Baseball in Love 7: Confession

Cho Kyu Hyun, OC; romance, friendship; half of confess; Parental Guidance, chapter 7; Super Junior © Copyright

“Maybe, like a pair of shoes which bearing relatedness of our hearts. Right?”

by-cho

Dalam satu malam baru, resah itu pula. Jihyun melihat Kyuhyun menaburkan segenggam bubuk emas ajaib padanya. Menaburkan titik-titik debu berkilau itu dalam hatinya. Dan wush. Semuanya berubah hanya dalam beberapa detik ketika sentuhan bibir itu telah menaklukkan sebagian bilik dalam kuncian jantungnya.

.

.

.

.

.

            Jihyun terbangun di hari Senin pagi. Melakukan hal yang sama dan berakhir dengan sesuatu yang sama. Ia sudah melupakan hari kemarin, atau semalam beberapa jam yang lalu. Karena itu sama saja membuka ingatan kembali. Ugh, ia cukup malu atas kejadian itu. Tak perlu dibahas.

Melirik headline besar-besaran dalam koran pagi di atas meja berjarak lima jengkal dari samping pinggangnya, ia mengerang. Kepalanya berputar, dunianya seperti dalam cerita di film-film. Cukup membuatnya melempar selimut, membentur kursi panjang di ujung tempat tidurnya.

Kesadarannya masih dalam batas tak nyata.

Lalu dia berpikir, kemudian lehernya melenting ke atas saat itu. Sejak kapan aku membaca koran? Baiklah, mungkin dia memang bodoh atau kurang cerdas. Mari anggap demikian. Namun, jika dalam hitungan detik saja dia membaca satu kata dalam koran, itu adalah hal mustahil. Semua tahu akan hal itu.

Jihyun lalu menurunkan kepalanya sebentar. Ia melihat kepala Kyuhyun menyembul dari balik selimut yang baru saja dilemparnya. Ia bisa melihat tatapan memicing, juga rambut acak-acakkan coklat yang dibuat seperti jambul dengan gel pengeras. Atau mungkin sejenisnya.

“Apa kau tidak melihat-lihat dulu jika mau melempar sesuatu?” kata Kyuhyun. Ia lalu berdiri. Melipat selimut dengan tenang. Dan aturan dalam kegiatan pagi itu telah selesai satu tahap. Namun, Jihyun masih diam, bergeming tenang. Bahunya naik-turun, bernapas dengan cepat, ia menumpu tubuhnya dengan lutut dan maju beberapa seretan lutut. Ranjangnya berdenyut, bersuara keriut panjang.

Jihyun memiringkan satu tangannya ke bawah dan kembali duduk tenang. Ia menurunkan sedikit piyamanya yang tersibak. Masih terlihat bingung.

Baiklah. Ini tidak biasa. Ini berbeda dan Jihyun tidak tahu cara melihat orang atau pun menatap dengan mata. Ia bagaikan seseorang dari antah berantah yang siap digiring dalam panggangan penuh kisi-kisi yang berkarat.

Kyuhyun balik menatapnya. Ia maju dua langkah. Menundukkan kepala dalam lingkupan berjarak beberapa derajat lalu menaikkan satu tangan dan mencubit hidung Jihyun maju mundur. Menggesekkannya cepat. “Sadar young lady! Apa kau ingin kucium?”

Lalu yang terjadi begitu cepat. Kyuhyun mendadak melompat, terjungkal dan Jihyun dengan spontan duduk di atas perutnya. Meneriakkan banyak kalimat yang membuat Kyuhyun tidak bisa mendengar, bahkan berharap tidak melihat lagi.

YA! Apa yang kau lakukan di kamarku pagi-pagi seperti ini bodoh?! Dasar laki-laki kurang ajar!”

.

.

.

.

.

            Kyuhyun mendengar suara alas kaki yang terhentak-hentak paksa. Kaki melangkah, berlari dalam hitungan detik lalu berhenti mendadak. Bukan tiba-tiba, hanya saja terlalu cepat.

Jihyun terlihat terengah-engah. Ia diam di samping kursinya. Menatap satu per satu orang yang berada di sana. Ayahnya seperti biasa, berada di balik koran. Dan satu orang baru yang menurutnya masih terlalu asing. Ia tidak suka. Terlihat jelas.

