My Beautiful Boy

Aku cantik dan kau cantik.

Kita pasangan yang cantik.

.

.

.

.

.

.

“Sophie.”

“Sophie…”

“Sophie!!!”

YA!”

Anak laki-laki dengan gusi mengkilat dan gigi sangat rapi. Mengingatkanku pada seragam Ayah saat sekolah dasar. Pantas jika masa kecil Ayah sangat menyedihkan. Tempat pelampiasan bullymembully.

“Jangan marah Sophie.” Sungmin berkata dengan nada manja mengerikan, busuk menyebalkan, penjilat, membuat iritasi dan oke itu cukup. Aku ingin menangis, aku sungguh ingin mengubur diriku di pemakaman Cina yang terkenal akan vampire itu atau kalau tidak kenalkan aku pada petugas Koroner dan biarkan aku mengambil alih pekerjaan orangtua Brian sebagai pembedah mayat.

Sungmin merangsek maju. Menggesek-gesek kaki ke lantai kayu. Bergaya Tango lalu melompat di depanku. Tersenyum tanpa dosa. Ingatkan aku tentang bleaching-nya yang sempurna!

“Sophie cantik. Jangan marah lagi. Hari ini jadwalmu ke salon. Mr. Em akan mengamuk jika kau tidak kesana.”

Aku tidak tahan lagi. Jadi aku berdiri. Mengangkat daguku tinggi-tinggi. Berjinjit dan menaruh ransel di atas kakiku (ini kamuflase agar Sungmin tidak tahu jika aku lebih pendek darinya dan ia akan percaya jika aku tumbuh sepuluh centi lebih tinggi dalam waktu setengah hari). “Kenapa kau selalu memanggilku Sophie hah?! Namaku itu Sofie. Ingat! Ada huruf ‘f’ di tengah dan jangan lupakan dengan menaruh lambang hati di atas huruf ‘i’ laki-laki tidak keren!”

Sungmin tersenyum lagi. Lututku lemas dan gemetar. Aku berpegangan pada bahu kursi agar seolah kelihatan berdiri tegak. Dia memang terlalu tampan!

Dia memberi ciuman bertubi-tubi pada pipi dan seluruh wajahku. Tanpa terlewat seinci-pun. Ingat! Tanpa terlewat. Dan dia berhenti pada bibirku yang terbuka. Salah satu cara membuatku sesak dan segera mati. Dia tahu itu dan selalu menitikberatkan hal tersebut untuk dijadikan kartu AS, Joker, Queen, King, atau apalah istilahnya.

Sungmin itu romantis. Siapapun pasti tahu akan hal tersebut. Tiap pagi selalu menaruh kuntum bunga mawar di atas meja rias. Memberikanku lambang hati di garnis masakannya dan yang lebih penting jika membuka mata selalu anak laki-laki cantik itu pertama kali menyambutku.

Apa aku sudah bilang siapa itu Sungmin? Well, jangan kaget dan tidak usah bertindak berlebihan setelah kuberitahu. Dia suamiku. Kami masih berusia sembilan belas tahun. The end. Jangan bertanya lagi.

“Hei cantik. Jangan marah lagi. Lihat siapa yang imut disini?” Dasar anak-anak! Dia berkata aku imut?! Hello, dia pikir kata-kata itu akan membuatku terbang? Catat baik-baik, itu adalah kalimat paling menjijikkan sepanjang masa. Aku benci dan ia tahu itu. Well, siapa sih yang mau di panggil seperti itu di usia sembilan belas tahun? Hanya anak bayi.

Aku menyambar obrolan tak penting ini lalu segera menarik tangannya untuk segera keluar dari fakultas. Terlepas dari tatapan orang lain yang ingin pingsan setelah acara cium-mencium ini aku mendengar pekikan gadis-gadis jalang ups apa aku terlalu kasar? Tidak terimakasih. Tapi siapapun yang memberi tatapan mematikannya padaku dan mengumpat padaku, ku anggap seperti itu. Seluruh kampus sudah mengetahui hubungan kami dan jangan salahkan aku jika mereka akan –para gadis jalang- pingsan berjamaah disana.

