How to Get a Husband #1

chochangevilkyu1

Babyhyunnie’s artposter

#1 Blind Date Merit

AKU tidak pernah menyangka akan benar-benar berdiri di sini dengan sekerat lembaran brosur yang baru saja kudapatkan dari nasehat temanku. Sungguh konyol. Bagaimana bisa dengan itu semua aku langsung percaya percakapan kami membawaku ke sini?

Akhir pekan itu Minyoung dan aku menghabiskan seperempat hari di kafe daerah Hongdae, membicarakan pekerjaan masing-masing. Masalahku adalah ketika tidak sengaja mencuri dengar bahwa akan ada karyawan baru yang akan menempati kursi kosong yang sama dengan bagianku. Itu artinya aku dan rekan lain akan mendapat atasan baru.

“Oh, lalu bagaimana dengan Hyun, oh Byun Baek ah siapalah terserah! Kukira kau masih berhubungan dengannya. Terakhir kali aku melihat kalian bersama saat malam tahun baru kemarin.” Minyoung tertawa tiba-tiba. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan saat ini. Menertawakan aku karena sekarang aku kelihatan menyedihkan atau dia senang aku sudah tidak berhubungan dengan bajingan itu lagi. Tiba-tiba aku merasa tersinggung. Hubungan kami memang sudah lama terjalin. Tapi aku tidak menangis saat kami berpisah. Apa karena aku sudah mengetahui dia begitu brengsek? Atau karena melihat dengan mataku sendiri dia bercumbu dengan atasannya? Aku merasa dia harus merasakan pembalasanku. Namun pikiran itu tidak terlalu membuatku terpuruk. Hanya saja, kenapa baru saat ini aku menyadarinya ketika hubungan kami hampir berjalan selama 5 tahun? Dan aku baru merasa konyol.

Saat itu pembicaraan kami sampai pada apartemen baru yang ingin Minyoung tempati ketika seorang laki-laki melewati kami dan tidak sengaja menumpahkan setengah gelas berisi milkshake ke bahu Minyoung dari belakang. Dan secara reflek aku menutup mata. Itu baju kesayangan Minyoung dan jelas sebentar lagi aku tidak akan terkejut jika ia akan meledak dalam kemarahan.

Namun beberapa saat menunggu aku tidak mendengar apa pun dan memutuskan untuk membuka mata, serta merta menemukan mereka seolah kawan yang lama tak berjumpa. Minyoung kelihatan tidak mempermasalahkan itu tetapi aku tetap tidak mengerti ketika lelaki itu melirik ke arahku. Aku mengernyit.

Minyoung menjelaskan semuanya dan terbahak penuh kesopanan. Laki-laki itu bernama Minho dan ia cukup berisik. Mereka bercakap dengan serius dan mengabaikanku. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Namun saat laki-laki itu menyinggung tentangku, aku baru sadar jika ia tertarik padaku. Bukan tentang wajah rupawannya yang membuatku tak nyaman. Tetapi fakta bahwa ia memandangku tak lebih dari tatapan kasihan. Aku tidak tahu apakah tafsiranku benar atau hanya dari sudut pandangku saja. Itu sama seperti mengguyurku dengan air es secara tiba-tiba. Aku mengerti jika Minyoung menunjukkan keseriusan berteman denganku karena sayang padaku. Tetapi tidak dengan saat ia mulai ikut campur pada masalah pribadiku. Menemukan diriku cukup kesal karena ulah Minho yang mulai melancarkan aksi pendekatan, rasa asam memenuhi tenggorokanku. Lambungku bergejolak tak nyaman dan aku enggan melanjutkan pertemuan ini.

Dan hari itu aku pulang dengan sejuta kekesalan serta ribuan rasa panik karena mendadak menabrak sebuah Civic hitam dari belakang. Aku terlalu terkejut akan kejadian ini dan membanting setir hingga menabrak trotoar di bahu jalan.

Ini bukan tentang betapa bersalahnya aku. Namun betapa menyedihkannya aku begitu menyadari semua orang kini berusaha menghiburku karena lelaki sialan itu. Sejak putus darinya, semua orang yang berada satu divisi dalam pekerjaanku tak henti-hentinya menemaniku. Seolah saja aku akan meringkuk mengenaskan atau bunuh diri jika aku semenit saja dalam waktu kesendirian. Adikku juga selalu meneleponku dan bertanya tentang apa kebutuhanku atau apa yang kuinginkan. Dan ibuku yang tiba-tiba ingin selamanya menginap di apartemenku.

