O B S E S S I O N

Wanita itu membeku, merasakan pahit yang merengkuh tulang-tulangnya tanpa ampun.

“Sebaiknya segera lupakan halusinasimu. Itu semua tak akan benar-benar terjadi.”

Myungsoo mundur beberapa derajat. Berjalan lagi satu langkah ke depan. Satu langkah lagi lalu berhenti. Menatap kepingan mata Aejung dalam-dalam. Ia merasakan tatapan itu terlalu tajam tetapi begitu kosong. Myungsoo mengusap atas bibir Song Aejun dengan lembut. Menutupi matanya dengan kuncian sebuah ciuman lembut yang membawa Aejung dalam hempasan terlalu dalam.

Ia tahu, ini tidak akan pernah berakhir.

obsessions 2

chochangevilkyu

Disclamer of Woollim Entertainment

Infinite © Copyright

Kim Myungsoo, Song Aejung

Angst, Lime, Romance

            Titik didih dalam diriku sudah mencapai batas. Seharusnya aku tahu hal itu akan terjadi. Seharusnya aku tidak bodoh. Seharusnya aku tak pernah menahan lengannya. Atau merengkuhnya dalam keegoisanku. Kenapa penyesalan selalu datang terakhir?

Aku begitu bodoh dalam artian yang sebenarnya. Aku munafik dan terlalu idiot. Aku merasa Tuhan sangat tidak adil dan memberiku sesuatu yang membuatku hidup dalam keminiman perikemanusiaan yang datang silih berganti. Aku merasa hidup ini menjadi sebentuk keadaan dalam teater yang kubuat dan bangku kosong yang tak pernah terpenuhi. Ini terlalu sulit.

“Jungie,” Aku diam. Kini perumpaan adalah aku sebagai anak Tuhan tapi tak menjadi pengikut dalam ajarannya. “-kau harus makan sayang.”

Suara itu dulu bagai pesona dalam sangkala. Siap mencumbuku dalam berbagai keadaan yang menyenangkan. Tetapi kenapa saat ini suara itu bagaikan gesekan Karlmeyer yang siap mencabut perlahan tulang sendiku?

“Kau sudah beberapa hari ini tidak berbicara. Tidak makan,” Ia berhenti, sengaja melakukannya atau hanya sebagai manifest untuk pembicaraan panjang dalam jangka kelanjutan sebuah pemikiran defensif yang siap kuterima lagi. Terlalu gamblang. “kau tahu, aku mencintaimu. Tapi kenapa kau selalu membawaku ke dalam sikapmu yang jauh membuatku merasa bimbang.”

Karena aku tidak bisa. Itu tak akan pernah terjadi. Semuanya telah berlalu. Bagiku dicintai dan mencintai adalah satu masalah kalbu di area teritorial hidupku. Itu semua hanya kilas balik masa lalu yang tak akan pernah terjarah.

Hatiku sudah membeku. Tersadap bongkahan es dalam makna kias yang semakin terjal. Aku takut. Secara anjungan, ini hidupku. Harusnya aku yang menjadi kapten dalam perintah otakku. Tapi sayang, takdir lebih ingin bersamaku untuk bermain. Memainkan peran dalam sebuah kualifikasi yang tak terdaftar.

Aku mendengar desah napas yang tak teratur. Seolah membawa kenangan pahit dalam impian. Aku tahu ia berusaha menjadi lebih munafik. Tetapi sayangnya aku yang berkuasa dalam sebuah kemunafikkan tiada tara. Terlanjur jatuh dalam kesakitan luar biasa yang merajahi jantung-jantung dalam kepalaku.

“Kau tahu, aku tak akan pernah menyia-nyiakanmu,” Brengsek. Tetapi ini takdir yang membuatku selalu merasa bersimbah kucuran raksa. “dari dulu aku selalu percaya akan hal itu sayang. Mungkin memang sudah takdir jika kita akan selalu bersama. Aku bahagia bersamamu Jung. Bahagia.”

