Trapped In Home Second Series (Rock n Roll)

Mereka bukan sekedar keluarga untukku 

Mereka ditakdirkan untuk melindungiku

Mereka separuh jiwaku yang kusayangi

chochangevilkyu-1

Art by Query Pita Cafe Poster

.

.

.

.

.

.

            Aku ingin menangis. Aku ingin menangis. Aku ingin menangis.

YA!

“Aduh, my sweety bunnie heart. Jangan berteriak seperti itu.”

Aku menutup telingaku. Mengumpat panjang-panjang tanpa suara. Merasakan getaran tak berkesudahan membuat syaraf di otakku mulai rusak. Ini berbahaya dan ini irasional dan… dan… dan oh, “Ayah! Bisakah kau mematikan musik-sialanmu-dan-cepat-tidur! Ingatlah beberapa hari yang lalu keriputmu di sudut mata bertambah dua seperempat!”

Bukannya berhenti. Volume suara itu bertambah spektakuler. Getaran ini muncul lebih ekstrim dan aku yakin rumahku akan runtuh jika bertambah seorang lagi. Ini getaran aneh dan aku yakin Paman juga ikut berjingkrak ria bersama Ayah.

Sebenarnya aku tidak tahu. Ini mengerikan, menjijikkan, mengerikan, aneh dan oh berapa kali aku mengatakan kalimat mengerikan? Tapi ini memang seperti itu! Mereka para orangtua. Menyukai musik aliran rock n roll, ah jangan lupakan hardcore yang super keren tapi dinyanyikan oleh para kumpulan paduan suara orangtua yang tiap bernyanyi bergetar terus akibat umur yang tak di sadari mereka. Hello, aku besok pagi ada ujian  Mr. J dan mereka mengajakku kesana dan menggempurkan dinding rumah. Tidak terimakasih.

Jadi, aku memutuskan untuk memasang karpet hijau berjamur di tembok kamarku demi meredam suara. Oh aku tidak yakin ini berhasil. Alien saja tidak akan mau lama-lama mengirimkan sinyal padaku. Aku bicara apa sih?

Dan aku yakin besok pagi tes mendadak itu bernilai angka keren di awal urutan angka! Tuhan terlalu sayang padaku.

***

            Pagi hari yang dingin telingaku kembali di buat tuli. Subuh ketika aku berusaha memejamkan mata, suara itu kembali lagi. Oh Tuhan, bagaimana bisa dua orang itu menyetel alarm kembar yang berisik sekali.

Mataku seperti panda dan ada banyak baret-baret orangtua. Kacaku di kamar mandi retak dan sudut mataku ada kantung seperti di dalam celana lubang-lubang milik Ayah.

Di tambah hal menyebalkan saat kedua orang itu kompak bertanya padaku dengan gaya para manula-manula pengidap flu perut, “Ji-ya, matamu seperti milik kakek. Tapi lebih parah milikmu. Kenapa kau ingin menyaingi keriput nomor satu kakek huh? Lihat lihat, wajahmu jelek sekali.”

Dan rasanya aku ingin mengubur diriku di dasar sungai Thames bersama para arwah-arwah tak tenang yang ingin menggangguku. Bisakah aku lupa ingatan sekarang please?

Giliran Paman yang mengantarku pagi ini ke sekolah. Aku duduk di sampingnya sementara Paman Yoochun bersiul-siul. Ludahnya menyembur ke segala arah dan bibirnya sangat kering. Paman seperti orang idiot yang kelewat stress.

Dia mengajakku bicara panjang lebar. Merencanakan kencan buta lagi sebelum mulai menghidupkan volume maksimal luar biasa membuat diriku mati rasa, mati suara dan mati lalu hidup lagi.

Paman bernyanyi, maksudku berteriak keras-keras dengan membuka jendela. Membiarkan semua orang melihatnya. Dia seperti orang yang sudah gila karena gagal audisi. Tentunya pasti.

Menyenandungkan Maroon 5 lalu bergoyang-goyang. Menggaruk pantat dan lompat-lompat dari jok. Ya Tuhan rasanya aku sudah tak ingin punya keluarga lagi jika seperti ini.

Yang lebih memalukan justru ketika trafficlight menyala merah. Dia bernyanyi begitu keras. Memaksimalkan suara sumbangnya dan mengundang banyak kumpulan ibu-ibu yang tiba-tiba fangirling di dalam mobil mereka masing-masing. Astaga ternyata Paman punya banyak fans.

Itu pasti akan menyenangkan jika hal tersebut ada gunanya. Naas sekali hanya orang yang benar-benar buta pengejaan lirik yang menganggap hal itu keren. Seperti saat ini ketika anak-anak sekolahku yang mendadak berteriak, membawa banner (aku heran, bagaimana bisa mereka menyiapkan itu semua) dan menyetel suara super sumbang.

“Yoochun Oppa! Aku mencintaimu!”