“Ayah!” teriak Jihyun. Kesalnya makin menjadi-jadi saat melihat Cho Kyuhyun duduk tenang di sana. Memakan croissant sambil memegangi pipinya yang merah. Mungkin berdenyut atau kurang asupan nutrisi atau hanya sekedar kamuflase. Jihyun tak mau memikirkannya. Ia cukup bertahan dalam tahap puas pertama melihat balasannya terhadap anak laki-laki itu.

Jungsoo tidak diam. Ia mengintip dari salah satu lubang sebesar lubang hidungnya demi melihat Jihyun yang sedang dalam keadaan tidak senang. Marah, wajahnya memerah dan mirip sepatbor yang tertempel di atas rumah kayu tetangganya. “Ada apa sayang?”

Tanpa disuruh dua kali atau tiga kali. Gadis itu lantas duduk di atas kursinya dan menunjuk-nunjuk Kyuhyun dengan jari tengahnya. Ia tidak sadar, tetapi Kyuhyun juga tidak terlihat marah, hanya tersinggung dan cukup memakluminya saja. Mungkin nanti laki-laki itu akan membalasnya.

Jungsoo menghela napas. Tidak lelah, meski harus mengakui, namun nyatanya ia cukup terhibur. Lalu ia berbicara, terdengar membela Kyuhyun memang. Dan Jihyun bertambah tidak suka. “Jangan begitu sayang,” Apanya yang begitu Ayah! “Kyuhyun hanya Ayah suruh untuk membangunkanmu untuk sarapan dan segera berangkat kuliah. Memang salah?” Tentu saja! Bagaimana bisa pagi-pagi yang buruk ini –semakin buruk saja– seenaknya menyentuh hidungku! Dan juga memperlakukanku bagai bayi! Ini penurunan derajat namanya!

Kyuhyun diam saja. Ia lebih ingin mendengar segala argumen-argumen tak penting Jihyun di pagi hari. Membayangkan gadis itu diam adalah hal yang cukup menyiksanya. Tetapi setelah melihat Jihyun kembali seperti pribadinya yang lama, ia merasa senang. Cukup mengamati dan diam-diam menertawakan.

Kemudian Jihyun terdiam setelah menyelesaikan kalimatnya. Menjauh dari sana, tak terlihat dari Jungsoo namun tak cukup jauh dari arah pandang Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan menaikkan satu alis. Kyuhyun baru sadar dia punya ekspresi baru.

Tetapi yang aneh adalah, saat itu juga Kyuhyun menemukan wajah Jihyun terlihat sendu menggelap. Menatapnya dalam sisi yang meredup.

***

            Kota Seoul di tengah padatnya arus berjalan adalah hal yang biasa, diliputi berbagai macam keadaan. Dan ujung kota yang terhimpit. Namun bagi Jihyun, musim gugur pertama yang jatuh di kota ini adalah sumber inspirasinya.

Ia mengenakan sepatu merk lama. Terlalu lama dalam lembaran bolak-balik majalah fashion beberapa bulan yang lalu. Sepatu itu tak berketuk dan nyaman. Remah-remah bunga yang terinjak terdengar senada dalam langkahnya. Ini sudah mulai masuk musim dingin dan ia cukup khawatir dengan para pemainnya. Sejujurnya.

Khawatir bukanlah hal yang baik. Jadi ia berusaha tenang dan berjalan lewati tiang-tiang penopang tembok lengkung. Menghubungkan dinding di balik kota sebelah dan sungai. Bersandar dengan satu kaki menopang.

Jihyun mengamati hal itu lama, separuh manusia dengan hak-hak tinggi mereka, langkahi garis ujung dengan terburu-buru.

Kakinya tergoda, lompati batu pipih dan menerjang arus lurus para turis. Jihyun berdebar dan perasaannya terlukis dalam pikiran.

Di dalam bayangannya, Jihyun berpikir bahwa hari ini akan dilalui dengan tenang. Bahkan, Jihyun sudah memperhitungkan grafik potensi para pemain di club.

Tetapi tidak bisa, ada salah satu pikiran tak kasat mata yang tak dapat ia rasakan namun begitu kentara mengusik dirinya.

Jihyun menunduk, berpura-pura memperbaikki sepatu, walau kenyataan tak ada sesuatu yang perlu dirapikan.

