M O N A L I S A

BEBERAPA orang muncul dari balik Chevrolet dan turun menyebrangi jalanan ramai sepanjang Plaza. Museum Louvre tampak mencolok di antara bangunan-bangunan kecil di kanan-kirinya. Berdiri kokoh seperti barisan barikade pertahanan paling depan.

a

Seorang pria masih tetap duduk di balik kemudi. Ia mengamati rekan-rekannya dari dalam mobil yang tersekat kaca setebal tiga inci itu. Menggenggam croissant yang masih hangat.

Langit kota Paris terlihat cerah. Berada di depan gedung terbesar dan terpanjang di Eropa adalah hal yang menakjubkan. Sementara isi kepalanya hanya terisi teori konspirasi yang baru saja di dapatnya dalam sebuah forum kenegaraan.

Lalu beberapa detik selanjutnya teleponnya berdering. Menghentikan kegiatannya sejenak. Ia meletakkan croissant itu di jok sebelah kanannya. Membersihkan remah-remah lalu mengangkat telepon yang tersimpan di atas dasbor.

“Kau punya waktu berapa menit?” Ia berbicara. Wajahnya terlihat kaku tanpa ekspresi. Alisnya berliuk tanda tidak sabar.

Dia berbicara lagi, mensetujui apa yang diucapkan rekan kerjanya lalu menutup teleponnya begitu saja.

Luhan –laki-laki- itu memasang sebuah vest lalu bercermin di spion tengah. Beranjak keluar dari mobil dan meninggalkan mobil itu di pinggiran Plaza. Menuju dalam Louvre.

***

Saat berjalan di antara air mancur, Luhan merasakan hawa musim panas yang segar dan menyenangkan. Seperti sedikit terbebas dari belenggu kebingungan yang melandanya selama ini. Ia mempercepat langkahnya ketika melewati La pyramide.

Pintu masuk itu bahkan sama terkenalnya dengan Louvre. Piramid kaca yang terkenal karena berbagai kontroversi itu melambangkan betapa megah tempat tersebut. Seorang perancang bernama Pei ini bahkan sering sekali mendapat cemoohan dari berbagai pihak. Mereka berkata bahwa piramid ini malah menjadi sebuah sampah dalam tumpukan jerami daripada mengandung seni. Namun hingga sekarang masih terkenal karena menjadi keterikatan simbolis dalam Louvre.

Luhan mengetahui hal ini di saat ia mati-matian mempelajari sejarah Louvre untuk mempertebal kesan kecerdasannya. Sebelum memulai, ia harus mencuri jantung tempat ini. Begitu pikirnya.

Saat berada di dalam, ia bisa melihat teman-temannya memecah kelompok menjadi beberapa. Bahkan ada yang sedang disibukkan dengan pengamatan fisik tempat ini.

Di sudut terdapat titik-titik kecil merah yang berkilauan. Merekam pergerakan dalam ruangan. Menurut bukti, museum ini terdapat banyak kamera pengawas, namun tidak sedikit yang palsu, karena tidak mungkin mereka rela mengeluarkan biaya untuk museum semegah ini.

Luhan berjalan pada sudut empat puluh lima derajat. Berdiri di depan lukisan masterpiece milik museum ini. Ia bahkan rela berdesakan dengan para pengunjung lain. Hingga akhirnya tertinggal dia sendiri. Berdiri, antara mengamati dan menunggu.

Pria itu memang bukan pengamat seni. Ia hanya mengerti bahwa lukisan di hadapannya ini yang terhalang batas tali memanjang adalah sebuah karya hebat dari pelukis legendaris di dunia. Dan sudah lebih dari 500 tahun terpajang di sini.

“Bukankah Mona Lisa itu terlihat cantik?”

Luhan terkejut di saat seorang gadis mendekatinya. Gadis itu tersenyum lembut. Memperlihatkan lesung pipitnya yang berada di lekukan bawah pipinya.

Gadis tersebut meliriknya, lalu berbicara lagi, “Kau adalah orang yang ke sekian kalinya menatap dengan pandangan seperti itu, kau tahu?”

Alis-alis Luhan terangkat tinggi. Melontarkan kebingungan ambigu. “Kau pasti salah satu-“

Alih-alih menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu sudah menjawabnya terlebih dahulu, “Anna Breslin. Kepala museum.”