Takdir itu bodoh. Dalam ungkapan halus, adalah sebuah jeruji di dalam alam liar yang siap mengukungku. Mustahil jika ia bilang seseorang itu akan bahagia. Itu kenyataan, namun hanya dirinya yang merasakan. Sedangkan aku? Terluka dalam desahan melodi yang siap memainkan nada dalam bisikkan neraka. Karena tidak satu pun manusia yang akan bahagia jika dosanya belum tuntas terbakar api. Terjilat dalam jurang yang sulit tergenggam.

Myungsoo mendekapku. Jari-jarinya yang halus menggiringku untuk memasukki dunianya kembali. Aku ingin mengelak dan menolaknya atau mungkin mencecarnya dalam segelintir kalimat sengau. Sayangnya, yang dapat kulakukan hanya diam. Membebaskan senduku dan menguarkan aroma ketidaksenangan.

            Yang tak mungkin tercium olehnya.

***

            Aku tidak tahu sejak kapan jiwaku melayang tinggi. Membumbung di antara kapas berarak. Menembus luka dalam hati hingga menjadi sebuah butiran-butiran serasah kepingan kayu-kayu lapuk.

Kelanjutan dalam hidupku sudah terlupa. Terlalu banyak hal yang kulewatkan hanya untuk sekedar menoleh. Bersapa. Atau mengukir satu nama di antara celah-celah pohon dan lebih memilih terbenam bersama iblis bermata sayu dan sayangnya terlalu indah.

Aku memang bodoh. Tidak berotak dan memang, aku terlalu idiot.

Kedua lengan itu, yang dahulu mendekap erat, kini menjadi sebuah topangan tanpa tulang. Mengikis raga secara perlahan. Rahang yang begitu indah dan kubanggakan, kini mulai luruh bersama dengan perasaan sakit yang terlalu mendalam. Dan semua yang ada di dalam wajahnya, yang dulu selalu kukecup, kuusap tanpa letih, kini menjadi wajah yang seiiring kehidupan selalu menjadi mimpi buruk dalam latar lelapku.

Sayang, buka matamu. Apa kau lelah hm?”

Lelah. Begitu lelah hingga rasanya aku ingin mati. Namun sayang, semua kalimat-kalimat itu hanya dapat bermain liar di dalam kepalaku. Menggantikan hitungan jam tiap harinya.

Laki-laki itu kembali mendekapku. Menyentuhku tanpa batas dan aku sudah ingin menjerit ketika tubuhnya ingin memulai kembali. Menjadikan kami dalam satu ruang dan suaranya yang terasa bergetar.

“Buka matamu. Aku mencintaimu Song Aejung.”

Kalimat itu selalu diucapkannya dalam-dalam. Menatapku sambil menyentuhkan lipatan kedua bibir tipisnya pada tiap inci tubuhku. Dan setelah kalimat itu pula, siksaan perih kuterima lagi tatkala dirinya menyempurnakan posisi untuk memasukkiku lagi.

Dan itu terjadi berulang-ulang hingga kami mencapai puncaknya. Ia tak akan pernah mengijinkanku merasai puncak dahulu sebelum dirinya mendesahkan namaku. Ia akan egois dan keegoisannya akan terus terukir. Myungsoo tidak akan pernah peduli.

Aku merasakan kehangatan di kedua kelopak mataku. Pria itu memang begitu hangat, dan liar setiap kalinya. Merengkuh tubuhku dalam dirinya dan membuatku merasakan kembali percikan volt kecil di setiap aliran darahku.

“Maafkan aku sayang. Aku selalu dan selalu mencintaimu. Ingin rasanya semua ini tak akan pernah berakhir. Semua yang kulakukan selama ini karena satu alasan. Mendapatkanmu dalam candu. Merasakan sebuah perasaan yang kutahu hanyalah untukmu. Although, I have to hurt to have you forever and make you a prisoner in my mind.”

***

            Song Aejung sudah terlanjur rusak. Memang rusak dan mustahil untuk diperbaiki. Serapuh pijakkan akar menggantung di bawah reruntuhan makam yang sunyi.