Dari sini, ia dapat melihat Su Ah sang wanita penyendiri yang tinggal beberapa blok dari rumahnya serta sepatu Givenchy yang terhentak dengan anggun. Berjalan lewati dirinya.

Dalam kebingungan di pagi hari. Ia mendengar kembali langkah kaki, kini sepatu. Sejenis kulit tebal yang dipakai para turis yang datang. Atau mungkin ini hanya produk lawas dari tatanan berkilauan dalam etalase kaca yang baru.

Langkah itu terdengar baik, teratur dan ia bisa mengira orang itu dalam mood baik. Atau mungkin jalankan kaki dengan hitungan. Orang-orang terbiasa seperti itu, tak peduli orang lain adalah hal yang biasa. Senyuman malu-malu serta suara pelan penuh pesona.

“Mencari sesuatu?” Suaranya tinggi. Terdengar ceria, belasan tahun umurnya. Jihyun dengan cepat mendongak. Lehernya melenting ke belakang dan ia merasakan rambutnya yang tumpul menusuk leher dengan halus.

Jihyun berdiri, menepuk pundaknya. “Sejelas itu Oppa?” balasnya tenang. Menutupi rasa ingin mengubur diri. Sungmin mendorong satu alis lalu melipat tangan. Bola baseball meluncur keluar dari salah satu saku jaket tebal Sungmin dan ia membiarkannya.

Suara Sungmin pecah dalam keramaian. Ia terkesan kecewa dan sedih. Menyadari hal itu lantas Jihyun berdehem, berbicara lagi lalu mendongak ke samping. Ekor-ekor rambut Sungmin berkilau di balik tudung jaket.

Ketika mendongak, Sungmin sudah menemukan kembali senyuman Jihyun. Gadis itu tersenyum terlalu lebar. Sungmin berpikir mungkin satu centi lagi, mulut Jihyun sudah sampai ke telinganya. Sepertinya Jihyun ada masalah.

Yang mengusik rubah tidur dalam diri Sungmin adalah bibir-bibir yang tertarik itu. Senyum terlihat sedih dan penuh kemunafikkan.

***

            “Kukira kau ada masalah?”

“Tentang apa?”

Yesung bergeser, tak mengerti tetapi ingin berusaha mengerti. Tangannya bergulir mengusap bat yang berada di atas pangkuannya. Menaikkan pandangan pada anak rambut Jihyun yang menempel di atas pundaknya. “Tadi pagi kau ceria sekali, sepertinya. Lalu tiba-tiba dalam sehari kau berada dalam mood buruk.”

Meloloskan tawa kecil, bergumam. “Aku seperti ikut dalam kegiatan negosiasi untuk acara pembelaan negara secara ekspresif.” jawabnya. Beralih jauh dari topik semacam haus akan kasih sayang. Menimbulkan beberapa garis kasar di sepanjang kerutan mata Yesung.

Para pemain berteriak kasar. Menggapai udara untuk menuju puncak home run. Mereka terlihat senang sekali. Anehnya kenapa Jihyun berada dalam situasi yang tidak mengenakkan? Ia seperti sendiri dalam sebuah ruang terkecil. Sempit, duduk dalam pojok kotak marmer yang dipasung.

Yesung berdehem. Memulai pembicaraan serius. “Kau masih ingat apa yang kutunjukkan beberapa hari yang lalu ‘kan?” Melirik, ia melihat Jihyun mengangguk. Tanpa membalas menatapnya dan semakin terpuruk dalam keramaian. Aneh sekali.

Di sebelah Yesung, Jihyun  bergeser. Ia merasakan sesuatu yang aneh sejak tadi pagi-pagi sekali. Sesuatu keluar dari mulut dan membasahi bibir. Ia tampak berpikir. “Aku tidak mengerti,” katanya dua detik sebelum Yesung menyipitkan mata. “perasaanku aneh. Seperti eum-“ Akan ada hal yang terjadi.

Lalu Yesung merapatkan bibir. Ia mengamati diam-diam sesaat setelah tiba-tiba Sungmin datang. Mengambil sebotol air dan meneguknya. “Jihyun?  Kau tidak apa-apa?”

Tak hanya hal itu yang menjadi prioritas utama para pemain. Mereka sadar, mereka tidak buta atau pun pura-pura tidak sedang dalam kondisi yang memungkinkan untuk bermain drama. Namun mood buruk Jihyun sepagi ini berdampak pada satu-satu perasaan iba, resah dan gelisah pada semua pihak.