Luhan tersenyum. Sepertinya ini akan mudah untuknya. “Luhan Xi. Aku hanya ingin tahu sebenarnya kenapa senyuman Mona Lisa terlihat begitu misterius. Bahkan sejak beberapa tahun yang lalu setelah program komputer yang dikembangkan di Universitas Illinois dan Universitas Amsterdam selesai dan aktivitas perbandingan wajah itu dilakukan. Sampai saat ini, tak sedikit kegiatan para pengkaji seni menurun untuk meneliti lukisan itu. Apakah lukisan minyak itu begitu tersohor sampai ke penjuru negeri?”

Anna memandangnya takjub. Ia tersenyum antusias. “Kau lumayan hebat untuk ukuran seorang pengamat seni.”

Pria itu terbahak. “Ofcourse, tapi kukira kau salah. Aku hanyalah pegawai biasa yang bekerja sepanjang hari untuk mendapatkan segelas kopi.”

Mereka tertawa sementara para anak-anak mulai berdesakkan untuk memotret Salvador Dali yang berjajar di sebelah lukisan Mona Lisa.

“Kau tahu? Senyuman wanita di lukisan itu tengah berada dalam beberapa kondisi emosional. 83 persen dikatakan gembira, sembilan persen muak, enam persen takut dan dua persen marah.” Anna memulai penjelasan. Membeberkan beberapa pengetahuan yang di dapatnya dari bangku Harvard semasa kuliah dulu.

Luhan menatap gadis itu kagum. Seorang gadis yang bahkan dapat masuk dalam sampul Vogue memilih untuk mendekam bersama pengetahuan-pengetahuan yang begitu tinggi.

Sebenarnya Luhan ingin membicarakan hal ini pada Anna. Mengenai sebuah enkripsi yang berada di balik lukisan Mona Lisa. Tetapi masih terasa ambigu. Ia harus mengendalikan diri agar tak membocorkan rencana pengamatan kali ini.

“Oh ya, kudengar perlindungan untuk lukisan itu begitu ketat. Ada laser yang mendeteksi panas di sekitar sana. Dan dalam beberapa detik, kamera kecil dalam bingkai itu akan merubah arah tiap sudut. Dan juga tiap minggu lukisan itu akan dikeluarkan dari bingkainya. Menuliskan sebuah sandi di balik kanvas.” Jari-jari ramping Luhan menunjuk lukisan di balik kaca itu.

Mata Anna melebar. Kepingan Hazel itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Anna segera mengamati lekuk wajah Luhan. Hal itu terjadi begitu cepat, saat Luhan sadar bahwa kini jaraknya dengan gadis itu begitu dekat. Terlepas dari jarak yang tidak memungkinkan lagi.

Suara gadis itu terasa menguar, mengintimidasi. “Katakan padaku, kau siapa?”

Luhan menatapnya tidak mengerti. Ia berusaha membuat raut yang tidak terlihat mencurigakan. “Ada apa?”

Anna mendecih sinis. Ia merasa ada ketidakseimbangan dalam kalimat yang dilontarkan Luhan. “Hanya orang yang cerdas yang mengetahui semua itu. Dan bukan hanya pegawai kantoran biasa.”

“Ada sebuah enkripsi di sana.”

“A-apa?”

Kartograf.”

Gadis itu diam membeku. Gemetar, ia melonggarkan tangannya dan menatap Luhan dengan wajah lemas. Ia bukannya tidak mengerti apa arti di balik kata itu. Ia mengerti sekali, tetapi itu tidak mungkin. Sudah tujuh tahun ia menjabat sebagai kepala museum dan ia tidak pernah tahu jika seseorang mengetahui fakta itu.

***

Anna berangsur-angsur menutup mata ketika sebuah getaran di atas mejanya terdengar. Alarm-nya menunjuk angka dua belas malam. Waktunya untuk seseorang tidur sedangkan ia masih setia duduk di atas kursinya dan membaringkan kepalanya di meja yang berserakan beberapa buku.

Dia baru saja mendengarkan penjelasan tentang ideologi-ideologi yang terikat dalam simbolis peraturan baru dalam konspirasi yang meletakkan namanya di dalam sana dan rela memutus beberapa jam tidurnya untuk ikut berdebat dalam rumusan-rumusan itu.

