Lost In Time Track Four

Waktu itu hanya sekedar penunjuk jam, menit dan detik.

Waktu itu tak begitu berguna jika kau menyia-nyiakannya.

Lalu, jika waktu berhenti, apa yang akan kau lakukan?

Bagaimana kau bertanggung jawab jika waktu itu berhenti karena dirimu?

Keseimbangan bumi mulai goyah, dan satu-satunya cara agar menghentikan itu adalah dengan…

***

Terkadang, keseimbangan semesta adalah salah satu jalan untuk melanjutkan kehidupan. Namun di balik semua itu, ada kalanya kau hidup berpacu dengan waktu, tantangan dan penemuan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam duniaku, sebuah waktu adalah tempat untuk meretas diri sendiri.

lost-in-time-by-chochangevilkyu

.

.

.

.

.

            EUNHYUK mendadak berhenti ketika mendapati rumput jerat tinggi itu terasa keras saat diinjak. Kepingan matanya mengamati hal itu lama, hingga rumput itu berubah menjadi partikel kasar yang hancur.

Mereka berdua saat ini sudah menapak di atas tanah yang lebih tinggi dari satu sisi. Lumpur penghisap kaki menaungi tempat itu. Tentunya secara tak harfiah.

chochangevilkyu

Super Junior © Copyright

Disclamer of SM Entertainment

Fantasy, Friendship, Adventure

Kim Jin Ah, Eunhyuk

PG-15

Inspired by The Clockwork Tower game

Art by MissFishyJazz

.

.

.

.

.

            Ia bergumam. Melebihi batas pijakkan terakhirnya. Nyaris mengulangi hal yang sama jika saja Jin Ah tidak membuat ulah. Gadis itu seperti orang idiot yang menjulang di antara lapangan kosong sarat kepedihan tersebut.

Jin Ah berusia tujuh belas tahun. Melakukan hal seperti itu setidaknya membutuhkan pemikiran kompleks. Gadis itu ceroboh, bodoh dan keras kepala. Mungkin jika tidak mengandalkan satu hal terakhir, Jin Ah sudah mati di saat usianya baru dua belas tahun. Atau lebih beruntungnya beberapa tahun.

Dan berakhir sudah mendekam di rumah sakit jiwa.

”Jangan bersikap seperti itu. Kita harus menyelesaikan misi ini,” Eunhyuk memperbaikki letak Alethiometer yang merosot dari genggamannya. Telapaknya terdapat baret sepanjang dua centimeter. Luka terbuka yang sudah mengering akibat perputaran lonceng tadi. “dan jangan menggunakan ekspresi seperti itu untuk membujukku.”

Pertautan kening Jin Ah menghilang perlahan. Ia lalu bersikap dewasa dengan membuang batu-batu kecil yang digunakan beberapa detik lalu untuk melempari burung camar yang membeku di atas kepalanya.

Semuanya menjadi kacau akibat perhentian waktu itu.

Eunhyuk kembali melangkah ke arah Selatan. Lawan arah dari tempatnya berdiri. Tak mengacuhkan umpatan tanpa henti Jin Ah di belakangnya. Gadis itu bahkan memberikan sebuah pernyataan statis dalam rencana yang akan digunakan jika mereka telah terbebas dari hal tak wajar ini.

Alethiometer bergerak cepat. Secepat arah pandang sudut beberapa derajat sebelumnya. Menunjuk jam pasir yang kian membuat anak laki-laki itu bingung. Jin Ah berdiri di sisinya. Tak mengerti dengan alis-alis Eunhyuk yang mendadak berliuk seperti itu. Harusnya ia mengandalkan insting dalam otak. Bukan alis tebal yang memamerkan lekukkan menyebalkan begitu. Jin Ah berpikir.

Setidaknya ini adalah hari yang baik, gelap dan bersinar. Ada kalanya percampuran seperti itu merupakan hal langka. Jin Ah tersenyum saat melewati jembatan buatan untuk memasukki aula besar  Disaster. Eunhyuk diam saja, bahkan di usianya yang seperti itu ia terlihat beberapa tahun lebih tua dari yang dapat ditebak.

