Thir13een Parfume Volume 11

Percaya atau tidak.

Setiap benda itu mempunyai sesuatu yang bersemayam.

13 Parfum pembawa keajaiban.

Membawamu ke tempat yang tak kau duga.

Tetapi jika kau melanggar pantangan, ada konsekuensi tersendiri. 

thir13teen-parfume-chochangevilkyu

.

.

.

.

.

“Jihyun, ayo beri salam pada Paman Kim.”

Mata gadis itu mengerjap-ngerjap sempurna. Bulu mata lentik tersebut jatuh menggurat di bawah kelopak matanya yang bergerak.

Ia menghembuskan napas gusar berlebihan. Ia tak tahu kenapa selalu begini. Merasakan hal buruk tiap waktunya. Seolah-olah berusaha mempermainkan hati dan perasaannya. Bahkan pikirannya yang selalu berubah-ubah dan pandangannya yang berbeda pada tiap orang yang baru saja ditemuinya.

Jihyun sebenarnya masih merasa aneh ketika mendengar kalimat Lee Donghae yang membuatnya nyaris menghentikan napasnya. Maksudnya apakah Lee Donghae itu adalah seseorang yang mengalami gangguan psikis? Astaga!

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Romance, Fantasy

Ryeowook, Park Jihyun

PG-15

Art Chevelleanne

Inspired by @heenimk “Creepy K12S”

.

.

.

            Seseorang menyenggol pinggangnya pelan. Ia merasakan hal itu setelah beberapa saat terlibat dengan pemikiran kompleks yang berkecamuk. “Eh, ya?”

Perempuan paruh baya itu sedikit membulatkan matanya ketika mendapati putri kecil mereka yang benar-benar tak fokus dalam perbincangan yang agak formal.

Ah maaf, Jihyun memang sedang sedikit tak enak badan. Jadi dia sedikit tidak fokus. Maaf Jung-ah.”

Pria dan wanita didepan Jihyun tersenyum dan terkekeh memaklumi. Mereka terlihat tak segan-segan untuk memuji kembali Jihyun yang berada dihadapannya. “Haha, tidak apa-apa Ahra-ya, putrimu sangat cantik. Putraku sangat beruntung mendapat calon tunangan seperti Jihyun yang manis dan dewasa.”

Tunggu. Jihyun merasakan kejanggalan ketika mendengar satu kalimat tenang seakan tak terbantahkan tersebut. Perlahan ia mendongak dan menatap semua orang yang berada di sana satu persatu.

Meneliti wajah-wajah asing yang telah menua namun terlihat kontras dengan keadaan. Ia juga tak mengerti dengan perkataan mereka yang seolah hanya guyonan semata.

Jihyun berdehem pelan, lalu berkata. Mencoba menginterupsi, “Ah, maaf. Maksud kalian tentang ‘calon tunangan’ itu apa ya?”

Gadis itu kembali merasakan senggolan pelan di antara pinggang dan panggulnya. Namun, kali ini kompak kiri dan kanan. Seolah perkataannya yang normal itu menjadi irasional untuk laki-laki dan wanita paruh baya di sampingnya.

Aduh, maaf Jihyun-ah. Ahjumma lupa memberitahu detailnya padamu,” jawab wanita didepan Jihyun. Gadis itu mengerutkan keningnya. Merasa was-was dengan keadaan yang mulai tak stabil. “Tunggu sebentar lagi, putraku pasti akan datang. Dia sedang dalam perjalanan.”

Kenapa bertele-tele? Kenapa dia tak memberitahu Jihyun saat ini juga? Kenapa banyak alasan yang tak masuk akal disini? Dan kenapa Jihyun mulai mencium aroma ketidakwarasan di antara mereka. Well, satu-satunya orang yang normal disini adalah Jihyun.

Dan dia adalah tokoh utama yang benar-benar merasa bodoh.

Sesaat mereka kembali memasuki perbincangan yang tak jauh dari bisnis. Tentang banyaknya persaingan bisnis yang saat ini mulai tak jujur. Orang-orang yang mulai memanipulasi uang dan waktu dengan seenaknya. Dan Jihyun tak mengerti akan hal itu.

Ketika Jihyun akan kembali bertanya. Sebuah suara lembut menginterupsi di celah pembicaraan mereka. Menyela kalimat-kalimat yang beremeh temeh tersebut.

“Maaf saya terlambat.”

Mereka semua mendongak. Tersenyum lebar kala mendapati seorang pemuda dengan setelan jas semi formal. Memperlihatkan ketegasan pada pemiliknya. Dan itu membuat Jihyun masih bertanya-tanya dalam pemikirannya. Siapakah pemuda ini?

Karena posisi Jihyun dan pemuda yang membelakangi itu terlihat cukup aneh. Dia masih berusaha menerka-nerka siapa orang itu? Jangan-jangan…

Nah Jihyun. Ini putra kami. Ryeowook namanya.”

Tiba-tiba saja saat pemuda itu mendongak dan tersenyum manis, membuat napas Jihyun tercekat. Gadis itu sudah bisa menebak-nebak jika benar pasti ia adalah salah satu member Super Junior. Namun, bukan itu yang ada di otaknya saat ini.

Jihyun menoleh, ia mengernyitkan kening saat menatap kedua orang asing di sampingnya yang ia terka sebagai orangtuanya saat ini. “Ayah, Ibu. Dia… Ryeowook?”