***

            Kami menemukan salon dengan label lebih baik dari jejeran salon sebelumnya. Ada berbagai macam salon di tempat kami berkunjung. Sungmin bilang ingin pindah dari tempat sebelumnya. Kau tidak akan percaya, tapi rambutnya nyaris berlubang, rontok di beberapa tempat dan dia menangis, menyalahkan pegawai salon Dolly (Hey, salon ini mirip nama kambing, jadi jangan salahkan pegawainya Sungmin sayang) tetapi untungnya ia tidak mengamuk.

Aku masuk dan bicara pada laki-laki setengah wanita disana, membiarkan Sungmin berkutat dengan banyak alat yang aku tidak tahu namanya. Aku duduk manis dan membuka katalog berisi potongan rambut palsu yang timbul. Dan kau tidak akan percaya apa yang kutemukan! Highlight berwarna dongker namanya Blue Accent Cooper. Sumpah, kau akan mati berdiri jika melihatnya sendiri. Ini keren!

Tetapi sayangnya saat aku merayu Sungmin yang sedang mengikir kuku, ia hanya acuh tak acuh. Aku tahu jika sudah seperti ini ia akan bertindak anarkis padaku dan mengabaikanku. Namun beberapa detik berikutnya ia tak tampak sumringah dengan pilihan highlight itu. Ia malah berkata dengan jahatnya, “Kau ingin mengecat rambutmu seperti itu sayang? Oh itu akan membuatmu seperti Molly (Anjing peliharaan adik Sungmin yang aku benci) kedua.”

“Tapi ini bagus dan aku suka!”

“Iya, itu akan sukses membuatmu menjadi pengganti petromax.”

Lalu aku merajuk. Demi Tuhan aku tak pernah merajuk dan tidak tahu cara merajuk. Merajuk hanya akan membuat keriputku bertambah dan aku tak mau mati dalam keadaan muda namun berwajah tua. Itu hal mengerikan sepanjang sejarah hidupku.

.

.

.

.

.

            Aku membanting pintu kamar dengan keras (sampai lantaiku bergetar kecil) dan membanting diri di atas ranjang. Aku sudah tidak peduli dengan Sungmin dan cermin ajaibnya yang tiap detik berkata ia yang paling tampan.

Hal itu sering terjadi. Tetapi terkadang dia tidak peka, sering tidak peka lebih mendominasi, tetapi dia romantis di saat memang harus benar-benar romantis. Hingga aku memutuskan bangun dan-

“Astaga! Apa yang terjadi?!”

Lalu aku mendengar bunyi duk duk duk keras sekali. Itu suara tumit Sungmin yang bergetar, cukup manis juga di saat dia mempunyai penyakit flu tulang yang terkadang kumat. Anak itu berdiri di depan pintu lalu menghampiriku. Wajahnya terlihat cemas sekali.

“Sop- Maksudku Sofie, ada apa denganmu? Apa kau tidak apa-apa?”

Aku mendengus lalu melempar arah pandangan. Semua celana dalamnya berserakan. Dia tampak terkejut lalu melirikku. “Kau mengobrak-abriknya Sofie? Ya Tuhan, kau marah padaku?” Wajahnya memerah. Antara menahan amarah dan kesal. Apa bedanya. Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.

YA! Kau menyalahkanku?!” Aku mengambil satu berwarna pink (aku tidak tahu, itu tertukar dengan punyaku atau tidak) dan melambaikannya di depan wajahnya dengan dua jari. “Hello Tuan Sungmin yang terhormat. Ini sudah seperti itu sejak aku melempar tubuhku di ranjang dan hei jangan menatapku seperti itu!”

Ia menghela napas. Lalu menarik celana dalamnya dari jari-jariku yang menjepit. “Baiklah Sofie. Kita bicarakan nanti.”

Dan selanjutnya kami terdiam. Aku masih marah dia menuduhku seperti itu dan sepertinya dia kesal padaku. Aku tahu dari caranya memanggilku. Jika ia memang benar dalam pengejaan kata untuk menyerukan namaku, itu artinya dia benar-benar marah padaku. Dan aku rasanya ingin menangis, sepanjang hari ia mengabaikanku.

***

            “Kau bicara seperti itu padanya?”

“Huum, apa aku salah?”

Aku membicarakan hal ini pada Samantha. Sahabat numero uno-ku tapi tidak mau berbagai kesedihan denganku. Terkadang pikiran anak ini benar-benar the best. Terlepas dari segala tingkah bodohnya yang membuatku malu berteman dengannya.

