Lost In Time Track Three

.

.

Waktu itu hanya sekedar penunjuk jam, menit dan detik.

Waktu itu tak begitu berguna jika kau menyia-nyiakannya.

Lalu, jika waktu berhenti, apa yang akan kau lakukan?

Bagaimana kau bertanggung jawab jika waktu itu berhenti karena dirimu?

Keseimbangan bumi mulai goyah, dan satu-satunya cara agar menghentikan itu adalah dengan…

***

Terkadang, keseimbangan semesta adalah salah satu jalan untuk melanjutkan kehidupan. Namun di balik semua itu, ada kalanya kau hidup berpacu dengan waktu, tantangan dan penemuan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam duniaku, sebuah waktu adalah tempat untuk meretas diri sendiri.

lost-in-time-by-chochangevilkyu

Last 1 │ 2

.

.

SUASANA terasa sunyi. Gempita sudah tak terdengar lagi dan sepercik gerak pun tidak terlihat.

Ergh…”

Jin Ah merasakan kepalanya pening. Merasa sebagian otaknya tercecer karena pusing itu bagaikan di timpa gerigi mesin jam raksasa. Ia tak teringat apa-apa lagi selain gempa dan ia yang saat ini berada di atas lantai kayu yang dingin.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Fantasy, Friendship, Adventure

Kim Jin Ah, Eunhyuk

PG-15

Inspired by The Clockwork Tower

Art by MissFishyJazz

Gadis itu menoleh kesana kemari. Mencari seseorang yang tadi menemaninya dan hampir menghancurkan cerita masa remajanya. Beberapa saat kemudian dia berdiri, masih memegang kepalanya yang tersangga kepalan telapak kecil. Mencoba mencari Eunhyuk di antara barang-barang berserakan.

Banyak onderdil yang rusak, sekalipun hancur dan menjadi kepingan mini. Ia seperti berada di atas pemandian mesin. Berjalan di antara reruntuhan membuatnya bingung. Selain buta navigasi sekolahnya, ia juga ternyata buta arah di tempat ini.

Ah…”

Seolah mendapat pencerahan, sebuah suara tiba-tiba terserap pendengarannya. Anak laki-laki itu terduduk bersama barang-barang aneh yang berada di sudut dekat pintu berwarna coklat kusam. Jadi ia memutuskan untuk berlari dengan hati-hati menuju Eunhyuk.

Sebelum sempat melontarkan kekhawatiran. Pemuda itu sudah memberondonginya dengan pertanyaan aneh yang begitu asing untuknya. “Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan tadi hah?!”

Tentu saja Jin Ah mempunyai beberapa opsi. Eunhyuk marah atau sedang bertanya. Ada banyak akibat jika ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan yang salah. Jadi ia lebih baik berkata jujur. Menerima konsekuensinya.

“Maaf, tapi aku juga tak tahu.”

Pemuda itu mengerang keras. Jin Ah tidak tahu itu karena ulahnya atau sakit di sekujur tubuh Eunhyuk. Yang pasti suara simphoni bagaikan candu itu sudah tidak ada. Terganti pekat yang menurut gadis itu bukan seperti Eunhyuk lagi. Atau memang ini Eunhyuk yang asli, ada di dalam dirinya selama ini.

Ia menunjuk Jin Ah dengan semua jarinya. Lalu berbicara lagi, “Bukan itu maksudku. Tapi kenapa kau bisa membawa Alethiometer itu, ah dimana benda itu?”

Eunhyuk berdiri. Ia menerjang kesakitan pada telapak kakinya yang tergerus sapuan benda-benda lancip. Ia juga tak tahu sejak kapan sepatunya menghilang. Pemuda itu berjongkok dan mulai mengobrak-abrik tempat kejadian. Dan ia menemukan jam itu di antara gerigi mesin dan tuas-tuas yang bengkok. Namun mesin itu sudah sepenuhnya mati dan berarti, waktu otomatis juga mati.

Jin Ah masih tidak mengerti akan hal itu. Namun di pastikan, ia adalah tersangka dari semua ini. Dan benar saja, setelah merasakan aura kegelapan milik Eunhyuk. Anak laki-laki itu berdiri di hadapannya dengan pandangan menusuk. “Kau harus bertanggung jawab. Ini salahmu dan kau harus bertanggung jawab.”