Oke, Jihyun masih bisa mentolerir keadaan saat sedang seramai ini. Dia benar-benar tak berpikir jernih tentang ini semua. Sungguh. Ia ingin berteriak dan mengatakan ‘Aku bertemu Ryeowook dan duduk satu meja dengannya!’

Atau memikirkan cara untuk membunuh semua orang yang semeja dengannya dan menyisakan dirinya dan pemuda tampan luar biasa itu. Lalu akhirnya mereka bersama mendekam di penjara selamanya. Berdua.

            Baiklah. Otak revolver Jihyun mencapai batas maksimal mengerikan.

Tetapi dia masih mempunyai manner yang cukup baik dan tak akan melakukan hal yang cukup memalukan dirinya, terlebih orangtuanya. Atau negara tercintanya.

Ibu Jihyun tersenyum. “Ya, dan dia calon tunanganmu. Bukankah tampan?” bisik perempuan itu hati-hati. Ia tersenyum penuh arti. Tak memperdulikan almond itu yang mulai berubah berlipat-lipat.

Jihyun menoleh ke arah anak laki-laki yang masih tersenyum begitu manis padanya. Gadis itu agak sangsi ketika mendapati senyuman itu yang agak janggal. Gadis itu berdehem lalu berujar pelan, “Kau, c-calon t-tunanganku?”

Bahkan Jihyun merasa gamang dengan perkataannya sendiri yang mulai liar tanpa batas. Ternyata benar, hidup ini penuh dengan kejutan dan benar-benar membuatnya akan mati jika ia tak berpondasi pada suatu pemikiran.

Ryeowook tersenyum lebih lebar. Namun, bukan keadaan baik bagi Jihyun, gadis itu bisa merasakan aura aneh yang membentuk dan perlahan menguar dari balik tubuh Ryeowook.

“Ya… Noona.”

Noona?!”

.

.

.

.

.

.

.

.

            Pagi-pagi sekali Jihyun sudah terbangun. Tepatnya tak bisa tidur sejak beberapa jam yang lalu ketika mereka baru saja pulang dari restoran tempat mereka semalam bertemu.

Oke, ini masih terasa ambigu. Mungkin dia masih bisa percaya tentang pertunangan satu malam yang mendadak itu. Namun bukanlah hal tersebut yang menjadi masalah saat ini.

Hanya satu. Dan itu bagai sebuah jarum ditumpukan jerami. Seorang Kim Ryeowook memanggil Jihyun Noona? Noona?! Oh ayolah, gadis itu masih berusia tujuh belas tahun dan masih termasuk bocah untuk dipanggil Noona. Namun kenapa Ryeowook memanggilnya Noona? Jujur, ia benci, seolah dia memang sudah tua.

Padahal bukankah Ryeowook yang lebih tua darinya. Ini irasional sekali, sungguh membuatnya pusing.

Uh, aku sudah Noona-noona?! Benar-benar tidak bisa dibiarkan!” Jihyun mengumpat, mendeking garang lalu melempar bantalnya asal dan kembali menghempaskan kasar dirinya di atas ranjang.

Jika begitu, pertanyaan yang berkelebat selama ini adalah, ia akan ditunangkan dengan anak kecil? Itu bahkan lebih buruk daripada harus mengamplas seluruh dinding busuk di sekolahnya.

“Aku,” Suara Jihyun lirih berbisik. Ia mengusap wajahnya frustasi. “Pedofil? Aish, ini gila!”

Ya. Hidup memang gila.

Mengumpat adalah hal yang cukup lumrah jika dilihat dari posisi siapapun yang berada pada pihak Jihyun. Kenapa setelah mendapat parfum itu ia mulai mengalami delusi yang luar biasa tak terduga? Bukankah tujuan utama adalah dia hanya ingin sekotak parfum?

Dan Jihyun mengutuk benar karena bisa-bisanya mempercayai seorang wanita asing yang baru ditemuinya sekali tetapi sudah dipercayainya sampai ke ubun-ubun.

Gedoran cukup kuat membuyarkan kefrustasian Jihyun. Gadis itu benar-benar malas bergerak seinci-pun. Jadi dia hanya menggumam pelan untuk menunjukkan tanda-tanda kehidupannya.

Sayang, hari ini Ryeowook akan kemari untuk mengantarmu kuliah. Cepat mandi dan segera bersiap.”

Dan benar saja, pikiran buruk itu sudah menjadi kenyataan hanya dalam hitungan detik.

***

            Jihyun menekuk liar wajahnya. Dahinya berlipat ganda. Bersiku di ujung sudut keningnya. Ia menenggelamkan wajanya dalam balutan muffler-nya yang setebal gengsinya itu. Tak kuasa menahan malu ketika pemuda yang –katanya- lebih muda dua tahun darinya itu berpamitan pada kedua orang tuanya.

Mudah saja, pemuda itu seperti melakukan aksi pendekatan untuk menggaet perhatian lebih pada orang tua Jihyun.

Jika boleh disimpulkan, dari kejadian selama ia berada di dunia aneh ini. Ryeowook adalah orang paling normal di antara semuanya. Yah, setidaknya dari kelakuannya selama ini yang masih terlihat oleh jangkauan mata Jihyun.