Hanya beberapa langkah jauhnya dari pintu yang tertutup, di sudut pintu yang lebar, siluet tinggi menghentikan langkah kaki cepat mereka.

Eunhyuk bersuara, lambat dan gugup. Entahlah. Rasa-rasanya ini tak nyata.

Lalu pernyataan itu dilanjutkan Jin Ah yang tiba-tiba membuka rahang bawahnya lebar-lebar. “Apa? Butt? Ada apa dengan pan- Oh! Gadis jalang!” Reaksi terlambat itu tak pantas mendapat pujian interaksi dari redaksi majalah mingguan Disaster. Beberapa hari yang lalu ketika Aidan –si payah berkepala besar- mengajukan diri untuk menjadikan Jin Ah sebagai target utama bahan narasumber, harusnya dipikir ulang kembali. Gadis itu mempunyai impuls yang sangat payah.

Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan kala Jin Ah berdiri di depan Butty. Ingatkan tentang saat ini kondisi Butty yang seperti manekin.

Menarik rambut gadis itu dan meninju hidungnya berulang-ulang sampai Eunhyuk harus menjadi pihak ke tiga dalam penetralan masalah yang sebenarnya tak ia mengerti.

“Payah! Payah! Payah! Aiyayaya, aku harusnya melemparnya. Dasar busuk. Busuk!”

Dengan satu tangan bersitumpu pada tempurung lutut dan satu tangan menarik kerah tinggi baju Jin Ah yang melar, anak laki-laki itu melanjutkan langkah. Cepat dan berwibawa.

Dalam kasus seperti ini, gadis itu seharusnya mengerti jika hal tersebut berkewajiban menjadi sisi-sisi tak terlihat yang tak perlu di prioritaskan. Mengandalkan intuisi, tak perlu menjadikan dendam di atas segalanya. Itulah kekurangan Jin Ah yang masih terlihat egois.

“Maaf,” Jin Ah berkata. Melipat tangan, mencoba melindungi diri. Mungkin ada sesuatu yang akan meledak dalam diri Eunhyuk. “seharusnya aku mengerti. Ini hanya bentuk dari ketidaksengajaan. Jadi jangan marah padaku ya?”

Ketidaksengajaan? Baiklah. Pembelaan adalah pembelaan. Jadi Eunhyuk diam saja. Menjulurkan badan untuk menyelip di antara jendela aula. Berhati-hati mengambil langkah saat ada pecahan yang tersebar di dekatnya. Jin Ah berbicara. Mengikuti Eunhyuk dalam suara.

***

             Gema suara terlewat beberapa detik saat mereka melewati laboratorium pembedahan tengkorak manusia. Terlempar ingatan mengerikan, Eunhyuk bergidik tanpa alasan. Bersidekap, membuat jalur untuk berjaga-jaga.

“Masuk ya?” Itu suara Jin Ah. Tersirat keraguan besar. Jantungnya meluncur secepat bunyi dalam perutnya. Jangan bertanya.

Laki-laki itu menjadi pemimpin yang diliputi penasaran juga sikap kekanakkan kala melihat kepala besar di atas permadani. Dalam lemari kaca. Berpikir mungkin mereka akan menerkam Eunhyuk. Oh ayolah. Ini bagus jika Jin Ah dapat membaca isi otak Eunhyuk saat ini.

Mungkin gadis itu akan menjadi orang yang pertama kali tertawa sambil menyembah patung di depan Disaster. Mengadakan acara untuk penggencetan bahan baru.

Berjarak dua belas langkah, ada sebuah pintu yang selama ini tak pernah Eunhyuk lihat. Mengabaikan fakta ternyata pintu itu tertutup lemari sebesar tinggi Troll. Seperti yang ia perkirakan, lemari jatuh bergemuruh sebelumnya, sedikit menghalangi kusen pintu.

“Kubantu ya?” Jin Ah menawarkan. Jantungnya sudah kembali lagi dan ia sadar diri sudah menyusahkan sepanjang perjalanan. Jadi ia dengan bersimpuh pura-pura mengeluarkan tenaga besar, nyatanya hanya ikut mendorong-dorong.

