Sweet Candy Ship!

Dengan satu genggaman penuh permen jelly yang bergula dan empuk, ia berkata, “Kurasa aku akan suka berteman denganmu!”

.

.

.

.

.

            Ia berdiri di situ lagi, hari ini, musim panas yang menjemukan pada awal bulan Juni. Kenakan celana pendek hijau kotak-kotak, seragam putih kusut kekecilan dan sudut benang menjuntai dari lengan yang bersisian.

Tas kebesaran di balik punggung kecil berwarna biru lambangkan muffin-muffin seputih sepatbor bertuliskan huruf besar warna-warni di atas pintu cokelat kayu yang kusam.

Anak laki-laki itu merogoh kantung celananya hingga sampai ke dasar. Menemukan buku-buku jari yang bergesekkan menahan iri ketika merasakan benda menonjol di sana.

Satu-satunya koin yang kini sudah tertarik oleh kuku-kuku jari penuh cat air yang telah terlanjur mengering.

Sesaat Sungmin ragu-ragu. Atau tidak yakin sama sekali. Jantung kecilnya berdebar dan Sungmin tidak mengerti apa yang terjadi, kala dirinya kini telah berdiri di depan etalase kaca. Hembuskan uap, penuhi embun.

Permen-permen ajaib tertata rapi di balik kaca raksasa. Tinggi-tinggi teratur rapi, terjajar dari kiri sampai kanan, hingga Sungmin harus menghitung ulang setiap harinya permen yang berkurang dan bertambah. Dan oh— jangan lupakan air mancur cokelat yang bergulung-gulung menarik minat, terdiri dari lelehan cokelat terbaik di kota ini.

Sungmin menyingkirkan lagi perasaan rendah diri itu. Meninggikan sebelah sisi sepatu untuk sekedar menatap apakah alas itu sudah bersih atau mungkin tertempel permen karet. Dan jika beruntung Paman Lee akan mengamuk lagi hari ini.

Lonceng berdenting, pintu berderit. Rasakan aroma yang menghambur, memenuhi ruangan. Campuran kakao, susu dan kayu manis yang mengeruh di udara. Sedikit aroma jeruk serta campuran aprikot. Ini surga dunia!

“Selamat dat —Oh! Ming! Kau datang lagi!” seru seorang lelaki tua. Pria itu mengerang tidak lama kemudian. Wajahnya berubah cepat, seolah ia baru saja meluncur dari atas menara cokelat di depan sana, dan tidak kelihatan suka menerima pelanggan. Atau mungkin hanya Sungmin.

Eum!” sahutnya membenarkan. Menolak untuk bicara lebih banyak lagi saat melihat Kevin –salah satu teman di kelas matematika- bersama para anak laki-laki lain bergerombol di pojok sana. Berjarak beberapa rak dari tempatnya berdiri.

Sungmin melihat Chanyeol si tinggi pirang mengendap-endap, mengambil toples permen kacang kenari dengan genggaman telapak tangannya yang lebar dan melemparkan tinggi ke udara. Permen-permen itu jatuh, terjun bebas ke dalam mulut-mulut yang membuka lebar di bawahnya.

Permen itu tercecer dan hanya satu-dua yang masuk dalam mulut semua anak. Sungmin menggeleng takjub, tangan kecil miliknya menyurukkan ujung jari dalam toples permen susu, tetapi mata tetap berkilat-kilat senang. Kelihatannya Sungmin sangat menyukai atraksi tadi.

Hingga terdengar seruan Paman Lee dengan gagang sapu keras yang ujungnya sudah nyaris menempel di ujung hidung Kevin. Berlarian dan teriakkan kemenangan, lalu tinggalkan orangtua itu dengan serapah yang sangat tidak sopan terdengar anak kecil seumur Sungmin.

“Anak-anak payah! Ya ampun, ya ampun. Tokoku! Benar-benar sialan!”