Myungsoo tahu akan hal itu. Pria itu tahu bahkan jika wanita miliknya kini nyaris menjadi serpih-serpih pasir dalam air. Padat namun terlalu halus, sulit tersentuh jika kau menyelam ke dalam air tersebut.

Pria itu kini menghela napas. Mengamati lekukan lukisan di dinding yang nyaris menjamur. Berada dalam ruang sepi sendirian membuatnya mengingat setiap perbuatan bejat tak termaafkan yang dilakukannya.

Bodoh memang. Tetapi Myungsoo ingin sekali Aejung merasakan kegelisahannya, kegundahan dalam ukiran jantungnya di tiap tarikan napas jika bersentuhan dengan wanita itu.

Dan Myungsoo tidak akan pernah bisa mengapresiasi perasaan itu dengan lembut. Semua terlanjur begini, ketidakinginan pria itu untuk melepas wanita yang ia cintai membuat Aejung benar-benar menjadi boneka. Pameran yang terpajang dalam penjara galerinya.

“Aejung,” Myungsoo mengubah arah tatapannya. Menyambar sebuah bingkai foto berplitur mengkilat yang berada di sudut mejanya. Mengamati lekat-lekat dengan dua keping bola matanya yang selalu memancarkan sinar sendu. Tak ada ledakkan warna. “maafkan aku. Aku memang bangsat. Pria tak punya etika dalam hidup dan terlanjur tenggelam dalam ketidakpastian perasaanmu.”

Sebuah ungkapan teralir bersama tangis sunyi dalam kebimbangan.

Dalam cinta yang tiada akhir.

***

            Semilir angin merayap memasuki ruang dingin tanpa warna. Sepi mencekam dengan seorang perempuan yang menjadi saksi bisu kepastian aura di dalam sana.

Song Aejung beranjak berdiri. Melangkah tanpa suara dengan giringan kaki yang mengerut. Bersandar nyaman di antara teralis besi membujur pada balkon.

Pandangannya kosong. Terdiri dari kesakitan tiada tara dan keletihan dalam nyawa. Memikirkan semua ini membuat beberapa tetesan sarat kepedihan terkuar dari balik mata itu. Mata yang dulunya penuh warna, tak terhitung. Kini terlihat hampa. Tak ada lagi serapan hangat yang menaungi.

“Myungsoo, sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti ini?” Pertanyaannya tergambar di udara. Melintang bersama desingan angin. Merajuk dalam hembusan permintaan terselubung. Aejung terlalu lelah.

Awalnya semua ini tak pernah terjadi. Dulu Myungsoo orang yang baik, penyayang dan manis. Sifatnya bagai malaikat tanpa dosa. Tiada cela. Memperlakukannya seperti sebuah barang tenun yang lembut, mengukir perasaan cinta yang dalam.

Memberikannya segenggam hati khusus untuknya. Tanpa memperdulikan jika jiwa mereka sudah terlanjur melayang bersama detikan bahagia yang tak dapat terdeskripsi.

Namun kesemua hal itu luruh. Tak tersisa sejak mereka menemukan perbedaan, yang berarti mendapatkan celah-celah keegoisan masing-masing. Myungsoo berubah ketika Aejung sudah mulai beranjak dewasa. Ingin memulai kehidupan baru di masa perkuliahan. Meninggalkan jejak-jejak putih abu-abu.

Bukan karena mereka satu dalam sebuah universitas yang sama. Tetapi karena kehidupan Myungsoo yang semakin liar. Mendapatkan hobi baru di dunia dewasanya. Mencicip semua wanita dan Aejung tahu akan hal itu.

Tetapi Song Aejung salah di saat dirinya mengucap satu kalimat terberat dalam hidupnya. Myungsoo bukannya mencerca, memaki atau mengumpat, tetapi laki-laki itu malah semakin mengukungnya. Dalam dan dalam.

Hingga pada suatu malam pikiran Myungsoo yang penuh liquor mengontrol tubuhnya. Tak memberikan sedikit pun kesadaran dalam raga. Dan akhirnya malam itu di mulailah awal dari titik kesalahan yang ia lakukan. Mengunci semua pergerakan Aejung. Dan memperdalam cintanya untuk hal yang salah. Menjadikan wanita itu tawanan selamanya dalam hidupnya.