Eunhyuk mengeluarkan suara serak. Payah, bersusah hati menahan keinginan untuk tidak membunuh gadis itu sekarang. “Selain menyusahkan apa sih yang kau bisa?”

            Selain? Apa ya?

            Lorong bawah tanah yang lembab berbau pizza busuk membuat kepala Jin Ah berputar-putar. Dalam arti sebenarnya, dia berpegangan pada lengan Eunhyuk sementara kepalanya bersitegang dengan otaknya sendiri.

Ketika usai menilik sekilas Alethiometer, mereka sampai dalam ruang sempit. Kedap udara dan minim cahaya kecuali dari senter yang berkedip-kedip itu. Sejujurnya mereka tak pernah tahu letak logam segitiga itu. Atau dalam hal seperti saat ini, mengandalkan insting adalah cara yang tepat.

Jin Ah yang pertama kali melihat. Ia tertahan dalam pekikkan pelan. Berdebar ketika menemukan gagang pintu sebesar pemecah kacang pecan yang berbentuk pengocok logam berkarat di belakang balok kayu.

Eunhyuk menggosok hidungnya maju mundur. Kasar dan memerah. Mirip kucing Persia milik Jin Ah saat musim kawin. “Ladies first!”

Gadis itu diam, nyengir sekali lalu menggulung sebelah lengan baju sebatas bawah ketiak dan bergumam. Cukup bertahan untuk membuat wajah Eunhyuk memerah malu-malu. “Pengecut.”

Jin Ah memimpin. Dalam hening, senter itu terlihat berwarna oranye kekuningan, semu perak benderang. Ruangan itu dingin. Udara lembab merayap di bawah sepatu ber-sol karet mereka dan menaikki dinding-dinding pudar lalu menggulung ke atas. Secara keseluruhan tempat itu mirip lemari besar pendingin daging domba beku Spanyol yang disajikan dengan lelehan saus kacang.

Eunhyuk bergidik. Lehernya berkelok mundur. Lalu mereka menemukan ruang dalam remang-remang. Jin Ah menarik rantai emas tembaga kuning berkarat yang berada beberapa tinggi di atasnya. Ruang itu seketika bercahaya.

Kemudian, beberapa lama anak laki-laki itu berpikir. Tempat ini terlalu –ah! Sungguh keren! Ini ajaib! Dapur ajaib. Menurut Eunhyuk pasti akan ada beberapa konstruksi tambahan bawah tanah yang seperti ini.

Ada tumpukan toples berkaca di atas balok talenan kayu tempat rak-rak penyimpanan keranjang. Beberapa botol susu di atas kubus kayu, tong-tong yang eum –ia tak bisa melihat isinya karena berjarak cukup jauh. Juga beberapa buku marmer berdebu dan cermin retak; bayangannya terlihat menyeramkan.

Selagi melihat itu, angin pelan berhembus padanya, hanya padanya saat Jin Ah ternyata berlari melewati korden berbendel dan menembus cepat bagaikan melompati trampolin. Eunhyuk ingin berteriak “Bodoh! Jangan makan itu!” tetapi terlambat hitungan detik karena Jin Ah sudah duduk di atas konter sambil melempar-lempar buah apel dalam satu keranjang setinggi pinggangnya dan berupaya menjadi pemain sirkus lalu menangkapnya. Ia tersenyum riang.

Eunhyuk diam. Udara yang sedari tadi mengendap dalam kubangan pernapasannya kini perlahan turun dalam jangka lambat. Atmosfer di sini cukup hangat. Berjalan, ia berdiri di atas lantai kayu berdebu. Jejak sepatunya bergaris-garis. Karet terlihat mengendal.

“Tenanglah Monsieur!” Jin Ah menyahut saat menatap kerutan di sepanjang sisi wajah Eunhyuk. Menyimpulkan bahwa dari raut saja, anak laki-laki itu sudah bertanya. Ia melempar bonggol apel dalam keranjang kosong dengan gaya berlebihan, lalu menepuk pundak Eunhyuk prihatin. “tak perlu merasa terbebani. Ini ‘kan salahku kawan!”

