Thir13een Parfume Volume 9

Percaya atau tidak.

Setiap benda itu mempunyai sesuatu yang bersemayam.

13 Parfum pembawa keajaiban.

Membawamu ke tempat yang tak kau duga.

Tetapi jika kau melanggar pantangan, ada konsekuensi tersendiri. 

thir13teen-parfume-chochangevilkyu

.

.

            Sudah dua hari Jihyun absen dari pekerjaannya. Hm, jika di bilang absen juga tidak, di bilang membolos, belum pasti. Jadi, dia hanya bersantai-santai selama dua hari di apartemennya.

Pancake telah selesai di buat, Jihyun tersenyum sumringah mendapati hasil pancake-nya. ”Fuwaaah, lelah sekali.” katanya. Sambil menghembus-hembuskan napas.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Romance, Fantasy

Heechul, Park Jihyun

PG-15

Art Chevelleanne

Inspired by @heenimk “Creepy K12S”

.

.

.

            Baru pancake itu akan masuk ke dalam mulutnya, pintu apartemennya di buka secara paksa. Seseorang di sana baru saja memasuki area dapur Jihyun dengan wajah cemas.

”Eh, Jihyun. Kenapa mulutku terbuka seperti itu?” tanya orang itu polos. Sementara Jihyun hanya mengumpat dalam hati. Ia meletakkan pancake-nya dan melambaikan tangan. Menyuruh orang itu agar mendekat.

”Ada apa Ha-jin Eonnie?” tanya Jihyun. Ha-jin, bukannya menjawab malah menatap pancake itu dengan wajah yang berbinar-binar. Ia memasang tampang memelas terbaiknya pada Jihyun. Jihyun tahu sekali arti tatapan tersebut. Ia mengangguk datar lalu kembali menatap Ha-jin dengan wajah bertanya.

Ha-jin mengambil beberapa potong, ia makan dengan tergesa-gesa. ”Cepat mandi. Kita akan ke lokasi sekarang.”

Jihyun mengerutkan keningnya sembari meneguk susu dari wadahnya, kardus. Ia melepas tautan mulutnya dengan kotak susu saat tiba-tiba saja dering ponselnya menggema.

Ia menyambar ponselnya dan membaca pesan tersebut.

Hei model amatiran!! Lekas masuk!! Kau kira kau ini siapa hah?!

Received : Lovely Heechul

Hah!!” Jika saja ia masih meneguk susu, sudah di pastikan ia akan tersedak. Jihyun bingung dengan nama pengirim ini. Selain karena faktor seseorang itu adalah Kim Heechul, ia juga bingung kenapa nama kontak Heechul di sini adalah Lovely Heechul!? Walaupun Jihyun itu adalah seorang ELF, tapi ia tak menyangka jika kontak itu akan tertulis hal yang menurutnya menjijikkan tersebut.

Ha-jin yang penasaran dengan perubahan raut wajah Jihyun itu, ikut-ikutan melongok, mengintip ponsel Jihyun. Ia membaca pesan tersebut lalu tertawa keras, sampai sebagian pancake menyembur dari hidungnya.

”Lihat ’kan! Pangeranmu sudah mengirim pesan. Oh my Lovely Heechul.” kata Ha-jin menggoda. Ia masih saja tertawa-tawa keras. Jihyun merutuk, kenapa ia bisa mendapatkan Manager menyebalkan seperti ini.

”Sudahlah. Cepat siap-siap sana. Aku akan menunggumu lady young. Quickly!” titah Ha-jin. Ia mendorong-dorong punggung Jihyun ke dalam kamar mandi lalu menahan pintunya agar Jihyun tak kabur dari sana.

”Cepat atau aku akan menyuruh Heechul-mu itu kesini.”

Di dalam kamar mandi, Jihyun hanya bisa menghela nafas berlebihan. ”Huh dasar!”

***

            ”Oke! Istirahat lima belas menit dan kita akan ke take berikutnya.”

Suasana lokasi pemotretan sudah ramai, di sana, seorang model baru saja selesai mengambil gambar pada tahap pertama. Beberapa kru dan staff tengah berbincang-bincang, beberapa ada yang duduk-duduk sambil makan.

”Oh Jihyun-ah. Kau sudah datang.”

Jihyun yang sedang mengamati beberapa orang yang lalu lalang itu lalu beralih menatap pemuda yang sepertinya sebaya dengannya. ”Ah iya, eung,” Jihyun kalap. Ia tak tahu nama orang tersebut. Namun detik selanjutnya suara seseorang memanggil. Sepertinya itu nama pemuda di depan Jihyun.

”Jino-ssi. Ini makanan untukmu.” Seorang gadis baru saja mengulurkan sepotong roti dan segelas kopi pada Jino. Ia menoleh pada Jihyun sebentar lalu tersenyum hangat.

Jihyun masih saja mengamati punggung gadis cantik yang telah beranjak itu. Ia mempunyai postur tubuh yang tinggi semampai, wajah oriental dan punya senyum yang manis.

”Hoi Jihyunnie.” seru Jino. Ia menggoyangkan-goyangkan roti di depan wajah Jihyun. Gadis itu mengangkat alis lalu tersenyum canggung.

Jino menarik lengan Jihyun lalu mengajak gadis itu duduk di salah satu bangku kayu yang panjang di taman. Set kali ini mengambil tema tentang pemandangan.