Tanpa ikatan yang berarti.

Hingga pada saatnya napsu yang berkata. Memenangkan hal yang sudah sewajarnya Myungsoo mengerti itu adalah hal buruk. Tetapi sayang, kesucian cintanya sudah ternodai. Bersama kikisan perasaan di lain pihak.

Ketika itu, Aejung berusaha sekuat hati meneguhkan perasaannya bahwa Myungsoo hanya terlalu menginginkannya. Sampai menembus batas perlakuan cintanya. Namun sampai saat ini, setelah kejadian itu Aejung menganggap perasaan pria tersebut sekedar angin dingin yang berhembus. Terlalu resah untuk menghadapi kejadian di depan matanya.

Song Aejung terdiam. Kaku dalam menghadapi bisikkan selembut tumpukan semen yang halus. “Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?”

Pelukkan itu makin mengerat seiring denting jam yang menggaung. Terdengar dalam tiap inci telinganya.

Aejung seketika memejamkan matanya. Kembali berpikir. Menjelajah dalam dimensi lama saat tangan lembut Myungsoo yang mendekap erat dirinya yang terasa dingin. Dulu berbeda, tiap detik bersama akan terasa cepat.

Namun sekarang. Entah kenapa kesemuanya itu sirna. Menjadi bubuk-bubuk kasar hasil vernis yang berkualitas buruk. Myungsoo sama dengan perumpamaan itu.

“Maafkan aku.” Suara pria itu terhantar pelan. Masih sama dengan suara-suara ketika mereka mendesah bersama dalam satu ruang yang pengap. Myungsoo menggerakkan jari-jarinya. Mengusap pipi Aejung yang semakin tirus.

Seolah termakan ribuan ngengat yang mendirforsir tubuhnya.

Myungsoo membawa Aejung lebih dalam ke dalam hambar pelukkannya. Mencoba menafsirkan arti diam wanita itu selama ini. Myungsoo benar-benar merasa bersalah. Bahkan ia tahu jika dirinya kini semakin brengsek.

Ada beberapa arti dalam satu kata itu. Dan Myungsoo berada dalam daftar rincian pertama. Brengsek yang begitu memuakkan. Perlu bilangan himpunan dalam penghitungannya.

Aejung membuka mata. Helaan napas lelah kini terhembus. Jawaban atas pertanyaan tak sampai yang ingin dilontarkan Myungsoo selama ini. Dan untuk sesaat, ini pertama kalinya dirinya berbicara di depan Myungsoo. Setidaknya tanpa jarak yang memisahkan.

“Kapan,” Tercekat dalam pekatnya saliva, wanita itu berusaha membimbing kalimatnya yang selalu tertahan begitu lama. Terlalu lama. “kau akan melepaskanku?”

Bulir air mata menjadi saksi biksu dalam perjalanan mereka. Aejung benar-benar serius dalam kalimatnya. Hingga rasanya ia merasa ringan. Terlalu tinggi dalam lompatan menyesakkan.

Myungsoo tak menjawab. Ia lebih mengeratkan pelukkannya. Menyisir halus pangkal leher Aejung. Menciumnya dengan hembusan napas tertahan.

Diam. Sunyi. Hingga beberapa saat setelah Myungsoo mendengar Aejung bersenandung lirih, ia baru menjawab. Tak sesempurna yang Aejung harapkan, “Kau tahu ‘kan jika aku mencintaimu. Begitu… mencintaimu.”

Aku tahu, tapi tindakanmu mencerminkan tingkah laku penyimpangan dalam belenggu kehidupanku selama ini. Rasanya aku sudah tidak kuat menghadapi hal ini sendirian.

Diriku bukanlah Song Aejung yang dulu, yang selalu menjadi gadis dengan senyum merekah. Menyapa dengan kalimat manis atau memberi kecupan selamat malam sebelum terlelap.

