The Florist Shine Shop

Luhan || Sehun

rumahdenganatappohondantumbuhan

            KETIKA musim semi tahun lalu, Sehun melihat ibunya menuangkan selarik cahaya dalam semangkuk kaca berisi air dan mengocoknya untuk bertahan beberapa menit lalu dilemparkan ke dalam tanah gembung di kebun belakang. Dan meyakini bahwa keluarganya mempunyai sesuatu yang disembunyikan.

 

***

            “Sehun! Tendang bolanya!”

Oh Sehun berdiri di tengah-tengah lapangan yang panas kenakan seragam sekolah yang cukup kotor. Wajahnya berdebu dan awan-awan tampak menggulung sinarkan terik di kedua matanya yang mengantuk.

Beberapa detik kemudian seruan berbondong-bondong datang dari berbagai arah dan anak-anak tampak kesal menanti hal itu. Separuh mengerang dan menendang debu dengan kasar.

“Sehuna payah sekali!” Si anak lelaki kecil datang menggerutu panjang-pendek sambil mengusap peluh di dahinya. Sementara Sehun hanya mengangkat tangan dan tertawa malu.

Hari ini sekolah memulangkan murid-murid lebih awal untuk rencana pembelajaran baru yang direncanakan walikota. Sehun bersama teman-temannya memutuskan untuk bermain terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Biasanya siang seperti ini, ibunya sedang menunggu toko bunga yang berada di garasi rumah. Apa sih yang lebih membosankan daripada duduk-duduk dan melihat bunga? Tetapi ibunya sangat menyukai hal itu. Apalagi ketika pelanggan mengulurkan lembaran-lembaran won, namun senyum sapa itu terlalu berlebihan menurut Sehun.

“Oh ya Sehun,” seru Minseok. “aku hampir lupa memberitahumu jika minggu depan ada acara karnaval di pusat kota! Dan juga ada beberapa robot-robot yang pernah kulihat di televisi setiap akhir minggu lho!” Minseok mengambil sesuatu dari kantung celananya dan mengeluarkan secarik gumpalan kertas yang sudah tak berbentuk dan menyurukkan pada Sehun.

Sehun meneliti tulisan-tulisan itu. Agaknya dia terhuyung ketika mendapati huruf yang sulit dibaca, terkadang ia geram sendiri dengan nasibnya yang belum dapat menghapal seluruh abjad. Berbekal sedikit pengetahuan, Sehun dapat menyimpulkan susunan acara juga beberapa tulisan kecil-kecil yang memusingkan.

Sehun beranjak ke tepi lapangan.

“Luhan!” Sehun menghampiri sepupunya dengan cemberut, melompat-lompat di dekat bangku yang Luhan dudukki. Seolah mengerti, Luhan mengambil alih brosur dari tangan Sehun. “kata Minseok, minggu depan ada karnaval. Ayo kita kesana! Ajak ibu!”

Luhan mendongak dan membalas senyuman Sehun yang berkilau. Bagi Luhan, Sehun sangat mirip bibi Hana ―ibu Sehun. Wajahnya bagai bayi dan pipi yang tembam serta alis pirang melayang saat bingung, atau bulu mata yang lentik saat Sehun hampir menangis.

“Hari ini Luhan menginap lagi di rumahku?” Sehun bertanya ketika toples kumpulan kue jahenya terbuka dan memakannya cepat. Luhan tertawa gembira.

Umm yeah,” jawabnya ragu lalu mengusap reremahan dari pipi Sehun. Menariknya berdiri dan menggandeng tangan Sehun untuk berjalan. “memang hari ini bibi Hana membuat apa?”

Diam-diam Sehun menatap Luhan dengan jengkel, tetapi senyumnya merekah kembali saat Luhan mencubit pipinya gemas. Sehun menelan kue jahe terakhirnya dan memasukkan toples ke dalam tas sebelum menjilat seluruh jarinya yang manis. “Tadi pagi ibu membuat tar lemon. Rasanya sangat manis dan kacangnya sangat banyak!”