Apa? Tanggung jawab apa? Jin Ah tidak mengerti. Selain karena dirinya sedang berhitung berapa kata ‘tanggung jawab’ yang baru saja terlontar dari mulut anak laki-laki itu. Masih tidak mengerti juga karena segala sesuatunya begitu asing dan menurut gadis itu. ia tak melakukan hal apapun kecuali menghentikan onderdil jam. Bukankah bisa di perbaiki? Tapi kenapa cara bicara Eunhyuk menyiratkan pertanggung jawaban lebih seperti… hal yang impromtu untuknya?

“Lihat di luar!” Eunhyuk berkata lagi. Ia menarik tangan Jin Ah dan menuntun gadis itu untuk melihat jendela bundar yang terbagi empat disana. Tidak ada yang salah. Ini malam dan gelap. Apa yang salah dari itu? Tapi begitu melihat hal tersebut, Jin Ah spontan berjengit.

“Sudah mengerti?”

“Tentu saja! Sudah berapa lama kita berada disini Hyuk? Astaga, nanti kita di hukum. Ayo cepat keluar!” Jin Ah berseru panik. Ia berjinjit dan membenahi tali sepatunya. Bersiap berlari namun dengan gesit cengkraman tangan Eunhyuk membuatnya menoleh. Ia bingung.

Tidak ada yang lebih baik dari melihat pemandangan malam dan berjumpa dengan Eunhyuk. Namun gadis itu berusaha menghilangkan pikiran itu dan membenahi manner-nya. Ini sudah gelap dan rembulan samar-samar merasuk ke wajah tampan Eunhyuk. Ia mengelak dan mengendalikan nafsu untuk tidak menatap lebih kembali.

“Lihat baik-baik jam milikku. Dan lihat dengan teliti.” Eunhyuk memberi manifest yang membuat Jin Ah merasa bingung lagi. Sepertinya otaknya belum dalam tahap seratus persen komplit. Tapi gadis itu tetap menatap lamat-lamat jam bvlgari Eunhyuk. Ada yang aneh disana. Jarum itu berhenti pada pukul empat dan detikan itu berhenti berputar. Ada apa?

Jin Ah menatap wajah Eunhyuk yang juga menatapnya. “Ada apa Hyuk? Kenapa kau menunjukkan jam yang mati kepadaku? Apa— “ Anak perempuan itu tak sengaja menatap lengannya yang tergulir jam tangan dan otomatis membulatkan matanya ketika jam itu juga berhenti. Di waktu yang sama dan detikan yang sama mengarah pada sudut tumpul. “Aastaga. A-apa yang terjadi?”

“Kau sudah menghentikan waktu Jin Ah. Waktu berhenti ketika kejadian gempa itu terjadi. Dan waktu di dunia turut berhenti.”

Gadis itu menutup mulutnya. Tidak mungkin. Tapi kenapa bisa? Memang apa yang di lakukannya hingga seperti itu?

“Jam menara ini adalah pusat waktu dan kau menghentikannya di saat Alethiometer terlempar ke arah roda-roda disana. Sekarang satu-satunya cara hanya mengandalkan Alethiometer ini. Demi Tuhan, kenapa kau bisa mendapatkan Alethiometer milikku?”

Eunhyuk berusaha tidak meninggikan suara. Ia sudah cukup menahan kesabaran di titik maksimum ketika melihat raut Jin Ah yang polos berubah ketakutan. Ia sedikit merasa bersalah. Tapi ia tak mungkin membunuh harga dirinya hanya untuk berbaik-baik pada gadis ini.

Tangan Jin Ah bergetar. Ia menatap pemuda di depannya dengan takut-takut. Bola matanya sudah mulai buram. “A-aku tadi ingin mengembalikan jam sakumu yang jatuh. Tapi aku tidak tahu kau akan berdiri dan itu menimbulkan kerusakan seperti ini. Maafkan aku Hyuk.”