Ia mengunyah sandwich dengan membabi buta. Beberapa remahannya keluar dari mulutnya dan itu cukup membuatku membatalkan makanan super lezat yang ada didepanku. “Kau berteriak di depan suamimu?! Astaga itu hal yang paling impromtu sepanjang sejarah hidupmu yang kukenal. Ada apa dengan kalian?”

Aku memasang wajah memelas. Ia mengerti dan langsung menjatuhkan sandwich dengan dramatis. Siap mendengarkanku.

“Aku mengacaukan kencan kita mungkin. Atau karena insiden celana dalam itu. Aku tidak tahu Sammy.”

Alisnya meliuk. Sisi-sisi pemikirannya tampak jelas. Padahal sebelum-sebelumnya dengan ekspresi itu dia tampak tidak manusiawi. “Jadi tidak ada hal lain? Apa dia menyelipkan jari-jarinya di dalam baju tidurmu semalam? Atau mungkin dia marah karena kau menggigit lidahnya terlalu keras?”

“Tidak. Padahal biasanya dia akan –hei. Apa yang kau katakan?! Aish Samantha. Aku serius!” Wajahku panas. Hampir terbuka semua rahasiaku. Apa sih yang dipikirkan anak itu?!

Samantha tersenyum miring. Mirip kuda nil. “Oke oke dear. Maafkan aku. Jadi ceritakan apa yang membuatmu sedih seperti ini?”

Lalu aku bercerita sambil menyusut ingus. Aku menangis memakai sapu tangannya. Aku tidak peduli apa dia akan menyuruhku mencucinya atau tidak. Yang penting aku ingin mengatakan jika aku sedang sedih.

Ia menanggapi dan menimpali jawaban yang tak masuk akal, “Mungkin dia ingin melakukannya denganmu malam itu. Tapi kau pindah di kamar sebelah.”

“Samantha!” Aku berteriak. Menggebrak meja, ini tingkah dasar seorang gadis eh maksudku wanita psikopat seperti diriku. “Ini bukan tentang tidur meniduri dan seks. Sungmin tak akan memaksa jika aku tidak mau.”

“Makanya dia marah. Ah aku tidak tahu. Lebih baik kau bertanya. Masa dia marah hanya karena celana dalamnya kau lempar?” Tapi aku tidak melemparnya! Hah dia ini sungguh menyebalkan. Kesalahan pertama karena menceritakan masalah ini padanya. Aku mendapat pelajaran berharga jika tak setiap sahabat akan mengerti semua mengenai masalahmu. Dan untuk kali ini aku begitu menyesal kenapa harus dia yang berteman denganku?

***

            Hari ini aku mendapat pesan multimedia dari Spencer (si gay penyuka bra wanita) yang mengatakan jika Sungmin akan pulang larut. Aku tidak tahu apakah Sungmin sedang berkencan dengan Spencer atau ini hanya sebuah prolog untuk menjilat. Dia baik ketika ingin sesuatu. Minggu lalu dia kerumah kami hanya untuk mencuri bra kesayanganku. Ia mempunyai kelainan suka sekali mencium-cium seperti itu. Aku membiarkannya, tetapi Sungmin protes. Seharian flu tulangnya kumat.

Namun terlepas dari itu semua. Spencer itu sahabat baik kami yang selalu mengirimkan gambar menggelikan di line-nya. Kenapa aku jadi membicarakan orang itu?!

Proyeksi konyol tergambar di otakku dengan transparan. Berlatar orang-orang yang kulewati di trotoar jalan. Aku agak merinding melihat semua orang berubah menjadi Sungmin. Saling berciuman dan memuji cantik, cantik, cantik. Aku pasti sudah gila karena kehilangan bra kesayanganku!

Kubiarkan kakiku melangkah melewati beberapa toko di sepanjang jalan. Ada sebuah tas baru keluaran Givency. Aku terdiam awkward di depan toko tanpa menyadari jika wajahku sudah menempel di kaca dingin yang mirip akuarium di rumahku.

Jika saja Sungmin disini, pasti dia akan membelikan semua yang kumau. Tapi aku tetap pada pendirianku. Membiarkan pemuda itu untuk menjelaskan tentang apa-apa tingkahnya selama beberapa hari ini. Aku tak akan membiarkan sampai dekade terlewat.