Sungmin masih diam. Asyik menikmati permen susu yang meleleh dalam mulut. Isian cokelat perlahan lumer dan meninggalkan rasa vanilla yang dingin. Butiran itu sangat tipis hingga tangannya sedikit lengket. Ini benar-benar enak!

Tetapi perlahan perasaannya terusik. Ada sesuatu yang terasa aneh di balik punggungnya di saat ia mengunyah permen terakhir.

Dan akhirnya ia berbalik, ekor-ekor rambut tipis yang tumpul itu terasa menggelikan saat bergesekkan dengan pangkal lehernya.

Di sana, seorang anak lelaki. Berdiri di depan etalase kaca jendela, mengenakan kaus beruang madu yang lucu. Tatapan anak lelaki itu relaks, alami dan penuh cahaya. Akan tetapi setelah dilihat lebih seksama oleh Sungmin, bibir anak itu menggeliat penuh kalimat.

***

            “Ibu, aku pulang!” Jeritannya kecil melengking. Sungmin menutup pintu dengan pelan dari dalam. Melepas sepasang sepatu berwarna kuning yang sudah bernoda. Sekarang warnanya pudar separuh.

Mengetukkan di sepinggir teralis lantai depan dan meletakkan dengan rapi di rak sepatu yang berdekatan dengan kalender Micky Minnie. Oh, ini hari Jumat! Hari Jumat adalah hari dimana tumpah ruah cake-cake baru yang dibuat ibunya.

Anak laki-laki itu berlari, terobos desingan mixer dan menghambur dalam pelukkan ibunya yang siap dengan lengan terentang lebar. “Ming rindu ibu!” ujarnya ceria. Mengecup pipi Ji Hyo lama lalu disambut gelitikkan di perutnya yang kecil.

Hari ini Ji Hyo memakai setelan terusan bunga-bunga yang mekar. Sungmin sangat suka melihat ibunya yang cantik saat tersenyum, apalagi jika duduk di pangkuan ibunya.

Ji Hyo menepuk lututnya, duduk bersila dan Sungmin segera duduk di sana, dengan menggeliat seolah tak nyaman. Menceritakan kegiatannya hari ini. Dapatkan nilai A dalam pelajaran menggambar (walau gambarannya adalah seorang penjual permen yang sedang memarahi anak-anak) dan temukan pensil temannya yang hilang.

“—tetapi Paman Lee tidak begitu, bu. Dia seperti tidak menyukai anak-anak yang datang ke toko permennya. Hari ini dia marah lagi.” ceritanya menggebu-gebu. Ungkapkan kekesalan, tetapi cukup mengerti, ia tidak akan bercerita tentang serapah Tuan Lee. Sungmin tidak mau ibunya melarang pergi ke toko permen itu lagi.

Desingan berhenti, Ji Hyo berdiri setelah sebelumnya menepuk pipi Sungmin pelan, bersihkan reremahan anak kue jahe (itu panggilan sayang Sungmin pada kue jahe ibunya) lalu berjalan menuju konter dapur.

”Mungkin Paman Lee sedang kurang sehat,” Ibunya bergumam tidak yakin beberapa saat kemudian sementara tangannya terampil dengan pengocok telur. Oh ayolah. Semua orang tahu Paman Lee seperti apa, si pria tua yang gemar berbohong pada anak-anak untuk dapatkan banyak uang. Terkadang mengamuk kala anak-anak menempelkan tangan-tangan mereka di sepanjang jendela etalase. Bahkan ada yang sengaja menempelkan wajah mereka dengan liar. ”memangnya Paman Lee kenapa lagi hari ini?”

Sungmin berjinjit dengan jari-jari kaki kecilnya di samping meja bundar besar lalu mengambil susu dan meminumnya dalam empat tegukkan besar-besar. Sungmin membersihkan gelembung susu dengan lengan baju seragamnya (Jika ibunya tahu, pasti Sungmin harus tidur di loteng malam ini!).