Pemuda itu mempunyai kelakuan plus dimata Jihyun. Manis dan cukup sopan. Selalu memakai seragam rapi hingga tak ada seujung benang pun terjuntai dari balik celana seragamnya yang licin itu. Dengan tatanan rambut seorang pangeran. Oh yang benar saja jika seorang Park Jihyun tak tergoda dengan itu semua.

Noona, kenapa diam saja?”

Ah? Ya? Apa kau bilang sesuatu padaku?”

Jihyun menatap Ryeowook dengan pandangan bingung. Pemuda itu masih sibuk berkutat dengan stir mobil yang membosankan. Seolah benda itu lebih berharga dan penuh minat daripada sekedar melirik Jihyun. Uh, dan gadis itu sedikit kesal diacuhkan seperti ini.

Ryeowook tersenyum simpul. “Tidak, em, aku ingin bertanya padamu Noona.”

Gadis itu menengok sejenak ke arah anak itu lalu melengos, memilih melihat keramaian jalan yang cukup menguras otaknya. Ryeowook terlalu manis!

“Apa kau menyetujui rencana pertunangan ini Noona?” Ryeowook bertanya pelan. Takut-takut dan terlampau pelit berkata-kata. Seolah lidahnya sudah tergelincir dalam kalimatnya sendiri.

Dengan frekuensi cepat Jihyun menoleh. Ia masih tak percaya dengan pertanyaan Ryeowook yang sepertinya aneh untuk didengarnya. Seorang Kim Ryeowook melamarnya?! Eh, jangan senang dulu Jihyun. Tenang. Ini hanya fantasy. Jangan sampai terbuai dengan kata-kata itu. Jadi, gadis itu lebih memilih duduk tegap lalu menarik napas dengan dermawan. Sampai ia tersedak dengan memalukannya.

Jihyun menjawab dengan nada datar percampuran gugup yang berusaha ternetralisir. “Uh? Aku? Jika memang begitu, aku hanya bisa menuruti permintaan Ayah dan Ibu. Lagipula… ah lihat saja nanti.”

Benarkah? Apa ini jawaban yang keluar dari mulut seorang Park Jihyun yang selalu menjerit di depan layar pencahayaan redup dan berteriak berlebihan ketika mendapati eternal maknae mengupload foto super cute? Dan nilai seribu karena dia berhasil menenggelamkan egonya yang aneh tersebut.

Tiba-tiba Jihyun memekik tertahan. Nyaris membuatnya mati terduduk ketika Land Cruiser itu berhenti mendadak di tengah jalan tol! Catat itu!

YA! Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhku?!” pekik Jihyun. Gadis itu melepas muffler lalu mengusap lehernya yang merinding kaku. Dan mencoba menjinakkan degupan mengerikan tersebut.

“Kau menolakku?”

Apa?

“Secara tak langsung kau tak menyetujuinya?!”

Sekali lagi?

YA! Bicaralah Park Jihyun! Kau menolak bertunangan denganku hah?!”

Tunggu dulu! Apakah cerita ini masih sama? Apakah kronologi alur ini adalah si anak manis eternal maknae yang super cute? Lalu, kenapa karakternya berubah begini? Apa.. apakah itu tadi seorang Ryeowook yang tadi pagi mencium tapak suci kedua orang tua Jihyun dan berteriak barusan? Berteriak?!

Jihyun melongo. Wajahnya jelas terlihat kaget. Apalagi ketika mendengar klakson di belakangnya yang menjerit kesal. Sedangkan pemuda manis itu malah menyeringai ke arahnya. Melihatnya dengan pandangan sinis dan senyuman miringnya yang terlihat bagai Freddy Kruger bagi Jihyun.

“R-Ryeowook?” panggil Jihyun takut-takut ketika menyadari wajah Ryeowook yang mendekat ke arahnya. Mengeleminasi jarak antar wajah dan merasakan pandangan pemuda itu yang benar-benar di luar akal sehat terliar Park Jihyun.

Pemuda itu meraih muffler Jihyun yang masih berada di sekitar lehernya lalu dengan beraninya mengusap permukaan sudut leher gadis itu. Mendekatkan hidungnya disana dan menghirup aroma Annick Goutal’s Eau d’Hadrien yang menyenangkan yang segar dan mewah. Berbekal ketajaman intuisi yang mengeksplorasi harum perpaduan citrus blend, lemon sisilia, grapefruit dan cypress.

Jihyun menahan teriakannya dan kali ini menggigit bibir bawahnya takut-takut. Berkejaran antar gigi atas dan permukaan bibirnya dengan kasar. Ia tak menyangka pemuda yang lebih muda darinya melakukan hal itu. Terlebih mereka berdua hanya sendiri. Fakta yang membuat gadis itu makin ketakutan. Ingin rasanya ia meringkuk dan pulang ke dunianya.

Tersenyum dalam hati. Ryeowook merasakan getaran tak kasat mata dari gadis itu ketika ia masih berusaha memasuki segala wewangian yang bagai candu baginya. Ia tak menyangka jika gadis ini bagai heroin untuknya. Aspirin ketika sakit kepala dan oksigen ketika bernapas.

Ia tak bisa menahan diri lagi ketika berdekatan dengan gadis yang baru ditemuinya beberapa hari yang lalu namun sudah membuatnya bagai orang tak waras. Namun, bukankah kali ini ia bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkannya?