”Kau tahu gadis tadi?” tanya Jino sambil menggigit rotinya. Jihyun menggeleng tak mengerti. ”Ia model baru. Saat kau tak masuk dua hari yang lalu. Ia baru saja datang.” jelasnya.

Jihyun hanya menggumam dan kembali mengamati keadaan sekitar. Kali ini pandangannya jatuh pada seseorang yang berada di dekat pohon besar di sudut Barat. Orang itu memasang wajah ketus. Jihyun tahu itu siapa. Kim Heechul.

”Eh, parfum-mu berubah ya Hyun?”

“Eh?“ Jihyun beralih pada Jino. Ia baru saja sadar jika parfum yang ia kenakan kali ini baunya sangat harum. Pantas saja Jino menanyakannya. Shalini Parfum’s Shalini dengan aroma unik dan menggoda. Wangi kayu cendana. Untunglah parfum ajaib itu macamnya sangat unik. Membuat Jihyun kembali sadar jika ia sangat beruntung.

“Hm, iya. Kau peka sekali ternyata ya. Kenapa? Apakah aromanya menggoda?” canda Jihyun. Jino terlihat tersentak, bahkan ia terbatuk-batuk tersedak potongan rotinya. Buru-buru Jihyun membuka gelas kopi yang berada di samping Jino dan membantu pemuda itu meminumkannya.

Saat Jino sudah kembali bernapas lega, Jihyun menggelengkan kepala heran. Orang itu seperti anak-anak saja. Makan-pun bisa tersedak.

”Kau ini, jika makan itu pelan-pelan Jino-ya.” ujar Jihyun sambil mengelap sudut bibir Jino yang masih tertinggal noda kopi. Ia tersenyum setelah selesai membersihkan sisa kopi dari mulut Jino. Yang ia tak sadari adalah, kenapa Jihyun tidak tahu jika saat itu wajah Jino sudah merah ranum tanda malu?

Seseorang baru saja berdehem. Ia mengganggu acara berduaan duo J (Jino & Jihyun).

Heechul datang dengan wajah kesalnya. Ia menarik lengan Jihyun lalu menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya.

”Hei Jino. Kau sudah di panggil. Kau harus take gambar selanjutnya.” kata Heechul. Pria itu berkacak pinggang tidak suka. Jino manyun-manyun lalu pergi tanpa berkata apapun lagi.

“Dan kau,” Heechul berbalik, ia menatap Jihyun dengan wajah berapi-api menahan amarah. “kau ini dari mana saja hah? Sudah dua hari tidak masuk, sekarang malah berduaan dengan anak kecil itu. Kerja yang benar.” ketus Heechul lalu melenggang pergi menuju kerumunan kru.

Jihyun berdecak. “Cih, apa-apaan itu. Dasar orang tua. Pakai acara bilang Jino itu anak kecil lagi.”

***

            “Yak Heechul. Sekarang giliranmu.”

Fotografer itu berteriak pada Heechul. Sebenarnya Heechul sangat benci pada Jang Ahjussi. Ia selalu seperti itu; berteriak pada para model.

Beberapa staff membantu merapikan pakaian Heechul. Ada yang menebalkan make-up Heechul, menyiapkan alumunium untuk pengatur cahaya dan ada yang membersihkan keringat dari dahi Heechul.

“Kali ini coba kau menjadi seorang badboy. Em,” Jang Ahjussi mengelus-elus dagunya berpikir, lalu kembali berkata, “dan angkat kepalamu angkuh. Sedikit menyeringai itu keren.” imbuhnya seraya mengotak-atik kameranya.

Jihyun yang berada dalam kerumunan kru dan staff itu mengerucutkan bibir. “Tak perlu di suruh-pun, image seperti itu memang cocok dengan orang seperti dia.” cibirnya pelan.

“Oh benarkah? Aku rasa dia memang cocok.” ujar seseorang menanggapi. Ia berdiri tak jauh dari Jihyun. Mungkin ia mendengar gumaman gadis itu. Jihyun menoleh ke kanan. Sedikit malu atas tindakannya tadi.

Gadis itu tersenyum pada Jihyun. Jihyun tahu; ia adalah gadis yang mengantar makanan pada Jino.

”Oh ya, perkenalkan. Kim Nana. Aku model baru disini. Em, apa kau Park Jihyun Sunbae?” Gadis itu mengulurkan tangannya dan di sambut uluran tangan Jihyun. Ia tersenyum sambil mengangguk.

”Iya, bagaimana kau bisa tahu? Em cukup panggil aku Jihyun saja. Aku juga tak begitu suka di panggil Sunbae. Kesannya terlihat tua.” Jihyun terkekeh bersama Nana. Sepertinya mereka cocok, mungkin sebentar lagi akan menjadi partner yang hebat.

Nana tersenyum. ”Siapa yang tidak mengenalmu Jihyun-ssi? Semua orang mengenalmu. Kau juga salah satu idolaku.”

Jihyun membulatkan mata kaget. ”B-benarkah? Kau menyukaiku?”

Gadis itu terkekeh melihat ekspresi Jihyun. ”Tentu saja. Aku sering melihatmu di televisi. Kau sangat cantik.”

Pipi Jihyun terasa panas, ia tak menyangka, ada seseorang yang begitu mengidolakannya. Walaupun ia adalah primadona sekolah. Tak sekalipun Jihyun merasa begitu, ia selalu merendahkan diri. Padahal ia sangat cantik.

”Terimakasih Nana-ya. Semoga kita bisa menjadi sahabat baik disini.”