Eunhyuk mengernyitkan hidung dalam-dalam. Mungkin berpikir tidak akan melakukan hal itu lagi selama musim panas ini, jadi ia melengkungkan hidungnya. Mengganti raut wajah. “Memang dari sisi mana kau terlihat bertanggungjawab?”

Anak perempuan itu terlihat berpikir. Dengan tidak anggun. Jin Ah mengelap sisa air apel di celana miliknya yang terlihat kusut. “Aku ya?” katanya, melompat mendadak dan mengendurkan pipi Eunhyuk dengan jari-jarinya. “Tentunya semua!” Ia terkikik, berlari mengitari rak talenan lalu menggeliat kesana kemari. Berjalan mundur menubruk tong berisi apel dan terpleset, lalu tertawa terbahak sendiri. Antara malu dan menahan sakit. “Aku yang membawamu kesini! Aku yang membawamu kesini!”

Meski sempat kurang yakin dengan penilaiannya sendiri, Eunhyuk memang harus berterimakasih, mungkin iya. Mungkin juga tidak, selayaknya seorang anak laki-laki yang baik, ia cukup menemani gadis itu. Setidaknya Jin Ah ada benarnya. Barangkali hanya sedikit.

***

            Eunhyuk dan Jin Ah kali ini menemukan jembatan. Jembatan runtuh dan rusak. Di bawah, airnya membeku, tidak mengalir, tidak juga bergejolak seperti biasanya. Atau berkilau tertimpa sinar matahari yang berkilat-kilat –karena saat ini gelap.

“Bagaimana melewatinya?” tanya Jin Ah. Menyuarakan kebingungan dalam bahasa Inggris yang tak fasih. Menambah kegusaran semata.

“Tidak tahu,” Eunhyuk menyahut. Melontarkan tatapan tajam pada sekeliling dan mendesah panjang-pendek. Ia berjongkok di atas paving kotor lalu merayap menyamping dalam beberapa derajat. Menemukan sesuatu. “mungkin kita bisa memakai ini. Atau kita membuat yang baru.” Eum; dia menatap parabola yang jatuh berkelontang sebelumnya, berpikir, mungkin lebih baik tak usah melakukan hal yang sekarang ada dalam pikirannya.

Jin Ah gelisah. Terkadang ia tak pernah mendapatkan perasaan seperti itu, tetapi kini ia terlihat murung. Ia menggeleng-geleng sendiri dan mengusak poni rambut dari keningnya. Mempunyai pikiran, jika mereka berhasil, ia akan ke rumah Bibi Barbara dan mendapat layanan potong rambut gratis.

Rangkaian kayu hancur menjadi beberapa rasi. Balok-balok besar membentuk sudut-sudut diagonal sama rata. Dan keadaan masih gelap. Tak ada bintang ataupun cahaya, terhitung senter yang mulai meredup.

Biasanya Jin Ah sangat suka mencari dan menemukan hal baru atau sekedar merasakan sesuatu yang langka. Tetapi dalam keadaan seperti ini, ia seperti tak berguna, hanya menyusahkan dan tak dapat diandalkan sama sekali.

Jin Ah duduk, menyangga dengan tumitnya dan diam. Entah berpikir atau mulai malas. Ini pertama kalinya dia terlihat manusiawi dengan ekspresi seperti itu. Mungkin hanya sebentar atau terlupa lagi sesudah terlewat menit per menit nanti.

“Aku rasa,” Anak perempuan itu menoleh ke samping. Di mana wajah Eunhyuk terlihat berbinar-binar. Matanya berkilat dan terbayangkan aroma Muffin saat melihat ekspresi laki-laki itu. Bukan karena senter yang memantulkannya. Tetapi hal lain, tapi Jin Ah tidak mau mengetahuinya. “Alethiometer ini mengatakan sesuatu!”

Jin Ah semakin diam. Dan mengerut. Semakin kecil dan kerdil. Terkadang ia tak mengerti isi pikiran Eunhyuk. Dia aneh, tetapi menyenangkan. Meski Eunhyuk mempunyai tanda orang normal di sepanjang dahi lebarnya.