Baiklah. Sofie, lupakan tas itu dan lanjutkan langkahmu. Hari ini dingin dan ingatkan dirimu mengganti kayu lapuk di perapian. Aku mengangkat celanaku sedikit meninggi lalu menarik napas dan mulai berjalan.

Kepingan bola mataku lelah memindai semua tempat yang kulewati. Namun aku tetap ingin melakukan hal itu kendati kerongkonganku terasa sesak karena udara dingin sepertinya melewati cekungan itu di saat terlihat seseorang yang begitu familiar. Bukan familiar lagi, tetapi sangat amat familiar.

Sungmin?

Aku tidak tahu yang kuucapkan ternyata tersampaikan di udara karena pemuda itu masih bergeming. Tertawa ceria bersama seorang gadis berambut api dan saling menautkan jemari. Gadis yang tidak kukenal bersama suamiku? SUAMIKU BERSELINGKUH?!

Memikirkan hal itu mataku sakit. Aku tidak tahu kenapa tetapi aku mulai merasakan ada yang mengalir. Aku menangis. Aku tidak cantik lagi dan ini pertama kalinya aku mengeluarkan tangisanku setelah aku lupa caranya menangis.

Seperti di drama. Aku berlari dan menggebrak meja lalu meninju hidung Sungmin atau mungkin menarik rambut apinya? Aku sedang berpikir dan akhirnya aku memilih tidak dalam pilihan tersebut. Aku berlari. Seperti pecundang dan pasti akan berakhir dengan mata panda.

Satu yang kutahu. Sungmin memang tidak mencintaiku lagi.

***

            Malam ini kelabu. Aku pisah ranjang. Tapi aku tidak mau bercerai dengannya. Aku tidak mau menjadi janda dalam waktu yang dekat. Aku mahasiswi dan miskin uang.

Sungmin belum pulang dan Spencer bilang dia masih bersamanya. Ini pertama kalinya Spencer berbohong. Pokoknya aku tidak akan mengizinkannya mengambil bra-ku lagi. Tidak. Akan. Pernah.

Pintu belum berderit dan itu tanda jika Sungmin mungkin akan meniduri gadis jalang. Aku seperti berakhir sebagai wanita dalam drama bersambung yang tak pernah tamat.

Hatiku rasanya seperti terbakar, ada gerigi tajam yang tersemat disana dan jantungku berdetak cepat, ini salah. Ini tidak semestinya dan pasti aku sedang sakit. Iya, tidak mungkin aku cemburu. Tapi, faktanya… aku cemburu! Wanita mana yang tidak sakit hati terbakar perih ketika menatap suaminya bercumbu dengan wanita lain?! Oke, ingatkan aku untuk menggaris bawahi kata bercumbu, mereka belum melakukan itu, atau mungkin akan, aku peduli, kenapa aku harus peduli?

Kakiku sakit dan ada jarum yang menusuk disana. Ku pikir ini hanya ilusi, tapi kakiku sakit. Ugh ada apa denganku hari ini? Kenapa sial sekali.

Astaga Sophie, kakimu berdarah!”

Itu suara Sungmin? Itu suara Sungmin dan aku tidak sadar akan kehadirannya? Aku ingin marah, mataku memanas, hatiku geram dan jantungku berdetak duk duk duk dengan cepat. Tetapi sayangnya aku terlalu lelah untuk berdiri, apalagi menopang kakiku yang berdarah. Ku biarkan tangannya bermain-main di kakiku, entah apa yang di lakukannya dengan berbagai macam peralatan itu, dan aku tidak peduli. Mencoba tidak peduli.

Bayangan wanita jalang itu memenuhi otakku, otak kanan dan kiri sekaligus. Dan kesimpulannya adalah otakku sudah rusak, aku ingin menangis dan berteriak padanya. Tapi aku tidak tega, Sungmin itu baik atau aku saja yang baik. Tapi dia memanggilku Sophie. Itu berarti dia sudah lupa akan kejadian beberapa hari yang lalu. Kini entah kenapa menguap sudah semua kata-kata manis yang ingin ku ucapkan. Sirna hanya sebuah sikap tidak tegasnya yang membuat diriku terlanjur jatuh dalam ketidakpercayaannya. Dan aku memutuskan untuk diam. Tak sanggup mengutarakan amarahku padanya.