Nana mencelos. Baru kali ini ada seseorang yang menganggapnya sahabat. Selama ini ia hanya di butuhkan jika ada perlu. Semua temannya tak pernah tulus menjadi temannya. Sebagian besar dari mereka selalu mengidolakan hartanya saja.

”T-terimakasih Jihyun-ah. Kau sangat baik.” ujar Nana. Ia tersenyum manis sambil menunduk dalam.

Mereka berdua tertawa bersama sambil mengamati keadaan sekitar. Heechul sudah berpose di depan kamera. Gayanya sangat keren, walau itu adalah berupa unsur badboy. Malah menurut semua orang, Heechul sangat cocok dengan kesan tersebut.

Tanpa sadar, Jihyun menatap Heechul dengan pandangan kagum. Ia tak menyangka jika salah satu idolanya terlihat tampan dari jarak sedekat ini.

”Sepertinya kau menyukainya ya.” goda Nana. Ia mencolek-coleh bahu Jihyun. Jihyun gelagapan sambil mengibas-ngibaskan tangannya, sekarang wajahnya terasa panas. Tanda, pipinya sudah mengeluarkan warna merona.

Nana bukannya diam malah tambah menggoda Jihyun. Ia bahkan nyaris terbahak, sampai-sampai hampir semua kru melihatnya bingung.

”Jangan tertawa! Aku rasa kau juga menyukai Jino ’kan!” Jihyun beralih membalas dendam. Dan benar saja, tawa Nana langsung berhenti, ia menunduk malu.

”Sebegitu terlihatkah?” Suaranya terdengar pelan, malah yang hampir memenuhi keadaan adalah suara jepretan blitz dan teriakan Jang Ahjussi.

Jihyun tertawa. ”Tentu saja. Bahkan wajahmu terlihat merah sekarang. Wah, sepertinya menarik.” goda Jihyun lagi. Sedangkan Nana hanya terdiam. Tak berusaha mengelak. Toh, memang semuanya benar.

Cinta memang selalu datang mendadak. Tak ada yang bisa menebak arah datangnya cinta tersebut. Bahkan hanya dalam waktu secepat ini, sudah banyak orang yang mengalami cinta pandangan pertama. Seperti Nana.

Dan ada juga yang mengalami cinta tiada pernah pupus, seperti orang itu. Yang hanya bisa melihat seseorang dari kejauhan, pria itu tersenyum samar saat tak sengaja matanya menatap seorang gadis yang tertawa-tawa di sana.

***

            Jihyun gugup. Ia meremas-remas telapak tangannya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Walaupun dalam dimensi ini ia adalah seorang model. Tetapi dalam kehidupan nyata, ia paling benci dengan keramaian yang membuatnya pusing, apalagi blitz kamera. Lalu gaya, Jihyun itu paling susah jika di suruh bergaya di depan kamera.

‘Bagaimana ini, aku gugup.’ batinnya. Ia menatap liar pada sekelilingnya. Agak susah karena saat ini ada tiga orang yang mengerubunginya untuk membenahi penampilan dirinya.

“Jihyun-ah jangan bergerak terus.”

”Jangan menoleh dulu Jihyun-ah.”

”Astaga, jika bergerak terus seperti ini, make-up di wajahmu tak akan rata.”

Begitulah teguran mereka bertiga, di saat yang bersamaan pula.

Selesai membenahi penampilan Jihyun. Gadis itu berjalan di dekat tempat lokasi, kira-kira lima menit lagi gilirannya. Sekarang baru giliran Jino. Ia terlihat tampan dengan baju musim semi-nya.

Walaupun Jihyun sudah melihat model lain, ia tetap saja tak bisa berkonsentrasi, kegugupan terlalu mendominasi. Bahkan sekarang, keringatnya sudah berekresi kembali.

”Cih. Kau gugup ya?” Seseorang baru saja menepuk bahunya. Heechul menyeringai sombong di samping Jihyun. Gadis itu hanya mendongak pelan, tanpa berniat membalas perkatannya.

Heechul mengangkat alisnya. Bingung dengan sikap Jihyun. Biasanya gadis itu dalam keadaan terdesak-pun akan membalas cibirannya. Tapi kenapa sekarang tidak? Apa dia benar-benar gugup?

Pria itu berdehem pelan. Membuat Jihyun menoleh bingung ke arahnya. ”Mau dengar satu tips?”

Jihyun menjilat bibir atasnya, merasakan bibirnya yang terlalu lembab membuatnya semakin gugup. ”Apa Heechul-ah?”

Ia mencondongkan kepalanya ke arah Jihyun, berbisik pada telinga kanan gadis itu.

”Eh? Apa menurutmu akan berhasil?” tanya Jihyun setelah proses bisik-bisikan mereka selesai. Heechul mengangguk mantap lalu tersenyum tipis. Tapi sejurus kemudian ia memasang wajah ketus kembali.

“Jika kau benar-benar sukses nanti. Aku akan mentraktirmu! Setuju?”

Jihyun membulatkan matanya, tampak berbinar. Ia mengangguk cepat lalu tersenyum manis. Fakta yang membuat Heechul sedikit terkejut.

Suara Jang Ahjussi terdengar, ia baru saja meneriakki Jihyun agar segera bersiap-siap. Gadis itu menarik napas panjang-panjang lalu menghembuskannya. Sekali lagi, ia mencoba meyakinkan kemampuannya. Ia tak boleh mengecewakan Jihyun dimensi sekarang. Ia tak mau menjatuhkan harga diri di depan orang banyak. Dan Jihyun harus berusaha keras.