Hingga hampir sore, saat sinar meredup dan tinggalkan aroma rumput basah di sepanjang sisi-sisi bench yang licin, tergelincir matahari nyaris membutakan kembali konvensional tubuh miliknya.

“Ini sudah sore, asal kau tahu.”

Kyuhyun tiba di sampingnya. Lapangan terlihat sepi, hanya cahaya dari lampu-lampu yang telah menyala menjadi penekan gelap. Kyuhyun melemparkan bola dan bat dari tangannya lalu mengaitkan jemarinya pada telapak tangan kiri Jihyun yang dingin dan menekannya di dada.

Jihyun menatap Kyuhyun lama, menunjuk dada Kyuhyun dengan jari kelingkingnya lalu masuk dalam perangkap hangat itu. “Perasaanku kacau, firasatku buruk dan pikiranku menyimpang.”

Laki-laki itu dapat merasakan aroma ketegangan dalam seluruh tubuh Jihyun yang terpenjara dalam miliknya. Semakin menekan dan membuktikan semuanya akan baik-baik saja.

Yah. Selama tak ada satu dari salah menyalahi itu terjadi, Kyuhyun selalu berusaha menjadikan dirinya di atas segalanya untuk menangkupi Jihyun atau dalam hal ini, Kyuhyun akan selalu ada dalam bayang-bayang Jihyun hingga laki-laki itu seutuhnya menjadi penetral asam basa kehidupan.

“Kau tahu, kau berbeda dengan pagi tadi.”

“Ya, aku tahu.”

“Dan terlihat hampir mati.”

“Dua kali mengerti.”

“Dan kau juga buruk.”

“Jelas.”

“Dan apakah kau tahu jika hari ini aku semakin mencintaimu?”

“Ya, aku ta- apa Kyu?” Dengan kepala bersitumpu pada dada Kyuhyun, Jihyun mendongak, ia dapat melihat rambut-rambut halus yang baru di bawah dagu Kyuhyun juga mata yang menatapnya terlalu dalam. Ini pertama kalinya Jihyun tak berusaha menolak kehadiran jengkalan Kyuhyun dalam hidupnya. Kyuhyun mengeratkan dekapannya. Menjaga diri sekaligus bersikap waspada.

Hidung Jihyun bersandar pada tulang selangka Kyuhyun dan menghirup aromanya di sana. Jihyun dapat merasakan tangan Kyuhyun bergerak menggenggam pinggangnya. Antara mawas dan khawatir.

Sedetik dalam semenit berputar, Kyuhyun terpejam. Menunjuk jantungnya lebih kepada diri sendiri. “Hari ini, esok dan seterusnya kuharap jangan menjaga jarak lebih jauh dari ini. Kau tahu? Aku tersiksa.”

Bahu Kyuhyun naik beberapa saat kemudian, mempertinggi kesan diri kala Jihyun tersenyum dalam bahunya dan menggosok tangan di dadanya. Sudah lebih dari cukup untuk mengerti makna itu.

Dalam kurun waktu tertentu, Jihyun merasakan nyaman yang terlalu berlebihan. Ia menafsirkan hal ini sebagai bentuk kebijaksanaan pertama dalam pembelajaran rasa antusiasme tinggi. Kyuhyun memang manis, dan terkadang ia merasakan sesuatu bergejolak. Berdebur dan rasa tertatih tinggi.

Mungkinkah dalam tidurnya, Kyuhyun mengirimkan cokelat meleleh dalam mulut, serta secarik surat merah muda yang berbau menusuk nyaris melubangi lebih dalam lagi hidungnya?

Yes. I do.”

***

            Firasat buruk itu terjadi, penyimpangan itu benar-benar terjadi saat pada hari Kamis sore udara lembab menaungi oksigen di sekitar Jihyun.

“Kyuhyun has accident in practice, swollen him legs and he arms in-condition-almost broken. Nearly half paralyzed if linked to play.”

Saat itu, Jihyun hanya terdiam. Ia tidak tahu cara mengekspresikan diri. Atau harus melakukan hal apa. Yang jelas air mata itu keluar. Merembes merasuk kulitnya.

Perlahan. Perlahan.Perlahan.