Ada jeda yang lama setelah Jin Ah menyelesaikan kalimatnya. Eunhyuk menghela napas dan masih merasakan perasaan janggal ketika gadis itu memanggilnya dengan nama terakhirnya. Sedikit merasa senang.

Lalu suasana di pecah dengan perkataan pelan anak perempuan itu, “Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku akan bertanggung jawab untuk mengembalikan waktu,” Jin Ah berkata ragu-ragu, namun segera mengganti intonasinya dengan cepat, “kita tak mungkin hidup di bawah langit gelap seperti ini.”

“Harus! Ini ‘kan salahmu!” Tidak bermaksud membentak. Tapi jawaban Eunhyuk membuat nyali gadis itu menciut. Jin Ah membungkam bibirnya dan menunduk. Ada umpatan bebas yang melewati otaknya ketika seratus persen bagian telah menyatu.

***

            Mereka sampai di atrium tengah dan mencoba memecahkan teka-teki di jam saku milik Eunhyuk. Jam saku itu tetap bergerak walaupun waktu telah berhenti. Namun tetap saja, jarum-jarum yang panjangnya berbeda disana tetap menunjuk simbol sama berulang kali.

“Ada ide?” Jin Ah bertanya. Aqua Tourquise miliknya memindai tempat ini dengan teliti. Berbagai macam barang kecil berjatuhan bagai hujan. Yang lebih membuatnya merasa kagum di saat genting seperti ini adalah, ia menemukan bermacam-macam barang unik yang bersebaran.

Di tiap sudut ada pintu. Mereka menuju kearah berbeda-beda. Jin Ah ingin bertanya perihal catatan aneh yang tertempel di setiap pintu itu namun urung setelah melihat raut Eunhyuk yang begitu tenang. Ada semacam aura bening terpancar. Dan ia tidak mau mengacaukan hal tersebut.

Senter bergoyang-goyang. Jin Ah memainkan senter miliknya sementara anak laki-laki itu masih berusaha memecahkan teka-teki di dalam jam saku. Jam itu adalah perantara terakhir dari Mr. Clocksmith. Pria tua yang saat ini sudah tidak ada dan mayatnya dikubur tepat di belakang Disaster. Ia memberikan jam saku itu pada Eunhyuk karena sudah mempercayakan semua itu padanya. Tanpa terkecuali. Hebat sekali anak lelaki itu.

Sinar rembulan masih meredup. Ini lebih menakutkan dari syuting film horror sekalipun. Mereka berada di dalam menara yang konon menjadi sarang hantu. Entah kenapa Jin Ah mulai berkhayal yang tidak-tidak tepat pada saat Eunhyuk menyorotkan cahaya senter ke wajahnya.

Gadis itu menjerit tertahan. Jantungnya berdegup kencang dan laju pembuluh nadinya melemah. Ia seperti baru saja melihat penampakan penunggu atrium. ”Bodoh! Makanya bantu aku. Kau ini tersangka tapi malah tenang-tenang saja. Berpikir dengan otakmu.”

Oh. Sungguh siapapun potong segera lidah Eunhyuk. Pemuda itu adalah salah satu psikopat berotak Jack the Ripper yang sewaktu-waktu akan berubah tabiatnya. Jin Ah bahkan tak tahu pribadi sesungguhnya dari Eunhyuk yang nyatanya sangat berkebalikan selama ini. Bukan dingin dan bertajuk pada jari tengah. Tetapi mulut Alien. Gadis itu menyebutnya begitu. Tentunya dalam hati. Dan tanpa bercanda.

”Kau bergurau,” Jin Ah mengusap tabung senter. Jarinya mulai kram. ”memang aku harus apa?”

Di saat seperti ini, Eunhyuk malah kembali melontarkan protes berlebihannya. Hilang sudah image yang selama ini melekat apik pada dirinya. Anak laki-laki itu mempunyai manner yang buruk.

Jin Ah memegang senter Eunhyuk lalu menyorotkan kearah jam saku. Jam itu aneh, ada tiga buah jarum dan simbol-simbol mirip zodiak dan beberapa simbol flora, tatanan surya dan binatang tak lazim. Tiga buah panel. Di bawah, samping kanan dan atas. Jika mereka digerakkan, jarum otomatis berputar. Namun, jarum itu selalu menunjuk simbol yang sama. Sebuah palu, bulan dan jam pasir.