Lidahnya terjulur sebagian dan ia melompat-lompat untuk menurunkan susu dan kue di dalam perutnya yang kembung. ”Kevin dan teman-teman mengacaukan toko permen bu! Eum—”

Sungmin tersedak hingga Ji Hyo harus bergegas mundur untuk menepuk punggung kecilnya, sebelum Sungmin kembali bercerita lagi. ”Dan juga tadi kulihat Kevin punya teman baru.” tambahnya. Mengingat tatapan anak laki-laki di jendela tadi membuatnya bergidik. Merasa kedinginan.

Sambil melihat ibunya yang sedang memasukkan jari kelingking dalam buih telur putih, diam-diam kepalanya terisi anak laki-laki tadi. Ia tinggi, rambutnya cokelat gelap mengkilap di bawah topi sekolah yang sama sepertinya. Aneh saja, walau seragam mereka sama, Sungmin tak pernah melihat anak itu. Mungkin besok ia akan berusaha mencari tahu.

***

            Keesokan paginya, Sungmin terbangun di jam yang berbeda dari biasanya. Ini hari Sabtu! Hari Sabtu berarti adalah dunia kotak susu, marsmallow anggur dan eum-oh ini yang tidak ia suka, bubur lembek seperti ganggang.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, dia tersenyum cerah. Entah apa yang membuatnya senang. Makan siang hari Sabtu yang nyaman di sekolah, atau karena berusaha menjadi detektif. Ah, ia tidak tahu.

Aromanya pecah di trotoar jalan dan mengundang orang-orang untuk sekedar meliriknya, Sungmin sangat menyukai saat para orang dewasa di jalan melihatnya, atau terlihat penasaran. Atau karena para tetangga yang menyapanya karena wangi sabun Sungmin seperti susu vanilla yang hangat.

Menggelikan melihatnya cekikikkan tanpa suara hingga suaranya berubah, mengaduh kesal dan rasanya akan terhuyung cepat-cepat jika saja tak ada tangan lembut yang melingkar di keseluruhan sebelah lengannya.

Sungmin berdiri tegak dengan kecepatan yang tak terhitungkan. Kepalanya masih pening, namun setelah memastikan hal itu benar, sontak bibirnya sedikit terbuka. Ia mengingat aroma permen jelly setelah melihat anak laki-laki asing itu berdiri di depannya.

”Hei—” katanya terbata. Menirukan gaya berbicara orang dewasa yang ia lihat di televisi bersama ibunya setiap sore hari sambil meminum jus jeruk. ”sepertinya kita—aku, eum maksudku, maksudku—”

Orang asing itu dengan tangan terlipat di dada dan mengangkat satu alis bak orang dewasa serta raut wajah kelihatan sangat risih, segera memotong ucapan Sungmin keras, cepat dan terkesan jahat sekali. ”Kamu mengenalku memangnya?”

Oh. Kasar. Kasar sekali rupanya. Bibir Sungmin mengerucut tidak suka. Ekspresinya yang lain, sementara menahan diri untuk tidak melakukan hal yang sama seperti melipat tangan. Jika begitu, berarti perdebatan tak sengaja ini akan berlanjut.

”Maafkan aku ya?” Sungmin berbisik. Mengingat-ingat kesalahan apa yang sebenarnya dibuatnya. Melupakan fakta bahwa beberapa menit lagi sekolah akan dimulai. Ia tidak ingin tertinggal mata pelajaran pertama yang selalu membuatnya tertawa.

”Permen susu ya?” Sungmin menggulung-gulung dahinya. Ia tidak mengerti kenapa anak ini malah beralih topik. Apa dia sedang bertanya padanya atau apa.

”Maksudmu apa?”

”Maaf, aku sibuk!”

Lalu, anak asing itu berlari, masukki bus kuning cerah dan tinggalkan Sungmin sendiri yang kebingungan. Kuku jempolnya kasar tergigit-gigit bibirnya yang menggerutu.