Hembusan angin dingin menyadarkanku ke masa kini. Begitu sadar aku berdiri di tumpukkan salju dan perasaan beku di dasar sepatu, aku bergeser ke kanan. Merasa sudah saatnya pergi, aku pun berbalik. Baiklah, sepertinya agensi kencan buta seperti ini tidak cocok untukku. Harusnya aku tidak terpengaruh ucapan Minyoung. Ini seperti aku benar-benar tidak laku.

Baru saja aku akan masuk ke dalam mobilku. Pikiran itu kembali merayap ke otakku dengan cepat. Bagaimana jika Baekhyun akan menertawaiku jika ia tahu aku masih sendiri dan ia berpikir aku masih tidak rela berpisah dengannya hingga aku tetap pada topik masalah bahwa dia adalah tujuan terakhirku? Bagaimana dengan balas dendam yang kurencanakan?

Secepat itu aku merasa dadaku terisi penuh dengan keyakinan. Kepercayaan diriku melambung tinggi dan merasa aku harus melakukan ini. Baekhyun harus tahu jika aku tidak mungkin mengharapkannya lagi.

Dan dengan itu, segenap keyakinan aku melangkah masuk.

***

            Lobi utama bangunan ini adalah dinding pucat dengan ornamen pasir. Meja kopi rendah berwarna hitam yang kontras dengan lantai putih marmer yang mengingatkanku dengan warna pualam. Resepsionis berseragam rapi dengan potongan rok pendek berenda yang cantik. Diam-diam aku berpikir, jika aku bekerja menjadi pegawai di tempat ini, apakah aku juga akan terlihat menarik dengan seragam itu?

Seorang  perempuan dengan senyum merekah mendekatiku. Ia begitu anggun dengan langkah kakinya. Terlebih karena aku seorang perempuan, merasa iri kenapa ada wanita secantik itu berdiri di depanku.

Miss Anna?” Aku mengangguk dan merasa geli jika namaku dapat dilantunkan dengan indah seperti itu. Dia menjabat tanganku dan perasaan malu sendiri saat tahu kuku-kukunya begitu indah. Padahal tidak pernah terpikir jika seseorang yang duduk di balik meja dalam kantor lebih memperdulikan penampilannya sampai sedetail ini daripada seseorang yang selalu berpergian menjadi penerjemah kepada orang-orang asing.

Wanita yang kuketahui bernama Chaerin ini menyuruhku untuk berdiri dan mengikutinya. Aku dapat merasakan tatapan orang-orang sepanjang jalan. Bukan untukku, namun untuk kesedihan mereka karena sedikit banyak aku dapat merasakan perasaan mereka. Mereka ke sini butuh seseorang untuk datang dalam hidup mereka. Ini seperti aku sudah menjadi salah satu dari mereka.

Kami menaikki lift di sebelah kiri yang kuketahui dari Chaerin adalah khusus untuk tamu. Apakah jika Chaerin tidak memberitahuku, dan karena kekonyolanku, aku akan masuk ke lift sebelah kanan dan bagian khusus yang berdiri di dekat pintu depan akan mendepakku?

Aku tahu Chaerin berusaha membuatku nyaman. Tetapi aku tak dapat menghentikan dentuman di dadaku menyadari aku begitu dekat dengan masa depanku. Merasa ragu sekejap, tapi karena terlanjur masuk, aku tidak akan berusaha keluar lagi. Ini perasaan baru tetapi begitu aneh dan menyenangkan.

Setelah sampai di lantai dua puluh tiga dan tidak dapat menutup mulutku karena pemandangan dari jendela besar di sisi kanan kami saat langkah berbelok ke kiri dan berjalan beberapa petak, Chaerin menyentuh lenganku. Alisku menyatu sejenak. Walau kami baru bertemu, memang pantas dia sok dekat ingin menyentuh lenganku? Seperti diterjang badai, ini ke sekian kalinya aku merasa malu pada diriku sendiri.