Getaran dalam tubuh Jihyun semakin menjadi-jadi kala pemuda itu mulai memberikan penekanan bibir manisnya di lekukan lehernya. Mengecup kecil-kecil, perlahan lalu mulai menjadikan dirinya bagai lollipop yang manis. Tak kalah mengerikan ketika memakan permen tersebut. Pemuda itu melumatnya lembut lalu mulai menghisapnya. Seakan semua itu miliknya. Menegaskan jika ini milikku! Tak ada yang boleh merasakannya kecuali aku!

Tak berusaha kalah dengan ketakutan. Jihyun kini dengan lengan gemetaran mendorong lengan anak lelaki itu lalu berdoa dalam hati. Ia tak mau membuat dirinya merasa lebih rendah dari harga dirinya sekalipun.

Namun bukan itu makna yang tertangkap oleh Ryeowook. Ia malah menafsirkan jika gadis itu benar-benar menginginkannya. Jadi, dia menahan sebelah sikunya untuk terpusat pada kotak hitam di tengah mobil lalu dengan telapak tangannya yang menganggur, dia menahan arah gerakan wajah gadis itu dan semakin membenamkan wajahnya disana. Dan ia yakin gadis itu akan benar-benar marah jika melihat hasilnya nanti.

“Wookie-ah. K-kau, engh. L-lepaskan…” Susah payah Jihyun memberontak. Namun pemuda itu bukannya menarik diri, malah semakin gencar melakukan aksinya. Dan kini gadis itu sedikit bernapas lega kala wajah Ryeowook sudah hadir di hadapannya. Pemuda itu tersenyum manis kembali. Seperti bocah kecil.

            Dan kesimpulannya adalah. Kim Ryeowook bermuka dua!

Dengan wajah malaikatnya, anak lelaki itu mengulurkan ibu jari dan mengusap bibir atas Jihyun, menekannya dengan lembut, lalu berkata, “Tapi Noona. Aku belum merasakan ini. Aku ingin ini.” pinta Ryeowook manis. Hah, jika seperti ini. Bagaimana seorang Park Jihyun untuk menolaknya?!

“A-apa? Eng, bukankah kita harus segera sampai ketempat kuliahku? K-kau juga harus sekolah ‘kan?”

Anak laki-laki itu mengerucutkan bibirnya. Alih-alih untuk menarik kembali ibu jarinya. Ia malah tersenyum lebih lebar lagi. Namun perlahan berubah menjadi seringai menakutkan.

Meniup wajah Jihyun sekilas, lalu meretas jarak mereka. Hingga membuat almond gadis itu makin melebar. Tak sadar jika ia menahan napas kala pemuda itu mengecup hidungnya lalu mengulum hidung itu dengan gemas.

Nah, sekarang kita berangkat ya Noona!”

Sepanjang perjalanan itu. Yang dilakukan Jihyun adalah berdoa lalu berusaha terkekeh kala anak lelaki itu melontarkan candaan basi. Bagaimanapun, sekarang ia mulai mengerti dengan keadaan Ryeowook. Bahwa pemuda itu benar-benar psikopat pemaksa dengan wajah yang super manis.

Dan ia tak menyangka, jika takdir membawanya untuk melihat masa depan mengerikan Ryeowook. Ataukan masa lalu?

***

            Siang begitu panas. Namun tak menyurutkan kelakukan seorang gadis yang sedari tadi berkutat dengan pemikiran pribadinya.

Bagaimana cara aku kabur. Bagaimana cara supaya aku tak dapat bertemu dengannya?

Adalah topik utama dalam pembelajaran otaknya. Sebegitu sulitkah hidupnya kini?

Ia bersandar dalam. Menopang kakinya di antara akar-akar panjang pohon aneh yang menjadi tempat naungannya. Kendati sudah sedikit lega, namun misi pengenyahan seseorang masih menyumbat di kepalanya.

Jihyun kembali akan mengubah cara duduknya ketika mendapati sebuah material lembut menyapu pipinya. Ia terkejut. Amat sangat terkejut.

Ryeowook berdiri. Memasang wajah polos minta dipukul. Seolah semua tadi hanya hobi belakanya saja. Masih berusaha menekan dalam-dalam pikiran terakhir itu. Cukup gila jika Jihyun melakukan pembalasan untuk meluruskan kembali otak anak laki-laki itu.

Noona, apa yang sedang kamu kerjakan? Melamunkan aku?”

A-apa? Sejak kapan anak psikopat ini mengatakan aku-kamu?

Alih-alih menjawab, Jihyun kembali melemparkan protes tak setujunya. Ludahnya bahkan menyembur kemana-mana. “Kau pikir hebat bisa melakukan hal seperti itu?”

Bibir mungil Ryeowook mengerucut. Warna plum yang begitu bersinar. Astaga Jihyun benar-benar pedofil. Bisakah panggilkan Koroner sekarang?

Anak laki-laki itu mengeluarkan dua kotak sandwich yang aromanya begitu menggiurkan. Fokus membukanya tanpa memperdulikan tatapan sengit Park Jihyun.

“Aku bolos untuk bertemu Noona. Aku ingin makan siang bersama Noona. Memangnya aku salah?” Ia bertanya polos. Begitu polos. Wajahnya yang seperti anak bayi begitu menipu, tingkahnya yang imut menjadi tameng untuk memperdaya semua orang. Sial! Ini akan sulit.

Seberapa kesal gadis itu, ia tak akan tertipu dengan wajah bayi Ryeowook. Namun jika sudah melakukan aegyo di depannya, sulit sekali untuk tidak luluh. Oh siapa sih yang akan marah pada seorang Kim Ryeowook jika sedang merajuk?