”Dasar aneh! Bicara kok mengulum-ngulum tidak jelas. Dasar anak kecil!” gerutunya sepanjang trotoar. Tidak sadar jika dirinya juga anak kecil.

***

            Namanya Cho Kyuhyun. Kelasnya berjarak tiga ruang dari kelasnya dan seorang yang penyendiri walau pun punya banyak teman.

Terlihat asing dan tak pernah menimbulkan masalah kecuali akhir-akhir ini sering sekali  terlambat sekolah dan pulangnya selalu duluan. Entah apa yang dilakukannya.

Ia mempunyai mata seindah switter cokelat hangat milik Sungmin. Juga kulitnya seputih susu, namun eum sedikit basi (baiklah, Sungmin tidak punya perumpamaan yang baik).

Suka sekali dengan permen, cokelat dan muffin. Dia tinggi, dan tangannya juga tinggi, kakinya tinggi, hidungnya tinggi (Sungmin baru saja selesai mengintip dari jendela kelas Kyuhyun dibantu temannya yang merelakan lehernya pegal karena berat Sungmin).

“Aku tidak yakin apa yang sekarang kita lakukan ini benar!” seru Donghae menggerutu separuh keras. Ia menepuk pipinya berulang kali.

Sungmin menempelkan semua jarinya di bibir. “Sebentar teman! Kita harus cari tahu, apa dia itu alien atau manusia!”

Donghae memutar bola mata, ia belajar itu dari ayahnya. Donghae tidak mengerti kenapa ia bisa betah berteman dengan Sungmin si anak aneh seperti ini. Sementara semua badannya sudah merah-merah gatal.

“Nyamuknya banyak!” Donghae hampir menangis. Melupakan jika mereka tengah bersembunyi.

Sungmin menoleh, dan bahunya naik—turun dengan cepat. Ia kelihatan kesal sekali. Tetapi ini temannya! Baiklah, Sungmin harus sabar. “Aku berjanji akan memberikan bubur ganggang milikku untuk Hae!” katanya ceria. Sebenarnya lebih dari meredam kekesalan. Sungmin merasa tubuhnya panas dan permen-permen susu di kantungnya terasa lengket sekali.

Tiba-tiba mata Donghae berkilat-kilat senang. Sungmin sungguh amat tidak mengerti kenapa Donghae lah yang sesungguhnya persis alien bermata hijau setelah mendengar kalimat buburganggang. Donghae bertepuk tangan keras sekali di bawah meja. Bodohnya sekarang bukan hanya Sungmin yang menggeram kesal. Tetapi oh! Mereka ketahuan!

Kyuhyun menurunkan kakinya di lantai. Merundukkan badan dan menatap mereka dari balik meja. Wajahnya memerah dan Sungmin berpikir mungkin Kyuhyun akan meledak marah pada mereka sebentar lagi.

Tetapi salah, anak itu mengubah raut wajahnya lalu menangis kencang di dalam perpustakaan.

“Kenapa kalian membuatku menghilangkan halaman buku yang aku baca!”

Ups.

***

            “Kyu! Tunggulah aku! Maafkan aku ya! Jangan marah. Jangan, jangan!”

Kyuhyun menghentikan kakinya tepat di atas jalan yang naik satu sisi di sepinggir toko. Ia menoleh dan menggeram seperti singa lagi. Terusik dan terus terusik.

“Kenapa menggangguku terus!” serunya marah-marah. Sungmin berbinar melihat wajah Kyuhyun yang masam dan bibir yang mengerut runcing serta bersemu.

Sungmin berhenti tepat selangkah lagi di depan hidung Kyuhyun. Bahkan Sungmin bisa melihat mata segelap switter itu menatapnya. “Kasar. Kasar sekali padaku.” Sungmin mencicit jujur.