Oh ya?” sahut Luhan senang. Begitu mereka melewati kekacauan lapangan sore dan sampai di tempat sepeda, Luhan menjepit hidungnya. “Sehun, baumu seperti keringat Troll!”

“Apa?” Sehun membulatkan mulutnya kesal. “Aku tidak bau Luhan!” tetapi kemudian melayangkan ke dua tangannya dan nyengir. “Sedikit.”

***

            Setelah sampai di gang belokan terakhir dan bersepeda cepat-cepat, mereka sampai di depan rumah Sehun. Jika kebanyakan rumah mempunyai teras yang lebar dan nyaman, berbeda dengan rumah Oh Sehun, tempat bersantai diganti dengan meja konter tinggi-tinggi dan setapak jalan menjadi rak-rak bunga warna-warni.

“Aku butuh Camomile!” teriak Mrs. Rosalie sambil berdesakkan di antara kerumunan orang dalam sepanjang antrian depan garasi.

Ih, aku benci sekali pada si penipu itu!” kata Sehun berbisik. Luhan menyenggol lengannya namun dalam hati menyetujui bulat-bulat  pernyataan tersebut.

Luhan menyambar lengan Sehun yang memerah dan segera menariknya ke dalam rumah sementara melirik garasi rumah Sehun untuk mencari ibu Sehun yang terlihat ujung kepalanya menyembul di antara sekat konter.

***

            Hari cepat sekali berlalu ketika Luhan terjaga di tengah malam dengan jari-jari kakinya yang dingin. Ia mengenakan jaket dan berjingkat menuruni tangga. Dari jendela terlihat jelas salju-salju yang semakin menebal. Luhan diam-diam menghitung jarak antar malam natal nanti.

Luhan nyaris kehilangan keseimbangannya saat berjalan di tangga terakhir. Dan suara dengkuran –entah milik siapa terdengar begitu keras dari ruang dapur.

Ia mengeluarkan sekotak susu dari lemari penyimpanan dan menyadari jika dapur begitu terang. Memang kebiasaan keluarga Sehun seperti ini ya? Anak laki-laki itu berniat kembali ketika melihat Sehun meringkuk di pintu belakang dengan gusar. Ia berjongkok dan menyelipkan kepalanya. Masih mengenakan pakaian tadi sore. Apa Sehun belum tidur?

Sebenarnya Luhan ingin mengagetinya, namun begitu melihat ekspresi Sehun dari samping, Luhan juga ikut penasaran. Lantas, ia ikut berjongkok di samping Sehun.

“Sehun,” bisiknya. Sehun menoleh. Agak terkejut mengetahui Luhan melihat aksinya, yang lebih membuatnya malu lagi posisi dirinya yang begitu aneh. “apa yang sedang kau lakukan?”

Oh, tidak apa-apa,” Sehun ingin mengatakan sesuatu pada Luhan, namun masih dengan keraguan, dia menimbang apakah Luhan perlu untuk tahu atau tidak. Tetapi Luhan kan Sepupuku. Sahabatku, eum jadi sedikit tidak apa-apa deh! “uh sini mendekatlah!” katanya sambil memberi isyarat agar Luhan mendekat ke pintu.

Luhan mengerutkan keningnya saat melihat ibu Sehun berada di halaman belakang bersama bunga-bunganya. Bukan itu yang membuat Luhan bingung, tapi kenapa Sehun malam-malam yang dingin seperti ini rela untuk mengintip ibunya yang melakukan hal seperti itu.

“Kenapa bibi di luar? Ini ‘kan musim dingin dan salju sedang turun, ayo kita menyuruhnya masuk!”

Sehun memutar bola matanya. “Sudah jangan berisik! Aku berusaha tidak tidur untuk membuktikan sesuatu,” Sejenak pandangan Sehun teralihkan oleh kotak susu Luhan. Ia mengambil dan meminumnya. “ini misi rahasia Lu.”

Hidung Luhan mengerut. Antara kesal dan penasaran. Dan akhirnya ia tidak bertanya lagi. Menunggu sesuatu yang tidak diketahuinya bersama Sehun.