Sebelum ia melangkah, gadis itu menatap Heechul dengan pandangan hangat. Lalu mengangkat telapak tangan kanannya.

”Apa?” tanya Heechul bingung. Jihyun mempraktekkan dengan tangan kirinya. Bermaksud memberi contoh. Heechul terkekeh tak percaya. Namun seketika berhenti saat Jihyun menarik tangannya dan melakukan high five pada telapaknya.

”Kim Heechul! Doakan aku ya!” seru Jihyun antusias sambil berlari ke tempat pemotretan. Tanpa sadar, Heechul tersenyum manis. Senyum yang ia jarang tunjukkan pada siapapun. Termasuk para fans yang bisa ia bohongi dengan senyum palsu.

”Mungkin ini yang terindah.”

***

            Baru saja pengambilan sesi pertama, Jang Ahjussi sudah berteriak-teriak marah tidak karuan. Ia bilang hari ini Jihyun kurang konsentrasi-lah, kaku, tak bisa bergaya, dan sebagainya. Sampai-sampai ia pusing setengah mati.

”Astaga Miss Park. Kau hari ini kenapa? Apa kau masih sakit?” tanya seorang staff. Wajahnya terlihat khawatir. Jihyun menggeleng lalu memaksa tersenyum. Saat ini ia sedang beristirahat, Jang Ahjussi menyuruhnya menyesuaikan diri.

”Em, Ha-jin Eonni dimana, Eon?” tanya Jihyun, berusaha ramah pada seseorang yang masih saja menatapnya khawatir.

Wanita itu terlihat berpikir sebentar, sebelum akhirnya berkata, ”Dia sedang keluar bersama Jino-ssi dan Nana-ssi. Sepertinya membeli sesuatu.” jawabnya.

Jihyun mengangguk mengerti. Lalu wanita itu membungkuk untuk berpamitan pada Jihyun. Ia kembali bersama staff yang lainnya.

”Huh payah sekali kau!”

Heechul datang dan menjatuhkan diri ke kursi lipat di samping Jihyun. Ia mengibas-ngibaskan tangannya. Cuaca sudah agak panas, matahari nyaris berada di atas kepala. Dan di bawah tenda, terasa semakin pengap.

Jihyun mendesah lelah. ”Memang. Bagaimana ini? Aku benar-benar payah.” ujar Jihyun sambil terkekeh aneh. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku. Menutup mata sambil berpikir.

Heechul menoleh, entah kenapa ia juga berpikir, hari ini Jihyun cukup aneh. Selain karena tidak membalas ucapan ketusnya, ia juga terlihat mati kutu sekali di depan kamera. Seperti bukan Jihyun saja.

”Hei, mau ku ceritakan sesuatu?” usul Heechul sekaligus bertanya. Jihyun menggumam tanpa membuka mata. Pria itu juga menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia mendesah sambil menatap langit-langit kerucutan tenda.

”Dulu sekali. Waktu aku pertama menjadi model. Aku juga gugup. Bahkan aku lebih payah darimu. Aku sering sekali di bentak, di suruh ini dan itu, make-up yang terasa sangat mengganggu, membuat pekerjaan baruku itu semakin tak nyaman. Siapa lagi yang bukan berteriak selain orang tua itu.” kata Heechul sambil terkekeh dan menunjuk Jang Ahjussi yang sedang memarahi orang-orang. Jihyun juga ikut terkekeh, masih enggan membuka mata.

”Lalu, seseorang yang lebih muda berkata padaku seperti ini. ’Hei anak baru. Kau gugup ya? Astaga, tak perlu begitu. Kau itu tampan dan manis. Kau itu sudah sempurna dan wajahmu juga natural. Tapi kenapa kau gugup? Hm, aku akan memberimu tips agar tidak gugup. Tutuplah matamu sebentar, dan bayangkan seseorang yang kau sukai berada di sekitarmu, anggaplah semua staff dan kru itu batu atau benda tak bergerak. Sudah pasti, kau akan menemukan chemistry’mu.’ Dan ia berkata seperti itu dengan nada sok bijaksana. Padahal ia lebih muda dariku.”

Jihyun membuka mata, ia menoleh dan duduk tegap, mengamati Heechul yang masih saja memasang wajah ketus, namun berbeda dengan nada suaranya yang melembut.

”Dan kau tahu? Itu pertama kalinya aku menyukai seseorang. Mungkin pada pandangan pertama saat ia berbicara seperti itu padaku. Ia manis dan terkenal. Namun, bukan itu yang kulihat. Tetapi, cara berbicaranya yang begitu dewasa, suaranya yang lembut dan kadang tegas,” Heechul mendongak sebentar, lalu tersenyum. Membuat Jihyun harus menunduk. Ia tersihir akan senyuman manis Heechul yang langka. “dan itulah pertama kalinya aku merasakan perasaan ini pada seorang gadis yang sekarang berada di sampingku. Park Jihyun.”

“Hah?!” Jihyun kaget, ia terbatuk-batuk lalu memegangi tenggorokannya yang serasa kering. Heechul yang melihat Jihyun bagai kehilangan oksigen itu lantas cepat-cepat mengambil air mineral dan menyodorkannya pada Jihyun.