Detik berdetik berputar terus nyaris menulikan akalnya, hanya satu teringat dalam kepalanya ketika diam-diam Sungmin menariknya dan memeluk untuk mengecup puncak kepala Jihyun. “Tenanglah. Tenang Park Jihyun.”

Hampir dua hari perasaan Jihyun terus menerus kacau. Buruk.

Ia menolak untuk keluar dari tempat mana pun. Rasa bersalahnya kian memuncak di saat Kyuhyun menemuinya. Lelaki itu terlihat baik-baik saja, namun saat menunduk lebih dalam. Rasa kecewa itu timbul dalam lekuk wajahnya. Terbaca mudah dalam tempat persembunyian sudut senyum itu.

“Jihyun, aku menyayangimu. Jangan mebuatku semakin bodoh dengan hal yang kau lakukan saat ini.”

***

Bayangan kelam itu kembali.

Jihyun tidak ingin membayangkan hal itu lagi. Ia benci ketika dirinya merasa lemah atau bodoh. Dengan itu semua, tubuhnya seolah terikat sesuatu dan seperti budak yang setia mengikuti pikiran itu.

Tetapi kini pemikirannya melewati kejadian malam itu. Di saat akalnya hampir membunuh dirinya sendiri dan kesadarannya hanya sebesar peniti, terjatuh dalam pelukkan seseorang di sepinggir malam kelam. Mengingatnya saja membuatnya bingung.

Pikirannya terlalu fokus pada beberapa titik, dan kini merasa terpuruk, sampai satu butir telur jatuh dari atas marmer yang halus, Jihyun tak menyadarinya hingga Kyuhyun datang dan menghentikan gerakkan tangannya. Desiran itu kembali lagi.

“Menurutmu apa yang kaulakukan?” Dengan pertanyaan baru, jari-jari besar Kyuhyun melingkupi telapak tangan Jihyun, menyelinap di antara sari-sari kulit luar yang terasa jauh lebih hangat dari malam-malam sebelumnya.

Pendengaran Jihyun sepenuhnya tertuju untuk desisan pelan dari arah belakangnya.

Jihyun merasakan pengocok telur itu mengeras. Seolah didiamkan terlalu lama hingga putih-putih telur itu memberat. Menarik dirinya masuk dalam buih-buih yang mengintip perlahan dalam pinggiran baskom kaca.

Mulutnya semakin merapat ketika dada Kyuhyun menekannya. Memang tidak cukup bidang untuk merengkuhnya, namun lebih dari cukup untuk membuat seluruh tubuhnya merasakan kulit itu tak terbatas oleh apapun.

“Kau melamun,” kata Kyuhyun gusar. Ia melirik ke bawah, tepat di atas rambut-rambut Jihyun yang berbau cokelat menyapu sudut bibirnya. Aroma itu merasuk jelas, dan Kyuhyun bisa melihat tangan Jihyun yang mengocok susu dan tepung dalam arah yang salah. Ia menggeser ke tepi. “Ada sesuatu yang aneh? Sesuatu terjadi begitu saja?”

Jihyun menggeliat. Merasakan kemarahan terpendam meluncur perlahan dari balik bibir Kyuhyun yang menekan lehernya. “Tidak ada,” Jihyun tidak yakin, sementara tangannya terulur ke atas untuk mengambil loyang dan tubuh Kyuhyun kembali bertumpu pada bahunya untuk mengambil alih loyang di buffet atas. “aku hanya terlalu banyak pikiran.” Mungkin.

Akan tetapi pikiran Kyuhyun menyimpang. Dia terlalu mengerti tentang Jihyun, mengerti sampai dalam tahap tertinggi seperti hubungan lama yang terkupas beberapa saat. Lantas ia menggerakkan tubuh lebih menekan. Jihyun bergidik.

“Maaf,” Kyuhyun berbisik. Membiarkan Jihyun menumpahkan seluruh adonan dalam loyang dan meratakan dengan sendok. Merunduk, Kyuhyun dapat melihat secara utuh wajah  memerah menahan seluruh emosi. “seharusnya ini tak terjadi, seharusnya ini di luar kendali. My bad.”

Kesabaran Kyuhyun terlalu tinggi, sampai ke puncak hati. Ia tidak mungkin melampiaskan segala sesal dengan kepalan atau menahan diri untuk tidak segera merapatkan Jihyun dalam dadanya.