“Kencanlah denganku Oppa!”

Dan beberapa hal remeh temeh gadis buta yang memanggil orang tua dengan sebutan menggelikan seperti itu.

Hidungku mendadak mampet saat Paman keluar sambil menggandengku. Ia menebar senyum gusi kusamnya dan bertingkah seolah saat ini menjadi pangeran sepuluh tahun lebih muda dari biasanya.

Aku tidak tahu dan tidak ingin mengerti persaingan dunia dewasa menjadi batas akhir dalam hilangnya urat pencernaan memalukan yang telah terbungkus siklus global. Dan oh, apa sih yang kubicarakan?

***

            Sudah kubilang ‘kan hari ini aku hancur lebur? Mendadak jadi kulit lembek dan menua seperti Ayah? Menandingi dua seperempat tambahan keriput miliknya?

Meratapi nasib buruk tiap hari sudah menjadi kudapan sehari-hari. Sial. Ini tanda-tanda aku mulai dewasa sebelum waktunya.

YA! Park Jihyun! Jangan tertawa seperti itu. Ujian tadi nilaimu jelek sekali dan kau tertawa huh?”

Aku menunjuk mataku dengan pensil. Mendramatisir keadaan seolah akan bunuh diri dengan hal itu semua, dan akan kembali seperti semula. “Ini tertawa kau bilang? Kau idiot seperti Paman ya?”

Ya. Semua ada dalam tahap peremajaan kulit. Alicia membawa krim mengerikan dan melakukan penetralan emosi jangka pendek untuk menekan titik rendah keadaannya. Dan berhasil tidak membalas perkataanku lagi.

Maskernya kering pecah-pecah dan kubiarkan wajahnya mirip Labrador tetangga. Keren.

Mengabaikan ini adalah sekolah.

Dia duduk di atas meja. Bersila memamerkan celana pendek dengan merk baru yang belum dibuang. Sengaja dipamerkan. Dipajang agar semua orang tahu jika dia punya dalaman yang jika dicuci warnanya akan tambah baru.

Lalu aku tidak peduli lagi. Sahabat numero second-ku sedang dikuasai musik brengsek yang membuatku ingin membuang semua isi lambungku.

All right. Itu menjijikkan.

Kenapa sih akhir-akhir ini banyak orang melakukan hal itu? Maksudku musik rock jadi turun pamor. Turun harga dan turun popularitas karena peminatnya saat ini orang-orang berotak pendek.

Alicia masih bisa masuk dalam jejeran orang cantik berbakat dengan semua isi tas sepuluh ton berisi bedak. Tapi Ayah dan Paman? Bisa tidak sih hari ini lebih buruk lagi?

Ternyata bisa. Sangat. Ketika sore hari setelah sampai rumah dengan sebelumnya berjongkok, duduk, lari dan mengais isi dompet dari sekolah ke rumah ada kejutan yang benar-benar kejutan.

            Serius kawan.

Aku tidak tahu apa isi otak orangtua. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan selain keriput atau apapun dalam dunia dan lainnya. Tetapi yang kutahu hanya satu.

Satu dan sangat sial rasanya kenapa aku bisa tahu hal ini dengan begitu mudah. HAH!

“DEMI TUHAN! APA YANG TERJADI DISINI PARA ORANGTUA?!”

Teriakkanku seperti angin yang dibekukan oleh capung. Dan suaraku saat ini nging nging nging berulang kali. Mode cepat berinteraksi.

Aku memeriksa lubang hidungku dan baik-baik saja. Tak ada rumah lebah disana.

Tapi di depan mataku saat ini mirip kumpulan Star Trek namun dengan bintang baru Troll penguasa laut merah! Mataku mendadak rabun dan ada banyak anak babi yang berputar di sekitar kepalaku membentuk rasi arum jeram. Ini gila, sementara aku berjalan bertabrakkan dengan kakek-kakek yang meminum ramuan seperti bau kaos kaki Ayah.

Aku melihat Ayah, dia pemimpin gebrakkan baru hari ini dan pantas mendapat sejarah nobel orangtua ketika kulihat dia sedang bicara dengan seorang BIBI penggembala kambing. Oke, dia mirip Marry, mungkin sekarang Marry sudah tua.

“Ayah! Apa yang terjadi disini!” Ini bukan nada bertanya. Ada selipan suara cepat dan tepat. Berarti aku bukan bertanya. Aku korban. Ini rumahku juga!

Dia bergaya seperti koboi. Ada tali laso dan aku tidak tahu dia dapat darimana. Cuaca dalam rumah selalu ada badai dan hari ini kuantitas puncaknya.

Honey,” Ayah menepuk pundakku. Ayah bergaya seperti ini karena baru-baru ini sering melihat film yang menayangkan ratapan anak kandung dan dia ingin belajar menjadi bapak tua sok peduli. “ini pesta! Nikmatilah sayang! Ada banyak temanku dan Yoochun. Mereka pasti akan mengerti dirimu bunny!”