Setelah meminumnya, Jihyun mendesah lega. Ia berpikir, jadi, yang berbicara seperti itu tadi semuanya adalah aku? Kenapa aku begitu dewasa berbicara seperti itu? Dan lagi, Heechul menyukaiku?! KIM HEECHUL?!

Tanpa sadar, pipi Jihyun memanas, ia menunduk sambil memainkan gelang yang berada di tangannya. Ia malu setengah mati jika harus menatap Heechul.

“Hei, kenapa kau seperti itu? Tak biasanya kau bertingkah seperti gadis remaja yang baru saja jatuh cinta. Biasanya kau seperti preman.” cibir Heechul. Ia tertawa sambil menggerak-gerakkan tangannya menunjuk heboh pada sikap Jihyun.

Gadis itu mengangkat kepalanya lalu melempar pandangan maut pada Heechul. ”Tapi seorang Kim Heechul menyukai Park Jihyun. Hm, apa itu tidak aneh?” Kini giliran Jihyun yang balas dendam. Gadis itu menatap Heechul menggoda, sesekali ia bernyanyi-nyanyi lirik sumbang.

”T-tidak!” Heechul berkilah. ”Menyukai dan mencintai itu kata yang berbeda. Aku hanya menyukaimu, bukan mencintaimu.” ujarnya bersikeras. Walaupun tetap saja wajahnya sudah semerah tomat busuk.

Jihyun manyun. ”Baiklah, baiklah. Anggap aku percaya Kim Heechul,” Jihyun berdiri menunggu, Heechul mendongak, masih kentara pipi merahnya. Membuat Jihyun mati-matian menahan tawa.

”Sekarang aku akan mencoba perkataanmu yang berasal dari nasehatku,” katanya. Ia hendak berjalan, namun urung saat sesuatu meluncur bebas dalam otaknya. ”Oh ya Heechul-ah. Aku juga menyukaimu kok. Kau tenang saja.” ujarnya. Lalu berlari menuju ke arah Jang Ahjussi yang telah menunggu.

Ekspresi Heechul yang datar dan ketus seketika berubah menjadi salah tingkah. Ia memegangi dadanya. Takut-takut jika semua ini hanya mimpi semata.

”Kim Heechul. Kenapa kau?!”

***

            Acara pemotretan hari ini berjalan lancar, setelah sesi terakhir yang di tutup oleh Jihyun yang berarti pemotretan selesai, semua staff dan kru merayakannya dengan makan-makan di restoran.

Berkali-kali juga Jihyun mendapat standing applause oleh Jang Ahjussi. Tidak biasanya ia seperti itu. Namun, mungkin kali ini berbeda. Setelah istirahat tadi, Jihyun benar-benar totally membawakan image gadis bahagia.

Wajahnya yang natural dan cantik, membaur bersama jatuhan daun maple di tangannya. Banyak yang bilang, baru kali ini aura seorang Park Jihyun sangat alami. Seperti tak mempunyai beban. Cocok dengan sesi terakhir tadi.

”Woah. Ayo bersulang. Selamat kepada para model, staff dan kru.” seru Jang Ahjussi. Ia mengangkat gelas cokctail dengan antusias. Mungkin ini juga berkah bagi mereka, karena saat ini, untuk pertama kalinya, Jang Ahjussi membelikan anggur terbaik yang ada di restoran mewah ini.

Mereka tertawa bersama, ada yang saling membicarakan tentang liburan yang akan datang. Katanya, Jang Ahjussi akan mengajak mereka liburan ke luar negeri. Entah kemana. Baru rencana, semoga jadi.

Jino tersenyum saat mendapati Jihyun yang sedang menatapnya sambil tersenyum ramah juga. Jino berencana akan duduk di samping kursi Jihyun yang kosong, namun tidak jadi setelah melihat Heechul yang baru saja duduk disana.

Ia mencibir dalam hati. Heechul itu seperti permen karet yang selalu menempel pada Jihyun kemanapun ia berada. Walaupun Jino itu sebenarnya tahu jika mereka berdua memang dekat.

Jihyun menoleh saat melihat Heechul yang berwajah ketus itu duduk di sampingnya. ”Kenapa kau duduk di sini?”

”Oh. Tidak boleh?” Kini giliran Heechul yang bertanya. Ia bersungut-sungut sembari mengambil serbet di atas meja dan meletakkan di atas pahanya.

”Ck. Menyebalkan.” sahut Jihyun. Gadis itu kembali menatap sekitarnya dan tertawa-tawa saat beberapa staff melakukan lelucon aneh.

Suasana sangat berisik, bahkan walaupun restoran ini sudah di book oleh Jang Ahjussi. Tetap saja, kecerewetan semua orang di sini mengalahkan dentuman musik Jazz yang di putar.

Heechul berbincang-bincang dengan Manager, staff dan kru. Suatu pembicaraan tentang bisnis yang Jihyun tak mengerti sedikitpun, gadis itu hanya melihat mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius.

“Heechul, Heechul-ah.“ Jihyun menarik-narik bawah kemeja biru Heechul. Pria itu menoleh dan langsung menghadiahkan wajah menyeramkan pada Jihyun.

Gadis itu mendelik takut, namun cepat-cepat ia memasang wajah tenang. “Kau bohong. Katanya akan mentraktirku jika aku bisa sukses hari ini?“ tagih Jihyun. Ia melipat lengannya lalu menengok kanan dan kiri sebentar. Memastikan semua orang sedang sibuk dengan tawanya.

