Jack O’ Lantern

Every midnight, one life pays off

Luhan/Sehun; au, friendship, mystery; parental guidance, slight!; song recommendation; harry potter and the chamber of secret soundtrack – prologue book II (really fantastic!); EXO © Copyright

jack-o-lantern-days

Trick or treat!”

Malam ini tak begitu sunyi, nyatanya tiap rumah dirambati berbagai lilin-lilin temaram di sepinggir tapak-tapak menuju pintu kelam. Tanaman liar sengaja dipasang menyulur untuk memberi jebakan pada malam pertama bulan purnama.

Korsase menjadi pilihan utama menggantikan penggantung lonceng di ujung teras rumah agar terasa lebih menyeramkan. Malam Hallowen di sepanjang kota menggemakan utusan para iblis untuk berkunjung. Begitu kisahnya.

Pria tua dengan baju rumahan keluar dari sudut pondok. Ia terlihat menggerutu namun matanya menyipit saat beberapa hantu anak-anak berdiri untuk menengadahkan ember pasir meminta permen.

Trick or treat!” seru beberapa anak-anak. Membungkuk untuk mengumpulkan permen-permen menjadi menara tinggi.

“Baik baik.” Larry mengerang kembali. Seolah anak-anak adalah penyamun dan kesal mendapati mereka berjejer memakai kostum yang tampak konyol.

“Paman Larry galak sekali.” Sehun berbisik di telinga Luhan dan anak laki-laki itu menggeliat, separuh mengiyakan dan separuh risih sekembalinya Larry dan membagikan permen turkish delight beberapa butir (Sehun jelas-jelas ingin mengamuk lantaran permennya hanya tiga dan Luhan harus menepuk pipinya untuk menenangkan) dan membanting pintu di depan anak-anak.

Anak-anak mengerang. Mengulum bibir dan berjanji tak akan datang sekali pun menginjak halaman rumput milik Larry. Sehun tidak peduli, ia hanya melihat dengan antusias berbagai permen yang berada dalam labu logam miliknya. Lampu kecil berpendar sepanjang logam itu bergoyang.

“Hai Sehun,” Luhan menepuk bahunya, merasa diabaikan. Permen jelly tergigit di ujung gigi susunya. “kurasa kita harus kembali.” katanya lagi lalu menarik rompi Frankstein untuk menutupi lututnya yang dingin. Baut-baut di kepalanya mempersulit langkah dan napas yang pendek-pendek. Bibi Angela harus disalahkan karena ini!

Sehun menatapnya. Terkadang Luhan harus bersabar untuk sekedar menitipkan satu kalimat pada Sehun yang nyatanya terlalu kecil untuk paham maksudnya. “Kita akan pulang.”

“Tidak mau.” tolaknya marah. Sekarang wajahnya yang terias membias karena sinar-sinarnya meredup. Tentunya ini berdampak pada Luhan. Anak laki-laki itu selalu tak sanggup untuk melihat adik kecilnya menangis menggulung-gulung jarinya, setelahnya tersedu dan mengadu pada ibunya.

Luhan melihat Sehun mengusap matanya. Sepertinya Sehun mengantuk, tetapi Luhan tahu, Sehun tidak akan berhenti jika permennya belum melebihi milik teman-temannya. Biasanya tengah malam Luhan akan mengisi kantung gigi Sehun dengan gula-gula yang berkilau.

“Luhan!” Luhan menoleh dan baru sadar jika Sehun sudah berdiri di seberang jalan perumahan yang masih begitu ramai anak-anak. Sehun memegangi pagar kayu lapuk dan berjinjit-jinji dengan sepatu berkepala labu yang menjejak di antara sulur rumput milik rumah gelap gulita itu.

Tetapi Luhan terlambat untuk segera menarik Sehun ketika kepala anak itu berusaha masuk mencari pemilik rumah yang tak pernah sekali pun ditemuinya. Dan kegiatan itu membuat Luhan benar-benar marah dan segera menarik kerah baju Freddy Krueger yang terasa kasar di tangannya.