Chaerin tersenyum. Pesona tidak dapat diragukan lagi. “Silahkan masuk. Miss Anna sudah ditunggu di dalam.”

Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa ia harus membiarkanku masuk sendiri ke sini. Dan Chaerin yang meninggalkanku berdiri kaku di depan pintu yang tertutup rapat. Panik melanda dan aku merasakan gugup yang membuat tanganku berkeringat. Harus apa sekarang? Haruskah masuk dan secara tiba-tiba mencurahkan segala isi hatiku bahwa aku butuh pendamping dalam waktu cepat? Sialan. Bukan ini yang ingin kulakukan.

Dan kini aku merasa bodoh. Seharusnya aku tidak masuk, seharusnya aku tidak mendengarkan Minyoung dan seharusnya aku tidak usah memikirkan Baekhyun. Perasaan menyesal tiba-tiba datang. Apakah benar aku masih mencintai Baekhyun? Bodoh jika aku tidak kecewa saat tahu dia bermain di belakangku. Secara teknis kami terlibat hubungan yang begitu lama. Bohong jika aku sudah tidak apa-apa. Nyatanya saat ini aku benar-benar ingin mencekik lelaki itu sampai mati.

Aku memutuskan bersandar di pintu. Menyerah sekarang kurasa belum terlambat. Dan jika nanti Baekhyun menertawakanku. Tinggal kutendang kakinya dan urusan kami beres. Hanya dengan membayangkan hari itu terjadi, aku merasa puas.

“Baiklah, jangan lupa besok Kris.” Pintu terbuka tiba-tiba dan rasanya aku belum siap dengan apa yang terjadi. Aku merasa akan mati saat tiba-tiba saja tersungkur dengan posisi yang uh. Ini pasti sangat memalukan. Saat melirik ke atas, aku dikejutkan untuk ke dua kalinya melihat seorang lelaki dengan panik menjulurkan lengannya ke arahku dan dengan lembut membantuku berdiri.

Lelaki itu masih menggenggam lenganku dengan erat. Ekspresinya begitu cemas sementara dia tidak mengijinkanku bicara atau melakukan apa pun. Baru kali ini aku merasa begitu dihargai menjadi seorang perempuan. Ia mengumpulkan barang-barang yang berceceran dari tasku dan bersyukur isinya layak untuk masuk dalam gedung sebesar ini.

“Maafkan aku maafkan aku. Apa kau tidak apa-apa nona? Merasa sakit? Terluka?”

Tentu saja iya bodoh! Aku terluka karena merasa menjadi orang yang paling tolol karena ulahku sendiri. Seharusnya aku tidak bersandar pada pintu itu tadi. Dan kini aku baru sadar ada empat mata yang memandangku panik. Mungkin mereka merasa bersalah pada calon klien sepertiku.

Aku hanya tersenyum meyakinkan mereka bahwa aku tidak apa-apa. Terlebih pada lelaki yang panik di depanku. Memang apa yang harus kulakukan selain ini? Membentaknya? Pada lelaki yang begitu tampan? Holy crap! Aku baru menyadari wajah mereka sempurna sekali.

Seseorang yang masih berdiri di depanku, tiba-tiba tanpa persetujuan menggiringku duduk di kursi. Ia tidak kelihatan segan atau canggung. Malah terlihat sering melakukan ini hingga mungkin aku sudah ke jutaan kali menjadi salah satu perempuan yang disentuhnya. Sayangnya pasti ini pertama kalinya ada seseorang dengan idiotnya jatuh tersungkur di depan pintu seperti tadi.

Ia membenahi rok yang kupakai tanpa sungkan, selanjutnya menepuk pipiku. Dua kali lalu meletakkan tas milikku di meja. Ia mengerling. “Semoga beruntung.”

Aku masih berusaha mengerti apa yang terjadi, tetapi sepertinya mereka lebih peduli dengan urusan mereka sebelum salah satunya yang bernama Luhan berjalan mundur dan melayangkan kecupan tangan untukku.

Benar-benar menggelikan.

“Jadi namamu Ana Jung?” Suara seseorang yang kutahu bernama Kris bertanya dengan tenang. Dan baru menyadari seluruh posturnya begitu sempurna di balik kursi mengkilap yang didudukinya. Kris kelihatan begitu professional terlepas dari sikapnya yang agak membuatku segan. Sebenarnya aku sangat menyayangkan wajah dewa seperti ini hanya bisa duduk di balik meja dan melayani curahan hati para klien. Sisi pikiranku yang lain mendesak untuk bertanya.