”Eh, ini sudah makan ’kan. Lalu apa kau ingin ku traktir lagi?” Heechul berbicara santai. Seolah tak peduli dengan janji yang padahal ia buat sendiri.

Jihyun manyun-manyun tidak suka. Ia benci dengan pembohong. Ia mengambil pisau dengan kesal dan memotong-motong daging dengan rusuh. Tidak peduli jika manner-nya di bawah nol.

Baru saja ia akan memakan dagingnya, seseorang menggamit lengannya dan menariknya untuk berdiri.

Heechul tersenyum misterius pada semua orang, lalu berkata, ”Maaf, aku dan Jihyun pamit duluan. Kami harus pergi.” katanya. Ia membungkukkan badannya lalu menarik gadis itu untuk keluar dari ruangan serba VVIP itu.

Setelah mereka meninggalkan area meja makan. Semua orang rusuh menggosip. Kebanyakan dari mereka bertanya seputar hal apa yang terjadi dengan mereka berdua.

Dan Ha-jin yang tersenyum paling senang. Suaranya bagai senandung untuk mereka semua. Namun berbeda dengan pemuda yang masih belum percaya saat Ha-jin bicara.

”Mereka sepasang kekasih.”

***

            ”Yak, yak Kim Heechul. Lepaskan aku. Apa yang ingin kau lakukan padaku huh?!”

Jihyun menarik-narik lengannya, namun Heechul tetap pada pendiriannya. Menggamit paksa tangan gadis itu.

Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Banyak pengunjung yang menatap mereka berdua dengan pandangan kasihan. Jatuh kasihan pada Jihyun. Seolah-olah gadis itu di culik oleh orang yang memakai masker hitam dan hoodie kebesaran yang memang nyata.

Heechul mendorong Jihyun skeptis masuk ke dalam mobil. Setelah berlari menuju jok kemudi. Pria itu menyalakan mobil dan mulai membelah jalanan padat kota Seoul di malam hari.

”Nah, sekarang jelaskan padaku. Ada apa denganmu?” tanya Jihyun. Ia mengamati spedometer yang nyaris menuju 120 km/jam. Namun ia biasa saja, gadis itu sudah sering bermain kebut-kebutan bersama kakaknya. Daigo.

Heechul menoleh sebentar lalu tersenyum misterius. Tetapi menurut Jihyun, lebih mengarah ke tahap senyuman mesum.

”Bukankah aku sudah berjanji akan mentraktirmu?” Heechul mengemudi sambil menaik turunkan alis. Sepertinya dia mempunyai sesuatu yang buruk untuk di rencanakan.

Gadis itu mendelik tak percaya. Ia mengangkat bahu acuh lalu menatap jendela kaca yang berada di sampingnya.

Suasana hening. Hanya tape yang menyiarkan siaran pertandingan ulang baseball yang terdengar. Heechul sangat serius mendengarkan acara itu sambil mengemudi. Sesekali alisnya mengkerut saat pembawa acara berbicara sok misterius.

Tiba-tiba saja Heechul menjerit. Tim jagoannya baru saja melakukan home run. Ia tertawa-tawa tanpa melihat perubahan raut wajah Jihyun yang kesal.

”Yak Kim Heechul!!”

***

            Mobil berhenti di depan gedung besar. Heechul mematikan mesin lalu menoleh pada Jihyun yang juga saat ini sedang memandangnya dengan tatapan menyelidik.

”Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Heechul sok polos. Ia membuka seatbelt lalu keluar tanpa melirik Jihyun lagi.

Gadis itu mendengus. ”Huh. Ku kira seperti di drama-drama yang biasanya seorang pria membukakan pintu pada si gadis.”

Jihyun keluar lalu berlari mengejar Heechul. Mereka memasuki kawasan arena ice skating bersama. Heechul nampak antusias sekali saat menerima dua pasang sepatu yang akan di gunakan.

”Astaga, Heechul. Memang kau bisa bermain ice skating?” Gadis itu bertanya dengan suara mengejek saat mereka sedang memakai sepatu di kursi yang di sediakan.

”Eish, kau kira aku mentraktirmu di sini untuk apa? Tentu saja aku akan menantangmu bermain. Memang kau bisa huh?” Kini giliran Heechul yang menyeringai. Ia berdiri sambil mengulurkan tangannya. Bermaksud membantu Jihyun berdiri.

Jihyun menerima uluran tangan Heechul lalu menyeringai kejam. ”Oh, buktikanlah. Aku akan mengalahkanmu!” serunya. Ia mendahului Heechul sambil melompat melewati pembatas kaca. Heechul melotot tidak percaya.

”Ia itu seorang gadis atau preman sih?”

***

            Jihyun nyaris tidak percaya saat Heechul dapat menyamakan kedudukan. Pria itu sangat lincah meloncat di atas es. Kadang-kadang menari-nari tidak jelas. Dan terkadang meluncur sambil mengangkat satu kaki. Sok sekali dia.

”Hei, kenapa kau di tengah terus? Kejar aku kalau bisa.“ Heechul berteriak kuat-kuat sampai suaranya kembali memantul. Suasana sudah sepi, hanya beberapa pengunjung. Itu saja mereka sudah berada di bangku dan membuka sepatu.

Tubuh Jihyun sedikit gemetar saat meluncur melewati es. Dinginnya lapisan es membuat kakinya serasa limbung. Maklum saja, mereka sudah hampir dua jam bermain di atas es.