Kyuhyun mendengar suara serak rendah Jihyun dalam keheningan yang tercipta kemudian. “Kau tidak pernah salah. Ini salahku Kyu,” Suaranya terkunci dalam redaman jari-jari yang membelai punggungnya lembut. Jihyun berbalik sekedar melirik. Mata itu menyipit jujur. Ungkapkan sendu yang semakin membuatnya merasa bersalah. “Aku harusnya tidak,” Ia berhenti berbicara. “-membuatmu dalam masalah.”

Ini bukan salahnya! Tidak ada yang salah! Tetapi rasa-rasanya dalam keadaan seperti ini, tidak cocok kalimat seperti itu terungkap. Memainkan perasaan adalah hal yang menyedihkan dalam tahap penyesuaian tempat.

Kyuhyun menarik tubuh Jihyun hingga saat ini Kyuhyun dapat melihat seluruh ekspresi Jihyun. Kyuhyun merasa jatuh bersimpuh dalam kilauan mata itu sebelumnya. “Mungkin, mungkin jika ini semua tak terjadi. Gamang rasanya dapat melihat matamu seperti ini.”

Jihyun merasakan pinggangnya menekan konter, dan rasa panas menembus. Tetapi ia juga merasakan telapak tangan Kyuhyun menjadi alas pinggangnya dan meremasnya lembut. Kyuhyun memutar dan menjauhkan Jihyun dari sisi konter lalu mendorong dari samping loyang hingga Jihyun berdiri di pojok dapur.

“Jarimu.” Dengan itu secara singkat jari-jari Jihyun telah sampai di bawah kucuran air dan Kyuhyun melembutkan pegangan dalam jari-jari mereka. Dua kali Jihyun merasa semakin bersalah. Jihyun secara eksteren luluh dalam dekapan itu.

Bagaimana cara Kyuhyun kembali menekannya dan bagaimana cara Kyuhyun menjejakkan satu kakinya untuk menjadi sandaran kaki Jihyun. Jihyun tidak mengerti dan rasanya perasaan ingin membunuh dirinya muncul lagi secara konstan.

Kyuhyun sudah terpenjara dalam tatapan itu kembali sesaat setelah Jihyun menunjukkan lagi rautnya yang bercampur. Merasa bersalah. “Kyu! Aku tidak mengerti! Aku tidak mengerti dirimu!”

Jihyun menangis. Ia menjerit dan susah payah berdiri jika tidak mengingat bagaimana kondisi Kyuhyun saat ini. Jihyun merasa bersalah. Bodoh. Dan jahat.

Gadis itu dapat merasakan lagi debar jantung tanpa rasa bersalah itu. Meredam kembali suara sengau dan tertunduk dalam rasa tinggi kasih sayang. “Aku tahu, aku tahu! Bodoh sekali! Rasanya aku hampir mati saat melihat wajahmu kemarin! Rasanya… rasanya jika aku melarangmu atau apa pun, kau tidak akan-“ Kyuhyun mencium sudut demi sudut kelopak yang meredup itu. Demi Tuhan! Ini lebih buruk daripada melihat Jihyun yang menggaet lengannya demi ingin berjalan bersama.

“Bagaimana ini, bagaimana dengan pertandingan itu Kyu? Maafkan aku.”

Terdiam adalah cara yang tepat untuk menenangkan hati seseorang yang remuk dan jatuh dalam dasar-dasar serpihan. Sesungguhnya, Kyuhyun juga merasakan hal itu. Kecewa luar biasa tak tertandingi ketika mendapati rasa perih itu masih menjalar dan perlahan membuat tangannya  mati rasa.

Namun ketika ditanya kembali dalam hal ini, sakit hati dan kecewa itu teredam. Melalangbuana dalam dekap erat seperti ini. Kyuhyun sudah kembali, tentu saja. Dirinya tak ingin merasakan perasaan sakit seperti itu berimbas pada kesakitan Jihyun.

“Jadi, apa kabar cookies itu?”

“Apa?”

Cookiesmu! Astaga kau sepertinya menghancurkan produk karya pertamamu!”

“Oh cookies. Apa? Ya ampun! Cookiesku Kyu!”

Lalu Kyuhyun terbahak bersamaan dengan asap menyeruak lebar-lebar lewati celah panggangan. Kyuhyun bisa melihat Jihyun yang terlihat hampir menangis lagi kali ini, namun untunglah gadis itu kembali menjadi gadisnya yang manis dan terlihat lucu ketika menggerutu.