Karena sudah tak kuat ingin berbicara, akhirnya Jin Ah membuka suara, ”Jam saku milikmu begitu aneh. Kenapa ada tiga jarum dan selalu mengarah ke simbol yang sama?”

Sudut pandang yang salah. Jin Ah mengira ini benar-benar penunjuk waktu. Namun bukan. Jam ini bernama Alethiometer yang berarti golden compass. Alat ini seperti penguak kebenaran. Di yakini hanya satu orang yang dapat membaca jam saku ini. Mereka di takdirkan untuk membawa kedamaian di antara waktu-waktu yang mulai mengalami muslihat.

”Jadi, kau bukan? Lalu selama ini bagaimana caranya benda ini selalu hidup terus? Apa jam itu bertenaga surya?”

”Kenapa kau bertanya terus sih?! Bisakah diam sebentar atau kau mencoba mencari ide untuk melakukan sesuatu? Pikirkan cara keluar dari sini!”

Seharusnya Jin Ah mengumpat. Memikirkan cara untuk membalas perdebatan mereka. Namun kini pandangannya lebih memusat pada pojok ruangan. Ada berbagai barang aneh disana berserakan. Termasuk mesin ketik yang kuno sekalipun.

Ia berdiri tegak. Menyorot meja berdebu lalu menemukan sebuah catatan kelabu. Ada sarang laba-laba membentuk simetris dan coretan tangan yang kusam. Beberapa lipatan menjamur berwarna kuning dan sebuah nama menjadi catatan kaki di bawah.

Temukan kunci di antara surga

Clocksmith

            Kerutan di keningnya bertambah, sisi-sisi pemikiran dalam dirinya nampak jelas. Lantas ia kembali lagi pada Eunhyuk dan mengangsurkan catatan kusam itu.

Kunci. Kunci. Kunci.

Anak laki-laki itu berpikir keras, sepertinya ada sebuah pikiran implisit yang mungkin akan benar jika ia tak ragu-ragu.

Itu ungkapan dalam artian halus.

”Sepertinya, ini catatan petunjuk dari Mr. Clocksmith Hyuk. Lihat apakah ada simbol anak kunci?”

Ada. Tapi pemuda berkepribadian ganda itu tak dapat membaca jam saku yang aneh tersebut. Sudah beberapa kali di coba tetap saja ia hanya dapat menerawang logam mulia di dalam kaca jam saku. Alethiometer tetap seperti sedia kala, tiga jarum yang bergerak ke arah sembarang.

Sepertinya ada yang janggal. Tunggu! Jin Ah bertanya pelan lalu mencoba meminjam jam saku Eunhyuk. Ada saatnya Eunhyuk mencibir tak percaya. Siapa yang bodoh?

Jin Ah menggerakkan panel atas. “Bukankah ini begitu aneh. Ada huruf ‘T’ sedangkan alphabet lain tidak ada. Menurutmu…”

Tiba-tiba saja mereka berjengit. Mempunyai suatu pemikiran yang sama lantas menunjukkan deretan gigi bersinar mereka. “Huruf ‘T’ itu berbentuk kunci! Jadi jika kita mengarahkan ke sini (Jin Ah membuka panel bawah lalu diikuti Eunhyuk yang memutar panel kanan) akan keluar—“

Jrek Jrek Jrek

            Sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka. Serentak mereka mengalihkan pandangan ke elevator kayu yang bergerak. Dan ada sebuah kunci berbentuk matahari dan gerigi di beberapa sisi yang terjepit di antara pintu elevator. Sehingga elevator kayu itu masih menyisakan ruang celah terbuka.

“Cepat! Cepat!”

Jin Ah berlari terseok-seok. Kakinya nyeri dan ia merasakan kebas di saat itu juga. Ia tak menyadari jika kakinya terluka sebelumnya, mungkin di karenakan terlalu sibuk dengan nasibnya.

Kunci itu seperti di dalam film Lara Croft. Ada ujung-ujung tajam yang menjadi penumpu sisi-sisi. Sepertinya Jin Ah pernah melihat sebuah lubang kunci seperti ini. Ada tempatnya di bagian… Ia lupa.