Kemudian Eunhyuk berdiri, agak kesal melihat aksi-bisu-mendadak anak perempuan itu. “Terimakasih atas bantuanmu itu!”

Uhm… Baiklah, coret bagian menyenangkan dari daftar sifat muncul tenggelam itu. Saat ini Eunhyuk terlihat mengerikan. Bibirnya semakin tertarik ke atas, bukan tersenyum, bukan seringai, tapi itu jelek! Dan tidak baik. Juga tidak semakin buruk juga. Melainkan biasa-biasa saja. Pokoknya seperti itu!

Lalu ia melihat Eunhyuk menjauh. Bahunya naik-turun, maju dan mundur dengan gagah sementara mendengar suaranya bergaung, laki-laki itu mengais-ngais semak belukar di ujung beledu kayu pipih yang berserakkan.

Eum, sepertinya ia ingin mengerjakan sendiri.

***

            Beberapa saat berlalu, mereka sampai di atrium belakang gedung jam menara. Tempat ini besar dan megah, sedikit menyeramkan karena gelap. Senter bergoyang menyorot pilar-pilar. Seperti penyangga kecil yang mengusung patung raksasa Atlas.

Jin Ah menyorot ke bawah sepatunya. Mereka berdiri di atas undakkan pertama dari sebentuk batu yang terbuat dari semen keras memanjang yang sudah berlumut dan kusam. Bekas gesekkannya memudar perlahan dan mengeluarkan rumah-rumah jamur.

Gadis itu mendengar gemerisik, tetapi lebih dalam artian sebenarnya yaitu berisik dan terlalu bergemuruh. Seperti mendengar pilar raksasa jatuh di atas mangkuk serealmu (eum oke, itu berlebihan) dan dilanjutkan suara berdebum. Teredam sesuatu.

“Sepertinya dari dalam sana,” Eunhyuk berkata. Ia mengapit Alethiometer di bawah lengan kiri dan balok kayu sebesar sekerat tangkupan roti gandum di bawah ketiak kanan. Memberi alasan untuk berjaga-jaga. “Lebih baik…” Eunhyuk diam beberapa detik. Membiarkan udara sedingin ice bar menusuk-nusuk hidungnya lalu menarik angin dalam-dalam lagi. “–kita mempersiapkan diri.”

Baiklah. Ini tidak biasa-biasa saja. Ini Eunhyuk yang berbeda. Jadi Jin Ah tidak memutuskan untuk melakukan apa atau –apa dalam lain hal dan lebih memilih lalu dalam kecanggungan itu mengikuti seretan langkah sepatu Eunhyuk.

Dalam undakkan itu, Jin Ah dapat merasakan sesuatu yang berbeda. Ia berdebar, membayangkan sekepak sayap kupu-kupu dalam tubuh burung atau ada banteng berkepala ular. Ia tidak tahu pikiran apalagi yang menyelinap diam-diam di otaknya.

***

            Sejak lantai atas pertama terlihat, mereka tidak melakukan apa pun. Hanya sekedar bernapas. Bahkan Eunhyuk menahan napas memejamkan mata, hanya selewat mulutnya yang bergerak pelan.

Di depan mereka terdapat dua pintu sebesar dua puluh lima kaki tingginya dari mereka. Jarak seperempat detik menjadi satu-satunya yang bisa terhitung. Suara Alethiometer bahkan terdengar seperti desingan bubuk-bubuk emas yang tertabur dari langit.

Plang kayu silang terlihat lapuk, kurus dan bayangkan saja tersentuh sedikit langsung hancur. Bagaimana jika ditendang? Bukan ide yang buruk.

Gentleman first!”

Uhm?”

Jin Ah menoleh lalu tersenyum berseri-seri. Wajahnya kelihatan ceria walau tertutup gelap. Eunhyuk tahu kini anak perempuan itu sedang berusaha balas dendam. Jin Ah memang begitu. Ia juga yakin tak mungkin gadis itu diam saja karena perbuatannya berjam-jam yang lalu –spasi ganda, hitungan ganda, hanya menebak-nebak.

Eunhyuk mengangguk saja. Ia menggeliat dan lidahnya setengah terjulur karena sedikit gemetar. Ia menyurukkan balok kayu dan Alethiometer di atas tangan Jin Ah dan mengulurkan tangan untuk membuka plang kayu putar.