Aku menepis tangannya dengan malas saat dia menyentuh pipiku. Mati-matian aku menahan diri untuk tidak memeluknya dan mencium bibir tipisnya yang cantik itu. Aku hanya ingin mencoba peruntungan dengan sikapku.

“So…fie? Kau kenapa?”

Aku menggeleng lalu mengangkat tanganku, aku lelah dan aku ingin istirahat. Beberapa detik berlalu kami terdiam dan akhirnya aku memutuskan untuk merebahkan diri dan mengusirnya dengan cara halus. Aku tidak mengerti sejak kapan aku menangis. Padahal selama hidupku, aku hanya menangis jika drama kesukaanku tamat.

Napasku sesak dan terengah-engah, ada himpitan tak kasat mata yang menyumbat hidungku dan saluran pernapasanku, aku juga tidak mengerti sejak kapan mulai menggunakan kata-kata seperti ini, padahal dulu nilai meneliti organ manusia jadi-jadian tak pernah mendapat nilai bagus.

Ku biarkan angin dingin menusuk-nusuk kakiku, sakit dan dingin. Perpaduan yang sempurna. Aku tidak tahu apakah Sungmin masih ada disini atau tidak. Suaranya tak terdengar tapi langkahnya juga tidak bertapak.

Namun saat aku ingin membalik arah, tiba-tiba punggungku berubah hangat, nyaman dan ini menyenangkan. Aku tidak berani berkata-kata lagi dan tidak berani hanya memperkira-kira jika ini semata hanya mimpi bualan yang mengusik tidurku. Tetapi itu semua luruh ketika aku merasakan kecupan hangatnya di pangkal leherku.

Ia mengerang, aku tidak tahu kenapa, tapi ada ribuan perkataan tak masuk akal yang ternanam di otakku saat telapak tangannya mulai bergerak membelai lembut pipiku. Jangan membuatku gila Lee Sungmin!

“Maaf, maafkan aku sayang. Aku sudah berdosa padamu,”

Itu benar.

“Beberapa hari ini aku menyadari kesalahanku, aku memang terlalu pengecut untuk berkata-kata padamu,”

Sudah ku bilang kau itu memang pengecut.

“Dan tadi,” Sungmin berhenti, dia menggeser tubuhnya dan membalikkan tubuhku, menatap mataku lamat-lamat lalu berkata, “aku melihatmu. Maafkan aku, dia bukan siapa-siapa. Aku berusaha mengejarmu tetapi kau sudah meninggalkanku tanpa berbalik lagi. Aku sakit.”

Berusaha menahan tangis. Mataku kembali perih. Dasar bodoh. Idiot.

“Sejujurnya dari dulu aku ingin mengatakan padamu jika sesempurna apapun dirimu dan secelah dosa dariku. Aku ingin kau mengisi dan melengkapinya dengan segala kesempurnaanmu. Termasuk saat ini, mungkin selama ini aku adalah manusia yang terpilih untuk menyakitimu, tapi ingatkan padaku untuk tetap menjagamu,

memelukmu kala tertidur dan menyenandungkan nada di kala sedih. Serta menjadi selimutmu di saat kau mulai merasakan tulangmu yang terengkuh salju atau jadikanlah aku sebagai separuh hatimu yang melengkapi. Tapi dengan semua ini, aku sadar aku salah, ternyata kau sudah menjadi malaikat sejak lahir dan aku bagaikan iblis jahat. Aku memang jahat dan kau pantas menghukumku.”

Aku tidak tahan lagi. Akhirnya aku memeluknya erat. Aku memang jahat, tapi aku tak lebih dari seorang wanita yang butuh perlindungan dari iblis seperti Sungmin. Dan aku sadar selama ini akulah pihak yang bersalah karena tak pernah tahu jika ia sudah mengorbankan segalanya untukku. Maafkan aku Sungmin.

“Maaf,” Suaraku sudah serak seperti bebek. Jelek sekali, tapi itu adalah sesuatu yang bagus di saat aku melihat Sungmin tersenyum padaku. “Aku juga salah, selama ini aku terlalu egois dan tak tahu apa-apa. Maaf.”