            Aejung mendesah penuh beban atas pemikirannya yang menggelayut selama sisa hidupnya. Ia tahu Myungsoo tulus menyukainya. Mencintainya hingga sampai saat ini.

Meskipun kesaksian dan pernyataan pria itu sudah salah. Terlanjur masuk dalam kategori dosa terbesar terenggut kerasnya kehidupan.

Aejung merasakan tubuhnya berbalik. Myungsoo menatapnya begitu lembut lalu tak lama sebuah kecupan hangat dari Myungsoo membuat Aejung sedikit terselebungi rasa lega. Ada berbagai pernyataan yang tersalur dalam kecupan itu, namun rasa getir lebih mendominasi, sebelum akhirnya pria itu memberi batas untuk saling bercengkrama dalam diam.

Wanita itu membeku, merasakan pahit yang merengkuh tulang-tulangnya tanpa ampun.

“Sebaiknya segera lupakan halusinasimu. Itu semua tak akan benar-benar terjadi.”

Myungsoo mundur beberapa derajat. Berjalan lagi satu langkah ke depan. Satu langkah lagi lalu berhenti. Menatap kepingan mata Aejung dalam-dalam. Ia merasakan tatapan itu terlalu tajam tetapi begitu kosong. Myungsoo mengusap atas bibir Song Aejun dengan lembut. Menutupi matanya dengan kuncian sebuah ciuman lembut yang membawa Aejung dalam hempasan terlalu dalam.

Ia tahu, ini tidak akan pernah berakhir.

Lalu yang terasa nyata dalam semua ini adalah tubuh mereka yang terasa ringan. Melayang dalam desauan angin dingin yang membekukan kulit.

Membekukan hati.

Membekukan perasaan.

Dan metamorfosis itu terlanjur hancur.

END

            chochangevilkyu’s note:

Mungkin butuh waktu lama untuk kalian ngerti endingnya XD

Cha cha cha cha cha saranghaeyo Impala *ehsalahtopik -_-

Nah karena sambil menunggu voting, aku buat epep ini! Ini epep ertama bertema angst. Jadi maaf kalau gak dapet feel dan aneh.

Sipdeh, semoga dapat mengganjal*?* kangen lain ff ya *cough*

Anyway, sebentar lagi lebaran kan yeeee. Aku ucapin Minal Aidzin Wal Faidzin bagi yang merayakan ya. Maaf kalau aku gapernah salah *esalah* maksudnya banyak salah hihi. Kalau ada yang mampir ke Solo. Kerumahku gih, nanti kukasih seribu.-.

Sariawanku sudah sembuh *plak

cooltext846166519

Iklan

5 responses to “O B S E S S I O N

  1. Ping-balik: O B S E S S I O N | High School Fanfiction·

  2. thor, ini agak susah dimengerti. tapi aku ngerti kok ^^
    kok disini ceweknya kasihan banget ya. kalo menurut pemikiranku, ceweknya kayak jadi sex slave nya gitu. bener gak?
    dapet pemikiran dari mana bikin ff kayak gini thor?
    bikin sequelnya ya, biar lebih ngerti ceritanya, ok?!
    ffnya bagus thor ^^

  3. well hem, ini bahasanya emang lumayan berat, sampai aku harus berkonsentrasi penuh buat baca (jadi lapar/plak) tapi, sejujurnya aku malah suka banget sama bahasa yang setype ini xD ini keren banget. buat lagi ya^^ infinite sunggyu ya xD *digebuk*
    untuk ending, aku paham sih sama maksudmu, eung, cuman agak ragu di 4 baris terakir aja. after all, aku jatuh cinta sama bahasamu xD salam kenal~~

  4. marchi apa2an ini..
    image polos myungsoo di mata aku, tercoreng abis baca ff ini
    tanggung jawab kamu yah
    ya udah aku cuci otak sambil lihat the first aegyo of myungsoo aja XD

    eh, tapi aku masih kurang mudeng, bahasa kamu ketinggian
    ini mereka arwah atau apa?
    tapi, kasihan ae jungnya, hidupnya terkungkung

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s