Ada hitungan tiap akhir kalimat yang kudengarkan. Ayah memberikan tanda seru di tiap ucapannya. Lalu dia juga memanggilku dengan 3 kata menggelikan yang hanya ingin didengar bayi dua tahun!

Please? Mengerti diriku? Pesta? Baik, baik. Ini memang pesta. Pesta masuk surga dan ini sangat baik. Tidak ada minum. Tidak ada baju seksi. Tidak ada laki-laki setampan Cho Kyuhyun dan tidak ada polisi penggiring anak di bawah umur.

Hanya ada para orangtua. Baju berbau rempah-rempah dan jamu penghilang uban. Tapi satu yang sangat amat tidak cocok.

Kenapa para orangtua berdisko dengan musik rock n roll?! Demi Tuhan! Ini menyalahi aturan tata karma kehidupan keren yang ada di Seoul! Sudah kubilang tidak ada yang normal disini. Rasanya aku ingin mati sekarang.

Lalu mual yang kurasakan bertambah parah. Lidahku kebas dan mataku sudah buta di saat malam bertambah larut dan para orangtua mengajakku bermain kertas batu gunting dan dilanjutkan minum-minuman berwarna orange yang membuat sakit mata.

Dan yang terakhir kuingat adalah suara teriakkan ayah menggelegar sebelum aku benar-benar mati.

“YA YOOCHUN! HENTIKAN PAMER GOYANGAN PANTATMU DI DEPAN PARA BIBI-BIBI!”

E N D

            chochangevilkyu’s note:

Muahaha. Oke ini absurd! Super banget. Entah kenapa aku gak buat ff chapter yang kebanyakan mandek itu dan malah buat series ini. Sumpah, aku kangen keluarga aneh ini dan aku malah lupain tanggungjawabku hihihi XD

Ada yang kangen mereka gak? Waktu itu sih ada yang bilang suruh buat lagi. Makanya aku buat. Ngisi liburan juga karena writer block di ff… *rahasia* hihi.

Oh ya, aku baru ngeh siders pada muncul minta-minta passy kemarin HAHA. Kenapa pada muncul sih? Kenapa gak jadi siders aja terus. Akunya gapapa banyak sider. Yang males adalah kenapa pas ada yang diprotek pada banyak yang bohong lalu maksa kayak nyembah-nyembah? Hm, aku orangnya tahu mana yang jujur dan bohong lho XD

Dan lucunya getol banget nyari titik salah di ff itu doang. Bilang ini itu, jeleklah, gak cocok atau gak dapet feel, eee cuma nulis gitu, tapi gak ngasih saran. Apa banget deh. Rasanya pen ngakak Tuhan. Eh gak nyari ribut guys, yang ngerasa ya sori dah *ngikik*

Okedeh, sip. Semoga pada suka ya 😀

chochangevilkyu lagi ngambek

 cooltext846166519

Iklan

6 responses to “Trapped In Home Second Series (Rock n Roll)

  1. Uwahhhh ff ini muncul lagii ƪ(‾⌣‾ ƪ) setelah lama tiada kabar .. Akhirnya kembali lagi ^^
    Ini keluarga satu bener2 absurd-_- sabar banget jadi jihyun -_-
    Eonni.. Kapankah ff lainnya itu dilanjutt T,T ngegantung gak selesaii *kecuali perfume*
    Keep writing ya eonn ^^

    • Hai! Panggil kak aja deh ya. Geli kalau dipanggil eon.-.
      Aduuuuh, emang deh! Si Jihyun sabar banget tuh. Aku yang buat aja geli, bayangin ada keluarga absurd bin edan -_-
      Eum epep lain? Gimana ya gimana ya. Usahain deh, buat ff gak semudah nendang batu terus ngenain kepala orang dan langsung kabur loh (ini pengalaman indah sip!) Ditunggu aja ya 😀

  2. eh tw ajah ni eonni… ehm sya mantan siders mengucapkan minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir&batin *eh
    eon… knp jihyun tuh mau2 x slalu bersama 2 orang tua yg slalu muda (?)
    emang jihyun itu gak punya tman dkat buat plarian diri?
    haha… yg pnting untuk jihyun.. smoga qm slalu sabar menghadapi appa dan ahjussi mu itu yaa.. XD

    • *jewer*
      Hoho canda bung! Sebenernya aku gamasalahin siders dari dulu, cuma yg bikin aku gak bisa nahan emosi adalah kenapa mereka muncul cuma minta password? Dan banyak yg minta & gak ngasih komen T.T
      Minal aidzin juga ya hehe *telat*
      Eum, aku nyeritain tentang keluarga, jd sekelubung itu doang. Paman Yoo, Ayah Jung & si Ji hehe 😀

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s