Beberapa waktu berlalu dan tidak ada yang berubah. Kecuali susu yang habis, Sehun yang berulang kali menguap dan Luhan yang bosan. Ibu Sehun hanya berkutat dengan satu tanaman saja dan tak ada sesuatu yang Sehun maksudkan tadi.

Luhan melihat mata Sehun yang hampir menutup dan Sehun yang sedang mengerucutkan bibir lalu mengusap matanya. “Sehun ayo kembali, kau sudah harus tidur, besok tidak bisa main lho.”

“Tapi aku menunggu ibu melakukan sesuatu Lu.”

Luhan tidak bicara lagi dan membiarkan dirinya bersender pada kusen. Percuma menyuruh si keras kepala Sehun untuk tidur jika rasa penasarannya belum hilang. Mereka bertukar pandang sekilas sebelum sesuatu yang terang menarik mereka.

Di sana. Ibu Sehun sedang menuangkan sebuah cahaya dari toples dan toples lain berisi gelembung-gelembung yang berterbangan. Ibu Sehun berjongkok dan selanjutnya nyaris membuat Sehun menjerit jika Luhan tak segera membungkam mulutnya. Beberapa biji mata warlock berlendir hitam dituangkan dalam pot tersebut.

Dan setelah itu sebuah tanaman tumbuh perlahan dari balik gundukan tanah. Luhan masih menganga dan Sehun yang kesulitan bernapas segera menarik tangan Luhan dan perlahan menutup pintu.

Mereka berdua kelihatan begitu syok.

Luhan membasahi tenggorokan sebelum berbicara. “Sehun… itu tadi a-apa?”

Sehun menggeleng namun lebih tenang daripada Luhan. Karena rasanya ia pernah melihat ini sebelumnya.

“Apa Luhan berpikir yang sama denganku?”

Luhan akhirnya dapat menghela napas lega saat mereka sampai di depan pintu kamar masing-masing yang berhadapan. “Tentang?”

Sulit untuk mengatakan ini, tetapi Sehun mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. “Ibuku, menggunakan sihir.”

Mata Luhan terpaku pada kaus kakinya. Kehangatan perlahan terasa sulit didapat. “Itu-“ Ia berhenti ketika mendengar langkah kaki menuju lantai yang mereka pijak. Sehun segera membuka pintu dan Luhan mengikutinya sebelum masing-masing dari mereka menutup, Luhan memberikan tatapan terakhirnya pada Sehun. “menyeramkan.”

Dan malam itu mereka tidak bisa tidur.

***

            Keesokkan paginya mata Luhan terasa berat. Ia cukup lupa akan kejadian semalam, namun di saat merasakan lantai dingin di pagi hari, ingatan itu kembali lagi.

Sejak ruang makan di rumah Sehun tergabung menjadi satu dengan dapur, mereka banyak menghabiskan waktu di sana dengan semua aktivitas bersama. Tempat itu sekarang lebih terlihat seperti arena bermain untuk Sehun.

Ibu Sehun menyiapkan makanan di konter beberapa jam terakhir sedangkan seluruh keluarga duduk di meja makan. Sehun ribut sendiri, memukul-mukul meja dengan sendok untuk mencari perhatian. Terkadang dia akan bergulingan di lantai dapur, tetapi kali ini Sehun kelihatan manis. Ia masih bersikap biasa saja. Seolah kemarin tak pernah terjadi.

Luhan menarik tumpukkan pancake ke tiga dari piring yang baru saja dihidangkan ibu Sehun. Sekilas membalas sapaan ayah Sehun yang sedang membaca koran dan melirik Sehun yang tersenyum lebar. Sehun berpindah duduk di samping Luhan. “Pagi Lu.”

Sehun berdiri dan duduk di atas ujung meja sambil berteriak. “Ibu! Kue kue kue!” sambil menunggu kue yang dingin dan ibu Sehun yang mencubit pipinya menyuruhnya turun, sedangkan ayah Sehun menarik tangannya agar kembali duduk di kursi.

Mereka sedang berdiri bersama di dekat lemari pendingin ketika Sehun dan Luhan duduk bersama kembali. Pancake bibi Hana selalu yang terbaik! Dan Sehun yang meliriknya aneh.