Euhm, entah kenapa perasaanku tak enak ya.” kata Jin Ah. Aku juga bodoh. Entah kenapa Eunhyuk sedang tak ada minat dalam pembalasan kalimat. Jadi, ia diam saja. Bahunya membentuk tanda kurung saat kepalanya perlahan memasukki sedikit celah pintu yang terbuka.

Ia menyelipkan satu kakinya untuk menahan. Dan mencoba membuktikan ketahanan pintu raksasa itu. Mungkin pintu tersebut sudah terbuka empat puluh lima centimeter, cukup bertahan untuk dimasukki dua orang.

Eunhyuk mendorong punggung Jin Ah yang kurus. Ia sedikit mendengar umpatan gadis itu. Terhitung sampai saat ini sudah banyak sekali variasi kalimat buruk gadis itu.

Crrrrazy,” seru Jin Ah. Memperjelas. Menyuarakan hurup r seperti chef Italia. Ia menunduk, melepas sepatu-nya lalu bersandar di satu pilar. “-nah! Lihat, memang benar ‘kan itu suara pilar jatuh. Makhluk iblis macam apa yang dapat mengambrukkan pilar sebesar –Aaaaa!”

Semua terjadi begitu cepat, lebih cepat dari kecepatan cahaya atau kecepatan halilintar menyambar. Sampai sebuah benda besar melaju ke arah mereka. Yang Jin Ah ingat sebelum beberapa detik itu terjadi, ia memejamkan mata.

Seekor Dinosaurus abad pertengahan berlari, menyeruduk cepat ke arah tempat mereka membeku berdiri.

T B C

            chochangevilkyu’s note:

Cha! Akhirnya part ini selesai. Ini satu ff pemenang dalam votting readers! Dan mungkin ya, mungkin setelah ini selesai, BIL akan kubuat, planning sih endingnya part 5 besok. Doain bung! Hehe.

Oh ya, ada yang kemarin udah nonton The Conjuring? Film itu booming banget di kelasku dan sampai jadi bom sekolah (ini apa!) Oke, eum maksudku famous banget. Keren seriusan! Aku juga baru tahu itu ternyata disadur dari kisah nyata. Sayangnya, menurutku om produser agak ngantuk buatnya*?* ya, efek serem cuma dalam backsound. Lainnya sekelebat doang. Menurutku sih ya, gak serem. Tapi gatau kenapa temenku sampek pulang nonton gaberani buka lemari -_-

Anyway basweeiiiy, aku kan udah kelas 3 sekarang. Jadi aku mungkin akan lama apdet ff-nya. Fokus sekolah berow. Mungkin mingguan, bulanan, tahunan*?* jadi harap mengerti ya. Doain nilainya bagus-bagus juga ya *modus dalam kesempitan* hihi XD

So, wanna give me your review?

Iklan

5 responses to “Lost In Time Track Four

  1. akhirnya O,O akhirnya yang ini di update aaa~
    ini makin keren dan bikin makin kepo seriuss :3
    film The Conjuring lumayan keren eonn, tapi tetep ada beberapa yang miss gitu ._. tapi walaupun backsoundnya doang yang serem, aku tetep takut dan ga berani ke atas sendirian #curcol
    overall.. tetep DAEBAKK~

  2. kece ff na :**** aku saranin kasih semacam kamus gitu, kan ada beberapa istilah yang asing buat kita.. yang kudet ntar gak cun kan kasian wkwk =D overall aku suka gaya bahasa kakak… beshhh serasa baca novel terjemahan deh 😉 lanjut nya jgn lama2 ya^^ aku suka ff ini XD XD

  3. apakah yang akan terjadi selanjutnya?? o_o?
    sama sekali gak bisa nebak apa yang akan terjadi selanjutnya
    uouu ini memang benar2 ff yg keren
    jin ah.. jin ah.. kamu ini rada lola yah? koq sama kya q? *bruggg
    yaya.. q doakan nilai mu slalu bagus kak! tapi.. doakan q juga yahhh /plak

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s