“Apa?” seru Sehun takut-takut, masih melirik mata Luhan yang terlihat kesal dan Sehun menunduk. Luhan akan marah jika perintahnya tak dilakukan. Tetapi Sehun ingin masuk kesana dan meminta permen pada tetangga mereka. Konon rumah di ujung jalan itu selalu sepi, namun anehnya asap hitam dari cerobong meninggalkan tanda tanya besar di tiap mata orang-orang yang lewat. Namun mereka tak seberani atau sekedar menguji nyali membayar nyawa untuk melihat penghuni rumah.

“Kau ini, apa yang kau coba lakukan?!” panik, Luhan meraba tangan Sehun dan seluruh tubuh Sehun yang menjadi menggeliat geli. Sekerat permen jatuh di atas rumput di depan rumah itu.

“Aku hanya ingin ke sana Lu,” jelasnya terbata, terengah Sehun menunduk dan mengangkat dua lengannya. “siapa yang berada di dalam sana memangnya?”

“Siapa yang siapa maksudnya?” Luhan mengambil permen-permen Sehun yang jatuh dan meletakkan di dalam tumpukkan permen Sehun. “Aku dengar dari para bibi-bibi yang selalu bicara pada ibuku jika ada orang yang tinggal di situ,” Luhan jelas mengarang, namun tidak seluruhnya berbohong. Ibunya memang pernah bercerita satu-dua kali tentang penghuni misterius rumah ini. Lalu Luhan memasang wajah paling mengerikan menurut Sehun. “namanya Jack.”

“Paman Jack?” Sehun diam dan mengernyit lantaran nama itu sangat tidak cocok untuk panggilan yang entah pas atau tidak untuk orang tak terlihat itu. Tiba-tiba selarik angin berhembus dan mengagetkannya. Ini terlalu berkondensasi.

Sehun berdehem dan terbatuk-batuk. “A-ayo pulang Luhan! Nanti ibu dan bibi pasti marah melihat kita pulang larut-larut.”

Tetapi Sehun segera memberi topangan tubuh terlihat terkejut saat Luhan tak kunjung berjalan. Anak laki-laki itu masih mengamati rumah tersebut dalam keheningan. Entah kenapa suara anak-anak perlahan meluruh bersama detikan jam di pergelangan tangan Sehun.

Lalu tiba-tiba suara mengejutkan Luhan terhembus bersama desau daun yang bergemerisik kencang. Deretan labu jalanan meredup, gelap. Dan itu menambah wajah mengerikan milik cekungan mata dan bibir Jack O’ Lantern.

“Sehun, bagaimana jika Jack O’ Lantern benar-benar tinggal di rumah itu?”

***

Saat tengah malam, ucapkan tiga kali permohonanmu, di penghujung bulan, semua setan akan keluar untuk membebaskan para anak-anak nakal dan mengirimnya ke neraka.

            Biasanya Jack akan memanggilmu dan menarik jiwamu dalam kepingan amarah-amarah tertahan untuk membayar tiap nyawa yang resah bergelimang ekspektasi berupa kesakitan tiada ujung.

Suatu malam, dia berdiri di depan iblis dan memperdalam janji busuk itu dengan segala perjanjian semu antar jiwa tak kasat mata.

***

            Sehun menelan ludah susah payah. Bibirnya kedinginan dan bajunya semakin tak nyaman. Sinar mata Luhan saat menceritakan kisah itu tak main-main.

            Jiwa iblis menyatu untuk mendapatkan kegilaan luar biasa meredakan napsu menghisap jiwa anak-anak saat tengah malam.

***

            Luhan berdiri dari tempat tidur dan menarik tali korden di jendela untuk melihat asap-asap itu membungkus langit kelam dengan suara-suara sengau, perpaduan cukup buruk sebenarnya.

“Di sana Hun,” Luhan menunjuk pintu rumah Jack yang tak tahu kapan sudah berdiri dua labu dengan sinar tak stabil. “biasanya akan mati jika ada satu nyawa yang melayang.”

            Ibuku pernah menyanyikan satu lagu sebelum tertidur dalam mimpi panjang yang menularkan ketidaknyamanan, itu hari di penghujung Oktober, saat angin memadamkan seluruh sinar dalam sebuah labu pertama di usia baru.