Jadi akhirnya Jihyun mengangguk, menerima satu sandwich dengan lemas. Sedangkan Ryeowook tersenyum lebar. Nyaris merobek mulut. Mereka terdiam beberapa saat hingga bibir kecil anak laki-laki itu kembali terbuka. Berbicara. Berceloteh panjang lebar hampir menghabiskan jatah suara untuk hari ini.

Kenapa kau begitu manis saat seperti ini?

***

            “Ayolah Noona. Kau harus mau. Aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku.”

Astaga. Bagaimana bisa anak ini berkata akan mengenalkan dirinya di depan teman-temannya? Apa dia tidak punya otak? Mereka bisa-bisa mengecapnya sebagai Noona-noona pedofil. Itu… mengerikan.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam tanpa menghembuskannya. Hingga ia tersedak dengan bodohnya. “Tidak Ryeowook, aku hari ini sibuk. Kapan-kapan saja ya?” Jihyun menawar. Ia tahu konsekuensinya. Pasti sebentar lagi anak itu akan merajuk, lalu bertindak diluar-pikiran-orang-dewasa.

Anak laki-laki itu menyipitkan matanya. Tangannya meregang sekejap lalu tidak lama kemudian ia kembali menarik pergelangan Jihyun dan menyudutkan gadis itu di celah lemari yang terbuka. Oh ini bahkan diluar perkiraan!

Sebelah tangan Ryeowook menggantung, menahan pintu pertama lemari agar tidak menutup, atau mungkin menyakiti mereka berdua. Ia terkukuh, masih memberi tatapan dingin, terdingin yang pernah terlihat selama ini.

Noona,” Suara Ryeowook bagaikan xanax, mematikan, memabukkan. Tetapi begitu berbahaya. Ini salah, posisi ini tidak baik. Pemuda itu memiringkan bibirnya. Sengaja mendesah lalu menutup matanya. Membuka kembali dalam beberapa detik. “kau benar tidak ingin ikut denganku malam ini?”

Jihyun merinding. Anak laki-laki ini benar-benar penuh tipu muslihat. Matanya masih berusaha mengambil lorong-lorong celah dari sisi-sisi tubuh pemuda itu. Tetapi seperti mengerti, Ryeowook lebih mencondongkan tubuh. Seakan memberi baret-baret di wajah gadis itu.

Eum, bisakah kau menjauh sebentar dariku? Aku akan memberi jawaban. Tetapi bisakah geser sedikit?“

Begitu cerdas, bahkan tak ada tanda-tanda gugup mendadak atau pemikiran yang jatuh dalam dasar jari-jari kakinya.

Anak laki-laki itu tersenyum cerah. Wajah bayinya terlihat lagi, tapi pada detik berikutnya matanya seolah berubah warna, ada warna-warna licik dan ketegasan di dalamnya.

Jihyun ada dalam kondisi berbahaya!

Bibir Ryeowook mengerucut lucu. Jika saja pikiran anak itu tidak tertukar dengan Eunhyuk pasti ia sudah mengecupnya. Menyembunyikan dalam-dalam.

Eh? Tunggu! Kenapa pikiranku mendadak rusak?!

Suara Ryeowook mengalun pelan. Terlalu indah untuk dibungkam. ”Hei Kim Jihyun. Kau melihat bibirku seperti ingin memakannya saja. Kau ingin mencicipinya?“

Sialan! Dia bukan anak-anak lagi!

Jari-jari pemuda itu merasuk dalam surai halus rambut Jihyun. Memilin dan memainkannya, tak peduli gadis itu yang nyaris kehabisan napas. Bahkan dia sengaja memperpendek jarak mereka. Hingga gelap, bahkan lampu kamar Jihyun yang terang tak dapat lagi masuk ke dalam lemari. Celah itu hampir tertutup dan meninggalkan napas mereka yang memburu.

Ini memalukan.

Namun sayang, gadis itu sudah terlanjur masuk dalam sentuhan pemuda itu. Bahkan ia memejamkan mata dengan lembut.

Hingga pada detik kesekian, ia mendengar tawa halus. Perlahan mengeras dan tiba-tiba saja melengking. Jihyun membuka matanya dan menemukan Ryeowook sudah terduduk di lantai sambil memegangi perutnya.

Ia-dibodohi-oleh-bayi.

YA! DASAR BOCAH SIALAN!”

***

            Masih dengan rajukkannya gadis itu akhirnya mengiyakan permintaan Ryeowook. Ia bersandar dalam-dalam pada sofa empuk di ruangan tersebut sedangkan tangannya berusaha melindungi telinganya dari getaran tinggi di dalam tempat ini.

Seorang gadis remaja seumuran Ryeowook dan kekasihnya sedang menggila di hadapannya. Bernyanyi dengan alunan nada sumbang yang membuat siapapun ingin mati saat itu juga.

Termasuk Park Jihyun yang ingin sekali menyeburkan dirinya dalam samudra Atlantik. Please?

Noona, kenapa diam saja? Apa kau tidak suka dengan teman-temanku?” Ryeowook bertanya dengan nada polos kelewat kurang ajar. Ia duduk dengan manis di sampingnya, menghabiskan segelas minuman berwarna pink dan bunyi ting ting ting ketika dasar gelas itu terlihat dan menyenandungkan suara es batu yang masih utuh. Uh, apa itu penting?