Suaranya seperti seruling yang tersumbat. Matanya sipit bergetar-getar menahan tangis. Tetapi saat melihat tatapan Kyuhyun yang seolah akan ikut menangis menemaninya. Ia tidak tahan untuk berteriak senang. Lupakan kalimat beberapa detik yang lalu. “Kyu lucu sekali. Sangaaaaaat manis jika ekspresinya seperti sekarang.” katanya polos. Tidak mengerti apa itu sisi manusiawi seseorang.

Dan dampak itu menerjang tubuh Kyuhyun secepat mobil remote control terbarunya. Kakinya lemas dan gantungkan sisi tangan di samping kaca etalase anak anjing yang menyalak gembira dan ia menunduk untuk melihat satu tali sepatunya yang lepas. Baru sekali ini ada yang memujinya.

Kyuhyun berpikir untuk berlari atau mungkin menggelinding di jalan. Tetapi ketika mendongak dan melirik raut malu-malu Sungmin, ia segera membuang pikiran itu. Tanpa sadar sesuatu dalam kantungnya bergetar dan Kyuhyun merasakan gejolak permen jelly itu akan meledak di sana.

Um,” Kyuhyun bersenandung ragu-ragu. Sedikit menunduk lebih ke samping untuk melihat bahu Sungmin yang kecil dan hidungnya yang memerah seperti badut. “namaku Cho Kyuhyun dan aku—”

”Aku sudah tahu namamu!” Kyuhyun terkejut saat Sungmin berseru seriang angin. Bukan karena tidak sopan memotong ucapannya yang lalu, namun karena teriakkan anak itu mengundang tatapan kesal para orang dewasa di jalanan ramai.

Bibir Sungmin mengeluarkan napas cepat sementara tawanya berdering pelan. ”Maaf ya, aku terlalu senang bisa berbicara dengan Kyu! Kyu ternyata baik sekali, kukira Kyu itu dingin dan tidak suka padaku. Aku suka dengan Kyu!”

Oh? Benarkah? Entah kenapa Kyuhyun senang sekali dengan suara tinggi yang lucu dan gigi-gigi kelinci yang imut itu terlihat ketika Sungmin berbicara, dan satu-satunya yang teringat jelas adalah ketika pertama kalinya Kyuhyun membayangkan mendapatkan teman selembut, seriang dan semenyenangkan Sungmin di sore hari yang lalu, berjalan, tumbuh dewasa dan menjadi teman selamanya.

            Aku… juga suka dengan Ming!

Perlahan demi perlahan, sedetik demi sedetik dan kaki yang penuh keyakinan melangkah dalam ketenangan di sore hari yang cerah.

Lalu, dengan satu genggaman penuh permen jelly yang bergula dan empuk, ia berkata, “Kurasa aku akan suka berteman denganmu!”

E N D

            chochangevilkyu’s note:

I’am so hungry, in my imagination, I’ve chocolate and candy factory and eat eat eat-everyday-without-border -_-

Lapar, lapar, lapar! Yang lapar angkat hape dan pamerin suara kruyuk-kruyuknya HIHI.

For God’s Sake, I don’t know what I mean make this fic, I just miss this couple after long  long loooooooong time ago not see them in my big screen. Look! They’re just a little boy with cutie-handsome-oh damn-sexy face ><

They’re most a fucking perfect couple in the world, eum I think KyuHyuk too, but seriously, I’am a bitchy person when talking about them, cause I can’t stop fangirling if DUO-CUTIE-LOVELY this obviously in front of my eyes. Oh maaaan! I wanna kissing them now ><

Are you agree wifth me? 😀

222149_417780734937139_988896288_n

Err, look he tooth! Cutie cutie cutie ><

kyu-sj

Ehek Kyu! Pantesan gedenya setan. Kecilnya anak mafia -_-

Iklan

6 responses to “Sweet Candy Ship!

  1. waahhh… imut banget mereka disini^^
    ngegemesin kaya permen
    huhu gak nyangka klo kyuhyun pas kecil gendut, tembem, imut kya gitu 😀

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s