***

            Sehun diam saja, ia semakin mengeratkan permen-permen di pelukkannya. Ia merasa Luhan berbeda malam ini. Jika kemungkinan Luhan menjadi anak nakal hari ini, berarti yang pertama kali Sehun lakukan adalah berlari dan melompati tangga lalu terjatuh di rangkulan ibunya. Sehun takut.

Mata Luhan berkilat tak wajar. “Paman Jack mungkin sedang mencari korban,” katanya, sebenarnya dia cukup terhibur saat melihat Sehun terlihat ingin menangis. Luhan hanya berusaha membuat Sehun segera tidur. “mungkin beberapa menit lagi dia akan ke sini. Kenyataan rumah ini yang paling dekat.”

“Tidak!” jerit Sehun ketakutan. Dia melempar semua permennya dan bergulung dalam selimut. Menutupnya dengan bertumpuk-tumpuk bantal. Mengabaikan Luhan yang mendekat dan merayap menuju ke atas tempat tidurnya.

            Satu, dua, Jack datang

            Tiga, empat, sebaiknya kunci pintumu

***

“Hun–“

“Tidak! Apa sih Luhan! Aku tidak akan menjadi temanmu lagi.”

“Hun!”

Sehun menjerit-jerit dan melemparkan guling ke wajah Luhan saat anak lelaki itu tertawa melihat tingkah konyol Sehun. Sialan kau Luhan! Tapi nyatanya Luhan langsung terdiam setelah melirik Sehun yang sudah menangis.

            Lima, enam, sematkan kitab di pelukkanmu

***

            “Hei,” Luhan memeluk Sehun dan mengecup pipinya. ”maafkan aku, jangan marah ya Sehun! Aku hanya bercanda.”

Baiklah, kisah konyol seperti itu hanya anak usia tiga tahun yang percaya, tidak menutup kemungkinan kalau Sehun ternyata dapat bertingkah seperti ini. Kayak sebenarnya Luhan berani saja!

Sehun masih mengalihkan wajah jauh-jauh dan masih marah saat Luhan malah tersenyum padanya. Lalu ketika tiba-tiba lampu meja belajar Sehun mati, perasaan Sehun makin tidak enak. Ia mencoba menggapai tangan Luhan. Tak berani berbicara, jika tidak ingin sesuatu yang mengusik itu mendengar suaranya.

            Tujuh, delapan, tinggalah sampai tengah malam

***

            Angin melewati tengkuk mereka dan suara senandung seseorang terdengar mendekat. Ini tak mungkin, cerita itu kenapa mirip yang pernah disampaikan ibunya? Luhan benar-benar menggeser benda-benda yang memisahkan jaraknya dengan Sehun hati-hati, berusaha memeluknya erat.

Dan sesuatu dari ujung kegelapan menyatu dalam redupnya purnama. Sekelebat melompati jendela atas rumah itu lalu menyisakan bayangan besar di dalam ruangan tersebut.

Sembilan, sepuluh, jangan pernah tertidur lagi

***

            Seringai rusak memperdalam busuknya daging dan kaitan peniti di bibirnya. Luhan membulatkan mata dalam reremangan.

Trick or treat?”

E N D

[31/10/13;23:15]

            Ih apasih ini? Aneh dan kecepeten. Great! Aku hanya iseng buatnya dan sama sekali gak mikir dan gak ngedit tiap kata. Kurasa banyak kurangnya yeah -_-

Gatega anak sekecil mereka mojok nangis ketakutan *uhyeah* dan lagu itu aku dapetin dari film Freddy vs Jason karena mereka adalah tokoh hallowen paporit aku!><

Sebenernya aku mau post tanggal 31 tengah malam, eh tapi modem pulsanya habis, ofc now late hallowen ._.

Anyway, HAPPY LATE SCARY HALLOWEN! HAPPY TOO LATE JACK O LANTERN! TRICK OR TREAT? *smirk*

Iklan

3 responses to “Jack O’ Lantern

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s