukan tangga yang berada di ujung sudut Barat. Ia mengabaikan berbagai jenis hal yang tak perlu untuk di jelaskan.

Undakan itu berderit mengerikan di saat kaki pertama Jin Ah melangkah. Perlahan menaiki tangga kayu yang mulai rapuh. Beberapa balok kayu sudah lapuk dan berbau kamper. Itu sungguh menjengkelkan. Dan Ibu Jin Ah tidak akan memberi toleransi padanya jika kamar sempitnya dirumah menghamburkan aroma seperti ini.

Hari ini begitu cerah.

Tinggalkan catatanmu disana

Jangan heran lagi jika Jin Ah membuka mulutnya lebar. Rahangnya nyaris terjatuh dan ia bingung (ada kerutan di dahinya). Apa-apaan? Maksudnya apa dengan sebuah catatan kaki yang tertempel dengan erat (ada permen karet rasa jeruk dibaliknya) dan ditulis dengan tinta jelek. Siapa yang dimaksud orang ini? Sungguh aneh!

Baiklah. Ia menarik napas panjang-panjang. Disaat seperti ini kenapa ia malah teringat Stefany? Jin Ah bahkan lupa dimana Stefany berada saat ini. Terakhir, dia bertemu gadis itu di bawah tangga darurat sedang mengamankan alat pijat erotis anak-anak Disaster.

Suara memekak dan gilasan saling beradu terdengar nyaring. Tak ada vibra. Hanya melengking. Memekik dan well, itu cukup untuk membuatmu berteriak mencari seseorang.

“Eunhyuk!” Jin Ah berteriak lagi. Ini volume maksimal dan lehernya gatal. Ada bercak merah membekas. Bodoh sekali dia tidak membawa permen pelega tenggorokkan.

Ia disana. Anak laki-laki yang suka memamerkan jari tengah itu disana. Berjongkok di atas lantai kayu yang tipis. Disamping roda-roda jam yang saling bergesekan. Membelakangi Jin Ah. Gadis itu bermaksud untuk mengembalikan jam ini, namun di saat itu pula Eunhyuk berbalik. Melompat kecil dan tersentak. Tak menyadari jika saat itu jam saku emas yang dibawa Jin Ah terlempar dan mendarat di sela gigi-gigi roda.

Ini perasaan mereka atau hanya sebuah imajinasi, yang jelas lantai kayu yang mereka pijak terasa bergetar sangat kuat. Jin Ah bahkan tidak menyadari tangannya sudah di genggam Eunhyuk. Sangat romantis! Lupakan! Ini bukan saatnya memikirkan hal itu.

Dan tiba-tiba saja suasana gelap. Bumi berhenti berguncang dan semuanya gelap tak tersisa.

TBC

chochangevilkyu’s note

It’s too slowly. I know. Dan ini baru akan mulai masuk dalam inti cerita. Woho santai ya, jangan terlalu dipikirkan kenapa cerita ini lambat. Well, aku orangnya gapernah ‘kesusu’ dan mempertahankan alur itu perlu dear.

Ah, ada yang bingung kenapa adegan itu kayaknya gak asing buat salah satu diantara kalian. Oke, ada yang tahu game The Clockwork Tower tidak? Iyap banget sekali, aku memakai salah satu adegan disana tentang jatuhnya jam saku. Disana ada Mr. Clocksmith tapi aku pakai Hyuk. Haha. Allright, stay tune all of you my dearest^^

Iklan

6 responses to “Lost in Time Track Two

  1. Ping-balik: Lost In Time Track Three | ♥ Magical Story ♥·

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s