Suara duk duk duk di otak Jihyun bergemuruh. Ia nyaris terserang flu perut saat itu juga. Matanya memicing. Bibirnya menyungging senyum sinis terlihat jahat. ”Menurutmu? Uh apa mereka tak pernah dididik sopan santun di sekolah?” Oh aku juga, mungkin mereka masih bisa ditolerir ketimbang diriku. ”Lihat! Gadis itu suaranya begitu jelek!”

Ryeowook terkekeh sementara kekasih dari gadis itu sudah memelototi Jihyun dengan pandangan kesal yang luar biasa namun teredup begitu saja ketika Jihyun berdiri lalu menunjukkan kepalan tangannya yang tak biasa.

Gadis itu mempunyai buku-buku jari yang sangat keras untuk membunuh seseorang.

Di dalam ruangan itu ada tiga pasang kekasih dan sepasang kekasih yang akan bertunangan. Namun pasangan terakhir itu benar-benar mirip Marry dengan dombanya. Perumpamaan yang begitu alamiah.

Akhirnya hari itu ditutup dengan nyanyian sumbang semua orang di sana. Termasuk Jihyun yang begitu bernyanyi, semua orang terlanjur ingin menangis.

***

            Jihyun benar-benar merutukki Ryeowook. Tidak dalam hati namun dengan serapah mengerikannya. Ia bahkan melepas high hells-nya dan melempar tepat di kepala Ryeowook.

Anak laki-laki itu bukannya marah malah tertawa riang. Seolah menganggap hal itu sebagai latihan pertahanan diri sebelum tidur di ranjang yang sama. Dasar gila!

”Aku ’kan hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Noona. Apa salahnya sih?” Adalah jawaban seorang Kim Ryeowook saat Jihyun bertanya. Dan pertanyaan itu diajukan berulang-ulang. Mirip iklan murahan di pinggir jalan.

Dengan segenap kekesalan, Jihyun menghirup dalam-dalam aroma musim semi malam itu. Melanjutkan langkahnya untuk segera sampai di rumah. Dan membanting dirinya di atas ranjang aroma pepermint itu.

Sepanjang perjalanan tak terlewatkan setitik pun alphabetis yang terucap dari bibir kecil Ryeowook. Anak laki-laki itu selalu saja mempunyai sebuah bahan pembicaraan untuk dilontarkan. Tanpa terkecuali.

Hingga pada beberapa kilometer, kaki-kaki Jihyun mulai perih. Ia terduduk di pertengahan jalan yang sepi dan menghempaskan sepatunya begitu saja. Ryeowook di sana, tertawa tanpa beban, seolah ini pemandangan yang begitu menakjubkan.

YA! Jangan tertawa! Gendong aku cepat!”

Gadis itu berteriak. Suaranya menggema tetapi dengan cepat memantul hingga lenyap terbawa angin. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekat. Ia berlutut di hadapan Jihyun lalu menarik lembut dagu gadis itu.

Ada pikiran penyimpangan sosial dan segala pembelajaran dalam hak asasi manusia yang tiba-tiba saja berkelebat di dalam benak gadis itu. Ia berpikiran bahwa sebentar lagi mungkin anak kecil tidak waras di depannya akan melakukan ohuh atau oke, tak perlu diperjelas lagi.

Namun cengiran Ryeowook tiba-tiba saja muncul dan jarinya dengan keras menyentil dahi gadis itu. Hingga berbunyi bagai retakan kayu.

Selang beberapa detik Jihyun berteriak. Ia memukul kepala Ryeowook dengan buku-buku jari tengahnya. Well, itu sama. Satu di pihak orang tua dan satu di pihak bocah sinting.

”Aduh. Kau gila!” Hidup itu memang gila. ”Sembarangan saja memukul kepalaku tersayang. Bagaimana jika aku berubah idiot?!”

            Lihat lihat. Bahkan dia tak memanggil dengan embel-embel Noona dan tanpa berucap nada manis menggelikan?

            Jihyun melengos. Ia mengabaikan teriakan-teriakan manja Ryeowook lalu meluruskan kakinya. Tak memperdulikan jika ini masih di tengah jalan. Jihyun memijat betisnya yang terasa kebas itu. Dan Ryeowook tak membantu sama sekali.

Lantas karena merasa diabaikan, anak laki-laki itu melakukan hal yang sama. Duduk di atas aspal yang hangat sambil memandangi langit tak berbintang.

Park Jihyun paling benci jika keadaan hening padahal ada orang yang menemaninya. Sebenci ia pada sifat kakaknya yang hobi melempar-lempar celana dalam padanya. Itu tak layak untuk dipikirkan.

Ryeowook berdehem, ia juga tak begitu suka di hadapkan dalam situasi seperti ini. ”Noona, apa kau tahu arti dari bahagia?”

Sekonyong-konyong gadis itu mengalihkan arah. Menatap Ryeowook sejelas mungkin. Berusaha mencari-cari sesuatu. ”Apa tadi kau yang bicara?”

Bodoh. Idiot. Ingin sekali Ryeowook membunuh atau menenggelamkan gadis itu ke dasar sungai Thames saat ini juga. Ah terlalu jauh, bagaimana jika sungai Han? Dan kenyataan harapan gadis itu akan terjadi.