Aku mengangguk dan menggosok jari-jemariku. “Tapi pelafalanmu salah. Kau harus menggunakan double n pada namaku.” Aku mengoreksinya dan Kris tidak terlihat peduli. Dia masih saja sibuk dengan kertas-kertasnya. Menyebalkan.

Kris bertanya lagi dan sampai sesi berikutnya aku hanya mengangguk. Menjawab singkat, menggeleng jika kurang setuju dengan pernyataannya. Nyaliku seperti terbalik seratus delapan puluh derajat di bawahnya.

Kris membuka dokumen yang lain, yang berisi beberapa informasi pribadiku. “Jadi, kau mencari pasangan yang seumuran denganmu? Atau beberapa tahun di atasmu dengan batas maksimal 27 tahun?” Aku mengangguk lagi. Kali ini dengan agak terpaksa. Jika tidak mengingat bagian dia adalah seseorang yang akan membantuku, aku benar-benar ingin meninjunya. Suaranya terdengar hangat, tapi geli. Namun secara keseluruhan berusaha menahan sesuatu, seperti ingin menertawaiku. Tiba-tiba aku merasa panas.

Tahun ini usiaku akan mencapai dua puluh dua tahun dan sebenarnya tidak sulit untuk merasa sendiri dulu. Tetapi ketika aku mengingat raut wajah ibuku yang tak ingin aku terlalu larut dalam kekecewaan karena Baekhyun, alasan pribadiku hilang dan merasa sendiri adalah pilihan yang buruk.

Aku duduk lebih tegap agar terlihat efek mengintimidasi dan lebih baik membicarakan ini dengan kepala dingin tanpa berlarut-larut. Sepertinya lelaki ini agak lamban tetapi begitu pas dengan perasaan –mungkin kami para klien. Ruangan Kris sangat menakjubkan. Sementara ia membuka lembaran-lembaran lain, aku menemukan diriku terpesona dengan lukisan-lukisan yang menempel di balik tubuhnya. Kukira dia orang yang cukup romantis. Karena biasanya seorang laki-laki penyuka seni adalah lelaki yang mendambakan wanita dewasa.

“Kau juga menyukai seniman lokal?” Suara Kris menyeretku untuk menatapnya dan tidak terlihat terganggu ketika aku seperti orang yang ingin menyelami kehidupannya lebih jauh.

Aku berpikir sejenak. “Eum tidak begitu. But that is too wonderfull. Dan sepertinya kau penyuka lukisan seniman lokal karena yang kutahu semua lukisan itu–” Aku menghentikan ucapanku dan merasa terkejut karena dapat berkata begitu banyak dengan orang asing. Ekspresi Kris tenang, tapi untuk beberapa alasan aku tahu dia menganggapku kurang ajar. Aku berdehem. “yah begitulah yang kutahu.”

Kurasa dia semakin tertarik. “Yah, interesting exactly,” Kris bergumam pelan. Sebenarnya sejak tadi aku berpikir. Jika Kris setampan ini, bagaimana dengan kekasihnya? Atau jangan-jangan dia sudah menikah? Tak menutup kemungkinan karena ia adalah pemilik tempat ini. Kris kembali mengamatiku. Kini lebih lekat dan sialan, aku memerah di bawah tatapannya. “kau sedang mencari hubungan yang serius nona Jung?”

“Kau pikir,” Ucapan ini terlontar tanpa kukontrol. Pertanyaannya begitu arogan untuk ditujukan pada perempuan yang baru putus cinta sepertiku. “of course I do! Memang aku mengikuti ini hanya untuk one night stand?” Dan tanpa dapat dihentikan lagi aku meledak dalam rasa kesalku. Ia pantas diperlakukan seperti ini.

Sesaat Kris terlihat terkejut. Samar-samar menyeringai tapi tetap terlihat sopan. Dia menahan tatapannya padaku sekali lagi dan aku merasa terbakar dalam kepingan bola matanya. “Sorry Miss, tetapi sepertinya kau salah paham pada ucapanku. But this is my fault, really sorry.”