Hawa panas perlahan merambat pelan semakin ke dalam hingga Jihyun harus merasakan tengkuknya seperti merekat dengan lengan Kyuhyun yang tiba memutar tubuhnya, menarik dengan sentuhan bijaksana terlembut.

Mata Kyuhyun menyipit hingga tertinggal sudut-sudut kelam yang mengkilat. Mengamati hal itu lama. “Kurasa aku punya sesuatu untukmu.”

Gadis itu dapat melihat balutan perban yang membebat lengan Kyuhyun membuatnya meringis dalam hati. Ia juga dapat mengamati pergerakkan Kyuhyun melambat dan melambat saat tiba-tiba genggaman lain keluar dari saku.

Jihyun memiringkan kepala dengan cepat. Berusaha mengintip. “Apa yang kau pegang Kyu?”

Dalam satu malam baru, resah itu pula. Jihyun melihat Kyuhyun menaburkan segenggam bubuk emas ajaib padanya. Menaburkan titik-titik debu berkilau itu dalam hatinya. Dan wush. Semuanya berubah hanya dalam beberapa detik ketika sentuhan bibir itu telah menaklukkan sebagian bilik dalam kuncian jantungnya.

To be continued

            chochangevilkyu’s note:

Well, happy? Happy? Ini khusus yang dulu pingin banyakin KyuHyun kopel momen! Sweet? I know *dor

Oh maaaaaaaan! Entah kenapa aku buat part ini itu ketawa sendiri, kadang mesem. Aku gilaaaaaa *gegulingancantik/benerinkerah/ehem.

Euhm. Intinya terimakasih yang masih mau nunggu dan yang suka kepoin di mana-mana *mendadakngartis*

Dan juga maaf kalau sportnya gak begitu nongol juga feelnya kurang dapet atau whatever your feeling, I’am so sorry.

Dan ini terakhir, serius terakhir. Jadi jangan abaikan ><

Doain ya report aku cepet selesai. Aku ada tugas buat report (tugas akhir OJT dalam bahasa inggris) dan ini harus selesai kapan aku lupa *muridamnesia* dan juga dipresentasikan ke guru-killer-bikin-pingsan-cuma-denger-langkahnya dung dung dung-aja-dari-depan-pintu. Kok kayak skripsi ya? Eh gatau juga ding, aku kan masih siswi imut-imut *cukurkumis*

Ehm *itungwordcount* ampuuunnn ><

Oke, cukup deh, nanti kalian pada mutah berjamaah. Intinya selama menikmati yah!

Cho yang lagi galau tugas bahasa inggris, dan merinding disko nungguin hari presentasi sama guru-killer-bikin-pingsan-cuma-denger-langkahnya dung dung dung -aja-dari-depan-pintu._.

Iklan

7 responses to “Baseball in Love 7: Confession

  1. mksh pw nx ^^
    ha..ha..ha.. smpt bingung dan hrz bolakbalik k part sblm nx biar ingt ma lanjutan nx ini..
    k’ ak sdkt bingung yah di part yg ini O.o ngga dpt feel nx #jujurbanget
    heeee..heeeee..heeeee..

  2. bingung bacanya ciyus .___.

    pasrt 6 kan yesung mau ngajak jihyun kemana ga tau, kok sekarang udah bareng kyu? terus katanya kyu kena kecelakaan pas lagi main (?)

    penjelas plis. buat part penjelasan ._____.

      • Dan gini yah, ini termasuk stand alone, juga di prolog depan ada narasi kalau Ji-Hyun malu inget kejadian kemarin, nah itu abis di kasih liat sama Yesung. Kan ada pas momen Yesung Jihyun terus Yesung tanya tuh sama Jihyun -_-
        Dan jg aduh sebenernya kau baca tidak pas bagian perasaan Jihyun kacau terus kejadian itu bener2 terjadi._.

  3. chinguuu
    kenapa gaya bahasanya berubah
    susah dimengerti dan mmbingungkan
    aku gak ngerti kenapa tiba2 lari ke sini crtanya
    seingat aku part 6 nya gak bgini akhirnya
    tapi ttap baguslah
    dan eeeeeeiiii maksud cerita nya apa di part ini ??
    jujur gak ngerti

    mian #bow

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s