Sedangkan sebagian otaknya terpenuhi perkataan Luhan beberapa hari yang lalu. Jika benar, maka maksud di balik kalimat itu adalah. Luhan akan berusaha mencuri Mona Lisa.

Apa pria itu tidak waras? Mona Lisa dilindungi laser hijau pendeteksi panas dan tiap malam lukisan itu akan disimpan dalam ruang di bawah museum yang di letakkan dalam bingkai kaca setebal 5 inci anti peluru. Dan ruang itu hanya bisa dibuka dengan sandi kelopak mata miliknya.

Juga beberapa kamera pengawas dan penjagaan ketat di sana.

Mengabaikan hal itu, Anna beranjak dari kursi kulitnya lalu duduk di pinggir ranjang. Melorot beberapa senti karena hilang kendali akibat pening yang melandanya baru-baru ini.

Saat ia akan merebahkan dirinya. Ponsel di atas nakas berdering nyaring. Ia segera menyambar ponsel itu lalu mengangkatnya.

Terdengar suara berisik dan terengah-engah serta sirine yang membuatnya bingung. Seorang Kurator menghubunginya. Membuat laju darahnya semakin meninggi. Ia tidak tahu masalah apa kali ini. Namun sepertinya begitu berat.

***

Gemerisik daun yang terbawa angin membawa Luhan dalam keheningan. Di dalam Chevrolet yang ia tumpangi terasa tidak nyaman. Mobil baru saja menyeberangi Place Vendome dan semakin menjauh dari Louvre.

“Kali ini rencana kita berhasil walaupun terlalu gila.”

Temannya, bernama Ned berbicara. Ada empat orang di sana, termasuk dirinya. Luhan membuka cola dan meneguknya bersamaan dengan tawa rekan-rekannya. Ia tahu tindakannya kali ini terlalu ekstrim. Tetapi ia harus melakukan itu.

Membawa kebenaran dan menyusupkan nama keluarga besar Xi dalam jejeran tertinggi penerimaan harkat martabat pemburu harta yang memiliki nilai historis dan intrinsik.

“Ya.” Luhan menimpali dalam diam beberapa detik. Ia merasa lelah dan bersalah. Terlebih pada Anna. Ya mungkin sedikit. Terlalu rumit.

Di sisi lain, Anna baru saja sampai di depan Louvre. Ia masih mengenakan jubah tidurnya. Dan berlari terseok-seok karena sakit di kakinya sedikit mengganggu.

Ada banyak polisi dan orang yang berlalu lalang di hadapannya. Hingga matanya tertuju pada salah satu rekan kerjanya yang meneleponnya tadi.

Anna segera berlari dan menghampiri pria itu. Sebelum bertanya perihal apa yang terjadi. Steven sudah menyelanya terlebih dahulu.

“Seseorang menerobos ruang penyimpanan Mona Lisa dan mencuri lukisan itu. Meninggalkan sebuah lukisan palsu di sana.”

“A-apa?”

END

chochangevilkyu’s note:

Maaf, maafkan daku muncul malah bawa epep freak ini T.T

Aku juga gatau kenapa ide ini muncul begitu saja. Ah mungkin karena daku begitu mumet dengan teori konspirasi yang masih didebatkan sampai jaman sekarang. Ide ini kudapat dari para om-om kurator dan senator yang masih aja meneliti kemisteriusan eyang Mona Lisa. Lucu aja gitu, masterpiece sepanjang sejarah didebatkan sampai hari ini muahaha. Oh ya, kebanyakan teori itu aku dapetin dari based on true, jadi terjamin akuratnya, expect Luhan sang kurator (for God’s sake, aku mending liat Luhan dengan uban di kepalanya sambil mantengin peta-peta atau nyusun Cryptex *dibantai) dan Anna sang kekasih. Haha bayangin aja setting-nya kayak National Treasure Book of Secret.

Selamat menikmati 😀

cooltext846166519

Iklan

4 responses to “M O N A L I S A

  1. uwahhhh tetep daebakk seperti biasanyaa…
    pantes tadi berasa kaya national treasure ternyata bener :3
    author kapan nih thir13een parfumenya :/ lama banget 😦

  2. Wow asoy bgt ini ff suka thor suka.. Apalagi gaya bahasanya ituloh booook keren beuuuud…
    Thor kapan thir13een perfume nya? Udh ga sabar nih

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s