“Tidak asing,” Eunhyuk bergumam. Alisnya berliuk-liuk. Mata pikirannya mulai muncul dan tampak jelas. Di situasi seperti ini anak laki-laki itu terlihat keren dengan gaya berpikir yang membuatnya seperti porselen tanpa cela. “aku seperti pernah melihatnya, tapi… Oh! Aku tahu. Ayo ikut aku!”

Entah disengaja atau tidak. Eunhyuk berlari, menarik Jin Ah yang tetap mengumpat untuk pemuda itu dalam hati. Apa tidak ada cara yang lebih manusiawi?

LostInTime

            Mereka berhenti di ujung undak-undakan yang terbuat dari kayu. Puncak akhir menara jam. Ada sebuah pintu tertutup. Terkunci, tidak ada jalan lain selain mendobrak dengan lengan kecil masing-masing. Namun tetap saja, pintu kayu itu tertutup rapat. Seperti tak pernah terjamah dan lekat dengan engsel.

“Cari sesuatu. Benda tajam. Atau apapun yang dapat membuka pintu ini!” Lelaki itu berteriak tanpa sadar. Masih berusaha mendobrak pintu. Jin Ah menggeleng-geleng tak habis pikir. Sedari tadi pemuda itu sepertinya hanya bisa menyuruhnya layaknya pembantu pribadi. Dan ia tak terima itu.

Tetapi sebelum bibir kecilnya meneriakkan tak kesanggupan dan segala antek-anteknya. Eunhyuk sudah menyela. Mengingatkan siapa terdakwa dalam kasus ini. Dan akhirnya disini, ia mulai menggerutu dan mencari tumpukan barang-barang tajam di antara hujan benda kecil.

Sementara Jin Ah berusaha mencari sesuatu yang dapat membuka pintu. Eunhyuk masih berpikir sembari menekan dadanya yang bergemuruh. Lelah dan perih muncul bersama. Menimbulkan peluh dingin yang mengalir di sekujur dahinya. Cahaya rembulan turut serta menyinari tempatnya berdiri. Dan senter kecilnya mulai berkedip-kedip.

Ia tak pernah menyangka dapat terjebak dalam situasi seperti ini. Menghentikan waktu? Ia kira itu hanya ada dalam dongeng semata. Bualan omong kosong para orangtua yang kuno dan angin lalu dari penggosip jalanan.

Nyatanya kini ia harus di hadapkan dalam hal seperti ini. Menjadi peran utama dalam skenario yang tak pernah di buat atau di inginkannya. Termasuk bersama gadis yang menurutnya berlebihan luar biasa itu.

Eunhyuk mengerang. Mengangkat kedua telapak tangannya yang terdapat baret-baret darah. Ternyata pekerjaan mingguan lebih baik daripada mengukur keberanian untuk bermacam-macam di tempat seperti ini. Sepertinya ia sudah mulai merasakan kutukan Disaster.

Lalu tak lama kemudian Jin Ah datang. Senyum bahagia terukir disana. Anak perempuan itu hampir lupa jika saat ini mereka adalah petarung untuk menyelamatkan masa depan dunia. Dasar gadis bodoh.

Ekspresi Jin Ah berubah di saat Eunhyuk memberi tatapan ‘apa-apaan kau ini? Cari mati ya?’ Memang siapa yang ingin mati di situasi seperti ini? Orang tidak waras sekalipun tidak akan mau.

Linggis yang dibawa Jin Ah sudah mengoyak pintu kayu. Anak laki-laki itu bingung. Dalam beberapa detik saja pintu tersebut sudah remuk. Bau kalkun busuk menyebar, menyeluruh memasuki tiap rongga hidung. Tetapi kenapa di saat ia mencoba mendobrak. Pintu itu terasa seberat besi dan setebal baja?

***

            “Wah loncengnya sangat besar sekali! Kenapa lonceng seperti ini tak pernah dibunyikan ya Hyuk? Apalagi struktur perbagian sangat menonjol. Keren sekali.”