“Luhan, kau aneh.”

Uhum,” Luhan meliriknya dan nyengir. “ini enak sekali omong-omong.”

Sehun pelan-pelan mengambil kertas dari saku piyama. Menunjukkannya pada Luhan. Luhan bingung saat Sehun memberikan kertas pengumuman karnaval kota. Luhan pikir itu masih beberapa hari lagi, dan mereka masih punya cukup waktu untuk menyiapkan segala hal untuk digunakan nanti.

“Sebentar Hun.”

“Tapi ini penting Lu,” Sehun menarik Luhan dan pancake terakhir jatuh di lantai saat mereka diam-diam berjalan tinggalkan ruang makan. Mereka melewati lorong menuju tempat penyimpanan bibit-bibit dan kisi-kisi kasar tercium di udara. Lantai kayu terakhir yang berkeriut panjang ketika diinjak. “aku punya ide Luhan!”

Luhan berdecak. “Iya, tapi setidaknya biarkan aku menghabiskan sarapanku dulu tuan muda.”

“Tidak ada waktu Lu, sebaiknya dengarkan aku sampai selesai atau Luhan akan duduk di depan layar plasma lebar dan habiskan enam puluh ribu kalori selama tiga puluh tahun usiamu nanti atau mengetahui caraku untuk menemukan jalan keluar.”

Luhan menganga, tidak percaya apa yang baru saja dikatakan Sehun. Kenapa bicaranya seperti orangtua? Ia diam dan segera mengangguk mengerti dengan rencana tak masuk akal Sehun, benarkah dia akan mengorbankan untuk tidak pergi ke karnaval dan menjalankan hal yang baru saja dikatakan Sehun? Sejujurnya Luhan tak begitu peduli tentang karnaval nanti, tapi Sehun bukannya selalu menanti-nantikan tiap tahunnya?

“Jadi, apa usul Luhan?”

Luhan menatap Sehun, belum pernah sekali pun Sehun menanyakan pendapatnya. Biasanya mereka akan berakhir berdebat jika Luhan tidak menuruti perkataan Sehun. Luhan memiringkan kepalanya dan mengurut hidungnya maju mundur, tampak berpikir. “Apa kau yakin ini akan berhasil? Bagaimana jika memang bibi penyihir betulan dan dia bisa melihat kita melakukan hal konyol seperti ini?”

Sehun memegang kepalanya sambil meringkuk. Piyamanya kelihatan kusut. Sepertinya pagi-pagi untuk berpikir keras cukup bermasalah, apalagi di luar udara yang dingin dan ayunan di dekat kebun belakang tidak terlihat, juga masalah Luhan yang tidak segera mengerti.

Dan beberapa saat selanjutnya Luhan dikejutkan oleh tatapan Sehun yang berkilat-kilat. “Ayo kita memasukki ruang penyimpanan rahasia yang penuh sihir itu!”

Fin?

[23/12/13;18:48]

h i g h l i g h t  n o t e

Uhuh kelanjutan ada di pikiran masing-masing. Biarkan imajinasi kalian menuntun kalian ke tempat kau berada*?*

Ah, ini apa?! Ini hanya epep tanpa plot yang jelas yang kudapat karena kebanyakan nonton film fantasi dan berakhir aneh, pokoknya terserah deh.

Dan hari ini moodku down banget! I HATE ABOUT KYU’S RUMOR! I really cried when reading from fans acc, melihat Kyu sama salah satu personil cewek gb yang orangnya kurang dari enam, dan entah kenapa pikiranku langsung ke 4minute. Tau kan rumor Kyu sama Hyuna? Salah satu acc ELF juga bilang Kyu ngakuin Hyuna pacarnya. Shit! Aku harap itu JUST BRAT RUMOR!

Okey Kyu, you’ve been pissed me down! Oke final! T.T

chochangevilkyu yang sedang galau to the max

cooltext846166519

Iklan

One response to “The Florist Shine Shop

  1. emank rumor itu bener???? pernah baca sekali cuma ngga bgtu ngeh dan ngga terlalu nanggepin, ku kira cma buat bercanda..

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s