Gugup kembali menguasaiku. Nah, sifat terburu-buruku ini benar-benar sangat mengganggu. Aku hanya berharap dia tidak segera menendangku keluar dari sini. Atau yang lebih buruk, menyuruhku membayar dua kali lipat dari harga pendaftaran.

Aku masih mengamati Kris. Bagaimana seluruh tatapannya terpusat pada kertas-kertas itu dan satu jari yang lain berada di depan mulut. Perpotongan jari antara dagu dan mulutnya begitu mempesona.

“Baiklah,” Kris memberiku nomor untuk dapat dihubungi jika aku mendapat kesulitan dalam kencanku nanti. Dia bilang, seluruh akomodasi dan tempat akan mereka siapkan. Kris juga berkata akan meneleponku selambat-lambatnya esok hari untuk informasi yang lain. “untuk hubungan serius, tak lebih dari dua puluh tujuh tahun dan dengan tinggi lebih dari 170 cm. Oh, dan laki-laki tulen, single.”

Dalam kalimat terakhir aku tahu Kris mencoba menahan getar senyumnya. Sepertinya puas membuatku merasa malu sejam ini. Aku berdiri, menahan gemetar dan menyalaminya. Senyum dan matanya berkilat puas dan aku tak lagi terkejut membalasnya dengan lebih tajam. Menggumam terimakasih tak lebih dari dua detik, aku mundur dan berjalan ke arah pintu.

Dan sebelum benar-benar mencapainya. Suara Kris terdengar lagi, berdendang penuh kebahagiaan. “Nona Jung, pintu kami terbuka dengan cara ditarik. Hati-hati di jalan.”

 

 

chochangevilkyu’s note

Kris meletakkan tumpukkan kertas yang digenggamnya lalu beranjak ke sudut ruangan. Menarik gelas kopi dari coffee maker, ia menyesapnya perlahan saat Luhan tiba-tiba masuk ke dalam.

She’s very cute! Lucu sekali wajahnya tadi. Kau lihat saat dia terjatuh? Sebenarnya aku ingin tertawa melihatnya. Kasihan, tapi terlalu menggemaskan.” Luhan menjatuhkan diri di kursi milik Kris dan menggelengkan kepala tak habis pikir.

Kris tanpa sadar ikut tersenyum. “Benar, cukup menantang,” katanya. Mengingat tatapan Anna yang seolah ingin mengulitinya membuatnya tertawa lagi. “kurasa klien kita kali ini cukup merepotkan.”

***

 

Holloooo *ala Megamind* ternyata aku kembali lagi setelah selama ini. Hohoho kali ini aku bawa ff baru dan insyaallah akan kulanjut terus. Dan untuk ff lain aku gatau entar gimana nasibnya. Ideku selalu muncul kalau ff lain stuck *poor dan karena aku lagi pingin buat ff tentang fancy, Kris adalah salah satu kandidat yang kuat. Karena pertama bagiku dia ekpresinya selalu useless dan pas aja haha. Maunya sih Siwon, tapi aku udah jadwalin dia buat ff lain entar *wink Siwon -_-

Pokoknya nikmatin aja deh. Eniwey dilanjut gak? Ini tergantung respon kalian. Kalau emang gak ada yang baca atau suka, aku bisa berhentiin mumpung belum sampai end. Okelah this is too long about my note. I know and still did it hehe.

Iklan

6 responses to “How to Get a Husband #1

  1. Ping-balik: The Odd Neighbor #4 | High School Fanfiction·

  2. kris~~ idk but,, kadar coolnya dia entah knp brkurang sdkit dmi sdkit dimataku sejak exo showtime
    but (again), krn teasernya yg baru bkin ak hrs narik kata2ku
    HE’S SO DAMN COOL and HOT!

  3. Lanjut eon~ *SKSD
    aku suka cra kmu nulis, brasa bca crita author” barat. N I think that I will stay in here. Sbelum.a aku prnah ksni, klu g slah pz kmu nulis tentang 13 parfum ky.a :-O and I love it, aku pke id bru coz udah lama bgt g mampir dsni stelah insiden tulisan” kmu ilang or gmn gt. So, mannaseo, bangapseumnida. Hana 94line imnida 😀

Hello reviewer!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s