Eee iya, maaf. Ku kira siapa. Begitu aneh saja kau tiba-tiba bertanya seperti itu.”

Jihyun segera mendongak saat melihat tatapan frustasi pemuda itu. Memang salah jika berkata seperti itu? Harusnya dia sadar jika ini pertama kalinya dirinya bertanya begitu. Mungkin otak pemuda itu sudah kembali ke dalam tempatnya.

Perumpaan menjijikkan.

Pikiran gadis itu masih terbagai beberapa bagian. Bercabang di beberapa tempat. Ada kalanya ia berpikir kenyataan bahwa Ryeowook sangat manis namun ada saatnya pula anak laki-laki itu tidak berpikir dulu sebelum berpikir.

Ryeowook sebenarnya anak yang baik, terlepas dari pergaulannya yang begitu kompleks bersama teman-temannya yang aneh. Mungkin dari semua dalam dirinya sudah terkontaminasi virus kelakuan dari mereka.

Angin hangat perlahan-lahan merasuki mereka masing-masing. Tanpa permisi dan itu membuat mereka nyaman. Udara hari ini cocok sekali untuk sekedar tersenyum menatap langit. Namun kontras, suasana di sana tak begitu mendukung.

Tiba-tiba saja bahu kiri Jihyun terasa berat. Ryeowook meletakkan kepalanya dan tanpa mengucapkan permisi atau sekedar ’hai Noona, bahumu nyaman. Bantal yang sehat untuk kesehatan.’

”Bahagia itu artinya, aku denganmu dan Noona denganku. Jadi kita selalu bersama Noona-ku sayang.”

Tersentak penuh kesadaran, gadis itu lantas berdiri. Masih diliputi perasaan terpelanting yang begitu dahsyat dan kaki-kaki yang mengeras seketika. Serta wajah penuh kebodohan menganga tanpa sebab. Bodoh sekali kau saat ini Park Jihyun.

Gadis itu mengusap ke dua telinganya. Barangkali tadi hanya polusi udara atau gumaman mustahil Ryeowook ketika mulai mengantuk dan ingin segera terjun dalam lembutnya ranjang besar dengan susu kotak di tangannya.

            Tak bermutu sekali.

”Ya Noona, apa yang kau lakukan? Sakit.”

Bahkan rengekkan anak laki-laki itu bagaikan kalimat seperti, Noona, mau tidur denganku? Atau Noona, aku akan menemanimu sampai pagi di ranjang yang sama kita bermimpi indah. Atau mungkin bayangan laki-laki itu yang mencuri baju tipisnya dan menari hawai dengan hotpans.

Oke, cukup tahu jika udara malam akan membuat seseorang berpotensi mengalami kegilaan.

Aku gila. Benar-benar gila dan tadi pasti hanya bisikkan iblis yang mencoba menggodaku agar tak melaksanakan tugas Ahjumma menyebalkan itu.

Ryeowook yang melihat Jihyun sedang mondar-mandir dan mengibas-ngibaskan poni itu lantas mengerutkan kening dalam. Apa ini sindrom calon pengantin yang sedang gugup?

Baiklah. Sepertinya kegilaan itu bisa menular dengan cepat.

”Tadi…” Jihyun menatap Ryeowook dengan sebelah mata. Pura-pura menjadi Johny Deep dalam beberapa detik. ”kau mengatakan sesuatu dengan desahan? Maksudku kau berbicara lembut, baik dan umoh kau seperti menggodaku? Apa aku tuli atau tadi itu benar-benar-”

Lalu yang terdengar hanya napas kembang kempis susah bicara. Seperti menelan ribuan acar yang membuat gadis itu benar-benar ingin membunuh Ryeowook saat ini juga.

Noona! Mau kucium huh? Diam atau cium?”

Cium!

Oke, abaikan yang tadi barusan.

Tanpa banyak bicara lagi. Ryeowook sekejap berbalik arah. Memunggungi Jihyun dan menarik kaki gadis itu serta ke dua lengannya. Sebenarnya anak laki-laki itu berniat membopong Jihyun seperti ingin membuang kayu-kayu termakan rayap atau sejenis kuli dadakan. Tapi ia tak setega itu. Mungkin nanti jika sudah sampai di dalam kamarnya. Berdua. Mati lampu. Gelap dan-

Well, Ryeowook hanya senyum-senyum menjijikkan sebagai tambahannya.

***

            Pukul sebelas malam mereka pulang.

Demi Tuhan. Ryeowook menyesal menawari gadis itu untuk tertidur di bahunya. Pemuda itu ingin menjadi superhero dadakan yang manis dan berkelakuan Peter Pan. Namun dia amat sangat menyesal.

Dengan tidak tahu malunya gadis itu malah mendengkur dan meneteskan banyak air liur di bahunya.

Dan lebih baik dia menerima muntahan daripada hal seperti ini. Ryeowook ingin menangis.

Tetapi sesaat setelah melihat wajah Jihyun yang terlihat lelah. Ia jadi tidak tega untuk meniduri gadis itu. Pikiran anak itu memang terlalu kompleks. Kadang tak beradab tetapi untunglah ia mengurungkan niat tersebut.

Mungkin besok?

Jihyun tertidur seperti anak kucing. Meringkuk dengan menyedihkan tetapi begitu damai. Tersenyum dalam diam, Ryeowook ikut merebahkan diri di samping gadis itu.

Mengagumi lekukan wajah Park Jihyun.