Eunhyuk tak mengindahkan kekaguman Jin Ah yang begitu mengganggunya. Ia lebih terfokus meraba bagian lonceng berdebu itu dengan lamat-lamat. Ia pernah melihat Mr. Clocksmith dulu sepertinya memberitahu tentang selop kunci berbentuk bulat bergerigi. Seperti kunci yang dibawanya saat ini.

Jin Ah masing terkagum-kagum. Matanya berbinar seperti mutiara kecil. Ia dari dulu ingin mencoba membunyikan lonceng raksasa dan akhirnya saat seperti inilah yang di inginkannya. Gadis itu menemukan tali lonceng di dekat simbol Olmec. Nyaris mirip.

Lengannya menggantung. Sarung tangannya sudah basah oleh keringat-keringat yang berekresi. Ia menarik tali itu lalu suara memekak terdengar nyaring sekali. Ia menutup telinga sambil berteriak senang. Berbeda dengan Eunhyuk yang langsung memelototinya dan berteriak padanya. Yah, menyalahkan dirinya.

Lonceng itu menggema. Mengalahkan sunyinya malam yang tak berubah-ubah. Masih redup dan gelap di ujung sana. Hutan hujan tenggelam dalam serapan suara tinggi itu. Dan aroma ketidaksenangan menguar di udara.

Namun beberapa menit berlalu, suara itu tak kunjung berhenti. Sebenarnya apa yang dilakukan Jin Ah? Kenapa sepertinya lonceng ini otomatis bergerak dan tak ada batas berhenti? Tiba-tiba saja desisan aneh menguap. Berpadu dengan lonceng bergema dan berlomba-lomba untuk menambah aura gelap disana.

Muncul suatu lubang proyeksi disana. Hanya sinar-sinar yang tembus seperti mengeluarkan listrik berkelit-kelit. Ada gambaran selop. Ah itu tempat kunci yang di cari mereka.

Dengan masih menutup sebelah telinga, Eunhyuk berusaha mengeluarkan tangan kanannya dan mengarahkan kunci di sinar-sinar dimensi itu. Seolah berat, tangan itu masih menggantung, mencoba menerobos, mendorong dan akhirnya dengan bantuan tangan Jin Ah. Kunci itu tenggelam dalam proyeksi tersebut.

Hingga beberapa saat kemudian sinar itu menghilang. Lonceng juga berhenti berdenting keras dan meninggalkan senyap yang mendalam. Menusuk batin siapa saja yang mengalami hal ini. Termasuk kedua anak itu yang masih saling menggamit lengan dan mengalihkan pandangan waspada, sampai sebuah sinar di ujung atas lonceng berpendar. Menyilaukan mata.

Mereka mendongak lalu memasang mata masing-masing ke arah tersebut. Sebuah tulisan. Sepertinya klu untuk melakukan sesi selanjutnya. Ada sebuah salip yang tertera disana dan catatan yang tidak begitu jelas.

First Mission Complete!

Temukan sebuah logam segitiga

Sebelum pergantian tatanan planet berubah

TBC

 

chochangevilkyu’s note:

Nama Alethiometer aku ambil dari Golden Compass movies’s

Jeng jeng jeng, halo whassup, ada yang nunggu ni epep? Wkwkwk. Jujur aja aku lebih suka garap project adventure gini daripada romancyin -_-

Oh ya Thir13een mau dipublish kapan nih? Tinggal dikit sih. Juga tinggal edit sana sini.

Iklan

6 responses to “Lost In Time Track Three

  1. uwahhh ini ff makin daebakk >,< tapi pas bagian di suruh nemuin logam segitiga entah kenapa yang muncul dipikiranku itu segitiga yang ada di tom raider .-. #otakerror btw thirteen nya di post secepetnya thorrr TT____TT

  2. Ceritanya bnran keren,,penggambaran kejadian.a bsa d’byangin,,kta2.a juga keren,,d’tnggu lanjutannya,,

  3. apa itu logam sgitiga??? 100% gak tw…
    ef-ef x bagus banget eon!!
    apalagi bahasa x ituloohh… daebak banget!! smpe bca bbrapa kali biar ngeh…XD #hrap maklum…
    tp aku suka.. q suka…
    cpat dilanjutin yaa ff ini cho eon… 😀

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s