Ia jatuh terduduk saat merasakan kakinya kebas. Kaus kakinya terlalu tipis. Bahkan seakan lapisan es itu mengalir dari kaki menuju seluruh tubuhnya.

Heechul menghampiri Jihyun dengan cepat, ia berjongkok untuk melihat keadaan gadis itu. ”Kau kenapa? Dingin?” tanyanya. Jihyun mengangguk cepat. Ia menggosok-gosokkan sarung tangannya.

”Ya sudah, kita berhenti saja ya. Ayo ku bantu berdiri.” tawar Heechul. Jihyun berdiri sambil di papah Heechul. Gadis itu memang tidak kuat dengan udara dingin.

Saat sudah sampai di bangku, Heechul membantu melepaskan sepatu skate Jihyun. Perbuatannya ini, tanpa sadar sudah membuat gadis itu bungkam. Tangannya yang sedang bertautan itu saling meremas. Bahkan sepertinya ia sudah tak merasakan udara dingin lagi.

”Heechul.” panggil Jihyun. Pria itu mendongak saat mendengar namanya di sebut. Jihyun tersenyum hangat. Cepat-cepat Heechul menunduk lagi dan melanjutkan melepas sebelah sepatu Jihyun. Entah kenapa dadanya berdesir tiap kali senyum itu menunggunya untuk di respon.

Setelah selesai melepas sepatu Jihyun. Heechul duduk di samping Jihyun dan melepas sepatunya. Ia bersiul-siul untuk mendominasi suasana awkward.

Pikiran-pikiran Heechul di pengaruhi oleh segalanya yang ia sembunyikan selama ini. Ia ingin mengatakan perasannya yang sesungguhnya pada Jihyun. Menyatakan bahwa ia sangat mencintai gadis yang selama ini selalu menemaninya dalam berdebat, dalam bercanda dan dalam pertengkaran konyol.

”Ji, aku boleh mengatakan sesuatu?”

Jihyun merespon dengan deheman canggung. Heechul menarik napas dan mempersiapkan diri.

“Sebenarnya, aku ingin mengklarifikasi semua yang ku ucapkan tadi siang,“ Heechul diam sebentar, hanya degupannya yang mendominasi. “semua tentang pernyataan nasehat itu dan sampai terakhir tentang ehem, aku menyukaimu, itu benar. Namun, aku tidak menyukaimu, melainkan mencin-“

Ucapannya terlindap seketika saat bahunya terasa berat. Ia menoleh, merutuk kesal saat melihat Jihyun yang sudah tertidur pulas di sana. Bahkan bibirnya menggumam kalimat aneh.

”Aish, sia-sia saja tadi aku menyatakan cintaku. Dasar anak kecil sialan.”

Heechul menggerutu dalam diam. Ia tak berani sedikitpun bergerak, takut-takut jika gadis itu terbangun dan membuka mata. Lalu malah meninggalkannya sendiri. Ah atau mungkin bisa saja gadis itu akan berteriak pada Heechul. Kebiasaan lamanya.

Ia memberanikan diri memeluk bahu Jihyun saat gadis itu nyaris merosot. Perasaan hangat menyusup masuk ke dalam hatinya. Ia merasakan itu lagi, kehangatan dari seseorang.

Sambil memejamkan mata, Heechul menarik gadis itu lebih dekat dengan dirinya, meletakkan kepala gadis itu ke dadanya.

”Saat semua ini di mulai. Aku akan selamanya menjadikanmu ratu di hatiku. Kau tidak bisa lari. Karena ini memang takdirmu.”

Di dalam tidurnya, Jihyun tersenyum, kehangatan itu mengalir begitu saja memasuki syaraf-syaraf impuls di otaknya. Berimbas pada hatinya yang mendadak terasa terengkuh oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Aroma parfum itu semakin lama semakin memudar. Bersamaan dengan bau yang sudah tidak awet lagi. Tubuh Jihyun kembali di lingkupi kabut samar tak terlihat, semua akan kembali dari awal.

Terlalu lama bersama Heechul membuatnya merasakan perasaan sayang. Namun mau bagaimana lagi, apapun yang terjadi tak akan selamanya seperti ini. Semua hanyalah fantasi. Dan fantasi selamanya akan seperti itu.

Perlahan demi perlahan, tubuh Jihyun menipis bagai kabut, suara nyanyian Heechul mengiringi kepergiannya. Ia tak merasakan sesak, hanya damai dan hangat. Seolah-olah Jihyun hanya pergi sebentar, walau kenyataan yang terjadi itu tak mungkin.

Dan terakhir, ia menghilang, meninggalkan gedung sepi itu dan meninggalkan Heechul yang tersenyum dalam diam.

TBC 

chochangevilkyu’s note

Hai, hai 😀

Maaf yang kalau lanjutannya ini begitu lama. Aku bingung mau dibawa kemana ceritanya *nyanyi*

Sebenernya part ini udah selesai lama banget, cuma aku edit sana-sini aja. Dan lagi ada kabar gembiraaaa yeee *lemparconfetti*

Thir13een parfume udah sampai part ending. Kayaknya kalau gak 12 ya 13.

Eum, apalagi ya? Udah deh, terlalu panjang bikin mumet -_-

Sippo, ditunggu kritik dan sarannya yooo!! Okesip

From chiripa(!)