Walaupun tak seperti kebanyakan gadis yang pernah dikencaninya, tetapi Jihyun memilikki pesona tersendiri yang dapat membuatnya melupakan sejenak kegiatan rutinnya melaksanakan malam minggu dengan banyak wanita-wanita dewasa di club.

Jari-jari lentik Ryeowook menyusuri atas hidung gadis itu. Ada semacam kesan tersendiri dengan semua yang terpatri abadi di wajah Jihyun.

Ia berniat mengecup kening Jihyun. Namun sesaat setelah melirik sedikit. Akhirnya ia tersenyum miring. Kembali menjadi seseorang yang jahat dan tak berotak.

Tersenyum dalam diam, ia mengecup perlahan plum merah muda yang bersinar itu. Tak ingin membuat jiwa singa terbangun cepat. Dengan segera ia meletakkan lengannya di atas dekapan gadis itu.

Tubuh Jihyun begitu pas dalam pelukannya.

Dan ini pertama kalinya ada perasaan memupuk yang begitu besar dalam jiwa gadis itu ketika perasaan tak terkirakan dalam akhiran yang menyedihkan kembali dalam tahap pertama.

            Bahagia itu adalah dirimu.

TBC

            chochangevilkyu’s note:

*purapuragabersalah*

Maafkan ay ya semua, sumpah ini ngadat kan? Maaf deh, karena ini baru jadi.

Dan karena ada yang bilang kemarin terlalu pendek, aku buat chapie ini 16 page.

Seneng kan seneng kan? Harus pokoknya! *maksadeh*

Chapie ini juga kupost sehari sebelum ulang tahunkyu yang ke sweet sepentin, karena besok aku ultah yeee hihi *gapenting*

Dan maaf ya kalau bang ganteng kunistain di sini </3

Aku yakin juga part ini ngebosenin, jadi kalau bosen baca, mending setop/?

Okedeh, maaf panjang. Oh ya selamat setengah puasa dan setengah lebaran*?*

Ace chochang kelaparan 

cooltext846166519

Iklan

20 responses to “Thir13een Parfume Volume 11

  1. OH NOOOOOO
    #bahagiaitusederhana
    WHAT ON EARTH ARE U DOING KIM RYEO WOOK ???
    astagaaaaaaa
    apa ryeo sejenis psikopat
    paraaaah
    kenapa dia sangat mencintai skinship mengalahkan Oppa tampanku si raja yadong
    Aigooo
    dan WHAT DO U THINK Park Ji Hyun ??!!
    hahahahaha
    aku suka pernyataan2 Ji Hyun di dalam pikirannya hohoho

    Fighting ^^~

  2. Mengap mengap ini bacanya bingung sama si ryewook, itu anak aku bacanya ikutan gemesssh saama dia, btw udah itu endingnya tuh? Gak kependekan kok dan aku suka chap ini^^

  3. dan.. jihyun jd pedofil astaga.. keinget diri sndri *jduakk *curcol XD
    gapapa wwokkie brondong imut unyu kok XD thorr plis thor puasa ku makruh ini baca ginian pagi (?) *lahh -.-
    lanjutannya donggggg yayayayaya?? ^^

  4. Ceritanya cukup keren,,tpi wookppa knpa sih,,kdang baik kadang kyak dya yng lebih dewasa,,pdhal d’ceritanya jihyun yng lbih dewsa,,haddeuh,,
    tpi daebak deh 🙂

  5. thor….. apa yang kau lakukan terhadap ryeowoookkk.
    kenapa.. kenaPAA.. KENAPAAAA?!
    itu kenapa ryeowook jadi begituuuuuu ?? huaaaaaaa T^T
    skinshipnya jauh jauh jauh lebih parah dari si raja yadong sendiri omg T.T
    btw Happy B’day ya thor ^^ #plak #udahlewat=_= #abaikan

  6. aigoo, itu bneran kim ryeowook eternal magnae dr suju?
    ngg salah? ap emg d blik wjah polosny trslubung wjah evil? astaghfirullah,,
    part ini rada kurng greget thor, hehe
    eh iy, met ultah thor, maaf telat ngucpinnya,
    smoga sukses.

  7. saengil chukkae saeng. hhaaa baru 17 tahun sudah bisa berimajinasi seperti ini bersama suami-suami ku hiyaaa*digaplok* ceritanya benar2 nyentuh ni aku suka quotes disini cute tapi nakal hahahaha

    • Astaga aku dapet kakak kyaaa *peyuk hihi
      Thankyuu kakak cantik, tapi tulisanku itu masih flat dan naik turun sesuai mood u,u
      Baiklah suami suamian :p
      Cute tapi nakal? Lucu hihi.
      Kadonya mana kak? 😮

  8. wookie ga polos lagi, udah ketularan unyuk XD
    eh, aku suka kok part ini, ga ngebosenin, malah bikin senyum2 sendiri
    Marchi, pw buat last part masih sama kan yah?
    kok aku masukkin password, tapi ga mau yah…
    udah penasaran ma akhirnya padahal..

  9. kim ryeowook, jadi bad boy juga tapi jadi baby juga.. kyaa.. ga bisa bayangin wookie jadi mesum mirip eunhyuk #plak.. kekeke… ahh noona… kyaa,,, kebayang ryeowook manggil manggil noona ke saya.. dan sayangnya saya bukan noonanya dan itu bagus(?)

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s