Ia mengecup ujung bibirku dengan lembut, persis pria sejati. “Ini kesalahanku dan aku sudah sehari ini berbohong banyak padamu. Kau tahu, rasanya sakit melihat kau salah paham padaku seperti tadi. Dia sepupuku, apa kau tak mengenalnya?”

Tidak, memang sejak kapan sepupu sejalang itu?! Dasar bodoh! Pada dasarnya Sungmin itu memang brengsek.

Entah kenapa rasanya aku ingin menutup mulutnya rapat-rapat sebelum acara sesi sedih-sedihan ini selesai. Dia akan kembali menjadi Sungmin menyebalkan dan minim pengejaan kata lalu menjadi pribadi sok cantiknya itu lagi.

Jadi aku memutuskan untuk berbalik lalu menutup telingaku rapat-rapat sebelum suara itu samar-samar kembali mengoceh.

“YA SOPHIE! KAU BELUM MENCIUMKU!”

The End

Doeng, doeng…

Hei hei whats up dude’s! Aku balik lagi dengan epep gaje bingit. Itu karena akhir-akhir ini aku udah kepengaruh Mrs. Lee si Yuli yang demen banget mendemontrasikan si bang unyu satu ini. Tapi menurutku, di balik ke imutannya, dia emang punya sesuatu yang di sembunyikan(?)

Matanya berkilat ganteng(?) dan aku waktu itu juga jerit-jerit di depan hengpong pas liat kakinya di gip T.T

Tapi ternyata itu gapapa, kata Ibunya itu cuma biar kelihatan parah. Lawak ini ibunya bang Umin -_-

Dan sebenernya aku mau pos ini pas Kyu’s day, tapi gajadi karena sesuatu yang misteri(?) sedang mendatangiku. Entah kenapa akhir-akhir ini sering kumat-kumatan ngeliat sesuatu yang aneh, jadi kadang aku itu gaberani keluar kamar mandi malem-malem /kokcurhat.

Oke, udah dulu ya, entar malah jadi chapter(?)

Sekali lagi thanks readers kece, cipokin atu-atu nih:3

LOVE!

Voldemort Nose’s

Iklan

9 responses to “My Beautiful Boy

  1. Waktu mampir ke SJFF, gak sengaja nemu link yang akhirnya membawa ke sini. Dan karena penasaran, aku baca deh, hehe. Oh ya, aku Zola 98lines. Salam kenal ya kak ^^ *tadi sempet intip intronya sedikit*

    Aku speechless, serius! Ini mulai dari bahasanya, diksi, sampai ke inti cerita–pokoknya semuanya–sukses bikin aku ketagihan :’) aduh, mau dong bisa nulis kayak yang di atas… gaya tulisannya khas dan aku suka banget sama orang yang bisa nulis model begini! Narasinya gak ngebosenin dan cerdas dalam penempatan dialog supaya gak penuh atau seperti beberapa orang, berakhir dengan ‘terlalu banyak’. Ini pas dan detail. Aku suka klimaks dan anti-klimaksnya. Pokoknya, sukalah dengan fic ini! Sederhana tapi diksinya itu lho :3

    Oke deh, sukses terus ya kak! Sebenernya aku bukan penggemar Sungmin, tapi berkat ‘tulisan’ kakak yang super ini, aku malah tertarik buat merhatiin Sungmin lebih dekat *lho* hahaha, semangat! Ada proyek buat novel? 😀

  2. Omo Zola Zolaaaaaa /mendadakkenal/mendadakpangilring
    Aku kenal kamuuu tau, mana sih yang gak kenal dirimu *tsah. Aku adalah penggemar cappucino-mu anyways. Gila epepnya keren banget, always nunggu di ffindo. Tapi waktu itu pas komen belum punya id, jadi masih pake email jadul /curhatgapenting -_-

    Heee? Serius? Tapi ini menurutku masih biasa aja, soalnya aku gak pandai buat yang kebanyakan konflik kayak epepmu T.T

    Yeeeeeeee aku bisa ngajak orang wkwk /banggabanget
    Novel? Yah sulit pasti, belum sampai tahap itu, tapi pingin sih wkwk. Betewe, saranin Cappucino di novelin tuh pasti sukses.

    Thanks Zolaaa 😀
    Semangat terus nulisnya yawn^^

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s