Iklan

32 responses to “Thir13een Parfume Volume 9

    • Hei, aku manggil kamu siapa? Mirza-kah? Masa hei -_-
      Kita saudara sejawat(?)
      Entah kenapa part ini flat banget! Aku jg mikir gitu kok, serius._.
      Mungkin pas itu ideku lagi gak tinggi2 bgt, apalagi stuck mode on. Tapi bener, part ini biasa bgt ya -_-
      Sippo, thanks anyway 😀

      • Iya nih agak gak ngena gak kaya part2 sebelumnya ;_; bahkan part 8 yang horor gitu, aku lebih suka part itu padahal itu horor, hehe iya panggil aja mirza, buat next part ditunngu yah, secara yang bikin creepy kiss itu lama banget updatenya padahal aku menanti2 alur cerita kayak gini^^

  1. eonni~ aku bacanya lompat dr part 7 lngsng 9. dikau mem-pw part 8 T.T tp gapapa, aku ga terlalu suka hangeng~ kkkk sblmnya maaf dibeberapa part aku ga komen *gabisaT.T* . tapi, aku suka part hyukjae dan kyuhyun, manis. hehehe. penjelasan tenatang parfumnya jga menarik. ditunggu next nya, eon! hwaiting~

    • Apa? Gabisa?! /tendang :p
      Hehe, gwenchana dear 😀
      Eh panggil aku kak aja ya, aku gasuka dipanggil Eon anyway T.T
      Knp? Masa gasuka Hangeng? Sebagai gantinya suka aku? *kedip2*
      Suka bagian bang Yadong ya? Ehehe tdk meninggalkan kesan yadong(?)
      Sippo, ditunggu ya, thanks 😀

      • mau ditendang?! *ngindar* tp untk part 1 dan 2, aku komen di sjff2010 kok. oke deh, kak? kkkkk karna aku tidak begitu mengenal hangeng~ gapapa deh sma kakak aja *peluk2* iya, yg eunhyuk kena bgt *terharu* semangaaat ya next partnya!

      • *tendanglagi* kkk kekerasan dalam blog(?)
        Sippo, gapapa kok 😀

        Emang Hangeng kenal dikau? :p
        Idih peyuk-peyuk ganjen ni. Entar aku dimarahin yang punya lo *gampar

        Sip sayang, thanks ya 😀
        Eh aku manggil kamu siapa ni btw?

      • ih dikau kejam kak~ *nangisaegyo*

        hangeng gak kenal aku, tapi abang kyu kenal aku kok. ini rahasia kita yak kak *bisik2*
        emang kakak punya nya siapaa? jomblo kan? ayo ngaku ngaku, kkkk

        sama-sama kak^^ panggil prilly aja kak, ya senyaman kakak aja~ oke,

    • Apaan nangis aehyo *mukasedatarperosotan*
      ih males nih, entar aku sebarin kalo kau itu stalker yang suka intip intip bang Kyu pas mandi *mimisan*
      Haha sippo, aku panggil Prilly oke. Prilly Lili Helly guk guk guk *eh
      -_-v
      Salam kenal yoy brow hoho 😀

    • Eh maaf ya sayang. Tapi emailmu kalau tak kirimin gagal terus. Kekirim tapi ada balasan masuk FAILURE gitu T.T
      Ada email lain? Atau aku bisa kirim di fb-mu aja?

      Bener, menurutku juga gitu hehe.
      Thanks anyway^^

  2. Ok kyaaaa kenapa pas heechul oppa panjaaang kenapa sama Kyu sedikiiit /nangis/
    huwaaaaaaaaaaaaa
    eh chingu masih ada kah org nya lagi ????
    hahahahaha
    aku penasaraaaan
    hohoho
    ayo cepat post part selanjutnya

    • Korban Kyu ya? Maaf ya sayang. Itu masa lalu *nyanyisepanjangjalankenangan*
      Masih dong, udah ada volume ten tuh. Btw, panggil cho aja deh, berasa rujak tau u,u
      Thanks anyway 😀

  3. Em….. bagus sih tapi….. kykny ad yg kurang gtu d part ini…. mudah”an d part selanjutnya lebih ngena lagi deh hehehehehehehe

  4. selanjutnya gimana kak? waaah, henry sama zhoumi ikutan gak?
    /duh banyak nanya/
    gak tau kenapa yang ini kurang nyess /apaini/ fighting kak, ditunggu kelanjutannya!^^

  5. W.O.W tmbah kren aja ceritanya cho tpinya gk ada so sweet so sweetannya,tpi gpp,d’tnggu lnjutannya sma lnjutan dari fanfic Other dimensionnya ya 🙂

  6. Bagus thor. Tapi part yang ini kurang ngena beda dari part part sebelumnya yang ngena banget. Tapi sih semuanya bagus. Lanjut!!

  7. semoga di part end nnt jihyun bisa bersatu sama salah satu dari 13 itu, haha. kalo aku sih milih yesung 😀

  8. Thorrrrrrrrrrrrrrrr, ngapa ending volume pake acara protect protect an segalaaaaa?? Gimana ini thor? Penasarannnnnnnnnnn

  9. uwahhh.. full heechul part.. ahh.. image heechul yang terkesan bad boy emang ga pernah lepas dari heechul.. hiks, kangen heechul >< .. oke saya mau lanjut.. oh ya salam kenal author ^^

  10. Nice tp kurang greget, mungkin krna konflik.a kurang sist. #slap
    ok lanjut~
    *akusedangmencariemailygdulukugunakantapiganemujugajadiemonyabedagitu* 😀

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s